Asbabun Nuzul Surah Al-Waqi’ah

15 Jan

asbabun nuzul surah alqur’an

“11. Mereka Itulah yang didekatkan kepada Allah. 12. Berada dalam jannah kenikmatan. 13. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, 14. Dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian*”
(al-Waqi’ah: 11-14)

* yang dimaksud adalah umat sebelum nabi Muhammad dan umat sesudah nabi Muhammad SAW.

Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Mundzir, dan Ibnu Abi Hatim –di dalam sanadnya ada rawi yang tidak dikenal-, yang bersumber dari Abu Hurairah bahwa ketika turun ayat ini (al-Waqi’ah: 11-14) sampai ayat tsullatun minal awwaliina wa qaliilumminal aakhiriin (segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian [yang masuk syurga]), kaum Muslimin tidak merasa gembira. Maka turunlah ayat berikutnya, tsullatun minal awwaliina wa tsullatum minal aakhiriin ([yaitu] segolongan besar dari orang-orang terdahulu, dan segolongan besar pula dari orang-orang yang kemudian) (al-Waqi’ah: 39-40), yang menegaskan bahwa dari zaman Islam mulai muncul sampai hari akhir, akan banyak kaum Muslimin yang menjadi ahli syurga.

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir di dalam Tarikh Dimasyqa, dengan sanad yang diragukan, dari ‘Urwah bin Ruwaim, yang bersumber dari Jabir bin ‘Abdillah bahwa ketika turun idzaa waqa’atil waaqi’ah (apabila terjadi hari kiamat) dan di dalamnya diterangkan, tsullatum minal awwaliina wa qaliilum minal aakhiriin (sebagian besar dari golongan orang-orang terdahulu dan sebagian kecil dari orang-orang yang kemudian) (al-Waqi’ah: 13-14), ‘Umar berkata: “Yaa Rasulullah. Tsullatum minal awwaliina wa qaliilum minnaa ? (segolongan besar dari golongan orang-orang terdahulu dan sebagian kecil dari kita ?).” Setahun kemudian barulah turun ayat berikutnya (al-Waqi’ah: 39-40) yang menegaskan bahwa segolongan besar dari orang-orang terdahulu dan sebagian besar pula dari golongan orang-orang yang hidup kemudian (yang masuk syurga). Ketika itu Rasulullah saw. memanggil ‘Umar: “Hai ‘Umar. Mari dengarkan apa yang telah diturunkan Allah, tsullatum minal awwaliina wa tsullatum minal aakhiriiin (segolongan besar dari orang-orang terdahulu, dan segolongan besar pula dari orang-orang yang kemudian).”

27. Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu.
28. Berada di antara pohon bidara yang tak berduri,
29. Dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya),
(al-Waqi’ah: 27-29)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari ‘Urwah bin Ruwaim, tetapi mursal. Dan diriwayatkan pula oleh Sa’id bin Manshur di dalam Sunan-nya dan al-Baihaqi di dalam Kitab al-Ba’ts, yang bersumber dari ‘Atha’ dan Mujahid bahwa setelah Rasulullah mengizinkan orang-orang Tha-if menguasai lembah yang indah dan bersarang madu, mereka mendengar bahwa syurga itu serba indah. Mereka pun berangan-angan memiliki lembah di syurga, seperti yang dimilikinya waktu itu. Maka turunlah ayat ini (al-Waqi’ah: 27-29) yang melukiskan di syurga Na’im yang disediakan bagi golongan kanan.

Diriwayatkan oleh al-Baihaqi dengan sanad yang lain, yang bersumber dari Mujahid bahwa orang-orang kagum melihat lembah yang teduh dinaungi pohon-pohon yang rindang dan indah. Ayat ini (al-Waqi’ah: 27-29) turun melukiskan kehidupan di syurga yang serba indah dan menyenangkan.

75. Maka Aku bersumpah dengan masa Turunnya bagian-bagian Al-Quran.
76. Sesungguhnya sumpah itu adalah sumpah yang besar kalau kamu Mengetahui.
77. Sesungguhnya Al-Quran Ini adalah bacaan yang sangat mulia,
78. Pada Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh),
79. Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.
80. Diturunkan dari Rabbil ‘alamiin.
81. Maka apakah kamu menganggap remeh saja Al-Quran ini?
82. Kamu mengganti rezki (yang Allah berikan) dengan mendustakan Allah.
(al-Waqi’ah: 75-82)

Diriwayatkan oleh Muslim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika turun hujan pada masa Rasulullah saw., Rasulullah saw bersabda: “Di antara manusia ada yang bersyukur dan ada yang kafir karena turun hujan.” Di antara yang hadir berkata: “Ini adalah rahmat yang diberikan Allah.” Sedang yang lainnya berkata: “Sungguh tepat benar ramalan si anu.” Maka turunlah ayat ini (al-Waqi’ah: 75-82) untuk mengingatkan bahwa semua kejadian adalah ketetapan Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abu Hazrah bahwa ayat ini (al-Waqi’ah: 75-82) turun berkenaan dengan serombongan kaum Anshor, waktu perang Tabuk, yang beristirahat di Hijr (peninggalan kaum Nabi Shalih as.) mereka dilarang menggunakankan air yang ada di situ. Kemudian mereka pindah dari tempat itu, tapi tidak mendapatkan air sama sekali. Mereka mengadukan hal itu kepada Rasulullah saw. Rasulullah shalat dua rakaat dan berdoa. Maka langit menjadi berawan dan terus turun hujan atas perintah dan karunia Allah swt, sehingga merekapun dapat minum sepuas-puasnya. Seorang Anshar berkata kepada seseorang yang dituduh munafik: “Bagaimana pendapatmu setelah Nabi saw. berdoa dan turun hujan untuk kepentingan kita ?” Orang itu menjawab: “Kita diberi hujan tidak lain karena ramalan orang.” Ayat ini (al-Waqi’ah 75-82) turun untuk mengingatkan umat Islam bahwa segala sesuatu itu ditetapkan oleh Allah swt.

Sumber: Asbabunnuzul KHQ. Shaleh dkk

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 91 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: