Tag Archives: Mendoakan

Mendoakan Orang Sakit

19 Jul

Dr. Yusuf Qardhawy; Fatwa Kontemporer; Fiqih Kontemporer

Cara seorang muslim menjenguk saudaranya yang sakit berbeda dengan cara yang dilakukan orang lain (selain Islam), karena disertai dengan jampi dan doa. Maka diantara sunnahnya ialah si penjenguk mendoakan si sakit dan menjampinya (membacakan bacaan-bacaan tertentu) yang ada riwayatnya dari Rasulullah saw..

Imam Bukhari menulis “Bab Du’a al-‘Aa’id lil-Maridh” (Bab Doa Pengunjung untuk Orang Sakit), dan menyebutkan hadits Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw. apabila menjenguk orang sakit atau si sakit yang dibawa kepada beliau, beliau mengucapkan: “Hilangkanlah penyakit ini, wahai Tuhan bagi manusia, sembuhkanlah, Engkau adalah Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan selain kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.”27

Dan Nabi saw. pernah menjenguk Sa’ad bin Abi Waqash kemudian mendoakannya: “Ya Allah sembuhkanlah Sa’ad, dan sempurnakanlah hijrahnya.”28

Ada suatu keanehan sebagaimana dikemukakan dalam al-Fath (Fathul-Bari), yaitu adanya sebagian orang yang menganggap musykil mendoakan kesembuhan si sakit. Mereka beralasan bahwa sakit dapat menghapuskan dosa dan mendatangkan pahala,
sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits. Maka terhadap kemusykilan ini al-Hafizh Ibnu Hajar memberikan jawaban demikian, “Sesungguhnya doa itu adalah ibadah, dan tidaklah saling meniadakan antara pahala dan kafarat, sebab keduanya diperoleh pada permulaan sakit dan dengan sikap sabar terhadapnya. Adapun orangyang mendoakan akan mendapat dua macam kebaikan, yaitu mungkin berhasil apa yang dimaksud –atau diganti dengan mendapatkan kemanfaatan lain—atau ditolaknya suatu bahaya, dan semua itu merupakan karunia Allah Ta’ala.”29

Memang, seorang muslim harus bersabar ketika menderita sakit atau ditimpa musibah, tetapi hendaklah ia meminta keselamatan kepada Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah saw.: “Janganlah kamu mengharapkan bertemu musuh, dan mintalah keselamatan kepada Allah. Tetapi apabila kamu bertemu musuh, maka bersabarlah, dan ketahuilah bahwasanya surga itu di bawah bayang-bayang pedang.”30

Di dalam hadits lain beliau bersabda: “Mintalah ampunan dan keselamatan kepada Allah, sebab tidaklah seseorang diberi sesuatu setelah keyakinan, yang lebih baik daripada keselamatan.”31

Juga dalam hadits Ibnu Abbas, bahwa Nabi saw. bersabda: “Perbanyaklah berdoa memohon keselamatan.”32

Salah satu doa beliau saw. adalah: “Ya Allah, aku memohon kepada-Mu penjagaan dari yang terlarang dan keselamatan dalam urusan dunia dan agamaku, keluarga dan hartaku.”33

Di antara doa yang ma’tsur lainnya ialah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila seseorang menjenguk orang sakit, maka hendaklah ia mendoakannya dengan mengucapkan, “Ya Allah, sembuhkanlah hamba-Mu, agar dia dapat membunuh musuh-Mu, atau berjalan kepada-Mu untuk melakukan shalat.”34

Artinya, dalam kesembuhan orang mukmin itu terdapat kebaikan untuk dirinya dengan dapatnya ia melaksanakan shalat, atau kebaikan untuk umatnya karena mampu menunaikan jihad.

Sedangkan yang dimaksud dengan “musuh” di sini mungkin orang-orang kafir yang memerangi umat Islam, atau iblis dan tentaranya. Maka dengan kesehatannya seorang muslim dapat menumpas mereka dengan serangan-serangannya, dan dapat mematahkan argumentasi mereka dengan hujjah yang dapat dipercaya.35

Selain itu, ada lagi hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: “Barangsiapa yang menjenguk orang sakit yang belum tiba ajalnya, lalu ia mengucapkan doa ini disampingnya sebanyak tujuh kali: (Aku mohon kepada Allah Yang Maha Agung Tuhan bagõ ‘arsy yang agung, semoga la berkenan menyembuhkanmu), niscaya Allah akan menyembuhkannya dari penyakit tersebut.”36

Sumber: http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Halal/index.html#3

Doa Hendak Tidur

21 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Firman Allah: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, [yaitu] orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk, atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi.” (Ali Imraan: 190-191)

Dari Hudzaifah dan Abu Dzarr. Bahwasannya Rasulullah saw. apabila menuju ke tempat tidurnya, beliau mengucapkan: BismikallaaHumma ahyaa wa amuut (dengan menyebut nama Allah, ya Allah, hamba hidup dan hamba mati.)” (HR Bukhari)

Dari Ali ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda kepadanya dan kepada Fatimah ra.: “Apabila kalian berdua menuju ke tempat tidur kalian –atau telah mempersiapkan pembaringan, maka bertakbirlah tiga puluh tiga kali, membaca tasbih tiga puluh tiga kali, dan membaca hamdalah tiga puluh tiga kali. Dan dalam riwayat lain dikatakan: “Tasbihlah tiga puluh empat kali,” dan dalam riwayat lain dikatakan: “Takbir tiga puluh empat kali.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian mendatangi tempat tidurnya [untuk tidur] maka hendaknya dalam kain sarungnya. Sebab ia tidak tahu apa yang terdapat di balik tilamnya itu. Kemudian ia membaca: bismika rabbii wa-dla’tu janbii wa bika arfa-‘uHuu, in amsakta nafsii farhamnaa, wa in arsaltaHaa fahfadzHaa biHaa tahfadh-Haa bimaa tahfadhu biHii ‘ibaadakash shaalihiin (dengan menyebut nama-Mu, wahai Tuhanku, aku letakkan pinggangku, dengan menyebut nama-Mu pula aku mengangkatnya. Jika Engkau menahan jiwaku, maka rahmatilah jiwaku itu. Dan jika Engkau melepaskannya dengan pemeliharaan seperti Engkau memelihara hamba-hamba-Mu yang shalih.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Aisyah ra. bahwasannya Rasulullah saw. apabila mendatangi tempat tidurnya, maka beliau meniup kedua tangannya kemudian membaca Qul a-‘uudzu birabbil falaq dan qul a’uudzu birabbin naas serta mengusap kedua tangannya ke seluruh badannya.” (HR Bukhari Muslim)
Di dalam riwayat lain dikatakan: “Apabila Nabi saw. mendatangi tempat tidurnya pada setiap malam, maka beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya, kemudian beliau meniupnya lantas membaca: Qul HuwallaaHu ahad, Qul a-‘uudzubirabbil falaq dan Qul a-‘uudzu birabbin naas. Kemudian beliau mengusapkan kedua tangannya ke seluruh badannya, dimulai dari kepala, muka dan badan bagian depan, dengan diulangi tiga kali.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Barra’ bin Azib ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepada saya: “Apabila kamu mendatangi pembaringanmu, maka berwudlulah seperti wudlu untuk shalat, kemudian berbaringlah pada lambung kananmu dan ucapkanlah: allaaHumma aslamtu nafsii ilaika, wa fawwadl-tu amrii ilaika, walja’tu ilaika, ra’batan wa raHbatan ilaika, laa malja-a walaa man-jaa minka illaa ilaika, amantu bikitaabikalladzii anzalta, wa binabiyyikalladzii arsalta (Ya Allah, saya serahkan diriku kepada-Mu, saya hadapkan wajahku kepada-Mu, saya pasrahkan urusanku kepada-Mu, saya lindungkan punggungku kepada-Mu, dengan senang hati dan takut kepada-Mu. Tak ada tempat berlindung dan tidak ada pula tempat keselamatan dari siksa-Mu kecuali hanya kepada-Mu. Saya beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus). Maka seandainya engkau mati malam itu, kamu berada dalam keadaan fitrah [tanpa dosa]. Jadikanlah kalimat-kalimat tersebut sebagai akhir apa yang kamu ucapkan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Anas ra. bahwasannya apabila Nabi saw. hendak tidur, beliau membaca: alhamdulillaaHil ladzii ath-amanaa wa saqaanaa wa kafaanaa wa awaanaa, fakam mimman laa kaafiya laHuu wa laa mu’wiya (Segala puji bagi Allah yang telah memberi kecukupan dan memberi kami tempat tinggal. Berapa banyak orang yang tidak berkecukupan dan tidak bertempat tinggal).” (HR Muslim)

Dari Hudzaifah ra. bahwasannya apabila Rasulullah saw. hendak tidur, beliau meletakkan tangan kanannya di bawah pipinya kemudian berdoa: AllaaHumma qinii ‘adzaabaka yauma tab’atsu ‘ibaadaka (Ya Allah, selamatkan hamba-hamba-Mu)” (HR Turmudzi)
Hadits ini diriwayatkan juga oleh Abu Dawud dari Hafshah ra. dan disitu disebutkan bahwa Rasulullah saw. membaca doa tersebut sebanyak tiga kali.

Keutamaan Mendoakan Orang Lain

21 Jun

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Firman Allah: “Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah ampun kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami.” (al-Hasyr: 10)

Firman Allah: “Dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi [dosa] orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan.” (Muhammad: 19)

Firman Allah: “Dengan mensitir doa Nabi Ibrahim: Yaa Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab [hari kiamat].” (Ibrahim: 41)

Dari Abu Darda’ ra. bahwasannya ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Tiada seorang muslim yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya, kecuali malaikat berkata: “Dan untukmu pula seperti itu.” (HR Muslim)

Dari Abu Darda’ ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Doa seorang muslim kepada saudaranya dengan tidak diketahui saudaranya itu mustajab [dikabulkan], pada seorang muslim itu ada malaikat yang diberi tugas supaya tiap ia mendoakan baik kepada saudaranya, maka malaikat yang diberi tugas itu mengucapkan: “Semoga Allah berkenan mengabulkan, dan buat kamu juga seperti itu.” (HR Muslim)

Saling Mendoakan Ketika Berpisah

20 Mei

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Allah berfirman: “Dan Ibrahim telah Mewasiatkan Ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, Maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam.” Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” mereka menjawab: “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (al-Baqarah: 132-133)

Hadits Zaid bin Arqam ra. (ini juga sudah disebutkan pada bab Memuliakan keluarga Rasulullah saw.) ia berkata: Rasulullah saw. berdiri di tengah-tengah kami untuk menyampaikan khutbah. Setelah memuji dan menyanjung Allah serta memberi nasehat dan peringatan, beliau bersabda: “Oleh karena itu, ingatlah wahai sekalian manusia. Sesungguhnya aku adalah manusia biasa, barangkali utusan Tuhanku datang dan aku harus menyambutnya. Aku tinggalkan dua hal yang berat kepada kalian. Pertama Kitabullah (al-Qur’an) yang di dalamnya penuh dengan petunjuk dan cahaya, maka pergunakanlah dan pegang teguh al-Qur’an.” Beliau sangat menganjurkan dan mendorong agar kita selalu berpegang teguh pada al-Kitab (al-Qur’an). Beliau bersabda lagi: “Dan ahli bait (keluargaku) aku peringatkan kalian dengan nama Allah tentang ahli baitku.” (HR Muslim)

Dari Abu Sulaiman Malik bin al-Huwairits ra. ia berkata: Kami dan beberapa pemuda tinggal di tempat Rasulullah saw. selama dua puluh hari. Rasulullah saw. seorang yang sangat penyayang dan lembut hati. Beliau menyangka bahwa kami sudah rindu kepada keluarga kami, maka beliau menanyakan tentang keluarga yang kami tinggalkan dan kami pun memberitahukannya. Beliau bersabda: “Kembalilah kepada keluarga kalian dan tinggallah di tengah-tengah mereka, serta ajarkan dan suruhlah mereka untuk mengerjakan shalat. Shalatlah kalian waktu ini dan waktu ini. Apabila waktu shalat telah tiba, hendaklah di antara kalian mengumandangkan adzan dan orang tertua di antara kalian hendaklah menjadi imam.” Di dalam riawayat Bukhari terdapat tambahan: “Dan shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat cara shalatku.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Umar bin Kaththab ra.ia berkata: Saya minta izin kepada Nabi saw. untuk melakukan umrah. Kemudian beliau memberi izin kepadaku dan berpesan: “Wahai saudaraku, jangan lupakan kami dari doamu.” Umar berkata: “Kalimat itu, bagi saya lebih membahagiakan daripada mendapat kekayaan dunia.” Dalam riwayat lain dikatakan: “Wahai saudaraku, sertakanlah kami dalam doamu.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Dari Salim bin Abdullah bin Umar ra. ia berkata: “Abdullah bin Umar ra. apabila bertemu dengan orang yang akan bepergian ia berkata: “Mendekatlah kepadaku, aku akan menitipkan kepadamu, sebagaimana Rasulullah saw. selalu menitipkan kepada kami, kemudian berkata kepadanya: “Aku menitipkan kepada Allah, agamamu, amanahmu dan penghabisan amalmu.” (HR Tirmidzi)

Dari Abdullah bin Yazin al-Khathmiy ash-Shahabiy ra. ia berkata: “Apabila Nabi saw. melepas suatu pasukan, beliau bersabda: “Aku menitipkan kepada Allah agamamu, amanahmu dan penghabisan amalmu.” (HR Abu Daud)

Dari Anas ra. ia berkata: Ada seseorang datang kepada Nabi saw. dan berkata: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya saya akan bepergian. Oleh karena itu berilah saya bekal.” Beliau bersabda: “Semoga Allah membekalimu dengan takwa.” Ia berkata lagi: “Tambahlah bekal itu.” Beliau bersabda: “Semoga Allah mengampuni dosamu.” Ia berkata lagi: “Tambahlah bekal itu.” Beliau bersabda: “Semoga Allah memudahkan kebaikan bagimu di manapun kamu berada.” (HR Tirmidzi)

Mendoakan Orang Bersin

3 Mei

Riyadhush shalihin; Imam nawawi; al-Qur’an-Hadits

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah itu suka kepada bersin dan benci kepada menguap. Maka apabila salah seorang di antara kamu bersin dan ia memuji Allah Ta’ala (membaca hamdalah), maka bagi setiap orang muslim yang mendengarnya wajib mengucapkan: YarhamukallaaH (“Semoga Allah mengasihi kamu”). Adapun menguap itu adalah berasal dari setan, maka apabila salah seorang di antara kamu menguap, hendaknya ia menahannya semampunya, karena apabila salah seorang di antara kamu sekalian itu menguap maka setan mentertawakannya.” (HR Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu sekalian bersin maka hendaklah ia mengucapkan: alhamdulillaaH (“Segala puji bagi Allah.”), dan hendaklah saudara atau kawannya mengucapkan: YarhamukallaaH (“Semoga Allah mengasihi kamu.”). apabila ada seorang mengucapkan: yarhamukallaaH, maka hendaklah orang yang bersin mengucapkan: YahdikumullaaH (“Semoga Allah menberi petunjuk kepadamu dan semoga Allah selalu menunjukkan kebaikan kepada hatimu.”) (HR Bukhari)

Dari Abu Musa ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu sekalian bersin dan ia memuji kepada Allah maka doakanlah ia. Dan apabila ia tidak memuji kepada Allah, maka janganlah kamu mendoakannya.” (HR Muslim)

Dari Anas ra. ia berkata: Ada dua orang bersin di hadapan Nabi saw. kemudian beliau mendoakan kepada salah seorang di antara keduanya itu dan tidak mendoakan kepada yang lain. Maka orang yang tidak didoakan berkata: “Si Fulan bersin kemudian engkau mendoakannya. Dan saya bersin mengapa tidak mendoakan saya?” Beliau bersabda: “Si Fulan ini memuji kepada Allah sedangkan kamu tidak memuji kepada Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: “Rasulullah saw. apabila bersin, maka beliau meletakkan tangan dan mulutnya dan beliau merendahkan atau menekan suaranya.” Perawi bimbang. (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Abu Musa ra. ia berkata: Orang-orang Yahudi bersin di hadapan Rasulullah saw. dengan harapan agar beliau mengucapkan: yarhamukallah, tetapi beliau hanya mengucapkan: Yahdikumullah wa yushlihu baalakum.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu sekalian menguap, maka hendaklah ia menutup tangan pada mulutnya, karena sesungguhnya setan akan masuk ke mulutnya.” (HR Muslim)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 104 pengikut lainnya.