Asbabun Nuzul Surah Al-Mujadalah

15 Jan

asbabun nuzul surah alqur’an

1. Sesungguhnya Allah Telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat*.
2. Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. dan Sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. dan Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.
3. Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, Kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, Maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
4. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), Maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak Kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. dan Itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.
5. Sesungguhnya orang-orang yang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, pasti mendapat kehinaan sebagaimana orang-orang yang sebelum mereka Telah mendapat kehinaan. Sesungguhnya kami Telah menurunkan bukti-bukti nyata. dan bagi orang-orang kafir ada siksa yang menghinakan.
6. Pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu diberitakan-Nya kepada mereka apa yang Telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan (mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka Telah melupakannya. dan Allah Maha menyaksikan segala sesuatu.
(al-Mujadalah: 1-6)

* sebab Turunnya ayat Ini ialah berhubungan dengan persoalan seorang wanita bernama Khaulah binti Tsa´labah yang Telah dizhihar oleh suaminya Aus ibn Shamit, yaitu dengan mengatakan kepada isterinya: Kamu bagiku seperti punggung ibuku dengan maksud dia tidak boleh lagi menggauli isterinya, sebagaimana ia tidak boleh menggauli ibunya. menurut adat Jahiliyah kalimat zhihar seperti itu sudah sama dengan menthalak isteri. Maka Khaulah mengadukan hal itu kepada Rasulullah s.a.w. Rasulullah menjawab, bahwa dalam hal Ini belum ada Keputusan dari Allah. dan pada riwayat yang lain Rasulullah mengatakan: Engkau Telah diharamkan bersetubuh dengan dia. lalu Khaulah berkata: Suamiku belum menyebutkan kata-kata thalak Kemudian Khaulah berulang kali mendesak Rasulullah supaya menetapkan suatu Keputusan dalam hal ini, sehingga Kemudian turunlah ayat Ini dan ayat-ayat berikutnya.

Diriwayatkan oleh al-Hakim yang menyahihkannya, yang bersumber dari ‘Aisyah bahwa Siti ‘Aisyah berkata: “Maha suci Allah yang pendengaran-Nya meliputi segala sesuatu. Aku mendengar Khaulah binti Tsa’labah mengadu tentang suaminya (Aus bin Ash-Shamit) kepada Rasulullah saw. Akan tetapi aku tidak mendengar seluruh pengaduannya. Ia (Khaulah) berkata: “Masa mudaku telah berlalu. Perutku telah keriput. Aku telah tua bangka dan tidak akan melahirkan anak lagi, sedang suamiku men-zihar-ku. Allahumma (ya Allah), aku mengadu kepada-Mu.’ Tiada henti-hentinya ia mengadu sehingga turunlah Jibril membawa ayat ini (al-Mujadalah: 1-6) yang melukiskan bahwa Allah Mendengar pengaduannya, Menetapkan hukum zihar, serta melarang berbuat zihar.

8. Apakah tidak kamu perhatikan orang-orang yang Telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, Kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada rasul. dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu. dan mereka mengatakan kepada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?” cukuplah bagi mereka Jahannam yang akan mereka masuki. dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.
(al-Mujadalah: 8)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Muqatil bin Hayyan bahwa antara Nabi dan kaum Yahudi terdapat perjanjian untuk tidak saling bermusuhan. Dalam situasi itu, apabila seorang shahabat Nabi saw. lewat di hadapan kaum Yahudi, mereka suka berbisik-bisik dengan kawannya, sehingga sahabat yang lewat itu mengira bahwa mereka merundingkan untuk membunuhnya atau menggunjingnya. Karena itu Rasulullah saw. melarang berbisik-bisik di hadapan orang lain. Namun, larangan tersebut tidak diindahkan. Ayat ini (al-Mujadalah: 8) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai ancaman terhadap orang-orang yang tidak menghentikan perbuatan seperti itu.

Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bazzar, dan ath-Thabarani dengan sanad yang kuat, yang bersumber dari ‘Abdullah bin ‘Amr. Sejalan dengan riwayat ini, ada pula riwayat yang bersumber dari Anas dan ‘Aisyah, bahwa kaum Yahudi memberi salam kepada Rasulullah saw. dengan ucapan saamun ‘alaikum (mudah-mudahan kamu mati). Kemudian mereka mengatakan dalam hati, mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu? Ayat ini (al-Mujadalah: 8) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, dan mengancam mereka dengan siksa neraka jahanam.

10. Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal.
(al-Mujadalah: 10)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah bahwa kaum munafik suka berbisik-bisik di antara sesamanya serta menyombongkan diri di hadapan kaum Mukminin, sehingga menyinggung perasaan kaum Mukminin. Ayat ini (al-Mujadalah: 10) turun melukiskan bahwa berbisik-bisik seperti itu merupakan perbuatan setan.

11. Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(al-Mujadalah: 11)

Diirwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah bahwa apabila ada orang yang baru datang ke majelis Rasulullah saw, para sahabat tidak mau memberikan tempat duduk di dekat Rasulullah saw. Maka turunlah ayat ini (al-Mujadalah: 11) sebagai perintah untuk memberikan tempat kepada orang yang baru datang.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Muqatil bahwa ayat ini (al-Mujadalah: 11) turun pada hari Jum’at, di saat pahlawan-pahlawan Badr datang ke tempat pertemuan yang penuh sesak. Orang-orang pada tidak mau memberi tempat kepada yang baru datang itu, sehingga mereka terpaksa berdiri. Rasulullah menyuruh berdiri orang-orang itu (yang lebih dulu duduk), sedang tamu-tamu itu (para pahlawan Badr) disuruh duduk di tempat mereka. Orang-orang yang disuruh pindah tempat merasa tersinggung perasaannya. Ayat ini (al-Mujadalah: 11) turun sebagai perintah kepada kaum Mukminin untuk menaati perintah Rasulullah dan memberikan kesempatan duduk kepada sesama Mukminin.

12. Hai orang-orang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih bersih; jika kamu tidak memperoleh (yang akan disedekahkan) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
13. Apakah kamu takut akan (menjadi miskin) Karena kamu memberikan sedekah sebelum mengadakan pembicaraan dengan Rasul? Maka jika kamu tiada memperbuatnya dan Allah Telah memberi Taubat kepadamu Maka Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(al-Mujadalah: 12-13)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Abu Thalhah yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kaum Muslimin terlalu banyak bertanya kepada Rasulullah saw. sehingga membebani beliau. Untuk meringankan beban Rasulullah, Allah menurunkan ayat ini (al-Mujadalah: 12) sebagai perintah bersedakah kepada fakir miskin sebelum bertanya. Setelah turun ayat ini (al-Mujadalah: 12) kebanyakan orang menahan diri untuk bertanya. Maka turunlah ayat berikutnya (al-Mujadalah: 13) sebagai teguran kepada orang-orang yang tidak mau bertanya karena takut mengeluarkan sedekah.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi –menurutnya, hadits ini hasan- dll, yang bersumber dari ‘Ali bahwa setelah turun ayat yaa ayyuhal-ladziina aamanuu idzaa najaitumur rosuul…(hai orang –orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan rasul…) (al-Mujadalah: 12) Nabi saw bersabda kepada ‘Ali bin Abi Thalib: “Bagaimana pendapatmu kalau sedakah satu dinar?” ‘Ali menjawab: “Mereka tidak akan mampu.” Beliau bersabda: “Setengah dinar?” ‘Ali menjawab: “Mereka tidak akan mampu.” Beliau bertanya: “Kalau begitu berapa ?” ‘Ali menjawab: “Satu butir sya’ir (gandum).” Rasulullah menjawab: “Engkau terlalu sederhana.” Maka turunlah ayat ini (al-Mujadalah: 13) sebagai teguran kepada orang-orang yang ingin bertanya kepada Rasulullah tapi takut miskin karena harus membayar sedekah terlebih dahulu. Selanjutnya ‘Ali berkata: “Karena ayat itulah umat ini diringankan bebannya.”

14. Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman? orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka Mengetahui.
(al-Mujadalah:14)
18. (Ingatlah) hari (ketika) mereka semua dibangkitkan Alla) lalu mereka bersumpah kepada-Nya (bahwa mereka bukan musyrikin) sebagaimana mereka bersumpah kepadamu; dan mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh suatu (manfaat). Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya merekalah orang-orang pendusta.
(al-Mujadalah:18)

Diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Hakim –disahihkan oleh al-Hakim-, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika Rasulullah berteduh di samping rumahnya, sampai tempat itu hampir tidak teduh lagi (karena lamanya), bersabdalah beliau kepada orang-orang yang berada di sekitarnya: “Akan datang kepadamu seorang manusia yang pandangannya seperti setan. Apabila ia datang kepadamu, janganlah kalian bercakap-cakap dengannya.” Tiada berapa lama datanglah seorang yang bermata biru lagi pecak. Orang itu dipanggil oleh Rasulullah. Seraya bersabda: “Mengapa engkau dan teman-temanmu mencaci maki aku ?” Orang itu menjawab: “Baiklah akan kupanggil mereka.” Tak lama kemudian dia kembali bersama kawan-kawannya. Merekapun bersumpah di hadapan Rasulullah saw. bahwa mereka tidak berkata dan tidak berbuat apa-apa. Ayat ini (al-Mujadalah: 18) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang melukiskan sifat-sifat pandangan setan itu.

Orang yang pandangannya seperti setan itu bernama ‘Abdullah bin Nabtal, seorang munafik yang pernah menyampaikan berita-berita penting, yang seharusnya dirahasiakan, kepada orang-orang Yahudi. Menurut riwayat as-Suddi, dialah yang dimaksud dengan berpandangan setan itu (al-Qurthubi, jus xvii, hal 304)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari as-Suddi bahwa ayat a lam taro ilal-ladziina tawallau qouman ghadliballohu ‘alaihim… (tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman..) (al-Mujadalah: 14) turun berkenaan dengan ‘Abdullah bin Nabtal.

22. Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau Saudara-saudara ataupun keluarga mereka. meraka Itulah orang-orang yang Telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan[1462] yang datang daripada-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.
(al-Mujadalah: 22)

** yang dimaksud dengan pertolongan ialah kemauan bathin, kebersihan hati, kemenangan terhadap musuh dan lain lain.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Syaudzab bahwa ayat ini (al-Mujadalah: 22) turun berkenaan dengan Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah (seorang shahabat Rasulullah saw) yang membunuh bapaknya (dari golongan kafir Quraisy) dalam peperangan Badr. Ayat ini (al-Mujadalah: 22) menegaskan bahwa seorang Mukmin akan mencintai Allah melebihi cintanya kepada sanak keluarganya sendiri.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dan al-Hakim di dalam Kitab al-Mustadrak bahwa di dalam perang Badr bapak Abu ‘Ubaidah menyerang dan ingin membunuh anaknya (Abu ‘Ubaidah). Abu ‘Ubaidah berusaha menghindar diri dengan jalan menangkis dan mengelakkan segala senjata yang ditujukan kepada dirinya. Tapi Abu ‘Ubaidah akhirnya terpaksa membunuh bapaknya. Ayat ini (al-Mujadalah: 22) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang melukiskan bahwa cinta Mukmin kepada Allah akan melebihi cintanya kepada orang tuanya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari Ibnu Juraij bahwa ketika Abu Quhafah (ayah Abu Bakr ash-Shidiq) mencaci maki Rasulullah saw, Abu Bakr memukulnya dengan pukulan yang keras hingga terjatuh. Kejadian ini sampai kepada Rasulullah saw. Beliau bertanya: “Apakah benar engkau berbuat demikian , hai Abu Bakr ?” Iapun menjawab: “Demi Allah, sekiranya ada pedang di dekatku, pasti aku memukulnya dengan pedang.” Ayat ini (al-Mujadalah: 22) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Sumber: Asbabunnuzul KHQ. Shaleh dkk

About these ads

2 Tanggapan to “Asbabun Nuzul Surah Al-Mujadalah”

  1. Humaida 13 Maret 2014 pada 19.24 #

    terima kasih untuk artikelnya, semoga allah memberikan manfaat kepada kita semua. http//hummaida.blogspot.com

    • untungsugiyarto 14 Maret 2014 pada 06.35 #

      Terima kasih juga atas kunjungannya. semoga Allah memudahkan urusan hamba-hamba-Nya yang senantiasa jihad dalam agama-Nya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 79 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: