Tentang Najis

20 Mar

Kajian Fiqih menurut Empat Mazhab

 

Khamr

Para Imam Madzab sepakat tentang najisnya khamr, kecuali sebuah riwayat dari Dawud azh-Zhahiri yang mengatakan kesuciaannya tetapi mengharamkannya. Mereka sepakat bahwa apabila khamr berubah menjadi cuka dengan sendirinya, maka hukumnya menjadi suci. Namun jika khamr berubah menjadi cuka karena dicampur dengan sesuatu, menurut Syafi-i dan Hanbali hal itu tidak suci.

Maliki: mengubah khamr menjadi cuka hukumnya adalah makruh. Namun jika khamr menjadi cuka, maka cuka itu hukumnya adalah suci dan halal. Hanafi: khamr boleh dibuat cuka, dan apabila telah menjadi cuka maka hukumnya adalah suci dan halal.

 

Anjing dan Babi

Syafi-i dan Hanbali: anjing adalah najis. Bejana yang dijilat anjing harus dibasuh tujuh kali. Hanafi: anjing adalah najis, tetapi bekas jilatannya boleh dicuci sebagaimana kita mencuci najis lainnya. Apabila diduga najisnya  sudah suci, meskipun dibasuh satu kali, maka hal itu sudah cukup. Namun jika diduga bahwa najisnya belum hilang, maka bekas jilatan itu harus dibasuh lagi hingga diyakini bersih, walaupun harus dibasuh duapuluh kali. Maliki: anjing adalah suci dan bekas jilatannya tidak najis. Namun, bejana yang dijilatnya harus dicuci semata-mata sebagai ibadah saja.

Kalau anjing memasukkan keempat kakinya ke dalam sebuah bejana maka bejana tersebut wajib dibasuh tujuh kali seperti mencuci bekas jilatannya. Namun, dalam hal ini Maliki berbeda pendapat karena ia mengkhususkan basuhan tujuh kali itu hanya pada bekas jilatan.

Babi hukumnya seperti anjing, yakni bekas najisnya dibasuh tujuh kali. Demikian menurut pendapat yang paling shahih dalam madzab Syafi-i. An-Nawawi berpendapat: “Pendapat paling kuat dari segi dalil adalah najis babi cukup dibasuh satu kali tanpa disertai tanah.” Pendapat inipun diikuti oleh kebanyakan ulama. Pendapat ini dipilih karena pada dasarnya tidak ada kewajiban hingga datang perintah.

Maliki: babi adalah suci ketika masih hidup karena tidak ada dalil yang menjelaskan kenajisannya. Hanafi: najis babi harus dibasuh seperti najis-najis lainnya.

Membasuh bejana, pakaian, dan badan dari najis selain najis anjing dan babi, menurut Hanafi, Maliki dan Syafi-i: tidak diulang-ulang –tujuh kali. Riwayat paling masyuur dari Hanbali: wajib mengulang basuhan kecuali najis tanah. Maka bejana dibasuh tujuh kali. Namun menurut riwayat lain, basuhan itu tiga kali. Ada juga riwayat  yang tidak mengaruskannya pengulangan basuhan jika najis itu bukan anjing dan babi.

 

Air Kencing Bayi

Syafi-i dan Hanafi: menyucikan air kencing bayi laki-laki yang hanya minum air susu cukup dengan dipercikkan air di atasnya. Namun, air kencing bayi perempuan harus dibasuh atau disiram. Maliki: keduanya harus dibasuh dan hukum keduanya sama. Hanbali: air kencing bayi perempuan yang masih menyusu adalah suci.

 

Bangkai

Hanafi: semua kulit binatang dapat menjadi suci dengan disamak, kecuali kulit anjing dan babi. Riwayat paling kuat dari Maliki: kulit tidak dapat menjadi suci, tetapi ia dapat dipergunakan untuk sesuatu yang basah. Syafi-i: semua kulit binatang dapat disucikan dengan disamak, kecuali kulit anjing dan babi, serta binatang hasil dari kawin silang salah satu  dari kedua binatang itu dengan binatang lain.

Dari Hanbali ada dua riwayat, tetapi yang termasyur mengatakan bahwa kulit bangkai tidak suci dan tidak dapat dipergunakan untuk apa pun sebagaimana daging bangkai. Diriwayatkan dari az-Zuhri: kulit bangkai dapat dipergunakan meskipun tidak disamak.

Syafi-I dan Hanbali: kulit binatang sembelihan tidak dapat digunakan untuk apapun jika binatang tersebut  tidak halal dimakan. Jika binatang itu disembelih maka ia menjadi bangkai.

Maliki: kulit bangkai dapat dipergunakan, kecuali kulit babi. Jika binatang buas atau anjing disembelih maka kulitnya suci, boleh diperjual belikan, dan memyimpan air wudlu, meskipun tidak disamak. Hanafi: seluruh bagiannya  adalah suci, tetapi dagingnya haram. Maliki: dagingnya makruh.

Syafi-i: Rambut dan bulu bangkai selain manusia adalah najis. Maliki: bulu termasuk bagian badan yang tidak pernah mati. Oleh karena itu, hukumnya adalah suci secara mutlak, baik ia dari binatang yang halal dagingnya, seperti kambing dan kuda, maupun dari binatang yang tidak halal dimakan, seperti keledai dan anjing. Ia pun berpendapat bahwa bulu anjing dan babi adalah suci, baik ketika masih hidup maupun setelah mati.

Pendapt paling shahih dari Hanbali: rambut dan bulu anjing dan babi adalah suci. Demikian juga menurut Hanfi seraya  menambahkan bahwa tanduk, gigi, dan tulang adalah suci sebab tidak bernyawa.

Diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri dan al-Awza’I bahwa rambut semua binatang adalah najis, tetapi ia dapat disucikan dengan dibasuh.

Para ulama berbeda pendapat tentang bolehnya  memanfaatkan bulu babi untuk bantal. Hanafi dan Maliki memberikan keringan, Syafi-I melarangnya, dan Hanbali memakruhkannya. Hanbali berpendapat: Bantal dari sabut lebih aku sukai.

Hanafi dan Maliki: setiap binatang yang darahnya tidak mengalir, seperti lebah, semut, kumbang, dan kalajengking jika mati pada benda basah maka benda itu tidak menjadi najis karena binatang itu sendiri adalah suci. Pendapat paling kuat dari Syafi-I dan Hambali: Benda itu tidak menjadi najis, tetapi bangkai binatang itu sendiri adalah najis.

Syafi-i: ulat yang muncul pada benda yang halal, apabila mati di dalamnya, tidak menjadikannya najis, dan benda itu boleh dimakan bersama ulatnya.

Tiga madzab: binatang yang hidup di air, seperti katak, apabila mati di dalam air yang sedikit, maka air itu menjadi najis. Hanafi: air itu tidak najis.

Menurut ijma’, bangkai belalang dan ikan adalah suci. Adapun tentang mayat manusia, menurut Maliki, Hambali dan Syafi-I –menurut pendapat paling shahih, tidak najis. Hanafi: mayat itu najis, tetapi bias disucikan dengan dimandikan.

Orang junub, wanita haid, dan orang musyrik, apabila memasukkan salah satu tangannya ke dalam bejana berisi air sedikit –kurang dari dua qullah- maka air tersebut tetap suci. Demikian menurut ijma.

 

Sisa Makanan dan Minuman Binatang

Hanafi, Syafi-I dan Hambali: sisa makanan atau minuman anjing dan babi adalah najis, tetapi sisa makan atau minum binatang lain adalah suci. Pendapat paling shahih dari Hambali: sisa makanan dan minuman binatang buas adalah najis. Maliki: sisa makanan dan minuman binatang itu adalah suci.

Tiga imam madzab sepakat bahwa sisa minum baghal dan keledai adalah suci, tetapi tidak menyucikan. Pendapat paling shahih dari Hambali: hal itu najis.

Pentingnya mengetahui masalah ini adalah apabila seseorang tidak mendapatkan air –selain air sisa minum binatang- apakah ia berwudlu dengannya atau bertayamum.

Para ulama sepakat tentang kesucian kucing dan binatang yang lebih kecil daripadanya. Hanafi: sisa –makan dan minum- kucing adalah makruh. Sementara itu, al-Awza’I, dan ats-Tsawri berpendapat bahwa sisa –makan dan minum- binatang yang tidak dimakan dagingnya adalah najis, kecuali manusia.

 

Najis yang Dimaafkan

Pendapat paling shahih dari Syafi-I mengatakan bahwa semua najis, banyak maupun sedikit, sama dalam hukum menghilangkannya. Tidak ada yang dimaafkan, kecuali yang sulit dihindari menurut kebiasaan, seperti darah jerawat, darah bisul, darah kudis, darah kutu, tahi lalat, tempat bercantuk, dan debu jalan. Maliki pun berpendapat demikian. Bahkan, ia mengatakan bahwa darah sedikit dimaafkan. Hanafi berpendapat bahwa darah kutu dan darah kepinding adalah suci. Selanjutnya Hanafi menetapkan bahwa segala  najis yang ukurannya lebih kecil daripada mata uang satu dirham dimaafkan.

 

Benda yang Keluar dari Perut

Benda lunak yang keluar dari perut melalui dubur adalah najis. Hal ini disepakati para ulama. Namun ada riwayat dari Hanafi yang mengatakan bahwa benda tersebut adalah suci.

Syafi-i: air kencing dan tahi adalah najis secara mutlak. Maliki dan Hambali: air kencing dan kotoran binatang yang dagingnya dapat dimakan adalah suci.

Hanafi: kotoran burung yang dagingnya dapat dimakan, seperti merpati dan pipit adalah suci. Syafi-i: dalam qaul qadim-nya: kotoran selain kedua burung tersebut adalah najis. Diriwayatkan dari an-Nakha’i bahwa air kencing semua binatang yang suci adalah suci.

 

Air Mani

Hanafi dan Maliki: mani manusia adalah najis. Maliki: mani harus dibasuh dengan air, baik basah maupun kering. Hanafi: Mani dibasuh jika masih basah dan dikerik jika telah kering. Pendapat paling shahih dari Syafi-i: mani adalah suci secara mutlak, kecuali mani anjing dan babi. Sementara itu, pendapat paling shahih dari Hambali: mani yang suci hanya  mani manusia.

 

Air yang Terkena Najis

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berwudlu dari sumur yang telah kejatuhan bangkai. Hanafi: apabila bangkai itu telah rusak maka shalatnya harus diulang selama tiga hari, sedangkan jika tidak rusak maka shalatnya  diulang selama sehari semalam. Syafi-i dan Hambali: jika airnya sedikit, hendaklah diulang shalat  yang menurut perkiraannya dikerjakan dengan wudlu air tersebut. Sementara itu, jika airnya banyak dan tidak berubah maka shalatnya tidak wajib diulang. Namun, jika airnya  berubah, shalatnya wajib diulang sejak air itu berubah. Maliki: jika air itu  berupa mata air dan tidak berubah sifat-sifatnya maka air itu suci dan shalatnya  tidak wajib diulang. Sedangkan jika bukan mata air, Maliki mempunyai dua riwayat. Ibn Qasim, sahabat Maliki memutlakkan kenajisannya.

 

Ragu Tentang Mana yang Suci

Kalau keadaan air tidak jelas, suci atau najis, jika ada bejana-bejana  yang sebagiannya suci dan sebagian lain terkena najis, bolehkah berijtihad atau memilih yang lebih pantas dalam hal ini?

Syafi-i: ia boleh berijtihad dan berwudlu dengan air yang dianggapnya suci. Hanafi: jika bejana  yang suci lebih banyak daripada bejana yang najis maka ia boleh memilih yang dianggapnya suci. Hambali:  jangan memilih yang dipandang suci, melainkan semuanya dituangkan atau dicampurkan, lalu bertayamum. Maliki –menurut sebuah riwayat: orang itu tidak boleh memilih yang dianggapnya suci.

Jika orang itu mempunyai dua helai kain, yang satu suci dan yang lainnya najis, tetapi tidak diketahui mana yang suci, maka ia boleh memilih yang dianggapnya suci. Maliki dan Hambali: ia harus shalat dua kali; sekali dengan kain pertama dan sekali lagi dengan kain kedua. Hanafi dan Syafi-i: ia harus memilih salah satu dari keduanya.

Sumber: Fiqih Empat Madzab, Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 104 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: