Cara Penyampaian Wahyu oleh Malaikat kepada Rasul

10 Apr

Studi Ilmu-ilmu Al-Qur’an

Wahyu Allah kepada para Nabi-Nya itu adakalanya tanpa perantaraan (mimpi yang benar di waktu tidur, kalam Ilahi di balik tabir dalam keadaan terjaga yang disadari) dan adakalanya melalui perantaraan malaikat wahyu. Wahyu dengan perantaraan malaikat wahyu inilah al-Qur’an diturunkan.
Ada dua cara penyampaian wahyu oleh malaikat kepada Rasul:
1. Pertama, datang kepadanya suara seperti suara dencingan lonceng dan suara yang amat kuat yang mempengaruhi faktor-faktor kesadaran, sehingga ia dengan segala kekuatannya siap menerima pengaruh itu. Cara ini yang paling berat buat Rasul. Apabila wahyu yang turun kepada Rasulullah saw. dengan cara ini, maka ia mengumpulkan segala kekuatan kesadarannya untuk menerima, menghafal dan memahaminya. Dan suara ini mungkin sekali suara kepakan sayap-sayap para malaikat, seperti diisyaratkan dalam hadits: “Apabila Allah menghendaki suatu urusan di langit, maka para malaikat memukul-mukulkan sayapnya karena tunduk kepada firman-Nya, bagaikan gemerincingnya mata rantai di atas batu-batu yang licin.” Dan mungkin pula suara malaikat itu sendiri pada waktu Rasul baru mendengarnya untuk pertama kali.
2. Cara kedua: malaikat menjelma kepada Rasul sebagai seorang laki-laki dalam bentuk manusia. Cara ini lebih ringan daripada cara pertama, karena adanya kesesuaian antara pembicara dengan pendengar. Rasul merasa senang sekali mendengarkan dari utusan pembawa wahyu itu, karena merasa seperti seorang manusia berhadapan dengan saudaranya sendiri.
Keadaan Jibril menampakkan diri seperti seorang laki-laki itu tidaklah mengharuskan ia melepaskan sifat kerohaniannya. Dan tidak pula berarti bahwa zatnya telah berubah menjadi seorang laki-laki. Tetapi yang dimaksud adalah bahwa dia menampakkan diri dalam bentuk manusia tadi untuk menyenangkan Rasulullah sebagai manusia. Yang sudah pasti keadaan pertama –tatkala wahyu turun seperti dencingan lonceng- tidak menyenangkan karena keadaan yang demikian menuntut ketinggian rohani dari Rasulullah saw. yang seimbang dengan tingkat kerohanian malaikat. Dan inilah yang paling berat.
Kata Ibnu Khaldun: “Dalam keadaan yang pertama, Rasulullah melepaskan kodratnya sebagai manusia yang bersifat jasmani untuk berhubungan dengan malaikat yang rohani sifatnya. Sedangkan dalam keadaan lain sebaliknya, malaikat berubah dari yang rohani semata menjadi manusia jasmani.”
Keduanya itu tersebut dalam hadits yang diriwayatkan dari Aisyah Ummul Mukminin r.a. bahwa Haris bin Hisyam r.a. bertanya kepada Rasulullah saw. mengenai hal itu. Dan dijawab Nabi: “Kadang-kadang ia datang kepadaku bagaikan dencingan lonceng, dan itulah yang paling berat bagiku, lalu ia pergi, dan aku telah memahami apa yang dikatakannya. Dan terkadang malaikat menjelma kepadaku sebagai seorang laki-laki, lalu dia berbicara kepadaku, dan akupun memahami apa yang ia katakan.”
‘Aisyah juga meriwayatkan apa yang dialami oleh Rasulullah saw. berupa kepayahan, dia berkata: “Aku pernah melihatnya tatkala wahyu yang sedang turun kepadanya pada suatu hari yang amat dingin. Lalu malaikat itu pergi, sedang keringat pun mengucur dari dahi Rasulullah.”
Keduanya itu merupakan macam ketiga pembicaraan Ilahi yang diisyaratkan di dalam ayat: “dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan Dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (asy-Syuraa: 51)
Mengenai hembusan di dalam hati, telah disebutkan di dalam hadits Rasulullah saw.: “Roh Kudus telah menghembuskan ke dalam hatiku bahwa seseorang itu tidak akan mati sehingga ia menyempurnakan rizky dan ajalnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan carilah rizky dengan jalan yang baik.”
Hadits ini tidak menunjukkan keadaan turunnya wahyu secara tersendiri. Hal itu mungkin dapat dikembalikan pada salah satu dari dua keadaan yang tersebut di dalam hadits Aisyah. Mungkin malaikat datang kepada beliau dalam keadaan yang menyerupai dencingan lonceng, lalu dihembuskannya wahyu kepada beliau. Dan kemungkinan pula bahwa wahyu yang melalui hembusan itu adalah wahyu selain al-Qur’an.
Sumber: Studi-studi Ilmu Al-Qur’an, Mannaa’ Khalil al-Qattaan

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 91 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: