Tag Archives: surat al-lahab

Tafsir Al-Qur’an Surah Qaaf (1)

13 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Qaaf

Surat Makkiyyah; Surat ke 50: 45 ayat

 

Surat ini merupakan surat pertama dari kelompok surat mufashshal (terpotong-potong/ terperinci). Ada juga yang berpendapat bahwa surat  tersebut termasuk surat  al-Hujuraat. Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abdillah, bahwa ‘Umar bin al-Khaththab pernah bertanya kepada Abu Waqid  al-Laitsi mengenai apa yang dibaca Rasulullah saw. pada shalat ‘Ied. Ia menjawab: “Yaitu  surat Qaaf dan surat Iqtarabatissaa’ah.” Demikian yang diriwayatkan oleh Muslim dan para penulis kitab as-Sunan yang empat (Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa-i, Ibnu Majah) dari hadits Malik.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ummu  Hisyam  binti Hatitsah, ia bercerita: “Sesungguhnya kami dan Nabi saw. telah mendapat cahaya  dari satu  surat selama dua tahun, atau satu tahun setengah. Dan aku tidak mendapatkan surat ‘Qaaf wal qur-aanil majiid’ melainkan dari lisan Rasulullah saw.. Beliau senantiasa membacanya setiap hari Jum’at di atas mimbar jika menyampaikan khutbah kepada orang-orang.” Demikian yang diriwayatkan oleh  Muslim dari hadits Ibnu Ishaq; an-Nasa-i, dan Ibnu Majah dari hadits Syu’bah.

Maksudnya, Rasulullah saw. senantiasa  membacakan surat ini dalam pertemuan-pertemuan besar, misalnya  pada  hari Raya dan hari Jum’at. Karena surat ini mencakup tentang penciptaan pertama, kebangkitan, pengumpulan, pengembalian, kiamat, hisab, surga, neraka, siksaan, targhib, dan tarhib. WallaaHu a’lam.

“1. Qaaf[1] demi Al Quran yang sangat mulia. 2. (mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, Maka berkatalah orang-orang kafir :”Ini adalah suatu yang Amat ajaib”. 3. Apakah Kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi) ?, itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin. 4. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka, dan pada sisi Kamipun ada kitab yang memelihara (mencatat). 5. sebenarnya, mereka telah mendustakan kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, Maka mereka berada dalam Keadaan kacau balau.” (Qaaf: 1-5)

 [1] Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. diantara Ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang Termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian Para Pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.

“Qaaf” termasuk salah satu huruf Hijaiyyah yang disebutkan pada permulaan beberapa surat,  seperti firman Allah Ta’ala:  Thaa siin, haa miim, alif laam miim, nuun, shaad, dan lain sebagainya. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid dan ulama lainnya.

Firman-Nya:  wal qur-aanil majiid (“Demi Al-Qur’an yang sangat mulia”)  yakni yang sangat terhormat lagi agung. Yang menjadi jawaban adalah kandungan firman yang tercantum setelah sumpah, yaitu penetapan tentang kenabian, hari kiamat, pengukuhan dan penegasannya. Meskipun sumpah di dalam ayat ini tidak memiliki jawaban yang tegas, namun  hal ini banyak terdapat di dalam sumpah-sumpah yang terdapat di dalam al-Qur’an. Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya dalam firman Allah Ta’ala: Shaad, wal qur-aani dzidzikr. Balil ladziina kafaruu fii ‘izzatiw wa syiqaaq (“Shaad. Demi Al-Qur’an yang mempunyai keagungan. Sebenarnya orang-orang kafir itu berada dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit.”) (Shaad: 1-2)

Demikian pula Allah berfirman disini yang artinya: “Qaaf, demi Al Quran yang sangat mulia. (mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, Maka berkatalah orang-orang kafir :”Ini adalah suatu yang Amat ajaib”. Maksudnya mereka benar-benar merasa heran atas diutusnya seorang Rasul kepada mereka dari kalangan manusia.  Padahal yang demikian itu sesungguhnya bukan suatu hal  yang mengherankan. Karena Allah telah memilih utusan dari kalangan malaikat dan juga dari kalangan manusia.

Selanjutnya Allah berfirman seraya memberitahukan pula tentang keheranan mereka terhadap hari pengembalian dan keingkaran mereka terhadap kejadiannya: a idzaa mitnaa wa kunnaa turaaban dzaalika raj’um ba’iid (“Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah [akan kembali lagi]? Yang demikian itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin.”) artinya, mereka berkata: “Apakah jika kami sudah mati, hancur luluh, terputus-putus, dan menjadi tanah, [bagaimana mungkin] kami ini akan dikembalikan lagi setelah itu seperti keadaan  yang ada sesuai dengan susunannya?” dzaalika raj’um ba’iid (“Yang demikian itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin.”) maksudnya, sesuatu  yang tidak mungkin terjadi.

Dan sebagai bantahan terhadap mereka, Allah Ta’ala berfirman: qad ‘alimnaa maa tangqushul ardlu minHum (“Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang telah dihancurkan oleh bumi dari [tubuh-tubuh] mereka.”) maksudnya, tubuh-tubuh mereka yang  telah dihancurkan oleh bumi, Kami [Allah] mengetahuinya. Tidak ada sedikitpun yang tersembunyi dari Kami, dimana bagian tubuh-tubuh mereka itu berceceran, kemana dan dimana  semuanya itu berada. Wa ‘indanaa kitaabun hafiidz (“Dan pada sisi Kami pun ada kitab yang memelihara [mencatat].”) yakni, yang menjaga hal tersebut. Jadi, ilmu dan kitab-Nya itu  sangat sempurna mencakup segala sesuatu  secara terperinci.

Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas mengenai firman Allah Ta’ala: qad ‘alimnaa maa tangqushul ardlu minHum (“Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang telah dihancurkan oleh bumi dari [tubuh-tubuh] mereka.”) yakni daging, kulit, tulang dan rambut mereka yang telah dihancurkan oleh bumi. Hal yang  sama juga disampaikan oleh Mujahid, Qatadah, adl-Dlahhak, dan lain-lain.

Selanjutnya Allah menjelaskan sebab kekufuran, keingkaran, dan penolakan mereka terhadap apa yang sesungguhnya bukan sesuatu yang mustahil, dimana Dia berfirman:  bal kadzdzabuu bil haqqi lammaa jaa-aHum  fa Hum fii amrim mariij (“Sebenarnya mereka telah mendustakan kebenaran, tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, maka mereka berada dalam keadaan kacau balau.”) demikianlah keadaan setiap orang yang keluar dari kebenaran. Apa pun yang ia katakan setelah itu, maka semuanya adalah kebathilan.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Lahab

19 Feb

Tafsir Ibnu Katsir; Surah Al-Lahab (Gejolak Api);
Surat Makiyyah; Surat ke 111: 5 ayat;

“1. Binasalah kedua tangan abu Lahab dan Sesungguhnya dia akan binasa. 2. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. 3. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. 4. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. 5. Yang di lehernya ada tali dari sabut.”
(al-Lahab: 1-5)

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Nabi saw. pernah pergi ke tanah lapang, lalu beliau mendaki bukit seraya berseru: “Wahai sekalian kaum.” Kemudian orang-orang Quraisy berkumpul mendatangi beliau, kemudian beliau bersabda: “Bagaimana pendapat kalian jika aku memberitahu kalian bahwa musuh akan menyerang kalian di pagi atau sore hari, apakah kalian mempercayaiku?” “Ya,” jawab mereka. Beliau bersabda: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian akan adzab yang sangat pedih.”

Lalu Abu Lahab berkata: “Apakah untuk ini engkau kumpulkan kami? Kebinasaanlah bagimu.” Lalu Allah menurunkan tabbat yadaa abii lahabiw watabb (binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa). Yang pertama sebagai kutukan baginya, sedangkan yang kedua sebagai pemberitahuan mengenai keadaannya.

Abu Lahab adalah salah seorang paman Rasulullah saw. yang nama aslinya adalah ‘Abdul ‘Uzza bin ‘Abdul Muththalib dan nama kun-yahnya adalah Abu ‘Utaibah. Disebut Abu Lahab karena wajahnya yang memancarkan cahaya. Dia termasuk orang yang menyakiti, membenci, mencaci, dan merendahkan Rasulullah saw. dan juga agama beliau.

Imam Ahmad meriwayatkan, Ibrahim bin Abil ‘Abbas memberitahu kami, ‘Abdurrahman bin Abiz Zinad memberitahu kami, dari ayahnya, dia berkata: “Ada seseorang yang bernama Rabi’ah bin ‘Abbad dari bani ad-Dail –yang dulunya dia seorang Jahiliyyah yang kemudian masuk Islam- memberitahuku, dimana dia berkata: ‘Aku pernah melihat Nabi saw. pada masa jahiliyah di pasar Dzul Majaz, beliau bersabda: ‘Wahai sekalian manusia, katakanlah: ‘Tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah, niscaya kalian beruntung.’ Dan orang-orang pun berkumpul menemuinya sedang di belakangnya terdapat seseorang yang wajahnya bersinar terang, yang memiliki dua tanda mengatakan: ‘Sesungguhnya dia (Rasulullah) adalah seorang pemeluk Shabi’ah lagi pendusta.’ Dia mengikuti beliau kemana saja beliau pergi. Kemudian aku tanyakan mengenai dirinya, maka orang-orang menjawab: ‘Ini adalah pamannya, Abu Lahab.’ Kemudian diriwayatkan dari Syuraih dari Ibnu Abiz Zinad dari ayahnya, lalu dia menyebutkannya. Abuz Zinad berkata: “Aku katakan kepada Rabi’ah, ‘Apakah pada saat itu engkau masih kecil?’ Dia menjawab: ‘Tidak, demi Allah. Sesungguhnya pada saat itu aku sudah berakal.’” Diriwayatkan oleh Ahmad seorang diri.

Dengan demikian, firman Allah Ta’ala: tabbat yadaa abii lahabiw watabb, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.” Yakni benar-benar merugi lagi gagal, amal perbuatan dan usahanya pun telah tersesat. ‘Watabb’ yakni binasa lagi benar-benar terbukti kerugian dan kebinasaannya.

Firman-Nya: maa aghnaa ‘an humaa luhuu wamaa kasab (tidaklah berfaedah baginya harta bendanya dan apa yang ia usahakan). Ibnu ‘Abbas dan lainnya mengatakan, wa maa kasab (dan apa yang ia usahakan) yakni anaknya. Dan hal senada juga diriwayatkan dari ‘Aisyah, Mujahid, ‘Atha’, al-Hasan, dan Ibnu Sirin. Dan disebutkan juga dari Ibnu Mas’ud bahwa ketika Rasulullah saw. mengajak kaumnya untuk beriman, Abu Lahab berkata: “Jika apa yang dikatakan oleh anak saudaraku itu benar, maka aku akan menebus diriku dari siksaan pada hari kiamat kelak dengan harta dan anakku. Maka Allah Ta’ala pun menurunkan: maa aghnaa ‘an humaa luhuu wa maa kasab (tidaklah berfaedah baginya harta bendanya dan apa yang ia usahakan).

Firman-Nya: sayashlaa naaron dzaata lahab (kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak). Yakni api yang memiliki bunga api yang besar dan daya bakarnya sangat panas. Wamro-atuhuu hammaa latal hatab (dan begitu pula istrinya , pembawa kayu bakar). Dan istrinya termasuk kaum wanita Quraisy yang terhormat, yaitu Ummu Jamil dan namanya Arwa binti Harb bin Umayyah, yang merupakan saudara Abu Sufyan, dia menjadi pembantu setia suaminya dalam kekufuran, keingkaran dan perlawanannya. Oleh karena itu, pada hari kiamat kelak diapun akan menjadi pembantu suaminya dalam menjalani siksaan-Nya di Neraka Jahanam. Oleh karena itu Allah berfirman: hammaalatal hathabi fii jiidihaa hamblum mim masad (“Dan begitu [pula] istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.”). yakni dia biasa membawa kayu bakar dan menyerahkannya kepada suaminya untuk menambah (berat) apa yang dia alami itu, sedang dia senantiasa siap melakukan hal tersebut.

Fii jiidihaa hablum mim masad (“Yang di lehernya ada tali dari sabut.”) Mujahid dan ‘Urwah mengatakan: “Dari sabut neraka.” Dari Mujahid, ‘Ikrimah, al-Hasan, Qatadah, ats-Tsauri, dan as-Suddi, hammaalatal hathab (“pembawa kayu bakar”) dimana istrinya ini biasa berkeliling untuk menlancarkan adu domba. Dan pendapat ini pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir.

Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ‘Athiyyah al-Jadali, adl-Dlahhak, dan Ibnu Zaid: “Dia biasa meletakkan duri di jalanan (yang dilalui) Rasulullah saw.” Dan yang benar adalah pendapat pertama. Wallahu a’lam. Sa’id bin al-Musayyab mengatakan: “Dia memiliki kalung yang sangat mewah. Dan dia mengatakan: ‘Aku akan dermakan kalungku ini untuk memusuhi Muhammad.’ Yakni, sehingga Allah akan menimpakan (azab) dengan meletakkan tali di lehernya yang terbuat dari sabut neraka.” Ibnu Jarir meriwayatkan dari asy-Sya’bi, dia mengatakan: “Al-Masad berarti serabut.” ‘Urwah bin az-Zubair mengatakan: “Al-Masad berarti rantai yang panjangnya 70 hasta.”

Mengenai firman-Nya: fii jiidihaa hablum mim masad (“Yang di lehernya ada tali dari sabut.”) Mujahid mengatakan: “Yakni kalung dari besi.” Sedangkan Ibnu Abi Hatim pernah meriwayatkan dari Asma’ binti Abi Bakr, dia berkata: “Ketika turun ayat: tabbat yadaa abii lahabiw watabb (“Binasalah kedua tangan Abu Lahab”), seorang wanita yang buta sebelah matanya, Ummu Jamil binti Harb muncul, dimana dia mempunyai lengkingan (suara) yang sangat tinggi sedang di tangannya terdapat batu. Dia mengatakan: “Mudzammaman abainaa, wadiihuhu qallainaa, wa amruhu ‘ashainaa.” (“Dia orang hina yang kami abaikan, agamanya kami remehkan, dan perintahnyapun kami durhakai.”).

Dan Rasulullah saw. duduk di sebuah masjid bersama Abu Bakr. Ketika melihatnya (istri Abu Lahab), Abu Bakr berkata: “Wahai Rasulullah, dia telah muncul sedang aku khawatir dia akan melihatmu.” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhny dia tidak akan pernah melihatku.” Dan beliau membaca al-Qur’an yang berliau pegang teguh. Sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala: “Wa idzaa qara’tal qur-aana ja’alnaa bainaka wa bainal ladziina laa yu’minuuna bil aakhirati hijaabam masthuuraa” (“Dan apabila kamu membacakan al-Qur’an niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup.”) (al-Isra: 45). Kemudian dia datang sehingga berhenti dekat Abu Bakr tanpa melihat Rasulullah saw. lalu dia berkata: “Wahai Abu Bakr, sesungguhnya aku beritahu bahwa sahabatmu telah mencaciku.” Abu Bakr berkata: “Tidak. Demi Rabb Pemelihara rumah ini, dia tidak mencacimu.” Kemudian dia berpaling seraya berkata: “Kaum Quraisy telah mengetahui kalau aku anak perempuan pemukanya.”

Para ulama mengatakan: “Dan di dalam surat ini terkandung mukjizat yang sangat nyata dan dalil yang sangat jelas tentang kenabian, dimana sejak firman Allah Ta’ala ini turun: “Sayashlaa naarong dzaatal lahab. Wamra atuhuu hammaalatal hathab. Fii jiidihaa hablum mim masad.” (“Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.”) (Melalui ayat ini) Allah mengabarkan bahwa keduanya akan mendapat kesengsaraan dan tidak akan beriman. Keduanya atau salah satu dari keduanya tidak akan pernah beriman, baik lahir maupun batin, secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Dan hal itu merupakan bukti yang paling kuat dan jelas yang menunjukkan kenabian.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 103 pengikut lainnya.