Tag Archives: Tafsir Al-Qur’an Surah Al-‘Alaq

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-‘Alaq (2)

15 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-‘Alaq (Segumpal Darah)

Surat Makkiyyah; Surat ke 96: 19 ayat

 

“6. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, 7. karena Dia melihat dirinya serba cukup. 8. Sesungguhnya hanya kepada Tuhanmulah kembali(mu). 9. bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, 10. seorang hamba ketika mengerjakan shalat. 11. bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran, 12. atau Dia menyuruh bertakwa (kepada Allah)? 13. bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu mendustakan dan berpaling? 14. tidaklah Dia mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya? 15. ketahuilah, sungguh jika Dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ubun-ubunnya, 16. (yaitu) ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.

 18. kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah, 19. sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).” (al-‘Alaq: 6-19)

Allah memberitahukan tentang manusia, bahwa ia merupakan makhluk yang bisa senang, jahat, sombong dan sewenang-wenang jika dia melihat dirinya telah merasa cukup dan memiliki harta banyak. Kemudian Dia memberikan peringatan, mengancam sekaligus menasehatinya, dimana Dia berfirman: inna ilaa rabbikar ruj’aa (“Sesungguhnya hanya kepada Rabb-mulah kembali [mu]”) yakni hanya kepada Allah tempat kembali. Dan Dia akan menghisabmu atas harta yang engkau miliki, dari mana engkau mengumpulkannya dan untuk apa pula engkau membelanjakannya.

A ra aital ladzii yan-Haa ‘abdan idzaa shallaa (“Bagaimana pendapatmu tentang orang yang melarang, seorang hamba ketika dia  mengerjakan shalat.”) ayat ini turun berkenaan dengan Abu Jahl, semoga Allah melaknatnya, yang mengancam Nabi saw. jika akan mengerjakan shalat di Baitullah. Kemudian Allah menasehati beliau dengan sesuatu yang lebih baik. Untuk langkah pertama, dimana beliau bertanya:  a ra-aita ing kaana ‘alal Hudaa (“Bagaimana pendapatmu jika orang yang melarang itu berada di atas kebenaran.”) maksudnya, bagaimana dugaanmu jika orang yang engkau larang itu berada di jalan yang lurus dalam perbuatannya  itu atau menyuruh untuk bertakwa melalui ucapannya, sedang dirimu justru melarang dan mengancamnya atas shalat yang dikerjakannya itu. Oleh karena itu, Dia berfirman: a lam ya’lam bi-annallaaHa yaraa (“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat segala perbuatannya?”) maksudnya, tidakkah orang yang melarang itu mengetahui bahwa Allah melihatnya dan mendengar ucapannya serta akan memberi ganjaran atas apa yang telah dia kerjakan itu dengan ganjaran  yang benar-benar sempurna.

Kemudian dengan nada mengancam dan mengintimidasi, Allah Ta’ala berfirman: kallaa la-illam yantaHi (“Ketahuilah, sungguh jika ia tidak berhenti.”) yakni jika dia tidak kembali dari keingkaran dan pembangkangannya tu. Lanasfa’am bin naashiyah (“Niscaya kami tarik ubun-ubunnya.”) yakni akan Kami warnai dia dengan warna hitam pada hari kiamat kelak. Selanjutnya Dia berfirman: naashiyating kaadzibatin khaathi-aH (“Yaitu ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka.”) yaitu ubun-ubun Abu Jahal yang penuh kebohongan  dan menyimpang dalam perbuatannya. Fal yad’u naadiyaH (“Maka biarkanlah dia memanggil golongannya [untuk menolongnya].”) yaitu kaum dan kelompoknya. Maksudnya, hendaklah dia memanggil mereka untuk  meminta pertolongan kepada mereka. Sanad’uz zabaaniyaH (“Kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah.”) mereka itu adalah para malaikat azab, sehingga dia dapat mengetahui, apakah pasukan kami yang menang ataukah pasukannya. Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: “Abu Jahal pernah berkata: ‘Jika aku melihat Muhammad mengerjakan shalat di Ka’bah, niscaya akan aku injak lehernya.’ Kemudian Nabi saw. mendengar  berita tersebut  dan berkata: ‘Jika dia berani melakukan hal tersebut, pasti Malaikat akan menghukumnya.’ Demikianlah yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan an-Nasa-i.

Imam Ahmad, at-Tirmidzi, an-Nasa-I, dan Ibnu Jarir meriwayatkan, dan ini adalah lafazhnya dari Ibnu ‘Abbas, dimana dia berkata: “Rasulullah saw. pernah mengerjakan shalat di maqam, lalu Abu Jahal  bin Hisyam melewatinya seraya berkata: ‘Hai Muhammad, bukankah aku sudah  melarangmu mengerjakan ini?’ dia mengancam beliau. Maka Rasulullah saw. bersikap kasar terhadapnya seraya menghardiknya, lalu ia berkata: ‘Hai Muhammad, dengan apa engkau mengancamku?’ demi Allah, sesungguhnya aku memiliki kelompok yang lebih banyakk  di lembah ini.’ Lalu Allah menurunkan ayat: fal yad’u naadiyaH. Sanad’uz zabaaniyaH (“Maka biarkanlah dia memanggil golongannya [untuk menolongnya]. Kelak Kami akan memanggil Malaikat Zabaniyah.”) Ibnu  ‘Abbas mengatakan, “Seandainya dia memanggil kelompoknya, pasti malaikat adzab akan menimpakan adzab kepadanya saat itu juga.” At-Tirmdzi mengatakan: “Hadits ini hasan shahih.”

Firman Allah Ta’ala: kallaa laa tuthi’Hu (“Sekali-sekali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya.”) Maksudnya, hai Muhammad, janganlah kamu mentaati larangan itu, yaitu larangan untuk terus beribadah dan memperbanyaknya. Shalatlah sekehendak hatimu dan jangan engkau mempedulikannya, karena Allah akan selalu menjaga dan menolongmu. Dan Dia senantiasa memeliharamu dari orang-orang. Was judwaqtarib (“Dan sujud dan dekatkanlah.”) sebagaimana yang telah disebutkan hadits shahih di dalam shahih Muslim, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw pernah bersabda: “Saat paling dekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya adalah saat dia melakukan sujud. Oleh karena itu, perbanyaklah doa.”

Rasulullah saw. juga bersujud saat membaca surat, idzas sammaa-ung syaqqat dan surat iqra’ bismirabbikalladzii khalaq.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-‘Alaq (1)

15 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-‘Alaq (Segumpal Darah)

Surat Makkiyyah; Surat ke 96: 19 ayat

 

“1. bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. 3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, 4. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. 5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (al-‘Alaq: 1-5)

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Aisyah, dia mengatakan: “Wahyu yang pertama kali diturunkan kepada Rasulullah saw. adalah mimpi yang benar melalui tidur. Dimana beliau tidak bermimpi melainkan datang sesuatu seperti  falaq shubuh. Setelah itu beliau menjadi lebih senang mengasingkan diri, di gua Hira. Disana beliau beribadah untuk beberapa malam dengan membawa perbekalan yang cukup. Setelah itu, beliau pulang kembali kepada Khadijah untuk mengambil bekal yang sama sampai akhirnya datang kepada beliau wahyu secara tiba-tiba, yang ketika itu beliau masih berada di gua Hira. Di gua itu beliau didatangi oleh Malaikat Jibril seraya berkata: ‘Bacalah!’ Rasulullah saw. bersabda, “Maka kukatakan: ‘Aku tidak dapat membaca.’” Lebih lanjut beliau bersabda: “Lalu Jibril memgangku seraya mendekapku sampai aku merasa kepayahan. Selanjutnya Jibril mendekapku untuk kedua kalinya sampai aku benar-benar kepayahan. Selanjutnya dia melepaskanku lagi seraya berkata: ‘Bacalah.’ Aku tetap menjawab: ‘Aku tidak bisa membaca.’ Lalu dia mendekapku untuk ketiga kalinya sampai aku benar-benar kepayahan.’ Setelah itu dia melepaskan aku lagi seraya berkata: iqra’ bismirabbikal ladzii khalaq (“Bacalah dengan Nama Rabbmu yang menciptakan –sampai pada akhir ayat- maa lam ya’lam (“apa yang tidak diketahuinya”)” Dia berkata: “Maka beliaupun pulang dengan sekujur tubuh dalam keadaan menggigil sehingga akhirnya masuk menemui Khadijah dan berkata: ‘Selimuti aku. Selimuti aku.’ Merekapun segera menyelimuti beliau sampai rasa takut beliau hilang. Selanjutnya beliau bersabda: ‘Apa yang terjadi padaku?’ lalu beliau menceritakan peristiwa yang dialaminya seraya bersabda, ‘Aku khawatir sesuatu akan menimpa diriku.’ Maka Khadijahpun berkata kepada beliau: ‘Tidak, bergembiralah. Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Sesungguhnya engkau adalah orang yang paling suka menyambung tali silaturahim, berkata jujur, menganggung beban, menghormati tamu, dan membantu menegakkan pilar-pilar kebenaran.’”

Kemudian Khadijah mengajak beliau pergi hingga akhirnya dia membawa beliau menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza bin Qushay, yaitu anak paman Khdijah, saudara laki-laki ayahnya. Dia seorang penganut nasrani pada jaman jahiliyah. Dia yang menulis sebuah kitab berbahasa Arab dan juga menulis Injil dengan bahasa Arab atas kehendak Allah. Dia adalah seorang yang sudah berumur lagi buta. Lalu Khadijah berkata: “Wahai anak paman, dengarkanlah cerita dari anak saudaramu ini.” Kemudian Waraqah berkata: “Wahai anak saudaraku, apa yang telah terjadi dengan dirimu?” kemudian Rasulullah menceritakan apa yang beliau alami kepadanya. Lalu Waraqah berkata: “Ini adalah Namus [malaikat Jibril] yang diturunkan kepada Musa. Andai saja saat itu aku masih muda. Andai saja nanti aku masih hidup saat engkau diusir oleh kaummu.” Kemudian Rasulullah bertanya: “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab: “Ya. Tidak akan ada seorangpun yang datang dengan membawa apa yang engkau bawa melainkan akan disakiti. Dan jika aku masih hidup pada masamu, niscaya aku akan mendukungmu dengan pertolongan yang sangat besar.” Dan tidak lama kemudian Waraqah meninggal dunia dan wahyu terhenti, sehingga Rasulullah saw. benar-benar bersedih hati. Berdasarkan berita yang sampai kepada kami, kesedihan beliau itu berlangsung terus-menerus, agar beliau turun dari puncak gunung. Setiap kali beliau sampai di puncak gunung dengan tujuan menjatuhkan diri, maka Jibril muncul seraya berkata: “Wahai Muhammad sesungguhnya engkau benar-benar Rasul Allah.” Dengan demikian, maka hati beliau pun menjadi tenang dan jiwanya menjadi stabil dan setelah itu beliau kembali pulang. Dan jika tenggang waktu tidak turunnya wahyu itu terlalu lama, maka beliau akan melakukan hal  yang sama. Di mana jika beliau sampai di puncak gunung, maka malaikat Jibril tampak olehnya dan mengucapkan hal yang sama kepada beliau.

Hadits di atas diriwayatkan  di dalam kitab ash-Shahihain, dari hadits az-Zuhri. Dan kami telah membicarakan sanad, matan, dan pengertian hadits ini di awal syarah kami untuk kitab shahih al-Bukhari  secara rinci. Oleh karena itu bagi yang berminat, di buku itulah dijelaskan.  Di dalam ayat-ayat yang diturunkan pertama kali ini termuat peringatan mengenai permulaan penciptaan manusia dari segumpal darah. Dan bahwasannya di antara kemurahan Allah Ta’ala adalah Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. Dengan demikian, Dia telah memuliakannya dengan ilmu. Dan itulah hal yang menjadikan bapak umat manusia ini, Adam a.s. mempunyai kelebihan atas malaikat. Terkadang, ilmu berada di dalam akal fikiran dan terkadang berada dalam tulisan. Secara akal, lisan, dan tulisan, mengharuskan perolehan ilmu dan tidak sebaliknya. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: iqra’ wa rabbukal akram. Alladzii ‘allama bil qalam. ‘allamal ingsaana maa lam ya’lam (“Bacalah, dan Rabb-mulah yang Paling Pemurah, yang mengajar [manusia]  dengan perantaraan  kalam. Dia mengajarkan kepada manusia  apa yang tidak diketahuinya.”) di dalam atsar disebutkan: qayadul ‘ilma bil kitaabaH (“Ikatlah ilmu dengan tulisan.”) selain itu, di dalam atsar juga disebutkan: “Barangsiapa mengamalkan apa yang diketahuinya, maka Allah akan mewariskan kepadanya apa yang tidak diketahui sebelumnya.”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 106 pengikut lainnya.