Tafsir Ibnu Katsir Surah Luqman (4)

1 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Luqman
Surah Makkiyyah; surah ke 31:34 ayat

Firman-Nya: wa fishaaluHuu fii ‘aamaini (“Dan menyapihnya dalam dua tahun.”) yaitu mengasuh dan menyusuinya setelah melahirkannya selama dua tahun, sebagaimana firman Allah yang artinya: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” (al-Baqarah: 233). Dan di sini, Ibnu ‘Abbas dan imam-imam yang lain mengambil istimbath bahwa minimal masa hamil adalah 6 bulan, karena di dalam ayat lain Allah berfirman: wa hamluHuu wa fishaaluHuu tsalaatsuuna syaHran (“Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan.”)(al-Ahqaaf: 15). Allah menyebutkan pendidikan seorang ibu, kelelahan dan kesulitannya saat begadang siang dan malam, agar seorang anak dapat mengingat kebaikan yang diberikan oleh ibunya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: wa qur rabbirhamHumaa kamaa rabbayaanii shaghiiran (“Dan ucapkanlah: wahai Rabb-ku, kasihanilah mereka berdua, sebagaimana mereka telah mendidik [memelihra]ku waktu kecil.”)(al-Israa’: 24)

Untuk itu Dia berfirman: anisykurlii waliwaalidaika ilayyal mashiir (“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepada-Ku lah kembalimu.”) yaitu sesungguhnya Aku akan membalasmu atas semua itu secukup-cukup balasan.
Dan firman-Nya: wa in jaaHadaaka ‘alaa an tusyrikabii maa laisa laka biHii ‘ilmun falaa tuthi’Humaa (“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutuakn dengan-Ku sesuatu yang tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya.”) yaitu jika keduanya antusias untuk memaksakan agamanya, maka janganlah engkau menerimanya dan hal itupun tidak boleh menghalangimu untuk berbuat baik kepada keduanya di dunia secara ma’ruf, yaitu secara baik kepada keduanya.
Wattabi’ sabiila man anaaba ilayya (“Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.”) yaitu orang-orang yang beriman.
Tsumma ilayya marji’ukum fa unabbi’ukum bimaa kuntum ta’maluuna (“Kemudian hanya kepada-Ku-lah kembalimu, maka Ku-beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”)

Ath-Thabrani berkata dalam kitab al-‘Asyrah, dari Dawud bin Abi Hind, bahwa Sa’ad bin Malik berkata: “Diturunkan ayat ini: wa in jaaHadaaka ‘alaa an tusyrikabii maa laisa laka biHii ‘ilmun falaa tuthi’Humaa (“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutuakn dengan-Ku sesuatu yang tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya.”) dan ayat seterusnya. Dahulu aku adalah seorang laki-laki yang berbakti kepada ibuku, lalu ketika aku masuk Islam ibuku berkata: ‘Hai Sa’ad, apa yang terjadi padamu apa yang aku lihat ini? Engkau akan tinggalkan agamamu ini atau aku tidak akan makan dan minum hingga aku mati. Maka karena aku, engkau akan dipanggil: hai pembunuh ibunya.’ Lalu aku berkata: ‘Jangan engkau lakukan hai ibu. Karena aku tidak akan meninggalkan agamaku karena apapun.’ Maka dia melakukannya satu hari satu malam tidak makan, dia telah bersungguh-sungguh untuk melakukan hal itu. Lalu iapun melakukannya pula satu hari satu malam tidak makan, diapun berusaha untuk melakukan itu. Lalu iapun melakukan lagi satu hari satu malam tidak makan, dia sangat bersungguh-sungguh untuk melakukan itu. Setelah aku menyaksikan ibuku seperti itu, aku berkata kepadanya: ‘Wahai ibuku, harap engkau ketahui. Demi Allah, seandainya engkau memiliki seratus jiwa dan jiwa itu satu persatu meninggalkanmu, agar aku meninggalkan agamaku, demi Allah aku tidak akan meninggalkan agamaku, demi Allah aku tidak akan meninggalkan agamaku ini apa pun yang terjadi. Maka makanlah kalau mau engkau makan, kalau tidak mau itu terserah pada ibu.’ Lalu iapun makan.”

“16. (Luqman berkata): ‘Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui. 17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). 18. dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. 19. dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Luqman: 16-19)

Ini adalah wasiat-wasiat bermanfaat dari Luqman al-Hakim yang diceritakan oleh Allah agar manusia menjunjung tinggi dan menteladaninya. Dia berkata: yaa bunayya innaHaa in taku mitsqaala habbatim min khardalin (“Hai anakku, sesungguhnya jika ada [suatu perbuatan] seberat sawi pun.”) yaitu kedhaliman dan kesalahan, sekalipun seberat biji sawi. Sedangkan sebagian ulama menyatakan bahwa dlamir pada firman-Nya “innaHaa” adalah dlamir sya-n dan kisah [yang tidak mempunyai arti]. Serta atas dasar ini, “mitsqaala” dijadikan “rafa’” dan pendapat pertama lebih utama.

Firman Allah: ya’tibiHallaaH (“Niscaya Allah akan mendatangkannya [balasannya].”) Allah akan menghadirkannya pada hari kiamat ketika Dia mendirikan timbangan keadilan serta membalasnya. Jika kebaikan maka dia akan dibalas dengan timbangan kebaikan. Dan jika keburukan, dia akan dibalas dengan keburukan. Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidaklah dirugikan seseorang barang sedikitpun.” (al-Anbiyaa’: 47). Sekalipun biji sawi itu terlindungi dan terhalang di dalam batu besar hitam atau di tempat terasing jauh di ujung langit dan bumi. Sesungguhnya Allah akan menghadirkannya, karena tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dan tidak ada satu biji dzarrahpun yang ada di langit dan di bumi yang terluput dari-Nya.

Untuk itu Allah berfirman: innallaaHa lathiifun khabiir (“Sesungguhnya Allah Mahahalus lagi Mahamengetahui.”) yaitu Mahaluas ilmu-Nya, hingga tidak ada sesuatupun yang tersembunyi dari-Nya, sekalipun kecil, halus dan lembut. Khabiir (“Mahamengetahui.”) tentang langkah semut di kegelapan malam yang gelap gulita. Kemudian dia berkata: yaa bunayya aqimish shalaata (“Hai anakku, dirikanlah shalat.”) yaitu dengan menegakkan batas-batasnya, melakukan fardlu-fardlunya dan menepatkan waktu-waktunya. Wa’mur bil ma’ruufi wanHa ‘anil munkari (“Dan suruhlah [manusia] mengerjakan yang baik dan cegahlah [mereka] dari perbuatan yang munkar.”) sesuai dengan kemampuan dan kesungguhanmu. Washbir ‘alaa maa ashaabaka (“Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.”) dia mengetahui bahwa orang yang melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar pasti akan mendapatkan gangguan dari manusia, maka dia memerintahkannya untuk bersabar.

Bersambung ke bagian 5

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 104 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: