Tag Archives: najis

Macam-Macam Najis

22 Jul

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq

Najis ialah kotoran yang bagi setiap Muslim wajib menyucikan diri daripadanya dan menyucikan apa yang dikenainya.
Firman Allah: “Mengenai pakaianmu, hendaklah kamu bersihkan.” (al-Muddatstsir: 4)
Firman Allah: “Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang tobat, dan mengasihi orang-orang yang bersuci.” (al-Baqarah: 222)
Sabda Rasulullah saw.: “Bersuci itu sebagian dari keimanan.”

Macam-macam najis adalah:
1. Bangkai: ialah yang mati secara begitu saja artinya tanpa disembelih menurut ketentuan agama. Termasuk juga dalam hal ini apa yang dipotong dari binatang hidup, berdasarkan hadits Abu Waqib al-Laitsi:
Telah bersabda Rasulullah saw.: “Apa yang dipotong dari binatang ternak, sedang ia masih hidup, adalah bangkai.” (HR Abu Daud dan Turmudzi yang diakuinya sebagai hadits hasan. Katanya: “Bagi ahli ilmu, ketentuan ini dituruti.”)

Dikecualikan dari itu:
a. Bangkai ikan dan belalang, maka ia suci, karena hadits Ibnu Umar ra.: Telah bersabda Rasulullah saw.: “Dihalalkan bagi kita dua macam bangkai, ialah bangkai ikan dan belalang, sedang mengenai darah, ia adalah hati dan limpha.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Syafi’i, Ibnu Majah, Baihaqi dan Daruquthni, tetapi hadits ini dlaif. Hanya Imam Ahmad yang mensahkannya sebagai hadits mauquf, sebagaimana dikatakan oleh Zar’an dan Abu Hatim)

Sedang hadits seperti ini hukumnya marfu’ artinya silsilah sanadnya sampai kepada Nabi, karena ucapan shahabat: dihalalkan bagi kami ini, atau diharamkan bagi kami itu, adalah serupa dengan ucapannya: kami diperintahkan dan kami dilarang.
Dan telah kita sebutkan sebelumnya sabda Nabi saw. mengenai laut yang artinya: “Airnya suci lagi menyucikan, dan bangkainya halal buat dimakan.”

b. Bangkai binatang yang tidak punya darah mengalir seperti semut, lebah dan lain-lain, maka ia adalah suci. Jika ia jatuh ke dalam sesuatu dan mati di sana, maka tidaklah menyebabkannya bernajis.

Berkata Ibnul Mundzir: “Tidak saya ketahui adanya perbedaan pendapat tentang sucinya apa yang disebutkan tadi, kecuali apa yang diriwayatkan dari Syafi’i. Dan yang lebih populer dari madzabnya ialah najis, hanya dimaafkan jika jatuh ke dalam benda cair selama benda cair itu tidak berubah karenanya.”

c. Tulang dari bangkai, tanduk, bulu, rambut, kuku dan kulit serta apa yang sejenis dengan itu hukumnya suci karena asalnya semua itu adalah suci dan tak ada dalil mengatakan najisnya.

Berkata az-Zuhri mengenai tulang-belulang bangkai seperti misalnya gajah dan lain-lain: “Saya dapati orang-orang dari ulama-ulama Salaf mengambil sebagai sisir dan menjadi minyak, demikian itu tidak jadi apa-apa.” (Riwayat Bukhari)

Dan diterima dari Ibnu Abbas, katanya: majikan dari Maimunah menyedekahkan kepadaku seekor domba, tiba-tiba ia mati. Kebetulan Rasulullah saw. lewat maka sabdanya: “Kenapa tidak kalian ambil kulitnya buat disamak, hingga dapat dimanfaatkan?” “Bukankah itu bangkai?” ujar mereka. “Yang diharamkan ialah memakannya.” Ujar Nabi pula. (HR Jama’ah Ibnu Majah yang di dalam riwayatnya tersebut: “Dari Maimunah”, sementara dalam riwayat Bukhari dan Nasa’i tidak disebutkan soal menyamak)

Dan dari Ibnu Abbas ra. bahwa ia membacakan ayat berikut ini: “Katakanlah: menurut apa yang diwahyukan kepadaku tidak kujumpai makanan yang diharamkan kecuali bangkai.” (sampai akhir ayat 145 dari surah al-An’am). Kemudian ulasannya: “Yang diharamkan itu hanyalah apa yang dimakan. Mengenai kulit, air kulit, gigi, tulang, rambut dan bulu, maka ia halal.” (HR Ibu Mundzir dan Ibnu Hasyim)

Begitu pula sari susu bangkai dan susunya suci, karena para shahabat sewaktu menaklukkan negeri Irak, mereka memakan keju orang-orang Majusi padahal itu dibuat dari susu, sedang sembelihan mereka itu dipandang sama dengan bangkai.

Sebuah riwayat yang berasal dari Salman al-Farisi ra. bahwa ia ditanya mengenai sedikit keju, lemak dan bulu, maka jawabnya: “Yang halal adalah apa yang dihalalkan Allah dalam kitab-Nya, dan yang haram apa yang diharamkan dalam kitab-Nya, dan apa-apa yang didiamkan-Nya termasuk barang yang dimaafkan-Nya.” Dan sebagaimana diketahui pertanyaan tersebut adalah mengenai keju orang-orang Majusi, yakni sewaktu Salman menjadi gubernur ‘Umar bin Khaththab di Madain.

2. Darah, baik ia darah yang mengalir atau tertumpah, misalnya yang mengalir dari hewan yang disembelih, ataupun darah haid. Tetapi dimaafkan kalau hanya sedikit.
Dari Ibnu Juraij mengenai firman Allah Ta’ala: aw damam masfuuhan; katanya yang dimaksud dengan darah masfuha itu ialah darah yang mengucur sedang yang terdapat dalam urat-urat itu tidak jadi apa (dikeluarkan oleh Ibnul Mundzir)

Dan sewaktu kepada Abu Mijlaz ditanyakan tentang darah yang terdapat di bekas sembelihan domba (leher) atau darah yang dijumpai di permukaan periuk, ujarnya: “Tidak apa-apa yang dilarang itu hanyalah darah yang tertumpah.” (diriwayatkan oleh Abdu Hamid dan Abu Syeikh)

Dari ‘Aisyah ra. katanya: “Kami makan daging sedang darah tampak merupakan benang-benang dalam periuk.” Kata Hasan pula: “Kaum Muslimin tetap melakukan shalat dengan luka-luka mereka.” (diriwayatkan oleh Bukhari)

Kemudian ada lagi sebuah riwayat yang sah dari Umar ra. bahwa ia shalaat sedang lukanya masih berdarah. (Disebutkan oleh Hafidh dalam al-Fat-h)

Sementara Abu Hurairah ra. berpendapat tidak apa dibawa shalat kalau hanya setetes atau dua tetes darah.
Adapun darah nyamuk dan darah yang menetes dari bisul-bisul, maka dimaafkan berdasarkan atsar, atau riwayat dari para shahabat tadi. Dan ditanyakan kepada Abu Mijlaz mengenai bisul yang menimpa badan atau pakaian. Ujarnya: “Tidak apa, kerena yang disebutkan oleh Allah hanya darah dan tidak disebut-Nya dengan tentang nanah.” Berkata Ibnu Taimiyah: “Wajib mencuci kain dari nanah beku dan nanah yang bercampur darah.” Ulasnya pula: “Tetapi tidak ditemukan dalil mengenai najisnya.”
Demikianlah dan yang lebih utama, agar manusia menjaganya sedapat mungkin.

3. Daging babi
Firman Allah: “Katakanlah: Tidak kujumpai di dalam wahyu yang disampaikan kepadaku makanan yang diharamkan kecuali bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi, karena itu adalah najis.” (sampai akhir ayat 145 surah al-An’am)
Maksudnya karena semua itu adalah menjijikkan yang tak disukai oleh selera yang sehat. Maka kata ganti “itu” kembali kepada ketiga jenis tersebut. Mengenai bulu babi, menurut pendapat ulama yang terkuat, dibolehkan untuk diambil benang jahit.

4. Muntah
5. Kencing
6. Kotoran manusia.
Najis semua itu disepakati oleh bersama, hanya kalau muntah itu sedikit, maka dimaafkan. Begitu pula diberi keringanan terhadap kencing bayi laki-laki yang belum diberi makan, maka cukup buat menyucikannya dengan jalan memercikkannya dengan air, berdasarkan hadist Ummu Qais ra. yang artinya: “Bahwa ia datang kepada Nabi saw. membawa bayinya yang laki-laki yang belum lagi sampai usia untuk diberi makan, dan bahwa bayinya itu kencing dalam pangkuan Nabi. Maka Nabi pun meminta air lalu memercikkannya (maksudnya sebagaimana tersebut pada riwayat-riwayat lain ialah menebarkan air dengan jari-jari, tidak sampai banyak hingga mengalir) ke atas kainnya, dan tidak mencucinya berkali-kali.” (disepakati oleh ahli-ahli hadits)

Dari Ali ra. katanya: telah bersabda Rasulullah saw.: “Kencing bayi laki-laki diperciki air, sedangkan kencing bayi perempuan hendaklah dicuci.” Berkata Qatadah: “Ini selama kedua mereka ini belum diberi makan, jika sudah, maka kencing mereka hendaknya dicuci.” (HR Ahmad –dengan lafadh atau susunan kata daripadanya- dan Ashabus Sunan kecuali Nasa’i. Berkata Hafidh dalam al-Fat-h: “Isnadnya adalah sah.”)

Kemudian memerciki itu hanya cukup, selama bayi tiada beroleh makanan selain dari jalan menyusu. Adapun bila ia telah diberi makan, maka tak ada perbedaan pendapat tentang wajib mencucinya. Keringanan dengan cukup diperciki itu mungkin sebabnya karena gemarnya orang-orang buat menggendong bayi hingga sering kena kencing dan masyaqqah atau sulit buat mencucinya, diberi keringanan dengan cara tersebut.

7. Wadi
Yaitu air putih kental yang keluar mengiringi kencing. Ia adalah najis tanpa perbedaan pendapat. Berkata ‘Aisyah ra.: “Adapun wadi ia adalah setelah kencing, maka hendaklah seseorang mencuci kemaluannya lalu berwudlu dan tidak usah mandi.” (Riwayat Ibnul Mundzir)

Dan dari Ibnu Abbas ra. mengenai mani, wadi dan madzi, katanya: “Adapun mani, hendaklah mandi, mengenai madzi dan wadi, pada keduanya berlaku cara bersuci.” (diriwayatkan oleh Atsram dan Baihaqi, sedang pada Baihaqi lafadhnya adalah sebagai berikut: “Adapun wadi dan madzi, katanya, cucilah kamaluanmu atau tempat kemaluanmu, dan laukanlah pekerjaan wudlu-mu untuk shalat.”)

8. Madzi: yakni air putih bergetah yang keluar sewaktu mengingat senggama atau ketika sedang bercanda. Kadang-kadang keluarnya tidak terasa. Terdapat pada laki-laki dan perempuan hanya lebih banyak pada golongan perempuan. Hukumnya najis menurut kesepakatan ulama, hanya bila ia menimpa badan wajib dicuci, dan jika menimpa kain, cukuplah dengan memercikinya dengan air karena ini merupakan najis yang sukar menjaganya sebab sering menimpa pakaian pemuda-pemuda sehat, hingga lebih layak mendapat keringanan dari kencing bayi.

Dari ‘Ali ra., katanya: Aku adalah seorang laki-laki yang banyak madzi, maka kusuruh seorang kawan menanyakan kepada Nabi saw. mengingat aku adalah suami putrinya. Kawan itupun menanyakan, maka jawab Nabi: ‘Berwudlulah dan cucilah kemaluanmu.’” (HR Bukhari dan lain-lain)

Dari Sahl bin Hanif ra. katanya: Aku mendapat kesusahan dan kesulitan disebabkan madzi dan sering mandi karenanya. Maka kusampaikan hal itu kepada Rasulullah saw. dan ujarnya: “Cukuplah kamu berwudlu karena itu.” Lalu kataku pula: “Ya Rasulallah, bagaimana yang menimpa kainku?” Sabdany: “Cukup bila engkau ambil sesauk air lalu percikkan ke kainmu hingga jelas olehmu mengenainya.” (Diriwayatkan oleh Abu Daud, Ibnu Majah dan Turmudzi serta katanya: “Hadits ini hasan lagi shahih.”)

Di dalam hadits ini terdapat Muhammad bin Ishak, dan ia adalah dlaif bila meriwayatkan disebabkan mudallas, hanya di sini ia tegas-tegas meriwayatkan hadits.

Juga hadits tersebut diriwayatkan oleh al-Astram ra. dengan lafadh: “Aku banyak menemukan kesusahan karena madzi, maka akupun datang menemui Nabi saw. dan mengatakan hal itu kepadanya. Ujarnya: “Cukuplah bila kau mengambil sesauk air lalu memercikkan ke atasnya.”

9. Mani.
Sebagian ulama berpendapat bahwa ia najis. Pendapat yang kuat adalah ia suci, tetapi disunahkan mencucinya bila ia basah, dan mengoreknya bila kering. Berkata ‘Aisyah ra.: “Kukorek mani itu dari kain Rasulullah saw. bila ia kering, dan kucuci bila ia basah.” (Riwayat Daruquthni, Abu Uwanah dan al-Bazzar)

Dari Ibnu Abbas, katanya: Nabi saw. ditanya orang mengenai mani yang mengenai kain, maka jawabnya: “Ia hanyalah seperti ingus dan dahak, maka cukuplah bagimu menghapusnya dengan secarik kain atau dengan daun-daunan.” (Riwayat Daruquthni, Baihaqi dan Thahawi, sedang hadits menjadi perbantahan mengenai marfu’ atau mauqufnya, yakni tentang sampai sanadnya kepada Nabi saw. atau hanya sampai shahabat saja).

10. Kencing dan tahi binatang yang tidak dimakan dagingnya
Keduanya adalah najis karena hadits Ibnu Mas’ud ra. katanya: Nabi saw. hendak buang air besar, maka disuruhnya aku mengambilkan tiga buah batu. Dapatlah aku dua buah, dan kucari sebuah lagi tapi tidak ketemu. Maka kuambillah tahi kering lalu kuberikan kepadanya. Kedua batu itu diterima oleh Nabi, tetapi tahi tadi dibuangnya. Sabdanya: “Ini najis.” (HR Bukhari, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah)
Yang menambahkan dalam sebuah riwayat: “Ini najis, ini adalah tahi keledai.” Dan dimaafkan bila hanya sedikit, karena susah menjaganya. Berkata Walid bin Muslim: “Saya tanyakan kepada Auza’i: “Bagaimana tentang kencing binatang yang tidak dimakan dagingnya seperti bagal, keledai dan kuda?” Ujarnya: “Mereka mendapatkan kesulitan disebabkan itu dalam peperangan, dan tidaklah mereka cuci baik yang mengenai tubuh ataupun kain.”

Mengenai kencing atau tahi hewan yang dimakan dagingnya, di antara ulama mengatakan suci adalah Malik, Ahmad dan segolongan dari ulama madzab Syafi’i. Berkata Ibnu Taimiyah: “Tak seorang pun di antara shahabat yang mengatakan najis, bahkan mengatakannya najis itu adalah ucapan yang dibuat-buat yang tak ada dasarnya di kalangan shahabat yang dulu-dulu. Sekian.

Dari Anas ra. katanya: Orang-orang Ukul dan Ukrainah datang ke Madinah dan tertimpa sakit perut. Maka Nabi saw. menyuruh mereka untuk mencari unta perahan dan supaya meminum kencing dan susunya.” (HR Ahmad dan kedua Syaikh yakni Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menjadi dalil tentang sucinya kencing unta.

Dan binatang-binatang lain yang dimakan dagingnya diqiyaskan kepadanya. Berkata Ibnul Mundzir: “Orang-orang yang mengatakan bahwa ini khusus bagi orang tesebut, tidaklah benar, karena keistimewaan itu tidak dapat diterima kecuali bila ada alasan.” Ulasnya lagi: “Dibiarkannya oleh ahli-ahli ilmu orang-orang itu menjual tahi kambing di pasar-pasar, dan menggunakan kencing unta buat obat-obatan baik di masa dulu maupun sekarang tanpa dapat disangkal, menjadi bukti atas sucinya.”

Berkata Syaukani: “Yang kuat ialah sucinya kencing dan sisa makanan dari setiap hewan yang dimakan dagingnya, berpegang kepada asal dan ishtish-hab lil baraatil ashliyah artinya mempertahankan hukum lama yakni kebebasan menurut asal. Sedang sifat dan keadaan najis itu adalah suatu hukum syara’, yang berpindah dari hukum yang dikehendaki oleh asal dan kebebasan, hingga ucapan orang yang mengakuinya tak dapat diterima kecuali bila ada dalil yang dapat dipakai alasan untuk memindahkan daripadanya, padahal dari orang-orang yang mengatakannya najis, tidak kita temui alasan tersebut.

11. Binatang jallalah, karena ada larangan terhadap mengendarai jallalah, memakan daging atau meminum susunya.
Dari Ibnu Abbas ra. katanya: Telah melarang Rasulullah saw. meminum susu jallalah.” (diriwayatkan oleh Yang Berlima kecuali Ibnu Majah, dan oleh Turmudzi dikatakan shahih)
Dan pada sebuah riwayat: “Nabi melarang mengendarai jallalah.” (HR Abu Dawud)

Dan diterima dari Umar bin Syu’aib, dari ayah dan seterusnya dari kakeknya ra. katanya: Rasulullah saw. melarang memakan daging keledai piaraan, begitu pun jallalah, baik mengendarai atau memakan dagingnya.” (HR Ahmad, Nasa’i dan Abu Daud)

Yang dimaksud dengan jallalah adlah binatang-binatang yang memakan kotoran, baik berupa unta, sapi, kambing, ayam, itik dan lain-lain sampai baunya berubah.
Tetapi jika ia dikurung dan terpisah dari kotoran-kotoran itu beberapa waktu dan kembali memakan makanan yang baik, hingga dagingnya jadi baik dan nama jallalah tadi jadi hilang dari dirinya, maka halal, karena illat atau alasan dilarang ialah karena berubah, sedang sekarang sudah tiada perubahan lagi.

12. Khamr / Arak. Bagi jumhur ulama ia adalah najis karena firman Allah: “Sesungguhnya arak, judi, berhala dan bertenung itu adalah najis, termasuk perkara setan.” (al-Maidah: 90)

Sebagian ulama berpendapat bahwa ia adalah suci, sedang kata-kata najis pada ayat tersebut mereka tafsirkan sebagai najis maknawi, karena kata “Najis” itu merupakan predikat dari arak serta segala yang dihubungkan dengannya, padahal semua itu sekali-sekali tak dapat dikatakan najis biasa.

Firman Allah: “Hendaknya kamu jauhi najis yang berupa berhala.”
Ternyata bahwa berhala itu najis maknawi yang bila disentuh tidak menyebabkan kita bernajis. Juga karena dalam ayat tersebut ada ditafsirkan bahwa ia merupakan pekerjaan setan yang menimbulkan permusuhan dan saling benci serta jadi penghalang terhadap mengingat Allah dan melakukan shalat.

Dan dalam buku Subulus Salam tertera sebagai berikut: “Yang benar bahwa asal pada semua benda yang tersebut itu adalah suci, dan bahwa diharamkannya, tidaklah berarti bahwa ia najis. Contohnya candu, ia adalah haram tetapi tetap suci. Adapun barang najis, maka selamanya haram. Jadi setiap najis adalah haram, tetapi tidak sebaliknya. Keterangannya ialah menetapkan sesuatu sebagai najis, berarti melarang menyentuhnya dengan cara apapun juga. Maka menetapkan sesuatu barang sebagai najis, berarti menetapkan haramnya.

Lain halnya dengan menetapkan haramnya, misalnya memakai sutera dari emas, padahal keduanya adalah suci berdasarkan syara’ dan ijma’. Nah bila ini dapat anda pahami, maka diharamkannya berbagai macam tuak berikut arak sebagaimana dimaksudkan oleh dalil-dalil keterangan, tidak berarti bahwa itu najis, untuk itu hendaklah ada dalil atau keterangan lain.
Dan seandainya dalil itu tidak dijumpai, tetaplah ia berada dalam keadaan asal yang telah disepakati bersama yakni suci. Siapa-siapa yang menyangkal, berartilah ia menyangkal dalil itu sendiri.

13. Anjing. Ia adalah najis dan wajib mencuci apa yang dijilatnya, sebanyak tujuh kali, mula-mula dengan tanah berdasarkan hadits Abu Hurairah ra. katanya: Telah bersabda Rasulullah saw.: “Menyucikan bejanamu yang dijilat anjing adalah dengan mencucinya sebanyak tujuh kali, mula-mulanya dengan tanah.” (HR Muslim, Ahmad, Abu Dawud dan Baihaqi)

Mencuci dengan tanah maksudnya ialah mencampurkannya ke dalam air hingga menjadi keruh.
Jika ia menjilat ke dalam bejana yang berisi makanan kering, hendaklah dibuang mana yang kena dan sekelilingnya, sedang sisanya tetap dipergunakan karena sucinya tadi.
Mengenai bulu anjing, maka yang terkuat adalah suci, dan tak ada alasan mengatakannya najis.

Air Sisa Minum yang suci / najis

1 Mei

Fiqih Sunnah; Sayyid Sabiq; al-Qur’an-Hadits

Air sisa minuman yang dimaksud adalah apa yang masih terdapat pada bejana setelah diminum, dan ia bermacam-macam.

1. Sisa Manusia atau anak cucu Adam
Ia adalah suci, baik muslim maupun kafir, junub maupun haid. Adapun firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis.” Maka maksudnya adalah najis ma’nawi dilihat dari segi kepercayaan mereka yang salah dan tiada waspadanya menjaga diri dari kotoran-kotoran dan najis. Karena mereka bergaul dengan kaum Muslimin. Sementara para utusan dan duta-duta mereka berdatangan kepada Nabi saw. dan memasuki masjid, dan tidaklah disuruh oleh Nabi mencuci apa juga yang dikenai tubuh mereka.
Dari ‘Aisyah ra. katannya: “Saya minum dan saya waktu itu sedang haid, lalu saya berikan kepada Nabi saw. maka diletakkannya mulutnya pada bekas tempat mulutku.” (HR Muslim)

2. Sisa binatang yang dimakan dagingnya
Ia adalah suci karena air liurnya terbit dari daging suci hingga hukumnya tiada berbeda. Berkata Abu Bakar Ibnul Mundzir: “Ahli-ahli sama berpendapat (ijma’) bahwa sisa binatang yang dimakan dagingnya, boleh diminum dan dipakai untuk berwudlu.”

3. Sisa bagal, keledai, binatang seperti burung buas
Ia juga suci karena hadits Jabir ra: Ditanya Nabi saw: “Bolehkah kita berwudlu dengan sisa keledai?” Jawab Nabi saw.: “Boleh, juga dengan sisa semua binatang buas.” (diriwayatkan oleh Syafi’i, Daruquthni dan Baihaqi, katanya: “Hadits ini mempunyai sanad yang bila dihimpun sebagian dengan yang lain, maka akan menjadi kuat.)

Dari Ibnu Umar ra. katanya: “Dalam salah satu perjalanan Nabi saw. berangkat di waktu malam. Rombongan itu lewat pada seorang laki-laki yang sedang duduk dekat kolamnya. Umar pun bertanya kepadanya: “Apakah ada binatang buas yang minum di kolammu pada malam ini?” Nabi saw. bersabda: “Hai empunya kolam, jangan katakan padanya. Itu keterlaluan. Yang masuk perutnya adalah miliknya, sedang yang tertinggal, jadi minuman kita dan ia suci lagi menyucikan.” (HR Daruquthni)

Dan dari Yahya bin Sa’id bahwa Umar pergi bersama rombongan yang di dalamnya terdapat ‘Amru bin ‘Ash, hingga sampailah mereka ke dalam sebuah kolam. ‘Amru bertanya: “Hai empunya kolam, apakah kolam ini didatangi binatang buas untuk diminum?” “Tak usah dijawab.” Kata Umar, “Karena kita boleh minum di tempat minumnya binatang buas, dan ia dapat minum di tempat kita.” (Diriwayatkan oleh Malik dalam Muwaththa’)

4. Sisa Kucing
Ia adalah suci berdasarkan hadits Kabsyah binti Ka’ab yang tinggal bersama Qatadah, bahwa Abu Qatadah suatu ketika masuk rumah, maka disediakan untuknya air minum oleh Kabsyah. Tiba-tiba datang seekor kucing yang meminum air itu, dan Abu Qatadah pun memiringkan mangkok hingga binatang itu dapat minum.
Ketika Abu Qatadah melihat Kabsyah memperhatikannya, ia pun bertanya: “Apakah kau tercengang hai anak saudaraku?” “Benar.” Ujarnya. Berkatalah Abu Qatadah: Sesungguhnya Rasulullah bersabda: “Kucing itu tidak najis, ia termaduk binatang yang berkeliling dalam lingkunganmu.” (diriwayatkan oleh yang berlima. Kata Turmudzi: “Hadits ini hasan lagi shahih.” Juga dinyatakan shahih oleh Bukhari dan lain-lain)

5. Sisa anjing dan babi
Ia adalah najis yang harus dijauhi. Mengenai sisa anjing ialah berdasarkan riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah ra: Bahwa Nabi saw. bersabda: “Bila anjing minum pada bejana salah seorang di antaramu, hendaknya dicucinya sebanyak tujuh kali.”
Dan menurut riwayat Ahmad dan Muslim: “Membersihkan bejana salah seorang kamu bila dijilat oleh anjing dengan membasuhnya sebanyak tujuh kali, permulaannya dengan tanah.” Adapun sisa babi ialah, karena kotorannya dan menjijikkan.”

Tentang Najis

20 Mar

Kajian Fiqih menurut Empat Mazhab

 

Khamr

Para Imam Madzab sepakat tentang najisnya khamr, kecuali sebuah riwayat dari Dawud azh-Zhahiri yang mengatakan kesuciaannya tetapi mengharamkannya. Mereka sepakat bahwa apabila khamr berubah menjadi cuka dengan sendirinya, maka hukumnya menjadi suci. Namun jika khamr berubah menjadi cuka karena dicampur dengan sesuatu, menurut Syafi-i dan Hanbali hal itu tidak suci.

Maliki: mengubah khamr menjadi cuka hukumnya adalah makruh. Namun jika khamr menjadi cuka, maka cuka itu hukumnya adalah suci dan halal. Hanafi: khamr boleh dibuat cuka, dan apabila telah menjadi cuka maka hukumnya adalah suci dan halal.

 

Anjing dan Babi

Syafi-i dan Hanbali: anjing adalah najis. Bejana yang dijilat anjing harus dibasuh tujuh kali. Hanafi: anjing adalah najis, tetapi bekas jilatannya boleh dicuci sebagaimana kita mencuci najis lainnya. Apabila diduga najisnya  sudah suci, meskipun dibasuh satu kali, maka hal itu sudah cukup. Namun jika diduga bahwa najisnya belum hilang, maka bekas jilatan itu harus dibasuh lagi hingga diyakini bersih, walaupun harus dibasuh duapuluh kali. Maliki: anjing adalah suci dan bekas jilatannya tidak najis. Namun, bejana yang dijilatnya harus dicuci semata-mata sebagai ibadah saja.

Kalau anjing memasukkan keempat kakinya ke dalam sebuah bejana maka bejana tersebut wajib dibasuh tujuh kali seperti mencuci bekas jilatannya. Namun, dalam hal ini Maliki berbeda pendapat karena ia mengkhususkan basuhan tujuh kali itu hanya pada bekas jilatan.

Babi hukumnya seperti anjing, yakni bekas najisnya dibasuh tujuh kali. Demikian menurut pendapat yang paling shahih dalam madzab Syafi-i. An-Nawawi berpendapat: “Pendapat paling kuat dari segi dalil adalah najis babi cukup dibasuh satu kali tanpa disertai tanah.” Pendapat inipun diikuti oleh kebanyakan ulama. Pendapat ini dipilih karena pada dasarnya tidak ada kewajiban hingga datang perintah.

Maliki: babi adalah suci ketika masih hidup karena tidak ada dalil yang menjelaskan kenajisannya. Hanafi: najis babi harus dibasuh seperti najis-najis lainnya.

Membasuh bejana, pakaian, dan badan dari najis selain najis anjing dan babi, menurut Hanafi, Maliki dan Syafi-i: tidak diulang-ulang –tujuh kali. Riwayat paling masyuur dari Hanbali: wajib mengulang basuhan kecuali najis tanah. Maka bejana dibasuh tujuh kali. Namun menurut riwayat lain, basuhan itu tiga kali. Ada juga riwayat  yang tidak mengaruskannya pengulangan basuhan jika najis itu bukan anjing dan babi.

 

Air Kencing Bayi

Syafi-i dan Hanafi: menyucikan air kencing bayi laki-laki yang hanya minum air susu cukup dengan dipercikkan air di atasnya. Namun, air kencing bayi perempuan harus dibasuh atau disiram. Maliki: keduanya harus dibasuh dan hukum keduanya sama. Hanbali: air kencing bayi perempuan yang masih menyusu adalah suci.

 

Bangkai

Hanafi: semua kulit binatang dapat menjadi suci dengan disamak, kecuali kulit anjing dan babi. Riwayat paling kuat dari Maliki: kulit tidak dapat menjadi suci, tetapi ia dapat dipergunakan untuk sesuatu yang basah. Syafi-i: semua kulit binatang dapat disucikan dengan disamak, kecuali kulit anjing dan babi, serta binatang hasil dari kawin silang salah satu  dari kedua binatang itu dengan binatang lain.

Dari Hanbali ada dua riwayat, tetapi yang termasyur mengatakan bahwa kulit bangkai tidak suci dan tidak dapat dipergunakan untuk apa pun sebagaimana daging bangkai. Diriwayatkan dari az-Zuhri: kulit bangkai dapat dipergunakan meskipun tidak disamak.

Syafi-I dan Hanbali: kulit binatang sembelihan tidak dapat digunakan untuk apapun jika binatang tersebut  tidak halal dimakan. Jika binatang itu disembelih maka ia menjadi bangkai.

Maliki: kulit bangkai dapat dipergunakan, kecuali kulit babi. Jika binatang buas atau anjing disembelih maka kulitnya suci, boleh diperjual belikan, dan memyimpan air wudlu, meskipun tidak disamak. Hanafi: seluruh bagiannya  adalah suci, tetapi dagingnya haram. Maliki: dagingnya makruh.

Syafi-i: Rambut dan bulu bangkai selain manusia adalah najis. Maliki: bulu termasuk bagian badan yang tidak pernah mati. Oleh karena itu, hukumnya adalah suci secara mutlak, baik ia dari binatang yang halal dagingnya, seperti kambing dan kuda, maupun dari binatang yang tidak halal dimakan, seperti keledai dan anjing. Ia pun berpendapat bahwa bulu anjing dan babi adalah suci, baik ketika masih hidup maupun setelah mati.

Pendapt paling shahih dari Hanbali: rambut dan bulu anjing dan babi adalah suci. Demikian juga menurut Hanfi seraya  menambahkan bahwa tanduk, gigi, dan tulang adalah suci sebab tidak bernyawa.

Diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri dan al-Awza’I bahwa rambut semua binatang adalah najis, tetapi ia dapat disucikan dengan dibasuh.

Para ulama berbeda pendapat tentang bolehnya  memanfaatkan bulu babi untuk bantal. Hanafi dan Maliki memberikan keringan, Syafi-I melarangnya, dan Hanbali memakruhkannya. Hanbali berpendapat: Bantal dari sabut lebih aku sukai.

Hanafi dan Maliki: setiap binatang yang darahnya tidak mengalir, seperti lebah, semut, kumbang, dan kalajengking jika mati pada benda basah maka benda itu tidak menjadi najis karena binatang itu sendiri adalah suci. Pendapat paling kuat dari Syafi-I dan Hambali: Benda itu tidak menjadi najis, tetapi bangkai binatang itu sendiri adalah najis.

Syafi-i: ulat yang muncul pada benda yang halal, apabila mati di dalamnya, tidak menjadikannya najis, dan benda itu boleh dimakan bersama ulatnya.

Tiga madzab: binatang yang hidup di air, seperti katak, apabila mati di dalam air yang sedikit, maka air itu menjadi najis. Hanafi: air itu tidak najis.

Menurut ijma’, bangkai belalang dan ikan adalah suci. Adapun tentang mayat manusia, menurut Maliki, Hambali dan Syafi-I –menurut pendapat paling shahih, tidak najis. Hanafi: mayat itu najis, tetapi bias disucikan dengan dimandikan.

Orang junub, wanita haid, dan orang musyrik, apabila memasukkan salah satu tangannya ke dalam bejana berisi air sedikit –kurang dari dua qullah- maka air tersebut tetap suci. Demikian menurut ijma.

 

Sisa Makanan dan Minuman Binatang

Hanafi, Syafi-I dan Hambali: sisa makanan atau minuman anjing dan babi adalah najis, tetapi sisa makan atau minum binatang lain adalah suci. Pendapat paling shahih dari Hambali: sisa makanan dan minuman binatang buas adalah najis. Maliki: sisa makanan dan minuman binatang itu adalah suci.

Tiga imam madzab sepakat bahwa sisa minum baghal dan keledai adalah suci, tetapi tidak menyucikan. Pendapat paling shahih dari Hambali: hal itu najis.

Pentingnya mengetahui masalah ini adalah apabila seseorang tidak mendapatkan air –selain air sisa minum binatang- apakah ia berwudlu dengannya atau bertayamum.

Para ulama sepakat tentang kesucian kucing dan binatang yang lebih kecil daripadanya. Hanafi: sisa –makan dan minum- kucing adalah makruh. Sementara itu, al-Awza’I, dan ats-Tsawri berpendapat bahwa sisa –makan dan minum- binatang yang tidak dimakan dagingnya adalah najis, kecuali manusia.

 

Najis yang Dimaafkan

Pendapat paling shahih dari Syafi-I mengatakan bahwa semua najis, banyak maupun sedikit, sama dalam hukum menghilangkannya. Tidak ada yang dimaafkan, kecuali yang sulit dihindari menurut kebiasaan, seperti darah jerawat, darah bisul, darah kudis, darah kutu, tahi lalat, tempat bercantuk, dan debu jalan. Maliki pun berpendapat demikian. Bahkan, ia mengatakan bahwa darah sedikit dimaafkan. Hanafi berpendapat bahwa darah kutu dan darah kepinding adalah suci. Selanjutnya Hanafi menetapkan bahwa segala  najis yang ukurannya lebih kecil daripada mata uang satu dirham dimaafkan.

 

Benda yang Keluar dari Perut

Benda lunak yang keluar dari perut melalui dubur adalah najis. Hal ini disepakati para ulama. Namun ada riwayat dari Hanafi yang mengatakan bahwa benda tersebut adalah suci.

Syafi-i: air kencing dan tahi adalah najis secara mutlak. Maliki dan Hambali: air kencing dan kotoran binatang yang dagingnya dapat dimakan adalah suci.

Hanafi: kotoran burung yang dagingnya dapat dimakan, seperti merpati dan pipit adalah suci. Syafi-i: dalam qaul qadim-nya: kotoran selain kedua burung tersebut adalah najis. Diriwayatkan dari an-Nakha’i bahwa air kencing semua binatang yang suci adalah suci.

 

Air Mani

Hanafi dan Maliki: mani manusia adalah najis. Maliki: mani harus dibasuh dengan air, baik basah maupun kering. Hanafi: Mani dibasuh jika masih basah dan dikerik jika telah kering. Pendapat paling shahih dari Syafi-i: mani adalah suci secara mutlak, kecuali mani anjing dan babi. Sementara itu, pendapat paling shahih dari Hambali: mani yang suci hanya  mani manusia.

 

Air yang Terkena Najis

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berwudlu dari sumur yang telah kejatuhan bangkai. Hanafi: apabila bangkai itu telah rusak maka shalatnya harus diulang selama tiga hari, sedangkan jika tidak rusak maka shalatnya  diulang selama sehari semalam. Syafi-i dan Hambali: jika airnya sedikit, hendaklah diulang shalat  yang menurut perkiraannya dikerjakan dengan wudlu air tersebut. Sementara itu, jika airnya banyak dan tidak berubah maka shalatnya tidak wajib diulang. Namun, jika airnya  berubah, shalatnya wajib diulang sejak air itu berubah. Maliki: jika air itu  berupa mata air dan tidak berubah sifat-sifatnya maka air itu suci dan shalatnya  tidak wajib diulang. Sedangkan jika bukan mata air, Maliki mempunyai dua riwayat. Ibn Qasim, sahabat Maliki memutlakkan kenajisannya.

 

Ragu Tentang Mana yang Suci

Kalau keadaan air tidak jelas, suci atau najis, jika ada bejana-bejana  yang sebagiannya suci dan sebagian lain terkena najis, bolehkah berijtihad atau memilih yang lebih pantas dalam hal ini?

Syafi-i: ia boleh berijtihad dan berwudlu dengan air yang dianggapnya suci. Hanafi: jika bejana  yang suci lebih banyak daripada bejana yang najis maka ia boleh memilih yang dianggapnya suci. Hambali:  jangan memilih yang dipandang suci, melainkan semuanya dituangkan atau dicampurkan, lalu bertayamum. Maliki –menurut sebuah riwayat: orang itu tidak boleh memilih yang dianggapnya suci.

Jika orang itu mempunyai dua helai kain, yang satu suci dan yang lainnya najis, tetapi tidak diketahui mana yang suci, maka ia boleh memilih yang dianggapnya suci. Maliki dan Hambali: ia harus shalat dua kali; sekali dengan kain pertama dan sekali lagi dengan kain kedua. Hanafi dan Syafi-i: ia harus memilih salah satu dari keduanya.

Sumber: Fiqih Empat Madzab, Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Thaharah (Bersuci)

19 Mar

Kajian Fiqih menurut Empat Mazhab

 

Shalat tidak sah dikerjakan kecuali dengan bersuci terlebih dahulu. Demikian menurut ijma’. Para ulama sepakat tentang wajibnya bersuci dengan air jika air itu ada dan dapat digunakan, serta tidak ada keperluan lain –yang lebih mendesak, seperti untuk minum. Sementara itu, wajib tayamum  dengan tanah [debu] jika tidak ada air.

Para fuqaha di kota-kota besar –seperti Kufah dan Basrah- telah sepakat bahwa air laut, baik yang tawar maupun yang asin, adalah suci dan mensucikan, seperti air-air yang lain. Namun terdapat beberapa ulama yang  melarang berwudlu dengan air laut. Ada juga sekelompok ahli fiqih yang membolehkannya ketika dalam keadaan darurat saja. Sementara itu, ada ahli fiqih lain yang membolehkan tayamum walaupun ada air laut untuk berwudlu.

Para ulama sepakat bahwa bersuci tidak sah secuali dengan air. Diriwayatkan dari Ibnu Abi Laila dan al-‘Ashim tentang bolehnya bersuci dengan menggunakan cairan yang lain.

Maliki, Syafi-i, dan Hanbali: Najis tidak dapat dihilangkan kecuali dengan air. Hanafi: Najis dapat dihilangkan dengan segala cairan yang suci.

Pendapat paling shahih dari Syafi-i: air panas karena terkena sinar matahari hukumnya adalah makruh. Sementara itu, pendapat yang dipilih oleh para pengikutnya yang kemudian adalah pendapat yang mengatakan bahwa hal itu  tidak makruh. Demikian juga menurut tiga imam yang lain, yaitu Hanafi, Maliki dan Hanbali.

Air yang dimasak hukumnya tidak makruh, demikian menurut  kesepakatan para ulama. Diriwayatkan dari Mujahid bahwa ia memakruhkannya. Sementara itu, Hanbali memakruhkannya jika ia dipanaskan dengan api.

Air bekas bersuci (musta’mal) hukumnya  adalah suci, tetapi tidak menyucikan. Demikian pendapat yang masyur di kalangan madzab Hanafi, yang paling shahih dalam madzab Syafi-i, dan madzab Hanbali. Maliki: air musta’mal dapat mensucikan. Sementara itu, menurut sebagian riwayat dari Hanafi: air musta’mal adalah najis. Demikian juga menurut pendapat Abu Yusuf.

Air yang berubah karena bercampur dengan ja’faran atau benda-benda suci lain yang sejenis dan perubahannya sangat jelas, menurut Maliki, Syafi-i dan Hanbali: air tersebut tidak dapat digunakan untuk bersuci. Hanafi dan para pengikutnya: boleh bersuci dengan air tersebut. Mereka berpendapat bahwa perubahan air oleh sesuatu yang suci tidaklah menghilangkan sifat mensucikan selama  unsur-unsur airnya tidak hilang.

Air yang berubah karena terlalu  lama disimpan atau tidak digunakan, hukumnya adalah suci. Hal ini berdasarkan kesepakatan ulama. Diriwayatkan dari Ibnu Sirin, bahwa air tersebut tidak boleh digunakan untuk bersuci.

Mandi dan berwudlu  dengan air zamzam, menurut Hanbali: Hukumnya adalah makruh. Hal ini demi memelihara kemuliaannya.

Api dan matahari tidak dapat menghilangkan najis. Namun Hanafi berpendapat: api dan matahari dapat menghilangkan najis. Menurutnya jika ada kulit bangkai menjadi kering karena sinar matahari, maka hukumnya suci meskipun tidak disamak. Demikian pula jika di atas tanah terdapat najis, kemudian kering karena sinar matahari, maka tempat itu  menjadi suci dan dapat digunakan untuk shalat. Namun, tempat itu tidak dapat dipergunakan untuk tayamum. Hanafi: api dapat menghilangkan najis.

Hanafi, Syafi-i dan Hanbali dalam salah satu  riwayatnya:  apabila air tenang kurang dari dua qullah, ia akan menjadi najis jika terkena benda najis walaupun sifat-sifatnya tidak berubah. Maliki dan Hanbali  dalam riwayat yang lain: air tersebut suci selama sifat-sifatnya  tidak berubah. Adapun jika air itu lebih dari dua qullah, yaitu 500 rithl Bagdad atau 180 rithl Damaskus, atau dalam volume 4x4x4 hasta, tidaklah menjadi najis –terkena benda najis- kecuali  jika sifat-sifatnya berubah, demikian pendapat Syafi-i dan Hanbali.

Maliki: air yang berada di sebuah tempat dengan ukuran tersebut tidak najis jika terkena benda najis. Namun jika warna, rasa atau baunya berubah maka hukumnya adalah najis, baik air itu  sedikit maupun banyak.

Hanafi: campurannya harus diperhatikan. Jika air itu bercampur dengan benda najis maka hukumnya  adalah najis, kecuali jika air tersebut banyak.  Air tersebut dikatakan banyak (ma’katsir) apabila digerakkan salah satu tepinya maka tepi lain tidak bergerak. Dalam keadaan demikian, hukumnya  tidak najis –jika air tersebut terkena benda najis.

Hanafi, Hanbali, dan qaul jadid Syafi-i –yang menjadi pendapat paling kuat di dalam mahdzab Syafi-i: air yang mengalir hukumnya sama dengan air yang tenang. Maliki: air yang mengalir itu tidak menjadi najis –jika terkena benda najis- kecuali jika air tersebut berubah, baik ia air yang banyak maupun sedikit. Seperti itu pula qaul qadim Syafi-i yang dipilih oleh sekelompok shahabatnya, seperti al-Baghawi, Imam al-Haramain, dan al-Ghazali. Imam an-Nawawi, di dalam Syarh al Muhadzdzib, mengatakan bahwa inilah pendapat yang kuat.

Para ulama: penggunaan perkakas yang terbuat dari emas untuk makan, minum, dan berwudlu, baik oleh laki-laki maupun perempuan, adalah haram. Syafi-i berpendapat sebaliknya. Sementara itu Dawud berpendapat bahwa hal itu haram hanya jika digunakan untuk minum. Pendapat Hanafi, Maliki, dan Hanbali yang mengharamkannya lebih kuat  daripada pendapat Syafi-i.

Para ulama: menggunakan saluran air yang terbuat dari emas adalah haram. Adapun, menggunakan saluran air yang terbuat dari perak adalah haram menurut Maliki, Syafi-i, dan Hanbali jika alirannya besar dan untuk hiasan. Hanafi: menggunakan saluran air dari perak tidak haram.

Bersiwak adalah  sunnah menurut kesepakatan para ulama. Sedangkan Dawud berpendapat bahwa hukumnya wajib. Sementara itu Ishaq berpendapat bahwa apabila bersiwak itu ditinggalkan dengan sengaja maka shalatnya batal.

Apakah bersiwak bagi orang yang berpuasa hukumnya adalah  makruh? Hanafi dan Maliki: hal itu  tidak makruh. Syafi-i: hal itu  makruh. Dari Hanbali diriwayatkan dua riwayat yang mengatakan bahwa  hal itu tidak makruh.

Sumber: Fiqih Empat Madzab, Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 104 pengikut lainnya.