Zakat Emas dan Perak

15 Jul

Kajian Fiqih Empat Imam madzab
Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Empat imam madzab sepakat bahwa perhiasan selain emas dan perak, seperti mutiara, yakut dan zamrud tidak dikenai pajak. Demikian juga minyak kasturi dan anbar, menurut pendapat sebagian fuqaha.
Diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri dan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz: wajib zakat sebesar seperlima atas minyak anbar.
Abu Yusuf berpendapat: wajib zakat seperlima atas mutiara, permata, yakut dan anbar, karena benda-benda tersebut merupakan mineral yang menyerupai barang temuan (rikaz).
Al-Anbari berpendapat: wajib zakat atas segala sesuatu yang dikeluarkan dari laut.

Mayoritas ulama sepakat bahwa nisab awal emas dan perak, baik yang masih berupa lempengan maupun yang sudah ditempa, yang masih polos maupun yang sudah diukir adalah 20 dinar untuk emas dan 200 dirham untuk perak. Oleh sebab itu, jika jumlahnya sudah mencapai batas tersebut dan telah melewati hawl, maka zakatnya adalah 2,5%.
Al-Hasan al-Bashri berpendapat bahwa tidak dikenakan pada emas kecuali jumlahnya telah mencapai 40 mitsqal, dan zakat yang dikeluarkan adalah 1 mitsqal.

Empat imam madzab berbeda pendapat tentang kelebihan emas dan perak dari nisabnya. Maliki, Syafi’i dan Hambali: wajib dizakati pada kelebihannya, yaitu menurut perhitungannya. Hanafi: tidak ada zakat atas emas yang lebih dari 200 dirham dan atas emas yang lebih dari 20 dinar sehingga kelebihannya cukup 40 dirham dan 4 dinar. Pada 40 dirham zakatnya 1 dirham. Demikian seterusnya, setiap kelebihan 40 dirham zakatnya 1 dirham dan pada 4 dinar zakatnya 2 qirath, dan seterusnya.

Bolehkah mencampurkan emas dan perak untuk mencapai satu nisab? Hanafi, Maliki, dan Hambali dalam salah satu riwayatnya berpendapat: sebaiknya dicampurkan. Syafi’i dan Hambali dalam riwayat lainnya: tidak boleh dicampurkan.

Kemudian para imam yang berpendapat sebaiknya dicampurkan, berbeda pendapat tentang apakah emas yang dicampur dengan uang logam agar mencapai satu nisab itu berdasarkan jumlah atau harga? Hanafi dan Hambali dalam salah satu riwayatnya: dicampurkan berdasarkan nilai harganya. Maliki dan Hambali dalam riwayat lainnya: dicampurkan berdasarkan jumlahnya. Dalam kasus seperti di atas, tidak ada kewajiban zakat sehingga perhitungan menjadi cukup berdasarkan jumlah masing-masing jenis tersebut.

Orang yang memberikan piutang kepada orang lain yang berharta, wajib mengeluarkan zakat hartanya dan wajib dikeluarkan zakatnya setiap tahun, walaupun belum diterima pembayarannya. Demikian, menurut Syafi’i dalam qaul jadid. Hanafi dan Hambali: tidak wajib dikeluarkan zakatnya kecuali sesudah diterima pembayarannya. Sedangkan Maliki berpendapat: tidak wajib zakat, meskipun piutang tersebut sudah bertahun-tahun sebelum dibayar. Jika sudah dibayar maka dikeluarkan zakatnya untuk satu tahun saja kalau piutang itu dari pinjaman atau harga barang.

Segolongan ulama berpendapat: piutang itu tidak ada zakatnya sebelum dibayar dan penghitungan hawlnya dimulai sejak piutang tersebut dikembalikan. Di antara mereka yang berpendapat seperti itu adalah ‘Aisyah, Ibn Umar, ‘Ikrimah, Syafi’i dalam qaul qadim, dan Abu Yusuf.

Seseorang dimakruhkan membeli zakatnya. Namun jika dibeli juga jual belinya sah. Demikian menurut Hanafi, Maliki dan Syafi’i, serta pendapat Hambali yang paling kuat. Di antara para pengikut Hambali, ada yang berpendapat bahwa jual beli tersebut batal.

Apabila seseorang mempunyai harta, lalu memberi utang kepada seseorang fakir yang berhak mendapat zakat, maka ia tidak dibolehkan membebaskan utang tersebut dengan mengeluarkan zakatnya. Melainkan, diberikan zakat itu kepada orang itu sejumlah utangnya, lalu dibayarkan kepadanya oleh yang berutang tadi. Demikian menurut tiga imam madzab. Sedangkan Maliki berpendapat: boleh membebaskannya.

Perhiasan yang boleh dipakai dan dipinjamkan, seperti emas dan perak jika termasuk yang dipakai dan dapat dilepas, maka menurut Maliki dan Hambali: tidak ada zakatnya. Syafi’i mempunyai dua pendapat dan pendapat yang paling shahih: tidak ada zakatnya.

Jika seorang laki-laki mempunyai perhiasan untuk disewakan kepada kaum perempuan maka tidak ada zakatnya. Demikian menurut pendapat Syafi’i yang paling kuat dan pendapat Maliki yang paling masyhur. Sedangkan menurut sebagian pengikut Maliki: wajib dizakati.
Az-Zubaidi, salah seorang pengikut Syafi’i mengatakan: menyediakan perhiasan emas dan perak untuk disewakan tidak boleh.

Membuat atap dari emas atau perak hukumny haram. Sedangkan menurut pendapat sebagian ulama pengikut Hanafi: boleh.
Membuat bejana dari emas dan perak untuk disimpan hukumnya adalah haram. Akan tetapi, jika sudah dimiliki maka wajib dizakati. Demikian menurut ijma para imam.

Sekian.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 103 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: