Tag Archives: ‘ulumul hadits

Mengetahui Para Perawi Yang Terkenal Nama Panggilan (Kunyah)-nya

8 Okt


‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Maksud pembahasan
Untuk meneliti nama-nama yang populer dengan nama panggilan [kunyah]nya sehingga kita mengetahui nama [sebenarnya] masing-masing mereka yang tidak populer

2. Manfaaatnya
Agar tidak ada dugaan bahwa sosok satu orang itu dikira dua orang, terutama jika sewaktu-waktu disebut nama yang tidak populer dari orang itu, lalu di waktu lainnya disebutkan kunyahnya yang populer. Orang yang tidak mengetahui hal ini akan muncul kesamaran, lalu mengira bahwa hal itu adalah dua orang yang berbeda, padahal sebenarnya satu orang.

3. Metode penyusunannya
Para penyusun kitab kunyah telah membuat sistematika penyusunan bab-bab berdasarkan urutan huruf kunyah, kemudian menyebutkan nama-nama pemiliknya. Misalnya disebutkan dalam bab hambzah: Abu Ishaq, lalu disebutkan namanya: dalam bab ba Abu Bisyr, lalu disebutkan namanya; begitu seterusnya.

4. Pembagian pemilik kunyah dan contohnya
a. Nama dan kunyahnya sama: tidak ada nama lainnya. Seperti Abu Bilal al-Asy’ari, nama dan Kunyahnya sama.
b. Yang dikenal dengan kunyah-nya: dan tidak diketahui apakah punya namanya yang asli atau tidak. Seperti Abu Unas yang berasal dari kalangan shahabat.
c. Memiliki laqab dan kunyah: memiliki nama asli, kunyah dan yang semacamnya. Seperti Abu Turab, ini merupakan laqabnya Ali bin Abi Thalib; sedangkan kunyah beliau adalah Abu al-Hasan.
d. Memiliki dua kunyah atau lebih: seperti Ibnu Juraij, kunyahnya adalah Abu al-Walid dan Abu Khalid
e. Diperselisihkan kunyahnya; seperti Usamah bin Zaid. Ada juga yang mengatakan Abu Muhammad, ada pula yang mengatakan Abu Abdullah, malah ada yang mengatakan Abu Kharijah.
f. Kunyahnya dikenal tapi nama diperselisihkan. Seperti Abu Hurairah. Terdapat perbedaan tentang nama nya dan nama bapaknya sehingga tiga puluh pendapat; tetapi yang termasyhur adalah Abdurrahman bin Syakhr.
g. Diperselisihkan nama asli dan kunyahnya: seperti Safinah. Ada yang mengatakan namanya adalah ‘Umair; ada juga Shaleh, atau Mihran. Sedangkan kunyahnya adalah Abu Abdurrahman, ada yang mengatakan Abu al-Bakhtari.
h. Dikenal nama dan kunyahnya, dan dua-duanya masyhur. Seperti Abu Abdullah [Sufyan ats-Tsauri, Malik, Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal]; juga seperti Abu Hanifah yang bernama Nu’man bin Tsabit.
i. Kunyahnya populer dan nama aslinya dikenal; seperti Abu Idris al-Khaulani, namanya adalah ‘Aidzullah.
j. Nama aslinya populer dan kunyahnya dikenal. Seperti Thalhah bin Ubaidillah at-Taimi, Abdullah bin ‘Auf, Hasan bin Ali bin Abi Thalib; kunyah mereka semua adalah Abu Muhammad.

5. Kitab yang populer
Para ulama banyak yang menyusun kitab tentang kunyah. Di antara mereka adalah Ali bin al-Madini, Muslim, Nasai. Kitab populer yang telah dicetak adalah al-Kunya wa al asma, karya ad-Dulabi Abu Bisyr Muhammad bin Ahmad, yang meninggal tahun 310 H.

&

Mengetahui Mubhamat

8 Okt

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Definisi
a. Menurut bahasa: mubhamat itu bentuk jamak dari kata mubham, yang merupakan isim maf’ul dari kata al-ibham, yang berarti lawan dari jelas
b. Menurut istilah: hadits yang nama rawinya atau orang yang memiliki hubungan dengan riwayat tersebut tidak jelas, baik pada matan maupun pada sanad.

2. Manfaatnya
a. Mubham pada sanad: mengetahui para perawi apakah tsiqah ataukah dlaif, untuk menetapkan apakah haditsnya itu shahih atau dlaif.
b. Mubham pada matan: manfaatnya dalam hal ini amat banyak, tetapi yang menonjol adalah untuk mengetahui pemilik kisah atau si penanya, sehingga jika dalam hadits itu terdapat kelebihan maka kita akan mengetahui keutamaannya. Namun, jika sebaliknya yang terjadi, kita bisa mengetahui keutamaan para shahabat dengan mengetahui selamatnya dari dugaan.

3. Bagaimana mengetahui mubham
a. Disebutkan namanya dari sebagian riwayat-riwayat yang lain.
b. Penetapan ahli sejarah mengenai kehidupan mereka.

4. Pembagiannya
Dari segi kuat tidaknya mubham itu dibagi menjadi empat macam yang dimulai dengan yang paling kuat mubhamnya:
a. Laki-laki atau perempuan: seperti hadits Ibnu ‘Abbas bahwa seorang lelaki bertanya: “Wahai Rasulallah, apakah haji itu ditunaikan tiap tahun?” lelaki itu ternyata al-Aqra’ bin Habis
b. Anak laki-laki atau perempuan: termasuk dalam kategori ini saudara lelaki, saudara perempuan, anak laki-laki dari saudara lelaki, anak lelaki dari saudara perempuan, anak perempuan dari saudara lelaki dan anak perempuan dari saudara perempuan. Seperti hadits ummu ‘Athiyah mengenai mandinya anak perempuan Nabi saw dengan air daun bidara. Yang dimaksudkan anak perempuan di sini adalah Zaenab ra.
c. Saudara lelaki dari bapak [paman] atau saudara perempuan dari bapak [bibi]: termasuk dalam kategori ini adalah saudara lelaki dari ibu, saudara perempuan dari ibu, anak lelaki ataupun anak perempuan dari saudara lelali bapak atau dari saudara perempuan bapak, anak lelaki atau anak perempuan dari saudara lelaki ibu atau dari saudara perempuan ibu. Seperti hadits Rafi’ bin Khadij dari paman [saudara lelaki bapaknya] mengenai larangan untuk memata matai. Ternyata nama pamannya adalah Dhuhair bin Rafi’. Atau seperti hadits bibi [saudara perempuan dari bapaknya] Jabir yang mengisi bapaknya tatkala gugur dalam perang Uhud. Nama bibinya ternyata Fathimah binti Amru.
d. Suami atau istri: seperti hadits yang terdapat dalam shahihain mengenai meninggalnya suami dari Subai’ah. Ternyata nama suaminya adalah Sa’ad bin Khaulah. Atau hadits tentang istri Abdurrahman bin Zubair yang tengah berada [di bawah perlindunga] Rifa’ah al-Quradhi, kemudian ia mentalaknya. Ternyata nama istrinya adalah Tamimah binti Wahab.

5. Kitab yang populer
Beberapa ulama telah menyusun kitab yang mengandung cabang ilmu hadits ini. Di antara mereka terdapat Abdul Ghani bin Sa’id, Khathib al-Baghdadi, Imam Nawawi. Kitab yang paling baik dan komprehesif adalah al-Mustafad min Mubhamat al-Matni wa al-Isnadi, karya Waliyuddin al-‘Iraqi

&

Musalsal

8 Okt

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Definisi
a. Menurut bahasa: merupakan isim maf’ul dari kata as-salsalatu, yang berarti bersambungnya sesuatu dengan sesuatu yang lain, sebagaimana rantai besi. Dinamakan seperti itu karena aspek kesinambungan dan keserupaan antar bagiannya mirip dengan rantai.
b. Menurut istilah: hadits yang para perawinya dalam sanadnya berkesinambungan pada sifat-sifat atau kondisi tertentu, dan kadangkala pada riwayat lain.

2. Penjelasan
Musalsal itu adalah hadits yang para perawi sanadnya berurutan pada
a. Bersekutu pada satu sifat
b. Bersekutu pada satu kondisi
c. Bersekutu pada satu sifat dalam riwayat

3. Jenisnya
Berdasarkan penjelasan terhadap definisi, jelas bahwa musalsal itu jenisnya ada tiga, yaitu: musalsal dengan keadaan para perawi, musalsal dengan sifat para perawi, dan musalsal dengan sifat-sifat periwayatannya. Berikut ini paparan masing-masingnya:
a. Musalsal dengan keadaan para perawi: keadaan para perawi menyangkut perkataan-perkataannya, atau perbuatan perbuatannya, atau perkataan dengan perbuatan secara bersamaan.
– Musalsal dengan keadaan para perawi yang menyangkut perkataan. Contohnya adalah hadits Muadz bin Jabal, bahwa Nabi saw. bersabda kepadanya: “Wahai Mu’adz, sesungguhnya aku mencintaimu maka bacalah setiap kali akhir shalat, Wahai Allah bantulah aku untuk selalu mengingat-Mu dan bersyukur kepada-Mu dan berbadah dengan baik kepada-Mu.”
Hadist ini musalsal dengan ucapan setiap perwinya, yaitu : “Dan aku ini mencintaimu, maka bacalah.”
– Musalsal dengan kedaan para perawi yang menyangkut perbuatan. Contohnya hadits Abu Hurairah, yang berkata: “Abu al-Qasim telah menjajarkan tanganku seraya bersabda: “Allah telah menciptakan bumi pada hari Sabtu.”
Hadits ini musalsal dengan menjajarkan tangannya pada setiap rawi dari riwayatnya.
– Musalsal dengan keadaan para perawi yang menyangkut perkataan dan perbuatan secara bersamaan. Contohnya hadits Anas, yang berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Seorang hamba tidak akan menjumpai manisnya iman sampai ia beriman kepada qadar, baik buruknya, manis pahitnya.” Kemudian Rasulullah menggenggam jenggotnya dan bersabda lagi, aku telah beriman kepada qadar, baik buruknya, manis pahitnya.”
Hadits ini musalsal pada setiap rawi dalam meriwayatkannya dengan menggenggam jenggotnya, dan pada perkataan: “Aku telah beriman kepada qadar, baik buruknya, manis pahitnya.”

b. Musalsal dengan sifat para perawi: sifat-sifat para perawi itu menyangkut perkataan atau perbuatan.
– Musalsal pada perawi yang menyangkut perkataan. Contohnya hadits musalsal mengenai bacaan surah as-Shaff. Musalsal dengan perkataan setiap rawi: “Maka si fulan membacakan seperti ini.” Dalam hal ini al-‘Iraqi berkata: “Sifat-Sifat rawi yang menyangkut perkataan, dan kondisi ucapan mereka itu bukan hanya berdekatan melainkan amat serupa.”
– Musalsal pada perawi yang menyangkut perbuatan. Seperti kesamaan nama-nama perawi dengan Muhammad; atau kesamaan dalam hal keahlian, seperti para perawi sama-sama fuqaha atau huffadh; atau keamaan nasab, seperti para perawi sama-sama dari Damaskus atau Mesir.

c. Musalsal dengan sifat periwayatan: sifat periwayatan ini bisa menyangkut bentuk penyampaian, atau waktu riwayat, atau tempatnya.
– Musalsal dalam bentuk periwayatan. Contohnya adalah hadits musalsal dengan perkataan setiap perawinya: sami’tu [aku telah mendengar] atau akhbaranaa [telah mengabarkan kepada kami].
– Musalsal yang menyangkut waktu pada riwayat. Seperti hadits musalsal yang meriwayatkan hari ‘Ied.
– Musalsal yang menyangkut tempat pada riwayat. Seperti hadits musalsal yang menyangkut ijabahnnya doa di multazam.

4. Yang paling utama
Yang paling utama adalah yang menunjukkan kesinambungan pada as sima’ dan tidak adanya tadlis

5. Manfaatnya, karena menambah kedlabitan para perawi

6. Apakah disyaratkan musalsal pada seluruh sanad?
Hal ini tidak disyaratkan. Kadangkala hadits musalsal itu terputus di bagian tengah atau bagian akhirnya, tetapi dalam kondisi semacam ini mereka berkata: “Hadits ini musalsal kepada si fulan.”

7. Tidak ada kaitan antara musalsal dengan keshahihan
Amat jarang hadits musalsal yang selamat dari adanya cacat pada rantainya, atau dla’if; namun pada asalnya haditsnya shahih bukan melalui jalur tasalsul.

8. Kitab yang populer
– Musalsalat al-Kubra, karya as-Suyuthhi, di dalamnya mengangdung 85 hadits
– Al-Manahil al-Salsalah fi al-Ahaditsi al-Musalsalah, karya Muhammad Abdul Baqi al-Ayyubi. Di dalamnya mengandung 212 hadits.

&

Mengetahui Gelar (Laqab)

3 Okt

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Definisi menurut bahasa
Alqab itu jamak dari kata laqab. Laqab merupakan sifat yang menunjukkan keutamaan atau kelemahan, atau yang menunjukkan pujian atau celaan.

2. Maksud pembahasan
Mencari dan mengkaji mengenai laqab para ahli hadits dan para perawi untuk mengenalnya dan menghafalnya.

3. Manfaatnya
a. Menghilangkan dugaan terhadap berbagai laqab yang sama; dan mengetahui bahwa adakalanya seseorang itu disebut dengan namanya, di waktu lain disebut laqabnya, sehingga disangka dua orang, padahal satu orang.
b. Untuk mengetahui penyebab dilekatkannya laqab terhadap perawi, sehingga dapat diketahui maksud yang sebenarnya dari laqab yang seringkali maknanya banyak berbeda dengan penampakannya.

4. Pembagiannya
a. Tidak boleh dikenalkan dengannya: yaitu jika dia [yang mendapatkan laqab] tidak menyukainya
b. Boleh dikenalkan dengannya: yaitu jika dia [yang mendapatkan laqab] tidak membencinya.

5. Contoh
a. Ad-Dlal: ini laqab bagi Mu’awiyah bin Abdul Karim ad-Dlal, diberi laqab ini karena dia pernah tersesat di jalan kota Makkah
b. Ad-Dlaif: ini laqab bagi Abdullah bin Muhammad ad-Dlaif, diberi laqab ini karena badannya lemah, bukan haditsnya yang lemah. Abdul Ghani bin Sa’id berkata: “Dua orang laki-laki yang sama-sama memiliki kemuliaan tetapi memiliki laqab yang buruk, yaitu ad-Dlal dan ad-Dla’if.”
c. Ghundar: artinya si pengacau [pembuat keributan], ini menurut penduduk Hijaz. Laqab ini ditujukan bagi Muhammad bin Ja’far al-Bashri, shahabat dari Syu’bah. Penyebab munculnya laqab ini adalah, bahwa Ibnu Juraij datang ke kota Bashrah, kemudian menuturkan hadits dari Hasan al-Bashri, tetapi mereka mengingkari hadits tersebut dan membuat kegaduhan, dan orang yang paling membuat kegaduhan adalah Muhammad bin Ja’far, sehingga dikatakan kepadanya: “Diamlah hai pengacau!”
d. Ghunjar: laqab bagi Isa bin Musa at-Taimi. Laqab ghunjar karena warna merahnya dan kebunnya.
e. Sha’iqah: laqab bagi Muhammad bin Ibrahim al-Hafidh. Bukhari meriwayatkan haditsnya. Diberi laqab ini karena kuat hafalan dan ingatannya.
f. Musyukudanah: laqab bagi Abdullah bin Umar al-Umawi. Arti dalam bahasa Persia, yaitu biji dari minyak wangi atau tempat minyak wangi.
g. Muthayyan: laqab bagi Abi Ja’far al-Hadlrami. Disebut begitu karena sewaktu masih kecil, dia bermain-main air dengan teman-temannay, kemudian punggungnya dilumuri tanah. Abu Nu’aim berkata kepadanya: “Wahai muthayyan, mengapa engkau tidak menghadiri majelis ilmu?”

6. Kitab yang populer
Sekelompok ulama yang terdahulu maupun yang kontemporer telah menyusun kitab membahas masalah ini. Kitab yang palingt baik dan ringkas adalah Nuzhatu al-Albab, karya Hafidh Ibnu Hajar.

&

Mengetahui Sejarah para Perawi

3 Okt

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Definisi
a. Menurut bahasa: tawarikh itu merupakan bentuk jamak dari tarikh, yang merupakan mashdar dari arrakha, huruf hamzah yang ada di dalamnya dipermudah.
b. Menurut istilah: pengetahuan mengenai waktu yang merekam kondisi rawi, baik kelahirannya, kematiannya, berbagai kejadian yang dialaminya dan lain-lain.

2. Maksud pembahasan
Untuk mengetahui sejarah [biografi] kelahiran perawi, tata cara mendengar dari guru-gurunya, kedatangannya di berbagai negeri, dan meninggalnya.

3. Urgensi dan manfaatnya
Ini termasuk cabang ilmu hadits yang penting. Sufyan ats-Tsauri berkata: “Tatkala perawi berbuat dusta maka kita melakukan penelusuran sejarah hidupnya. Di antara manfaatnya adalah mengetahui bersambungnya atau terputusnya sanad.”
Pernah suatu kaum telah meriwayatkan dari kaum lain, lalu ditelusuri dalam sejarah, ternyata, ternyata kaum tersebut menerima riwayat setelah mereka meninggal beberapa tahun sebelumnya.

4. Contoh-contoh Fakta sejarah
a. Pendapat yang shahih mengenai usia Nabi Muhammad saw. sahabatnya yaitu Abu Bakar dan Umar ra. adalah 63 tahun.
– Rasulullah saw. wafat pada waktu dluha, hari Senin, tanggal 12 Rabi’ul Awwal tahun ke 11 H
– Abu Bakar ra. wafat pada bulan Jumadil Ula, tahun ke 13 H.
– Umar ra. wafat pada bulan Dzulhijjah, tahun ke 23 H.
– Utsman ra terbunuh pada bulan Dzulhijjah, tahun ke 35 H, usianya 82 tahun, tetapi ada yang mengatakan 90 tahun.
– Ali ra. terbunuh pada bulan Ramadhan, tahun ke 40 H, usianya 63 tahun.
b. Dua orang shahabat yang hidup 60 tahun pada masa Jahiliyyah dan 60 tahun pada masa Islam, serta meninggal di Madinah pada tahun 54 H adalah:
– Hakim bin Hizam
– Hasan bin Tsabit
c. Pemilik madzab yang mempunyai pengikut:
– Nu’man bin Tsabit, lahir tahun 80 H, dan wafat tahun 150 H
– Malik bin Anas, lahir tahun 93 H, dan wafat tahun 179 H
– Muhammad bin Idris asy-Syafi’i, lahir tahun 150 H, dan wafat tahun 204 H
– Ahmad bin Hanbal, lahir tahun 164 H, dan wafat tahun 241 H.
d. Penyusun kitab-kitab rujukan:
– Muhammad bin Ismail al-Bukhari, lahir tahun 194 H dan wafat tahun 256 H
– Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, lahir tahun 204 H dan wafat tahun 261 H
– Abu Daud as-Sijistani, lahir tahun 202 H dan wafat tahun 275 H
– Abu Isa at-Tirmidzi, lahir tahun 209 H, dan wafat tahun 279 H
– Ahmad bin Syu’aib an-Nasai, lahir tahun 214 H, dan wafat tahun 303 H.
– Ibnu Majah al-Quzwaini, lahir tahun 207 H, dan wafat tahun 275 H

5. Kitab yang Populer
a. Al-Wafayat, karya Ibnu Zabr Muhammad bin Ubaidillah ar-Rabi’i, ahli hadits dari kota Damaskus, wafat tahun 379 H. Beliau menyusun dua kitab sunan.
b. Pemberi keterangan [lampiran] pada kitab terdahulu, di antaranya al-Kittani, al-Akfani dan al’Iraqi, di samping yang lainnya.

&

Mengetahui kerusakan Perawi Tsiqah

2 Okt

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Definisi
a. Menurut bahasa: Ikhtilah itu merupakan rusaknya akal. Dikatakan, ikhtilatha fulanun, yang berarti akalnya si fulan rusak.
b. Menurut istilah: akalnya rusak, atau tidak teraturnya ucapan karena sudah pikun atau buta, atau kitabnya terbakar, atau sebab sebab lain.

2. Jenis-jenis ikhtilath
a. Ikhtilath karena pikun: seperti yang menimpa ‘Atha bin Saib ats-Tsaqafi al-Kufi
b. Ikhtilath karena hilangnya penglihatan: seperti yang menimpa Abdurrazak bin Hammam as-Shun’ani. Namun setelah beberapa lama mengalami kebutaan, beliau bisa mengembalikan kecerdasannya.
c. Ikhtilath karena sebab lain: seperti kitabnya terbakar. Hal ini menimpa Abdullah bin Luhaimah al-Mishri.

3. Hukum riwayat yang Mukhtalith
a. Sebelum akal [ingatan]nya rusak, riwayatnya diterima
b. Setelah akal [ingatan]nya rusak, riwayatnya tidak diterima, termasuk riwayat yang meragukan meski itu terjadi sebelum atau sesudah akalnya rusak.

4. Urgensi dan manfaatnya
Ini merupakan cabang ilmu yang amat penting. Sangat berguna untuk membedakan hadits-hadits tsiqah yang disampaikan setelah terjadinya ikhtilath, agar bisa ditolak atau tidak boleh diterima.

5. Apakah Syakhan dalam Kitab Shaihnya mengeluarkan hadits dair Rawi tsiqah yang tertimpa ikhtilath?
Ya ada, akan tetapi telah diketahui bahwa mereka menceritakan hadits sebelum tertimpa ikhtilath

6. Kitab yang populer
Beberapa ulama telah menyusun kitab dalam bidang ini, seperti yang dilakukan oleh al-‘Alai dan al-Hazimi. Kitab yang membahas perkara ini antara lain al-Ightibath bin Man Rumiya bi al-Ikhtilath, karya al-Hafidh Ibrahim bin Muhammad Sibthi bin al-‘Ajami, yang wafat tahun 841 H.

&

Mengetahui Nama-nama, Panggilan (Kunyah) dan Gelar (Laqab)

2 Okt

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Maksud dari kata-kata tersebut
Setiap orang, baik dari kalangan sahabat, atau para perawi secara umum, atau salah seorang ulama, memiliki nama, kunyah atau laqab yang tidak sama dengan perawi atau ulama lain. Umumnya nama panggilan atua gelaran itu sangat asing [berbeda], sulit diucapkan.

2. Manfaatnya
Untuk menghindari kekeliruan dalam penulisan dan penyebutan terhadap nama-nama yang asing tadi

3. Contoh
a. Menyangkut nama:
– Dari kalangan shahabat: Ajmad bin ‘Ujyan, [ditulis atau disebut] seperti Abu Sufyan, atau seperti Ulayyan, sandar dengan wazan Ja’far.
– Dari selain shahabat: Ausath bin Amru; Dluraib bin Nuqair bin Sumair.
b. Menyangkut Kunyah:
– Dari kalangan shahabat: Abu al-Hamra, maula Rasulullah saw. namanya adalah Hilal bin al-Harits.
– Dari selain shahabat: Abu al’Ubaidain, namanya adalah Mu’awiyyah bin Sabrah.
c. Menyangkut laqab:
– Dari kalangan shahabat: Safinah, maula Rasulullah saw. namanya adalah Mihran
– Dari selain shahabat: Mandal, namanya adalah Amru bin Ali al-Ghazi al-Kufi

4. Kitab yang populer
Kitab yang disusun oleh al-Hafidh Ahmad bin Harun al-Bardiji dalam kitabnya al Asma al-Mufradah mengkhususkan pembahasan ini. Selain itu juga di bagian akhir kitab yang menerangkan tentang biografi para perawi, seperti kitab Taqrib at-Tahdzib, karya Ibnu Hajar.

&

Mengetahui Wuhdan

2 Okt

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Definisi
a. Menurut bahasa: wuhdan dengan dlamah pada wawu merupakan bentuk jamak dari wahid
b. Menurut istilah: para perawi yang tidak meriwayatkan dari masing-masing mereka melainkan satu orang rawi saja.

2. Manfaatnya
Untuk mengetahui sosok rawi yang majhul, dan menolak riwayatnya jika bukan termasuk shahabat.

3. Contoh
a. Dari shahabat: ‘Urwah bin Mudlarris, tidak ada yang meriwayatkan haditsnya kecuali asy-Sya’bi. Dan Musayyab bin Hazn, tidak ada yang meriwayatkan haditsnya kecuali anaknya, yaitu Sa’id.
b. Dari tabi’in: Abu al-‘Usyara, tidak ada yang meriwayatkan haditsnya kecuali Hammad bin Salmah.

4. Apakah syaikhan dalam Kitab shahihnya mengeluarkan hadits wuhdan?
a. Al-Hakim dalam kitab al-Madkhal menyatakan bahwa Syaikhan tidak pernah mengeluarkan hadist semacam ini sama sekali.
b. Tetapi jumhur ahli hadits menyatakan dalam shahihain terdapat banyak hadits wuhdan dari kalangan shahabat, diantaranya:
– Hadits Musayyab tentang meninggalnya Abi Thalib, yang dikeluarkan oleh Syaikhan
– Hadits Qais bin Abi Hazim dari Mirdas al-Aslami, mengenai orang-orang shaleh yang pertama-tama pergi. Tidak diriwayatkan dari Mirdas, melainkan hanya [melalui] Qais. Hadits ini dikeluarkan oleh Bukhari.

5. Kitab yang populer
Kitab al-Munfaridat wa al-Wuhdan, karya Imam Muslim

&

Mengetahui Para Tabi’in

2 Okt

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Definisi
a. Menurut bahasa: at-Tabi’un merupakan bentuk jamak dari kata tabi’i atau tabi’. Tabi’ adalah isim fa’il dari kata tabi’ahu yang berarti berjalan di belakangnya.
b. Menurut istilah: orang yang berjumpa dengan shahbat, muslim dan meninggal dalam keadaan Islam. Dikatakan bahwa ia adalah teman dari shahabat.

2. Manfaatnya
Untuk membedakan yang mursal dari yang muttashil

3. Thabaqat tabi’in
Terdapat pendapat mengenai thabaqat para tabi’in. Masing-masing ulama membagi-baginya berdasarkan pertimbangan tertentu.
a. Imam Muslim membaginya menjadi tiga thabaqat
b. Ibnu Sa’ad membaginya menjadi empat thabaqat
c. Al-Hakim membaginya menjadi lima belas thabaqat. Yang utama adalah orang-orang yang pernah berjumpa dengan sepuluh shahabat [yang dijamin masuk surga]

4. Mukhadlramun
Jika satu orang disebut dengan mukhadlramun. Mukhadlramun adalah orang yang hidup di masa jahiliyyah, semasa dengan Nabi saw, memeluk Islam, namun tidak pernah berjumpa dengan beliau saw. Ada pendapat bahwa mereka termasuk tabi’in.
Jumlah mereka sekitar dua puluh orang. Ini menurut pendapat Imam Muslim. Namun yang benar adalah julmlahnya lebih banyak dari itu. Mereka diantaranya, Abu Utsman an-Nahdi dan Aswad bin Yazid an-Nakha’i.

5. Fuqaha yang tujuh
Di antara tabi’in senior adalah fuqaha tujuh. Mereka ini merupakan ulama tabi’in yang paling senior. Semuanya penduduk Madinah. Mereka itu adalah: Sa’id bin Musayyab, Qasim bin Muhammad, ‘Urwah bin Zubair, Kharijah bin Zaid, Abu Salmah bin Abdurrahman, Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah, dan Sulaiman bin Yassar (Ibnu al-Mubarak memasukkan Salim bin Abdullah bin Umar, menggantikan Abu Salamah. Sedangkan Abu Zanad menempatkan Abu Bakar bin Abdurrahman menggantikan Salim maupun Abu Salmah.

6. Tabi’in yang paling utama
Terdapat berbagai pendapat para ulama mengenai tabi’in yang paling utama. Namun yang populer adalah bahwa yang paling utama, Sa’id bin Musayyab. Menurut pendapat Abu Abdullah Muhammad bin Khafif asy-Syairazi:
a. Penduduk Madinah mengatakan: Sa’id bin Musayyan itu tabi’in yang paling utama
b. Penduduk Kufah mengatakan: Uwais al-Qarni
c. Penduduk Bashrah mengatakan: Hasan Bashri
7. Tabi’in wanita yang paling utama
Abu Bakar bin Abu Daud berkata: “Tabi’in wanita yang paling utama adalah Hafshah binti Sirin, dan ‘Amrah binti Abdurrahman, disusul oleh Ummu Darda. (Ummu Darda yang dimaksud disini adalah Ummu Darda as-Sughra. Nama sebenarnya adalah Hujaimah, tetapi ada juga yang mengatakan Juhaimah. Ia adalah istri Abu Darda. Sedangkan ummu Darda al-Kubra juga merupakan istri Abu Darda juga, yang namanya Khairah, tetapi dari kalangan shahabat.)

8. Kitab yang populer
Kitab Ma’rifatu at-Tabi’in, karya Abi Mathraf bin Futhais al-Andalusi.

&

Mengetahui Para Shahabat

2 Okt

‘Ulumul Hadits; Ilmu Hadits; DR.Mahmud Thahan

1. Definisi Shahabat
a. Menurut bahasa: shahabat itu bentuk mashdar yang berarti ash-shuhbah [bersahabat]. Dari situ muncul kata ash-shahabi, ash-shahib, bentuk jamaknyua adalah ashhab. Yang banyak digunakan adalah kata ash-Shahabat, yang berarti ash-shab [para shahabat].
b. Menurut istilah: orang yang bertemu dengan Nabi saw., muslim dan meninggal dalam keadaan Islam, meski di masa hidupnya pernah murtad.
Imam al-Hafidz Abu Bakar Ahmad bin Ali memiliki pendapat yang berbeda, dan ini yang benar, yang mengutip perkataan Sa’id bin Musayyab, bahwa beliau berkata: “Shahabat itu tidak kita perhitungkan kecuali orang yang pernah bersama Rasulullah saw. selama setahun atau dua tahun, dan pernah turut serta berperang dalam satu kali atau dua kali peperangan bersamanya.” Lihat kitab asy-Syakhshiyah al-Islamiyyah karya Taqiyyuddin an-Nabhani juz III/310. Atau pernyataan al-Mazini yang terdapat dalam syarah kitab al-Burhan: “Kita tidak begitu saja mengatakan, bahwa shahabat yang adil itu adalah setiap orang yang menyaksikan Nabi saw satu hari, atau menyaksikan beliau hanya kadang-kadang [sesaat], atau berkumpul dengan beliau karena suatu kepentingan, setelah itu berpaling, melainkan orang-orang yang mengikuti dan bersama-sama beliau, menolong beliau, dan mengikuti cahaya yang diturunkan Allah. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

2. Urgensi dan Manfaatnya
Mengetahui para shahabat merupakan pengetahuan yang amat besar, sangat penting dan besar manfaatnya. Di antara manfaatnya adalah mengetahui yang muttashil dan yang mursal.

3. Dengan apa pertemanan Para Shahabat Dikenal
Yaitu dengan salah satu dari lima cara:
a. Berita yang mutawatir. Seperti Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab, dan 10 orang yang dijamin masuk surga.
b. Popularitas: Seperti Dliman bin Tsa’labah, ‘Ukasyah bin Muhshan.
c. Berita dari shahabat
d. Berita dari para tabi’in yang tsiqah
e. Berita dari dirinya sendiri asalkan dia adil, itupun selama pengakuannya memungkinkan

4. Keadilan seluruh shahabat
Para shahabat ra. seluruhnya adalah adil; baik yang terlibat dalam fitnah maupun tidak. Ini merupakan kesepakatan bagi orang yang memperhatikan mereka. Arti dari mereka itu adil adalah, jauhnya mereka dari kesengajaan berbuat dusta dalam periwayatan dan upaya menyelewengkannya, dengan terjerumus dalam perbuatan yang mengharuskan tidak diterimanya periwayatan mereka. Implikasinya adalah riwayat mereka, seluruhnya diterima, tanpa harus membicarakan mengenai keadilan mereka. Siapapun dari shahabat yang terlibat dalam fitnah, itu karena ijtihad mereka yang salah yang masih beroleh pahala, maka terhadap mereka mesti bersikap husnudhan. Sebab, merekalah yang mengemban syari’at dan mereka hidup dalam kurun yang terbaik.

5. Yang terbanyak meriwayatkan hadits
Ada enam orang shahabat yang banyak meriwayatkan hadits yaitu:
a. Abu Hurairah, yang meriwayatkan 5374 hadits. Dari beliau lebih dari 300 orang meriwayatkannya.
b. Ibnu Umar, yang meriwayatkan 2630 hadits
c. Anas bin Malik, yang meriwayatkan 2286 hadits
d. ‘Aisyah Ummul Mukminin, yang meriwayatkan 2210 hadits
e. Ibnu ‘Abbas yang meriwayatkan 1660 hadits
f. Jabir Abdullah, yang meriwayatkan 1540 hadits

6. Yang terbanyak berfatwa
Diriwayatkan bahwa yang paling banyak berfatwa adalah Abdullah bin Abbas, kemudian para shahabat senior sebanyak enam orang –menurut Masruq-, yaitu: “Ujungnya ilmu para shahabat ada pada enam orang, yaitu Umar, Ali, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abu Darda dan Ibnu Mas’ud; kemudian berakhir ilmu para shahabat itu pada diri Ali dan Abdullah bin Mas’ud.”

7. Siapa yang dimaksud dengan Abadilah
Yakni pada dasarnya merupakan nama mereka, yaitu Abdullah, berasal dari kalangan shahabat. jumlah shahabat yang memakai nama itu sekitar 300 orang. Tetapi yang dimaksud disini ditujukan pada empat orang shahabat saja, yang namanya Abdullah:
a. Abdullah bin Umar
b. Abdullah bin Abbas
c. Abdullah bin Zubair
d. Abdullah bin Amru bin al-‘Ash
Keistimewaan mereka, karena mereka itu adalah ulamanyaa para shahabat, yang wafatnya termasuk pada periode akhir sehingga kita perlu mengetahuinya. Keistimewaan dan popularitas mereka, apabila mereka sepakat dalam suatu perkara dalam bentuk fatwa, maka akan dikatakan sebagai qaul ‘Abadilah [pendapat Abadilah]

8. Jumlah Shahabat
Tidak ada perhitungan yang akurat mengenai jumlah para shahabat. meski demikian ada pendapat ahli ilmu yang bisa dijadikan sebagai sandaran, bahwa mereka itu lebih dari 100.000 orang. Yang terkenal adalah pernyataan Abu Zur’ah ar-Razi: “Rasulullah saw. meninggalkan para shahabat yang berjumlah 114.000 orang, dimana mereka adalah orang-orang yang meriwayatkan dan mendengar [hadits] beliau. (at-Taqrib dan at-Tadrib juz II/220)

9. Jumlah Thabaqat Shahabat
Terdapat perbedaan pendapat mengenai jumlah thabaqat para shahabat. di antara mereka dibuat kategori berdasarkan yang awal memeluk Islam, atau yang turut berhijrah, atau kesaksian mereka dalam berbagai peristiwa penting, dan berbagai pertimbangan lain. Pembagian-pembagian itu berdasarkan pendapat atau ijtihad para ulama.
a. Ibnu Sa’id membagi mereka dalam lima thabaqat
b. Al-Hakim membagi mereka dalam dua belas thabaqat

10. Shahabat yang paling utama
Shahabat yang paling utama adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, kemudian Umar ra. Ini berdasarkan ijma’ [kesepakatan] ahli sunnah. Kemudian Utsman, lalu Ali. Ini menurut pendapat jumhur ahli sunnah. Kemudian sepuluh orang [yang dijamin masuk surga], lalu peserta perang Badar, setelah itu peserta perang Uhud, dan peserta Bai’at ar-Ridwan.

11. Yang pertama masuk Islam
a. Dari kalangan lelaki yang merdeka: Abu Bakar ash-Shiddiq ra.
b. Dari kalangan anak-anak: Ali bin Abi Thalib
c. Dari kalangan wanita: Khadijah Ummul Mukminin ra.
d. Dari kalangan maula [bekas budak]: Zaid bin Haritsah
e. Dari kalangan hamba sahaya: Bilal bin Rabah ra.

12. Yang terakhir meninggal
Abu Thufail Amir bin Wailah al-Laitsi. Meninggal pada tahun 100 H di kota Makkah al-Mukarramah. Ada yang mengatakan lebih dari itu. Sebelumnya adalah Anas bin Malik, yang meninggal pada tahun 93 H di kota Bashrah.

13. Kitab yang populer
a. Al-Ishabah fii Tamyizi as-Shahabat, karya Ibnu Hajar al-‘Asqalani
b. Usud al-Ghabah fii Ma’firati ash-Shahabat, karya Ali bin Muhammad al-Jazri, yang populer dengan nama Ibnu al-Atsir.
c. Al-Isti’ab fii Asma al-Ashhab, karya Ibnu Abdir Barr

&

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 91 pengikut lainnya.