Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (4)

31 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

34. “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[289] ketika suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah memelihara (mereka)[290]. wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya[291], Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya[292]. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.”
(an-Nisaa’: 34)

[288] lihat orang-orang yang termasuk ahli waris dalam surat An Nisaa’ ayat 11 dan 12.
[289] Maksudnya: tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya.
[290] Maksudnya: Allah Telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.
[291] Nusyuz: yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya.
[292] Maksudnya: untuk memberi peljaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. bila cara pertama Telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari al-Hasan bahwa seorang wanita mengadu kepada Nabi saw. karena telah ditampar oleh suaminya. Rasulullah saw. bersabda: “Dia mesti dikisas (dibalas).” Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 34) sebagai ketentuan dalam mendidik istri yang menyeleweng. Setelah mendengar penjelasan ayat tersebut, pulanglah ia serta tidak melaksanakan kisas.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari beberapa jalan, yang bersumber dari al-Hasan. Ibnu Jarir meriwayatkan pula hadits seperti ini yang bersumber dari Ibnu Juraij dan as-Suddi bahwa ada seorang istri yang mengadu kepada Rasulullah saw. karena ditampar oleh suaminya (orang Anshar) dan menuntut kisas (balas). Nabi saw. mengabulkan tuntutan itu. Maka turunlah ayat…walaa ta’jal bil qur-‘aani ming qabli ay yuqdlaa ilaika wahyuh….(…dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca al-Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu…) (an-Nisaa’: 34) sebagai ketentuan hak suami dalam mendidik istrinya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari ‘Ali bahwa seorang Anshar menghadap Rasulullah saw. bersama istrinya. Istrinya berkata: “Ya Rasulallah. Ia telah memukul saya hingga berbekas di mukaku.” Maka bersabdalah Rasulullah saw: “Ia tidak berhak berbuat demikian.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 34) sebagai ketentuan dalam mendidik istri.

37. “(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang Telah diberikan-Nya kepada mereka. dan kami Telah menyediakan untuk orang-orang kafir[296] siksa yang menghinakan.”
(an-Nisaa’: 37)

[296] maksudnya kafir terhadap nikmat Allah, ialah Karena kikir, menyuruh orang lain berbuat kikir. menyembunyikan karunia Allah berarti tidak mensyukuri nikmat Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa para ulama bani Israel itu bakhil dengan ilmu yang mereka miliki. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 37) sebagai peringatan terhadap perbuatan seperti itu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Ishaq, dari Muhammad bin Abi Muhammad, dari ‘Ikrimah atau Sa’id, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Kurdum bin Zaid, sekutu Ka’b bin al-Asyraf, Usamah bin Habib, Nafi’ bin Abi Nafi’, Bahri bin ‘Amr, Hayy bin Akhthab, dan Rifa’ah bin Zaid bin at-Tabut mendatangi orang-orang Anshar dan menasehatinya dengan berkata: “Janganlah kamu membelanjakan hartamu, kami takut kalau-kalau kamu jadi fakir dengan hilangnya harta itu; dan janganlah kamu terburu-buru menginfakkan, karena kamu tidak tahu apa yang akan terjadi.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 37) sebagai laranggan menjadi orang kikir dan larangan menganjurkan orang lain menjadi orang kikir.

43. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub[301], terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu Telah menyentuh perempuan, Kemudian kamu tidak mendapat air, Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.”
(an-Nisaa’: 43)

[301] menurut sebahagian ahli tafsir dalam ayat Ini termuat juga larangan untuk bersembahyang bagi orang junub yang belum mandi.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa-i, dan al-Hakim, yang bersumber dari ‘Ali bahwa ‘Abdurrahman bin ‘Auf mengundang makan ‘Ali dan kawan-kawannya. Kemudian dihidangkan minuman khamr (arak/ minuman keras), sehingga terganggulah otak mereka. Ketika tiba waktu shalat, orang-orang menyuruh ‘Ali menjadi imam, dan waktu itu beliau membaca dengan keliru, qul yaa ayyuhal kaafiruun, laa a’budu maa ta’buduun; wa nahnu na’budu maa ta’buduun (katakanlah: wahai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kami akan menyembah apa yang kamu sembah”). Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 43) sebagai larangan shalat dalam keadaan mabuk.

Diriwayatkan oleh al-Faryabi, Ibnu Abi Hatim, dan Ibnul Mudzir, yang bersumber dari ‘Ali bahwa turunnya ayat,…wa laa junuban illaa ‘aabirii sabiilin hattaa taghtasiluu…(…[jangan pula hampiri mesjid] sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi…) (an-Nisaa’: 43) berkenaan dengan seorang yang junub (berhadats besar) di dalam perjalanan, lalu ia bertayamum terus shalat. Ayat ini (an-Nisaa’: 43) sebagai petunjuk bagi orang yang berhadats dalam perjalanan ketika tidak ada air.

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Al-Asla bin Syarik, bahwa al-Asla bin Syarik dalam keadaan junub di perjalanan bersama Rasulullah saw.. Pada waktu itu malam sangat dingin. Al Asla tidak berani mandi dengan air dingin, takut kalau-kalau mati atau sakit. Hal itu disampaikannya kepada Rasulullah saw.. Lalu turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 43) sebagai tuntunan bagi orang-orang yang takut kena bahaya kedinginan kalau ia mandi.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani yang bersumber dari al-Asla’ bahwa pada suatu hari dalam perjalanan, Rasulullah saw. memerintahkan al-Asla’, khadam dan pembantunya untuk menyiapkan kendaraannya. Al-Asla’ berkata: “Wahai Rasulallah, aku sedang junub.” Rasulullah saw. terdiam hingga datang kepadanya Jibril membawa ayat tentang tayamum. Beliau memperlihatkan cara bertayamum kepadanya: menyapu muka sekali dan menyapu kedua tangannya sampai sikut sekali. Maka al-Asla’ pun bertayamum, kemudian mempersiapkan kendaraan untuk Rasulullah saw.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Yazid bin Abi Habib bahwa pintu rumah sebagian golongan Anshar ada yang melalui masjid. Ketika mereka junub dan tidak mempunyai air, mereka tidak bisa mendapatkan air kecuali melalui masjid. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 43) yang membolehkan orang junub melewati masjid.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Mujahid bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 43) berkenaan dengan seorang Anshar yang sakit dan tidak kuat berdiri untuk wudlu. Dia tidak mempunyai khadam (pelayan) yang menolongnya. Hal ini diterangkan kepada Rasulullah saw.. Turunnya ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 43) sebagai tuntunan bertayamum bagi orang yang sakit dan tidak mampu berwudlu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibrahim an-Nakha’i bahwa beberapa shahabat Rasul mendapat luka yang parah sampai infeksi, dan diuji Allah dengan junub (karena mimpi). Mereka mengadu kepada Rasulullah saw.. Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 43) sebagai kelonggaran bertayamum bagi orang yang sakit parah dan junub.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 86 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: