Tafsir Ibnu Katsir Surah As-Sajdah (5)

19 Agu

Tafsir Al-Qur’an Surah As-Sajdah (Sujud)
Surah Makkiyyah; surah ke 32:30 ayat

Firman Allah: waman adhlamu mimman dzukkira bi aayaati rabbiHii tsumma a’radla ‘anHaa (“Dan siapah yang lebih dhalim daripada orang yang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabb-nya, kemudian ia berpaling daripadanya.”) yaitu tidak ada yang lebih dhalim daripada orang yang diceritakan dalam ayat-ayat Allah, dijelaskan dan ditegaskan, kemudian setelah itu dia tidak peduli, mengingkari, berpaling dan melupakannya, seakan-akan dia tidak mengetahuinya.

Qatadah berkata: “Janganlah kalian berpaling dari mengingat Allah. Karena orang yang berpaling dari mengingat-Nya, maka berarti dia telah tertipu dengan kesulitan yang amat besar, rugi sebesar-besarnya dan merupakan dosa besar.”

Untuk itu Allah berfirman mengancam orang yang melakukan demikian. Innaa minal mujrimiina muntaqimuuna (“Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan kepada orang-orang yang berdosa.”) niscaya Aku akan menghukum orang yang melakukan hal itu dengan hukuman yang amat berat.

“23. dan Sesungguhnya Kami telah berikan kepada Musa Al-Kitab (Taurat), Maka janganlah kamu (Muhammad) ragu menerima (Al-Quran itu) dan Kami jadikan Al-Kitab (Taurat) itu petunjuk bagi Bani Israil. 24. dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami. 25. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang memberikan keputusan di antara mereka pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya.” (as-Sajdah: 23-25)

Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang hamba dan Rasul-Nya, Musa a.s. yang diberi oleh-Nya sebuah Kitab yaitu Taurat. Dan firman Allah: falaa takun fii miryatim mil liqaa-iHi (“Maka janganlah kamu [Muhammad] ragu-ragu menjumpainya.”) Qatadah berkata: “Yaitu, pada malam Isra.”
falaa takun fii miryatim mil liqaa-iHi (“Maka janganlah kamu [Muhammad] ragu-ragu menjumpainya.”) bahwa beliau melihat dan berjumpa dengan Musa as. pada malam beliau melakukan Isra’.

Ath-Thabarani meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Nabi saw. bersabda tentang firman Allah: wa ja’alnaaHu Hudal libanii israa-iila (“Dan Kami jadikan al-Kitab [Taurat] itu petunjuk bagi Bani Israil.”) Allah menjadikan Musa sebagai petunjuk bagi Bani Israil.”) Allah menjadikan Musa a.s sebagai petunjuk bagi Bani Israil. Dan tentang fimran-Nya: falaa takun fii miryatim mil liqaa-iHi (“Maka janganlah kamu [Muhammad] ragu-ragu menjumpainya.”) beliau bersabda: “Yaitu perjumpaan Musa as. dengan Rabb-nya.”

Dan firman Allah: wa ja’alnaaHu (“dan Kami jadikan al-Kitab.”) yang Kami berikan kepadanya, Hudal libanii israa-iila (“petunjuk bagi Bani Israil”) sebagaimana Allah berfirman dalam surah al-Isra’: “Dan Kami berikan kepada Musa al-Kitab [Taurat] dan Kami jadikan Taurat itu petunjuk bagi Bani Israil [dengan firman]: ‘Janganlah kamu mengambil penolong selain-Ku.’”)(al-Israa’: 2)

Firman Allah: wa ja’alnaa minHum a-immatay yaHduuna bi amrinaa lammaa shabaruu wa kaanuu bi aayaatinaa yuuqinuuna (“Dan Kami jadikan di antara mereka pemimpin-pemimpin yang memberikan petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.”) yakni tatkala mereka sabar dalam melaksanakan perintah-perintah Allah dan dalam menjauhi larangan-larangan Allah, membenarkan para Nabi-Nya dan mengikuti risalah yang diberikan kepada mereka, niscaya mereka menjadi pemimpin-pemimpin yang memberikan petunjuk kepada kebenaran dengan perintah Kami, mengajak pada kebaikan memerintahkan yang ma’ruf dan melarang kemungkaran. Kemudian tatkala mereka mengganti, merubah, menakwil dan menghapuskan kedudukan tersebut, maka jadilah hati mereka kasar dengan merubah kalimat dari tempatnya, tidak beramal shalih dan tidak beri’tikad benar.

Maka firman Allah: wa laqad aatainaa muusal kitaaba (“Dan sesungguhnya Kami berikan kepada Musa [Taurat].”) Qatadah dan Sufyan berkata: “Tatkala mereka bersabar terhadap dunia,” Demikian pula yang dikatakan oleh al-Hasan bin Shalih. Sufyan berkata: “Demikianlah mereka. Tidak patut bagi seseorang menjadi imam yang diikuti sehingga ia waspada terhadap dunia.” Waki’ berkata bahwa Sufyan berkata: “Agama memerlukan ilmu, sebagaimana jasad memerlukan roti.”

wa ja’alnaa minHum a-immatay yaHduuna bi amrinaa lammaa shabaruu (“Dan Kami jadikan di antara mereka pemimpin-pemimpin yang memberikan petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar.”) ketika mereka mengambil urusan paling pokok, niscaya mereka menjadi pemimpin. Sebagian ulama berkata: “Dengan sabar dan keyakinan akan dicapai imamah di dalam agama.”
Inna rabbaka Huwa yafshilu bainaHum yaumal qiyaamati fiimaa kaanuu fiiHi yakhtalifuuna (“Sesungguhnya Rabb-mu, Dia-lah yang memberikan keputusan di antara mereka pada hari kiamat tentang apa yang selalu mereka perselisihkan padanya.”) dari berbagai macam ‘aqidah dan amal perbuatan.

“26. dan Apakah tidak menjadi petunjuk bagi mereka, berapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat-tempat kediaman mereka itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah). Maka Apakah mereka tidak mendengarkan? 27. dan Apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman yang daripadanya Makan hewan ternak mereka dan mereka sendiri. Maka Apakah mereka tidak memperhatikan?” (as-Sajdah: 26-27)

Bersambug ke bagian 6

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 80 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: