Arsip | Januari, 2013

Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (5)

31 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

44. “Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang Telah diberi bahagian dari Al Kitab (Taurat)? mereka membeli (memilih) kesesatan (dengan petunjuk) dan mereka bermaksud supaya kamu tersesat (menyimpang) dari jalan (yang benar).”
(an-Nisaa’: 44)

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa pada suatu ketika seorang tokoh Yahudi bernama Rifa’ah bin Zaid bin at-Tabut berkata kepada Rasulullah saw. sambil menjulurkan lidahnya: “Hai Muhammad. Perhatikanlah olehmu dan dengarkan agar aku dapat memberikan pengertian kepadamu.” Kemudian dia menghina dan mencela Islam dengan mempermainkan dan memperolok-olokkannya. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 44) berkenaan dengan dirinya, serta memberi peringatan kepada Rasulullah akan adanya orang-orang yang menyesatkan dari jalan yang lurus.

47. “Hai orang-orang yang Telah diberi Al kitab, berimanlah kamu kepada apa yang Telah kami turunkan (Al Quran) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum kami mengubah muka (mu), lalu kami putarkan ke belakang[306] atau kami kutuki mereka sebagaimana kami Telah mengutuki orang-orang (yang berbuat maksiat) pada hari Sabtu[307]. dan ketetapan Allah pasti berlaku.”
(an-Nisaa’: 47)

[306] menurut kebanyakan mufassirin, maksudnya ialah mengubah muka mereka lalu diputar kebelakang sebagai penghinaan.
[307] lihat surat Al Baqarah ayat 65 dan surat Al A’raaf ayat 163.

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah saw. bersabda kepada pendeta-pendeta kaum Yahudi, di antaranya ‘Abdullah bin Shuriya dan Ka’b bin Usaid: “Hai kaum Yahudi. Berbaktilah kepada Allah, dan masuk Islamlah kalian. Demi Allah, sesungguhnya kalian pasti apa yang aku bawa ini adalah benar.” Mereka berkata: “Kami tidak tahu hal itu, hai Muhammad.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 47) sebagai seruan untuk beriman kepada kitab yang diturunkan oleh Allah, yang membenarkan apa yang tercantum dalam kitab mereka.

48. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan Allah, Maka sungguh ia Telah berbuat dosa yang besar.”
(an-Nisaa’: 48)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan ath-Thabarani, yang bersumber dari Abu Ishaq all-Anshari bahwa seorang laki-laki menghadap Rasulullah saw. dan berkata: “Keponakan saya tidak mau meninggalkan perbuatan haram.” Nabi bersabda: “Apa agamanya?” Ia menjawab: “Ia suka shalat dan bertauhid kepada Allah.” Bersabdalah Nab: “Suruhlah dia meninggalkan agamanya, atau ‘belilah’ agamanya!” Orang tersebut melaksanakan perintah Rasul, tetapi keponakannya menolak tawarannya. Ia kembali kepada Nabi saw. seraya berkata: “Saya dapati dia sangat sayang pada agamanya.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 48) sebagai penjelasan bahwa Allah akan mengampuni segala dosa orang yang dikehendaki-Nya (kecuali syirik).

49. “Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih?[308]. Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikitpun.”
(an-Nisaa’: 49)

[308] yang dimaksud di sini ialah orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menganggap diri mereka bersih. lihat surat Al Baqarah ayat 80 dan ayat 111 dan surat Al Maa-idah ayat 18.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah, Mujahid, Abu Malik, dan lain-lain bahwa orang-orang Yahudi mementingkan menyuruh anak-anaknya shalat dan mementingkan anak-anaknya berkurban. Mereka menganggap bahwa dengan perbuatannya itu bebaslah kesalahan dan dosanya. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 49) sebagai teguran kepada orang yang menganggap dirinya bersih dari dosa dengan jalan seperti itu.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (4)

31 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

34. “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh Karena Allah Telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan Karena mereka (laki-laki) Telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. sebab itu Maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri[289] ketika suaminya tidak ada, oleh Karena Allah Telah memelihara (mereka)[290]. wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya[291], Maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, Maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya[292]. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.”
(an-Nisaa’: 34)

[288] lihat orang-orang yang termasuk ahli waris dalam surat An Nisaa’ ayat 11 dan 12.
[289] Maksudnya: tidak berlaku curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya.
[290] Maksudnya: Allah Telah mewajibkan kepada suami untuk mempergauli isterinya dengan baik.
[291] Nusyuz: yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya.
[292] Maksudnya: untuk memberi peljaran kepada isteri yang dikhawatirkan pembangkangannya haruslah mula-mula diberi nasehat, bila nasehat tidak bermanfaat barulah dipisahkan dari tempat tidur mereka, bila tidak bermanfaat juga barulah dibolehkan memukul mereka dengan pukulan yang tidak meninggalkan bekas. bila cara pertama Telah ada manfaatnya janganlah dijalankan cara yang lain dan seterusnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari al-Hasan bahwa seorang wanita mengadu kepada Nabi saw. karena telah ditampar oleh suaminya. Rasulullah saw. bersabda: “Dia mesti dikisas (dibalas).” Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 34) sebagai ketentuan dalam mendidik istri yang menyeleweng. Setelah mendengar penjelasan ayat tersebut, pulanglah ia serta tidak melaksanakan kisas.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari beberapa jalan, yang bersumber dari al-Hasan. Ibnu Jarir meriwayatkan pula hadits seperti ini yang bersumber dari Ibnu Juraij dan as-Suddi bahwa ada seorang istri yang mengadu kepada Rasulullah saw. karena ditampar oleh suaminya (orang Anshar) dan menuntut kisas (balas). Nabi saw. mengabulkan tuntutan itu. Maka turunlah ayat…walaa ta’jal bil qur-‘aani ming qabli ay yuqdlaa ilaika wahyuh….(…dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca al-Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu…) (an-Nisaa’: 34) sebagai ketentuan hak suami dalam mendidik istrinya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari ‘Ali bahwa seorang Anshar menghadap Rasulullah saw. bersama istrinya. Istrinya berkata: “Ya Rasulallah. Ia telah memukul saya hingga berbekas di mukaku.” Maka bersabdalah Rasulullah saw: “Ia tidak berhak berbuat demikian.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 34) sebagai ketentuan dalam mendidik istri.

37. “(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang Telah diberikan-Nya kepada mereka. dan kami Telah menyediakan untuk orang-orang kafir[296] siksa yang menghinakan.”
(an-Nisaa’: 37)

[296] maksudnya kafir terhadap nikmat Allah, ialah Karena kikir, menyuruh orang lain berbuat kikir. menyembunyikan karunia Allah berarti tidak mensyukuri nikmat Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa para ulama bani Israel itu bakhil dengan ilmu yang mereka miliki. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 37) sebagai peringatan terhadap perbuatan seperti itu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Ishaq, dari Muhammad bin Abi Muhammad, dari ‘Ikrimah atau Sa’id, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Kurdum bin Zaid, sekutu Ka’b bin al-Asyraf, Usamah bin Habib, Nafi’ bin Abi Nafi’, Bahri bin ‘Amr, Hayy bin Akhthab, dan Rifa’ah bin Zaid bin at-Tabut mendatangi orang-orang Anshar dan menasehatinya dengan berkata: “Janganlah kamu membelanjakan hartamu, kami takut kalau-kalau kamu jadi fakir dengan hilangnya harta itu; dan janganlah kamu terburu-buru menginfakkan, karena kamu tidak tahu apa yang akan terjadi.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 37) sebagai laranggan menjadi orang kikir dan larangan menganjurkan orang lain menjadi orang kikir.

43. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub[301], terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu Telah menyentuh perempuan, Kemudian kamu tidak mendapat air, Maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.”
(an-Nisaa’: 43)

[301] menurut sebahagian ahli tafsir dalam ayat Ini termuat juga larangan untuk bersembahyang bagi orang junub yang belum mandi.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa-i, dan al-Hakim, yang bersumber dari ‘Ali bahwa ‘Abdurrahman bin ‘Auf mengundang makan ‘Ali dan kawan-kawannya. Kemudian dihidangkan minuman khamr (arak/ minuman keras), sehingga terganggulah otak mereka. Ketika tiba waktu shalat, orang-orang menyuruh ‘Ali menjadi imam, dan waktu itu beliau membaca dengan keliru, qul yaa ayyuhal kaafiruun, laa a’budu maa ta’buduun; wa nahnu na’budu maa ta’buduun (katakanlah: wahai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kami akan menyembah apa yang kamu sembah”). Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 43) sebagai larangan shalat dalam keadaan mabuk.

Diriwayatkan oleh al-Faryabi, Ibnu Abi Hatim, dan Ibnul Mudzir, yang bersumber dari ‘Ali bahwa turunnya ayat,…wa laa junuban illaa ‘aabirii sabiilin hattaa taghtasiluu…(…[jangan pula hampiri mesjid] sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi…) (an-Nisaa’: 43) berkenaan dengan seorang yang junub (berhadats besar) di dalam perjalanan, lalu ia bertayamum terus shalat. Ayat ini (an-Nisaa’: 43) sebagai petunjuk bagi orang yang berhadats dalam perjalanan ketika tidak ada air.

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Al-Asla bin Syarik, bahwa al-Asla bin Syarik dalam keadaan junub di perjalanan bersama Rasulullah saw.. Pada waktu itu malam sangat dingin. Al Asla tidak berani mandi dengan air dingin, takut kalau-kalau mati atau sakit. Hal itu disampaikannya kepada Rasulullah saw.. Lalu turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 43) sebagai tuntunan bagi orang-orang yang takut kena bahaya kedinginan kalau ia mandi.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani yang bersumber dari al-Asla’ bahwa pada suatu hari dalam perjalanan, Rasulullah saw. memerintahkan al-Asla’, khadam dan pembantunya untuk menyiapkan kendaraannya. Al-Asla’ berkata: “Wahai Rasulallah, aku sedang junub.” Rasulullah saw. terdiam hingga datang kepadanya Jibril membawa ayat tentang tayamum. Beliau memperlihatkan cara bertayamum kepadanya: menyapu muka sekali dan menyapu kedua tangannya sampai sikut sekali. Maka al-Asla’ pun bertayamum, kemudian mempersiapkan kendaraan untuk Rasulullah saw.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Yazid bin Abi Habib bahwa pintu rumah sebagian golongan Anshar ada yang melalui masjid. Ketika mereka junub dan tidak mempunyai air, mereka tidak bisa mendapatkan air kecuali melalui masjid. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 43) yang membolehkan orang junub melewati masjid.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Mujahid bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 43) berkenaan dengan seorang Anshar yang sakit dan tidak kuat berdiri untuk wudlu. Dia tidak mempunyai khadam (pelayan) yang menolongnya. Hal ini diterangkan kepada Rasulullah saw.. Turunnya ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 43) sebagai tuntunan bertayamum bagi orang yang sakit dan tidak mampu berwudlu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibrahim an-Nakha’i bahwa beberapa shahabat Rasul mendapat luka yang parah sampai infeksi, dan diuji Allah dengan junub (karena mimpi). Mereka mengadu kepada Rasulullah saw.. Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 43) sebagai kelonggaran bertayamum bagi orang yang sakit parah dan junub.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (3)

30 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

24. “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki[282] (Allah Telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian[283] (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang Telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah Mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu Telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu[284]. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(an-Nisaa’: 24)

[282] Maksudnya: budak-budak yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan bersama-samanya.
[283] ialah: selain dari macam-macam wanita yang tersebut dalam surat An Nisaa’ ayat 23 dan 24.
[284] ialah: menambah, mengurangi atau tidak membayar sama sekali maskawin yang Telah ditetapkan.

Diriwayatkan ole hath-Thabarani yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ayat ini (an-Nisaa’: 24) turun pada waktu perang Hunain, tatkala Allah memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin. Kaum Muslimin mendapat tawanan beberapa wanita ahli kitab. Ketika akan dicampuri, mereka menolak dengan alasan bersuami. Lalu kaum Muslimin bertanya tentang hal itu kepada Rasulullah saw.. Rasulullah saw. menjawab berdasarkan ayat tersebut di atas. (an-Nisaa’: 24)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ma’mar bin Sulaiman, yang bersumber dari bapaknya bahwa orang Hadlrami membebani kaum laki-laki dalam mebayar mahar (maskawin) dengan harapan dapat memberatkannya (sehingga tidak dapat membayar pada waktunya untuk mendapatkan tambahan pembayaran). Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 24) sebagai ketentuan pembayaran maskawin atas keridhaan kedua belah pihak.

32. “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”
(an-Nisaa’: 32)

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim, yang bersumber dari Ummu Salamah bahwa Ummu Salamah berkata: “Kaum laki-laki berperang, sedang wanita tidak, dan kamipun (kaum wanita) hanya mendapat setengah bagian warisan laki-laki.” Maka Allah menurunkan ayat ini (an-Nisaa’: 32) sebagai teguran agar tidak iri hati atas ketetapan Allah. Berkenaan dengan hal itu pula, turun surah al-Ahzab ayat 35, sebagai penjelasan bahwa Allah tidak membeda-bedakan antara kaum Muslimin dan Muslimat dalam mendapat ampunan dan pahala.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa seorang wanita mengadu kepada Rasulullah saw. dengan berkata: “Ya Nabiyallah, laki-laki mendapatkan dua bagian kaum wanita dalam waris, dan dua orang saksi wanita sama dengan satu saksi laki-laki. Apakah di dalam beramalpun demikian juga? (yaitu, pahala amal wanita setengah dari pahala amal laki-laki)?” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 32) sebagai penegasan bahwa laki-laki dan wanita akan mendapat pahala yang sama sesuai dengan amalnya.

33. “Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, kami jadikan pewaris-pewarisnya[288]. dan (jika ada) orang-orang yang kamu Telah bersumpah setia dengan mereka, Maka berilah kepada mereka bahagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.”
(an-Nisaa’: 33)

Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam sunan-nya, dari Ibnu Ishaq, yang bersumber dari Dawud bin al-Husain bahwa Dawud bin al-Hushain membacakan ayat… wal ladziina ‘aaqadat aimaanukum…(…dan [jika ada] orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian dengan sumpah kamu….) kepada Ummu Sa’d binti ar-Rabi’ yang tinggal di rumah Abu Bakr. Akan tetapi Ummu Sa’d berkata: “Salah, bukan demikian. Hendaklah kamu membaca… wal ladziina ‘aqadat aimaanukum..(.. dan [jika ada] orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka…). Karena ayat ini (an-Nisaa’: 33) turun berkenaan dengan peristiwa Abu Bakr yang bersumpah tidak akan member waris kepada anaknya yang tidak masuk Islam. Dan setelah anak itu masuk Islam, diperintahkan untuk diberi warisan sesuai dengan ayat tersebut.”

Sumber : asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (2)

30 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

19. “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa[278] dan janganlah kamu menyusahkan mereka Karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang Telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata[279]. dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”
(an-Nisaa’: 19)

[278] ayat Ini tidak menunjukkan bahwa mewariskan wanita tidak dengan jalan paksa dibolehkan. menurut adat sebahagian Arab Jahiliyah apabila seorang meninggal dunia, Maka anaknya yang tertua atau anggota keluarganya yang lain mewarisi janda itu. janda tersebut boleh dikawini sendiri atau dikawinkan dengan orang lain yang maharnya diambil oleh pewaris atau tidak dibolehkan kawin lagi.
[279] Maksudnya: berzina atau membangkang perintah.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Abu Dawud,dan an-Nasaa-I, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa di zaman jahiliyah apabila seorang laki-laki meninggal, maka wali si mati lebih berhak atas istri yang ditinggalkannya. Sekiranya si wali ingin mengawininya atau mengawinkan kepada orang lain, ia lebih berhak daripada keluarga wanita itu. Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 19) sebagai penegasan tentang kedudukan wanita yang ditinggal suaminya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dengan sanad yang hasan, yang bersumber dari Abu Umamah bin Sahl bin Hanif. Hadits ini diperkuat oleh riwayat Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah. Bahwa ketika Abu Qais bin al-Aslat meninggal, anaknya ingin mengawini istri ayahnya (ibu tiri). Perkawinan seperti ini adalah kebiasaan di zaman jahiliyah. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 19), yang melarang menjadikan wanita sebagai harta waris.

22. “Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang Telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang Telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).”
(an-Nisaa’: 22)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, al-Faryabi, dan ath-Thabarani, yang bersumber dari ‘Adi bin Tsabit , dari seorang Anshar. Bahwa Abu Qais bin al-Aslat, seorang Anshar yang shaleh meninggal dunia. Anaknya melamar istri Abu Qais (ibu tiri). Wanita itu berkata: “Saya menganggap engkau sebagai anakku, dan engkau termasuk dari kaummu yang shaleh.” Maka menghadaplah wanita itu kepada Rasulullah saw. untuk menerangkan halnya. Nabi saw. bersabda: “Pulanglah engkau ke rumahmu.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 22) sebagai larangan mengawini bekas istri bapaknya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d yang bersumber dari Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi, bahwa di zaman jahiliyah, anak laki-laki yang ditinggal mati bapaknya lebih berhak dari diri ibu tirinya: apakah akan mengawininya atau mengawinkannya kepada orang lain, tergantung kehendaknya. Ketika Abu Qais bin al-Aslat meninggal, Muhsin bin Qais (anaknya) mewarisi istri ayahnya, dan tidak memberikan suatu waris apapun pada wanita itu. Menghadaplah wanita itu kepada Rasulullah saw. menerangkan halnya. Maka bersabdalah Rasulullah: “Pulanglah, mudah-mudahan Allah akan menurunkan ayat mengenai halmu.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 19 dan 22) sebagai ketentuan waris bagi istri dan larangan mengawini ibu tiri.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d yang bersumber dari az-Zuhri bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 19 dan 22) berkenaan dengan sebagian besar kaum Anshar, yang apabila seseorang meninggal, maka istri yang bersangkutan menjadi milik wali si mati, dan menguasainya sampai meninggal.

23. “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan[281]; saudara-saudaramu yang perempuan, Saudara-saudara bapakmu yang perempuan; Saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang Telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang Telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(an-Nisaa’: 23)

[281] maksud ibu di sini ialah ibu, nenek dan seterusnya ke atas. dan yang dimaksud dengan anak perempuan ialah anak perempuan, cucu perempuan dan seterusnya ke bawah, demikian juga yang lain-lainnya. sedang yang dimaksud dengan anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu, menurut Jumhur ulama termasuk juga anak tiri yang tidak dalam pemeliharaannya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Juraij bahwa Ibnu Juraij pernah bertanya kepada ‘Atha’ tentang,…. Wa halaa-ilu abnaa-ikumul ladziina min ashlaabikum…(…[dan diharamkan bagimu] istri-istri anak kandungmu [menantu[…) (an-Nisaa’: 23). ‘Atha’ menjawab: “Kami pernah memperbincangkan bahwa ayat itu turun mengenai pernikahan Nabi saw. dengan bekas istri Zaid bin Haritsah (anak angkat Nabi saw.)”. Kaum musyrikin mempergunjingkannya, sehingga turun ayat tersebut (an-Nisaa’: 23) dan (al-Ahzab: 4 dan 40), sebagai penegasan dibenarkannya perkawinan dengan bekas istri anak angkat.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (1)

30 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

4. “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan[1]. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.”
(an-Nisaa’: 4)

[1] pemberian itu ialah maskawin yang besar kecilnya ditetapkan atas persetujuan kedua pihak, Karena pemberian itu harus dilakukan dengan ikhlas.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abu Shalih bahwa biasanya kaum bapak menerima dan menggunakan maskawin tanpa seizin putrinya. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 4) sebagai larangan terhadap perbuatan itu.

7. “Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang Telah ditetapkan.”
(an-Nisaa’: 7)

Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh dan Ibnu Hibban di dalam Kitab al-Faraaidl (ilmu waris), dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kebiasaan kaum jahiliyah tidak meberikan harta waris kepada anak wanita dan anak laki-laki yang belum dewasa. Ketika seorang Anshar bernam Aus bin Tsabit wafat dan meninggalkan dua orang putri serta seorang anak laki-laki yang masih kecil, datanglah dua orang pamannya, yaitu Khalid dan ‘Arfathah, yang menjadi asabat*. Mereka mengambil semua harta peninggalannya. Maka datanglah istri Aus bin Tsabit kepada Rasulullah saw. untuk menerangkan kejadian itu. Rasulullah bersabda: “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan.” Maka turunlah ayat tersebut (an-Nisaa’: 7) sebagai penjelasan tentang hukum waris dalam Islam.

Asabat adalah ahli waris yang hanya mendapat sisa warisan setelah dibagikan kepada ahli waris yang mendapat bagian tertentu (kamus besar bahasa Indonesia, 1989, Jakarta, hal 50)

11. “Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan[272]; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua[273], Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(an-Nisaa’: 11)

12. “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. jika Isteri-isterimu itu mempunyai anak, Maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. jika kamu mempunyai anak, Maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), Maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. tetapi jika Saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris)[274]. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari’at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.”
(an-Nisaa’: 12)

[272] bagian laki-laki dua kali bagian perempuan adalah Karena kewajiban laki-laki lebih berat dari perempuan, seperti kewajiban membayar maskawin dan memberi nafkah. (lihat surat An Nisaa ayat 34).
[273] lebih dari dua maksudnya : dua atau lebih sesuai dengan yang diamalkan nabi.
[274] memberi mudharat kepada waris itu ialah tindakan-tindakan seperti: a. mewasiatkan lebih dari sepertiga harta pusaka. b. berwasiat dengan maksud mengurangi harta warisan. sekalipun kurang dari sepertiga bila ada niat mengurangi hak waris, juga tidak diperbolehkan.

Diriwayatkan oleh Imam yang enam, yang bersumber dari Jabir bin ‘Abdillah bahwa Rasulullah saw. disertai Abu Bakr berjalan kaki menengok Jabir bin ‘Abdillah sewaktu sakit keras di kampung bani Salamah. Ketika didapatkannya tidak sadarkan diri, beliau minta air untuk berwudlu dan memercikan air padanya, sehingga sadar. Lalu berkata Jabir: “Apa yang tuan perintahkan kepadaku tentang harta bendaku?” maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 11-12) sebagai pedoman pembagian harta waris.

Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan al-Hakim, yang bersumber dari Jabir, bahwa istri Sa’d bin ar-Rabi’ menghadap Rasulullah saw. dan berkata: “Ya Rasulallah. Kedua putri ini anak Sa’d bin ar-Rabi’ yang menyertai tuan dalam perang Uhud dan ia telah gugur sebagai syahid. Paman kedua anak ini mengambil harta bendanya, dan tidak meninggalkan sedikitpun, sedang kedua anak ini sukar mendapatkan jodoh kalau tidak berharta.” Rasulullah saw. bersabda: “Allah akan memutuskan persoalan tersebut.” Maka turunlah ayat hukum pembagian waris seperti tersebut di atas. (an-Nisaa’: 11-12)

Keterangan: menurut al-Hafidz Ibnu Hajar, berdasarkan hadits tentang kedua putri Sa’d bin ar-Rabi’, ayat ini (an-Nisaa’: 11-12) turun berkenaan dengan kedua putri itu dan tidak berkenaan dengan Jabir, karena Jabir waktu itu belum mempunyai anak. Selanjutnya ia menerangkan bahwa ayat ini (an-Nisaa’: 11-12) turun berkenaan dengan keduanya. Mungkin ayat 11 pertama berkenaan dengan kedua putri Sa’d dan bagian akhir ayat itu, yaitu (an-Nisaa’: 12) berkenaan dengan kisah Jabir. Adapun maksud Jabir dengan kata-katanya, “turun ayat 11”, ingin menyebutkan hal penetapan hukum waris bagi kalaalah (orang yang tidak meninggalkan anak dan ayah), yang terdapat pada ayat selanjutnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Suddi bahwa orang Jahiliyah tidak meberikan harta waris kepada wanita dan anak laki-laki yang belum dewasa atau yang belum mampu berperang. Ketika ‘Abdurrahman (saudara Hassan bin Tsabit, ahli syair yang masyur) wafat, ia meninggalkan seorang istri bernama Ummu Kuhhah dan lima orang putri. Maka datanglah keluarga suaminya mengambil harta bendanya. Berkatalah Ummu Kuhhah kepada Nabi saw. mengadukan halnya. Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 11) yang menegaskan hak waris bagi anak-anak wanita dan ayat (an-Nisaa’: 12) yang menegaskan hak waris bagi istri.

Diriwayatkan oleh al-Qadli Isma’il di dalam kitab Ahkaamul Qr’aan, yang bersumber dari ‘Abdulmalik bin Muhammad bin Hazm bahwa peristiwa Sa’d bin ar-Rabi’ berkaitan dengan turunnya surah an-Nisaa’ ayat 127. ‘Amrah binti Hazm –yang ditinggal gugur oleh suaminya (Sa’d bin ar-Rabi’, sebagai syahid di perang Uhud,- menghadap Nabi saw. dengan membawa putrinya (dari Sa’d bin ar-Rabi’) menuntut hak waris. Surah an-Nisaa’ ayat 127 tersebut menegaskan kedudukan dan hak wanita dalam hukum waris.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah Al-Maa-idah (9)

29 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

101. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.”
(al-Maa’idah: 101)

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Anas bin Malik bahwa ketika Rasulullah saw. berkhotbah, ada seseorang yang bertanya: “Siapa bapak saya?” Nabi menjawab: “Fulan”. Maka turunlah ayat ini (al-Maa-idah: 101) sebagai teguran kepada orang-orang yang suka bertanya hal-hal yang bukan-bukan.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ada orang-orang yang bertanya kepada Rasulullah saw. dengan maksud memperolok-oloknya. Ada yang bertanya: “Siapa bapak saya?” dan ada pula yang bertanya: “Dimana untaku yang hilang?” maka Allah menurunkan ayat ini (al-Maa-idah: 101) yang melarang orang-orang Mukmin bertanya tentang hal yang bukan-bukan.

Diriwayatkan oleh Ahmad, at-Tirmidzi, dan al-Hakim, yang bersumber dari ‘Ali. Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Abu Hurairah, Abu Umamah, dan Ibnu ‘Abbas. Bahwa ketika turun ayat,….wa lillaahi ‘alan naasi hijjul baiit….(…mengerjakan haji kebaitullah adalah kewajiban manusia terhadap Allah..) (Ali ‘Imraan: 97), orang-orang bertanya: “Apakah tiap tahun ya Rasulallah?” Rasulullah terdiam. Mereka bertanya lagi: “Apakah tiap tahun ya Rasulallah?” Rasul menjawab: “Tidak, karena apabila kukatakan ‘ya’, tentu akan menjadi wajib (tiap tahun).” Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Maa-idah: 101) yang melarang kaum Mukminin terlalu banyak bertanya kepada Rasul.

Keterangan: menurut al-Hafizh Ibnu Hajar, tidak ada halangan apabila ayat ini turun dalam dua peristiwa, akan tetapi hadits Ibnu ‘Abbas lebih shahih sanadnya.

106. “Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, Maka hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu, atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu[1], jika kamu dalam perjalanan dimuka bumi lalu kamu ditimpa bahaya kematian. kamu tahan kedua saksi itu sesudah sembahyang (untuk bersumpah), lalu mereka keduanya bersumpah dengan nama Allah, jika kamu ragu-ragu: “(Demi Allah) kami tidak akan membeli dengan sumpah Ini harga yang sedikit (untuk kepentingan seseorang), walaupun dia karib kerabat, dan tidak (pula) kami menyembunyikan persaksian Allah; Sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang-orang yang berdosa”.
(al-Maa’idah: 106)

[1] ialah: mengambil orang lain yang tidak seagama dengan kamu sebagai saksi dibolehkan, bila tidak ada orang Islam yang akan dijadikan saksi.

107. “Jika diketahui bahwa kedua (saksi itu) membuat dosa[1], Maka dua orang yang lain di antara ahli waris yang berhak yang lebih dekat kepada orang yang meninggal (memajukan tuntutan) untuk menggantikannya, lalu keduanya bersumpah dengan nama Allah: “Sesungguhnya persaksian kami labih layak diterima daripada persaksian kedua saksi itu, dan kami tidak melanggar batas, Sesungguhnya kami kalau demikian tentulah termasuk orang yang menganiaya diri sendiri”.
(al-Maa’idah: 107)

[1] Maksudnya: melakukan kecurangan dalam persaksiannya, dan hal Ini diketahui setelah ia melakukan sumpah.

108. “Itu lebih dekat untuk (menjadikan para saksi) mengemukakan persaksiannya menurut apa yang Sebenarnya, dan (lebih dekat untuk menjadikan mereka) merasa takut akan dikembalikan sumpahnya (kepada ahli waris) sesudah mereka bersumpah[1]. dan bertakwalah kepada Allah dan dengarkanlah (perintah-Nya). Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”
(al-Maa’idah: 108)

[1] maksud sumpah itu dikembalikan, ialah saksi-saksi yang berlainan agama itu ditolak dengan bersumpahnya saksi-saksi yang terdiri dari karib kerabat, atau berarti orang-orang yang bersumpah itu akan mendapat balasan di dunia dan akhirat, Karena melakukan sumpah palsu.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan lain-lain, dari Ibnu ‘Abbas yang bersumber dari Tamim ad-Dari. Hadits ini daif menurut at-Tirmidzi. Bahwa dua orang Nasrani yang bernama Tamim ad-Dari dan ‘Adi bin Bada’ sering pulang pergi ke Syam untuk berdagang, sebelum mereka masuk Islam. Ikut bersama mereka seorang maulaa Bani Sahm yang bernama Badil bin Abi Maryam, yang juga membawa dagangan serta membawa bejana yang terbuat dari perak. Di perjalanan, Badil bin Abi Maryam sakit dan ia berwasiat kepada kedua orang itu agar pusakanya disampaikan kepada ahli warisnya. Berkatalah Tamim: “Ketika ia mati, kami ambil bejana perak dan kami jual dengan harga seribu dirham, dan uangnya kami bagi dua bersama ‘Adi bin Bada’. Setelah kami menyampaikan amanat warisan itu kepada ahli warisnya, mereka kehilangan bejana perak serta menanyakannya kepada kami. Kami katakan bahwa Badil tidak meninggalkan selain yang telah kami serahkan.”
Setelah Tamim masuk Islam, ia merasa berdosa atas perbuatannya itu. Kemudian ia mendatangi ahli waris Badil dan mengakui terus terang serta menyerahkan uang sebanyak lima ratus dirham, sementara sisanya sebesar lima ratus dirham lagi ada pada kawannya (‘Adi bin Bada’). Maka berangkatlah ahli waris Badil beserta ‘Adi menghadap Rasulullah saw.. Rasulullah saw. meminta bukti-bukti tuduhan terhadap ‘Adi itu, tetapi mereka tidak dapat memenuhinya. Kemudian Rasulullah menyuruh mereka menyumpah ‘Adi, dan iapun bersumpah. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Maa-idah: 106-108) sampai…an turadda aimaanum ba’da aimaanihim…(…akan dikembalikan sumpahnya [kepada ahli waris] sesudah mereka bersumpah….). Maka berdirilah ‘Amr bin al’Ash dan seorang lainnya bersumpah untuk menjadi saksi, sehingga diputuskan agar uang yang lima ratus dirham lagi diambil dari ‘Adi bin Bada’.

Keterangan: adz-Dzahabi menetapkan bahwa Tamim di sini bukan Tamim ad-Dari. Pendapat tersebut didasarkan pada ucapan Muqatil bin Hibban.
Al-Hafizh Ibnu Hajar tidak mendapatkan keterangan yang jelas bahwa yang disebut dalam hadits itu adalah Tamim ad-Dari.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk.

Asbabun Nuzul Surah Al-Maa-idah (8)

29 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

90. “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah[1], adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”
(al-Maa’idah: 90)

[1] Al Azlaam artinya: anak panah yang belum pakai bulu. orang Arab Jahiliyah menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan apakah mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. setelah ditulis masing-masing yaitu dengan: lakukanlah, Jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka’bah. bila mereka hendak melakukan sesuatu Maka mereka meminta supaya juru kunci ka’bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. kalau yang terambil anak panah yang tidak ada tulisannya, Maka undian diulang sekali lagi.

91. “Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat All’ah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).”
(al-Maa’idah: 91)

92. “Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. jika kamu berpaling, Maka Ketahuilah bahwa Sesungguhnya kewajiban Rasul kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.”
(al-Maa’idah: 92)

93. “Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh Karena memakan makanan yang Telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, Kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, Kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”
(al-Maa’idah: 93)

Diriwayatkan oleh Ahmad yang bersumber dari Abu Hurairah, bahwa ketika Rasulullah saw. datang ke Madinah, beliau mendapati kaumnya suka minum arak dan makan hasil judi. Mereka bertanya kepada Rasulullah saw. tentang hal itu. Maka turunlah ayat, yas-aluunaka ‘anil khamri wal maisiri qul fiihimaa itsmung kabiiruw lin naas..(mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia…) sampai akhir ayat (al-Baqarah: 219). Mereka berkata: “Tidak diharamkan kepada kita. Minum arak hanyalah dosa besar. Merekapun terus minum arak. Pada suatu hari ada seseorang dari kaum Muhajirin mengimami para shahabat lainnya shalat magrib. Bacaan orang itu salah (karena mabuk). Maka Allah menurunkan ayat yang lebih keras daripada ayat yang tadi, yaitu ayat, yaa ayyuhal ladziina aamanuu la taqrabush shalaata wa angtum sukaaraa hattaa ta’lamuu maa taquuluun..(hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan…) (an-Nisaa’: 43).
Kemudian turun ayat yang lebih keras lagi, yaitu surah al-Maa-idah ayat 90-91 yang memberikan kepastian haramnya. Sehingga merekapun berkata: “Cukuplah, kami akan berhenti.” Kemudian orang-orang bertanya: “Ya Rasulallah, bagaimana nasib orang-orang yang gugur di jalan Allah dan yang mati di atas kasur, padahal mereka peminum arak dan pemakan hasil judi, sementara Allah telah menetapkan bahwa kedua hal itu termasuk perbuatan setan yang keji. Kemudian Allah menurunkan ayat ini (al-Maa-idah: 93) sebagai jawaban atas pertanyaan mereka.

Diriwayatkan oleh an-Nasaa-i dan al-Baihaqi, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa turunnya ayat ini (al-Maa-idah: 90) berkenaan dengan peristiwa yang terjadi pada dua suku golongan Anshar yang hidup rukun, tidak ada dendam kesumat. Tetapi apabila mereka minum sampai mabuk, mereka saling mengganggu hingga meninggalkan bekas (luka) pada muka atau kepala. Dengan demikian maka pudarlah rasa kekeluargaan mereka, lalu timbul rasa permusuhan dan langsung menuduh bahwa suku yang lainnyalah yang mengganggunya itu. Hal itulah yang biasanya menimbulkan dendam kesumat di hati mereka. Padahal mereka tidak akan berbuat seperti itu apabila mereka saling kasih sayang. Ayat ini melukiskan keberhasilan setan mengadu domba orang-orang yang beriman sebab minum arak dan main judi.
Orang-orang yang merasa berat meninggalkan minum itu memperbincangka najis (khamr) yang telah diminum oleh orang-orang yang gugur pada Perang Uhud. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Maa-idah: 93), sebagai penjelasan tentang kedudukan mereka yang gugur sebelum turunnya ayat larangan meminum arak dan main judi.

100. Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, Maka bertakwalah kepada Allah Hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.”
(al-Maa’idah: 100)

Diriwayatkan oleh al-Wahidi dan al-Ashbahani di dalam Kitab at-Targhib, yang bersumber dari Jabir, bahwa ketika Nabi menerangkan haramnya arak, berdirilah orang baduy dan berkata: “Saya pernah menjadi pedagang arak, dan saya kaya raya karenanya. Apakah kekayaanku ini bermanfaat apabila saya gunakan untuk taat kepada Allah?” Nabi menjawab: “Sesungguhnya Allah tidak menerima kecuali yang baik.” Maka turunlah ayat ini (al-Maa-idah: 100) yang membenarkan ucapan Rasulullah saw.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah Al-Maa-idah (7)

29 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

68. ‘Katakanlah: “Hai ahli kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu”. Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; Maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu.’
(al-Maa’idah: 68)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rafi’, Salam bin Musykam, dan Malik bin ash-Shaif (dari kaum Yahudi) berkata: “Hai Muhammad, bukankah engkau mengaku bahwa engkau mengikuti agama Ibrahim dan beriman kepada kitab yang ada pada kami (Taurat).” Rasulullah menjawab: “Benar. Akan tetapi kalian telah menyelewengkannya, kafir kepada isinya, dan kalianpun menyembunyikan apa yang diperintahkan untuk diterangkan kepada semua manusia.” Mereka berkata: “Sesungguhnya kami melaksanakan apa yang ada pada kami, serta mengikuti petunjuk dan kebenaran.” Maka turunlah ayat ini (al-Maa-idah: 68) sebagai penegasan bahwa mereka itu tidak mengikuti ajaran sebenarnya.

82. “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. dan Sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya kami Ini orang Nasrani”. yang demikian itu disebabkan Karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) Karena Sesungguhnya mereka tidak menymbongkan diri.”
(al-Maa’idah: 82)

83. “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang Telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: “Ya Tuhan kami, kami Telah beriman, Maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad s.a.w.)”
(al-Maa’idah: 83)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin al-Musayyab, Abu Bakr bin ‘Abdirrahman, dan ‘Urwah bin Zubair bahwa Rasulullah saw. pernah mengutus ‘Amr bin Umayyah adl Dlamari untuk menyampaikan surat kepada an-Najasyi. Sesampainya di hadapan an-Najasyi, surat itupun dibacanya. Kemudian an-Najasyi memanggil Ja’far bin Abi Thalib dan orang-orang yang hijrah (ke Habsyah)) bersamanya serta para rahib dan paderi. Ia menyuruh Ja’far bin Abi Thalib membaca al-Qur’an. Ja’far membacakan surah Maryam. Semua yang hadir beriman kepada isi Al-Qur’an dan berlinang-linang air matanya. Mereka inilah yang disebut Allah dalam ayat tersebut di atas (al-Maa-idah: 82-83).

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa an-Najasi mengirim tigapuluh orang sahabat terbaiknya kepada Rasulullah saw.. Rasulullah membacakan surah Yasin kepada mereka, sehingga mereka menangis. Maka turunlah ayat ini (al-Maa-idah: 82-83) yang menceritakan adanya kaum rahib dan pendeta Nasrani yhang tidak sombong dan beriman kepada apa yang diturunkan kepada Rasulullah saw.

Diriwayatkan oleh an-Nasa-i yang bersumber dari ‘Abdullah bin Zubair. Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh ath-Thabarani yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, tetapi lebih jelas. Bahwa turunnya ayat ini (al-Maa-idah: 83) berkenaan dengan Najasi dan kawan-kawannya. Ayat tersebut menegaskan bahwa mereka mencucurkan air mata bila mendengar ayat-ayat yang diturunkan kepada Rasulullah saw. (karena mereka yakin akan kebenarannya).

87. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang Telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
(al-Maa’idah: 87)

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa seorang laki-laki menghadap Nabi saw. dan berkata: “Ya Rasulallah. Apabila aku makan daging, timbul syahwatku kepada wanita. Oleh karena itu saya haramkan daging untukku.” Maka turunlah ayat ini (al-Maa-idah: 87) sebagai larangan untuk mengharamkan yang halal.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh ‘Ikrimah, Abu Qilabah, Mujahid, Abu Malik, an-Nakha’i, as-Suddi, dan lain-lain, tetapi mursal. Bahwa beberapa sahabat, di antaranya ‘Utsman bin Mazh’un, mengharamkan bercampur dengan istrinya sendri dan mengharamkan makan daging. Mereka mengambil pisau untuk memotong kemaluannya supaya syahwatnya terputus, sehingga mereka tidak terganggu lagi beribadah kepada Allah. Maka turunlah ayat ini (al-Maa-idah: 87) yang melarang kaum Mukminin mengharamkan barang yang halal.

Keterangan: menurut riwayat as-Suddi, para shahabat yang mengharamkan itu terdiri dari sepuluh orang, antara lain: Ibnu Mazh’un dan ‘Ali bin Abi Thalib.
Menurut riwayat ‘Ikrimah, mereka itu antara lain: Ibnu Mazh’un, ‘Ali bin Abi Thalib, Ibnu Mas’ud, al-Miqdad bin al-Aswad, serta Salim (‘abid yang telah dibebaskan dan diangkat sebagai keluarga Abu Hudzaifah). Sedangkan menurut riwayat Mujahid, mereka antara lain: Ibnu Mazh’un dan ‘Abdullah bin ‘Umar.

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir di dalam kitab Taarikh-nya, dari as-Suddish Shaghir, dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa turunnya ayat ini (al-Maa-idah: 87) berkenaan dengan segolongan shahabat , di antaranya Abu Bakr, ‘Umar, ‘Ali, Ibnu Mas’ud, ‘Utsman bin Mazh’un, al-Miqdad bin al-Aswad, dan Salim (maulaa Abu Hudzaifah) yang sepakat akan mengebiri dirinya, menjauhi istrinya, tidak akan makan daging dan lemak, akan memakai pakaian paderi, dan tidak akan makan kecuali sekedarnya saja. Mereka akan berdakwah mengelilingi dunia seperti para rahib. Ayat di atas melarang perbuatan seperti itu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Zaid bin Aslam bahwa ‘Abdullah bin Rawahah kedatangan keluarganya di saat ia berada di rumah Rasulullah saw.. Ketika pulang, ia mendapati tamunya belum disuguhi makanan, karena mereka menunggunya. Ia berkata pada istrinya: “Mengapa engkau biarkan tamuku tidak disuguhi makanan karena menungguku, padahal makanan itu haram bagiku?” Istrinya berkata: “Makanan inipun haram bagiku.” Dan tamunya juga berkata: “Makanan inipun haram bagiku.” Karena peristiwa itu, ‘Abdullah mempersilakan makan kepada tamunya, sambil mengucapkan bismillaah (dengan nama Allah), dan iapun ikut makan bersamanya. Setelah itu ia pergi kepada Rasulullah saw. seraya menceritakan kejadian di rumahnya. Maka turunlah ayat ini (al-Maa-idah: 87) yang melarang kaum Mukminin mengharamkan barang yang halal.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah Al-Maa-idah (6)

29 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

64. “Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu”[1], Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu[2] dan merekalah yang dila’nat disebabkan apa yang Telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; dia menafkahkan sebagaimana dia kehendaki. dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. dan kami Telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. setiap mereka menyalakan api peperangan Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerusakan dimuka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerusakan.”
(al-Maa’idah: 64)

[1] maksudnya ialah kikir.
[2] kalimat-kalimat Ini adalah kutukan dari Allah terhadap orang-orang Yahudi berarti bahwa mereka akan terbelenggu di bawah kekuasaan bangsa-bangsa lain selama di dunia dan akan disiksa dengan belenggu neraka di akhirat kelak.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa seorang Yahudi bernama an-Nabasy bin Qais berkata: “Sesungguhnya Rabb-mu itu bakhil (kikir), tidak mau memberi nafkah.” Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Maa-idah: 64) sebagai bantahan atas ucapan mereka.

Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh dari jalan lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas juga bahwa turunnya ayat ini (al-Maa-idah: 64) berkenaan dengan ucapan Fanhash (kepala Yahudi Bani Qainuqa’) yang menganggap Allah kikir, yang membantah ucapan tersebut.

67. “Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia[1]. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”

[1] Maksudnya: tak seorangpun yang dapat membunuh nabi Muhammad s.a.w.

Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh yang bersumber dari al-Hasan, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mengutusku untuk mengemban risalah kerasulan. Hal tersebut menyesakkan dadaku, karena aku tahu bahwa orang-orang akan mendustakan risalahku. Allah memerintahkan kepadaku untuk menyampaikannya, dan kalau tidak, Allah akan menyiksaku.” Maka turunlah ayat ini (al-Maa-idah: 67) yang mempertegas perintah penyampaian risalah disertai jaminan akan keselamatannya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Mujahid bahwa ketika turun ayat, yaa ayyuharrasuulu maa ungzila ilaika mir rabbik…(hai Rasull, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabb-mu…) (sebagian al-Maa-idah: 67), Rasulullah bersabda: “Ya Rabbi. Apa yang harus kuperbuat, padahal aku sendirian dan mereka berkomplot menghadapiku.” Maka turunlah kelanjutan ayat tersebut yang menegaskan perintah pemyampaian risalah kenabian.

Diriwayatkan oleh al-Hakim dan at-Tirmidzi, yang bersumber dai ‘Aisyah bahwa Siti ‘Aisyah menyatakan bahwa Nabi saw. biasa dijaga oleh pengawalnya, sampai turun ayat, …wallaahu ya’shimuka minan naas..(..Allah memelihara kamu dari [gangguan] manusia…) (al-Maa-idah: 67) setelah ayat itu turun, Rasulullah menampakkan diri dari Kubah sambil bersabda: “Wahai saudara-saudara. Pulanglah kalian, Allah telah menjamin keselamatanku dalam menyerbarkan dakwah ini. Sesungguhnya malam seperti ini baik untuk tidur di tempat masing-masing.”

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani yang bersumber dari Abu Sa’id al-Kudri, bahwa al-‘Abbas, paman Nabi saw., termasuk pengawal Nabi. Ketika turun ayat ,…. wallaahu ya’shimuka minan naas.. (Allah memelihara kamu dari [gangguan] manusia…) (al-Maa-idah: 67), iapun meninggalkan pos penjagaannya.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani yang bersumber dari ‘Ishmah bin Malik al-Khathmi bahwa para shahabat biasanya mengawal Rasul saw. pada waktu malam, sampai turun ayat,…. wallaahu ya’shimuka minan naas..(..Allah memelihara kamu dari [gangguan] manusia…) (al-Maa-idah: 67). Sejak turun ayat tersebut merekapun meninggalkan pos penjagaannya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban di dalam kitab Shahih-nya, yang bersumber dari Abu Hurairah bahwa para Shahabat pernah meninggalkan Rasulullah berhenti di dalam perjalanan, dan beliau berteduh di bawah pohon besar. Ketika itu beliau menggantungkan pedangnya di pohon itu. Maka datanglah seorang laki-laki dan mengambil pedang Rasul sambil berkata: “Siapa yang akan menghalangi engkau dari dariku, hai Muhammad?” Rasulullah bersabda: “Allah yang akan melindungiku darimu. Letakkan pedang itu!” seketika itu juga pedang itu diletakkannya kembali. Maka turunlah ayat ini (al-Maa-idah: 67) yang menegaskan jaminan keselamatan jiwa Rasulullah dari tangan-tangan usil manusia.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Marduwaih, yang bersumber dari Jabir bin ‘Abdillah bahwa Rasulullah pernah berhenti untuk beristirahat dalam Peperangan Bani Anmar, di Dzatir Raqi’ di kebun kurma yang paling tinggi. Beliau duduk di atas sebuah sumur sambil menjulurkan kakinya. Berkatalah al-Warits dari Banin Najjar kepada teman-temannya: “Aku akan membunuh Muhammad.” Temannya berkata: “Bagaimana cara membunuhnya?” Ia berkata: “Aku akan berkata: ‘Cobalah berikan pedangmu.’ Dan apabila ia memberikan pedangnya, aku akan membunuhnya.”
Iapun pergi mendatangi Rasul dan berkata: “Hai Muhammad. Berikan pedangmu kepadaku agar aku menciumnya.” Pedang itu oleh Rasul diberikan kepadanya, akan tetapi tangannya gemetar. Bersabdalah Rasul saw.: “Allah menghalangi maksud jahatmu.” Maka turunlah ayat ini (al-Maa-idah: 67) yang menegaskan jaminan keselamatan jiwa bagi Rasulullah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih dan ath-Thabarani, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Hadits ini gharib. Hadits seperti ini diriwayatkan juga oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Jabir bin ‘Abdillah. Hadits ini menunjukkan bahwa ayat di atas diturunkan di Mekah, padahal sebenarnya diturunkan di Madinah. Bahwa Rasulullah biasa mendapat pengawalan. Setiap hari Abu Thalib pun mengirimkan pengawal-pengawalnya dari bani Hasyim untuk menjaganya. Ketika turun ayat ini (al-Maa-idah: 67) Rasulullah bersabda kepada Abu Thalib yang akan mengirimkan pengawalnya: “Wahai pamanku. Sesungguhnya Allah telah menjamin keselamatan jiwaku dari perbuatan jin dan manusia.”

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

asbabun Nuzul Surah Al-Maa-idah (5)

29 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

49. “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang Telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang Telah diturunkan Allah), Maka Ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.”
(al-Maa’idah: 49)

50. “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?”
(al-Maa’idah: 50)

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Ka’b bin Usaid mengajak ‘Abdullah bin Shuriya dan Syas bin Qais pergi menghadap Nabi Muhammad untuk mencoba memalingkan beliau dari agamanya dengan berkata: “Hai Muhammad. Engkau tahu bahwa kami pendeta-pendeta Yahudi, pembesar dan tokoh mereka, sedang mereka tidak akan menyalahi kehendak kami. Kebetulan antara kami dengan mereka terdapat percekcokan. Kami mengharapkan agar engkau mengadilinya dan memenangkan kami dalam perkara ini. Dengan begiitu kami akan beriman kepadamu.” Nabi saw. menolak permintaan mereka, dan turunlah ayat tersebut di atas (al-Maa-idah: 49-50) yang mengingatkan untuk tetap bepegang pada hukum Allah dan berhati-hati terhadap kaum Yahudi.

51. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, Maka Sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”
(al-Maa’idah: 51)

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, dan al-Baihaqi, yang bersumber dari ‘Ubadah bin ash-Shamit bahwa ‘Abdullah bin Ubay bin Salul (tokoh munafik Madinah) dan ‘Ubadah bin ash-Shamit (salah seorang tokoh Islam dari Bani ‘Auf bin Khazraj) terikat oleh suatu perjanjian untuk saling membela dengan Yahudi Bani Qainuqa’. Ketika Bani Qainuqa’ memerangi Rasulullah saw.. ‘Abdullah bin Ubay tidak melibatkan diri. Sedangkan ‘Ubadah bin ash-Shamit berangkat menghadap Rasulullah saw. untuk membersihkan diri kepada Allah dan Rasul-Nya dari ikatannya dengan Bani Qainuqa’ itu , serta menggabungkan diri bersama Rasulullah dan menyatakan hanya taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka turunlah ayat ini (al-Maa-idah: 51) yang mengingatkan orang yang beriman untuk tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dan tidak mengangkat kaum Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin mereka.

55. “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).”
(al-Maa’idah: 55)

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani di dalam kitab al-Ausath-dalam sanadnya terdapat rawi yang tidak dikenal- yang bersumber dari ‘Ammar bin Yasir. Hadits ini diperkuat oleh hadits-hadits: 1. Yang diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dari ‘Abdulwahhab bin Mujahid, dari bapaknya, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. 2. Yangdiriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih melalui rawi lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. 3. Yang diriwayatkan oleh Ibnu Mardiwaih yang bersumber dari ‘Ali. 4. Yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Mujahid, dari Inu Abi Hatim, yang bersumber dari Salamah bin Kuhail. Hadits-hadits tersebut saling menguatkan. Bahwa ketika seorang peminta-minta datang kepada ‘Ali bin Abi Thalib yang pada waktu itu sedang shalat tathawwu’ (sunat), ia tanggalkan cincinnya dan menyerahkannya kepada si peminta-minta. Maka turunlah ayat ini (al-Maa-idah: 55) yang mengemukakan beberapa ciri pemimpin yang wajib ditaati.

57. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang Telah diberi Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman.”
(al-Maa’idah: 57)

59. Katakanlah: “Hai ahli kitab, apakah kamu memandang kami salah, Hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik ?”
(al-Maa’idah: 59)

Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh dan Ibnu Hibban, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rifa’ah bin Zaid bin at-Tabut dan Suwaid bin al-Harits memperlihatkan keislaman, padahal sebenarnya mereka itu munafik. Salah seorang dari kaum Muslimin bersimpati kepada kedua orang itu. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Maa-idah: 57) yang melarang kaum Muslimin mengangkat kaum munafik sebagai pemimpin mereka.
Selanjutnya Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa serombongan kaum Yahudi, di antaranya Abu Yasir bin Akhthab, Nafi’ bin Abi Nafi’, dan Ghazi bin ‘Amr datang menghadap Nabi saw. dan bertanya: “Kepada rasul yang mana tuan beriman?” Nabi menjawab: “Aku beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, ‘Isa, dan kepada apa-apa yang diberikan kepda nabi-nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan hanya kepada-Nya lah kami berserah diri.” (Ali’Imraan: 84). Ketika Nabi menyebut nama ‘Isa, mereka mengingkari kenabiannya dan berkata: “Kami tidak percaya kepada ‘Isa dan tidak percaya kepada orang yang beriman kepada ‘Isa.” Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Maa-idah: 59) berkenaan dengan peristiwa tersebut. Ayat tersebut merupakan teguran kepada orang-orang yang membenci Rasulullah karena beriman kepada rasul-rasul dan apa-apa yang diturunkan kepada mereka sebelumnya.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkkk