Tag Archives: Barang

Barang-Barang yang Boleh dan Tidak Boleh Diperjual Belikan

2 Des

Kajian Fiqih Empat Imam Madzab;
Syekh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

BENDA NAJIS

Jual beli benda suci adalah sah. Demikian menurut ijma para imam madzab. Adapun memperjual belikan benda najiz zatnya, seperti anjing, khamar, dan kotoran binatang, menurut Hanafi: sah menjual anjing dan kotoran binatang dan orang Muslim boleh mewakilkan kepada orang dzimmi untuk memperjualbelikan khamr.

Para ulama Maliki berselisih pendapat mengenai bolehnya menjual anjing. Di antara mereka ada yang membolehkannya secara mutlak. Sebagian lagi memakruhkannya, serta ada pula yang membolehkannya khusus anjing yang diperbolehkan untuk dipelihara. Syafi’i dan Hambali: tidak boleh sama sekali menjual dan membeli benda yang tersebut (anjing, khamr, dan kotoran binatang). Syafi’i dan Hambali: tidak wajib dibayar harga anjing yang dibunuh.

Minyak yang terkena najis, apakah ia suci dengan dibasuh? Pendapat yang paling kuat dari Syafi’i: minyak yang terkena najis tidak dapat disucikan maka tidak sah dijual. Demikian pula pendapat Maliki dan Hambali. Hanafi: boleh memperjualbelikan minyak yang terkena najis.

BUDAK

Para imam madzab sepakat tentang tidak dibolehkannya menjual ummul walad (budak yang dijadikan ibu anak). Dawud berkata: boleh menjual ummul walad. Diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib dan Ibn Abbas bahwa mereka membolehkannya.
Maliki, Syafi’i dan Hambali: menjual budak mudabbar (budak yang dikatakan oleh tuannya bahwa ia merdeka sesudah tuannya meninggal) diperbolehkan. Hanafi: tidak boleh dijual jika keadaan mudabbar itu mutlak (tiada terikat).
Boleh menjual budak yang menjadi perkongsian, baik ia masih kecil maupun dewasa. Demikian menurut pendapat tiga imam madzab. Hambali: jika ia masih kecil, tidak boleh dijual.

WAKAF

Tidak boleh menjual harta wakaf. Demikian menurut tiga imam madzab. Hanafi: boleh dijual, selam belum diputuskan hakim, atau jika wakaf itu diberikan secara wasiat.

Para imam madzab sepakat bahwa air susu perempuan adalah suci. Dan air susu perempuan boleh dijual, menurut Syafi’i dan Hambali. Menurut Hanafi dan Maliki: tidak boleh air susu perempuan diperjualbelikan.

Sah menjual pintu Makkah. Demikian menurut Syafi’i. Menurut Maliki dan Hanafi: tidak sah menjualnya, sedangkan menyewakannya adalah makruh. Dari Hambali diperoleh dua riwayat, yang paling shahih adalah tidak sah menjual dan menyewakannya.

Ulat sutera boleh diperjual belikan. Demikian menurut tiga imam madzab. Hanafi: tidak sah.

Tidak sah menjual barang [harta] yang bukan miliknya tanpa ada izin dari pemiliknya. Demikian menurut qaul jadid Syafi’i. Dalam qaul qadimnya: relatif, yakni si pemilik barang membenarkan maka sah jual belinya, jika tidak dibenarkan maka tidak sah. Hanafi: penjualannya sah dan bergantung pada izin pemiliknya. Adapun pembeliannya tidak tergantung pada izin. Maliki: sah tidaknya jual beli bergantung pada izin si pemilik.

Dari Hambali diperoleh dua riwayat dalam masalah ini. Tidak sah seseorang menjual barang yang belum tetap menjadi miliknya secara mutlak, seperti menjual sesuatu benda [barang] yang sudah dibeli tetapi belum diserahkan, baik berupa kebun [yang sudah dipindahtangankan] maupun yang bisa dipindahkan. Demikian menurut pendapat Syafi’i dan Muhammad bin al-Hasan. Hanafi: boleh menjual kebun yang sudah dibeli tapi belum diterima. Maliki: menjual makanan yang belum diserahkan adalah tidak sah, tetapi selain makanan adalah sah. Hambali: jika barang yang dijual itu berupa barang yang dapat ditimbang, atau barang yang dapat dihitung, atau barang yang dapat ditakar, tidak boleh dijual sebelum diserahkan kepadanya selain barang-barang tersebut boleh menjualnya.

Menerima barang ialah jika barang tersebut dapat dipindahkan atau dengan memindahkannya. Namun jika tidak dapat dipindahkan, seperti kebun dan buah-buahan yang masih berada di pohonnya, dengan takhliyah [mengosongkan tempat yang dijual dari barang-barang si penjual dan menyerahkan hak penguasaan kepada pembeli, seperti menyerahkan kuncinya jika yang dijual berupa rumah]. Hanafi: semuanya harus dengan takhliyah.

Para imam madzab sepakat tentang tidak sahnya menjual suatu barang yang tidak bisa diserahkan kepada pembelinya, seperti menjual burung di udara, ikan di air, dan budak yang melarikan diri. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. bahwa beliau membolehkan menjual budak yang melarikan diri. Dari Umar bin ‘Abdul Aziz dan Ibn Abi Laila, keduannya membolehkan penjualan ikan dalam kolam yang luas, meskipun memerlukan biaya yang besar untuk mengambilnya.

Tidak sah menjual barang yang belum jelas misalnya menjual kain di antara beberapa lembar kain. Demikian menurut Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Hanafi berpendapat: boleh menjual selembar kain di antara tiga kain, dengan syarat khiyar. Tidak sah jika lebih dari tiga.

Tidak sah menjual barang-barang yang tidak terlihat oleh penjual dan pembeli, yang tidak diterangkan sifat-sifatnya kepada keduanya. demikian menurut Maliki dan Syafi’i yang paling kuat. Hanafi berpendapat: sah dan boleh pembeli melakukan khiyar apabila ia telah melihatnya.

Para ulama Hanafi berbeda paham tentang jual beli yang tidak disebut jenis dan barangnya, seperti orang mengatakan: “Aku jual sesuatu yang ada di dalam mulutku.” Dari Hambali diperoleh dua riwayat tentang sah tidaknya menjual barang yang tidak dilihat oleh masing-masing penjual dan pembeli. Pendapat paling masyhur dari kedua riwayat tersebut: sah.

Penjualan dan pembelian yang dilakukan oleh orang buta tidak sah, apabila yang dijual itu hanya diterangkan kepadanya. Begitu juga penyewaan, penggadaian, dan penghibaannya. Demikian pendapat yang paling kuat dari Syafi’i. Kecuali jika ia melihat benda tersebut sebelum buta, yaitu benda yang tidak dapat berubah, seperti besi. Adapun menurut Hanafi, Maliki, dan Hambali: jual belinya sah, dan ia juga mempunyai hak khiyar jika benda tersebut telah dipegangnya.

Tidak sah menjual pasir yang masih berada di padang pasir. Demikian menurut tiga imam madzab. Sedangkan Hanafi berpendapat: sah.

Para imam madzab sepakat tentang sahnya menjual kasturi. Tidak sah menjual gandum yang masih berada di dalam bulirnya. Demikian menurut Syafi’i yang paling shahih. Hanafi, Maliki, dan Hambali berpendapat: sah.

Apabila seseorang berkata: “Aku jual jadam ini kepadamu, tiap gram harganya satu dirham.” Maka penjualannya sah. Demikian menurut Maliki, Syafi’i dan Hambali, Abu Yusuf dan Muhammad bin al-Hasan. Hanafi berpendapat: sah penjualan pada masing-masing gramnya, bukan pada keseluruhannya.
Jika seseorang berkata: “Aku jual kepadamu sepuluh gram dari jadam ini,” maka sah hukumnya. Demikian menurut kesepakatan para imam madzab. Dawud: tidak sah.

Demikian juga jika seseorang berkata: “Aku jual tanah ini kepadamu, tiap-tiap hasta harganya satu dirham.” Atau “Aku jual sekawanan kambing ini kepadamu, tiap ekor harganya satu dirham.” Maka sah penjualannya. Hanafi: tidak sah.
Jika seseorang berkata: “Aku jual sebanyak sepuluh hasta dari pekarangan ini kepadamu.” (luas seluruh pekarangan tersebut adalah seratus hasta), maka sah penjualan yang sepuluh hasta itu dan boleh diambil mana saja yang disukai oleh pembeli. Hanafi: tidak sah.

Jika dijual sepuluh gram dari setumpuk jadam, lalu ditimbang dan diserahkan kepada pembeli, kemudian pembeli datang kepada penjual dan mengatakan bahwa berat barang tersebut hanya sembilan gram, tetapi penjual mengingkarinya, maka dalam hal ini Syafi’i memiliki dua pendapat: pendapat yang paling shahih adalah: yang diterima adalah pengakuan pembeli, seperti ini juga pendapat Hanafi. Pendapat kedua: yang diterima adalah pengakuan penjual, demikian juga pendapat Maliki.

Menjual lebah, walaupun masih dalam sarangnya asalkan dapat dilihat hukumnya sah. Demikian menurut Maliki, Syafi’i dan Hambali. Hanafi berkata: menjual lebah tidak boleh.

Menjual susu yang masih dalam tetek binatang tidak sah. Demikian menurut Hanafi, Syafi’i dan Hambali. Maliki berpendapat: sah untuk beberapa hari jika diketahui kadar perasannya.
Seseorang menjual kambing karena kambing tersebut bersusu dan hukumnya sah. Hanafi: tidak sah.

Tidak boleh menjual bulu yang masih ada pada punggung domba. Demikian menurut Syafi’i, Hanafi, dan Hambali. Menurut Maliki: sah dengan syarat kambing itu dipotong.

Menurut tiga imam madzab: boleh menjual dirham dan dinar yang tidak diketahui beratnya. Sedangkan Maliki: tidak boleh.

Jika seseorang mengatakan: “Aku jual ini kepadamu dengan harga seratus mitsqal emas dan perak.” Oleh karena itu penjualannya tidak sah. Sedangkan Hanafi: sah dengan dijadikannya separuh emas dan separuh perak.

Para imam madzab sepakat bahwa membeli mushaf al-Qur’an hukumnya boleh. Namun mereka berbeda pendapat tentang menjualnya. Hanafi, Maliki dan Syafi’i: boleh dan tidak makruh. Hambali memakruhkannya. Adapun Ibn al-Qayim al-Jauziyah mengharamkannya.
Tidak diperbolehkan menjual mushaf kepada orang kafir. Demikian menurut Syafi’i yang paling kuat. Seperti itu pula salah satu pendapat Maliki.
Hanafi: sah menjual mushaf kepada orang kafir, dan hendaknya diperintahkan kepada orang kafir itu untuk melepaskan haknya. Demikian pula Maliki dan lainnya. Hambali: tidak sah secara mutlak.

Menjual anggur kepada pembuat khamr hukumnya makruh. Demikian kesepakatan para imam madzab, namun menurut Hambali: tidak boleh menjualnya.
Hasan al-Bashri: tidak apa-apa. Ats-Tsauri: boleh menjual barang-barang halal kepada siapapun yang dikehendakinya.

Menjual air mani (sperma) binatang jantan hukumnya haram, dan juga diharamkan menyewakan pejantannya. Demikian menurut Hanafi, Syafi’i dan Hambali. Menurut Maliki: mengambil bayaran atas pejantan dalam waktu tertentu itu dibolehkan karena pejantan itu melompat ke atas betina.

Haram hukumnya memisahkan antara ibu dan anaknya hingga anak tersebut mumayyiz. Jika dipisahkan melalui penjualan maka penjualannya bata. Demikian menurut Maliki, Syafi’i dan Hambali. Sedangkan Hanafi: penjualannya sah tetapi tidak boleh dipisahkan sebelum cukup umur. Akan tetapi memisahkan antara saudara-saudaranya tidak dibolehkan. Demikian menurut tiga imam madzab. Hanafi: tidak boleh.

&

Menyucikan Badan, Pakaian dan Barang Peralatan

22 Jul

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Bila badan dan pakaian kena najis, hendaklah dicuci dengan air sehingga hilang bila asalnya tidak dilihat, seperti darah. Bila setelah dicuci itu masih ada bekas yang sukar menghilangkannya, maka dimaafkan.
Dan jika najis itu tidak kelihatan seperti kencing, cukuplah mencucinya walaupun sekali. Dari ‘Asma binti Abu Bakar ra. katanya: “Salah seorang dari kami kainnya kena darah haid, apa yang harus diperbuatnya?” demikian tanya salah seorang wanita yang datang menanyakannya kepada Nabi saw. Nabi saw. menjawab: “Hendaklah dikoreknya kemudian digosok-gosokkannya dengan air, lalu dicuci, dan setelah itu akan disucikan oleh barang yang mengenai setelah itu.” (HR Ahmad dan Abu Daud)

Bila tanah ditimpa najis, maka disucikan dengan menumpahkan air padanya, berdasarkan hadits Abu Hurairah ra. katanya: Seorang Arab Badui berdiri lalu kencing di dalam masjid. Maka orang-orang pun sama berdiri untuk menangkapnya. Nabi saw. bersabda: “Biarkan dia dan siramlah kencingnya itu dengan seember atau setimba air, karena Tuan-tuan dibangkitkan untuk memberi keringanan dan bukan untuk menyebabkan kesukaran.” (HR Jama’ah kecuali Muslim)

Juga dibersihkan dengan jalan dikeringkan, baik tanah itu sendiri, maupun apa yang berhubungan erat dengannya seperti pohon dan bangunan.
Berkata Abu Qalabah: “Tanah kering adalah tanah yang suci.” Dan berkata ‘Aisyah ra: “Menyucikan tanah ialah dengan mengeringkannya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaiban)
Ini berlaku jika najis itu cair. Adapun bila beku maka tanah tidak jadi suci kecuali dengan melenyapkan benda najis tersebut atau membuangnya.

Diterima dari Ibnu Abbas ra. dari Maimunah ra.: bahwa Nabi saw. ditanya tentang tikus yang jatuh di dalam minyak samin, maka sabdanya: “Buanglah tikus itu begitupun samin yang terletak sekelilingnya, dan makanlah minyak samin yang tinggal.” (HR Bukhari)

Berkata Hafidz: “Menurut Ibnu Abdil Birr telah tercapai kesepakatan bahwa benda beku bila tertimpa bangkai, dibuang bangkai itu dengan yang terletak sekelilingnya, yakni bila ternyata bahwa bagian-bagian bangkai itu tidak mengenai yang lain. (mengenai benda cair, maka terdapat perbedaan pendapat). Jumhur ulama berpendapat bahwa semua menjadi najis disebabkan najis itu, dan sebagian kecil di antara mereka di antaranya Zuhri dan Auza’i berpendapat lain).”

Kulit binatang mati, baik bagian luar maupun dalamnya disucikan dengan jalan menyamaknya, berdasarkan hadits Ibn Abbas ra: bahwa Nabi saw. bersabda: “Bila kulit disamak, maka ia menjadi suci.” (HR Bukhari dan Muslim)

Menyucikan cermin, pisau, pedang, kuku, tulang, kaca, bejana berkilat dan setiap kepingan yang tidak ada lobang-lobangnya, ialah dengan jalan menggosok hingga dapat menghilangkan bekas najis. Para shahabat ra. melakukan shalat, sedang mereka membawa pedang yang pernah kena darah. Mata-mata pedang itu mereka hapus, dan cara itu mereka pandang cukup.

Terompah dan sepatu yang kena najis menjadi suci dengan menggosokkannya ke tanah, jika hilang bekas najis tersebut berdasarkan hadits Abu Hurairah ra.: bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Jika salah seorang di antaramu menginjak kotoran dengan terompahnya, maka tanah dapat menyucikannya.” (HR Abu Daud)
Dan dalam sebuah riwayat: “Jika ia menginjak kotoran dengan kedua sepatunya maka menyucikannya ialah dengan tanah.”

Dari Abu Sa’id: bahwa Nabi saw. bersabda: “Jika salah seorang di antaramu datang ke masjid, hendaklah dibalikkannya kedua terompahmu lalu dilihatnya, jika terdapat kotoran, hendaklah digosokkannya ke tanah, kemudian ia boleh memakainya dalam shalat.” (HR Ahmad dan Abu Daud)

Sebagai alasannya pula ialah bahwa sepatu dan terompah itu merupakan tempat yang biasanya sering kena najis, maka cukuplah disapu dengan benda keras sebagaimana halnya tempat istinja’, bahkan ini lebih pantas, karena tempat istinja’ itu dikenai najis hanya dua kali atau tiga kali saja sehari.

Tali cucian yang telah dipakai untuk menjemur pakaian-pakaian bernajis kemudian telah menjadi kering disebabkan sinar matahari atau angin, tidak apa digunakan lagi setelah itu untuk menjemur kain bersih.

Jika seseorang ditimpa sesuatu yang jatuh, dan ia tidak tahu apakah itu air atau kencing, tidaklah perlu bertanya, dan umpamanya ia menanyakan juga, maka yang ditanya tidak wajib menjawab, walau ia tahu bahwa itu sebetulnya najis, juga tidak wajib baginya mencuci itu.

Bila kakiatau pinggir kain bagian bawah kena sesuatu yang basah yang tidak dikenalnya apa wujudnya, tidaklah wajib ia membaui atau berusaha untuk mengenalnya, berdasarkan sebuah riwayat bahwa Umar ra. pada suatu hari lewat di sebuah tempat, kebetulan ia ditimpa sesuatu yang jatuh dari sebuah bumbung. Seorang teman ikut bersama Umar menanyakan: “Hai empunya bumbung, apakah airnya suci atau najis?” Umarpun berkata: “Hai empunya bumbung tak usah dijawab pertanyaan itu.” Dan ia pun berlalu.

Tidaklah wajib mencuci apa yang kena tanah jalanan. Berkata Kumail bin ziyad: “Saya lihat Ali ra memasuki lumpur bekas hujan. Kemudian ia masuk masjid, lalu shalat tanpa membasuh kedua kakinya.

Bila seseorang berpaling setelah shalat, lalu terlihat olehnya di kain atau di badannya najis yang tidak diketahui, atau ada diketahuinya tetapi ia lupa, atau tidak lupa tetapi tidak sanggup menghilangkannya, maka shalatnya sah dan tidak perlu mengulanginya, berdasarkan firman Allah: “Dan tidaklah kamu berdosa mengenai hal-hal yang tak disengaja.” (al-Ahzab: 5) inilah yang difatwakan oleh sebagian besar dari shahabat dan tabi’in.

Orang yang tidak mengetahui tempat najis sebenarnya pada kain, wajib mencuci keseluruhannya, karena tak ada jalan untuk mengetahui hilangnya najis secara meyakinkan kecuali mencuci dengan keseluruhannya itu. Ini termasuk dalam masalah “sesuatu yang mutlak diperlukan untuk menyempurnakan yang wajib, maka hukumnya menjadi wajib pula.”

Bila seseorang menaruh keraguan terhadap pakaiannya, mana di antaranya yang bersih dan mana yang kotor, hendaklah ia mengambil saja salah satu di antaranya lalu memakainya untuk sekali shalat, sebagaimana halnya dalam masalah kiblat, baik jumlah pakaian yang suci itu banyak atau sedikit.

Zakat Barang Tambang

15 Jul

Kajian Fiqih Empat Imam madzab
Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Empat imam madzab sepakat bahwa tidak diperlukan waktu setahun untuk zakat barang tambang, kecuali menurut salah satu pendapat Syafi’i. Mereka juga sepakat bahwa tidak diperlukan waktu setahun untuk zakat barang temuan.

Mereka juga sepakat bahwa untuk barang tambang diperlukan nisab, kecuali menurut Hanafi yang berpendapat: tidak perlua nisab bagi barang tambang, melainkan atas jumlah sedikit ataupun banyak wajib dizakati sebesar 20%.
Mereka juga sepakat bahwa tidak perlu nisab untuk barang temuan, kecuali menurut salah satu pendapat Syafi’i.

Para imam madzab berbeda pendapat tentang besarnya zakat yang dikeluarkan atas barang tambang. Hanafi dan Hambali: besarnya adalah 2,5%. Maliki dalam pendapatnya yang paling masyhur: besarnya adalah 2,5%. Sedangkan Syafi’i mempunyai dua pendapat dan pendapat yang paling shahih besarnya adalah: 2,5%.

Empat imam madzab berbeda tentang orang-orang yang boleh menerima zakat barang tambang. Hanafi: diberikan kepada orang yang berhak mendapat harta fa’i (harta rampasan dari musuh Islam tanpa peperangan), jika barang tambang tersebut diperoleh di tanah yang dikenai pajak atas tanah yang dikenai zakat sebesar 10%. Sedangkan, jika didapatkan dari pekarangan rumahnya sendiri maka tidak ada zakatnya. Maliki dan Hambali: diberikan kepada orang yang berhak menerima harta fa’i. Syafi’i: diberikan kepada orang yang berhak menerima zakat.

Empat imam madzab berbeda pendapat tentang orang yang berhak menerima zakat harta rikaz. Hanafi: seperti orang yang berhak menerima harta tambang. Syafi’i dalam pendapat yang paling masyhur: diberikan kepada orang yang berhak menerima barang tambang. Hambali memiliki dua pendapat. Pertama, mereka yang berhak menerima harta fa’i. Kedua, mereka yang berhak menerima zakat. Sedangkan menurut Maliki: mereka berhak menerima ghanimah (harta rampasan perang) dan jizyah. Terserah pada pertimbangan imam (kepala negara), kepada siapa harta rikaz tersebut diberikan, asalkan untuk kemashlahatan.

Zakat barang tambang hanya terbatas pada emas dan perak. Demikian menurut Maliki dan Syafi’i. Oleh karena itu jika barang yang dihasilkan dalam penambangan bukan berupa emas dan perak, seperti mutiara, maka tidak wajib dizakati. Hanafi: segala barang tambang yang dikeluarkan dari bumi, berupa barang yang dapat dicetak dengan memanaskan api, serperti besi dan timah. Hambali: segala barang tambang yang dikeluarkan dari bumi, baik yang dapat dicetak dengan api maupun tidak, berupa celak sekalipun.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 103 pengikut lainnya.