Arsip | 07.35

Asbabun Nuzul Surah Asy-Syuraa

15 Jan

asbabun nuzul surah alqur’an

16. Dan orang-orang yang membantah (agama) Allah sesudah agama itu diterima Maka bantahan mereka itu sia-sia saja, di sisi Tuhan mereka. mereka mendapat kemurkaan (Allah) dan bagi mereka azab yang sangat keras.
(asy-Syuuraa: 16)

Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ketika turun ayat idzaa jaa-a nashrullaahi wal fath (apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan) (an-Nashr: 1), berkatalah kaum musyrikin Mekah kepada orang-orang beriman: “Orang-orang telah berbondong-bondong masuk agama Islam. Keluarlah kalian dari negeri kami, mengapa menetap saja di sini ?” Maka turunlah ayat ini (asy-Syuuraa: 16) sebagai peringatan kepada orang-orang yang memilih kembali musyrik karena diusir dari negerinya.

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq yang bersumber dari Qatadah bahwa ayat ini (asy-Syuuraa: 16) turun berkenaan dengan kaum Yahudi dan Nasrani yang menganggap dirinya, kitabnya, dan nabinya lebih baik daripada yang dibawa oleh Muhammad saw. Ayat ini (asy-Syuuraa: 16) memperingatkan kekufuran mereka terhadap petunjuk kitab mereka yang menyatakan adanya nabi akhir zaman.

23. Itulah (karunia) yang (dengan itu) Allah menggembirakan hamba- hamba-Nya yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan”. dan siapa yang mengerjakan kebaikan akan kami tambahkan baginya kebaikan pada kebaikannya itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri*.
24. Bahkan mereka mengatakan: ” dia (Muhammad) Telah mengada-adakan dusta terhadap Allah “. Maka jika Allah menghendaki niscaya dia mengunci mati hatimu; dan Allah menghapuskan yang batil dan membenarkan yang hak dengan kalimat-kalimat-Nya (Al Quran). Sesungguhnya dia Maha mengetahui segala isi hati.
25. Dan dialah yang menerima Taubat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan,

* ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. diantara ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah Karena dipandang termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para Pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan Hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dengan sanad yang agak lemah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kaum Anshar bermaksud mengumpulkan harta benda untuk Rasulullah saw. Maka Allah menurunkan ayat ini (asy-Syuuraa: 23) yang menegaskan bahwa Rasulullah tidak mengharapkan upah sedikitpun atas misi-nya itu, kecuali menumbuhkan kasih sayang dan persaudaraan.
Setelah turun ayat ini, sebagian dari mereka berkata: “Kalau demikian pantaslah ia selalu membela sanak-saudaranya.” Maka Allah menurunkan ayat berikutnya (asy-Syuuraa: 24-25) sebagai bantahan terhadap tuduhan mereka dan anjuran untuk bertobat atas perbuatannya itu.

27. Dan Jikalau Allah melapangkan rezki kepada hamba-hamba-Nya tentulah mereka akan melampaui batas di muka bumi, tetapi Allah menurunkan apa yang dikehendaki-Nya dengan ukuran. Sesungguhnya dia Maha mengetahui (keadaan) hamba-hamba-Nya lagi Maha Melihat.
(asy-Syuuraa: 27)

Diriwayatkan oleh al-Hakim, yang menganggap hadits ini sahih, yang bersumber dari ‘Ali. Diriwayatkan pula oleh ath-Thabarani yang bersumber dari ‘Amr bin Harits bahwa ayat ini (asy-Syuuraa: 27) turun berkenaan dengan Ashhabush Shuffah (terkenal sebagai orang-orang miskin yang tidak punya rumah dan tinggal di masjid) yang mengangankan (kehidupan) duniawi. Ayat tersebut menegaskan bahwa apabila keinginan mereka dikabulkan sekaligus, pasti mereka akan hidup melampaui batas.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh

Asbabun Nuzul Surah Az-Zukhruf

15 Jan

asbabun nuzul surah alqur’an

19. Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. apakah mereka menyaksikan penciptaan malaika-malaikat itu? kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggung-jawaban.
(az-Zukhruf: 19)

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari Qatadah bahwa beberapa orang munafikin berkata: “Sesungguhnya Allah mempunyai besan bangsa jin dan beranak-cucu malaikat.” Maka turunlah ayat ini (az-Zukhruf: 19) sebagai sanggahan atas ucapan mereka.

31. Dan mereka berkata: “Mengapa Al Quran Ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini*?”
32. Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? kami Telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami Telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.
(az-Zukhruf: 31-32)

* mereka mengingkari wahyu dan kenabian Muhammad s.a.w., Karena menurut pikiran mereka, seorang yang diutus menjadi Rasul itu hendaklah seorang yang Kaya raya dan berpengaruh.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari Qatadah bahwa al-Walid bin al-Mughirah berkata: “Sekiranya apa yang dikatakan oleh Muhammad itu benar (bahwa al-Qur’an itu dari Allah), pasti al-Qur’an ini diturunkan kepadaku atau kepada Mas’ud ats-Tsaqifi.” Maka turunlah ayat ini (az-Zukhruf: 31-32) yang menegaskan bahwa Allah yang berhak mengutus Nabi-Nya sesuai dengan kekuasaan-Nya.

36. Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) Maka syaitan Itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.
(az-Zukhruf: 36)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Muhammad bin ‘Utsman al-Makhzumi bahwa kaum Quraisy berkata: “Dekati setiap shahabat Muhammad oleh salah seorang dari kita.” Kemudian ditetapkanlah Thalhah untuk mendekati Abu Bakr. Thalhah pun mendekati Abu Bakr yang sedang dikelilingi banyak orang. Berkatalah Abu Bakr: “Kepada ajaran yang manakah akan engkau ajak aku ini ?” Ia menjawab: “Aku mengajak untuk menyembah al-Lata dan al-‘Uzza.” Abu Bakr berkata: “Siapakah al-Lata dan al-‘Uzza itu ?” Ia menjawab: “Al-Lata adalah tuhan kami dan al-‘Uzza adalah putri Allah.” Abu Bakr berkata: “Siapakah ibunya ?” Thalhah terdiam tidak dapat menjawab. Ia menyuruh teman-temannya untuk menjawab pertanyaan tersebu. Namun tak seorangpun mampu menjawabnya. Berkatalah Thalhah: “Hai Abu Bakr, saksikanlah, aku percaya bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan kecuali Allah, dan sesungguhnnya Muhammad adalah utusan Allah.” Maka Allah menurunkan ayat ini (az-Zukhruf: 36) yang menegaskan bahwa orang-orang yang berpaling dari Allah selamanya akan ditemani setan.

57. Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamnaan tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak karenanya.
58. Dan mereka berkata: “Manakah yang lebih baik tuhan-tuhan kami atau dia (Isa)?” mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja, Sebenarnya mereka adalah kaum yang suka bertengkar*.
59. Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan kami jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani lsrail**
(az-Zukhruf: 57-59)

* ayat 57 dan 58 di atas menceritakan kembali kejadian sewaktu Rasulullah membacakan di hadapan orang Quraisy surat Al-Anbiya ayat 98 yang artinya Sesungguhnya kamu dan yang kamu sembah selain Allah adalah kayu bakar Jahannam. Maka seorang Quraisy bernama Abdullah bin Az Zab’ari menanyakan kepada Rasulullah s.a.w. tentang keadaan Isa yang disembah orang Nasrani apakah beliau juga menjadi kayu bakar neraka Jahannam seperti halnya sembahan-sembahan mereka. Rasulullah terdiam dan merekapun mentertawakannya; lalu mereka menanyakan lagi mengenai mana yang lebih baik antara sembahan-sembahan mereka dengan Isa a.s. Pertanyaan-pertanyan mereka Ini hanyalah mencari perbantahan saja, bukanlah mencari kebenaran. jalan pikiran mereka itu adalah kesalahan yang besar. Isa a.s. bahwa beliau disembah dan tidak pula rela dijadikan sembahan.
** ayat Ini menegaskan pandangan Islam terhadap kedudukan lsa a.s.

Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang sahih dan ath-Thabarani, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah berkata kepada kaum Quraisy: “Sesuatu yang disembah selain Allah tak akan memberikan kebaikan sedikitpun.” Kaum Quraisy berkata: “Bukankah engkau menganggap bahwa ‘Isa adalah Nabi dan seorang hamba yang saleh, padahal dia pun disembah ?”
Ayat ini (az-Zukhruf: 57-59) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang melukiskan kaum Quraisy yang selalu berusaha membantah ajaran Rasulullah saw.

80. Apakah mereka mengira, bahwa kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (Malaikat-malaikat) kami selalu mencatat di sisi mereka.
(az-Zukhruf: 80)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi bahwa ketika dua orang Quraisy dan seorang Tsaqif duduk-duduk di sisi Ka’bah, berakatalah salah seorang dari mereka: “Bagaimana pendapatmu, apakah Allah mendengar omongan kita ?” Yang lainnya menjawab: “Apabila kamu berbicara nyaring, tentu Ia akan mendengar, tapi jika kamu berbisik-bisik, tentu Ia tidak akan mendengarnya. Maka turunlah ayat ini (az-Zukhruf: 80) sebagai bantahan atas ucapan mereka.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh

Asbabun Nuzul Surah Ad-Dukhaan

15 Jan

asbabun nuzul surah alqur’an

10. Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata*,
15. Sesungguhnya (kalau) kami akan melenyapkan siksaan itu agak sedikit Sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar).
16. (Ingatlah) hari (ketika) kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras**. Sesungguhnya kami adalah pemberi balasan.
(ad-Dukhaan: 10, 15-16)

* yang dimaksud kabut yang nyata ialah bencana kelaparan yang menimpa kaum Quraisy Karena mereka menentang nabi Muhammad s.a.w.

** Hantaman yang keras itu terjadi di peperangan Badar di mana orang-orang musyrik dipukul dengan sehebat-hebatnya sehingga menderita kekalahan dan banyak di antara pemimpin-pemimpin mereka yang tewas.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ibnu Mas’ud bahwa ketika kaum Quraisy durhaka kepada Nabi saw., beliau berdoa agar mereka mendapat kelaparan umum seperti kelaparan yang pernah terjadi pada zaman Nabi Yusuf. Alhasil mereka menderita kekurangan , sampai-sampai mereka pun makan tulang. (Setelah keadaan itu lama berlangsung) orang-orang melihat ke langit dengan harapan melihat tanda-tanda akan turun hujan. Maka Allah menurunkan ayat ini (ad-Dukhaan: 10) sebagai ejekan atas perbuatan mereka.
Kemudian mereka menghadap Nabi saw. untuk meminta bantuan. Mereka berkata: “Ya Rasulullah. Mohonkanlah hujan bagi kami (kaum Mudlar), karena kami sudah sangat menderita.” Maka Rasulullah saw. berdoa agar diturunkan hujan. Akhirnya hujanpun turun. Maka turunlah ayat selanjutnya (ad-Dukhaan: 15) yang menegaskan bahwa mereka akan kembali sesat. Setelah mereka memperoleh kemewahan, merekapun kembali pada keadaan semula. Maka turunlah ayat selanjutnya (ad-Dukhaan: 16) yang menegaskan bahwa mereka akan mendapat siksa Allah yang keras. Dalam riwayat tersebut dikemukakan bahwa siksaan itu akan turun di waktu perang Badr.

43. Sesungguhnya pohon zaqqum itu***,
44. Makanan orang yang banyak berdosa.
(ad-Dukhaan: 43-44)

*** Zaqqum adalah jenis pohon yang tumbuh di neraka.

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur yang bersumber dari Abu Malik bahwa Abu Jahl membawa kurma dan mentega dan berkata pada kaumnya: “Makanlah az-Zaqqum ini, yang dijanjikan Muhammad kepadamu.” Maka turunlah ayat ini (ad-Dukhaan: 43-44) yang menegaskan bahwa pohon zaqqum yang sesungguhnya ialah makanan bagi orang yang banyak berdosa.

49. Rasakanlah, Sesungguhnya kamu orang yang Perkasa lagi mulia****.
(ad-Dukhaan: 49)

**** Ucapan Ini merupakan ejekan baginya.

Diriwayatkan oleh al-Umawi di dalam Kitab Maghaazi-nya yang bersumber dari ‘Ikrimah. Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah bahwa Rasulullah saw bertemu dengan Abu Jahl seraya bersabda: “Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku untuk menyatakan kepadamu, aulaa laka fa aulaa tsumma aulaa laka fa aulaa. (kecelakaanlah bagimu [hai orang kafir] dan kecelakaanlah bagimu) (al-Qiyamah: 34-35).” Abu Jahl menyingsingkan baju sambil berkata: “Engkau dan teman-temanmu tidak akan mampu berbuat apa pun terhadapku. Engkaupun mengetahui bahwa aku yang paling berkuasa di tanah air ini. Akulah yang maha gagah dan maha mulia.”
Maka terbunuhlah Abu Jahl dalam Peperangan Badr dalam keadaan terhina. Namanya pun menjadi tercemar karena ucapan-ucapannya sendiri. Ayat ini (ad-Dukhaan: 49) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh

Asbabun Nuzul Surah Al-Jaatsiyah

15 Jan

asbabun nuzul surah alqur’an

23. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya* dan Allah Telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
(al-Jaatsiyah: 23)

* maksudnya Tuhan membiarkan orang itu sesat, Karena Allah Telah mengetahui bahwa dia tidak menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan kepadanya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnul Mundzir, yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa orang-orang Quraisy biasa menyembah batu untuk beberapa saat lamanya. Apabila mereka mendapat sesembahan yang lebih bagus, mereka meninggalkan yang lama, dan menyembah yang baru. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Jaatsiyah: 23) yang melukiskan keadaan kaum Quraisy, yang selalu mengikuti hawa nafsunya dalam beribadah.

24. Dan mereka berkata: “Kehidupan Ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.
(al-Jaatsiyah: 24)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Abu Hurairah bahwa kaum Jahiliyah beranggapan bahwa kecelakaan itu disebabkan adanya malam dan siang (mereka selalu mengkambing-hitamkan masa). Ayat ini (al-Jaatsiyah: 24) turun berkenaan dengan anggapan itu.

Sumber: Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah Al-Ahqaaf

15 Jan

asbabun nuzul surah alqur’an

10. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, bagaimanakah pendapatmu jika Al Quran itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani Israil mengakui (kebenaran) yang serupa dengan (yang tersebut dalam) Al Quran lalu dia beriman*, sedang kamu menyombongkan diri. Sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim”.
(al-Ahqaaf: 10)

* yang dimaksud dengan seorang saksi dari Bani Israil ialah Abdullah bin salam. ia menyatakan keimanannya kepada nabi Muhammad s.a.w. setelah memperhatikan bahwa di antara isi Al Quran ada yang sesuai dengan Taurat, seperti ketauhidan, janji dan ancaman, kerasulan Muhammad s.a.w., adanya kehidupan akhirat dan sebagainya.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dengan sanad yang shahih yang bersumber dari ‘Auf bin Malik al-Asyja’i bahwa Rasulullah saw. pergi bersama ‘Auf bin Malik ke sinagoga kaum Yahudi, pada hari raya mereka. Mereka merasa tidak senang atas kehadiran keduanya. Bersabdalah Rasulullah saw: “Hai kaum Yahudi. Hadapkanlah kepadaku duabelas orang dari kalian untuk mengucapkan syahadat, bahwa tidak ada tuhan melainkan Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. Pasti Allah akan menggugurkan kemarahan-Nya kepada setiap kaum Yahudi yang ada di bumi.” Mereka semuanya terdiam dan tak seorangpun yang menjawab.
Setelah bubar, Rasulullah saw. ditegur oleh salah seorang dari mereka dengan berkata: “Tunggulah sebentar, hai Muhammad. Tampaknya Tuanlah yang disebut dalam Taurat.” Orang itupun berbalik seraya bertanya kepada kaum Yahudi: “Siapakah aku ini sepanjang pengetahuan kalian ?” Mereka berkata: “Demi Allah, kami tidak mengenal seorang yang lebih alim dan lebih pintar tentang kitab Allah daripada engkau. Demikian pula dahulu tak ada seorangpun yang lebih pintar daripada ayahmu atau kakekmu.” Ia berkata: “Sesungguhnya aku bersaksi bahwa ia adalah Nabi yang engkau dapati di dalam Taurat.” Kaum Yahudi berkata: “Engkau bohong. Kemudian mereka menyeret dan memakinya. Ayat ini (al-Ahqaaf: 10) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim), yang bersumber dari Sa’d bin Abi Waqqash bahwa yang dimaksud degan ayat…wa syahida syaahidum mim banii is-raa-iila ‘alaa mits-lih…. (dan seorang saksi dari bani Israel mengakui [kebenaran] yang serupa dengan [yang disebut dalam] al-Qur’an..) (al-Ahqaaf: 10) adalah ‘Abdullah bin Salam.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Abdullah bin Salam bahwa ayat…wa syahida syaahidum mim banii Isroo-iila… (..dan seorang saksi dari bani Israel mengakui [kebenaran]…) (al-Ahqaaf: 10) turun berkenaan dengan ‘Abdullah bin Salam, yang menegaskan bahwa Muhammad tertulis di dalam Taurat.

Berdasarkan ketiga hadits di atas, maka orang Yahudi yang diseret dan dimaki itu adalah ‘Abdullah bin Salam.

11. Dan orang-orang kafir Berkata kepada orang-orang yang beriman: “Kalau sekiranya di (Al Quran) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya**. dan Karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya Maka mereka akan berkata: “Ini adalah dusta yang lama”.
(al-Ahqaaf: 11)

** maksud ayat Ini ialah bahwa orang-orang kafir itu mengejek orang-orang Islam dengan mengatakan: Kalau sekiranya Al Quran Ini benar tentu kami lebih dahulu beriman kepadanya daripada mereka orang-orang miskin dan lemah itu seperti Bilal, ‘Ammar, Suhaib, Habbab radhiyallahu anhum dan sebagainya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah bahwa kaum musyrikin berkata: “Kami paling mulia, dan kami…, dan kami…, Sekiranya terdapat kebaikan dalam Islam, tentu kamilah yang paling dulu masuk Islam.” Ayat ini (al-Ahqaaf: 11) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari ‘Aun bin Abi Syaddad. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Sa’d yang bersumber dari adl-Dlahak dan al-Hasan bahwa ‘Umar bin al-Khaththab mempunyai sahaya perempuan bernama Zanin. Ia masuk Islam sebelum ‘Umar., bahkah karena keislamannya itu ‘Umar suka memukulinya sampai bosan. Kaum kafir Quraisy berkata: “Sekiranya agama Islam itu baik, tentu kami tidak tidak akan terdahului oleh seorang hamba sahaya.” Ayat ini (al-Ahqaaf: 11) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

17. Dan orang yang Berkata kepada dua orang ibu bapaknya: “Cis bagi kamu keduanya, apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa Aku akan dibangkitkan, padahal sungguh Telah berlalu beberapa umat sebelumku? lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: “Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar”. lalu dia berkata: “Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka”.
(al-Ahqaaf: 17)
19. Dan bagi masing-masing mereka derajat menurut apa yang Telah mereka kerjakan dan agar Allah mencukupkan bagi mereka (balasan) pekerjaan-pekerjaan mereka sedang mereka tiada dirugikan.
(al-Ahqaaf: 19)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari as-Suddi, diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ayat ini (al-Ahqaaf: 17) turun berkkenaan dengan ‘Abdurrahman bin Abi Bakr ash-Shiddiq yang mengucapkan “cis” kepada ibu bapaknya yang telah masuk Islam. Ucapan ini ia kemukakan ketika ibu bapaknya menyuruhnya masuk Islam. Ia membantah dan mendustakannya, dengan mengatakan bahwa tokoh-tokoh utama kaum Quraisy yang sudah mati pun tidak ada yang mau masuk Islam. Lama setelah kejadian ini, ‘Abdurrahman pun tergolong tokoh Islam. Maka turunlah ayat berikutnya (al-Ahqaaf: 19)) yang menegaskan bahwa tobatnya diterima Allah swt.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Yusuf bin Haman bahwa Marwan berkata: “Abdurrahman bin Abi Bakr yang telah menyebut “cis” yang disebut dalam ayat ini (al-Ahqaaf: 17).” Berkatalah ‘Aisyah dari belakang hijab: “Allah tidak menurunkan al-Qur’an sedikitpun berkenaan dengan kami, kecuali tentang peristiwa-peristiwa yang menyangkut uzurku.”

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq yang bersumber dari al-Makki bahwa ‘Aisyah menolak keterangan yang menyatakan bahwa ayat ini (al-Ahqaaf: 17) turun berkenaan dengan ‘Abdurrahman bin Abi Bakr, dengan berkata: “Ayat ini turun berkenaan dengan si fulan.” Seraya menyebut nama orang itu.

29. Dan (Ingatlah) ketika kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, Maka tatkala mereka menghadiri pembacaan (nya) lalu mereka berkata: “Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)”. ketika pembacaan Telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan.
(al-Ahqaaf: 29)
30. Mereka berkata: “Hai kaum kami, Sesungguhnya kami Telah mendengarkan Kitab (Al Quran) yang Telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.
(al-Ahqaaf: 30)
31. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu** dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.
(al-Ahqaaf: 31)

** Maksudnya: dosa-dosa terhadap Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah yang bersumber dari Ibnu Mas’ud bahwa ketika Nabi saw membaca al-Qur’an di tengah kebun kurma, turunlah sembilan jin, diantaranya bernama Zauba’ah, untuk mendengarkan serta mengingatkan kawan-kawannya agar memperhatikan bacaan itu. Ayat ini (al-Ahqaaf 29-31) menceritakan peristiwa tersebut.

Sumber: Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah Muhammad

15 Jan

asbabun nuzul surah alqur’an

1. Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Allah menyesatkan perbuatan-perbuatan mereka*.
2. Dan orang-orang mukmin dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan Itulah yang Haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.
(Muhammad: 1-2)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa yang dimaksud dengan al-ladziina kafaruu wa shadduu ang sabiilillaahi adlalla a’maalahum (orang-orang yang kafir dan menghalang-halangi [manusia] dari jalan Allah, Allah menghapus amalan-amalan mereka. (Muhammad: 1) adalah orang-orang Mekah. Sementara ayat-ayat selanjutnya, wal-ladziina aamanuu wa ‘amilush shaalihaat… (dan orang-orang yang beriman [kepada Allah] dan mengerjakan amal-amal yang shaleh …) (Muhammad: 2) adalah kaum Anshar di Madinah.

4. Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) Maka pancunglah batang leher mereka. sehingga apabila kamu Telah mengalahkan mereka Maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berakhir. Demikianlah apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. dan orang-orang yang syahid pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.
(Muhammad: 4)

* Maksudnya: semua amal perbuatan mereka tidak mendapat bimbingan dari Allah, tidak dihargai dan tidak mendapat pahala.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Qatadah bahwa akhir ayat ini (Muhammad: 4) turun pada waktu Perang Uhud, saat Rasulullah berada di markas. Pada waktu itu perang sedang berkecamuk dan banyak yang luka-luka serta gugur. Kaum musyrikin berteriak: “A’laa hubal (keagungan bagi tuhan Hubal).” Kaum Muslimin berseru: “Allaahu a’laa wa ajal (Alah lebih Luhur dan Mulia).” Kaum musyrikin berkata: “Kami mempunyai al-‘Uzza, sedang kalian tidak mempunyai al-‘Uzza.” Rasulullah saw memerintahkan pasukannya untuk menyahut: Allaahu maulaanaa wa laa maulaakum (Allah pelindung kami , dan kamu tidak mempunyai pelindung). Ayat ini (Muhammad: 4) mengemukakan jaminan pahala kepada orang yang berperang fisabilillah.

13. Dan betapa banyaknya negeri yang (penduduknya) lebih Kuat dari pada (penduduk) negerimu (Muhammad) yang Telah mengusirmu itu. kami Telah membinasakan mereka, Maka tidak ada seorang penolongpun bagi mereka.
(Muhammad: 13)

Diriwayatkan oleh Abu Ya’la yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika Rasulullah saw. keluar dari gua, beliau menoleh ke arah Mekah sambil berkata: “Engkau bumi Allah yang paling aku cintai. Sekiranya penduduknya tidak mengusirku, tentu aku tidak akan keluar.” Maka turunlah ayat ini (Muhammad: 13) yang menegaskan bahwa ada negeri lain yang lebih kuat daripada itu (Mekah) yang telah dihancurkan, dan tidak ada yang dapat menolongnya.

16. Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan perkataanmu sehingga apabila mereka keluar dari sisimu orang-orang Berkata kepada orang yang Telah diberi ilmu pengetahuan (sahabat-sahabat Nabi): “Apakah yang dikatakannya tadi?” mereka Itulah orang-orang yang dikunci mati hati mereka oleh Allah dan mengikuti hawa nafsu mereka.
(Muhammad: 16)

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari Ibnu Juraij bahwa kaum Mukminin dan kaum munafikun berkumpul mengelilingi Nabi saw. Kaum Mukminin mendengarkan dan memperhatikan ucapan Rasulullah saw, sedang kaum munafikun hanya mendengarkan tapi tidak memperhatikan. Ketika mereka keluar, bertanyalah kaum munafikun: “Apa yang dikatakannya tadi?” Ayat ini (Muhammad: 16) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang melukiskan perbedaan antara Mukminin dan munafik.

33. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.
(Muhammad: 33)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Muhammad bin Nashr al-Marwazi di dalam Kitabush salaah, yang bersumber dari Abul ‘Aliyah bahwa ada shahabat-shahabat Rasulullah saw. yang menganggap tidak menjadi dosa berbuat maksiat setelah mengucapkan laa ilaaha illallaah (tidak ada tuhan selain Allah). Hal ini didasarkan pada suatu ketetapan bahwa amal seseorang tidak akan diterima kalau diikuti dengan syirik. Ayat ini (Muhammad: 33) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang memberikan petunjuk bagaimana cara taat kepada Allah. Setelah turun ayat tersebut, para shahabat berhati-hati dalam melaksanakan amalannya.

Sumber: Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah Al-Fath

15 Jan

asabun nuzul surah alqur’an

Diriwayatkan oleh al-Hakim dll, yang bersumber dari al-Miswar bin Mikhramah dan Marwan bin al-Hakim bahwa surat al-Fath (dari awal sampai akhir) diturunkan dalam peristiwa Hudaibiyyah (suatu tempat antara Mekah dan Madinah)

2. Supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang Telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus,
(al-Fath: 2)

5. Supaya dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya dia menutupi kesalahan-kesalahan mereka. dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar di sisi Allah,
(al-Fath: 5)

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim), at-Tirmidzi, dan al-Hakim, yang bersumber dari Anas bahwa ketika Rasulullah saw. pulang dari Hudaibiyyah, bersabdalah beliau kepada para shahabat: “Telah turun kepadaku ayat yang lebih aku cintai daripada segala apa yang ada di muka bumi ini.” Kemudia Rasulullah membacakan ayat tersebut (al-Fath: 2) kepada mereka, mereka berkata: “Betapa untung dan bahagianya tuan, ya Rasulullah. Allah telah menerangkan nasib tuan di kemudian hari. Namun bagaimana nasib kami ?” Maka turunlah ayat selanjutnya (al-Fath: 5) yang menjelaskan nasib mereka di akhirat.

18. Sesungguhnya Allah Telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon*, Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)**.
(al-Fath: 18)

* pada bulan Zulkaidah tahun keenam Hijriyyah nabi Muhammad s.a.w. beserta pengikut-pengikutnya hendak mengunjungi Mekkah untuk melakukan ‘umrah dan melihat keluarga-keluarga mereka yang Telah lama ditinggalkan. Sesampai di Hudaibiyah beliau berhenti dan mengutus Utsman bin Affan lebih dahulu ke Mekah untuk menyampaikan maksud kedatangan beliau dan kamu muslimin. mereka menanti-nanti kembalinya Utsman, tetapi tidak juga datang Karena Utsman ditahan oleh kaum musyrikin Kemudian tersiar lagi kabar bahwa Utsman Telah dibunuh. Karena itu nabi menganjurkan agar kamu muslimin melakukan bai’ah (janji setia) kepada beliau. merekapun mengadakan janji setia kepada nabi dan mereka akan memerangi kamu Quraisy bersama nabi sampai kemenangan tercapai. perjanjian setia Ini Telah diridhai Allah sebagaimana tersebut dalam ayat 18 surat ini, Karena itu disebut Bai’atur Ridwan. Bai’atur Ridwan Ini menggetarkan kaum musyrikin, sehingga mereka melepaskan Utsman dan mengirim utusan untuk mengadakan perjanjian damai dengan kaum muslimin. perjanjian Ini terkenal dengan Shulhul Hudaibiyah.
** yang dimaksud dengan kemenangan yang dekat ialah kemenangan kaum muslimin pada perang Khaibar.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Salamah bin al-Akwa’. Bahwa ketika para shahabat sedang beristirahat di siang hari, seorang utusan Rasulullah saw berseru: “Hai kaum Muslimin. Ayo berbaiat (berjanji setia). Mari berbaiat!” Serentak kaum Muslimin menghadap Rasulullah saw. di saat beliau sedang berteduh di bawah pohon samurah. Mereka pun berbaiat kepada Rasulullah saw. Ayat ini (al-Fath:18) turun melukiskan peristiwa tersebut serta menjanjikan ketabahan dan kemenangan bagi mereka.

Pada waktu itu tersiar desas-desus bahwa ‘Utsman bin ‘Affan (utusan Rasulullah ke Mekah) dibunuh oleh kaum kafir Quraisy. Timbullah solidaritas di kalangan kaum Mukminin. Mereka bertekad menggempur kaum kafir Quraisy. Merekapun berbaiat kepada Rasulullah saw. Ayat ini (al-Fath: 18) turun melukiskan peristiwa tersebut serta menjanjikan ketabahan dan kemenangan bagi mereka.

24. Dan Dia-lah yang menahan tangan mereka dari (membinasakan) kamu dan (menahan) tangan kamu dari (membinasakan) mereka di tengah kota Mekah sesudah Allah memenangkan kamu atas mereka, dan adalah Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.
(al-Fath: 24)

Diriwayatkan oleh Muslim, Tirmidzi, dan an-Nasa-i, yang bersumber dari Anas. Diriwayatkan pula oleh Muslim yang bersumber dari salamah bin al-Akwa’. Diriwayatkan pula oleh Ahmad dan an-Nasa-i, yang bersumber dari ‘Abdullah bin Mughaffal al-Muzani. Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Ishaq yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika terjadi peristiwa Hudaibiyyah, ada delapan puluh pasukan musuh yang bersenjata lengkap bermaksud menyergap Rasulullah saw. dari Gunung Tan’im. Akan tetapi mereka tersergap dan tertawan, lalu dilepaskan kembali atas perintah Rasulullah saw. Ayat ini (al-Fath: 24) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang melukiskan kemenangan kaum Muslimin dengan tidak menumpahkan darah.

25. Merekalah orang-orang yang kafir yang menghalangi kamu dari (masuk) Masjidil Haram dan menghalangi hewan korban sampai ke tempat (penyembelihan)nya. dan kalau tidaklah Karena laki-laki yang mukmin dan perempuan-perempuan yang mukmin yang tiada kamu ketahui, bahwa kamu akan membunuh mereka yang menyebabkan kamu ditimpa kesusahan tanpa pengetahuanmu (tentulah Allah tidak akan menahan tanganmu dari membinasakan mereka). supaya Allah memasukkan siapa yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. sekiranya mereka tidak bercampur-baur, tentulah kami akan mengazab orang-orang yag kafir di antara mereka dengan azab yang pedih.
(al-Fath: 25)

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dan Abu Ya’la, yang bersumber dari Abu Jumu’ah Junbudz bin Sab’ bahwa pada siang hari Abu Jum’ah Junbudz bin Sab’ berperang menentang Rasulullah sebagai seorang kafir. Akan tetapi pada sore harinya , setelah masuk Islam, ia bersama kawan-kawannya, tiga orang laki-laki dan tujuh orang perempuan, berperang di pihak Rasulullah saw.. Abu Jum’ah mengemukakan bahwa ayat ini (al-Fath: 25) turun berkenaan dengan dirinya dan kawan-kawannya, yang melukiskan keadaan mereka.

27. Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan Sebenarnya (yaitu) bahwa Sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat***.
(al-Fath: 27)

*** Selang beberapa lama sebelum terjadi Perdamaian Hudaibiyah nabi Muhammad s.a.w. bermimpi bahwa beliau bersama para sahabatnya memasuki kota Mekah dan Masjidil Haram dalam keadaan sebahagian mereka bercukur rambut dan sebahagian lagi bergunting. nabi mengatakan bahwa mimpi beliau itu akan terjadi nanti. Kemudian berita Ini tersiar di kalangan kaum muslim, orang-orang munafik, orang-orang Yahudi dan Nasrani. setelah terjadi perdamaian Hudaibiyah dan kaum muslimin waktu itu tidak sampai memasuki Mekah Maka orang-orang munafik memperolok-olokkan nabi dan menyatakan bahwa mimpi nabi yang dikatakan beliau pasti akan terjadi itu adalah bohong belaka. Maka turunlah ayat Ini yang menyatakan bahwa mimpi nabi itu pasti akan menjadi kenyataan di tahun yang akan datang. dan sebelum itu dalam waktu yang dekat nabi akan menaklukkan kota Khaibar. Andaikata pada tahun terjadinya perdamaian Hudaibiyah itu kaum muslim memasuki kota Mekah, Maka dikhawatirkan keselamatan orang-orang yang menyembunyikan imannya yang berada dalam kota Mekah waktu itu.

Diriwayatkan oleh al-Faryabi, ‘Abd bin Humaid, dan al-Baihaqi di dalam kitab ad-Dalaa-il, yang bersumber dari Mujahid bahwa ketika Rasulullah saw. berada di Hudaibiyyah, beliau bermimpi masuk Mekah bersama Shahabat-shahabatnya dengan aman tenteram. Dalam mimpi itu terlihat sebagian shahabatnya bercukur bersih dan sebagian rambutnya digunting pendek, sebagai tanda selesai melakukan ihram. (Dengan adanya Perjanjian Hudaibiyyah, mereka tidak dapat melaksanakan ihram) sehingga Rasulullah saw. memerintahkan menyembelih hadyu (kurban) sebagai tandai tahalul. Para pengikut Rasul (yang munafik) menagih isi mimpi itu: “Mana ya Rasulullah, bukti impian itu?” Maka turunlah ayat ini (al-Fath:27) yang menjanjikan kebenaran impian Rasulullah itu (akan) terlaksana.

Sumber: Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah Al-Hujuraat

15 Jan

asbabun nuzul surah alqur’an

1. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasulnya* dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.
2. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara nabi, dan janganlah kamu Berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap sebagian yang lain, supaya tidak hapus (pahala) amalanmu**, sedangkan kamu tidak menyadari.
3. Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka Itulah orang-orang yang Telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.
4. Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak mengerti.
5. Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka Sesungguhnya itu lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(al-Hujuraat: 1-5)

* maksudnya orang-orang mukmin tidak boleh menetapkan sesuatu hukum, sebelum ada ketetapan dari Allah dan RasulNya.
** meninggikan suara lebih dari suara nabi atau bicara keras terhadap nabi adalah suatu perbuatan yang menyakiti nabi. Karena itu terlarang melakukannya dan menyebabkan hapusnya amal perbuatan.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dll, dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Mulaikah, yang bersumber dari ‘Abdullah bin Zubair bahwa kafilah Bani Tamim datang kepada Rasulullah saw. Pada waktu itu Abu Bakrberbeda pendapat dengan ‘Umar tentang siapa yang seharusnya mengurus kafilah itu. Abu Bakr menghendaki agar al-Qa’qa’ bin Ma’bad yang mengurusnya sedangkan ‘Umar menghendaki al-Aqra’ bin Habis. Abu Bakr menegur ‘Umar: “Engkau hanya ingin selalu berbeda pendapat denganku.” Dan ‘Umarpun membantahnya. Perbedaan pendapat itu berlangsung hingga suara keduanya terdengar keras. Maka turunlah ayat ini (al-Hujurat: 1-5) sebagai petunjuk agar meminta ketetapan Allah dan Rasul-Nya, dan jangan mendahului ketetapan-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari al-Hasan bahwa orang-orang menyembelih kurban sebelum waktu yang ditetapkan oleh Rasulullah saw. Maka Rasulullah memerintahkan berkurban sekali lagi. Ayat ini (al-Hujurat: 1) turun sebagai larangan kepada kaum Mukminin untuk mendahului ketetapan Allah dan Rasul-Nya.
Menurut riwayat Ibnu Abid Dun-ya dalam Kitab al-Adlaahi, lafal riwayatnya sebagai berikut: seorang laki-laki menyembelih (kurbannya) sebelum shalat (Idul Adha)

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani di dalam Kitab al-Ausath, yang bersumber dari ‘Aisyah bahwa orang-orang mendahului shaum sebelum masuk bulan Ramadhan yang ditetapkan oleh Nabi saw. Ayat ini (al-Hujurat: 1) turun sebagai teguran kepada mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah bahwa waktu itu ada orang-orang yang menghendaki turunnya ayat tentang sesuatu. Maka turunlah ayat ini (al-hujurat: 1) yang melarang mendahului ketetapan Allah dan Rasul-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah bahwa orang-orang berbicara keras dan nyaring ketika berbicara dengan Nabi saw. Maka turunlah ayat ini (al-Hujurat: 2) sebagai larangan atas perbuatan seperti itu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Muhammad bin Tsabit bin Qais bin Syamas bahwa ketika turun ayat ….laa tarfa’uu ashwaatakum fauqo shautin nabiy… (..janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi..) (al-Hujurat: 2) terhempaslah Tsabit bin Qais di jalan sambil menangis. Ketika itu lewatlah ‘Ashi bin ‘Adi bin al-‘Ajlan seraya bertanya: “Mengapa engkau menangis ?” Ia menjawab: “Aku takut ayat ini (al-Hujurat:2) turun berkenaan dengan diriku, karena aku ini orang yang bersuara keras.”
Hal ini diajukan oleh ‘Ashim kepada Rasulullah saw. kemudian Tsabit-pun dipanggil. Rasul bersabda: “Apakah engkau tidak ridha jika engkau hidup terpuji, mati syahid, dan masuk syurga ?” Tsabit menjawab: “Aku ridha dan tidak akan mengeraskan suaraku selama-lamanya di hadapan Rasulullah saw…” Maka turunlah ayat selanjutnya (al-Hujurat: 3) yang melukiskan janji Allah kepada orang-orang yang taat kepada ketetapan-Nya.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dan Abu Ya’la dengan sanad yang hasan, yang bersumber dari Zaid bin Arqam bahwa apabila orang-orang Arab berkunjung ke rumah Rasulullah saw, mereka suka berteriak memanggil beliau dari luar dengan ucapan: “Hai Muhammad ! Hai Muhammad !” Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Hujurat: 4-5) yang melukiskan perbuatan seperti itu bukan akhlak Islam.

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dari Ma’mar yang bersumber dari Qatadah. Riwayat ini mursal, tetapi mempunyai syawaahid (beberapa penguat) yang marfu’, yang ada di dalam kitab Sunanut Tirmidzi, dari Hadits al-Barra’ bin ‘Azid dll, tetapi tidak menyebutkan nuzulul ayat. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari al-Hasan bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi saw. sambil berteriak memanggil beliau dari luar: “Hai Muhammad ! Pujianku sangat baik, tapi cacianku juga sangat tajam.” Rasulullah saw. bersabda: “Celaka engkau, yang bersifat demikian itu adalah Allah.” Ayat ini (al-Hujurat: 4) turun sebagai larangan kepada orang-orang yang suka berteriak-teriak dari luar rumah.

Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari al-Aqra bin Habis bahwa al-Aqra bin Habis memanggil-manggil Rasulullah saw dari luar rumah, akan tetapi beliau tidak menjawabnya. Ia pun berteriak: “Hai Muhammad ! Sesungguhnya pujianku baik, dan cacianku sangat tajam.” Bersabdalah Rasulullah saw: “Yang bersifat demikian itu adalah Allah.” Ayat ini (al-Hujurat: 4-5) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dll, yang bersumber dari al-Aqra’ bahwa al-Aqra’ datang kepada Nabi saw. dan berteriak-teriak dari luar rumah :”Hai Muhammad, keluarlah !” Ayat ini (al-Hujurat: 4-5) turun sebagai teguran berkenaan dengan kekurang-sopanan dalam bertamu.

6. Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.
(al-Hujurat: 6)

Diriwayatkan oleh Ahmad dll dengan sanad yang baik, yang bersumber dari al-Harits bin Dlirar al-Kuza’i. Para perawi dalam sanad hadits ini sangat dapat dipercaya. Diriwayatkan pula oleh ath-Thabarani yang bersumber dari Jabir bin ‘Abdillah, ‘Alqamah bin Najlah, dan Ummu Salamah. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Selain itu Ibnu Jarir juga meriwayatkan dari sumber lain yang mursal. Bahwa al-Harits menghadap Rasulullah saw. Beliau mengajaknya untuk masuk Islam. Iapun berikrar menyatakan diri masuk Islam. Rasulullah mengajaknya untuk mengeluarkan zakat, ia pun menyanggupi kewajiban itu, dan berkata: “Ya Rasulullah, aku akan pulang ke kaumku untuk mengajak mereka masuk Islam dan menunaikan zakat. Orang-orang yang mengikuti ajakanku akan aku kumpulkan zakatnya. Apabila telah tiba waktunya , kirimkan utusan untuk mengambil zakat yang telah kukumpulkan itul”
Ketika al-Harits sudah banyak mengumpulkan zakat, dan waktu yang ditetapkan pun tiba, tak seorangpun utusan yang menemuinya. Al-Harits mengira telah terjadi sesuatu yang menyebabkan Rasulullah marah padanya. Iapun memanggil para hartawan kaumnya dan berkata: “Sesungguhnya Rasulullah telah menetapkan waktu untuk mengutus seseorang untuk mengambil zakat yang telah ada padaku, dan beliau tidak pernah menyalahi janjinya. Akan tetapi saya tidak tahu mengapa beliau menangguhkan utusannya itu. Mungkinkah beliau marah ? Mari kita berangkat menghadap Rasulullah saw.”
Rasulullah saw., sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan mengutus al-Walid bin ‘Uqbah untuk mengambil dan menerima zakat yang ada pada al-Harits. Ketika al-Walid berangkat, di perjalanan hatinya merasa gentar, lalu ia pun pulang sebelum sampai ke tempat yang dituju. Ia melaporkan (laporan palsu) kepada Rasulullah bahwa al-Harits tidak mau menyerahkan zakat kepadanya, bahkah mengancam akan membunuhnya.”
Kemudian Rasulullah mengirim utusan berikutnya kepada al-Harits. Di tengah perjalanan, utusan itu berpapasan dengan al-Harits dan shahabat-shahabat nya yang tengah menuju ke tempat Rasulullah saw.. Setelah berhadap-hadapan, al-Harits menanyai utusan itu: “Kepada siapa engkau diutus ?” Utusan itu menjawab: “Kami diutus kepadamu.” Dia bertanya : “Mengapa ?” Mereka menjawab : “Sesungguhnya Rasulullah saw telah mengutus al-Walid bin ‘Uqbah. Namun ia mengatakan bahwa engkau tidak mau menyerahkan zakat, bahkan bermaksud membunuhnya.” Al-Harits menjawab: “Demi Allah yang telah mengutus Muhammad dengan sebenar-benarnya, aku tidak melihatnya. Tidak ada yang datang kepadaku.”
Ketika mereka sampai di hadapan Rasulullah saw. bertanyalah beliau: “Mengapa engkau menahan zakat dan akan membunuh utusanku ?” Al-Harits menjawab: “Demi Allah yang telah mengutus engkau dengan sebenar-benarnya, aku tidak berbuat demikian.” Maka turunlah ayat ini (al-Hujurat: 6) sebagai peringatan kepada kaum Mukminin agar tidak hanya menerima keterangan dari sebelah pihak saja.

9. Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau dia Telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.
(al-Hujurat: 9)

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan yang bersumber dari Anas bahwa Nabi saw. naik keledai pergi ke rumah ‘Abdullah bin Ubay (seorang munafik). Berkatalah ‘Abdullah bin Ubay: “Enyahlah engkau dariku ! Demi Allah, aku telah terganggu dengan bau busuk keledaimu ini.” Seorang Anshar berkata: “Demi Allah, keledainya lebih harum baunya daripada engkau.” Marahlah anak buah ‘Abdullah bin Ubay kepadanya, sehingga timbullah kemarahan pada keduabelah pihak, maka terjadilah perkelahian dengan menggunakan pelepah kurma, tangan, dan sandal. Maka turunlah ayat ini (al-Hujurat: 9) berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang memerintahkan agar menghentikan peperangan dan menciptakan perdamaian.

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dan Ibnu Jarir, yang bersumber dari abu Malik bahwa ada dua orang dari kaum Muslimin yang bertengkar satu sama lain. Kemudian marahlah para pengikut kedua kaum itu dengan menggunakan tangan dan sendal. Ayat ini (al-Hujurat: 9) turun sebagai perintah untuk menghentikan perkelahian dan menciptakan perdamaian.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari as-Suddi bahwa seorang laki-laki Anshar yang bernama ‘Imran, beristrikan Ummu Zaid. Ummu Zaid bermaksud ziarah ke rumah keluarganya, akan tetapi dilarang oleh suaminya, bahkan dikurung di atas loteng. Ummu Zaid mengirim utusan kepada kelauarganya. Maka datanglah kaumnya menurunkannya dari loteng untuk dibawa ke rumah keluarganya.
Suaminya (‘Imran) meminta tolong kepada keluarganya. Maka datanglah anak-anak pamannya mengambil kembali istrinya dari keluarganya. Dengan demikian terjadilah perkelahian, pukul-memukul dengan menggunakan sendal untuk memperebutkan Ummu Zaid. Maka turunlah ayat ini (al-Hujurat: 9) berkenaan dengan peristiwa tersebut. Rasulullah saw. mengirim utusan kepada mereka untuk mendamaikan perselisihan mereka. Akhirnya merekapun tunduk kepada perintah Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari al-Hasan bahwa perkelahian yang disebut dalam riwayat di atas, terjadi antara dua suku. Mereka dipanggil ke pengadilan, akan tetapi mereka membangkang. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Hujurat: 9) sebagai peringatan kepada orang-orang yang bertengkar agar segera berdamai.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah bahwa ayat ini (al-Hujurat: 9) turun berkenaan dengan dua orang Anshar yang tawar-menawar dalam memperoleh haknya. Salah seorang mereka berkata: “Aku akan mengambilnya dengan kekerasan, karena aku mempunyai banyak kawan. Sedangkan satunya lagi mengajak untuk menyerahkan keputusannya kepada Rasulullah saw. Orang itu menolak, sehingga terjadi pukul-memukul dengan sandal dan tangan, akan tetapi tidak sampai terjadi pertumpahan darah. Ayat ini (al-Hujurat: 9) memerintahkan supaya melawan orang yang menolak perdamaian.

11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri*** dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman**** dan barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.
(al-Hujurat: 11)

*** Jangan mencela dirimu sendiri maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu tubuh.
**** panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya.

Diriwayatkan di dalam kitab Sunan yang empat (sunanu Abi Dawud, sunanut Tirmidzi, sunanun Nasaa’i, sunanubni Majah) yang bersumber dari Abu Jubair adl-Dlahak. Menurut at-Tirmidzi hadits ini hasan. Bahwa seorang laki-laki mempunyai dua atau tiga nama. Orang itu sering dipanggil dengan nama tertentu yang tidak dia senangi. Ayat ini (al-Hujurat: 11) turun sebagai larangan menggelari orang dengan nama-nama yang tidak menyenangkan.

Diriwayatkan oleh al-Hakim, yang bersumber dari Abu Jubair bin adl-Dlahak bahwa nama-nama gelar di zaman jahiliyah sangat banyak. Ketika Nabi saw. memanggil seseorang degan gelarnya, ada orang yang memberitahukan kepada beliau bahwa gelar itu tidak disukainya. Maka turunlah ayat ini (al-Hujurat: 11) yang melarang memanggil orang dengan gelar yang tidak disukainya.

Diriwayatkan oleh Ahmad yang bersumber dari Abu Jubair bin adl-Dlahak bahwa ayat ini (al-Hujurat: 11) turun berkenaan dengan Bani Salamah. Nabi saw. tiba di Madinah pada saat orang-orang biasanya mempunyai dua atau tida nama. Pada suatu saat Rasulullah saw. memangil seseorang dengan salah satu namanya, tetapi ada yang berkata: “Ya Rasulullah. Sesungguhnya ia marah dengan panggilan itu.” Ayat,…wa laa tanaabazu bil alqoob.. (.. dan janganlah kamu panggil memanggil degan gelar-gelar yang buruk..) (al-Hujurat: 11) turun sebagai larangan memanggil orang dengan sebutan yang tidak disukainya.

12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
(al-Hujurat: 12)

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari Ibnu Juraij bahwa ayat ini (al-Hujurat: 12) turun berkenaan dengan Salman al Farisi yang bila selesai makan, suka terus tidur dan mendengkur. Pada waktu itu ada orang yang menggunjing perbuatannya. Maka turunlah ayat ini (al Hujurat: 12) yang melarang seseorang mengumpat dan menceritakan keaiban orang lain.

13. Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.
(al-Hujurat: 13)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersuber dari Ibnu Abi Mulaikah bahwa fat-hu Makkah (penaklukan kota Mekah), Bilal naik ke atas Ka’bah untuk mengumandangkan azan. Beberapa orang berkata: “Apakah pantas budak hitam ini azan di atas Ka’bah ?” Maka berkatalah yang lain: “Sekiranya Allah membenci orang ini, pasti Dia akan menggantinya.” Ayat ini (al-Hujurat: 13) turun sebagai penegasan bahwa dalam Islam tidak ada diskriminasi, yang paling mulia adalah yang paling bertakwa.

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir di dalam kitab Mbhamaat-nya (yang ditulis tangan oleh Ibnu Basykuwal), yang bersumber dari Abu Bakr bin Abin Dawud di dalam tafsir-nya bahwa ayat ini (al-Hujurat: 13) turun berkenaan dengan Abu Hind yang akan dikawinkan oleh Rasulullah saw. kepada seorang wanita Bani Bayadlah. Bani Bayadlah berkata: “Wahai Rasulullah, pantaskah kalau kami mengawinkan putri-putri kami kepada bekas budak-budak kami ?” Ayat ini (al-Hujurat: 13) turun sebagai penjelasan bahwa dalam Islam tidak ada perbedaan antara bekas budak dan orang merdeka.

17. Mereka merasa Telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa Telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, Sebenarnya Allah, dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.”
(al-Hujurat: 17)

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dengan sanad yang hasan, yang bersumber dari ‘Abdullah bin Abi Aufa. Diriwayatkan pula oleh al-Bazzar dari Sa’id bin Jubair yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari al-Hasan, disebutkan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada waktu fat-hu Makkah. Bahwa sebagian bangsa Arab berkata: “Wahai Rasulullah. Kami beriman dan tidak memerangi tuan, akan tetapi suku yang lain memerangi tuan.” Ayat ini (al-Hujurat: 17) turun melukiskan sifat-sifat orang yang merasa berjasa karena masuk Islam.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad yang bersumber dari Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi bahwa pada tahun ke-9 Hihjriyah sepuluh orang dari Bani Asad menghadap Rasulullah saw. diantaranya terdapat Thulaihah bin Kuwailid. Pada waktu itu Rasulullah saw. sedang berada di masjid bersama para shahabatnya. Berkatalah juru bicara mereka: “Ya Rasulullah, kami percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Allah Yang Maha Tunggal, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan sesungguhnya tuan adalah Hamba dan utusan-Nya. Kami datang menghadap tuan, walaupun tuan belum pernah mengirim utusan kepada kami, dan kami bertanggung jawab atas orang-orang yang ada di belakang kami.”
Ayat ini (al-Hujurat: 17) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang melukiskan orang-orang yang merasa berjasa, dan karenanya mereka merasa berhak mendapat balas jasa.

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur di dalam Kitab Sunan-nya, yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa segolongan orang Arab dari Bani Asad menghadap Nabi saw. sambil berkata: “Kami datang kepada tuan untuk masuk Islam. Kami tidak pernah memerangi tuan.” Allah menurunkan ayat ini (al-Hujurat: 17), yang melukiskan adanya orang-orang yang menuntut balas jasa karena merasa berjasa telah masuk Islam.

Sumber: Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah Qaaf

15 Jan

asbabun nuzul surah alqur’an

38. Dan Sesungguhnya Telah kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan.
39. Maka Bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya).
(Qaaf: 38-39)

Diriwayatkan oleh al-Hakim, yang menganggap hadits ini sahih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa orang-orang Yahudi menghadap Rasulullah saw. dan bertanya tentang pembuatan langit dan bumi. Rasulullah saw menjawab: “Allah membuat bumi pada hari Ahad dan Senin serta membuat gunung-gunung dan segala yang memberi manfaat pada hari Selasa. Pada hari Rabu, Allah membuat pohon-pohon, air, kota-kota, keramaian, dan keruntuhannya. Allah membuat langit pada hari Kamis, serta membuat bintang-bintang, matahari, bulan, dan malaikat pada hari Jum’at, dan hanya bersisa tiga jam. Pada jam pertama Allah membuat ajal bagi yang mati, jam kedua melemparkan penyakit-penyakit kepada segala sesuatu yang bermanfaat bagi manusia, dan pada jam ketiga menciptakan Adam dan menempatkannya di surga serta memerintahkan Iblis supaya sujud kepada Adam. Allah mengeluarkan Adam dari surga pada akhir jam ketiga itu.”
Berkatalah orang-orang Yahudi: “Terus apalagi, hai Muhammad ?” Rasulullah saw. menjawab: “Allah bersemayam di atas Arasy.” Kaum Yahudi berkata: “Engkau benar, dan sekiranya engkau meneruskan cerita itu, tentu engkau akan mengatakan bahwa kemudian Allah beristirahat.” Maka Nabi saw. sangat marah, maka turunlah ayat ini (Qaaf: 38-39) yang membantah anggapan kaum Yahudi bahwa Allah perlu istirahat, serta menasehati beliau agar bersabar.

45. Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali- kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka beri peringatanlah dengan Al Quran orang yang takut dengan ancaman-Ku.
(Qaaf: 45)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari ‘Amr bin Qais al-Mala-i yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Amr tetapi mursal. Bahwa para shahabat berkata kepada Rasulullah saw: “Ya Rasulullah, cobalah tuan peringatkan kami.” Maka turunlah ayat ini (Qaaf: 45) sebagai perintah kepada Rasulullah saw. untuk menginngatkan mereka dengan al-Qur’an.

Sumber: Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah Adz-Dzaariyaat

15 Jan

asbabun nuzul surah alqur’an

19. Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian*.
(adz-Dzaariyaat: 19)

* Orang miskin yang tidak mendapat bagian maksudnya ialah orang miskin yang tidak meminta-minta.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari al-Hasan bin Muhammad al-Hanafiyyah bahwa Rasulullah saw. mengirim pasukan senjata. Mereka mendapat kemenangan dan ghanimah. Setelah selesai peperangan, datanglah orang-orang miskin meminta bagian. Maka turunlah ayat ini (adz-Dzaariyaat: 19) sebagai penegasan bahwa pada harta ghanimah terdapat bagian kaum fakir miskin.

54. Maka berpalinglah kamu dari mereka dan kamu sekali-kali tidak tercela.
55. Dan tetaplah memberi peringatan, Karena Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.
(adz-Dzaariyaat: 54-55)

Diriwayatkan oleh Ibnu Mani’, Ibnu Rahawaih, dan al-Haitsam bin Kalib, di dalam musnad mereka, dari Mujahid yang bersumber dari ‘Ali bahwa ‘Ali bin Abi Thalib berkata: “Ketika turun ayat, fa tawalla ‘anhum famaa anta bi maluum (maka berpalinglah engkau dari mereka, dan kamu sekali-sekali tidak tercela) (adz-Dzaariyaat: 54), yang memerintahkan agar Rasulullah berpaling dari kami, tak seorangpun di antara yang hadir merasa akan selamat dari bahwaya (siksaan Allah). maka turunlah ayat berikutnya (adz-Dzaariyaat: 55) yang menegaskan bahwa peringatan yang diberikan Nabi saw. akan bermanfaat bagi kaum Mukminin. Setelah turun ayat tersebut, barulah hati kami merasa tenteram.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah bahwa ketika turun ayat fa tawalla ‘anhum famaa anta bi maluum (maka berpalinglah engkau dari mereka, dan kamu sekali-sekali tidak tercela) (adz-Dzaariyaat: 54), para shahabat Rasulullah saw. merasa sesak dada. Mereka mengira bahwa wahyu tidak akan turun lagi (telah terputus) serta azab akan segera datang. Maka turunlah ayat berikutnya (adz-Dzaariyaat: 55) yang menegaskan bahwa peringatan yang diberikan Nabi saw. akan bermanfaat bagi kaum Mukminin.

Sumber: Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk