Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syuura (13)

18 Jun

Tafsir Ibnu Katsir Surah Asy-Syuura (Musyawarah)
Surah Makkiyyah; Surah ke 42: 53 ayat

Firman Allah: fa in a’radluu (“Jika mereka berpaling.”) yaitu orang-orang musyrik. Fa maa arsalnaaka ‘alaiHim hafiidhaa (“Maka Kami tidak mengutusmu sebagai pengawas bagi mereka.”) artinya kamu bukanlah pengawas bagi mereka.
Fa inna maa ‘alaikal balaaghu wa ‘alainal hisaab (“Karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka.”)(ar-Ra’du: 40). Sedangkan di ayat ini Allah berfirman: in ‘alaika illal balaaghu (“Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan [risalah].”) yaitu, Kami hanya menugaskanmu untuk menyampaikan risalah Allah kepada mereka.

Kemudian Allah berfirman: wa innaa idzaa adzaqnal insaana minnaa rahmatan fariha biHaa (“Sesungguhnya, apabila Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat dari Kami, dia bergembira ria karena rahmat itu.”) yakni jika dia diberikan nikmat dan kesenangan, dia bersuka cita. Wa in tushibHum (“Dan jika mereka ditimpa.”) yaitu, manusia. Sayyi-ata (“kesusahan”) yaitu kekeringan, bencana, kesulitan dan bahaya, fa innal insaana lakafuur (“karena sesungguhnya manusia itu sangat ingkar [kepada nikmat].”) artinya, dia mengingkari nikmat yang lalu dan tidak mengakui kecuali apa yang [ada] saat sekarang saja. maka, jika dia mendapatkan kenikmatan, dia angkuh dan sombong, dan jika mendapatkan bencana, dia berputus asa dan kecewa. Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda kepada kaum wanita: “Hai kaum wanita, bersedekahlah kalian, karena aku melihat kalian adalah penghuni neraka yang paling banyak.” Lalu seorang wanita bertanya: “Mengapa ya Rasulallah?” Beliau menjawab: “Karena kalian banyak mengeluh dan mengingkari kebaikan suami. Seandainya salah seorang dari kalian diperlakukan baik sepanjang tahun, lalu diabaikan sehari saja, dia berkata: ‘Aku tidak melihat sedikitpun kebaikan darimu.’”

Inilah kondisi mayoritas kaum wanita, kecuali wanita-wanita yang diberikan hidayah oleh Allah dan diarahkan-Nya kepada kebaikan, dan dia berada dalam golongan orang yang beriman dan beramal shalih, itulah orang mukmin. Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda: “Jika ia mendapat kesenangan ia bersyukur, dan itu lebih baik baginya. Jika ia mendapatkan kesusahan dia bersabar dan itu lebih baik baginya. Dan hal itu tidak dimiliki oleh seseorang kecuali oleh orang mukmin.”

“49. kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, 50. atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha Kuasa.” (asy-Syuura: 49-50)

Allah memberitakan bahwa Dia adalah Pencipta, Pemilik dan Pengatur langit dan bumi, serta seisinya. Apa saja yang dikehendaki-Nya, pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendakinya pasti tidak terjadi. Dia memberi kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan mencegah siapa yang dikehendakinya. Tidak ada yang mampu mencegah apa yang diberikan-Nya dan tidak ada yang mampu memberikan apa yang dicegah-Nya, dan Dia menciptakan apa saja yang dikehendaki-Nya. yaHabu limay yasyaa-u inaatsaa (“Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki.”) yaitu, Dia dapat memberikan kepadanya rizky anak perempuan saja. al-Baghawi berkata: “Di antara mereka adalah Luth.”

Wa yaHabu limay yasyaa-udz dzukuur (“dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki.”) yaitu Dia dapat memberikan kepadanya rizky anak laki-laki saja. al-Baghawi berkata: “Seperti Ibrahim al-Khalil yang tidak mempunyai anak perempuan.”

Aw yuzawwijuHum dzukraanaw wa inaatsaa (“Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan [kepada siapa yang dikehendaki-Nya.]”) artinya, dan Dia memberikan pasangan suami istri yang dikehendaki-Nya anak laki-laki dan anak perempuan. Al-Baghawi berkata: “Yakni seperti Muhammad saw.”

Wa yaj’alu may yasyaa-u ‘aqiimaa (“Dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia dikehendakinya.”) yaitu tidak melahirkan anak. Al-Baghawi berkata: “Yakni, seperti Yahya dan ‘Isa. Sehingga Dia menjadikan manusia menjadi empat golongan; ada yang diberikan anak-anak perempuan saja, ada yang diberikan anak-anak lelaki saja, ada yang diberikan kedua-duanya dan ada juga yang sama sekali tidak diberikan dengan dijadikan-Nya mandul, tidak mempunyai keturunan dan anak.”

innaHuu ‘aliimun (“Sesungguhnya Dia Mahamengetahui.”) siapa yang berhak untuk masing-masing mendapat bagiannya. Qadiirun (“Lagi Mahakuasa”) atas kehendak-Nya membuat tingkat perbedaan antara manusia dalam masalah tersebut. Konteks ini sama dengan firman Allah kepada ‘Isa as.: wa lanaj’alaHu aayatallin naasi (“Dan agar Kami jadikan tanda kebesaran bagi manusia.”) yakni tanda-tanda yang menunjukkan kekuasaan Allah Yang Mahasuci dan Mahatinggi bagi mereka, dimana Dia menciptakan makhluk [manusia] menurut empat golongan. Adam diciptakan dari tanah, bukan dari wanita dan pria. Hawwa diciptakan dari pria tanpa wanita. Seluruh manusia selian ‘Isa diciptakan dari pria dan wanita. Sedangkan ‘Isa as. diciptakan dari wanita tanpa pria. Tanda-tanda tersebut sempurna dengan penciptaan ‘Isa. Untuk itu Allah berfirman: wa lanaj’alaHu aayatallin naasi (“Dan agar Kami jadikan tanda kebesaran bagi manusia.”) konteks ini adalah untuk para bapak. Sedangkan konteks pertama adalah pada anak-anak. Dan setiap keduanya menrupakan empat bagian. Mahasuci Allah Yang Mahamengetahui lagi Mahakuasa.

“51. dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan Dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. 52. dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
53. (yaitu) jalan Allah yang Kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.” (asy-Syuura: 51-53)

Ini merupakan tingkatan-tingkatan wahyu dari sisi Allah. Dia terkadang menanamkan dalam jiwa Rasulullah saw. sesuatu, dimana beliau tidak meragukan bahwa hal itu adalah dari Allah swt. sebagaimana tercantum dalam Shahih Ibni Hibban, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Ruhul Qudus meniupkan di dalam jiwaku, bahwa satu jiwa tidak akan mati sampai mendapatkan rizky dan ajalnya secara sempurna. Maka bertakwalah kepada Allah dan carilah rizky dengan sebaik-baiknya.”

Firman Allah: au miw waraa-i hijaab (“atau di belakang tabir.”) sebagaimana Dia mengajak bicara Musa, lalu Musa meminta melihat-Nya setelah diajak bicara, akan tetapi dilarang-Nya.
Di dalam hadits shahih dinyatakan bahwa Rasulullah saw. berkata kepada Jabir bin ‘Abdillah: “Tidak ada seorangpun yang diajak bicara oleh Allah, kecuali dari balik tabir, dan sesungguhnya Dia berbicara kepada ayahmu secara langsung.” Demikian dinyatakan dalam hadits. Dan ayahnya itu telah terbunuh dalam perang Uhud, akan tetapi ini terjadi di alam Barzakh, sedang ayat ini adalah di dunia.

Firman Allah: au yursila rasuulan fa yuuhiya bi-idzniHii maa yasyaa-u (“Atau dengan mengutus seorang utusan [malaikat], lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki.”) sebagaimana Jibril dan malaikat-malaikat lain turun kepada para Nabi. innaHuu ‘aliyyun hakiim (“Sesungguhnya Dia Mahatinggi lagi Mahabijaksana.”) yakni, Dia Mahatinggi, Mahamengetahui, Mahamendalami lagi Mahabijaksana.

Firman Allah: wa kadzaalika au hainaa ilaika ruuham min amrinaa (“Dan demikianlah kami wahyukan kepadamu wahyu dengan perintah Kami.”) yaitu al-Qur’an. Maa kunta tadrii mal kitaabu walal iimaan (“Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab dan tidak pula mengetahui apakah iman itu.”) yakni secara rinci yang disyariatkan bagimu di dalam al-Qur’an. Walaa kin ja-‘alnaaHu (“tetapi Kami menjadikannya”) yakni al-Qur’an itu, nuuran naHdiibiHii man nasyaa-u min ‘ibaadinaa (“cahaya yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.”)

Dan firman Allah: wa innaka (“Dan sesungguhnya kamu”) hai Muhammad. lataHdii ilaa shiraathim mustaqiim (“benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”) yaitu kebenaran yang lurus. Kemudian Dia menafsirkannya dengan firman-Nya: “[yaitu] jalan Allah.” Yakni syariat yang diperintahkan-Nya: alladzii laHuu maa fis samaawaati wa maa fil ardli (“Yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bum.”) yaitu Rabb, Pemilik, Pengatur dan Penguasa keduanya, tidak ada yang dapat menolak keputusan-Nya. Alaa ilallaaHi tashiirul umuur (“Ingatlah bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.”) artinya, kepada-Nya seluruh urusan dikembalikan, lalu dirinci dan diberikan putusan oleh Allah. Mahasuci Allah dan Mahatinggi Dia dari apa yang dikatakan oleh orang-orang yang dhalim dan menentang.
Selesai.

About these ads

2 Tanggapan to “Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syuura (13)”

  1. harga123 4 November 2013 pada 10.19 #

    menarik sekali blognya syukran

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 82 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: