Perbedaan Antara Al-Qur’an dan Hadist Qudsi

8 Apr

Seri Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an

 

Perbedaan antara al-Qur’an dan Hadits Qudsi yang terpenting adalah:

1.      Al-Qur’anul Karim adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah dengan lafalnya, dan dengan itu pula orang Arab ditantang; tetapi mereka tidak mampu membuat seperti al-Qur’an itu, atau sepuluh surah yang serupa dengan itu, bahkan satu surah sekalipun. Tantangan itu tetap berlaku, karena Qur’an adalah mukjizat yang abadi hingga hari kiamat. Sedang hadits qudsi tidak untuk menantang dan tidak pula untuk mukjizat.

2.      Al-Qur’anul Karim hanya dinisbatkan kepada Allah, sehingga dikatakan: Allah Ta’ala telah berfirman. Sedang hadist Qudsi terkadang diriwayatkan dengan disandarkan kepada Allah; sehingga nisbah hadits qudsi kepada Allah itu merupakan nisbah dibuatkan. Maka dikatakan: “Allah telah berfirman atau Allah berfirman.” Dan terkadang pula diriwayatkan dengan disandarkan kepada Rasulullah saw; tetapi nisbahnya adalah nisbah kabar, karena Nabi yang menyampaikan hadits itu dari Allah. Maka dikatakan: Rasulullah saw. mengatakan mengenai apa yang diriwayatkan dari Tuhannya.

3.      Seluruh isi Qur’an dinukil secara mutawatir, sehingga kepastiannya sudah mutlak. Sedang hadits-hadits qudsi kebanyakan adalah khabar ahad, sehingga kepastiannya merupakan dugaan. Ada kalanya hadits qudsi itu shahih, terkadang hasan (baik) dan terkadang pula dhaif (lemah)

4.      Al-Qur’anul Karim dari Allah, baik lafal maupun maknanya. Maka ia adalah wahyu, baik dalam lafal maupun maknanya. Sedangkan hadits qudsi maknanya saja yang dari Allah, sedang lafalnya dari Rasulullah saw.. Hadist qudsi  ialah wahyu dalam makna tetapi bukan dalam lafal. Oleh karena itu, menurut sebagian besar ahli hadits diperbolehkan meriwayatkan hadits qudsi dengan maknanya saja.

5.      Membaca al-Qur’anul Karim merupakan ibadah; karena itu ia dibaca di dalam shalat. “Maka bacalah apa yang mudah bagimu dari Qur’an itu.” (al-Muzzammil: 20). Nilai ibadah membaca al-Qur’an juga terdapat dalam hadits: “Barangsiapa membaca satu huruf dari al-Qur’an, dia akan memperoleh satu kebaikan. Dan kebaikan itu akan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lam mim satu huruf. Tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” Diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Mas’ud; yang mengatakan bahwa hadits itu hasan dan shahih.

Sedangkan hadits qudsi tidak dusuruh membacanya di dalam shalat. Allah memberikan pahala membaca hadits qudsi secara umum saja. Maka membaca hadits qudsi tidak akan memperoleh pahala seperti yang disebutkan dalam hadits mengenai membaca al-Qur’an bahwa pada setiap huruf mendapatkan sepuluh kebaikan.

Sumber: Sumber: Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an, Mannaa’ Khaliil al-Qattaan

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 93 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: