Asbabun Nuzul Surah Luqman

20 Jan

asbabun nuzul surah alqur’an

6. “Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.”
(Luqman: 6)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ayat ini (Luqman: 6) turun berkenaan dengan seorang Quraisy yang membeli seorang biduanita (yang dijadikan untuk menyesatkan manusia). Ayat ini mengancam orang-orang yang berusaha menyesatkan manusia.

Diriwayatkan oleh Juwaibir yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ayat ini (Luqman: 6) turun berkenaan dengan an-Nadlr bin al-Harits yang membeli seorang biduanita. Apabila ia mendengar seseorang akan masuk Islam, ia mengajak orang tersebut datang kepada biduanita tersebut. kemudian ia menyuruh biduanita itu menyediakan makanan dan minuman serta merayu orang tersebut dengan alunan suaranya. An-Nadlr berkata kepada orang yang dibujuknya itu: “Ini lebih baik daripada ajakan Muhammad yang hanya menyuruh shalat, shaum, dan berperang untuk kemenangannya.” Ayat ini (Luqman: 6) menerangkan bahwa orang-orang yang berbuat seperti itu akan mendapat siksa yang sangat berat dari Allah swt.

27. “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah*. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(Luqman: 27)

*yang dimaksud dengan Kalimat Allah ialah: ilmu-Nya dan Hikmat-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ahli kitab bertanya kepada Rasulullah saw. tentang ruh. Pertanyaan ini dijawab oleh Nabi Muhamad saw. dengan firman Allah, surat al-Israa ayat 85 yang menegaskan bahwa ruh adalah urusan Allah, dan manusia hanya diberi ilmu yang sangat sedikit. Ahli kitab berkata: “Engkau menganggap bahwa kami tidak diberi ilmu kecuali hanya sedikit, padahal kami telah diberi Taurat. Taurat adalah hikmah. Dan barang siapa yang diberi hikmah, sesungguhnya ia telah diberi kebaikan yang banyak.” Maka turunlah ayat ini (Luqman: 27) sebagai penjelasan bahwa ilmu yang diberikan kepada manusia hanyalah sedikit, sedangkan ilmu Allah tidak mungkin dapat dicatat karena sangat banyak.

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq yang bersumber dari ‘Atha’ bin Yasar. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim dari Sa’id atau ‘Ikrimah yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika Rasulullah saw. berada di Mekah, turunlah ayat…. Wa maa uutiitum minal ‘ilmi illaa qaliilaa…( … dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit) (al-Israa: 85). Setelah beliau hijrah ke Madinah, datanglah kepada beliau pendeta-pendeta Yahudi seraya berkata: “Apakah benar apa yang telah sampai kepada kami ini, bahwa engkau berkata: ‘hanya sedikit ilmu yang diberikan oleh Allah’. Apakah perkataan itu ditujukan kepada kami atau kepada kaummu?” Bersabdalah Rasulullah saw.: “Kami tujukan kepada dua-duanya.” Mereka berkata: “Bukankah engkau telah membaca (dalam al-Qur’an) bahwa kami telah diberi Taurat yang di dalamnya terdapat keterangan untuk segala perkara.” Bersabdalah Rasulullah saw: “Semua itu dibanding dengan ilmu Allah sangatlah sedikit.” Ayat ini (Luqman: 27) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang menegaskan bahwa di muka bumi ini tidak akan ada alat yang mencukupi untuk melukiskan ilmu Allah.

Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh di dalam kitab al-‘Azhamah, dan Ibnu Jarir, yang bersumber dari Qatadah bahwa kaum musyrikin berkata: “Hampir habis apa yang dikatakan oleh Muhammad.” Ayat tersebut (Luqman: 27) turun berkenaan dengan ucapan mereka, yang menegaskan bahwa ilmu Allah itu tidak akan ada habis-habisnya.

34. “Sesungguhnya Allah, Hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok*. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.”
(Lukman: 34)

*Maksudnya: manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau yang akan diperolehnya, namun demikian mereka diwajibkan berusaha.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Mujahid bahwa seorang Badui datang menghadap Rasulullah dan berkata: “Istriku sedang hamil, cobalah terangkan jenis kelamin apa yang akan ia lahirkan (apakah pria atau wanita); negeriku kekeringan, kapan akan turun hujan; dan aku tahu kapan aku dilahirkan, tetapi terangkan kepadaku kapan aku mati?” Maka turunlah ayat ini (Lukman: 34) yang menegaskan bahwa hanya Allah yang mengetahui segala sesuatu.

Sumber: Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: