Ayat Al-Qur’an yang Pertama Kali Turun (2)

6 Mei

‘Ulumul Qur’an; Ilmu-ilmu al-Qur’an; Mannaa’ Khalil al-Qattaan

Az-Zarkasyi telah menyebutkan dalam kitabnya “al-Burhan”, hadits Aisyah yang menegaskan bahwa yang pertama kali turun adalah “iqra’ bismirabbikal ladzii khalaq.” Dan hadits Jabir yang menegaskan bahwa yang pertama kali turun adalah “Yaa ayyuHal muddatstsir, qum fa andzir.” Kemudian ia berkata: “Sebagian ulama menyatukan keduanya, yaitu bahwa Jabir mendengar Nabi menyebutkan kisah permulaan wahyu dan dia mendengar bagian akhirnya, sedang bagian pertamanya dia tidak mendengar. Maka dia (Jabir) menyangka bahwa surah yang didengarnya itu adalah yang pertama kali diturunkan, padahal bukan. Memang surah al-Muddatstsir itu adalah surah pertama yang diturunkan setelah surah “iqra’” dan setelah terhentinya wahyu. Hal itu juga termuat dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari Jabir ra. bahwa Rasulullah saw. di kala itu sedang membicarakan masalah terhentinya wahyu.

Dalam hadits itu dikatakan: “Ketika aku berjalan, aku mendengar suara dari langit. Lalu kuangkat kepalaku, tiba-tiba yang datang kepadaku malaikat yang kulihat ketika aku di gua Hira duduk di atas kursi yang terletak antara langit dan bumi, sehingga akupun merasa ketakutan sekali. Kemudian akupun pulang dan aku berkata: ‘Selimuti aku, selimuti aku.’ Lalu Allah menurunkan: wahai orang yang berselimut, bangkitlah, lalu berilah peringatan.’”

Dalam hadits ini ia memberitahukan tentang malaikat yang datang kepadanya di gua Hira sebelum saat itu. Di dalam hadits Aisyah ia memberitahukan bahwa turunnya Iqra’ itu di gua Hira, dan bahwa Iqra’ itulah wahyu pertama yang turun. Kemudian setelah itu wahyu terhenti. Sedang dalam hadits Jabir ia memberitahukan bahwa wahyu berlangsung kembali setelah turunnya “Yaa ayyuHal muddatstsir.”
Dengan demikian dapatlah diketahui bahwa “Iqra’” adalah wahyu yang pertama kali diturunkan secara mutlak, dan bahwa “Muddatstsir diturunkan sesudah Iqra’.

Demikian juga Ibn Hibban mengatakan dalam shahihnya: “Di antara kedua hadits itu tidak ada pertentangan. Sebab yang pertama kali diturunkan adalah “iqra’ bismirabbikal ladzii khalaq” di gua Hira. Ketika kembali kepada Khadijah ra. dan Khadijah menyiramkan air dingin kepadanya, Allah menurunkan kepadanya di rumah Khadijah itu: “Yaa ayyuHal muddatstsir.” Maka jelaslah bahwa ketika turun kepada beliau “iqra’”, ia pulang lalu berselimut; kemudian Allah menurunkan “Yaa ayyuHal muddatstsir.”

Juga ada dikatakan bahwa yang pertama kali turun adalah surah al-Fatihah. Hadits yang menunjukkan hal ini diriwayatkan melalui Abu Ishaq dari Abu Maisarah, dia berkata: “Rasulullah saw. mendengar suara, ia berdiri. Ia menyebutkan turunnya malaikat kepadanya serta kata-kata malaikat itu: ‘Katakanlah: Alhamdu lillaaHi rabbil ‘aalamiin…’ dan seterusnya.

Qadi Abu Bakar dalam kitabnya “al-Intisaar” mengatakan bahwa hadits ini munqathi’. Maka tetap kuatlah pendapat yang mengatakan bahwa yang pertama kali turun ialah iqra bismirabbik, dan sesudah itu pendapat yang menyatakan bahwa yang pertama turun itu adalah surah al-Muddatstsir. Cara menyatukan pendapat-pendapat di atas bahwa ayat pertama kali yang turun adalah “iqra’ bismirabbik” dan ayat mengenai perintah tabligh (untuk menyampaikan) yang pertama kali turun ialah “Yaa ayyuHal muddatstsir” sedang surah yang pertama kali turun adalah al-Fatihah. Hal yang demikian itu seperti apa yang termuat dalam hadits:
“Yang pertama kali dihisab dari seorang hamba ialah shalat.” Dan “Yang pertama kali diputuskan mengenai seorang hamba adalah urusan darah.”
Pernyataan kedua hadits ini adalah: “Yang pertama kali seorang hamba diadili dalam hal kedzaliman yang terjadi sesama hamba adalah urusan darah; sedang pertama kali dihisab dari seorang hamba dalam hal kewajiban-kewajiban badaniah adalah shalat.”

Juga dikatakan bahwa yang pertama kali turun mengenai kerasulan adalah “Yaa ayyuHal muddatstsir.” Dan yang pertama kali turun mengenai kenabian adalah “iqra’ bismirabbik.” Hal itu disebabkan para ulama mengatakan bahwa firman Allah “iqra’ bismirabbik” itu menunjukkan kenabian Muhammad saw. sebab kenabian itu ialah adanya wahyu kepada seseorang melalui perantaraan malaikat dengan penugasan khusus. Sedang firman Allah “Yaa ayyuHal muddatstsir, qum fa andzir” itu menunjukkan kerasulannya, sebab kerasulan itu adalah wahyu kepada seseorang dengan perantaraan malaikat dengan penugasan umum.
Sekian.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 104 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: