Arsip tag an-nisa’

Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (8)

1 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

66. “Dan Sesungguhnya kalau kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. dan Sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka),”
(an-Nisaa’: 60)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Suddi bahwa ketika turun ayat, wa lau annaa katabnaa…(dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan…) sampai… illaa qaliilum minhum…(…kecuali sebagian kecil dari mereka..) (an-Nisaa’: 66), Tsabit bin Qais dan seorang Yahudi saling menyombongkan diri dengan ucapan masing-masing: “Demi Allah, Allah telah mewajibkan kami supaya bunuh diri, pasti kami akan melaksanakannya.” Maka Allah menurunkan kelanjutan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 66) sebagai penjelasan agar melaksanakan tuntunan al-Qur’an yang telah diberikan kepada mereka.

69. “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin[314], orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.”
(an-Nisaa’: 69)

[314] ialah: orang-orang yang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran rasul, dan inilah orang-orang yang dianugerahi nikmat sebagaimana yang tersebut dalam surat Al Faatihah ayat 7.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dan Ibnu Marduwaih dengan sanad laa ba’sa bih (lumayan: tidak shahih dan tidak dhaif) yang bersumber dari ‘Aisyah bahwa seorang laki-laki menghadap Nabi saw. dan berkta: “Ya Rasulullah. Aku mencintai tuan lebih daripada aku mencintai diriku dan anakku sendiri. Jika sedang di rumah, aku selalu ingat kepada tuan dan tidak sabar ingin segera bertemu dengan tuan. Dan jika aku ingat akan ajalku dan ajal tuan, aku yakin bahwa tuan akan diangkat (pada kedudukan yang paling tinggi) beserta nabi-nabi di syurga. Apabila masuk syurga, aku takut kalau-kalau tidak bisa bertemu dengan tuan.” Maka nabi pun terdiam, sehingga Jibril turun dengan membawa ayat ini (an-Nisaa’: 69) sebagai janji Allah kepada orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Masruq bahwa para Shahabat Rasulullah saw. pernah berkata: “Ya Rasulallah, kami tidak mau berpisah dengan tuan, tapi nanti di akhirat tuan akan diangkat beserta nabi-nabi lainnya lebih tinggi derajatnya daripada kami, sehingga kami tidak dapat bertemu dengan tuan.” Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 69) sebagai janji Allah bahwa mereka (yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya) akan digolongkan kepada orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah swt..

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari ‘Ikrimah. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Sa’id bin Jubair, Masruq, ar-Rabi’, Qatadah, dan as-Suddi, tetapi mursal, bahwa seorang pemuda menghadap Nabi saw. dan berkata: “Ya Nabiyallah, kami dapat bertemu dengan tuan di dunia ini, sedang di akhirat kami tidak dapat bertemu, karena tuan berada pada derajat yang tertinggi di surga.” Maka Allah menurunkan ayat ini (an-Nisaa’: 69). Kemudian Rasulullah bersabda: “Engkau besertaku di dalam surga, insya Allah.”

77. “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka[317]: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), Dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!” setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. mereka berkata: “Ya Tuhan kami, Mengapa Engkau wajibkan berperang kepada Kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?” Katakanlah: “Kesenangan di dunia Ini Hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun[318].”
(an-Nisaa’: 77)

[317] orang-orang yang menampakkan dirinya beriman dan minta izin berperang sebelum ada perintah berperang.
[318] artinya pahala turut berperang tidak akan dikurangi sedikitpun.

Diriwayatkan oleh an-Nasa-i dan al-Hakim, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ‘Abdurrahaman bin ‘Auf dan kawan-kawannya menghadap Nabi saw. dan berkata: “Ya Nabiyallah. Dahulu ketika kiami di Mekah, di saat kami musyrik, kami merasa mulia dan pemberani, tetapi kini setelah kami beriman, kami jadi hina.” Nabi menjawab: “Dahulu aku diperintahkan untuk toleran dan dilarang memerangi mereka (kaum musyrikin). Setelah hijrah ke Madinah, kaum Muslimin diperintahkan berperang, akan tetapi mereka (‘Abdurrahman dan kawan-kawannya) enggan.” Maka Allah menurunkan ayat ini (an-Nisaa’: 77) sebagai pemberi semangat untuk turut jihad.

83. “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri[322] di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil Amri)[323]. kalau tidaklah Karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).”
(an-Nisaa’: 83)

[322] ialah: tokoh-tokoh sahabat dan para cendekiawan di antara mereka.
[323] menurut Mufassirin yang lain maksudnya ialah: kalau suatu berita tentang keamanan dan ketakutan itu disampaikan kepada Rasul dan ulil Amri, tentulah Rasul dan ulil amri yang ahli dapat menetapkan kesimpulan (istimbat) dari berita itu.

Diriwayatkan oleh Muslim yang bersumber dari ‘Umar bin al-Khaththab bahwa ketika Nabi uzlah (menjauhi) istri-istrinya, ‘Umar bin al-Khaththab masuk ke masjid. Pada saat itu orang-orang sedang kebingungan sambil bercerita bahwa Rasulullah saw. telah menceraikan istri-istrinya. ‘Umar berdiri di pintu masjid dan berteriak: “Rasulullah tidak menceraikan istrii-istrinya, dan aku telah menelitinya.” Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 83) berkenaan dengan peristiwa tersebut agar tidak menyiarkan berita sebelum diselidiki.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (7)

1 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

59. “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(an-Nisaa’: 59)

Diriwayatkan oleh al-Bukhari –dengan ringkas- dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 59) berkenaan dengan ‘Abdullah bin Hudzaifah bin Qais ketika diutus oleh Nabi saw. memimpin suatu pasukan.

Keterangan: menurut Imam ad-Dawud, riwayat tersebut menyalahgunakan nama Ibnu ‘Abbas, karena cerita mengenai ‘Abdullah bin Hudzaifah itu adalah sebagai berikut: di saat ‘Abdullah marah-marah kepada pasukannya, ia menyalakan api unggun, lalu memerintahkan pasukannya untuk terjun ke dalamnya. Pada waktu itu sebagian menolak dan sebagian lagi hampir menerjunkan diri ke dalam api.” Sekiranya ayat ini turun sebelum peristiwa ‘Abdullah, mengapa ayat ini dikhususkan untuk menaati ‘Abdullah bin Hudzifah saja, sedang pada waktu lainnya tidak. Dan sekiranya ayat ini turun sesudahnya, maka berdasarkan hadits yang telah mereka ketahui, yang wajib ditaati itu ialah di dalam hal yang makruf (kebaikan). Jadi tidak pantas dikatakan kepada mereka, mengapa mereka tidak taat.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berpendapat bahwa maksud kisah ‘Abdullah bin Hudzaifah ini munasabah disangkut pautkan dengan alasan turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 59), karena dalam kisah tersebut disebutkan adanya batasan antara taat kepada perintah (pimpinan) dan menolak perintah untuk terjun ke dalam api. Pada saat itu mereka memerlukan petunjuk berkenaan dengan apa yang harus mereka lakukan. Ayat ini (an-Nisaa’: 59) turun memberikan petunjuk kepada mereka; apakah berbantahan hendaknya kembali kepada Allah dan Rasul-Nya.
Menurut Ibnu Jarir, ayat ini (an-Nisaa’: 59) turun berkenaan dengan ‘Ammaar bin Yasir yang melindungi seorang tawanan tanpa perintah panglimanya (Khalid bin Walid), sehingga merekapun berselisih.

60. “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya Telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut[312], padahal mereka Telah diperintah mengingkari thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.”
(an-Nisaa’: 60)

[312] yang selalu memusuhi nabi dan kaum muslimin dan ada yang mengatakan abu Barzah seorang tukang tenung di masa nabi. termasuk thaghut juga: 1. orang yang menetapkan hukum secara curang menurut hawa nafsu. 2. berhala-berhala.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan ath-Thabarani dengan sanad yang sahih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Abu Barzah al-Aslami, seorang pendeta Yahudi, biasa mengadili kaumnya dan menyelesaikan perselisihan di antara mereka. Pada suatu waktu datanglah kaum Muslimin minta bantuan penyelesaian (sengketa) kepadanya. Maka turunlah ayat tersebut di atas sebagai teguran, agar tidak meminta bantuan penyelesaian kepada taghut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari ‘Ikrimah atau Sa’id, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahw al-Jallas bin ash-Shamit, Mu’tim bin Qusyair, Rafi’ bin Zaid, dan Bisyr yang mengaku beragama Islam, diajak oleh orang Islam untuk meminta bantuan Rasulullah saw. dalam menyelsaikan malasalah di antara mereka. Namun mereka menolak, bahkan mereka mengajak kaum Muslimin untuk meminta bantuan pendeta-pendeta mereka (hakim-hakim jahiliyah). Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 60) sebagai larangan untuk minta diadili oleh hakim-hakim taghut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari asy-Syu’bi bahwa orang Yahudi berselisih dengan orang munafik. Yahudi itu mengusulkan untuk meminta bantuan Nabi dalam menyelesaikan perselisihan itu, karena ia tahu bahwa Nabi tidak akan makan risywah (sogokan). Akan tetapi si munafik tidak menyepakati hal itu. Akhirnya merekapun memutuskan untuk meminta bantuan seorang pendeta di Juhainah. Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 60) sebagai cercaan terhadap perbuatan munafik.

65. “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
(an-Nisaa’: 65)

Diriwayatkan oleh imam yang enam, yang bersumber dari ‘Abdullah bin Zubair bahwa Zubair pernah berselisih dengan seorang Anshar tentang pengairan kebun. Bersabdalah Rasulullah saw.: “Hai Zubair, airilah kebunmu dahulu, kemudian salurkan air ke kebun tetanggamu.” Berkatalah orang Anshar itu: “Ya Rasulallah. Karena ia anak bibimu?” Maka merah padamlah muka Rasulullah saw. karena marah dan bersabda: “Siramlah kebunmu, hai Zubair, hingga terendam pematangnya, kemudian berikan air itu kepada tetanggamu.” Zubair pun memanfaatkan air itu sepuas-puasnya sesuai dengan ketentuan yang diberikan Rasulullah kepada keduanya. Berkatalah Zubair: “Saya anggap ayat ini (an-Nisaa’: 65) diturunkan berkenaan dengan peristiwa tersebut.”

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani di dalam kitab al-Kabir dan al-Humaidi di dalam musnad-nya, yang bersumber dari Ummu Salamah, bahwa Zubair mengadu kepada Rasulullah saw. tengang pertengkarannya dengan seseorang. Rasulullah memutuskan bahwa Zubair yang menang. Maka berkatalah orang itu: “Ia memutuskan demikian karena Zubair kerabatnya, yaitu anak bibi Rasulullah.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 65) sebagai penegasan bahwa seseorang yang beriman hendaknya tunduk kepada keputusan Allah dan Rasul-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin al-Musayyab bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 65) berkenaan dengan az-Zubair bin al-‘Awwam yang bertengkar dengan Hathib bin Abi Balta’ah tentang air untuk mengairi kebun. Rasulullah saw. memutuskan agar kebun yang ada di hulu diairi lebih dahulu, kemudian yang hilirnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Marduwaih, yang bersumber dari Abul Aswad. Hadits ini mursal dan gharib, dan sanadnya terdapat seorang rawi bernama Ibnu Luhai’ah. Hadits ini dikuatkan oleh riwayat Rahim di dalam Tafsirnya, dari ‘Utbah bin Dlamrah yang bersumber dari bapaknya. Bahwa dua orang telah mengadukan kepada Rasulullah saw. untuk meminta diputuskan perkaranya. Setelah Rasulullah saw. menetapkan keputusannya, seorang diantaranya merasa tidak puas dan akan naik banding kepada ‘Umar bin al-Khaththab. Berangkatlah kedua orang itu kepada ‘Umar, dan berkata kepadanya: “Rasulullah saw. telah memenangkan saya terhadap orang ini, akan tetapi ia naik banding kepada tuan.” Maka ‘Umar berkata: “Apakah memang demikian? Tunggulah kalian berdua sampai aku datang untuk memutuskan hukuman di antara kalian.” Tiada berapa lama kemudian ‘Umar datang membawa pedang terhunus seraya memukul orang yang ingin naik banding kepadanya, lalu membunuhny. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 65) sebagai penegasan bahwa orang yang beriman hendaknya menaati putusan Allah dan Rasul-Nya.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (6)

1 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

51. “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? mereka percaya kepada jibt dan thaghut[309], dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.”
(an-Nisaa’: 51)

[309] Jibt dan thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain Allah s.w.t.

52. “Mereka Itulah orang yang dikutuki Allah. barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya.”
(an-Nisaa’: 52)

53. “Ataukah ada bagi mereka bahagian dari kerajaan (kekuasaan) ? kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikitpun (kebajikan) kepada manusia[310].”
(an-Nisaa’: 53)

[310] Maksudnya: orang-orang yang tidak dapat memberikan kebaikan kepada manusia atau masyarakatnya, tidak selayaknya ikut memegang jabatan dalam pemerintahan.

54. “Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia[311] yang Allah Telah berikan kepadanya? Sesungguhnya kami Telah memberikan Kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan kami Telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.”
(an-Nisaa’: 54)

[311] yaitu: kenabian, Al Quran, dan kemenangan.

Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika Ka’b bin al-Asyraf (orang Yahudi) datang ke Mekah, berkatalah orang Quraisy: “Tidakkah kamu lihat orang yang berpura-pura sabar dan terputus dari kaumnya, yang menganggap dirinya lebih baik daripada kami? Padahal kami ini penerima orang-orang yang naik haji, menjaga/ pelayan ka’bah, dan pemberi minum (orang-orang yang naik haji).” Berkatalah Ka’b bin al-Asyraf: “Kamu lebih baik daripada dia (Muhammad).” Maka turunlah ayat , inna syaani-aka huwal abtar (sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus) (al-Kautsar: 3) dan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 51-52) berkenaan dengan mereka, sebagai penjelasan tentang kedudukan mereka yang dilaknat Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa penggerak persekutuan kaum Quraisy, Ghatafan, dan Bani Quraizhah dalam perang Ahzab adalah Hayy bin Akhthab, Salman bin Abil Haqiq, Abu Rafi’, ar-Rabi’ bin Abil Haqiq, Abu Imarah, dan Haudah bin Qais, semuanya dari kaum Yahudi Banin Nadlir. Ketika ketemu dengan kaum Quraisy, mereka berkata: “Inilah pendeta-pendeta Yahudi dan ahli ilmu tentang kitab-kitab terdahulu. Cobalah kalian bertanya kepada mereka, apakah agama Quraisy yang paling baik ataukah agama Muhammad?” kemudian kaum Quraisy pun menanyakan kepada mereka (para pendeta Yahudi). Mereka menjawab: “Agama kalian lebih baik daripada agama Muhammad, dan kalian lebih mendapat petunjuk daripada Muhammad dan pengikutnya.” Maka turunlah ayat di atas (an-Nisaa’: 51-54) sebagai peringatan, makian, dan kutukan Allah kepada mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Hadits seperti ini (yang lebih panjang) diriwayatkan pula oleh Ibnu Sa’d yang bersumber dari ‘Umar (maula ‘Afrah). Bahwa ahli kitab pernah berkata: “Muhammad menganggap dirinya, dengan rendah diri, telah diberi (kenabian, al-Qur’an, dan kemenangan) sebagaimana yang telah diberikan (kepada nabi-nabi terdahulu). Dia mempunyai sembilan orang istri dan tidak ada yang dipentingkannya kecuali kawin. Raja mana yang lebih utama daripada seperti ini?” maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 54) sebagai cercaan atas keirihatian mereka.

58. “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.”
(an-Nisaa’: 58)

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa setelah Fathu Makkah (pembebasan Mekah), Rasulullah saw. memanggil ‘Utsman bin Thalhah untuk meminta kunci ka’bah. Setelah ‘Utsman datang menghadap Nabi untuk menyerahkan kunci itu, berdirilah al’Abbas serayat berkata: “Ya Rasulallah, demi Allah, serahkanlah kunci itu kepadaku. Saya akan rangkap jabatan tersebut dengan jabatan siqaayah (urusan pengairan).” ‘Utsman menarik kembali tangannya. Maka bersabdalah Rasulullah saw.: “Berikanlah kunci itu kepadaku wahai ‘Utsman.” ‘Utsman berkata: “Inilah dia, amanat dari Allah.” Maka berdirilah Rasulullah saw. membuka Ka’bah dan kemudian keluar untuk tawaf di Baitullah. Lalu turunlah Jibril membawa perinta supaya kunci itu diserahkan kembali kepada ‘Utsman. Rasulullah melaksanakan perintah itu sambil membaca ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 58)

Diriwayatkan oleh Syu’bah di dalam tafsir-nya, dari Hajjaj yang bersumber dari Ibnu Juraij bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 58) berkenaan dengan ‘Utsman bin Thalhah. Ketika itu Rasulullah saw. membuka kunci Ka’bah darinya pada waktu Fathu Makkah. Dengan kunci itu Rasulullah masuk Ka’bah. Tatkala keluar dari Ka’bah, beliau membaca ayat ini (an-Nisaa’: 58). Kemudian beliau memanggil ‘Utsman untuk menyerahkan kembali kunci itu. Menurut ‘Umar bin al-Kaththab, kenyataannya ayat ini (an-Nisaa’: 58) turun di dalam Ka’bah. Karena pada waktu itu Rasulullah keluar dari Ka’bah sambil membaca ayat tersebut. Dan ia (‘Umar) bersumpah bahwa sebelumnya ia belum pernah mendengar ayat tersebut.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (5)

31 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

44. “Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang Telah diberi bahagian dari Al Kitab (Taurat)? mereka membeli (memilih) kesesatan (dengan petunjuk) dan mereka bermaksud supaya kamu tersesat (menyimpang) dari jalan (yang benar).”
(an-Nisaa’: 44)

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa pada suatu ketika seorang tokoh Yahudi bernama Rifa’ah bin Zaid bin at-Tabut berkata kepada Rasulullah saw. sambil menjulurkan lidahnya: “Hai Muhammad. Perhatikanlah olehmu dan dengarkan agar aku dapat memberikan pengertian kepadamu.” Kemudian dia menghina dan mencela Islam dengan mempermainkan dan memperolok-olokkannya. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 44) berkenaan dengan dirinya, serta memberi peringatan kepada Rasulullah akan adanya orang-orang yang menyesatkan dari jalan yang lurus.

47. “Hai orang-orang yang Telah diberi Al kitab, berimanlah kamu kepada apa yang Telah kami turunkan (Al Quran) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum kami mengubah muka (mu), lalu kami putarkan ke belakang[306] atau kami kutuki mereka sebagaimana kami Telah mengutuki orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu[307]. dan ketetapan Allah pasti berlaku.”
(an-Nisaa’: 47)

[306] menurut kebanyakan mufassirin, maksudnya ialah mengubah muka mereka lalu diputar kebelakang sebagai penghinaan.
[307] lihat surat Al Baqarah ayat 65 dan surat Al A’raaf ayat 163.

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah saw. bersabda kepada pendeta-pendeta kaum Yahudi, di antaranya ‘Abdullah bin Shuriya dan Ka’b bin Usaid: “Hai kaum Yahudi. Berbaktilah kepada Allah, dan masuk Islamlah kalian. Demi Allah, sesungguhnya kalian pasti apa yang aku bawa ini adalah benar.” Mereka berkata: “Kami tidak tahu hal itu, hai Muhammad.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 47) sebagai seruan untuk beriman kepada kitab yang diturunkan oleh Allah, yang membenarkan apa yang tercantum dalam kitab mereka.

48. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia Telah berbuat dosa yang besar.”
(an-Nisaa’: 48)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan ath-Thabarani, yang bersumber dari Abu Ishaq all-Anshari bahwa seorang laki-laki menghadap Rasulullah saw. dan berkata: “Keponakan saya tidak mau meninggalkan perbuatan haram.” Nabi bersabda: “Apa agamanya?” Ia menjawab: “Ia suka shalat dan bertauhid kepada Allah.” Bersabdalah Nab: “Suruhlah dia meninggalkan agamanya, atau ‘belilah’ agamanya!” Orang tersebut melaksanakan perintah Rasul, tetapi keponakannya menolak tawarannya. Ia kembali kepada Nabi saw. seraya berkata: “Saya dapati dia sangat sayang pada agamanya.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 48) sebagai penjelasan bahwa Allah akan mengampuni segala dosa orang yang dikehendaki-Nya (kecuali syirik).

49. “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih?[308]. Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikitpun.”
(an-Nisaa’: 49)

[308] yang dimaksud di sini ialah orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menganggap diri mereka bersih. lihat surat Al Baqarah ayat 80 dan ayat 111 dan surat Al Maa-idah ayat 18.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah, Mujahid, Abu Malik, dan lain-lain bahwa orang-orang Yahudi mementingkan menyuruh anak-anaknya shalat dan mementingkan anak-anaknya berkurban. Mereka menganggap bahwa dengan perbuatannya itu bebaslah kesalahan dan dosanya. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 49) sebagai teguran kepada orang yang menganggap dirinya bersih dari dosa dengan jalan seperti itu.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (4)

31 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

34. “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[289] ketika suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah memelihara (mereka)[290]. wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya[291], Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya[292]. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.”
(an-Nisaa’: 34)

[288] lihat orang-orang yang termasuk ahli waris dalam surat An Nisaa’ ayat 11 dan 12.
[289] Maksudnya: tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya.
[290] Maksudnya: Allah Telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.
[291] Nusyuz: yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya.
[292] Maksudnya: untuk memberi peljaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. bila cara pertama Telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari al-Hasan bahwa seorang wanita mengadu kepada Nabi saw. karena telah ditampar oleh suaminya. Rasulullah saw. bersabda: “Dia mesti dikisas (dibalas).” Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 34) sebagai ketentuan dalam mendidik istri yang menyeleweng. Setelah mendengar penjelasan ayat tersebut, pulanglah ia serta tidak melaksanakan kisas.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari beberapa jalan, yang bersumber dari al-Hasan. Ibnu Jarir meriwayatkan pula hadits seperti ini yang bersumber dari Ibnu Juraij dan as-Suddi bahwa ada seorang istri yang mengadu kepada Rasulullah saw. karena ditampar oleh suaminya (orang Anshar) dan menuntut kisas (balas). Nabi saw. mengabulkan tuntutan itu. Maka turunlah ayat…walaa ta’jal bil qur-‘aani ming qabli ay yuqdlaa ilaika wahyuh….(…dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca al-Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu…) (an-Nisaa’: 34) sebagai ketentuan hak suami dalam mendidik istrinya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari ‘Ali bahwa seorang Anshar menghadap Rasulullah saw. bersama istrinya. Istrinya berkata: “Ya Rasulallah. Ia telah memukul saya hingga berbekas di mukaku.” Maka bersabdalah Rasulullah saw: “Ia tidak berhak berbuat demikian.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 34) sebagai ketentuan dalam mendidik istri.

37. “(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang Telah diberikan-Nya kepada mereka. dan kami Telah menyediakan untuk orang-orang kafir[296] siksa yang menghinakan.”
(an-Nisaa’: 37)

[296] maksudnya kafir terhadap nikmat Allah, ialah Karena kikir, menyuruh orang lain berbuat kikir. menyembunyikan karunia Allah berarti tidak mensyukuri nikmat Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa para ulama bani Israel itu bakhil dengan ilmu yang mereka miliki. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 37) sebagai peringatan terhadap perbuatan seperti itu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Ishaq, dari Muhammad bin Abi Muhammad, dari ‘Ikrimah atau Sa’id, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Kurdum bin Zaid, sekutu Ka’b bin al-Asyraf, Usamah bin Habib, Nafi’ bin Abi Nafi’, Bahri bin ‘Amr, Hayy bin Akhthab, dan Rifa’ah bin Zaid bin at-Tabut mendatangi orang-orang Anshar dan menasehatinya dengan berkata: “Janganlah kamu membelanjakan hartamu, kami takut kalau-kalau kamu jadi fakir dengan hilangnya harta itu; dan janganlah kamu terburu-buru menginfakkan, karena kamu tidak tahu apa yang akan terjadi.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 37) sebagai laranggan menjadi orang kikir dan larangan menganjurkan orang lain menjadi orang kikir.

43. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub[301], terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu Telah menyentuh perempuan, Kemudian kamu tidak mendapat air, Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.”
(an-Nisaa’: 43)

[301] menurut sebahagian ahli tafsir dalam ayat Ini termuat juga larangan untuk bersembahyang bagi orang junub yang belum mandi.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa-i, dan al-Hakim, yang bersumber dari ‘Ali bahwa ‘Abdurrahman bin ‘Auf mengundang makan ‘Ali dan kawan-kawannya. Kemudian dihidangkan minuman khamr (arak/ minuman keras), sehingga terganggulah otak mereka. Ketika tiba waktu shalat, orang-orang menyuruh ‘Ali menjadi imam, dan waktu itu beliau membaca dengan keliru, qul yaa ayyuhal kaafiruun, laa a’budu maa ta’buduun; wa nahnu na’budu maa ta’buduun (katakanlah: wahai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kami akan menyembah apa yang kamu sembah”). Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 43) sebagai larangan shalat dalam keadaan mabuk.

Diriwayatkan oleh al-Faryabi, Ibnu Abi Hatim, dan Ibnul Mudzir, yang bersumber dari ‘Ali bahwa turunnya ayat,…wa laa junuban illaa ‘aabirii sabiilin hattaa taghtasiluu…(…[jangan pula hampiri mesjid] sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi…) (an-Nisaa’: 43) berkenaan dengan seorang yang junub (berhadats besar) di dalam perjalanan, lalu ia bertayamum terus shalat. Ayat ini (an-Nisaa’: 43) sebagai petunjuk bagi orang yang berhadats dalam perjalanan ketika tidak ada air.

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Al-Asla bin Syarik, bahwa al-Asla bin Syarik dalam keadaan junub di perjalanan bersama Rasulullah saw.. Pada waktu itu malam sangat dingin. Al Asla tidak berani mandi dengan air dingin, takut kalau-kalau mati atau sakit. Hal itu disampaikannya kepada Rasulullah saw.. Lalu turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 43) sebagai tuntunan bagi orang-orang yang takut kena bahaya kedinginan kalau ia mandi.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani yang bersumber dari al-Asla’ bahwa pada suatu hari dalam perjalanan, Rasulullah saw. memerintahkan al-Asla’, khadam dan pembantunya untuk menyiapkan kendaraannya. Al-Asla’ berkata: “Wahai Rasulallah, aku sedang junub.” Rasulullah saw. terdiam hingga datang kepadanya Jibril membawa ayat tentang tayamum. Beliau memperlihatkan cara bertayamum kepadanya: menyapu muka sekali dan menyapu kedua tangannya sampai sikut sekali. Maka al-Asla’ pun bertayamum, kemudian mempersiapkan kendaraan untuk Rasulullah saw.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Yazid bin Abi Habib bahwa pintu rumah sebagian golongan Anshar ada yang melalui masjid. Ketika mereka junub dan tidak mempunyai air, mereka tidak bisa mendapatkan air kecuali melalui masjid. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 43) yang membolehkan orang junub melewati masjid.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Mujahid bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 43) berkenaan dengan seorang Anshar yang sakit dan tidak kuat berdiri untuk wudlu. Dia tidak mempunyai khadam (pelayan) yang menolongnya. Hal ini diterangkan kepada Rasulullah saw.. Turunnya ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 43) sebagai tuntunan bertayamum bagi orang yang sakit dan tidak mampu berwudlu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibrahim an-Nakha’i bahwa beberapa shahabat Rasul mendapat luka yang parah sampai infeksi, dan diuji Allah dengan junub (karena mimpi). Mereka mengadu kepada Rasulullah saw.. Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 43) sebagai kelonggaran bertayamum bagi orang yang sakit parah dan junub.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (3)

30 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

24. “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki[282] (Allah Telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian[283] (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang Telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah Mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu Telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu[284]. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(an-Nisaa’: 24)

[282] Maksudnya: budak-budak yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan bersama-samanya.
[283] ialah: selain dari macam-macam wanita yang tersebut dalam surat An Nisaa’ ayat 23 dan 24.
[284] ialah: menambah, mengurangi atau tidak membayar sama sekali maskawin yang Telah ditetapkan.

Diriwayatkan ole hath-Thabarani yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ayat ini (an-Nisaa’: 24) turun pada waktu perang Hunain, tatkala Allah memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin. Kaum Muslimin mendapat tawanan beberapa wanita ahli kitab. Ketika akan dicampuri, mereka menolak dengan alasan bersuami. Lalu kaum Muslimin bertanya tentang hal itu kepada Rasulullah saw.. Rasulullah saw. menjawab berdasarkan ayat tersebut di atas. (an-Nisaa’: 24)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ma’mar bin Sulaiman, yang bersumber dari bapaknya bahwa orang Hadlrami membebani kaum laki-laki dalam mebayar mahar (maskawin) dengan harapan dapat memberatkannya (sehingga tidak dapat membayar pada waktunya untuk mendapatkan tambahan pembayaran). Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 24) sebagai ketentuan pembayaran maskawin atas keridhaan kedua belah pihak.

32. “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”
(an-Nisaa’: 32)

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim, yang bersumber dari Ummu Salamah bahwa Ummu Salamah berkata: “Kaum laki-laki berperang, sedang wanita tidak, dan kamipun (kaum wanita) hanya mendapat setengah bagian warisan laki-laki.” Maka Allah menurunkan ayat ini (an-Nisaa’: 32) sebagai teguran agar tidak iri hati atas ketetapan Allah. Berkenaan dengan hal itu pula, turun surah al-Ahzab ayat 35, sebagai penjelasan bahwa Allah tidak membeda-bedakan antara kaum Muslimin dan Muslimat dalam mendapat ampunan dan pahala.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa seorang wanita mengadu kepada Rasulullah saw. dengan berkata: “Ya Nabiyallah, laki-laki mendapatkan dua bagian kaum wanita dalam waris, dan dua orang saksi wanita sama dengan satu saksi laki-laki. Apakah di dalam beramalpun demikian juga? (yaitu, pahala amal wanita setengah dari pahala amal laki-laki)?” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 32) sebagai penegasan bahwa laki-laki dan wanita akan mendapat pahala yang sama sesuai dengan amalnya.

33. “Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, kami jadikan pewaris-pewarisnya[288]. dan (jika ada) orang-orang yang kamu Telah bersumpah setia dengan mereka, Maka berilah kepada mereka bahagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.”
(an-Nisaa’: 33)

Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam sunan-nya, dari Ibnu Ishaq, yang bersumber dari Dawud bin al-Husain bahwa Dawud bin al-Hushain membacakan ayat… wal ladziina ‘aaqadat aimaanukum…(…dan [jika ada] orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian dengan sumpah kamu….) kepada Ummu Sa’d binti ar-Rabi’ yang tinggal di rumah Abu Bakr. Akan tetapi Ummu Sa’d berkata: “Salah, bukan demikian. Hendaklah kamu membaca… wal ladziina ‘aqadat aimaanukum..(.. dan [jika ada] orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka…). Karena ayat ini (an-Nisaa’: 33) turun berkenaan dengan peristiwa Abu Bakr yang bersumpah tidak akan member waris kepada anaknya yang tidak masuk Islam. Dan setelah anak itu masuk Islam, diperintahkan untuk diberi warisan sesuai dengan ayat tersebut.”

Sumber : asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (2)

30 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

19. “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa[278] dan janganlah kamu menyusahkan mereka Karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang Telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata[279]. dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”
(an-Nisaa’: 19)

[278] ayat Ini tidak menunjukkan bahwa mewariskan wanita tidak dengan jalan paksa dibolehkan. menurut adat sebahagian Arab Jahiliyah apabila seorang meninggal dunia, Maka anaknya yang tertua atau anggota keluarganya yang lain mewarisi janda itu. janda tersebut boleh dikawini sendiri atau dikawinkan dengan orang lain yang maharnya diambil oleh pewaris atau tidak dibolehkan kawin lagi.
[279] Maksudnya: berzina atau membangkang perintah.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Abu Dawud,dan an-Nasaa-I, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa di zaman jahiliyah apabila seorang laki-laki meninggal, maka wali si mati lebih berhak atas istri yang ditinggalkannya. Sekiranya si wali ingin mengawininya atau mengawinkan kepada orang lain, ia lebih berhak daripada keluarga wanita itu. Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 19) sebagai penegasan tentang kedudukan wanita yang ditinggal suaminya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dengan sanad yang hasan, yang bersumber dari Abu Umamah bin Sahl bin Hanif. Hadits ini diperkuat oleh riwayat Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah. Bahwa ketika Abu Qais bin al-Aslat meninggal, anaknya ingin mengawini istri ayahnya (ibu tiri). Perkawinan seperti ini adalah kebiasaan di zaman jahiliyah. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 19), yang melarang menjadikan wanita sebagai harta waris.

22. “Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang Telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang Telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).”
(an-Nisaa’: 22)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, al-Faryabi, dan ath-Thabarani, yang bersumber dari ‘Adi bin Tsabit , dari seorang Anshar. Bahwa Abu Qais bin al-Aslat, seorang Anshar yang shaleh meninggal dunia. Anaknya melamar istri Abu Qais (ibu tiri). Wanita itu berkata: “Saya menganggap engkau sebagai anakku, dan engkau termasuk dari kaummu yang shaleh.” Maka menghadaplah wanita itu kepada Rasulullah saw. untuk menerangkan halnya. Nabi saw. bersabda: “Pulanglah engkau ke rumahmu.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 22) sebagai larangan mengawini bekas istri bapaknya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d yang bersumber dari Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi, bahwa di zaman jahiliyah, anak laki-laki yang ditinggal mati bapaknya lebih berhak dari diri ibu tirinya: apakah akan mengawininya atau mengawinkannya kepada orang lain, tergantung kehendaknya. Ketika Abu Qais bin al-Aslat meninggal, Muhsin bin Qais (anaknya) mewarisi istri ayahnya, dan tidak memberikan suatu waris apapun pada wanita itu. Menghadaplah wanita itu kepada Rasulullah saw. menerangkan halnya. Maka bersabdalah Rasulullah: “Pulanglah, mudah-mudahan Allah akan menurunkan ayat mengenai halmu.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 19 dan 22) sebagai ketentuan waris bagi istri dan larangan mengawini ibu tiri.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d yang bersumber dari az-Zuhri bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 19 dan 22) berkenaan dengan sebagian besar kaum Anshar, yang apabila seseorang meninggal, maka istri yang bersangkutan menjadi milik wali si mati, dan menguasainya sampai meninggal.

23. “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan[281]; saudara-saudaramu yang perempuan, Saudara-saudara bapakmu yang perempuan; Saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang Telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang Telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(an-Nisaa’: 23)

[281] maksud ibu di sini ialah ibu, nenek dan seterusnya ke atas. dan yang dimaksud dengan anak perempuan ialah anak perempuan, cucu perempuan dan seterusnya ke bawah, demikian juga yang lain-lainnya. sedang yang dimaksud dengan anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu, menurut Jumhur ulama termasuk juga anak tiri yang tidak dalam pemeliharaannya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Juraij bahwa Ibnu Juraij pernah bertanya kepada ‘Atha’ tentang,…. Wa halaa-ilu abnaa-ikumul ladziina min ashlaabikum…(…[dan diharamkan bagimu] istri-istri anak kandungmu [menantu[…) (an-Nisaa’: 23). ‘Atha’ menjawab: “Kami pernah memperbincangkan bahwa ayat itu turun mengenai pernikahan Nabi saw. dengan bekas istri Zaid bin Haritsah (anak angkat Nabi saw.)”. Kaum musyrikin mempergunjingkannya, sehingga turun ayat tersebut (an-Nisaa’: 23) dan (al-Ahzab: 4 dan 40), sebagai penegasan dibenarkannya perkawinan dengan bekas istri anak angkat.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (1)

30 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

4. “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan[1]. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.”
(an-Nisaa’: 4)

[1] pemberian itu ialah maskawin yang besar kecilnya ditetapkan atas persetujuan kedua pihak, Karena pemberian itu harus dilakukan dengan ikhlas.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abu Shalih bahwa biasanya kaum bapak menerima dan menggunakan maskawin tanpa seizin putrinya. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 4) sebagai larangan terhadap perbuatan itu.

7. “Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang Telah ditetapkan.”
(an-Nisaa’: 7)

Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh dan Ibnu Hibban di dalam Kitab al-Faraaidl (ilmu waris), dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kebiasaan kaum jahiliyah tidak meberikan harta waris kepada anak wanita dan anak laki-laki yang belum dewasa. Ketika seorang Anshar bernam Aus bin Tsabit wafat dan meninggalkan dua orang putri serta seorang anak laki-laki yang masih kecil, datanglah dua orang pamannya, yaitu Khalid dan ‘Arfathah, yang menjadi asabat*. Mereka mengambil semua harta peninggalannya. Maka datanglah istri Aus bin Tsabit kepada Rasulullah saw. untuk menerangkan kejadian itu. Rasulullah bersabda: “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan.” Maka turunlah ayat tersebut (an-Nisaa’: 7) sebagai penjelasan tentang hukum waris dalam Islam.

Asabat adalah ahli waris yang hanya mendapat sisa warisan setelah dibagikan kepada ahli waris yang mendapat bagian tertentu (kamus besar bahasa Indonesia, 1989, Jakarta, hal 50)

11. “Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan[272]; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua[273], Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(an-Nisaa’: 11)

12. “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. jika Isteri-isterimu itu mempunyai anak, Maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. jika kamu mempunyai anak, Maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), Maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. tetapi jika Saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris)[274]. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari’at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.”
(an-Nisaa’: 12)

[272] bagian laki-laki dua kali bagian perempuan adalah Karena kewajiban laki-laki lebih berat dari perempuan, seperti kewajiban membayar maskawin dan memberi nafkah. (lihat surat An Nisaa ayat 34).
[273] lebih dari dua maksudnya : dua atau lebih sesuai dengan yang diamalkan nabi.
[274] memberi mudharat kepada waris itu ialah tindakan-tindakan seperti: a. mewasiatkan lebih dari sepertiga harta pusaka. b. berwasiat dengan maksud mengurangi harta warisan. sekalipun kurang dari sepertiga bila ada niat mengurangi hak waris, juga tidak diperbolehkan.

Diriwayatkan oleh Imam yang enam, yang bersumber dari Jabir bin ‘Abdillah bahwa Rasulullah saw. disertai Abu Bakr berjalan kaki menengok Jabir bin ‘Abdillah sewaktu sakit keras di kampung bani Salamah. Ketika didapatkannya tidak sadarkan diri, beliau minta air untuk berwudlu dan memercikan air padanya, sehingga sadar. Lalu berkata Jabir: “Apa yang tuan perintahkan kepadaku tentang harta bendaku?” maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 11-12) sebagai pedoman pembagian harta waris.

Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan al-Hakim, yang bersumber dari Jabir, bahwa istri Sa’d bin ar-Rabi’ menghadap Rasulullah saw. dan berkata: “Ya Rasulallah. Kedua putri ini anak Sa’d bin ar-Rabi’ yang menyertai tuan dalam perang Uhud dan ia telah gugur sebagai syahid. Paman kedua anak ini mengambil harta bendanya, dan tidak meninggalkan sedikitpun, sedang kedua anak ini sukar mendapatkan jodoh kalau tidak berharta.” Rasulullah saw. bersabda: “Allah akan memutuskan persoalan tersebut.” Maka turunlah ayat hukum pembagian waris seperti tersebut di atas. (an-Nisaa’: 11-12)

Keterangan: menurut al-Hafidz Ibnu Hajar, berdasarkan hadits tentang kedua putri Sa’d bin ar-Rabi’, ayat ini (an-Nisaa’: 11-12) turun berkenaan dengan kedua putri itu dan tidak berkenaan dengan Jabir, karena Jabir waktu itu belum mempunyai anak. Selanjutnya ia menerangkan bahwa ayat ini (an-Nisaa’: 11-12) turun berkenaan dengan keduanya. Mungkin ayat 11 pertama berkenaan dengan kedua putri Sa’d dan bagian akhir ayat itu, yaitu (an-Nisaa’: 12) berkenaan dengan kisah Jabir. Adapun maksud Jabir dengan kata-katanya, “turun ayat 11”, ingin menyebutkan hal penetapan hukum waris bagi kalaalah (orang yang tidak meninggalkan anak dan ayah), yang terdapat pada ayat selanjutnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Suddi bahwa orang Jahiliyah tidak meberikan harta waris kepada wanita dan anak laki-laki yang belum dewasa atau yang belum mampu berperang. Ketika ‘Abdurrahman (saudara Hassan bin Tsabit, ahli syair yang masyur) wafat, ia meninggalkan seorang istri bernama Ummu Kuhhah dan lima orang putri. Maka datanglah keluarga suaminya mengambil harta bendanya. Berkatalah Ummu Kuhhah kepada Nabi saw. mengadukan halnya. Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 11) yang menegaskan hak waris bagi anak-anak wanita dan ayat (an-Nisaa’: 12) yang menegaskan hak waris bagi istri.

Diriwayatkan oleh al-Qadli Isma’il di dalam kitab Ahkaamul Qr’aan, yang bersumber dari ‘Abdulmalik bin Muhammad bin Hazm bahwa peristiwa Sa’d bin ar-Rabi’ berkaitan dengan turunnya surah an-Nisaa’ ayat 127. ‘Amrah binti Hazm –yang ditinggal gugur oleh suaminya (Sa’d bin ar-Rabi’, sebagai syahid di perang Uhud,- menghadap Nabi saw. dengan membawa putrinya (dari Sa’d bin ar-Rabi’) menuntut hak waris. Surah an-Nisaa’ ayat 127 tersebut menegaskan kedudukan dan hak wanita dalam hukum waris.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 79 pengikut lainnya.