Asbabun Nuzul Surah Baraa’ah / At-Taubah (5)

28 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

79. “(orang-orang munafik itu) Yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya, Maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka itu, dan untuk mereka azab yang pedih.”
(Baraa’ah: 79)

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim) yang bersumber dari Ibnu Mas’ud. Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Abu Hurairah, Abu ‘Uqail, Abu Sa’id al-Khudri, Ibnu ‘Abbas, dan ‘Umairah binti Suhail bin Rafi’. Bahwa ketika turun ayat perintah mengeluarkan zakat (Baraa’ah: 103), Ibnu Mas’ud sebagai tukang pikul, mengeluarkan zakat dari hasil pikulannya. Pada saat itu apabila ada orang yang bersedekah banyak, kaum munafikin suka mengatakan bahwa ia itu ria, dan apabila sedekahnya sedikit, mereka berkata: “Allah tidak menginginkan sedekah yang sedikit.” Maka turunlah ayat ini (Baraa’ah: 79) sebagai ancaman kepada orang-orang yang suka mencela/ mengejek orang-orang yang bersedekah.

81. “orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jika mereka mengetahui.”
(Baraa’ah: 81)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah saw. memerintahkan untuk jihad beserta beliau di musim panas. Berkatalah beberapa orang di antaranya yang hadir: “Ya Rasulullah. Sekarang sedang panas terik, kami tidak kuat keluar untuk berjihad di waktu panas begini. Oleh karena itu janganlah berangkat di waktu panas.” Maka turunlah akhir ayat ini (Baraa’ah: 81) yang menegaskan bahwa neraka jahanam itu lebih panas.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi bahwa pada waktu panas terik, Rasulullah saw. berangkat ke Tabuk. Berkatalah seseorang dari bani Salamah: “Janganlah kalian berangkat berperang pada waktu panas begini.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (Baraa’ah: 81) sebagai peringatan akan ancaman Allah.

Diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam kitab ad-Dalaa-il, dari Ibnu Ishaq yang bersumber dari ‘Ashim bin ‘Amr bin Qatadah dan ‘Abdullah bin Abi Bakr bin Hazm bahwa seorang munafik berkata: “Janganlah kalian keluar berperang di waktu panas begini.” Maka turunlah ayat ini (Baraa’ah: 81) yang mengancam dengan neraka jahanam yang lebih panas.

84.” dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam Keadaan fasik.”
(Baraa’ah: 84)

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim), yang bersumber dari Ibnu ‘Umar, serta bersumber pula dari ‘Umar, Anas, Jabir dan lain-lain bahwa ketika ‘Abdullah bin Ubay mati, datanglah anaknya kepada Rasulullah saw. meminta gamis beliau untuk kain kafan bapaknya. Rasulullah saw. memberikannya. Iapun meminta agar Rasulullah bersedia menyalatkan mayat bapaknya. Ketika Rasulullah akan menyalatkannya, ‘Umar bin al-Khaththab berdiri memgang baju Rasulullah dan berkata: “Ya Rasulullah, apakah tuan akan menyalatkan dia sedangkan Allah telah melarang menyalatkan mayat kaum munafik?” Beliau menjawab: “Allah menyuruhku memilih dengan firman-Nya, ‘istaghfir lahum au laa tastaghfirlahm ing tastaghfirlahum sab’iina marrah…(… kamu memohon ampun bagi mereka atau tidak kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali..) (Baraa’ah: 80). Dan sekiranya aku tahu bahwa dosanya akan diampuni dengan dimintakan ampunan lebih dari tujuh puluh kali, pasti aku akan melakukannya.” Maka ‘Umar berkata lagi: “Ia itu orang munafik.” Namun Rasulullah saw. tetap menyalatkannya. Maka turunlah ayat ini (Baraa’ah: 84) sebagai larangan menyalatkan orang yang mati dalam keadaan kafir dan munafik. Sejak turun ayat tersebut, Rasulullah saw. tidak mau lagi menyalatkan kaum munafikin.

91. “tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka Berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berbuat baik. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,”
(Baraa’ah: 91)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Zaid bin Tsabit bahwa ketika Zaid bin Tsabit, penulis Rasulullah saw. sedang menulis surah Baraa’ah sampai perintah jihad, ia meletakkan pena di telinganya. Rasulullah saw. menunggu kelanjutan wahyu tersebut. Tiba-tiba datanglah seorang buta seraya bertanya: “Bagaiman saya yang buta, ya Rasulullah?” Maka turunlah ayat ini (Baraa’ah: 91) yang memberikan kelonggaran untuk tidak ikut berperang bagi orang yang lemah, sakit, cacat, ataupun miskin, asal mereka ikhlash kepada Allah swt.

92. “dan tiada (pula) berdosa atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu.” lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan*”.

* Maksudnya: mereka bersedih hati karena tidak mempunyai harta yang akan dibelanjakan dan kendaraan untuk membawa mereka pergi berperang.

99. “di antara orang-orang Arab Badwi itu ada orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu, sebagai jalan untuk mendekatkannya kepada Allah dan sebagai jalan untuk memperoleh doa rasul. ketahuilah, Sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). kelak Allah akan memasukan mereka kedalam rahmat (surga)Nya; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Baraa’ah: 99)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Nama-nama orang yang tidak terbawa dalam peperangan itu disebutkan di dalam kitab al-Mubhamaat. Bahwa ketika Rasulullah saw. memerintahkan orang-orang berangkat jihat bersamanya, datanglah segolongan shahabat di bawah pimpinan ‘Abdullah bin Ma’qil al-Muzani seraya berkata: “Ya Rasulullah, berilah kami tunggangan.” Rasulullah saw. menjawab: “Demi Allah, tidak ada lagi tunggangan yang dapat mengangkut kalian.” Berlinanglah air mata mereka menyesali dirinya karena tidak punya bekal dan tunggangan untuk turut berjihad. Maka turunlah ayat ini (Baraa’ah: 92) sebagai kelonggaran bagi orang-orang yang tidak turut berperang karena kekurangan bekal dan angkutan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid bahwa ayat ini (Baraa’ah: 99) turun berkenaan dengan Bani Muqrin yang ada sangkut pautnya dengan turunnya ayat, wa laa ‘alal ladziina maa atauka li tahmilahhum qulta laa ajidu maa ahmilukum ‘alaihi..(Dan tiada [pula dosa] atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberikan mereka kendaraan, lalu kamu berkata: “Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu…) (Baraa’ah: 92)

Keterangan: Menurut ‘Abdurrahman bin Ma’qil al-Muzani, pasukan yang ada sangkut pautnya dengan ayat ini (Baraa’ah: 92) terdiri atas sepuluh orang putra Muqrin.

sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 86 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: