Qurban dan ‘Aqiqah

22 Jul

Kajian Fiqih Empat Imam madzab
Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Para imam madzhab sepakat bahwa udhiyyah (penyembelihan hewan qurban) disyariatkan dalam Islam. Namun mereka berbeda pendapat apakah qurban itu hukumnya wajib ataukah sunnah. Menurut Maliki, Syafi’i, Hambali dan para ulama pengikut Hanafi: qurban hukumnya sunnah mu’akkadah. Hanafi berpendapat: hukumnya adalah wajib atas penduduk kota-kota besar, yaitu orang-orang yang sudah mempunyai harta satu nisab.

Menurut pendapat Syafi’i, waktu penyembelihan hewan qurban adalah sejak terbit matahari dari hari nahar (idul Adha) dan telah berlalu kadar waktu shalat hari raya dan dua khutbahnya, baik imam sudah shalat maupun belum. Sedangkan menurut Hanafi, Maliki dan Hambali: di antara syarat-syarat sahnya menyembelih qurban adalah sesudah imam shalat dan berkhutbah. Namun, menurut Hanafi: penduduk kampung sudah boleh berqurban sesudah matahari terbit fajar kedua.

‘Atha’ berpendapat: masuknya waktu berqurban adalah dengan terbitnya matahari pada Idul Adha. Akhir waktu bolehnya menyembelih qurban adalah hari tasyriq terakhir. Demikian menurut pendapat Syafi’i. Sedangkan Hanafi dan Maliki mengatakan: akhir waktu menyembelih qurban adalah hari tasyriq kedua.
Sa’id dan Jubair berpendapat: dibolehkannya penduduk kota besar menyembelih qurban hanya pada Idul Adha. Sedangkan bagi penduduk dusun diperbolehkan hingga akhir hari tasyriq.

Ibn Sirin berpendapat: tidak boleh menyembelih qurban kecuali pada siang hari raya.
An-Nakha’i membolehkan menyembelih binatang qurban sampai pada akhir bulan Dzulhijjah.

Apabila qurban itu adalah qurban wajib, maka tidak gugur karena berlalunya hari-hari tasyriq. Tetapi hewan itu harus disembelih dan dipadang sebagai qadla. Demikian menurut pendapat tiga imam madzhab. Hanafi berpendapat: kewajiban menyembelihnya menjadi gugur, sedangkan hewan qurbannya hendaknya diserahkan kepada fakir miskin.

Orang yang bermaksud menyembelih qurban, sedangkan waktunya telah masuk tanggal 10 Dzulhijjah, maka dimustahabkan tidak mencukur bulunya dan memotong kukunya hingga hewan itu disembelih. Jika hal itu dilakukan juga, maka makruh hukumnya. Demikian menurut pendapat Syafi’i dan Maliki. Hanafi berpendapat: hal demikan boleh saja, tidak dimakruhkan dan tidak pula disunnahkan. Apapun menurut pendapat Hambali, hal demikian diharamkan.

Apabila seseorang sudah menetapkan akan menyembelih seekor qurban yang sudah dipastikan terhindar dari segala cacat, maka jika ditemukan cacat, tetap dibolehkan menyembelihnya. Demikian menurut tiga imam madzhab. Hanafi berpendapat: ia tidak boleh menyembelihnya untuk qurban.

Hewan qurban yang sakit (cacat) tidak menghalangi bolehnya menjadi qurban. Tetapi jika cacatnya besar, maka tidak dibolehkan. Hewan tua yang sudah tidak baik dagingnya, tidak sah dijadikan qurban. Juga, hewan yang kudisan tidak boleh dijadikan qurban, karena telah merusakkan dagingnya. Hewan yang buta dan cacat matanya tidak boleh dijadikan qurban. Demikian menurut kesepakatan para Imam madzhab.

Sebagian ulama azh-Zhahiriyyah berpendapat: boleh, yaitu binatang yang cacat matanya tidak terhalang untuk dijadikan qurban.
Binatang yang tanduknya patah adalah makruh dipakai sebagai qurban. Hambali berpendapat: tidak sah qurban dengan hewan yang patah tandukny.
Tidak sah berqurban dengan hewan yang pincang. Demikian menurut pendapat Maliki dan Syafi’i. Hanafi berpendapat: sah.

Menurut kesepakatan para ulama, binatang yang terpotong telinganya tidak sah dipakai untuk qurban. Demikian pula binatang yang terpotong ekornya, karena hilangnya sebagian dagingnya. Jika ekor tersebut hanya sedikit saja terpotong, maka menurut Syafi’i yang paling kuat: tidak boleh. Sedangkan pendapat yang dipilih oleh para ulama Syafi’i kemudian : boleh. Hanafi dan Maliki berpendapat: jika sedikit saja yang hilangnya maka boleh, sedangkan jika banyak maka tidak boleh. Dari Hambali diperoleh dua riwayat, di antaranya adalah tidak boleh jika yang terpotong lebih dari sepertiganya.

Boleh menyuruh orang lain untuk menyembelih qurbannya, meskipun orang itu seorang dzimmi, walaupun menurut tiga imam madzhab hukumya adalah makruh. Maliki: tidak boleh diwakilkan kepada orang dzimmi, dan hal itu tidak akan menjadi qurban.

Apabila seseorang membeli kambing dengan niat untuk dijadikan qurban, maka hewan tersebut tidak sah menjadi qurban. Demikian menurut tiga imam madzhab. Hanafi berpendapat: tetap sah sebagai qurban.

Ketika menyembelih binatang qurban dan lainnya, disunnahkan menyebut nama Allah swt. jika ditinggalkan dengan sengaja, maka tidak boleh memakan dagingnya. Sedangkan jika lupa, maka boleh. Demikian menurut Hanafi. Menurut salah satu pendapat Maliki: jika ditinggalkan dengan sengaja maka tidak boleh dimakan dagingnya. Sedangkan menurut riwayat lain, Maliki berpendapat: halal secara mutlak, baik ditinggalkan sengaja maupun tidak.

Al-Qadhi’ Abdul Wahab al-Maliki mengatakan: “Para ulama pengikut Maliki berpendapat bahwa jika basmalah ditinggalkan dengan sengaja maka tidak boleh dimakan sembelihannya. Tetapi di antara para ulama Maliki ada yang berpendapat bahwa membaca basmalah hanyalah sunnah. Syafi’i berpendapat: baik ditinggalkan dengan sengaja maupun tidak, maka tidaklah memberi pengaruh apapun. Hambli berpendapat: jika basmalah sengaja ditinggalkan maka tidak boleh dimakan sembelihannya. Sedangkan jika tidak disengaja, dalam hal ini ia mempunyai dua riwayat, dan salah satunya: boleh dimakan.

Menurut Syafi’i: ketika menyembelih, dimustahabkan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad sa. Hambali berpendpat: hal itu tidak disyariatkan.
Disunnahkan membaca: “AllaaHumma Haadzaa minka wa laka fataqabbal minnii (Ya Allah, sesungguhnya ini adalah dari-Mu dan untuk-Mu, maka terimalah persembahanku ini).”
Hanafi berpendapat: hal demikian itu dimakruhkan.

Apabila qurban tersebut merupakan qurban sunnah maka tidak dimustahabkan ikut memakan sebagian dagingnya. Demikian menurut kesepakatan para imam madzhab. Bahkan ada sebagain ulama yang berpendapat wajib memakan sebagiannya. Yang lebih utama menurut qaul jadid Syafi’i adalah sepertiganya dimakan, serpertiganya dihadiahkan, dan sepertiga sisanya disedekahkan. Sebagian ulama berpendapat: yang lebih baik adalah disedekahkan semuanya, kecuali beberapa suap untuk mengambil berkah.

Adapun dalam qurban nadzar tidak boleh memakan dagingnya sedikitpun, demikian menurut kesepakatan para imam madzhab.

Tidak boleh menjual daging dan kulit binatang qurban dan hadiah, baik yang wajib (nadzar) maupun yang sunnah. Demikian menurut kesepakatan para imam madzhab. An-Nakha’i dan al-Awza’i mengatakan: boleh menjualnya untuk dibelikan perkakas rumah, seperti kapak, belanga, timbangan dan sebagainya. Hanafi berpendapat seperti itu. ‘Atha’ berpendapat: tidak apa-apa menjual kulit binatang qurban atau hadiah, baik dengan uang maupun dengan lainnya.

Binatang yang lebih utama untuk qurban adalah unta, lalu sapi kemudian kambing. Maliki berpendapat: yang lebih utama adalah kambing, lalu unta, lalu sapi.
Seekor unta cukup untuk tujuh orang, demikian juga sapi. Sedangkan kambing hanya untuk satu orang. Demikian menurut kesepakatan para imam madzhab. Ishaq bin Rahawaih berpendapat: satu sapi untuk sepuluh orang.

Dibolehkan berserikat tujuh orang untuk menyembelih seekor unta, baik satu keluarga maupun bukan. Maliki: jika qurbannya sunnah dan satu keluarga, dibolehkan.

Menurut Maliki dan Syafi’i, ‘aqiqah itu disyaratkan. Hanafi: ‘aqiqah dibolehkan, dan saya tidak berpendapat bahwa hal itu adalah sunnah. Dari Hambali diperoleh dua riwayat. Pertama yang masyhur yaitu disunnahkan. Kedua, yang dipilih oleh sebagian ulama pengikutya: wajib hukumnya. Menurut pendapat al-Hasan dan Dawud, ‘aqiqah adalah wajib.

Aqiqah untuk anak laki-laki adalah dua ekor kambing. Sedangkan untuk anak perempuan adalah satu ekor kambing. Maliki berpendapat: untuk anak laki-laki atau anak perempuan ‘aqiqahnya sama saja, yaitu seekor kambing.
Aqiqah tersebut disembelih pada hari ketujuh dari kelahiran anak. Demikian menurut kesepakatan para imam madzhab.
Menurut kesepakatan para imam madzhab, tidak disunnahkan menyapu atau mengusap kepala anak yang baru dilahirkan tersebut dengan darah sembelihan ‘aqiqah. Al-Hasan berpendapat: disukai menyapu kepala si bayi dengan darah sembelihan ‘aqiqah.
Menurut pendapat Syafi’i dan Hambali, disunnahkan tulang-tulang ‘aqiqah tidak dipotong-potong, sebagai lambang meminta keselamatan bagi bayi yang baru lahir tersebut.

Sekian.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 85 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: