Asbabun Nuzul Surah Al-Ahzab (5)

18 Jan

asbabun nuzul surah alqur’an

47. “ Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa Sesungguhnya bagi mereka karunia yang besar dari Allah.”
(al-Ahzab: 47)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah dan al-Hasan al-Basri, bahwa ketika turun ayat…liyaghfiralakallaahu maa tagaddama min dzambika wa maa ta-akhkhor… (supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang…) (al-Fath: 2), berkatalah kaum Mukminin: “Beruntunglah tuan ya Rasulullah, kami telah tahu apa yang akan Allah perbuat terhadap tuan. Namun apa yang akan Allah lakukan terhadap kami?” Maka Allah menurunkan, liyudkhilal mu’miniina wal mu’minaati jannaat… ( supaya Dia memasukkan orang-orang Mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam syurga…) sampai akhir ayat (al-Fath: 5) dan ayat di atas (al-Ahzab: 47) yang menjanjikan syurga bagi kaum Mukminin.

Diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam kitab Dalaa-ilun Nubuwwah, yang bersumber dari ar-Rabi’ bin Anas bahwa ketika turun ayat…wa maa adri maa yuf’alu bii walaa bikum… (… aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak pula terhadapmu..) (al-Ahqaf: 9) dan ayat, li yaghfira lakallaahu maa taqoddama ming dzambika wamaa ta-akhkhor…. (…supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang….) (al-Fath: 2), para sahabat berkata: “Ya Rasulullah, kami telah mengetahui apa yang akan diperbuat Allah terhadap tuan, tapi kami tidak mengetahui apa yang akan diperbuat oleh Allah terhadap kami.” Maka turunlah ayat ini (al-Ahzab: 47) yang menegaskan bahwa karunia yang besar disediakan juga bagi kaum Mukminin. Ditegaskan bahwa karunia yang besar itu adalah syurga.

50. “Hai nabi, Sesungguhnya kami Telah menghalalkan bagimu isteri- isterimu yang Telah kamu berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada nabi kalau nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang mukmin. Sesungguhnya kami Telah mengetahui apa yang kami wajibkan kepada mereka tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak menjadi kesempitan bagimu. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(al-Ahzab: 50)

Diriwayatkan dan dihasankan oleh at-Tirmidzi, serta diriwayatkan dan disahihkan pula oleh al-Hakim, dari as-Suddi, dari Abu Shalih, dari Ibnu ‘Abbas, yang bersumber dari Ummu Hani’ binti Abi Thalib, bahwa Rasulullah saw. meminang Ummu Hani’ binti Abi Thalib, tapi ia menolaknya. Rasulullah pun menerima penolakan itu. Setelah kejadian itu, turunlah ayat tersebut di atas (al-Ahzab: 50) yang menegaskan bahwa wanita yang tidak turut berhijrah tidak halal dinikahi Rasulullah. Sehubungan dengan ini, Ummu Hani’ berkata: “Aku tidak halal dinikahi Rasulullah selama-lamanya, karena aku tidak pernah hijrah.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ismail bin Abi Khalid, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ummu Hani’ bahwa ayat,… wa banaati ‘ammika wa banaati ‘ammaatika wa banaati khaalika wa banaati khaalaatikal laatii haajarna ma’ak…(.. dan [demikian] pula anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki ibumu, dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah bersama kamu…)(al-Ahzab: 50) sebagai larangan kepada Nabi saw. untuk menikahi Ummu Hani’ yang tidak turut hijrah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa firman Allah , wamra-atam mu’minah…(.. dan perempuan Mukmin…) (al-Ahzab: 50) turun berkenaan dengan Ummu Syarik ad-Dausiyyah yang menghibahkan dirinya kepadada Rasulullah saw.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d yang bersumber dari Munir bin ‘Abdillah ad-Dauli bahwa Ummu Syarik Ghaziyyah binti Jabir bin Hakim ad-Dausiyyah menyerahkan dirinya kepada Rasulullah saw. (untuk dinikahi). Ia seorang wanita yang cantik. Dan Rasulullah pun menerimanya. Berkatalah ‘Aisyah: “Tak ada baiknya seorang wanita yang menyerahkan diri kepada seorang laki-laki (untuk dinikahi).” Berkatalah Ummu Syarik : “Kalau begitu akulah yang kamu maksudkan.” Maka Allah memberikan julukan Mu’minah kepada Ummu Syarik dengan firman-Nya,…wam ro-atam mu’minatan iw wahabat nafsahaa lin-nabiy…(.. dan perempuan Mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi..) (al-Ahzab: 50). Setelah turun ayat tersebut, berkatalah ‘Aisyah: “Sesungguhnya Allah mempercepat mengabulkan kemauanmu.”

51. Kamu boleh menangguhkan menggauli siapa yang kamu kehendaki di antara mereka (isteri-isterimu) dan (boleh pula) menggauli siapa yang kamu kehendaki. dan siapa-siapa yang kamu ingini untuk menggaulinya kembali dari perempuan yang Telah kamu cerai, Maka tidak ada dosa bagimu. yang demikian itu adalah lebih dekat untuk ketenangan hati mereka, dan mereka tidak merasa sedih, dan semuanya rela dengan apa yang Telah kamu berikan kepada mereka. dan Allah mengetahui apa yang (tersimpan) dalam hatimu. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun*.

* menurut riwayat, pada suatu ketika isteri-isteri nabi Muhammad s.a.w. ada yang cemburu, dan ada yang meminta tambahan belanja. Maka nabi Muhammad s.a.w. memutuskan perhubungan dengan mereka sampai sebulan lamanya. oleh Karena takut diceraikan nabi, Maka mereka datang kepada nabi menyatakan kerelaannya atas apa saja yang akan diperbuat nabi terhadap mereka. Turunnya ayat Ini memberikan izin kepada nabi untuk menggauli siapa yang dikehendakinya dan isteri-isterinya atau tidak menggaulinya; dan juga memberi izin kepada nabi untuk rujuk kepada isteri-isterinya seandainya ada isterinya yang sudah diceraikannya.

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan yang bersumber dari ‘Aisyah bahwa ‘Aisyah berkata: “Apakah wanita tidak malu bila menyerahkan dirinya (untuk dinikahi)?” Allah mewahyukan firman-Nya, turjii man tasyaa…(..kamu boleh menangguhkan [menggauli] siapa yang kamu kehendaki…) sampai akhir ayat (al-Ahzab: 51) yang memberikan kebebasan kepada Rasulullah untuk menetapkan giliran tinggal bersama istrinya. Kemudian ‘Aisyah berkata: “Aku melihat Rabb-mu mempercepat mengabulkan keinginanmu.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dari Abu Razin bahwa Rasulullah saw. pernah bermaksud menalak beberapa istrinya. Ketika mereka (istri-istri Rasulullah saw.) mengetahui hal itu, mereka menyerahkan persoalannya kepada Rasulullah saw.. Ayat ini (al-Ahzab: 50-51) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang memberikan kebebasan kepada Rasulullah saw. untuk menetapkan kebijaksanaan mengenai istri-istrinya itu.

Sumber: Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: