Arsip tag al anfal

8. Al Anfaal

21 Nov

Surat Al Anfaal terdiri atas 75 ayat dan termasuk golongan surat-surat Madaniyyah, karena seluruh ayat-ayatnya diturunkan di Madinah. Surat ini dinamakan Al Anfaal yang berarti harta rampasan perang berhubung kata Al Anfaal terdapat pada permulaan surat ini dan juga persoalan yang menonjol dalam surat ini ialah tentang harta rampasan perang, hukum perang dan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya. Menurut riwayat Ibnu Abbas r.a. surat ini diturunkan berkenaan dengan perang Badar Kubra yang terjadi pada tahun kedua hijrah. Peperangan ini sangat penting artinya, karena dialah yang menentukan jalan sejarah Perkembangan Islam. Pada waktu itu umat Islam dengan berkekuatan kecil untuk pertama kali dapat mengalahkan kaum musyrikin yang berjumlah besar, dan berperlengkapan yang cukup, dan mereka dalam peperangan ini memperoleh harta rampasan perang yang tidak sedikit. Oleh sebab itu timbullah masalah bagaimana membagi harta-harta rampasan perang itu, maka kemudian Allah menurunkan ayat pertama dari surat ini.

Pokok-pokok isinya:

1. Keimanan:
Allah selalu menyertai orang-orang yang beriman dan melindungi mereka; menentukan hukum-hukum agama itu hanyalah hak Allah; jaminan Allah terhadap kemenangan umat yang beriman; ‘inayat Allah terhadap orang-orang yang bertawakkal; hanyalah Allah yang dapat mempersatukan hati orang yang beriman; tindakan-tindakan dan hukum-hukum Allah didasarkan atas kepentingan umat manusia; adanya malaikat yang menolong barisan kaum muslimin dalam perang Badar; adanya gangguan-gangguan syaitan pada orang-orang mukmin dan tipu daya mereka pada orang-orang musyrikin; syirik adalah dosa berat.

2. Hukum-hukum:
Aturan pembagian harta rampasan perang; kebolehan memakan harta rampasan perang; larangan lari/mundur dalam peperangan; hukum mengenai tawanan perang pada permulaan Islam; kewajiban taat kepada pimpinan dalam perang; keharusan mengusahakan perdamaian; kewajiban mempersiapkan diri dengan segala alat perlengkapan perang; ketahanan mental, sabar dan tawakkal serta mengingat Allah dalam peperangan; tujuan perang dalam Islam; larangan khianat kepada Allah dan Rasul serta amanat; larangan mengkhianati perjanjian.

3. Kisah-kisah:
Keengganan beberapa orang Islam ikut perang Badar, suasana kaum muslimin di waktu perang Badar, sebelumnya, sesudahnya dan waktu perang berlangsung; keadaan Nabi Muhammad s.a.w. sebelum hijrah serta permusuhan kaum musyrikin terhadap beliau; orang yahudi membatalkan perjanjian damai dengan Nabi Muhammad s.a.w.; kisah keadaan orang kafir musyrikin dan Ahli Kitab serta keburukan orang-orang munafik.

4. Dan lain lain:
Pengertian iman, tanda-tandanya dan sifat-sifat orang yang beriman; sunnatullah pada seseorang dan masyarakat.
Surat Al Anfaal menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan peperangan pada umumnya, khususnya menerangkan Perang Badar, yaitu peperangan yang menentukan jalan sejarah Islam dan muslimin, bahkan tidak akan salah kiranya kalau dikatakan bahwa Perang Badar itu menetukan jalan sejarah umat manusia pada umumnya. Sebahagian besar surat ini mengandung hal-hal yang berhubungan dengan perdamaian dan peperangan; tingkah laku orang-orang kafir, orang-orang munafik dan sebahagian orang-orang Islam yang tidak kuat imannya dalam peperangan. Kemudian ditegaskan bahwa Allah menolong orang-orang yang beriman dan menghancurkan orang-orang kafir dan munafik itu, adalah merupakan sunnah-Nya yang tidak dapat dimungkiri berlakunya, sebagaimana pernah terjadi pada Fir’aun dan kaumnya serta umat-umat yang sebelumnya.

HUBUNGAN SURAT AL ANFAAL DENGAN SURAT AT TAUBAH

Sebagaimana halnya hubungan surat-surat yang lain dengan surat-surat yang sesudahnya, maka hal yang dikemukakan oleh surat Al Anfaal, seperti hal-hal yang berhubungan dengan pokok-pokok agama dan furu’nya, sunnah Allah, syari’at hukum-hukum perjanjian dan janji setia, hukum perang dan damai dan sebagainya disebutkan dalam surat At Taubah, umpamanya:

1. Perjanjian yang dikemukakan surat Al Anfaal dijelaskan oleh surat At Taubah, terutama hal-hal yang berhubungan dengan pengkhianatan musuh terhadap janji-janji mereka.

2. Sama-sama menerangkan tentang memerangi orang-orang musyrikin dan Ahli Kitab.

3. Surat Al Anfaal mengemukakan bahwa yang mengurus dan memakmurkan Masjidilharam itu ialah orang-orang yang bertakwa, sedang surat At Taubah menerangkan bahwa orang-orang musyrik tidak pantas mengurus dan memakmurkan mesjid, bahkan mereka akan menghalang-halangi orang-orang Islam terhadapnya.

4. Surat Al Anfaal menyebut sifat-sifat orang-orang yang sempurna imannya, dan sifat-sifat orang-orang kafir, lalu pada akhir surat diterangkan pula tentang hukum perlindungan atas orang-orang muslim yang berhijrah, orang-orang muslim yang tidak berhijrah serta orang-orang kafir. Hal yang serupa dikemukakan pula pada surat At Taubah.

5. Surat Al Anfaal menganjurkan agar bernafkah di jalan Allah, sedang surat At Taubah menegaskan sekali lagi. Begitu pula dalam surat Al Anfaal diterangkan tentang penggunaan harta rampasan perang, sedang surat At Taubah menerangkan penggunaan zakat.

6. Surat Al Anfaal mengemukakan tentang orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya, kemudian surat At Taubah menerangkannya lebih luas.

Kalau kita perhatikan, ternyata bahwa antara surat Al Anfaal dan surat At Taubah terdapat hubungan yang erat sekali. Seakan-akan keduanya merupakan satu surat, bahkan sebahagian ahli tafsir mengatakan bahwa: Kalau tidaklah karena ketentuan Allah, maka mereka akan memandang surat Al Anfaal dan surat At Taubah sebagai satu surat.

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Anfaal (1)

17 Sep

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anfaal (Harta Rampasan Perang)
Surah Madaniyyah; surah ke 8: 75 ayat

bismillaaHir rahmaanir rahiim
(“Dengan menyebut nama Allah Yang Mahapemurah lagi Mahapenyayang.”)
“1. mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.” (al-Anfaal: 1)

Imam al-Bukhari berkata, Ibnu ‘Abbas berkata: “Al-Anfaal artinya al-maghanim [rampasan perang].” Dari Ibnu Rabah, bahwasannya ia menafsirkan al-Anfaal dengan al-fai’, yaitu segala sesuatu yang diambil dari orang kafir tanpa peperangan.

Ibnu Jarir berkata: “Ulama-ulama tafsir lainnya berkata: ‘Yang dimaksud dengan al-anfaal adalah anfaalus saraaya [bagian untuk pasukan ekspedisi].” Telah menceritakan kepadaku al-Harits, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz, telah menceritakan kepadaku mengenai firman Allah: yas aluunaka ‘anil anfaal (“Mereka menanyakan kepadamu tentang [pembagian] harta rampasan perang.”) ia berkata: “Saraaya [pasukan ekspedisi].”

Maknanya adalah, harta yang diberikan oleh Imam kepada sebagian pasukan sebagai tambahan atas jatah resmi yang telah mereka terima bersama pasukan-pasukan lainnya. Asy-Sya’bi telah menjelaskan hal tersebut demikian.

Ibnu Jarir ath-Thabari memilih pendapat yang mengatakan bahwa al-anfaal adalah penambahan atas jatah pembagian resmi. Pilihannya itu diperkuat oleh riwayat yang menjelaskan ashabun nuzul [sebab-sebab turunnya] ayat ini. Yaitu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Sa’ad bin Abi Waqqash, ia berkata: “Pada waktu peristiwa perang Badar, ‘Umair, saudaraku terbunuh, aku membunuh Sa’id bin al-‘Ash dan aku ambil pedangnya. Pedang itu dinamakan dzal katiifah [yang lebar], lalu aku membawanya kepada Nabi saw. maka beliau bersabda: “Pergi dan lempar pedang itu ke dalam harta yang dirampas.” Sa’ad berkata: “Maka akupun pulang dan di dalam diriku ada sesuatu yang tidak seorangpun mengetahuinya kecuali Allah, yaitu terbunuhnya saudaraku dan diambilnya harta rampasanku [pedang].” Sa’ad berkata: “Tak lama kemudian turunlah surah al-Anfaal, sehingga Rasulullah saw. bersabda kepadaku: “Pergi dan ambillah harta rampasanmu [pedangmu].”

Imam Ahmad berkata dari Sa’ad bin Malik, ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulallah, Allah telah memberikan kelegaan kepadaku pada hari ini dari orang-orang musyrik, karenanya berikanlah kepadaku pedang ini.” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya pedang ini bukan untukmu dan bukan juga untukku, letakkanlah.” Sa’ad berkata: “ Maka aku letakkan pedang itu. Kemudian aku kembali , lalu aku berkata: “Jangan-jangan pedang ini diberikan kepada orang yang tidak mendapatkan cobaan seperti diriku?” tiba-tiba ada seorang lelaki memanggilku dari belakang. Sa’ad berkata: “Aku bertanya: ‘Allah telah menurunkan sesuatu berkenaan dengan diriku?’” lali-laki itu berkata: “Engkau tadi meminta kepadaku pedang ini padahal ia bukanlah milikku dan sesungguhnya sekarang pedang ini telah diberikan kepadaku, jadi pedang ini aku berikan kepadamu.” Sa’ad berkata: “Dan Allah telah menurunkan ayat ini: yas aluunaka ‘anil anfaal. Kulil anfaalu lillaaHi war rasuuli (“Mereka bertanya kepadamu tentang [pembagian] harta rampasan perang, katakanlah harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul.’”

Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i, dari beberapa jalan, dari Abu Bakar bin ‘Ayyasy dengan riwayat seperti ini pula dan at-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih.”

Demikian pula dengan Abu Dawud ath-Thayalisi yang meriwayatkan dari Sa’ad, berkata: “Telah turun empat ayat berkenaan dengan diriku. Aku mendapatkan pedang saat perang Badar, lalu aku mendatangi Nabi saw. seraya berkata: ‘Berikanlah pedang ini kepadaku sebagai tambahan.’ Maka Rasulullah saw. bersabda: ‘Letakkanlah di tempat dimana engkau mengambilnya.’ Rasulullah saw. mengatakannya dua kali. Kemudian aku kembali lagi kepada beliau saw. maka Rasulullah saw. bersabda: ‘Letakkanlah di tempat dimana engkau mengambilnya.’ Maka turunlah ayat ini: yas aluunaka ‘anil anfaal (“Mereka bertanya kepadamu tentang [pembagian] harta rampasan perang.”) kelengkapan hadits Sa’ad ini terdapat dalam sebab-sebab turunnya firman Allah: wa wash-shainal insaana biwaalidaiHi ihsaanan (“Dan Kami wajibkan manusia [berbuat] kebaikan kepada dua orang ibu bapaknya.” (al-Ankabuut: 8) dalam firman Allah, innamal khamru wal maisiru (“Sesungguhnya [minuman] khamar, berjudi.” (al-maa-idah: 90), juga pada ayat wasiat [yaitu keinginan Sa’ad untuk mewasiatkan seluruh hartanya]. Imam Muslim telah meriwayatkannya dalam shahihnya.

Pada asalnya al-Anfaal keseluruhan ghanimah [rampasan perang], hanya saja 1/5 darinya dikhususkan untuk keluarga Nabi saw. sesuai dengan apa yang diturunkan dalam al-Qur’an dan berlaku pada as-Sunnah.

Arti al-Anfaal dalam bahasa orang Arab adalah segala kebaikan yang diberikan oleh siapapun sebagai wujud dari kemurahannya, bukan merupakan suatu kewajiban baginya. An-Nafl [tambahan, pemberian] inilah yang dihalalkan oleh Allah swt. untuk orang-orang beriman dari harta musuh mereka. Ia tidak lain adalah sesuatu yang dikhususkan oleh Allah kepada mereka sebagai wujud dari derma Allah kepada mereka, setelah sebelumnya hal ini diharamkan atas umat-umat sebelum mereka, lalu Allah memberikannya kepada umat ini. Inilah asal-muasal kata an-nafl. Ibnu Katsir berkata: “Bukti atau dalil atas hal ini adalah hadits yang tersebut di dalam ash-shahihain dari Jabir, bahwa Rasulullah saw. bersabda: ‘Aku diberi lima hal yang tidak diberikan kepada seorangpun sebelumku.’” Lalu Jabir melanjutkan hadits itu sampai pada: “Dan dihalakan untukku ghanimah [rampasan perang], yang sebelumnya tidak halal bagi siapapun sebelumku.” (Ia [Jabir] menyebutkan kelengkapan hadits ini).

Kemudian Abu ‘Ubaid berkata, bahwa karena inilah, apa yang diberikan oleh Imam [Khalifah] untuk para prajurit disebut nafl, yaitu kelebihan pemberian yang diberikan oleh seorang Imam kepada sebagian pasukan atas sebagian lainnya sebagai tambahan atas jatah resmi mereka, seorang imam melakukan hal ini terhadap mereka sesuai dengan kadar jasanya terhadap Islam dan kerugian yang mereka timpakan kepada musuh. Pada an-nafl yang dilakukan oleh Imam terdapat empat sunnah [cara], yang masing-masingnya memiliki tempat yang tidak dimiliki oleh yang lainnya:

1. An-nafl [pemberian, tambahan] yang tidak dibagi khususnya [1/5nya], yaitu as-salb [rampasan khusus atau pribadi]
2. An-nafl yang diambil dari ghanimah setelah dikeluarkan 1/5 darinya, misalnya seorang imam mengirimkan pasukan ke Darul Harb [medan perang], lalu pasukan itu pulang dengan membawa ghanimah, maka pasukan itu mendapat ghanimah itu ¼ atau 1/3 setelah dikeluarkan 1/5 darinya.
3. An-nafl yang diambil dari 1/5 itu sendiri, yaitu seluruh ghanimah dikumpulkan, lalu dibagi lima, setelah yang 1/5 berada di tangan imam, sang imam ini menaflkan sebagiannya sesuai dengan kadar yang ia setujui.
4. An-nafl dari seluruh ghanimah sebelum dibagi 5, yaitu sesuatu yang diberikan kepada para penunjuk jalan, penggembala dan penuntun hewan gembalaan itu.
Pada masing-masing dari empat cara ini terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama.

Firman Allah: fattaqullaaHa wa ashlihuu dzaata bainikum (“Sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu.”) maksudnya bertakwalah kalian kepada Allah dalam segala urusan kalian, damaikanlah perselisihan yang terjadi di antara kalian, jangan saling mendhalimi, saling bermusuhan dan saling bertengkar. Sebab apa yang didatangkan Allah kepada kalian berupa hidayah dan ilmu itu lebih baik daripada sesuatu yang menyebabkan kalian bermusuhan.

Wa athii’ullaaHa wa rasuulaHu (“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya.”) Maksudnya, dalam kaitan pembagian rampasan yang dilakukan oleh Rasulullah saw. di antara sesama kalian dengan pola pembagian yang sesuai dengan kehendak Allah, sebab beliau membaginya sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah, yaitu dengan adil dan obyektif.

Bersambung ke bagian 2

Asbabun Nuzul Surah Al-Anfaal (6)

28 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

65. “Hai nabi, Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti*”
(al-Anfaal: 65)

*Maksudnya: mereka tidak mengerti bahwa perang itu haruslah untuk membela keyakinan dan mentaati perintah Allah. mereka berperang Hanya semata-mata mempertahankan tradisi Jahiliyah dan maksud-maksud duniawiyah lainnya.

66. “Sekarang Allah Telah meringankan kepadamu dan dia Telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”
(al-Anfaal: 66)

Diriwayatkan oleh Ishaq bin Rahawaih di dalam Musnad-nya, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika turun surah al-Anfaal ayat 65 yang mewajibkan perang satu lawan sepuluh, kaum Muslimin merasa keberatan sehingga Allah memberikan keringanan kepada mereka, yaitu setiap satu orang melawan dua orang, dengan menurunkan ayat berikutnya (al-Anfaal: 66)

67. “Tidak patut, bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(al-Anfaal: 67)

68. “Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang Telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar Karena tebusan yang kamu ambil.”
(al-Anfaal: 68)

Diriwayatkan oleh Ahmad dan lain-lain, yang bersumber dari Anas bahwa Nabi saw. bermusyawarah dengan para shahabatnya memperbincangkan hal tawanan perang Badr. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah memenangkan kalian dan mengalahkan mereka. Bagaimana pendapat kalian tentang tawanan perang ini?” ‘Umar berkata: “Ya Rasulullah, penggallah batang leher mereka.” Rasulullah tidak menerima sarannya itu. Abu Bakr berkata: “Ampunilah mereka dan terimalah fidaa’ (tebusan) dari mereka.” Lalu Rasulullah mengampuni mereka dan menerima fidaa’. Kedua ayat ini (al-
Anfaal: 67-68) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut sebagai teguran kepada Nabi saw., dan pernyataan bahwa tindakannya itu dimaafkan, karena telah ada ketentuan Allah mengenai hal itu.

Diriwayatkan oleh Ahmad, at-Tirmidzi, dan al-Hakim, yang bersumber dari Ibnu Mas’ud bahwa setelah terjadi perang Badr dan tawanan telah dikumpulkan, Rasulullah saw. bersabda: “Bagaimana pendapat kalian tentang tawanan ini?” Kejadian selanjutnya sama dengan hadits di atas. Turunnya ayat ini (al-Anfaal: 67-68) sejalan dengan pendapat ‘Umar.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi yang bersumber dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. bersabda: “Tidak pernah dihalalkan ghanimah kepada siapapun, demikian pula kepada seorang pemimpin sebelum kalian. Di masa dahulu, api turun dari langit dan memusnahkan ghanimah.” Ketika Perang Badr, kaum Muslimin mengambil ghanimah sebelum dihalalkan kepada mereka. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Anfaal: 67) sebagai teguran terhadap perbuatan kaum Muslimin.

70. “Hai nabi, Katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu: “Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang Telah diambil daripadamu dan dia akan mengampuni kamu”. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(al-Anfaal: 70)

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani di dalam kitab al-Ausath, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Ibnu ‘Abbas berkata: “Demi Allah, ayat ini (al-Anfaal: 70) turun berkenaan dengan diriku ketika aku mengingatkan Rasulullah saw. bahwa aku telah masuk Islam, dan meminta kembali hartaku sebanyak 20 uuqiyyah (ons) emas yang dirampas dalam peperangan dan mengharap ampunan dari Allah. Sebagai penggantinya Rasulullah memberikan kepadaku 20 orang ‘abid yang sekarang memperdagangkan hartaku dengan jujur, yang sangat menguntungkan.” Ayat ini (al-Anfaal: 70) menegaskan bahwa Allah akan memberikan yang lebih baik daripada apa yang telah dirampas dalam peperangan, kepada tawanan-tawanan yang masuk Islam, dan menjanjikan ampunan-Nya.

73. “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang Telah diperintahkan Allah itu*, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.”
(al-Anfaal: 73)

*yang dimaksud dengan apa yang Telah diperintahkan Allah itu: keharusan adanya persaudaraan yang teguh antara kaum muslimin.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Abusy Syaikh, dari as-Suddi yang bersumber dari Abu Malik bahwa seorang Mukmin bertanya tentang pemberian harta waris kepada anggota keluarga yang termasuk kaum musyrikin. Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 73) yang menegaskan bahwa kaum musyrikin selalu saling membantu dengan sesama musyrikin, dan kaum Muslimin pun harus saling membantu dengan sesama Muslimin. Oleh karena itu kaum Muslimin tidak dibenarkan menyerahkan harta waris kepada mereka.

75. “Dan orang-orang yang beriman sesudah itu Kemudian berhijrah serta berjihad bersamamu Maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat)* di dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”
(al-Anfaal: 75)

*Maksudnya: yang jadi dasar waris mewarisi dalam Islam ialah hubungan kerabat, bukan hubungan persaudaraan keagamaan sebagaimana yang terjadi antara muhajirin dan anshar pada permulaan Islam.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnuz Zubair bahwa seorang Muslim telah membuat perjanjian dengan yang lainnya untuk saling mewarisi hartanya. Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 75) yang menegaskan bahwa harta waris itu lebih utama diberikan kepada kaum keluarga yang sudah ada ketentuannya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dari Hisyam bin ‘Urwah yang bersumber dari bapaknya (‘Urwah) bahwa Rasulullah saw. menjadikan az-Zubair bin al-‘Awwam dan Ka’b bin Malik sebagai saudara. Az-Zubair berkata: “Ketika aku melihat Ka’b terluka parah dalam perang Uhud, aku berkata bahwa apabila ia gugur, maka terputuslah dengan dunia dan ahlinya, sehingga akupun jadi pewarisnya.” Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 75) yang menegaskan bahwa harta waris itu diutamakan bagi keluarga, dan tidak bagi orang yang diangkat menjadi saudara.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah Al-Anfaal (5)

28 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

47. “Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.”
(al-Anfaal: 47)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi, bahwa ketika kaum Quraisy keluar dari Mekah menuju Perang Badr, mereka berpakaian indah-indah dan dibarengi barisan musik. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Anfaal: 47) yang melarang kaum Muslimin berbuat seperti mereka: sombong dan ria’.

48. “Dan ketika syaitan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: “Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini, dan Sesungguhnya saya Ini adalah pelindungmu”. Maka tatkala kedua pasukan itu Telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), syaitan itu balik ke belakang seraya berkata: “Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, Sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; Sesungguhnya saya takut kepada Allah”. dan Allah sangat keras siksa-Nya.”
(al-Anfaal: 48)

49. “(ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: “mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya”. (Allah berfirman): “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, Maka Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
(al-Anfaal: 49)

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani di dalam kitab al-Ausath, dengan sanad yang lemah, yang bersumber dari Abu Hurairah, bahwa pada waktu di Mekah Allah menurunkan kepada Nabi-Nya ayat, sayuhzamul jam’u wa yuwalluunad dubur (golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang) (al-Qamar: 45), bertanyalah ‘Umar bin al-Kaththab: “Persekutuan yang mana, ya Rasulullah?” pertanyaan tersebut diajukan sebelum terjadi perang Badr. Pada waktu kaum Quraisy dihancurkan dalam perang Badr, ‘Umar melirik kepada Rasulullah sambil melihat, dengan pedang terhunus di tangan, kepada bekas-bekas pertempuran yang bergelimangan mayat. Bersabdalah Rasulullah saw.: “Ayat, sayuhzamul jam’u wa yuwalluunad dubur (golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang) (al-Qamar: 45) itu berkenaan dengan peristiwa ini.” Dalam peristiwa Badr itu turun pula surah al-Mu’minuun ayat 64 berkenaan dengan mereka yang merintih-rintih minta tolong karena mendapat azab dari Allah swt.; dan surat Ibrahim ayat 28 berkenaan dengan mereka yang menukarkan nikmat Allah dengan kekufuran.
Dalam perang Badr ini Rasulullah melempari mereka dengan batu dan pasir, sehingga musuh-musuh itu mati karena mata dan mulutnya penuh dengan pasir dan batu. Maka turunlah surat al-Anfaal ayat 17 yang menegaskan bahwa kematian mereka bukan karena lemparan Muhammad, tapi karena lemparan Allah. Dalam peristiwa Badr ini pula turun surah al-Anfaal ayat 48 yang menegaskan bahwa iblis membakar semangat kaum musyrikin, tapi kemudian berlepas diri karena ia melihat kaum Muslimin mendapat bantuan pasukan malaikat yang tidak terlihat oleh kaum musyrikin. Dalam peristiwa itu pula ‘Utbah bin Rabi’ah dan orang-orang musyrikin lainnya berkata bahwa kaum Muslimin telah tertipu oleh agamanya. Maka Allah menurunkan surah al-Anfaal ayat 49 sebagai peringatan kepada kaum Mukminin untuk tetap bertawakal kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana.

55. “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, Karena mereka itu tidak beriman.”
(al-Anfaal: 55)

Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa turunnya ayat ini (al-Anfaal: 55) berkenaan dengan enam suku kaum Yahudi yang sangat kufur, di antaranya Ibnut Tabut.

58. “Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, Maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.”
(al-Anfaal: 58)

Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh yang bersumber dari Ibnu Syihab bahwa Jibril datang kepada Rasulullah saw. dan berkata: “Engkau telah meletakkan senjata dan tetap berusaha mengajak mereka melaksanakan perdamaian. Allah telah mengizinkan kamu untuk menggempur Bani Quraizhah yang telah mengkhianatimu. Berangkatlah dan gempurlah mereka.” Turunnya ayat ini (al-Anfaal: 58) sebagai izin kepada Rasulullah saw. untuk menggempur orang-orang yang mengkhianati perjanjian.

64. “Hai nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.”
(al-Anfaal: 64)

Diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan sanad yang dhaif, dari ‘Ikrimah yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Hadits ini mempunyai beberapa syaahid (penguat) bahwa ketika ‘Umar masuk Islam, kaum musyrikin berkata: “Sekarang kekuatan kita telah seimbang dengan kekuatan kaum Muslimin.” Maka turunlah ayat ini (Al-Anfaal: 64) sebagai penambah semangat bagi Rasulullah dalam menghadapi kaum musyrikin.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dan lain-lain, dari Sa’id bin Jubair yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika kaum Muslimin telah mencapai jumlah 39 orang (laki-laki dan perempuan), dan menjadi 40 orang dengan masuknya ‘Umar, maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 64) yang menegaskan bahwa Allah dan orang-orang yang telah beriman cukup bagi Rasulullah untuk melawan kaum musyrikin.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dengan sanad yang sahih, yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa setelah 33 orang laki-laki dan 6 orang wanita masuk Islam (bergabung) bersama Nabi saw., serta ditambah dengan masuknya ‘Umar, turunlah ayat ini (al-Anfaal: 64) berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh dari Sa’id bin al-Musayyab bahwa turunnya ayat ini (al-Anfaal: 64) berkenaan dengan masuknya Islamnya ‘Umar bin al-Khaththab.

Sumber: Asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah Al Anfaal (4)

28 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

32. “Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, Maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih”.
(al-Anfaal: 32)

33. “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun*”
(al-Anfaal: 33)

*di antara Mufassirin mengartikan yastagfiruuna dengan bertaubat dan ada pula yang mengartikan bahwa di antara orang-orang kafir itu ada orang muslim yang minta ampun kepada Allah.

34. “Kenapa Allah tidak mengazab mereka padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidilharam, dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya? orang-orang yang berhak menguasai(nya) hanyalah orang-orang yang bertakwa. tetapi kebanyakan mereka tidak Mengetahui.”
(al-Anfaal: 34)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa yang dimaksud dengan wa idz qaalallaahumma ing kaana haadzaa huwal haqq…(dan [ingatlah], ketika mereka [orang-orang musyrik] berkata: “Ya Allah, jika betul [al-Qur’an] ini, dialah yang benar….”) hingga akhir ayat (al-Anfaal: 32) ialah ucapan an-Nadlr bin al-Harits.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Anas bahwa Abu Jahl berkata: “Ya Allah, sekiranya al-Qur’an ini benar-benar dari-Mu, maka turunkanlah hujan batu dari langit atau timpakanlah kepada kami siksa yang pedih.” Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 33) yang menjamin bahwa Allah tidak akan menimpakan siksaan dari langit selagi Nabi Muhammad masih ada dan selagi mereka bertobat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kaum musyrikin sedang tawaf di Baitullah dan berdoa: “Ghufraanaka, ghufraanaka (kami memohon ampunan-Mu, kami memohon ampunan-Mu)”. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Anfaal: 33) yang menegaskan bahwa Allah tidak akan menyiksa mereka selama mereka bertobat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Yazid bin Ruman dan Muhammad bin Qais bahwa kaum Quraisy sedang berbicara di antara mereka: “Muhammad telah dimuliakan oleh Allah lebih daripada kita.” Maka mereka berdoa: “Ya Allah sekiranya Muhammad itu benar utusan-Mu, timpakanlah batu dari langit kepada kami.” Pada sore harinya mereka menyesali ucapannya itu, dan bertobat dengan ucapan ghufraanakallaahumma (kami memohon ampunan-Mu ya Allah). Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Anfaal: 33-34) yang menjamin keselamatan mereka dari siksaan Allah selama mereka bertobat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Abazi bahwa pada waktu Rasulullah berada di Mekah, Allah menurunkan, wa maa kaanallaahu li yu’adzdzlibahum wa angta fiihim… (dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka…) (al-Anfaal: 33); ketika Rasulullah saw. pindah ke Madinah, Allah menurunkan.. wamaa kanallaahu mu’adzdzibahum wa hum yastaghfiruun…( dan tidaklah [pula] Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun) (akhir al-Anfaal: 33), karena di Mekah masih tertinggal kaum Muslimin yang selalu bertobat. Setelah semuanya hijrah dari Mekah ke Madinah, Allah menurunkan, wa maa lahum al laa yu’adzdzibahumullah…(kenapa Allah tidak mengazab mereka..) (awal al-Anfaal: 34). Setelah itu Allah mengizinkan mereka membebaskan kota Mekah sebagai siksaan yang telah disebutkan dalam al-Qur’an.

35. “Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.”
(al-Anfaal: 35)

Diriwayatkan oleh al-Wahidi yang bersumber dari Ibnu ‘Umar bahwa sebelum masuk Islam, apabila kaum Quraisy tawaf di Baitullah, mereka suka bertepuk tangan dan bersiul. Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 35) sebagai ancaman terhadap perbuatan seperti itu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Sa’id bahwa kaum Quraisy mengganggu Nabi saw. yang sedang tawaf dengan bertepuk tangan dan bersiul. Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 35) sebagai ancaman kepada orang-orang yang suka mengganggu kaum Muslimin yang sedang ibadah.

36. “Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. mereka akan menafkahkan harta itu, Kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan,”
(al-Anfaal: 36)

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq yang bersumber dari az-Zuhri, Muhammad bin Yahya bin Hibban, ‘Ashim bin ‘Umair bin Qatadah, dan al-Hushain bin ‘Abdirrahman. Hadits ini bersesuaian pula dengan hadits yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika orang-orang Quraisy ditimpa kekalahan dalam perang Badr dan pulang ke Mekah, ‘Abdullah bin Abi Rabi’ah, ‘Ikrimah bin Abi Jahl, dan Shafwan bin Umayyah, tokoh-tokoh Quraisy yang bapak-bapak dan anak-anaknya terbunuh dalam perang Badr, mengadakan pembicaraan denga Abu Sufyan dan rombongannya. Rombongan Abu Sufyan itu terdiri atas kaum saudagar yang selamat dari malapetaka perang Badr. Mereka berkata: “Hai golongan Quraisy. Sesungguhnya Muhammad telah menggentarkan kalian dan membunuh orang-orang yang paling baik diantara kalian. Bantulah kami dengan harta benda kalian untuk memeranginya. Mudah-mudahan kita bisa menebus kekalahan kita dan membalas dendam.” Merekapun menyetujui permintaan ini. Ayat ini (al-Anfaal: 36) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut. Yang menjanjikan bahwa Allah akan mengalahkan orang-orang yang menghambat jalan Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari al-Hakam bin ‘Utaibah bahwa turunnya ayat ini (al-Anfaal: 36) berkenaan dengan Abu Sufyan yang membiayai perang kaum musyrikin, sebanyak empat puluh uuqiyyah (ons) emas.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Abazi dan Sa’id bin Jubair, bahwa turunnya ayat ini (al-Anfaal: 36) berkenaan dengan Abu Sufyan yang mengongkosi dua ribu orang tentara Habasyah dalam Perang Uhud untuk memerangi Rasulullah saw.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah Al-Anfaal (3)

28 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

30. “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”
(al-Anfaal: 30)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika segolongan kaum Quraisy dan pembesar dari suku-suku lainnya akan memasuki Darun Nadwah (balai pertemuan), iblis, yang menyeru (menyamar) sebagai orang yang patut dipertuankan dan dihormati, menghadang mereka. Ketika melihatnya, mereka bertanya: “Siapakah tuan?” Iblis menjawab: “Saya seorang syekh dari Najd yang ingin mendengar apa yang akan dimusyawarahkan oleh kalian (tentang Muhammad), dan ingin menyaksikan permusyawaratan itu. Mudah-mudahan aku dapat menyumbangkan fikiran dan nasehat.” Merekapun menyetujuinya. Lalu iblis pun masuk bersama mereka. Syekh Najd (iblis) berkata: “Bagaimana pendapat kalian tentang (hukuman yang pantas bagi) Muhammad?” Salah seorang dari mereka berkat: “Masukkan saja ke dalam penjara dan ikatlah kaki dan tangannya sampai mati, sebagaimana matinya dua orang penyair, Zuhair dan an-Nabighah, karena perbuatannya pun sama seperti salah seorang diantara mereka.” ‘Aduwwullah (si musuh Allah) Syekh Najd berkata: “Demi Allah, pendapat seperti itu tidak baik, karena nanti akan ada orang yang simpati kepadanya, lalu memberitahukan tempat tahanannya kepada shahabat-shahabatnya. Mereka akan segera menyerbu, mengambil dari tangan kalian dan menjaganya. Dengan demikian kalian tidak akan aman dari gangguan mereka yang akan mengusir kalian dari negeri ini. Cobalah keluarkan pendapat yang lain.” Salah seorang lainnya berkata: “Usir saja dia dari negeri kita, agar kita dapat terbebas dari gangguan dan ucapannya.” Berkatalah Syekh Najd: “Demi Allah pendapat inipun tidak baik. Apakah tuan-tuan tidak mengenal omongannya yang begitu menarik, lisannya yang begitu lincah, dan perkataannya yang begitu manis? Demi Allah jika kalian berbuat demikian, orang Arab dan segala suku akan mengikutinya dan menurut kepadanya. Akhirnya mereka akan bersatu padu mengusir kalian dari tanah tumpah darah kalian dan akan membunuh kalian.” Mereka berkata: “Benar, demi Allah, cobalah kemukakan pendapat yang lainnya.” Abu Jahl berkata: “Demi Allah, aku akan memberikan pendapat yang tidak ada taranya.” Mereka berkata: “Bagaimana pendapatmu itu?” Abu Jahl berkata: “Kamu ambil dari setiap kabilah, seorang pemuda yang kuat dan gagah berani. Masing-masing dibekali pedang yang tajam dan ditugasi mencincang Muhammad bersama-sama, sehingga pertanggungjawabannya terbagi ke seluruh kabilah. Aku yakin, Bani Hasyim tidak akan mampu melawan seluruh suku Quraisy.”
Pendapat ini diterima dan diputuskan secara aklamasi karena menurut mereka masuk akal. Maka berkatalah Syekh Najd: “Demi Allah, itu buah pikiran yang sangat baik. Aku tidak mendapat yang lainnya.” Merekapun bubar dari tempat pertemuan itu untuk melaksanakan keputusannya.
Maka datanglah Jibril kepada Nabi saw. memerintahkan agar beliau tidak tidur di tempat yang biasa, dan menyampaikan keputusan pertemuan mereka. Maka Rasulullah pada malam itu tidak bermalam di rumahnya. Allah memberi izin kepada beliau untuk meninggalkan kota Mekah. Ayat ini (al-Anfaal: 30) turun setelah Rasulullah sampai ke Madinah, yang menerangkan Nikmat yang diberikan Allah kepada beliau (agar disyukuri).

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari ‘Ubaid bin ‘Umair yang bersumber dari al-Muththalib bin Abi Wada’ah, bahwa Abu Thalib bertanya kepada Nabi saw.: “Tahukah engkau apa yang dimusyawarahkan oleh kaum-mu (Quraisy)?” Nabi menjawab: “Mereka akan memenjarakanku, membunuhku, atau mengusirku.” Berkatalah Abu Thalib: “Siapa yang memberitahu hal itu kepadamu?” Nabi menjawab: “Raab-ku.” Abu Thalib berkata: “Rabb-mu adalah sebai-baik Rabb. Aku berwasiat agar engkau berbuat baik kepada-Nya.” Nabi bersabda: “Aku menerima perintah-Nya dengan sebaik-baiknya, dan Rabb-ku telah berbuat baik kepadaku.” Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 30) berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Ibnu Katsir berkata: “Hadits ini gharib bahkan munkar, karena menyebut Abu Thalib pada riwayat hijrah, padahal Abu Thalib sudah meninggal sebelumnya.”

31. “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat kami, mereka berkata: “Sesungguhnya kami Telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menhendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al Quran) Ini tidak lain hanyalah dongeng-dongengan orang-orang purbakala”.
(al-Anfaal: 31)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa Rasulullah saw. menetapkan hukum bunuh bagi penjahat perang dalam perang Badr, yaitu bagi ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, Tha’imah bin ‘Adi, dan an-Nadlr bin al-Harits. Akan tetapi al-Miqdad berkeberatan atas putusan hukum mati bagi an-Nadlr bin al-Harits dengan berkata: “Ini tawananku, ya Rasulullah.” Rasulullah saw. menegaskan bahwa dialah orangnya yang mengatakan bahwa dirinya dapat membuat ayat seperti ayat-ayat al-Qur’an. Orang inilah (an-Nadlr) yang dimaksudkan dalam ayat tersebut di atas (al-Anfaal: 31).

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

asbabun Nuzul Surah Al-Anfaal (2)

28 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

17. “Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(al-Anfaal: 17)

Diriwayatkan oleh al-Hakim dari Sa’id bin al-Musayyab yang bersumber dari bapaknya. Isnad hadits ini shahih, hanya saja gharib. Bahwa pada waktu peperangan Uhud, Ubay bin Khalaf bermaksud menyerang Nabi saw. –dan dibiarkan oleh kawan-kawannya yang pada waktu itu menyongsong pasukan Rasulullah- akan tetapi dihadang oleh Mush’ab bin ‘Umair. Rasulullah saw. melihat bagian dada Ubay yang terbuka antara baju dan topinya, lalu ditikam oleh Rasulullah saw dengan tombaknya. Ubay jatuh rebah dari kudanya serta salah satu tulang rusuknya patah, akan tetapi tiada mengeluarkan darah. Teman-teman Ubay datang mengerumuninya saat ia meraung-raung kesakitan. Mereka berkata: “Alangkah pengecutnya engkau, bukankah itu hanya goresan sedikit saja?” Ubay mengatakan bahwa Rasulullah telah menikamnya, seraya mengingatkan sabda Rasulullah yang bersumpah: “Seandainya yang terkena kepada Ubay itu terkena pula pada sekampung Dzilmajaz (nama suatu daerah), pasti mereka akan mati semuanya.”
Ubay bin Khalaf mati sebelum sampai ke Mekah. Turunnya ayat ini (al-Anfal: 17) berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai penegasan bahwa sebenarnya Allah-lah yang membunuhnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Abdurrahman bin Jubair. Hadits ini mursal, sanadnya jayyid (baik), akan tetapi gharib. Bahwa pada peperangan Khaibar, Rasulullah saw. meminta panah, dan memanahkannya ke benteng. Anak panah tersebut mengenai Ibnu Abil Haqiq hingga iapun terbunuh di tempat tidurnya. Allah menurunkan ayat ini (al-Anfaal: 17) berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai penegasan bahwa yang melempar panah itu adalah Allah swt.

Keterangan: Hadits yang masyur berkenaan dengan turunnya ayat ini (al-Anfaal: 17) adalah peristiwa yang terjadi dalam perang Badr, di waktu Rasulullah saw. melemparkan segenggam batu-batu kecil hingga menyebabkan banyak yang mati di kalangan musuh.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, dan ath-Thabarani, yang bersumber dari Hakim bin Hizam. Diriwayatkan pula oleh Abusy Syaikh yang bersumber dari Jabir dan Ibnu ‘Abbas. Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari sumber lain, tapi mursal. Bahwa di waktu perang Badr, para shahabat mendengar suara gemuruh dari langit ke bumi, seperti suara batu-batu kecil jatuh ke dalam bejana. Rasulullah saw. melempari lawannya dengan batu-batu kecil tadi sehingga kaum Muslimin pun menang. Ayat ini (al-Anfaal: 17) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang menegaskan bahwa sesungguhnya yang melemparkan batu-batu itu adalah Allah di saat Nabi melemparkannya.

19. “Jika kamu (orang-orang musyrikin) mencari keputusan, Maka Telah datang Keputusan kepadamu; dan jika kamu berhenti*; Maka Itulah yang lehih baik bagimu; dan jika kamu kembali**, niscaya kami kembali (pula)***; dan angkatan perangmu sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sesuatu bahayapun, biarpun dia banyak dan Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman.”
(al-Anfaal: 19)

*Maksudnya: berhenti dari memusuhi dan memerangi rasul.
**Maksudnya: kembali memusuhi dan memerangi rasul.
***Maksudnya: Allah memberi pertolongan kepada rasul.

Diriwayatkan oleh al-Hakim yang bersumber dari ‘Abdullah bin Tsa’labah bin Sha’ir. Bahwa Abu Jahl pernah meminta kemenangan kepada Allah ketika pasukannya bertemu dengan pasukan kaum Muslimin. Ia berdoa: “Ya Allah, siapa sebenarnya yang memutuskan silaturahim dan datang membawa ajaran yang tidak dikenal. Buktikanlah kemusnahannya besok.” Itulah permintaan kemenangan yang disebut Allah dalam ayat ini (al-Anfaal: 19).

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari ‘Athiyyah bahwa Abu Jahl pernah berdoa: “Ya Allah, tolonglah yang paling mulia diantara dua golongan ini, yang paling terhormat diantara dua pasukan ini.” Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 19) sebagai penegasan bahwa kemenangan ada di pihak kaum Muslimin yang paling mulia dan terhormat.

27. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu Mengetahui.”
(al-Anfaal: 27)

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dan lain-lain, yang bersumber dari ‘Abdullah bin Abi Qatadah bahwa turunnya ayat ini (al-Anfaal: 27) berkenaan dengan Abu Lubabah bin ‘Abdil Mundzir (seorang Muslim) yang ditanya oleh Bani Quraizhah (yang memusuhi kaum Muslimin), waktu perang Quraizhah, tentang rencana kaum Muslimin terhadap mereka. Abu Lubabah memberi isyarat dengan tangan pada lehernya (maksudnya akan dibunuh). Setelah turun ayat ini (al-Anfaal: 27), Abu Lubabah menyesali perbuatannya karena membocorkan rahasia kaum Muslimin. Ia berkata: “Teriris hatiku hingga kedua kakiku tidak dapat digerakkan, karena aku merasa telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan lain-lain yang bersumber dari Jabir bin ‘Abdillah. Sanad hadits ini sangat gharib, dan susunan bahasanya pun perlu diteliti kembali. Bahwa Abu Sufyan meninggalkan Mekah (untuk memata-matai kegiatan kaum Muslimin). Hal ini disampaikan Jibril kepada Nabi saw.. Bersabdalah Rasulullah saw. kepada para shahabat: “Abu Sufyan sekarang berada di suatu tempat. Tangkaplah dan tahanlah dia.” Seorang dari kaum munafikin yang mendengar perintah Rasul itu memberitahukannya dengan surat kepada Abu Sufyan agar ia berhati-hati karena Nabi Muhammad telah mengetahui maksudnya. Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 27) sebagai peringatan untuk tidak berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Suddi bahwa kaum Muslimin mendengarkan perintah Nabi saw. (yang perlu dirahasiakan), tetapi disebarkan di antara kawan-kawannya sehingga sampai pula kepada kaum musyrikin. Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 27) yang menegaskan bahwa penyebaran perintah seperti itu berarti berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah Al-Anfaal (1)

28 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

1. “Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: “Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul*, oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.”
(al-Anfaal: 1)

*Maksudnya: pembagian harta rampasan itu menurut ketentuan Allah dan RasulNya.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, an-Nasa-i, Ibnu Hibban, dan al-Hakim, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi saw. bersabda: “Barang siapa yang membunuh (musuh), ia akan mendapat sejumlah bagian tertentu, dan barang siapa yang menawan musuh, iapun akan mendapat bagian tertentu pula. Pada waktu itu para orang tua tinggal menjaga bendera, sedang para pemuda maju ke medan jihad menyerbu musuh dan mengangkut ghanimah. Berkatalah para orang tua kepada para pemuda: “Jadikanlah kami sekutu kalian, karena kamipun turut bertahan dan menjaga tempat kembali kalian.” Hal ini mereka adukan kepada Nabi saw.. Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 1) yang menegaskan bahwa ghanimah itu merupakan ketetapan Allah dan jangan menjadi bahan pertengkaran.

Diriwayatkan oleh Ahmad yang bersumber dari Sa’d bin Abi Waqqash bahwa dalam Peperangan Badr ‘Umair terbunuh, dan Sa’d bin Abi Waqqash (saudaranya) dapat membunuh kembali pembunuhnya, yaitu Sa’id bin al-‘Ash. Bahkan Sa’d dapat mengambil pedangnya, serta dibawanya pedang itu kepada Nabi saw.. Nabi saw. bersabda: “Simpanlah pedang itu di tempat barang rampasan yang belum dibagikan.” Sa’d pun pulang dengan perasaan sedih karena saudaranya terbunuh dan rampasannya diambil. Tiada lama kemudian turunlah ayat ini (al-Anfaal: 1) yang menegaskan tentang kedudukan ghanimah. Nabi bersabda kepada Sa’d bin Abi Waqqash: “Ambillah pedangmu itu.”

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa-i, yang bersumber dari Sa’d bahwa dalam Perang Badr, Sa’d menghadap Rasulullah saw. dan membawa sebilah pedang. Ia berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah telah menyembuhkan sakit hatiku terhadap kaum musyrikin (membunuh pembunuh saudaraku dan merampas pedangnya). Karenanya berikanlah pedang ini padaku.” Rasulullah menjawab: “Pedang ini bukan kepunyaanku, juga bukan kepunyaanmu.” Sa’d berkata: “Mudah-mudahan pedang ini diberikan kepada orang yang tidak mendapat cobaan sebagaimana cobaan yang kuderita.” Beberapa lama kemudian, Rasulullah datang kepada Sa’d dan bersabda: “Engkau telah meminta pedang ini dariku di saat belum menjadi milikku, dan sekarang telah menjadi milikku. Ambillah pedang itu.” Dan turunlah ayat ini (al-Anfaal: 1) berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai larangan mengambil ganimah sebelum ada ketetapan Allah dan Rasul-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid bahwa orang-orang menuntut yang seperlima lagi dari ghanimah setelah mereka terima yang empat perlimanya. Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 1) yang menegaskan bahwa bagian itu diperuntukkan bagi Allah dan Rasul-Nya.

5. “Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dan rumahmu dengan kebenaran*, padahal Sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya,”
(al-Anfaal: 5)

*Maksudnya: menurut Al Maraghi: Allah mengatur pembagian harta rampasan perang dengan kebenaran, sebagaimana Allah menyuruhnya pergi dari rumah (di Madinah) untuk berperang ke Badar dengan kebenaran pula. menurut Ath-Thabari: keluar dari rumah dengan maksud berperang.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Marduwaih, yang bersumber dari Abu Ayyub al-Anshari. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, bahwa ketika Rasulullah mendengar bahwa kafilah yang dipimpin Abu Sufyan telah mendekati Madinah dalam perjalanan pulang menuju Mekah, beliau bersabda: “Bagaimana pendapat kalian tentang kafilah itu, mudah-mudahan Allah menjadikan kafilah ini ghanimah bagi kita dan menyelamatkan kita.” Maka berangkatlah mereka keluar kota Madinah menyongsong kafilah tersebut. Setelah sehari atau dua hari dalam perjalanan, beliau bertanya lagi: “Bagaimana pendapat kalian tentang mereka?” Sebagian kaum Muslimin menjawab: “Kita tidak akan kuat melawan mereka, karena kita tidak akan menyongsong kafilah Abu Sufyan saja.” Berkatalah al-Miqdad: “Janganlah kalian berkata seperti kaum Nabi Musa (maksudnya: berangkatlah kamu dengan Tuhanmu dan berperanglah, kami di sini akan duduk menunggu).” Ayat ini (al-Anfaal: 5) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai sindiran kepada sebagian kaum Mukminin yang tidak suka mengikuti jejak Rasulullah.

9. “(ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut”.
(al-Anfaal: 9)

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi yang bersumber dari ‘Umar bin al-Kaththab bahwa Nabi saw. melihat kaum musyrikin berjumlah seribu orang, sedang shahabat-shahabatnya hanya berjumlah tiga ratus dan beberapa belas kuda saja. Beliaupun menghadap kiblat dan mengangkat tangannya seraya memohon kepada Allah dengan perasaan sedih: “Ya Rabbana, kabulkanlah apa yang telah dijanjikan kepadaku. Ya Rabbana, sekiranya Engkau membinasakan golongan Muslimin, tidak akan ada lagi yang menyembah-Mu di bumi ini.” Tiada henti-hentinya beliau memohon dengan perasaan sedih, dengan mengangkat tangan sambil menghadap kiblat, sehingga selendangnya pun jatuh. Datanglah Abu Bakr mengambil selendang tadi seraya meletakkannya di pundak beliau. Kemudian Abu Bakr merangkul beliau dari belakang sambil berkata: “Wahai Nabiyullah, cukuplah jeritan hatimu itu. Sesungguhnya Rabb-mu akan meluluskan permintaanmu dan menepati janji-Nya.” Ayat ini (al-Anfaal: 9) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai janji Allah untuk mengabulkan doa orang yang meminta dengan sungguh-sungguh. Dalam peristiwa tersebut, Allah menurunkan malaikat yang berbondong-bondong.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 79 pengikut lainnya.