Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Fath (12)

25 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Fath (Kemenangan)

Surah Makkiyyah; Surah ke 48: 29 ayat

 

Suhail bin ‘Amr berkata: “Tidak ada seorangpun dari pihak kami yang datang kepadamu meskipun ia pemeluk agamamu, melainkan engkau harus mengembalikannya kepada kami.” Maka kaum muslimin berkata: “Mahasuci Allah, bagaimana mungkin ia akan dikembalikan kepada orang-oran musyrik, padahal ia sudah datang dalam keadaan muslim?” Pada saat mereka demikian, tiba-tiba datang Abu Jandal bin Suhail bin ‘Amr dalam keadaan terikat. Ia datang dari [orang-orang] Makkah paling bawah [rendah] sehingga ia melemparkan dirinya ke tengah-tengah kaum muslimin. Lalu Suhail berkata: “Wahai Muhammad, ini adalah orang pertama yang engkau harus kembalikan kepadaku.” Maka Nabi saw. bersabda: “Sesungguhnya kita belum mengesahkan  surat perjanjian di antara kita.”

Kemudian ia berkata: “Demi Allah, aku tidak akan bedamai denganmu atas sesuatu untuk selamanya.” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Berikanlah ia kepadaku.” Suhail berkata: “Aku  tidak akan memberikannya kepadamu.” Selanjutnya  beliau bersabda: “Lakukanlah.” Suhail berkata: “Kami tidak akan melaksanakannya.” Mikraz berkata: “Baiklah, kami bolehkan orang ini [Abu Jandal] untuk tetap bersamamu.”

Kemudian Abu Jandal berkata: “Wahai sekalian kaum muslimin, apakah aku akan dikembalikan kepada orang-orang musyrik, padahal aku datang dalam keadaan muslim, tidakkah kalian mengetahui apa yang telah aku  alami?” Abu Jandal merasakan siksaan yang pedih dalam mempertahankan agama Allah.

‘Umar bin al-Khaththab berkata: “Kemudian aku mendatangi Rasulullah saw. lalu kukatakan: ‘Bukankah engkau benar-benar Nabi Allah?’ Nabi saw. bersabda: ‘Ya benar.’ Kukatakan lagi: ‘Bukankah kita berada dalam kebenaran, dan musuh kita berada dalam kebathilan?’ Beliau menjawab: ‘Benar.’ ‘Kalau begitu mengapa kita harus memberi kelonggaran dalam agama kita?’ tanyaku. Rasulullah saw. bersabda: ‘Sesungguhnya aku ini Rasul Allah, aku tidak durhaka kepada-Nya, Dia adalah Penolongku.’”

Lebih lanjut kukatakan kepada beliau: “Bukankah engkau pernah memberitahu kami bahwa kita akan mendatangi Baitullah dan berthawaf di sana?” Maka beliau bersabda: “Ya benar. Tapi apakah aku memberitahu kepadamu bahwa kita akan mendatanginya tahun ini juga?” “Tidak.” Jawabku. Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya engkau akan mendatanginya dan thawaf di sana.”

Kemudian dia berkata: “Lalu aku mendatangi Abu Bakar dan kukatakan: ‘Wahai Abu Bakr, bukankah ini Nabi Allah yang sebenarnya?’ Abu Bakr berkata: ‘Benar.’ Lebih lanjut kukatakan: ‘Bukankah kita berada di atas kebenaran, sedangkan musuh kita berada di dalam kebathilan?’ Abu Bakr menjawab: ‘Ya benar.’ Aku berkata: ‘Lalu mengapa kita memberikan kelonggaran dalam agama kita?’ Ia menjawab: ‘Wahai engkau, sesungguhnya beliau adalah Rasul Allah, dan beliau tidak mendurhakai Rabb-nya, dan Dia adalah penolongnya. Karenanya, berpeganglah engkau kepada talinya. Demi Allah beliau benar-benar berada dalam kebenaran.’ Kukatakan: ‘Bukankah ia telah memberitahu kita bahwa kita akan datang ke Baitullah dan berthawaf disana?’ Abu Bakr menjawab: ‘Benar, namun apakah ia memberitahumu bahwa engkau akan datang ke Baitullah tahun ini?’ Aku menjawab: ‘Tidak.’ Abu Bakr pun berkata: ‘Engkau akan datang kesana dan berthawaf di sana.’”

Az-Zuhri bercerita bahwa ‘Umar pernah berkata: “Dan karena peristiwa tersebut, aku mengerjakan berbagai amalan yang sangat banyak.” Setelah selesai membuat perjanjian, lanjut az-Zuhri, Rasulullah saw. berkata kepada para shahabatnya: “Berdirilah kalian semua, dan berkurbanlah, dan selanjutnya bercukurlah.”

Maka demi Allah, tidak ada seorangpun dari mereka yang berdiri sampai Rasulullah saw. mengatakan hal itu tiga kali. Melihat tidak ada seorangpun dari mereka yang berdiri, maka beliau masuk menemui Ummu Salamah dan menyebutkan apa yang ia dapati dari orang-orang. Kemudian Ummu Salamah berkata kepada beliau: “Wahai Nabi Allah, apakah engkau menginginkan hal tersebut? Pergi dan janganlah engkau berbicara dengan salah seorangpun dari mereka, sehingga engkau menyembelih untamu dan memanggil tukang cukurmu untuk mencukurmu.” Maka Rasulullah saw. pun pergi dan tidak berbicara dengan seorangpun dari mereka sehingga beliau menyembelih untanya dan memanggil tukang cukurnya dan mencukur beliau.

Setelah orang-orang mengetahui hal tersebut, maka merekapun menyembelih kurbannya dan sebagian mereka saling mencukur sebagian yang lainnya, sehingga hampir-hampir sebagian mereka melukai sebagian yang lain. Kemudian beberapa orang wanita mukminah mendatangi beliau, hingga akhirnya Allah menurunkan ayat yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, Maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka;maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman Maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. dan berikanlah kepada (suami suami) mereka, mahar yang telah mereka bayar. dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; dan hendaklah kamu minta mahar yang telah kamu bayar; dan hendaklah mereka meminta mahar yang telah mereka bayar. Demikianlah hukum Allah yang ditetapkanNya di antara kamu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (al-Mumtahanah: 10)

Maka pada hari itu, ‘Umar bin al-Khaththab menceraikan dua orang wanita. Kemudian salah seorang wanita itu dinikahi oleh Mu’awiyah bin Abi Sufyan, sedangkan wanita yang satu lagi dinikahi oleh Shafwan bin Umayyah. Setelah itu Nabi saw. kembali ke Madinah. Selanjutnya Abu Bashir, salah seorang dari suku Quraisy mendatangi beliau, dia adalah seorang muslim. Orang-orang Quraisy mengirimkan dua orang utusan untuk mencarinya. Mereka berkata: “Tepatilah perjanjian yang telah engkau putuskan bagi kami.” Maka Rasulullah menyerahkan Abu Bashir kepada dua orang tadi. Kedua utusan itu membawa Abu Bashir kembali, dan ketika sampai di Dzuhulaifah, merekapun singgah untuk makan kurma. Abu Bashir berkata kepada salah seorang dari keduanya: “Demi Allah, sesungguhnya aku melihat pedangmu itu sungguh sangat bagus.” Kemudian orang itu menghunuskan pedangnya dan mengatakan: “Benar sekali. Demi Allah, sungguh aku telah mencobanya berkali-kali.” Maka Abu Bashir mengatakan: “Cobalah perlihatkan. Aku ingin melihatnya.” Abu Bashir mendapatkan kesempatan yang memungkinkan untuk memanfaatkan pedang itu, maka iapun segera menebas orang itu hingga tewas. Yang satu lagi melarikan diri hingga sampai di kota Madinah. Ia lari dan masuk ke dalam masjid. Dan ketika melihatnya, Rasulullah saw. bersabda: “Orang ini sungguh sangat ketakutan.” Setelah sampai di dekat Rasulullah saw. orang itu berkata: “Demi Allah, ia telah membunuh sahabatku dan akupun akan dibunuhnya.” Kemudian Abu Bashir datang dan mengatakan: “Wahai Rasulallah, demi Allah, sesungguhnya Allah telah menyempurnakan janjimu. Engkau  telah mengembalikan aku kepada mereka. Kemudian Allah telah menyelamatkan diriku dari mereka.” Maka Nabi saw. bersabda: “Celakalah ibunya. Api peperangan telah dinyalakan, kalau saja ada seseorang bersamanya.”

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 82 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: