Asbabun Nuzul Surah Al-An’am (4)

28 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

93. “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.” alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” di hari Ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, Karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (Perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.”
(al-An’am: 93)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ayat, wa man azlamu mim maniftaraa ‘alallaahi kadziban au qaala uuhiya ilayya walam yuuha ilaihi syaii’..( dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya.” Padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya…) (al-An’am: 93) turun berkenaan dengan Musailamah al-Kadzdzab.
Sedangkan ayat,… wa mang qaala sa ungzilu mitsla maa angzalallaah…(..dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah”…) (kelanjutan al-An’am: 93), turun berkenaan dengan ‘Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh yang pernah menulis kata yang berbeda dari apa yang didiktekan oleh Nabi kepadanya. Nabi mendiktekan ‘aziizun hakiimun (Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana), ia menulis ghafuurur rahiimun (Yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang). Kemudian Nabi mengulang kembali, tapi ia membantah dengan mengatakan sama saja. Kemudian iapun murtad dari Islam dan mengikuti kaum kafir Quraisy. Ayat ini memberikan peringatan kepada orang-orang yang memalsukan Wahyu Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dario as-Suddi bahwa seperti hadits di atas, dengan tambahan bahwa Musailamah berkata: “Jika Muhammad diberi wahyu, maka sayapun diberi wahyu; dan jika Allah menurunkan kepadanya, maka diapun menurunkan pula kepadaku.” Sementara ‘Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh berkata: “Jika Muhammad berkata, samii’an ‘aliiman (Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui), maka saya pun bisa bisa berkata, ‘aliiman hakiiman (Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana).”

94. “Dan Sesungguhnya kamu datang kepada kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang Telah kami karuniakan kepadamu; dan kami tiada melihat besertamu pemberi syafa’at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. sungguh Telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan Telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).”
(al-An’am: 94)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan lain-lain, yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa an-Nadlr bin al-Harits berkata: “Al-Latta dan al-‘Uzza yang akan memeberi syafaat kepadaku.” Maka turunlah ayat ini (al-An’am: 94 sampai … syurakaa’…[sekutu-sekutu]), sebagai keterangan bahwa di hari akhir manusia akan datang kepada Allah tanpa mendapat bantuan siapapun, termasuk apa-apa yang mereka banggakan sebagai tuhan.

108. “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, Karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (al-An’am: 108)

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dari Ma’mar yang bersumber dari Qatadah bahwa kaum Muslimin pada waktu itu suka mencaci maki berhala kaum kafir, sehingga kaum kafir mencaci maki Allah. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-An’am: 108) sebagai larangan mencaci maki apa-apa yang disembah oleh kaum kafir.

109. “Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mu jizat, Pastilah mereka beriman kepada-Nya. Katakanlah: “Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu Hanya berada di sisi Allah”. dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman*”
(al-An’am: 109)

*Maksudnya: orang-orang musyrikin bersumpah bahwa kalau datang mukjizat, mereka akan beriman, Karena itu orang-orang muslimin berharap kepada nabi agar Allah menurunkan mukjizat yang dimaksud. Allah menolak pengharapan kaum mukminin dengan ayat ini.

110. “Dan (begitu pula) kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.”
(al-An’am: 110)

111. “Kalau sekiranya kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang Telah mati berbicara dengan mereka dan kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka*, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak Mengetahui.”
(al-An’am: 111)

*maksudnya untuk menjadi saksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi bahwa orang-orang Quraisy berkata kepada Rasulullah saw.: “Hai Muhammad. Engkau telah menceritakan kepada kami mukjizat para Rasul, bahwa Musa mempunyai tongkat dan dengan tongkat itu ia memukul batu (hingga keluarlah air); ‘Isa dapat menghidupkan yang mati; dan Shalih diberi unta untuk menguji kaum Tsamud. Maka datangkanlah mukjizatmu kepada kami agar kami percaya kepadamu.” Rasulullah saw. bersabda: “Apa yang kalian inginkan?” Mereka menjawab: “Cobalah gunung Shafa itu dijadikan emas.” Nabi saw. bersabda: “Jika aku telah melaksanakan permintaan kalian, apakah kalian akan percaya kepadaku?” Mereka menjawab: “Demi Allah, kami akan taat.” Maka berdirilah Rasulullah seraya berdoa kepada Allah, sehingga datanglah Jibril dan berkata: “Jika engkau menghendakinya, pasti gunung Shafa itu akan menjadi emas. Tapi jika mereka tidak juga percaya , pasti Allah akan menyiksa mereka. Karenanya lebih baik engkau membiarkan mereka, sehingga bertobat orang-orang yang ingin bertobat.” Kemudian Allah menurunkan ayat ini (al-An’am: 111) sebagai penegasan bahwa mukjizat apapun yang diidatangkan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 79 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: