Tag Archives: Asbabun nuzul

Asbabunnuzul Surah An-Nashr

10 Sep

Asbabun Nuzul Surah Al-Qur’an

1. apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,
2. dan kamu Lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
3. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.
(surat an-Nashr: 1-3)

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrozzaq did lam kitab al-Mushannaf, dari Ma’mar yang bersumber dari az-Zuhri, bahwa ketika Rasulullah saw memasuki kota Makah saat Fathu Makkah, Khalid bin Walid diperintahkan untuk memasuki Makah dari jurusan dataran rendah untuk menggempur pasukan Quraisy (yang menyerangnya) serta merampas senjatanya setelah memperoleh kemenangan. Maka berbondong-bondonglah kaum Quraisy masuk Islam. Surat ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai perintah untuk memuji syukur dengan memahasucika Allah atas kemenangan yang telah diraih dan meminta ampunan atas segala kesalahan yang telah dilakukan.

Sumber: Asbabunnuzul, KHQ. Shaleh dk

Asbabun Nuzul Surah Al-Muzzammil

10 Sep

Asbabun Nuzul Surah Al-Qur’an

1. Hai orang yang berselimut (Muhammad),
2. bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari*, kecuali sedikit (daripadanya),
3. (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit.
4. atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.
(Al-Muzammil: 1-4)

* Sholat malam ini mula-mula wajib, sebelum turun ayat ke 20 dalam surat ini. setelah turunnya ayat ke 20 ini hukumnya menjadi sunat.

20. Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, Maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai Balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. dan mohonlah ampunan kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Muzammil: 20)

Diriwayatkan oleh al-Bazzar dan ath-Thabarani dengan sanad yang lemah, yang bersumber dari Jabir bahwa ketika kaum Quraisy berkumpul di gedung Darun Nadwah, mereka berkata satu sama lainnya: “Mari kita carikan bagi Muhammad nama yang tepat dan cepat dikenal orang.” Mereka berkata: Kaahin (dukun). Yang lainnya menjawab: “Dia bukan dukun.” Yang lainnya berkata lagi: “Majnuun (orang gila).” Yang lainnya menjawab: “Dia bukan orang gila.” Mereka berkata lagi: “Saahir (tukang sihir)”. Yang lainnya menjawab: “Dia bukan tukang sihir.” Kejadian ini sampai kepada Nabi saw sehingga beliaupun menahan diri dengan berselimut dan berkerudung. Maka datanglah malaikat Jibril menyampaikan wahyu, yaa ayyuhal muzzammil (hai orang yang berselimut [Muhammad] (Al-Muzammil: 1)
dan yaa ayyuhal muddatstsir (hai orang yang berkemul [berselimut]) (al-Muddatstsir: 1)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ayat ini (Al-Muzammil: 1) turun saat Nabi saw sedang berselimut dengan selimut beludru.(diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibrahim an-Nakho’i

Diriwayatkan oleh al-Hakim yang bersumber dari ‘Aisyah. Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas dllbahwa setelah turun ayat ini (Al-Muzammil: 1-4), yang memerintahkan agar kaum Muslimin bangun untuk melaksanakan shalat selama kurang lebih setengah malam pada tiap-tiap malam, para sahabat melaksanakannya dengan tekun. Kejadian ini berlangsung selama setahun sehingga menyebabkan kaki mereka bengkak-bengkak. Maka turunlah ayat berikutnya (Al-Muzammil: 20) yang memberikan keringanan untuk bangun malam dan mempersingkat bacaan.

Asbabun Nuzul Surah Al-Qur’an

22 Agu

Asbabun Nuzul Surah Al-Qur’an 1 2 3 4 5 6

1. Asbabun Nuzul Surah Al-Fatihah
2. Asbabun Nuzul Surah Al-Baqarah 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24
3. Asbabun Nuzul Surah Ali ‘Imraan 1 2 3 4 5 6 7 8 9
4. Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
5. Asbabun Nuzul Surah Al-Maa-idah 1 2 3 4 5
6. Asbabun Nuzul Surah Al-An’am 1 2 3 4 5
7. Asbabun Nuzul Surah Al-A’raaf
8. Asbabun Nuzul Surah Al-Anfaal 1 2 3 4 5 6
9. Asbabun Nuzul Surah At-Taubah 1 2 3 4 5 6 7 8
10. Asbabun Nuzul Surah Yunus
11. Asbabun Nuzul Surah Huud
12. Asbabun Nuzul Surah Yusuf
13. Asbabun Nuzul Surah Ar-Ra’d
14. Asbabun Nuzul Surah Ibrahim
15. Asbabun Nuzul Surah Al-Hijr
16. Asbabun Nuzul Surah An-Nahl 1 2 3
17. Asbabun Nuzul Surah Al-Israa’ 1 2 3 4 5
18. Asbabun Nuzul Surah Al-Kahfi 1 2
19. Asbabun Nuzul Surah Maryam
20. Asbabun Nuzul Surah Thaahaa
21. Asbabun Nuzul Surah Al-Anbiyaa’
22. Asbabun Nuzul Surah Al-Hajj1 2 3
23. Asbabun Nuzul Surah Al-Mu’minuun
24. Asbabun Nuzul Surah An-Nuur 1 2 3 4 5 6
25. Asbabun Nuzul Surah Al-Furqaan
26. Asbabun Nuzul Surah Asy-Syu’araa’
27. Asbabun Nuzul Surah An-Naml
28. Asbabun Nuzul Surah Al-Qashash
29. Asbabun Nuzul Surah Al-‘Ankabuut
30. Asbabun Nuzul Surah Ar-Ruum
31. Asbabun Nuzul Surah Luqman
32. Asbabun Nuzul Surah As-Sajdah
33. Asbabun Nuzul Surah Al-Ahzab 1 2 3 4 5 6 7
34. Asbabun Nuzul Surah Saba’
35. Asbabun Nuzul Surah Faathir
36. Asbabun Nuzul Surah Yaasiin
37. Asbabun Nuzul Surah Ash-Shaaffaat
38. Asbabun Nuzul Surah Shaad
39. Asbabun Nuzul Surah Az-Zumar
40. Asbabun Nuzul Surah Al-Mu’min
41. Asbabun Nuzul Surah Fushshilat
42. Asbabun Nuzul Surah Asy-Syuura
43. Asbabun Nuzul Surah Az-Zukhruf
44. Asbabun Nuzul Surah Ad-Dukhan
45. Asbabun Nuzul Surah Al-Jaatsiyah
46. Asbabun Nuzul Surah Al-Ahqaaf
47. Asbabun Nuzul Surah Muhammad
48. Asbabun Nuzul Surah Al-Fath
49. Asbabun Nuzul Surah Al-Hujuraat
50. Asbabun Nuzul Surah Qaaf
51. Asbabun Nuzul Surah Adz-Dzaariyaat
52. Asbabun Nuzul Surah Ath-Thuur
53. Asbabun Nuzul Surah An-Najm
54. Asbabun Nuzul Surah Al-Qamar
55. Asbabun Nuzul Surah Ar-Rahmaan
56. Asbabun Nuzul Surah Al-Waaqi’ah
57. Asbabun Nuzul Surah Al-Hadid
58. Asbabun Nuzul Surah Al-Mujaadilah
59. Asbabun Nuzul Surah Al-Hasyr
60. Asbabun Nuzul Surah Al-Mumtahanah
61. Asbabun Nuzul Surah Ash-Shaff
62. Asbabun Nuzul Surah Al-Jumu’ah
63. Asbabun Nuzul Surah Al-Munaafiquun
64. Asbabun Nuzul Surah At-Taghaabun
65. Asbabun Nuzul Surah Ath-Thaalaq
66. Asbabun Nuzul Surah At-Tahrim
67. Asbabun Nuzul Surah Al-Mulk
68. Asbabun Nuzul Surah Al-Qalam
69. Asbabun Nuzul Surah Al-Haaqqah
70. Asbabun Nuzul Surah Al-Ma’aarij
71. Asbabun Nuzul Surah Nuh
72. Asbabun Nuzul Surah Al-Jin
73. Asbabun Nuzul Surah Al-Muzzammil
74. Asbabun Nuzul Surah Al-Muddatstsir
75. Asbabun Nuzul Surah Al-Qiyaamah
76. Asbabun Nuzul Surah Al-Insaan
77. Asbabun Nuzul Surah Al-Mursalaat
78. Asbabun Nuzul Surah An-Naba’
79. Asbabun Nuzul Surah An-Naazi’aat
80. Asbabun Nuzul Surah ‘Abasa
81. Asbabun Nuzul Surah At-Takwiir
82. Asbabun Nuzul Surah Al-Infithaar
83. Asbabun Nuzul Surah Al-Muthaffifiin
84. Asbabun Nuzul Surah Al-Insyiqaaq
85. Asbabun Nuzul Surah Al-Buruuj
86. Asbabun Nuzul Surah Ath-Thaariq
87. Asbabun Nuzul Surah Al-A’laa
88. Asbabun Nuzul Surah Al-Ghaasyiyah
89. Asbabun Nuzul Surah Surah Al-Fajr
90. Asbabun Nuzul Surah Al-Balad
91. Asbabun Nuzul Surah Asy-Syams
92. Asbabun Nuzul Surah Al-Lail
93. Asbabun Nuzul Surah Adl-Dluhaa
94. Asbabun Nuzul Surah Al-Insyirah
95. Asbabun Nuzul Surah At-Tiin
96. Asbabun Nuzul Surah Al-‘Alaq
97. Asbabun Nuzul Surah Al-Qadr
98. Asbabun Nuzul Surah Al-Bayyinah
99. Asbabun Nuzul Surah Al-Zalzalah
100. Asbabun Nuzul Surah Al’Aadiyaat
101. Asbabun Nuzul Surah Al-Qaari’ah
102. Asbabun Nuzul Surah At-Takaatsur
103. Asbabun Nuzul Surah Al-‘Ashr
104. Asbabun Nuzul Surah Al-Humazah
105. Asbabun Nuzul Surah Al-Fiil
106. Asbabun Nuzul Surah Quraisy
107. Asbabun Nuzul Surah Al-Maa’uun
108. Asbabun Nuzul Surah Al-Kautsar
109. Asbabun Nuzul Surah Al-Kaafiruun
110. Asbabun Nuzul Surah An-Nashr
111. Asbabun Nuzul Surah Al-Lahab
112. Asbabun Nuzul Surah Al-Ikhlash
113. Asbabun Nuzul Surah Al-Falaq
114. Asbabun Nuzul Surah An-Naas

Berteman dengan Orang Shalih (2)

26 Apr

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits-hadits

Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Seseorang mendatangi Rasulullah saw. dan bertanya: “Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang mencintai suatu kaum, tetapi ia belum pernah bertemu dengan mereka?” Rasulullah saw. menjawab: “Seseorang itu akan bersama-sama dengan orang yang dicintainya [kelak di akhirat].” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Manusia itu berbeda-beda dalam watak dan baik dan buruknya, bagaikan tambang emas dan perak. Orang yang paling baik pada masa jahiliyah adalah orang yang terbaik pula di masa Islam, apabila mereka memahami syariat. Roh itu berkelompok-kelompok dan berpisah-pisah. Roh yang saling mengenal itu berkumpul dan yang tidak saling mengenal berpisah.” (HR Muslim)

Dari Usair bin ‘Amr (Ibnu Jabir), ia berkata: Tatkala Umar bin al-Khaththab ra. kedatangan serombongan penduduk Yaman, ia bertanya: ‘Apakah ada di antara kalian yang bernama Uwais bin ‘Amr?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Umar bertanya lagi: ‘Apakah kamu dari Murad dan Qaran?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Umar bertanya: ‘Apakah kamu dulu pernah mengalami sakit belang kemudian sembuh kecuali tinggal sebesar dirham?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Umar kembali bertanya: ‘Apakah engkau masih memiliki ibu?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Umar menjelaskan: ‘Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: Nanti kamu akan kedatangan seseorang yang bernama Uwais bin ‘Amr bersama serombongan penduduk Yaman. Ciri-cirinya, ia dari Murad dan Qaran, pernah berpenyakit belang dan sembuh, kecuali sebesar dirham. Ia mempunyai ibu dan sangat berbakti kepadanya. Seandainya ia berbuat baik kepada Allah, pasti Allah akan berbuat baik kepadanya. Mintalah agar ia memohonkan ampun buat dirimu. Oleh karena itu, mohonkanlah ampun buat diriku.’ Kemudian dia memohonkan ampun untuk Umar. Setelah itu Umar bertanya: ‘Engkau akan kemana lagi?’ Ia menjawab: ‘Ke Kufah.’ Umar menawarkan: ‘Bolehkah aku menulis surat kepada ‘Amil (bendaharawan) di Kufah untuk membantu kamu?’ Ia menjawab: ‘Saya lebih senang menjadi orang biasa.’
Pada tahun berikutnya, ada seorang terkemuka dari penduduk Yaman mengerjakan ibadah haji dan berjumpa dengan Umar. Kemudian Umar menanyakan kepadanya tentang Uwais. Orang itu menjawab: “Saya meninggalkan dia dalam keadaan menyedihkan, rumahnya sangat kecil dan tergolong miskin.” Umar berkata: “Sesungguhnya saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: Nanti kamu akan kedatangan seseorang yang bernama Uwais bin ‘Amr bersama serombongan penduduk Yaman. Ciri-cirinya, ia dari Murad dan Qaran, pernah berpenyakit belang dan sembuh, kecuali sebesar dirham. Ia mempunyai ibu dan sangat berbakti kepadanya. Seandainya ia berbuat baik kepada Allah, pasti Allah akan berbuat baik kepadanya. Mintalah agar ia memohonkan ampun buat dirimu.
Setelah pulang orang itu menemui Uwais dan berkata: “Mohonkan ampun buat diriku.” Uwais menjawab: “Sebenarnya engkaulah yang mendoakan saya, karena baru pulang dari bepergian yang baik. Maka mohonkan ampun buat diriku.” Orang itu bertanya: “Kamu pernah bertemu Umar?” Uwais menjawab: “Ya.” Kemudian Uwais menyadari dan memohonkan ampun buat orang itu. Sesudah itu orang-orang mengenalnya dan berbondong-bondong meminta agar dia memohonkan ampun untuk mereka. Melihat hal demikian Uwais pergi untuk menyendiri.” (HR Muslim)

Dalam riwayat Muslim yang lain, dari Usair bin Jabir ra. ia berkata: penduduk Kufah mengutus suatu rombongan untuk menghadap Umar ra. di antara mereka ada yang mengejek Uwais, kemudian Umar bertanya: “Apakah di sini ada seseorang yang berasal dari Qaran?” Maka Uwais mendekatinya, dan Umar berkata: “Rasulullah saw. bersabda: Nanti kamu kedatangan seseorang dari Yaman bernama Uwais, dia tidak meninggalkan apa-apa di Yaman selain ibu yang ditaatinya. Dia berpenyakit belang, setelah berdoa, Allah menyembuhkannya kecuali sebesar dinar atau dirham. Siapa saja di antara kamu bertemu dengannya, mintalah agar dia memohonkan ampun buat kalian.”
Pada riwayat lain, dari Umar ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya sebaik-baik tabi’in adalah seseorang yang bernama Uwais, dia mempunyai ibu dan pernah berpenyakit belang, mintalah kalian kepadanya agar memohonkan ampun buat kamu.”

Dari Umar bin al-Khaththab ra. ia berkata: Saya minta izin kepada Nabi saw. untuk mengerjakan umrah. Beliau mengizinkanku, seraya bersabda: “Wahai saudaraku, janganlah engkau lupakan kami dari doamu.” Umar berkata: “Itu adalah suatu ungkapan yang sangat menggembirakan saya, dan ungkapan itu lebih berharga daripada dunia.”
Dalam riwayat lain, Nabi saw. bersabda: “Wahai saudaraku, sertakan kami dalam doamu.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: “Nabi saw. sering berziarah ke Kuba’ baik naik kendaraan maupun berjalan. Di sana beliau shalat dua rakaat.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain dikatakan: “Setiap hari Sabtu Nabi saw. datang ke masjid Kuba’, baik berkendaraan maupun berjalan. Ibnu Umar juga mencontohnya.”

Sekian.

Ilmu-ilmu Al-Qur’an (2)

18 Mar

Pengertian, Pertumbuhan dan Perkembangannya

Pada abad kedua Hijri tiba masa pembukuan [tadwin] yang dimulai dengan pembukuan hadits dengan segala bab-nya yang bermacam-macam; dan itu juga menyangkut hal yang berhubungan dengan tafsir. Maka sebagian ulama membukukan tafsir Qur’an yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. dari para shahabat atau dari para tabi’in.

Di antara mereka itu, yang terkenal adalah Yazin bin Harun as Sulami [wafat 117 H], Syu’bah bin Hajjaj [wafat 160], Waki’ bin Jarrah [wafat 197], Sufyan bin ‘Uyainah [wafat 198] dan ‘Abdurrazzaq bin Hammam [wafat 112]. Mereka semua adalah para ahli hadits. Sedang tafsir yang mereka susun merupakan salah satu bagiannya. Namun tafsir mereka yang tertulis tidak ada yang sampai ke tangan kita.

Kemudian langkah mereka diikuti oleh segolongan ulama. Mereka menyusun tafsir Qur’an yang lebih sempurna berdasarkan susunan ayat. Dan yang paling terkenal di antara mereka adalah Ibn Jarir at-Tabari [wafat 310].

Demikianlah, tafsir pada mulanya dinukil [dipindahkan] melalui penerimaan [dari mulut ke mulut]  dari riwayat; kemudian dibukukan sebagai salah satu bagian hadits; selanjutnya ditulis secara bebas dan mandiri. Maka berlangsunglah proses kelahiran at-tafsir bil ma’tsur [berdasarkan riwayat], lalu diikuti oleh at-tafsir bir ra’yi [berdasarkan penalaran].

Di samping ilmu tafsir lahir pula karangan yang berdiri sendiri mengenai pokok-pokok pembahasan tertentu yang berhubungan dengan Qur’an, dan hal ini sangat diperlukan oleh seorang mufasir.

Ali bin al-Madini (wafat 234 H) guru Bukhari menyusun karangannya mengenai asbabun nuzul. Abu  ‘Ubaid al-Qasim bin Salam (wafat 224) menulis tentang Nasikh-Mansukh dan qira’at.

Ibn Qutaibah (wafat 276 H) menyusun tentang problematika Qur’an (musykilatul Qur’an). Mereka semua termasuk ulama abad ketiga Hijri.

Muhammad bin Khalaf bin Marzaban (wafat 309 H) menyusun al-Haawii faa ‘Ulumil Qur’an.

Abu Muhammad bin Qasim al-Anbari (wafat 751 H) juga menulis tentang ilmu-ilmu Qur’an tetap berlangsung sesudah  itu.

Abu Bakar al-Baqalani (wafat 403 H) menyusun I’jaazul Qur’aan dan Ali bin Ibrahim bin Sa’id al Hufi (wafat 430) menulis mengenai I’rabul Qur’an. Al-Mawardi (wafat 450 H) mengenai tamsil-tamsil dalam al-Qur’an (amtsalul qur’an). Al-‘Izz bin ‘Abdus Salam (wafat 660 H) tentang majaz dalam Qur’an. ‘Alamuddin as-Sakhawi (wafat 643 H) menulis mengenai ilmu qiraat [cara membaca al-Qur’an], dan Aqsaamul Qur’an. Setiap penulis dalam karangannya  itu menulis bidang dan pembahasan tertentu yang berhubungan dengan ilmu-ilmu Qur’an.

Sedang pengumpulan hasil pembahasan dan bidang-bidang tersebut  mengenai ilmu-ilmu Qur’an, semuanya atau  sebagian besarnya  dalam satu karangan, maka Syaikh Muhammad ‘Abdul ‘Aziim az-Zarqani menyebutkan di dalam kitabnya Manaahilul ‘Irfaan fii ‘Ulumil Qur-aan bahwa ia telah menemukan di dalam perpustakaan Mesir sebuah kitab yang ditulis oleh Ali bin Ibrahim bin Sa’id yang terkenal dengan al-Hufi, judulnya al-Burhaan fi ‘Ulumil Qur-aan yang terdiri atas tigapuluh jilid. Dari ketiga puluh jilid itu terdapat limabelas jilid yang tidak tersusun dan tidak berurutan. Pengarang membicarakan ayat-ayat al-Qur’an menurut tertib Mushaf. Dia membicarakan ilmu-ilmu al-Qur’an yang dikandung ayat itu secara tersendiri, masing-masing diberi judul sendiri pula. Dan judul yang umum disebutkan dalam ayat, dengan menuliskan al-Qaul fi Qaulihi ‘Azza wa Jalla (pendapat mengenai firman Allah ‘azza wa jalla), lalu disebutkan ayat itu. Kemudian di bawah judul ini dicantumkan al-Qauli fil I’raab (pendapat mengenai morfologi). Di bagian ini ia membicarakan mengenai ayat itu dari segi nahwu dan bahasa. Selanjutnya al-Quli fil Ma’na wat tafsiir (pendapat mengenai makna dan tafsirannya); di sini ia jelaskan ayat itu berdasarkan riwayat [hadits] dan penalaran. Setelah itu al-Qaul fil Waqfi wat Tamaam (pendapat mengenai tanda berhenti dan tidak); disini ia menjelaskan mengenai waqaf (berhenti) yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan. Terkadang qiraat diletakkan dalam judul tersendiri,  yang disebutnya dengan al-Qaul fil Qira’at (pendapat mengenai qiraat). Kadang ia berbicara tentang hukum-hukum yang diambil dari ayat ketika ayat itu dibacakan.

Dengan metode seperti ini, al-Hufi dianggap sebagai orang pertama yang membukukan ‘Ulumul Qur’an, ilmu-ilmu a-Qur’an, meskipun pembukuannya menggunakan cara tertentu seperti yang disebutkan tadi. Ia wafat pada tahun 330 Hijri.

Kemudian Ibnul Jauzi (wafat 597 H) mengikutinya dengan menulis sebuah kitab berjudul Funuunul Afnaan fii ‘Ajaa’ibi ‘Ulumil Qur-aan. Lalu tampil Badruddin az-Zarkasyi (wafat 794) menulis sebuah kitab lengkap dengan judul al-Burhaan fii ‘Ulumil Qur-aan. Jalaluddin al-Balqini (wafat 824 H) memberikan beberapa tambahan atas al-Burhan di dalam kitabnya Mawaaqi’ul ‘Uluum min Mawaaqi’in Nujuum. Jalaluddin as-Suyuti (wafat 911 H) juga kemudian menyusun sebuah kitab yang terkenal dengan al-Itqaan fii ‘Uluumil Qur-aan.

Kepustakaan ilmu-ilmu Qur’an pada masa kebangkitan modern tidaklah lebih kecil daripada nasib ilmu-ilmu yang lain. Orang-orang yang menghubungkan diri dengan gerakan pemikiran Islam telah mengambil langkah yang positif dalam membahas kandungan Qur’an dengan metode baru pula, seperti kitab I’jaazul Qur’an yang ditulis oleh Mustafa Sadiq ar-Rafi’i, kitab at-Taswiirul Fanni fil Qur’aan dan Masyaahidul Qiyaamah fil Qur’aan oleh Sayid Qutb, Tarjamatul Qur’aan oleh Syaikh Muhammad Mustafa al-Maraghi yang salah satu pembahasannya ditulis oleh Muhibbuddin al-Khatib, Mas’alatul Tarjamatil Qur’aan oleh Mustafa Sabri, an-Naba’ul ‘Adziim oleh Dr. Muhammad ‘Abdullah Daraz dan mukaddimah tafsir Mahaasinut Ta’wil oleh Jamaluddin al-Qasimi.

Syaikh Tahir al-Jazaa’iri menyusun sebuah kitab dalam judul at-Tibyaan fii ‘Uluumil Qur’aan. Syaikh Muhammad ‘Ali Salamah menulis pula Manhajul Furqaan fii ‘Uluumil Qur’aan; yang berisi pembahasan yang sudah ditentukan untuk Fakultas Ushuluddin di Mesir dengan spesialisasi dakwah dan bimbingan masyarakat. Kemudian hal itu juga diikuti oleh muridnya, Muhammad ‘Abdul ‘Adziim az-Zarqani yang menyusun Manaahilul ‘Irfaan fii ‘Uluumil Qur’aan. Kemudian syaikh Ahmad ‘Ali menulis Muzakkiraat ‘Uluumil Qur’aan yang disampaikan kepada para mahasiswanya di Fakultas Ushuluddin jurusan dakwah dan bimbingan masyarakat.

Akhirnya muncul Mabaahisu fii ‘Uluumil Qur’aan oleh Dr. Subhi as-Salih. Juga Ustadz Ahmad Muhammad Jamal menulis beberapa studi sekitar masalah “Maa-idah” dalam Qur’an.

Pembahasan-pembahasan tersebut dikenal dengan sebutan ‘Uluumul Qur’aan, dan kata ini kini telah menjadi istilah atau nama khusus bagi ilmu-ilmu tersebut.

Kata ‘Uluum ‘jamak dari kata ‘ilmu. ‘ilmu berarti al-fahmu wal idraak (paham dan menguasai). Kemudian arti kata ini berubah menjadi masalah-masalah yang beraneka ragam yang disusun secara ilmiah. Jadi yang dimaksud dengan ‘Ulumul Qur’an adalah ilmu yang membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan Qur’an dari segi asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya al-Qur’an) pengumpulan dan penertiban Qur’an, pengetahuan tentang surah-surah Mekah dan Madinah, an-naasikh wal mansuukh, al muhkam wal mutasyaabih dan lain sebagainya yang berhubungan dengan al-Qur’an. Terkadang ilmu ini dinamakan juga Usuulut Tafsiir (dasar-dasar tafsir), karena yang dibahas berkaitan dengan beberapa masalah yang harus diketahui oleh seorang mufasir sebagai sandaran  dalam menafsirkan al-Qur’an.

Sumber: Studi Ilmu-ilmu Qur’an, Mannaa’ Khalil al-Qattaan

Ilmu-ilmu Al-Qur’an (1)

18 Mar

Pengertian, Pertumbuhan dan Perkembangannya

Al-Qur’anul Karim adalah mukjizat Islam yang kekal dan mukjizatnya selalu diperkuat oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Ia diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah, Muhammad saw. Untuk mengeluarkan manusia dari suasana yang gelap menuju yang terang, serta membimbing mereka ke jalan yang lurus. Rasulullah saw. Menyampaikan al-Qur’an itu kepada para shahabatnya –orang-orang Arab asli- sehingga mereka dapat memahami berdasarkan naluri mereka. Apabila mereka mengalami ketidakjelasan dalam memahami suatu ayat, mereka menanyakan langsung kepada Rasulullah saw.. Bukhari dan Muslim serta yang lainnya meriwayatkan, dari Ibn Mas’ud dengan mengatakan: “Ketika ayat ini diturunkan: ‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedzaliman’ (al-An’am: 82) banyak orang yang merasa resah. Lalu mereka bertanya kepada Rasulullah saw.:  ‘Ya Rasulallah, siapakah di antara kita yang tidak berbuat dzalim terhadap dirinya?’ Nabi menjawab: ‘Kedzaliman di sini bukan seperti yang kamu pahami. Tidakkah kamu pernah mendengar apa yang telah dikatakan oleh seorang hamba Allah yang shalih: “Sesungguhnya kemusyrikan adalah benar-benar kedzaliman yang besar” (Luqman: 13) jadi yang dimaksud dengan kedzaliman disini ialah kemusyrikan.”

Rasulullah saw. Menafsirkan kepada mereka beberapa ayat. Seperti dinyatakan oleh Muslim dan yang lain, yang bersumber dari ‘Uqbah bin ‘Amir; ia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. berkata di atas mimbar: ‘Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan yang kamu sanggupi (al-Anfal: 60). Ingatlah bahwa kekuatan disini adalah memanah.”

Para shahabat sangat antusias untuk menerima al-Qur’an dari Rasulullah saw. menghafalnya dan memahaminya. Hal itu  merupakan suatu kehormatan bagi mereka. Dikatakan oleh Anas ra.: “Seseorang di antara kami bila telah membaca surah al-Baqarah dan Ali ‘Imran, orang itu menjadi besar menurut pandangan kami.” Begitu pula mereka selalu berusaha mengamalkan al-Qur’an dan memahami hukum-hukumnya.

Diriwayatkan oleh Abu Abdurrahman as-Sulami, ia mengatakan: “Mereka yang membaca al-Qur’an kepada kami, seperti Utsman bin ‘Affan dan Abdullah bin Mas’ud serta yang lain menceritakan, bahwa mereka bila belajar dari Nabi saw. sepuluh ayat, mereka tidak melanjutkannya sebelum mengamalkan ilmu dan amal yang ada di dalamnya. Mereka berkata: ‘Kami mempelajari al-Qur’an berikut ilmu dan amalnya sekaligus.’”

Rasulullah saw. tidak mengizinkan mereka menuliskan sesuatu dari dia selain al-Qur’an, karena ia khawatir al-Qur’an akan tercampur dengan yang lainnya. Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa Rasulullah saw.  berkata: ‘Jangan kamu tulis dari aku; barangsiapa menuliskan dari aku selain al-Qur’an, hendaklah dihapus. Dan ceritakan apa yang dariku; dan itu tiada halangan baginya. Dan barangsiapa sengaja berdusta atas namaku, ia akan menempati tempatnya di api neraka.”

Sekalipun setelah itu Rasulullah saw. mengizinkan kepada sebagian shahabat untuk menulis hadits, tetapi hal yang berhubungan dengan al-Qur’an tetap didasarkan kepada riwayat yang melalui petunjuk di zaman Rasulullah saw. di masa khalifah  Abu Bakar dan Umar ra.

Kemudian datang masa kekhalifahan Utsman ra. dan keadaan menghendaki untuk menyatukan kaum Muslimin pada satu mushaf. Dan hal itu pun terlaksana. Mushaf tersebut disebut Mushaf Imam. Salinan-salinan mushaf itu juga dikirimkan ke beberapa propinsi. Penulisan mushaf tersebut dinamakan ar-Rasmul ‘Usmani  yaitu dinisbatkan kepada Utsman. Dan ini dianggap sebagai permulaan dari ‘Ilmu Rasmil Qur’an.

Pada masa kekhalifahan ‘Ali ra. dan atas perintahnya, Abul Aswad ad-Du’ali meletakkan kaidah-kaidah Nahwu, cara pengucapan yang tepat dan baku dan memberikan ketentuan harakat pada al-Qur’an. Ini juga dianggap sebagai permulaan ‘Ilmu I’rabil Qur’an.

Para shahabat senantiasa melanjutkan usaha mereka dalam menyampaikan makna-makna al-Qur’an dan penafsiran ayat-ayatnya yang berbeda-beda di antara mereka, sesuai dengan kemampuan mereka yang berbeda-beda dalam memahami dan karena adanya perbedaan  lama dan tidaknya mereka hidup bersama Rasulullah saw. Hal yang demikian diteruskan oleh murid-murid mereka, yaitu para tabi’in.

Di antara para mufasir yang termashur dari para shahabat adalah empat orang khalifah, kemudian Ibnu Mas’ud, Ibn ‘Abbas, Ubai bin Ka’b, Zaid bin Tsabit, Abu  Musa al-Asy’ari dan Abdullah bin Zubair.

Banyak riwayat mengenai tafsir yang diambil dari Abdullah bin ‘Abbas, Abdullah bin Mas’ud dan Ubai bin Ka’b. Dan apa yang diriwayatkan dari mereka tidak berarti sudah merupakan tafsir al-Qur’an yang sempurna; tetapi terbatas hanya  pada makna beberapa ayat dengan penafsiran tentang apa yang masih samar dan penjelasan apa yang masih global. Mengenai para tabi’in, di antara mereka ada satu  kelompok terkenal yang mengambil ilmu ini dari para shahabat di samping mereka sendiri bersungguh-sungguh atau melakukan ijtihad dalam menafsirkan ayat.

Di antara murid-murid Ibnu ‘Abbas di Mekah yang terkenal ialah Sa’id bin Jubair, Mujahid, ‘Ikrimah bekas sahaya [maula] Ibn Abbas, Tawus bin Kisan al-Yamani dan ‘Atha’ bin abi Rabah.

Dan terkenal pula di antara murid-murid Ubai bin Ka’b di Madinah: Zaid bin Aslam, Abul ‘Aliyah dan Muhammad bin Ka’b al-Qurazi.

Dari murid-murid Abdullah bin Mas’ud di Irak yang terkenal ‘Alqamah bin Qais, Masruq, al-Aswad bin Yazid, ‘Amir asy-Sya’bi, Hasan al-Basri dan Qatadah bin Di’amah as-Sadusi.

Ibn Taimiyah berkata: “Adapun mengenai ilmu tafsir, orang yang paling tahu adalah penduduk Mekah, karena mereka shahabat Ibn Abbas, seperti Mujahid, ‘Atha’ bin Abi Rabah, ‘Ikrimah maula Ibn Abbas dan shahabat-shahabat Ibnu Abbas lainnya seperti Thawus, Abusy Sya’sa’, Sa’id bin Jubair dan lain-lainnya. Begitu juga penduduk Kufah dari shahabat-shahabat Ibnu Mas’ud; dan mereka itu mempunyai kelebihan dari ahli tafsir yang lainnya. Ulama penduduk Madinah dalam ilmu tafsir di antaranya adalah Zubair bin Aslam; Malik dan anaknya Abdurrahman serta Abdullah bin Wahb, mereka berguru kepadanya.

Dan diriwayatkan dari mereka itu semua meliputi ilmu Tafsir, ilmu Gharibil Qur’an, ilmu asbabun nuzul, ilmu Makki wal Madani dan Ilmu Nasikh dan Mansukh. Tetapi semua itu tetap didasarkan pada riwayat dengan cara didiktekan. (bersambung)

Sumber: Studi Ilmu-ilmu Qur’an, Mannaa’ Khalil al-Qattaan

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Zalzalah

13 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Zalzalah (Kegoncangan)

Surat Madaniyyah; Surat ke 99: 8 ayat

 

At-Tirmidzi meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dia berkata: “Ada seseorang yang dating kepada Rasulullah saw. Seraya berkata: ‘Bacakanlah untukku, wahai Rasulallah.’ Beliau bersabda kepadanya: ‘Bacalah tiga kali dari surat-surat yang memiliki “ar-raa”.’ Kemudian orang itu berkata kepada beliau: ‘Usiaku sudah lanjut, hatikupun semakin mengeras dan lidahku sudah kaku.’ Beliau bersabda: ‘Bacalah dari surat-surat  yang memiliki  haamiim.’ Kemudian orang itu mengungkapkan hal yang sama dengan yang pertama. Beliau bersabda: ‘Bacalah tiga kali dari surat-surat yang memiliki kata tasbih.’ Orang itu tetap mengatakan seperti ungkapannya yang  pertama. Kemudian orang itu berkata: ‘Tetapi bacakanlah untukku wahai Rasulallah, satu surat yang mencakup.’ Kemudian beliau membacakan untuknya: idzaa zulzilatil ardlu zilzaalaHaa (“Apabila bumi digoncangkan  dengan goncangannya.”) sehingga ketika beliau selesai membaca surat itu, orang tersebut berkata: ‘Demi Rabb yang mengutusmu dengan kebenaran sebagai seorang nabi, aku tidak akan member tambahan padanya untuk selamanya.’ Kemudian orang itupun berbalik, lalu Rasulullah saw. bersabda: ‘Beruntunglah orang itu, beruntunglah orang itu.’”-kemudian ia berkata: “Lalu orang itu mendatangi beliau, maka beliau berkata kepadanya: ‘Aku diperintahkan pada hari raya ‘Idul Adha untuk menjadikannya  sebagai hari raya untuk umat ini.’” Lalu orang itu berkata kepada beliau: “Bagaimana pendapatmu jika aku tidak mendapati kecuali hanya domba betina, apakah aku boleh berkurban dengannya?” Beliau menjawab: “Tetapi hendaklah engkau memotong rambutmu, memotong kukumu, mencukur kumismu, dan mencukur bulu kemaluanmu. Yang demikian itu merupakan kesempurnaan kurbanmu di sisi Allah swt.  dan diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasa-i.

“1. apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), 2. dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, 3. dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?” 4. pada hari itu bumi menceritakan beritanya, 5. karena Sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. 6. pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam Keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka, 7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. 8. dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.” (al-Zalzalah: 1-8)

Ibnu ‘Abbas mengatakan: “idzaa zulzilati ardlu zilzaalaHaa (“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya.”)  yakni bergerak dari bawahnya. Wa akhrajatil ardlu atsqaalaHaa (“Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban beratnya.”) yakni bumi akan melemparkan isi perutnya  yang terdiri dari mayat-mayat. Demikian yang dikatakan oleh lebih dari satu orang ulama salaf. Di dalam kitab shahihnya, Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda: “Bumi akan memuntahkan bagian-bagian yang terdapat di dalam perutnya yang besar, seperti tiang-tiang yang terbuat dari emas dan perak. Lalu seorang pembunuh akan datang seraya  mengatakan hal ini, ‘Aku telah membunuh.’ Kemudian seorang pemutus silaturahim datang dan berkata dalam kesempatan ini, ‘Aku telah memutuskan hubungan kekerabatanku.’ Selanjutnya, seorang pencuri datang dan berkata mengenai hal ini, ‘Aku telah memotong tanganku,’ kemudian dia meninggalkannya dan tidak mengambil sesuatu pun darinya.’”

Dan firman Allah: Wa qaalal insaanu maa laHaa (“Dan manusia bertanya: ‘Mengapa bumi menjadi begini?’ yakni dia menolak kejadian  yang dialami bumi setelah sebelumnya dalam keadaan bulat, tenang dan permanen. Dimana bumi ini bergerak tegak di atas punggungnya. Artinya, keadaannya berbalik total, dimana bumi ini menjadi bergerak dan berguncang keras. Sebab, telah datang perintah dari Allah Ta’ala untuk menimpakan goncangan yang telah disiapkan baginya, yang tidak ada tempat berlindung baginya dari goncangan tersebut. Kemudian bumi akan mengeluarkan semua yang ada di dalam perutnya, yang terdiri dari mayat-mayat dari orang-orang terdahulu dan orang-orang yang hidup terakhir. Dan pada saat itulah ada orang-orang yang mengingkari kejadian itu dan menukar bumi selain bumi dan langit yang ada dan merekapun menampakkan diri kepada Allah Yang Mahaesa lagi Mahaperkasa.

Firman Allah Ta’ala: yauma idzin tuhadditsu akhbaaraHaa (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”) masudnya membicarakan apa yang telah dikerjakan oleh orang-orang yang berada di atasnya. Imam Ahmad meriwayatkan, Ibrahim memberitahu kami, Ibnul Mubarak memberitahu kami, at –Tirmidzi, Abu ‘Abdirrahman an-Nasa-i dan lafazh ini miliknya dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah membaca ayat ini: yauma idzin tuhadditsu akhbaaraHaa (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”) beliau bertanya: ‘Apakah kalian mengetahui apa berita yang disampaikannya?’ mereka menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.’ Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya beritanya adalah dia bersaksi bagi setiap hamba, laki-laki maupun perempuan atas apa yang telah mereka lakukan di atasnya.  Dia akan mengatakan: ‘Dia mengerjakan ini dan itu,  pada hari ini dan itu.’ Demikian itulah beritanya.’” Kemudian at-Tirmidzi  mengatakan: “Ini merupakan hadits hasan  shahih gharib.”

Firman Allah: bi anna rabbaka awhaa laHaa (“Karena sesungguhnya Rabb-mu telah memerintahkan [yang demikian itu] kepadanya.” Imam al-Bukhari mengatakan: “Kata auhaa  laHaa, auhaa ilaiHaa, wahaa laHaa, dan wahaa ilaiHaa adalah satu [yaitu mewahyukan kepadanya].” Demikian pula Ibnu ‘Abbas mengatakan, auhaa laHaa adalah sama dengan auhaa ilaHaa.” Secara lahiriah kandungan ini bermakna memberi izin kepada bumi. Syabib bin Bisryr meriwayatkan dari ‘Ikrimah  dari Ibnu ‘Abbas, yauma idzin tuhadditsu akhbaaraHaa (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”) dia mengatakan: “Rabb-nya berkata kepadanya: ‘Katakanlah,’ maka bumi itupun berkata.” Mujahid mengatakan, ‘Auhaa laHaa maksudnya, Allah memerintahkannya.’ Al-Qurazhi mengatakan: “Allah memerintahkan untuk membelah diri.”

Dan firman Allah Ta’ala: yauma idzin tuhadditsu akhbaaraHaa (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”) maksudnya mereka menentang terhadap keberadaan hisab dalam wujud  yang beragam, yakni macam dan golongan dalam hal mendapatkan kesengsaraan dan kebahagiaan. Ada yang diperintahkan supaya masuk surga. Dan apa pula yang diperintahkkan masuk neraka.

Firman Allah Ta’ala: liyuraw a’maalaHum (“Supaya diperlihatkan kepada mereka pekerjaan mereka.”) maksudnya supaya mereka mengetahui dan diberi balasan atas apa yang telah mereka kerjakan di dunia, baik dalam  bentuk kebaikan maupun keburukan. Oleh karena itu Dia berfirman: famay ya’mal mitsqaala dzarratin khairay yaraH. Wamay ya’mal mitsqaala dzarrating syarray yaraH (“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun niscaya ia akan melihat [balasan]nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya ia akan melihat balasannya pula.”) imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Kuda itu untuk tiga orang. Bagi seseorang kuda itu akan menjadi pahala, bagi seseorang lagi akan menjadi satar [penutup], dan bagi seorang lainnya akan menjadi dosa. Adapun orang yang mendapatkan pahala adalah orang yang mengikat kuda itu di jalan Allah, lalu ia membiarkannya di tempat penggembalaan atau taman dalam waktu yang lama, maka apa yang terjadi selama masa penggembalaannya di tempat penggembalaan dan taman itu, maka ia akan menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia menghentikan masa penggembalaannya lalu kuda itu melangkah satu atau dua langkah, maka jejak kaki dan juga kotorannya akan menjadi kebaikan baginya. Dan jika kuda itu menyeberang sungai lalu ia minum air dari sungai tersebut, maka yang demikian itu  menjadi kebaikan baginya, dan kuda itupun bagi orang tersebut adalah pahala. Dan orang yang mengikat kuda itu karena untuk memperkaya diri dan demi kehormatan diri tetapi dia tidak lupa hak Allah dalam pemeliharaannya, maka kuda itu akan menjadi satar baginya. Serta orang yang mengikatnya karena perasaan bangga dan riya’, maka ia hanya akan menjadi dosa baginya.”

Kemudian Rasulullah saw ditanya tentang keledai, maka beliau bersabda: “Allah tidak menurunkan sedikitpun mengenainya melainkan ayat yang mantap yang mencakup ini: ‘Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun niscaya ia akan melihat [balasan]nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya ia akan melihat balasannya pula.’” (HR Muslim).

Sekian.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-‘Ashr

6 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-‘Ashr (Masa)

Surah Makkiyyah; Surah ke 103: 3 ayat

Mereka menyebutkan bahwa ‘Amr bin al-‘Ash pernah diutus untuk menemui Musailamah al-Kadzdzab. Hal itu berlangsung setelah pengutusan Rasulullah saw. Dan sebelum dia (‘Amr bin al-‘Ash) masuk Islam. Musailamah al-Kadzab bertanya kepada ‘Amr bin al-‘Ash, “Apa yang telah diturunkan kepada sahabatmu ini (Rasulullah) selama ini?” Dia menjawab, “Telah diturunkan kepadanya satu surat ringkas namun sangat padat.” Dia bertanya, “Surat apa itu?” Dia (‘Amr) menjawab: “Wal ‘ashr….[hingga akhir surah]…(“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1-3)

Kemudian Musailamah berfikir sejenak, setelah itu ia berkata: “Dan telah diturunkan pula hall serupa kepadaku.” Kemudian ‘Amr bertanya kepadanya, “Apa itu?” Musailamah menjawab: “Yaa wabriyaa wabr. Wa innamaa anta uzduunani wa shadr. Wa saa-iruka hafr naqr (hai kelinci, hai kelinci, sesungguhnya kamu memiliki dia telinga dan satu dada. Dan semua jenismu suka membuat galian dan lubang)”. Kemudian dia bertanya: “Bagaimana menurut pendapatmu hai ‘Amr?” maka ‘Amr berkata kepadanya, “Demi Allah, aku tahu bahwa engkau telah berdusta.”

Wabr adalah binatang sejenis kucing, yang anggota badannya yang paling besar adalah keduua telinga dan dadanya, sedangkan anggota tubuh lainnya kurang bagus. Dengan halusinasi itu, Musailamah al-Kadzdzab bermaksud menyusun kalimat yang bertentangan dengan apa yang disampaikan al-Qur’an. Namun demikian, hal tersebut ditolak mentah-mentah oleh seorang penyembah berhala pada saat itu.

Imam Syafi’I mengatakan: “Seandainya manusia mencermati surat ini (al-‘Ashr) secara seksama, niscaya surat ini akan mencukupi mereka.”

 “1. demi masa. 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1-3)

Al-‘Ashr berarti masa yang di dalamnya berbagai aktifitas  anak cucu Adam berlangsung, baik dalam wujud kebaikan maupun keburukan. Imam Malik meriwayatkan  dari Zaid bin Aslam: “Kata al-‘Ashr berarti shalat ‘Ashar.” Dan yang populer adalah pendapat pertama.

Dengan demikian, Allah Ta’ala telah bersumpah dengan masa tersebut bahwa manusia itu dalam kerugian, yakni benar-benar merugi dan binasa. Illal ladziina aamanuu wa’amilush shaalihaat (“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih”). Dengan demikian Allah memberikan pengecualian  dari kerugian itu bagi orang-orang yang beriman dengan hati mereka dan mengerjakan amal shalih   melalui anggota tubuhnya. Wa tawaa shaubil haqqi (“Dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran”) yaitu mewujudkan semua bentuk ketaatan  dan meninggalkan semua yang diharamkan. Wa tawaa shaubish shabr (“Dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.”) yakni bersabar atas segala macam cobaan, takdir, serta  gangguan yang dilancarkan kepada orang-orang yang menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Najm (6)

4 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Najm (Bintang)

Surah Makkiyyah; Surah ke 53: 62 ayat

Ibnu Ishaq berkata: “Al-Lata dimiliki oleh Bani Tsaqif, berada di Tha-if yang para penjaganya berasal dari kalangan bani Mu’tab.” Berkenaan dengan hal itu, aku katakan bahwa Rasulullah saw. telah mengutus al-Mughirah bin Syu’bah dan Abu Sufyan Shakhr bin Harb  agar mendatangi patung al-Lata. Kemudian merekapun menghancurkannya dan menjadikan tempat (patung) itu sebagai masjid di Tha-if.”

Ibnu Ishaq mengatakan: “Al-Manat itu adalah milik suku Aus dan Khazraj  serta orang-orang yang sepaham dengan mereka dari penduduk Yatsrib di tepian laut di pinggiran daerah Musyallal  yang terletak di Qadid. Kemudian Rasulullah mengutus Abu Sufyan Shakhr bin Harb ke sana, dan menghancurkannya.” Ada juga yang berpendapat bahwa yang diutus adalah ‘Ali bin Abi Thalib.

Oleh karena itu Allah berfirman: A fa ra-aitumul laata wal ‘uzzaa. Wa manaatats tsaalitatal ukhraa. (“Maka apakah patut kamu [hai orang-orang musyrik] menganggap al-Lata an al-‘Uzza. Dan Manat yang ketiga, yang paling mulia terkemudian [sebagai anak perempuan Allah]?”) setelah itu Allah berfirman: a lakumudz dzakara wa lahul untsaa (“Apakah [patut] untukmu [anak] laki-laki dan untuk Allah [anak] perempuan?”) maksudnya, layakkah kalian membuatkan anak bagi-Nya? Kalian klaim anak-Nya berkelamin perempuan, sedangkan kalian memilih kelamin laki-laki untuk diri kalian. Seandainya  kalian membagi dengan pembagian ini antara kalian dan makhluk seperti yang kalian lakukan, pastilah “qismatung dliizaa” (“Pembagian itu merupakan pembagian yang tidak adil”) yakni aniaya dan bathil. Bagaimana mungkin kalian memberikan pembagian kepada Allah dengan pembagian seperti itu?

Setelah itu Allah Ta’ala berfirman seraya menolak segala bentuk dusta dan hal-hal yang mereka buat-buat serta  kekufuran dalam bentuk penyembahan berhala dan menyebutnya  sebagai ilah. In hiya illaa asmaa-ung sammaitumuuhaa antum wa aabaa-ukum (“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapakmu mengada-adakannya.”) yakni, berdasarkan selera  kalian sendiri. Maa anzala llaahu  bihaa min sulthaan (“Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun.”) yakni hujjah.

Iy yattabi’uuna iladz dzanna wa maa tahwal angfus (“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu mereka.”) maksudnya, mereka tidak mempunyai sandaran selain prasangka baik mereka terhadap orang tua mereka yang telah menempuh jalan yang bathil tersebut sebelum mereka. Wa laqad jaa-ahum mir rabbihimul hudaa (“Dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka.”) maksudnya Allah Ta’ala telah mengutus para Rasul kepada mereka dengan membawa kebenaran yang bersinar terang dan hujjah yang qath’i (pasti). Meski telah demikian rupa, namun mereka tetap tidak mau mengikuti apa yang datang kepada mereka dan tidak pula mau tunduk kepadanya.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: am lil insaani maa tamannaa (“Atau apakah manusia akan mendapatkan segala yang dicita-citakannya?”) maksudnya, tidak semua orang yang menginginkan kebaikan itu akan mendapatkannya: Laisa bi-amaaniyyikum wa laa amaaniyi ahlil kitaab (“[Pahala dari Allah itu] bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak pula menurut Ahlul Kitab.”) (QS an-Nisaa’: 123)

Dan tidak setiap orang yang mengaku dirinya mendapatkan petunjuk menjadi seperti apa yang dikatakannya (berada dalam petunjuk). Dan tidak setiap orang yang mencintai sesuatu akan mendapatkannya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu  Hurairah, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Jika seorang dari kalian berangan-angan hendaklah dia mempertimbangkannya karena ia tidak tahu  apa yang ditetapkan dari angan-angannya itu.” (HR Ahmad)

Firman-Nya: fa lillaahil aakhiratu wal uulaa (“Maka hanya bagi Allah-lah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia.”) maksudnya, seluruh urusan itu hanya  milik Allah, Raja dunia dan akhirat, Pengendali di dunia dan di akhirat, dan Dia-lah yang jika menghendaki sesuatu pasti akan terwujud, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya, maka tidak akan pernah terwujud.

Firman Allah Ta’ala: wa kam mim malaking fis samaawaati laa tughnii syafaa’atuhum syai-an ilaa mim ba’di ay ya’dzanallaahu limay yasyaa-u wa yardlaa (“dan berapa banyaknya Malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).”) sebagaimana firman-Nya  yang lain: man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa bi-idznih (“Tidak ada yang  dapat memberi syafaat di sisi Allah kecuali dengan izin-Nya.”) (al-Baqarah: 255)

Jika demikian itu berlaku kepada para malaikat yang mendekatkan diri kepada Allah, lalu bagaimana muungkin kalian –wahai orang-orang bodoh- akan mengharapkan syafaat dari berhala-berhala dan sekutu-sekutu  di sisi Allah, padalah Allah  Ta’ala tidak pernah mensyariatkan hal tersebut  dan tidak juga mengizinkannya, bahkan Dia benar-benar melarangnya melalui lisan para Rasul-Nya. Dan Dia turunkan larangan itu melalui seluruh Kitab suci-Nya.

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Najm (5)

4 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Najm (Bintang)

Surah Makkiyyah; Surah ke 53: 62 ayat

 “19. Maka Apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap Al Lata dan Al Uzza,

20. dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? 21. Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? 22. yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. 23. itu tidak lain hanyalah Nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan Sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. 24. atau Apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya? 25. (Tidak), Maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia. 26. dan berapa banyaknya Malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).” (an-Najm: 19-26)

Allah berfirman seraya  mencela orang-orang musyrik atas penyembahan mereka terhadap berhala-berhala dan sekutu-sekutu serta patung-patung, juga tindakan mereka membuatkan rumah-rumah untuk sembahan-sembahan mereka itu sebagai tandingan bagi Ka’bah yang telah dibangun oleh kekasih Allah, Ibrahim a.s.. Afa ra-aitumul laata (“Maka apakah patut kamu [hai orang-orang musyrik] menganggap al-Lata?”) al-Lata adalah batu putih besar yang  diukir, difasilitasi dengan rumah, tirai, para penjaga, dikelilingi oleh halaman, dan sangat diagungkan oleh kalangan penduduk Tha’if, mereka adalah bani Tsaqif dan para pengikutnya. Mereka membanggakan diri dengan al-Lata atas orang lain dari bangsa Arab setelah Quraisy. Ibnu Jarir mengatakan: “Mereka telah mengambil nama al-Lata itu dari Nama Allah seraya mengatakan: ‘Al-Lata,’ yang mereka maksudkan adalah pasangan perempuan dari Allah. Mahatinggi Allah dari apa yang mereka katakan itu setinggi-tingginya.”

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas mengenai firman-Nya: al-laata wal ‘uzzaa (“Al-Lata dan al-‘Uzza”) ia mengatakan: “Al-Lata adalah seorang laki-laki yang menumbuk tepung bagi para jama’ah haji.”

Ibnu Jarir mengungkapkan bahwa demikian halnya dengan al-‘Uzza yang berasal dari kata al-‘Aziiz, yaitu sebuah pohon yang dinaungi bangunan dan tirai dari daerah Nikhlah yang terletak antara Mekah dan Tha-if, dimana orang-orang Quraisy sangat mengagungkannya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Sufyan pada saat terjadi perang Uhud: ‘Kami mempunyai al-‘Uzza sedang kalian tidak.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Katakanlah: ‘Allah adalah Pelindung kami dan tidak ada pelindung bagi kalian.’”

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa bersumpah, maka hendaklah ia mengucapkan: laa ilaaha illallaah (“Tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah”). Dan barangsiapa berkata kepada temannya: ‘Kemarilah, mari kita main undian.’ Maka hendaklah ia bershadaqah.” Hadits tersebut diarahkan kepada orang yang lidahnya terlanjur mengucapkan sumpah tersebut, sebagaimana lidah-lidah mereka sudah terbiasa mengucapkannya di masa jahiliyah.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh an-Nasa-i, Yunus memberitahu kami dari ayahnya, Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash  memberitahuku dari ayahnya, ia berkata: “Aku pernah bersumpah dengan al-Lata dan al-‘Uzza,” lalu para sahabatku berkata: “Sungguh buruk apa yang engkau katakan itu. Engkau telah mengatakan sesuatu yang  menyimpang.” Kemudian aku mendatangi Rasulullah saw. lalu kuceritakan hal tersebut kepada beliau, maka beliau bersabda: “Ucapkanlah: ‘Tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nya kerajaan dan pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.’ Kemudian meludahlah tiga kali ke sebelah kirimu dan berlindunglah kepada Allah dari syaitan yang terkutuk, dan kemudian janganlah engkau  mengulangi lagi.”

Adapun Manat terdapat di Musyallal, daerah Qadid yang terletak antara Mekah dan Madinah. Bani Khuza’ah, Aus, dan Khazraj sangat mengagungkannya pada masa jahiliyah dan mereka mengucapkan talbiyah dari sana ketika hendak menunaikan ibadah haji menuju Ka’bah. Hal yang senada juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dari ‘Aisyah. Di jazirah Arab dan yang lainnya terdapat thaghut-thaghut lain selain ketiga thaghut di atas yang senantiasa diagungkan oleh orang-orang Arab layaknya mereka mengagungkan Ka’bah, dimana dalil tentang semua itu telah tercantum di dalam Kitab-Nya yang mulia. Disebutkannya ketiga hal di atas secara khusus karena ketiganya adalah yang paling masyhur.

Di dalam kitab as-Siirah, Ibnu Ishaq mengatakan: “Dahulu masyarakat Arab membuat thaghut-thaghut sebagai rumah selain Ka’bah yang mereka agung-agungkan seperti pengagungan mereka terhadap Ka’bah. Thaghut-thaghut itu mempunyai penjaga dan tirai, juga diberi persembahan sebagaimana persembahan yang diberikan kepada Ka’bah. Serta dijadikan sebagai tempat thawaf sebagaimana halnya thawaf di Ka’bah, juga dijadikan tempat penyembelihan kurban. Namun mereka mengetahui bahwa Ka’bah lebih utama daripada thaghut-thaghut tersebut karena Ka’bah adalah rumah yang dibangun oleh Ibrahim a.s. sekaligus sebagai masjidnya.

Sementara itu kaum Quraisy dan bani Kinanah mempunya al-‘Uzza di Nikhlah, yang menjadi penjaga dan pemberi tirainya adalah Bani Syaiban dari Salim, para sekutu Bani Hasyim. Kemudian kukatakan bahwa Rasulullah saw. mengutus Khalid bin al-Walid, yang menghancurkannya seraya berucap: “Wahai ‘Uzza, kekufuran menyelimutimu dan tidak ada kesucian padamu, sesungguhnya aku melihat Allah telah menghinakanmu.”

An-Nasa-i meriwayatkan dari Abuth Thufail, ia berkata bahwa setelah Rasulullah saw. membebaskan kota Mekah, beliau mengutus Khalid bin al-Walid ke Nikhlah yang disana terdapat al-‘Uzza. Khalid mendatanginya, ketika al-‘Uzza berada di atas tiga pohon Samurah, maka Khalid memotong ketiga pohon itu kemudian menghancurkan rumah yang terdapat di sana. Lalu mendatangi Nabi saw, dan Khalid memberitahukannya. Maka beliau bersabda: “Kembalilah ke tempat itu, sesungguhnya engkau belum berbuat apa-apa.”

Khalid pun kembali, ketika ia dilihat oleh para penjaga thaghut al-‘Uzza, maka mereka berusaha membuat tipu muslihat. Mereka berkata: “Ya ‘Uzza, ya ‘Uzza.” Maka Khalid mendatanginya. Ternyata ada seorang wanita dalam keadaan telanjang dengan rambut terurai dan menaburkan debu di kepalanya. Khalid langsung menebas leher wanita itu dengan pedang hingga azal menjemputnya. Kemudian Khalid kembali kepada Rasulullah saw. dan memberitahukan hal itu kepada beliau, maka beliaupun bersabda: “Itulah al-‘Uzza.”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 85 pengikut lainnya.