Arsip | 05.06

Asbabun Nuzul Surah An-Nuur (6)

21 Jan

asbabun nuzul surah alqur’an

62.”Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka Itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(an-Nuur: 62)

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dan al-Baihaqi di dalam Kitab ad-Dalaa-il, yang bersumber dari ‘Urwah, Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi, dan lain-lain bahwa ketika orang-orang Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan menuju ke Madinah dalam Peperangan Ahzab, mereka bermarkas di dataran rendah pinggiran kota Madinah. Sedang pasukan dari Ghathafan bermarkas di Na’ma, di samping gunung Uhud. Berita ini sampai kepada Rasulullah saw. Beliau memerintahkan membuat khadaq (parit) sekeliling Madinah, bahkan beliau sendiri menyingsingkan lengan bajunya bekerja bersama kaum Muslimin. Akan tetapi kaum munafiqin memperlambat pekerjaan tersebut dengan memilih pekerjaan yang enteng-enteng. Mereka sering meninggalkan pekerjaannya dengan diam-diam tanpa sepengetahuan dan izin dari Rasulullah saw., untuk menengok keluarganya. Sedang kaum Muslimin, apabila harus meninggalkan pekerjaan itu karena keperluan yang tidak dapat ditangguhkan lagi, mereka berterus terang meminta izin kepada Rasulullah saw., dan beliaupun mengizinkannya. Apabila telah selesai kepentingannya, mereka segela kembali melanjutkan tugasnya tadi. Berkenaan dengan peristiwa ini, turunlah ayat tersebut (an-Nuur: 62) yang menegaskan perbedaan antara kaum Mukminin dan kaum munafikin.

63. “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.”
(an-Nuur: 63)

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam Kitab ad-Dalaa-il, dari adl-Dlahhak yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa pada waktu itu, apabila orang-orang memanggil Rasulullah, mereka suka mengucapkan: “Ya Muhammad! Ya Abal Qasim!” Maka turunlah ayat ini (an-Nuur: 63) yang melarang kaum Muslimin memanggil nama pada Nabi Muhammad saw.. Setelah ayat ini turun, kaum Muslimin pun memanggil Nabi dengan panggilan “Yaa Nabiyyallaah, yaa Rasulullaah.”

Sumber: Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah An-Nuur (5)

21 Jan

asbabun nuzul surah alqur’an

55. “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.”
(an-Nuur: 55)

Diriwayatkan oleh al-Hakim –menurut al-Hakim hadits ini sahih- dan ath-Thabarani, yang bersumber dari Ubay bin Ka’b bahwa ketika Rasulullah saw. bersama shahabat-shahabatnya (penduduk Mekah) sampai di Madinah, dan disambut serta dijamin keperluan hidupnya oleh kaum Anshar, mereka tidak melepaskan senjatanya siang dan malam, karena selalu diincar oleh kaum kafir Arab Madinah. Mereka berkata kepada Nabi saw.: “Kapan tuan dapat melihat kami hidup aman dan tenteram tiada takut kecuali kepada Allah.” Ayat ini (an-Nuur: 55) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai jaminan dari Allah swt. Bahwa mereka akan dianugerahi kekuasaan di muka bumi ini.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari al-Barra’ bahwa ayat ini (an-Nuur: 55) turun ketika kaum Muslim merasa tidak tenteram (karena kepungan musuh).

61. “Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, Makan (bersama-sama mereka) dirumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapakmu, dirumah ibu-ibumu, dirumah saudara- saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, dirumah saudara bapakmu yang laki-laki, dirumah saudara bapakmu yang perempuan, dirumah saudara ibumu yang laki-laki, dirumah saudara ibumu yang perempuan, dirumah yang kamu miliki kuncinya[1051] atau dirumah kawan-kawanmu. tidak ada halangan bagi kamu Makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.”
(an-Nuur: 61)

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazaq dari Ma’mar, dari Ibnu Abi Najih, yang bersumber dari Mujahid bahwa pada waktu itu orang-orang biasa berkunjung bersama-sama orang buta, orang pincang, atau orang sakit ke rumah bapaknya, ke rumah saudaranya, ke rumah saudarinya, ke rumah bibinya (dari pihak bapak), atau ke rumah bibinya (dari pihak ibu). Orang-orang yang diajak itu merasa keberatan dengan berkata: “Mereka membawa kita ke rumah orang lain.” Maka turunlah ayat ini (an-Nuur: 61) sebagai kelonggaran kepada mereka (orang buta, pincang, atau sakit) untuk makan di rumah orang lain.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika turun ayat, yaa ayyuhalladziina aamanuu laa ta’kuluu amwaalakum bainakum bil baathil.. (hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil..), sampai akhir ayat (an-Nisaa’ : 29), kaum Muslimin menghentikan makan di tempat orang lain, padahal mereka beranggapan bahwa menjamu makan itu adalah pemanfaatan harta yang paling utama. Maka turunlah ayat tersebut (an-Nuur: 61) member kelonggaran untuk makan yang disediakan untuk mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Adl-Dlahhak bahwa sejak sebelum Nabi saw. diutus sebagai Rasul, orang-orang Madinah tidak suka makan bersama-sama orang buta, orang sakit, atau orang pincang, karena orang buta tidak akan dapat melihat makanan yang enak, makanan orang sakit tidak cocok untuk orang sehat, dan orang pincang tidak dapat berebut makanan. Ayat ini (an-Nuur: 61) turun untuk mengubah kebiasaan mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Muqsim bahwa orang-orang Madinah tidak suka makan bersama-sama dengan orang buta atau orang pincang. Ayat ini (an-Nuur: 61) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut untuk mengubah kebiasaan mereka.

Diriwayatkan ole hats-Tsa’labi di dalam Tafsir-nya, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika al-Harits pergi mengikuti Rasulullah saw berjihad, ia meminta Khalid bin Zaid untuk menjaga keluarganya. Akan tetapi Khalid merasa keberatan untuk makan di rumah al-Harits, karena ia sangat berhati-hati (takut melanggar hokum). Maka turunlah ayat ini (an-Nuur: 61) yang membernarkan memakan makanan yang disuguhkan kepadanya.

Diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan sanad yang sahih, yang bersumber dari ‘Aisyah bahwa apabila kaum Muslimin berangkat mengikuti Rasulullah saw. berjihad, mereka suka menyerahkan kunci-kunci rumahnya kepada orang-orang invalid (lemah atau cacat anggota badan), serta menghalalkan orang-orang tersebut untuk makan apa-apa yang mereka inginkan. Mereka berkata: “Sebenarnya tidak halal bagi kita memakan makanan mereka, karena mereka memberikan izin tidak dengan kerelaan hati.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nuur: 61) yang memberikan kelonggaran kepada mereka untuk makan di rumah orang yang mengizinkannya dengan menyerahkan kunci-kunci rumahnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari az-Zuhri bahwa az-Zuhri pernah ditanya tentang maksud kata-kata orang buta, orang pincang, dan orang sakit yang disebut dalam ayat, laisa ‘alal a’maa haraj…(..tidak ada halangan bagi orang buta..) (an-Nuur: 61) ia menjawab: “Aku telah menerima hadits dari ‘Abdullah bin ‘Abdillah yang mengatakan bahwa apabila kaum Muslimin berangkat berjihad, mereka suka menyerahkan kunci-kunci rumahnya kepada orang-orang invalid untuk menjaga rumah-rumah mereka dan menghalalkan makan apa saja yang ada di rumah mereka. Akan tetapi yang dititipi kunci merasa enggan, sekalipun hanya untuk masuk ke rumah itu.” Ayat ini (an-Nuur: 61) menegaskan bahwa mereka dibolehkan masuk ke dalam rumah itu dan makan setelah mengucapkan salam.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah bahwa ayat,….laisay ‘alaikum junaahun ang ta’kuluu jamii’an au asytaataa…(..tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian…) (an-Nuur: 61) turun berkenaan dengan segolongan bangsa Arab yang tidak dapat makan sendirian. Kadang-kadang mereka membawa-bawa makanan sampai mendapatkan orang yang mau menemaninya makan. Ayat ini (an-Nuur: 61) membenarkan mereka makan bersama-sama atau sendirian.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah dan Abu Shalih bahwa apabila ada tamu yang datang ke rumah kaum Anshar, mereka tidak mau makan kecuali bersama tamunya. Ayat ini (an-Nuur: 61) turun sebagai kelonggaran bagi mereka untuk makan bersama-sama atau sendiri-sendiri.

Sumber: Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah An-Nuur (4)

21 Jan

asbabun nuzul surah alqur’an

31.”Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”
(an-Nuur: 31)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Muqatil, yang bersumber dari Jabir bin ‘Abdillah bahwa Asma’ binti Murtsid, pemilik kebun kurma, sering dikunjungi wanita-wanita yang bermain-main di kebunnya tanpa berkain panjang sehingga kelihatan gelang-gelang kakinya. Demikian juga dada dan sanggul mereka kelihatan. Berkatalah Asma’: “Alangkah buruknya (pemandangan) ini.” Turunnya ayat ini (an-Nuur: 31) sampai,…’auraatin nisaa’… (…aurat wanita..) berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang memerintahkan kepada kaum Mukminat untuk menutup aurat mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Hadlrami, bahwa seorang wanita membuat dua kantong perak yang diisi untaian batu-batu mutu manikam sebagai perhiasan kakinya. Apabila ia lewat dihadapan sekelompok orang, ia memukul-mukulkan kakinya ke tanah sehingga kedua gelang kakinya bersuara seperti beradu. Maka turunlah kelanjutan ayat ini (an-Nuur: 31, dari… wa laa yadlribna bi arjulihinn…[.. dan janganlah mereka memukulkan kakinya…] sampai akhir ayat), yang melarang wanita menggerak-gerakkan anggota tubuhnya untuk mendapatkan perhatian laki-laki.

33.”Dan orang-orang yang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri)nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan karunia-Nya. dan budak-budak yang kamu miliki yang memginginkan perjanjian, hendaklah kamu buat Perjanjian dengan mereka*, jika kamu mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu**. dan janganlah kamu paksa budak-budak wanitamu untuk melakukan pelacuran, sedang mereka sendiri mengingini kesucian, karena kamu hendak mencari Keuntungan duniawi. dan Barangsiapa yang memaksa mereka, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (kepada mereka) sesudah mereka dipaksa itu***.”
(an-Nuur: 33)

*Salah satu cara dalam agama Islam untuk menghilangkan perbudakan, Yaitu seorang hamba boleh meminta pada tuannya untuk dimerdekakan, dengan Perjanjian bahwa budak itu akan membayar jumlah uang yang ditentukan. Pemilik budak itu hendaklah menerima Perjanjian itu kalau budak itu menurut penglihatannya sanggup melunasi Perjanjian itu dengan harta yang halal.
**Untuk mempercepat lunasnya Perjanjian itu hendaklah budak- budak itu ditolong dengan harta yang diambilkan dari zakat atau harta lainnya.
***Maksudnya: Tuhan akan mengampuni budak-budak wanita yang dipaksa melakukan pelacuran oleh tuannya itu, selama mereka tidak mengulangi perbuatannya itu lagi.

Diiwayatkan oleh Ibnus Sakan di dalam kitab Ma’rifatush Shahaabah, dari ‘Abdullah bin Shubaih, yang bersumber dari bapaknya, bahwa Shubaih, hamba sahaya Huwaithib bin ‘Abdul ‘Uzzaa, meminta dimerdekakan dengan suatu perjanjian tertentu. Akan tetapi permohonannya ditolak. Maka turunlah ayat ini (an-Nuur: 33) yang memerintahkan untuk mengabulkan permintaan hamba sahaya yang ingin merdeka dengan perjanjian tertentu.

Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Sufyan yang bersumber dari Jabir bin ‘Abdillah, bahwa ‘Abdullah bin Ubay menyuruh jariahnya (hamba sahaya wanita) melacur dan meminta bagian dari hasilnya. Maka turunlah kelanjutan ayat ini (an-Nuur: 33) sebagai larangan memaksa jariah melacurkan diri untuk mengambil keuntungan.

Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Sufyan yang bersumber juga dari Jabir bin ‘Abdillah, bahwa jariah ‘Abdullah bin Ubay itu Masikah dan Aminah, yang keduanya mengadu kepada Rasulullah saw. karena dipaksa melacur. Ayat ini (an-Nuur: 33) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh al-Hakim dari Abuz Zubair yang bersumber dari Jabir bahwa Masikah itu jariah milik seorang Anshar. Ia mengadu kepada Rasulullah saw. bahwa tuannya memaksanya untuk melacur. Ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh al-Bazzar dan ath-Thabarani dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Diriwayatkan pula oleh al-Bazzar dengan sanad yang dhaif, yang bersumber dari Anas, dengan tambahan bahwa nama jariah itu Mu’adzah. bahwa ‘Abdullah bin Ubay mempunyai seorang jariah yang suka disuruh melacur sejak jaman jahiliyyah. Ketika zina diharamkan, jariah itu tidak mau lagi melakukannya. Ayat ini (an-Nuur: 33) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut sebagai larangan untuk memaksa jariah melacur.

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dari Sya’ban, dari ‘Amr bin Dinar, yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ‘Abdullah bin Ubay mempunyai dua orang jariah, Mu’adzah dan Masikah. Keduanya ia paksa untuk melacurkan diri. Berkatalah salah seorang diantara kedua jariah tadi: “Sekiranya perbuatan itu baik, engkau telah mendapatkan hasil yang banyak dari perbuatan itu. Namun sekiranya perbuatan itu tidak baik, sudah sepantasnyalah aku meninggalkannya.” Ayat ini (an-Nuur: 33) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut.

48. “Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah* dan Rasul-Nya, agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.”
(an-Nuur: 48)

* Maksudnya: dipanggil untuk bertahkim kepada Kitabullah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari al-Hasan, tetapi mursal, bahwa apabila seseorang bertengkar dengan seseorang, dan ia merasa benar, maka ia akan meminta diadili oleh Rasulullah saw., karena ia tahu bahwa Nabi akan mengadilinya dengan hak. Akan tetapi apabila ia bertengkar dan bermaksud berbuat zalim, ia akan menolak untuk diadili oleh Rasulullah saw. dan mengajak diadili oleh orang lain. Ayat ini (an-Nuur: 48) turun berkenaan dengan peristiwa itu.
Sumber: Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah An-Nuur (3)

21 Jan

asbabun nuzul surah alqur’an

23.”Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah* lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la’nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar,”
(an-Nuur:23)

24.”Pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.”
(an-Nuur: 24)

25. “Di hari itu, Allah akan memberi mereka Balasan yag setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang benar, lagi yang menjelaskan (segala sesutatu menurut hakikat yang sebenarnya).”
(an-Nuur: 25)

26.”Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)**.”
(an-Nuur: 26)

* Yang dimaksud dengan wanita-wanita yang lengah ialah wanita-wanita yang tidak pernah sekali juga teringat oleh mereka akan melakukan perbuatan yang keji itu.
** Ayat ini menunjukkan kesucian ‘Aisyah r.a. dan Shafwan dari segala tuduhan yang ditujukan kepada mereka. Rasulullah adalah orang yang paling baik Maka pastilah wanita yang baik pula yang menjadi istri beliau.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani yang bersumber dari Khashif. Di dalam sanadnya terdapat Yahya al-Hamani, rawi yang dhaif. Bahwa Khashif bertanya kepada Sa’id bin Jubair: “Mana yang lebih besar dosanya, zina atau menuduh orang berzina?” Sa’id menjawab: “Zina.” Khashif berkata lagi: “Bukankah Allah berfirman: innal ladziina yarmuunal muhshanaatil ghaafilaatil mu’minaat.. (sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman [berbuat zina]…)’ dan seterusnya (an-Nuur: 23) yang menegaskan bahwa orang yang menuduh zina dilaknat oleh Allah di dunia dan di akhirat?” Sa’id berkata: “Ayat ini diturunkan khusus berkenaan dengan kejadian ‘Aisyah.”

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani yang bersumber dari adl-Dlahhak bin Muzahim bahwa turunnya ayat ini (an-Nuur: 23) turun khusus berkenaan dengan istri-istri Nabi saw.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Sa’id bin Jubair yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ayat ini (an-Nuur: 23) turun khusus berkenaan dengan peristiwa ‘Aisyah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Aisyah bahwa ‘Aisyah dituduh (berbuat keji), sedang ia sendiri tidak mengetahuinya. Kemudian barulah ada orang yang menyampaikan perihal tuduhan itu kepadanya. Ketika Rasulullah berada di tempat ‘Aisyah, turunlah wahyu, lalu beliau membetulkan duduknya dan menyapu mukanya. Setelah itu, bersabdalah Rasulullah: “Hai ‘Aisyah, bergembiralah engkau.” ‘Aisyah berkata: “Dengan memuji syukur kepada Allah, dan bukan kepada tuan.” Kemudian Rasulullah membacakan ayat itu (an-Nuur: 23-26).

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani, dengan sanad yang fijaal (para perawinya)nya tsiqat (kuat-kuat), yang bersumber dari ‘Abdullah bin Zaid bin Aslam, bahwa ayat ini (an-Nuur: 26) turun berkenaan dengan ‘Aisyah yang dituduh oleh kaum munafik dengan tuduhan dusta yang dibuat-buat, sehingga Allah mensucikan nya dari tuduhan itu.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dengan dua sanad yang dua-duanya dhaif, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, bahwa ayat ini (an-Nuur: 26) berkenaan dengan tuduhan yang dibuat-buat kepada istri Nabi saw.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani yang bersumber dari al-Hakam bin ‘Utaibah. Isnad hadits ini shahih tapi mursal. Bahwa tatkala orang-orang membicarakan fitnah yang ditujukan kepada ‘Aisyah, Rasulullah mengirimkan utusan kepada ‘Aisyah: “Hai ‘Aisyah, bagaimana pendapatmu tentang ocehan orang mengenai dirimu?” ‘Aisyah menjawab: “Aku tidak akan memberikan sanggahan apapun hingga Allah menurunkan sanggahan dari langit.” Maka Allah menurunkan 16 ayat dari surah an-Nuur (an-Nuur: 11-26). Kemudian Rasulullah membacakan ayat-ayat tersebut sampai, al-khabiitsaatu lil khabiitsaiin.. (wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji…) (an-Nuur: 26).

27.”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.”
(an-Nuur: 27)

28.” Jika kamu tidak menemui seorangpun didalamnya, Maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. dan jika dikatakan kepadamu: “Kembali (saja)lah, Maka hendaklah kamu kembali. itu bersih bagimu dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(an-Nuur: 28)

29. “Tidak ada dosa atasmu memasuki rumah yang tidak disediakan untuk didiami, yang di dalamnya ada keperluanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.”
(an-Nuur: 29)

Diriwayatkan oleh al-Faryabi dan Ibnu Jarir, yang bersumber dari ‘Adi bin Tsabit, bahwa seorang wanita Anshar mengadu kepada Rasulullah saw.: “Ya Rasulullah, aku berada di rumahku dalam keadaan aku tidak ingin dilihat oleh orang lain. Akan tetapi selalu saja ada laki-laki dari familiku masuk ke dalam rumahku. Apa yang harus aku lakukan?” Maka turunlah ayat ini (an-Nuur: 27) yang melarang kaum Mukminin memasuki rumah orang lain sebelum meminta izin dan mengucapkan salam.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Muqatil bin Hibban, bahwa ketika turun ayat yang memerintahkan supaya minta izin apabila hendak memasuki rumah orang, berkatalah Abu Bakr: “Ya Rasulullah, bagaimana dengan pedagang-pedagang Quraisy yang hilir mudik ke Mekah, Madinah, Syam, dan mereka memiliki rumah-rumah tertentu di jalan, apakah mereka mesti meminta izin dan memberi salam padahal tidak ada penghuninya?” Maka turunlah ayat selanjutnya (an-Nuur: 29) yang membolehkan kaum Mukminin memasuki rumah yang disediakan bukan untuk tempat tinggal karena keperluan tertentu.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah An-Nuur (2)

21 Jan

asbabun nuzul surah alqur’an

11.”Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat Balasan dari dosa yang dikerjakannya. dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar*.
(an-Nuur: 11)

12. Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohon itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: “Ini adalah suatu berita bohong yang nyata.”
(an-Nuur: 12)

13. Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Olah karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi Maka mereka Itulah pada sisi Allah orang- orang yang dusta.
(an-Nuur: 13)

14. Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.
(an-Nuur: 14)

15. (ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal Dia pada sisi Allah adalah besar.
(an-Nuur: 15)

16. Dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: “Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha suci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah Dusta yang besar.”
(an-Nuur: 16)

17. Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.
18. Dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
(an-Nuur: 17)

19. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang Amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.
(an-Nuur: 19)

20. Dan Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).
(an-Nuur: 20)

21. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
(an-Nuur: 21)

22. Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang**,
(an-Nuur: 22)

*Berita bohong ini mengenai istri Rasulullah s.a.w. ‘Aisyah r.a. Ummul Mu’minin, sehabis perang dengan Bani Mushtaliq bulan Sya’ban 5 H. Perperangan ini diikuti oleh kaum munafik, dan turut pula ‘Aisyah dengan Nabi berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau. dalam perjalanan mereka kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu tempat. ‘Aisyah keluar dari sekedupnya untuk suatu keperluan, kemudian kembali. tiba-tiba Dia merasa kalungnya hilang, lalu Dia pergi lagi mencarinya. Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa ‘Aisyah masih ada dalam sekedup. setelah ‘Aisyah mengetahui, sekedupnya sudah berangkat Dia duduk di tempatnya dan mengaharapkan sekedup itu akan kembali menjemputnya. Kebetulan, lewat ditempat itu seorang sahabat Nabi, Shafwan Ibnu Mu’aththal, diketemukannya seseorang sedang tidur sendirian dan Dia terkejut seraya mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, isteri Rasul!” ‘Aisyah terbangun. lalu Dia dipersilahkan oleh Shafwan mengendarai untanya. Syafwan berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah. orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut Pendapat masing-masing. mulailah timbul desas-desus. kemudian kaum munafik membesar- besarkannya, Maka fitnahan atas ‘Aisyah r.a. itupun bertambah luas, sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum muslimin.
** Ayat ini berhubungan dengan sumpah Abu Bakar r.a. bahwa Dia tidak akan memberi apa-apa kepada kerabatnya ataupun orang lain yang terlibat dalam menyiarkan berita bohong tentang diri ‘Aisyah. Maka turunlah ayat ini melarang beliau melaksanakan sumpahnya itu dan menyuruh mema’afkan dan berlapang dada terhadap mereka sesudah mendapat hukuman atas perbuatan mereka itu.

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim) dll, yang bersumber dari ‘Aisyah. Diriwayatkan pula oleh ath-Thabarani yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Abul Yasar. Bahwa apabila Rasulullah hendak bepergian, beliau mengundi dulu siapa di antara istrinya yang akan ikut serta dalam perjalanan itu. Demikian pula beliau akan mengundi istri-istrinya siapa yang akan diajak berperang. Pada suatu hari –kejadiannya setelah turun ayat hijab- kebetulan ‘Aisyah terundi untuk dibawa. ‘Aisyah digotong di atas tandu, dan tandu itu ditaruh di atas unta untuk kemudian berangkat. Setelah peperangan selesai, waktu pulang hampir mendekati Madinah, Rasulullah memberi izin untuk berhenti sebentar pada waktu malam. ‘Aisyah turun dan pergi buang air. Ketika kembali ke tempatnya, ‘Aisyah meraba dadanya, ternyata kalungnya hilang, sehingga ia kembali ke tempat tadi untuk mencari kalung itu. Lama ia mencarinya. Orang-orang yang memikul tandunya mengangkat kembali tandu itu ke atas unta yang dinaikinya. Mereka mengira bahwa ‘Aisyah ada di dalamnya, karena wanita-wanita pada waktu itu badannya enteng dan langsing-langsing, sehingga tidak begitu terasa bedannya tandu kosong dengan yang berisi.
Kalung itu ditemukannya kembali setelah pasukan Rasulullah berangkat, dan tak seorangpun yang masih ada di situ. ‘Aisyah duduk kembali di tempat berhenti tadi, dengan harapan orang-orang akan menjemputnya atau mencarinya. Ketika duduk di tempat istirahat tadi, ‘Aisyah mengantuk dan tertidur. Kebetulah Shafwan bin al-Mu’aththal, yang tertinggal oleh pasukan karena suatu halangan, pada pagi itu sampai di tempat pemberhentian ‘Aisyah. Shafwan melihat ada baying-bayang hitam manusia. Ia dapat mengenali ‘Aisyah karena pernah melihatnya sebelum turun ayat hijab. ‘Aisyah terbangun karena mendengan Shafwan mengucapkan “innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun (sesungguhnya kita semua milik Allah dan hanya kepada-Nya kita kembali) ketika ia mendapatkannya. ‘Aisyah segera menutup muka dengan kerudungnya. Tidak sepatah katapun yang diucapkan oleh ‘Aisyah. Iapun tidak mendengar ucapan dari Shafwan selain ucapan “innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun” tadi. Ketika itu untanya disuruh berlutut agar ‘Aisyah dapat naik ke atasnya. Kemudian Shafwan menuntun unta tersebut sehingga sampai ke tempat pasukan yang sedang berteduh di siang hari. Hal itulah yang terjadi pada diri ‘Aisyah. Maka celakalah orang yang menuduhnya dengan fitnah yang dilancarkan oleh ‘Abdullah bin Ubay bin Salul.
Ketika sampai ke Madinah, ‘Aisyah menderita sakit selam satu bulan. Sementara orang-orang menyebarkan fitnah yang dibuat oleh ‘Abdullah bin Ubay bin Salul, tetapi ‘Aisyah sendiri tidak mengetahuinya. Setelah ‘Aisyah merasa sudah agak sembuh, ia memaksakan diri pergi buang air dibimbing Ummu Misthah. Ummu Misthah tergelincir dan dengan latah mengucapkan: “Celaka anakku si Misthah!” ‘Aisyah bertanya: “Mengapa engkau berkata demikian? Mencaci maki orang yang ikut dalam perang Badr?” Ummu Misthah berkata: “Wahai junjunganku. Tidakkah engkau mendengar apa yang ia katakan?” ‘Aisyah berkata: “Apa yang ia katakan?” Lalu Ummu Misthah menceritakan fitnah yang sudah tersebar luas itu, sehingga bertambahlah penyakit ‘Aisyah.
Pada suatu hari Rasulullah datang kepadanya (beliau tidak seperti biasanya memperlakukan ‘Aisyah), dan karenannya ‘Aisyah meminta izin untuk pergi kepada ibu-bapaknya untuk meyakinkan kabar yang tersebar itu. Rasulullah mengizinkannya. Dan ketika sampai di rumah orang tuanya, ‘Aisyah berkata kepada ibunya: “Wahai ibuku, apa yang mereka katakan tentang diriku?” Ibunya menjawab: “Wahai anakku, tabahkanlah dirimu. Demi Allah, sangat sedikit wanita cantik yang dicintai suaminya serta dimadu, melainkan akan banyak yang menghasutnya.” ‘Aisyah berkata: “Subhaanallaah (Maha Suci Allah), apakah sampai sejauh itu orang-orang menggunjingkan aku. Dan apakah hal ini juga sudah sampai kepada Rasulullah?” Ibunya mengiyakannya. ‘Aisyahpun menangis pada malam itu, sehingga pada pagi harinya air matanya tak henti-hentinya mengalir.
Pada suatu hari Rasulullah memanggil ‘Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid untuk membicarakan perceraian dengan istrinya, karena wahyu tidak kunjung turun. Usamah mengemukakan pendapatnya bahwa sepanjang pengetahuannya, keluarga Rasul itu adalah orang baik-baik. Ia berkata: “Ya Rasulullah, mereka itu adalah keluarga tuan dan kami mengetahui bahwa mereka itubaik.” Sedangkan ‘Ali berkata: “Allah tidak akan menyempitkan tuan. Di samping itu masih banyak wanita selainnya. Untuk itu sebaiknya tuan bertanya kepada Barirah (pembantu rumah tangga ‘Aisyah), pasti ia akan menerangkan yang benar.”
Kemudian Rasulullah memanggil Barirah, dan bertanya: “Hai Barirah, apakah engkau melihat hal-hal yang meragukan dirimu tentang ‘Aisyah?” Ia menjawab: “Demi Allah yang telah mengutus tuan dengan hak, jika aku melihat darinya suatu hal, tentu tak akan aku sembunyikan. ‘Aisyah itu hanyalah seorang yang masih sangat muda, masih suka tertidur di samping tepung yang sedang diadoni, dan membiarkan ternaknya memakan tepung itu karena tertidur.”
Maka berdirilah Rasulullah di atas mimbar meminta bukti dari ‘Abdullah bin Ubay bin Salul dengan berkata: “Wahai kaum Muslimin, siapakah yang dapat menunjukkan orang yang telah menyakiti keluargaku. Demi Allah aku tidak mengetahui tentang istriku kecuali kebaikan.” Pada waktu itu ‘Aisyah sedang menangis seharian tidak henti-hentinya. Demikian pula pada malam harinya, air matanya mengalir dan tidak sekejappun dapat tidur, sampai-sampai ibu bapaknya mengira bahwa tangisnya akan membelah jantungnya.
Ketika kedua orang tuanya menunggui ‘Aisyah menangis, datanglah seorang wanita Anshar meminta izin masuk. ‘Aisyah mengizinkannya. Wanita itupun duduk seraya menangis bersamanya. Ketika itu datanglah Rasulullah saw. memberi salam, lalu duduk serta bersyahadat dan berkata: “Ammaa ba’du (apapun sesudah itu), hai ‘Aisyah. Sesungguhnya sudah sampai ke telingaku hal-hal mengenai dirimu. Sekiranya engkau bersih, maka Allah akan membersihkan dirimu, dan jika engkau melakukan dosa, maka mintalah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya seseorang yang mengakui dosanya kemudian bertobat, Allah akan menerima tobatnya.” Setelah beliau selesai bicara, berkatalah ‘Aisyah kepada ayahnya: “Coba jawabkan untukku wahai ayahku.” Ayahnya berkata: “Apa yang mesti aku katakana?” Lalu ‘Aisyah berkata kepada ibunya: “Coba jawab perkataan Rasulullah untukku, wahai ibuku.” Ibunya pun menjawab: “Demi Allah apa yang harus aku katakan?” Akhirnya ‘Aisyah menjawab: “Aku ini seorang wanita yang masih sangat muda. Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui bahwa tuan telah mendengar persoalan ini sehingga mempengaruhi hati tuan, bahkan tuan mempercayainya. Sekiranya aku berkata bahwa aku bersih-dan Allah mengetahuinya bahwa aku bersih- , tuan tidak akan mempercayainya.” Hal ini terjadi setelah sebulan lamanya tidak turun wahyu berkenaan dengan peristiwa ‘Aisyah.

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa ‘Aisyah berkata: “Sekiranya aku mengakui bahwa aku melakukan suatu perbuatan, padahal Allah mengetahui bahwa aku suci dari perbuatan itu, pasti tuan akan mempercayai aku. Demi Allah, aku tidak mendapatkan sesuatu perumpamaan yang sejalan dengan peristiwa kita ini, kecuali yang diucapkan oleh ayah Nabi Yusuf: fa shabrun jamiiluw wallaahu musta’aanu ‘alaa tshifuun. (..maka kesabaran yang baik itulah [kesabaranku]. Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang yang kamu ceritakan)” (Yusu: 18). Setelah itu iapun pindah dan berbaring di tempat tidurnya.
Belum juga Rasulullah meninggalkan tempat duduknya dan tak seorangpun penghuni rumah yang keluar, Allah menurunkan wahyu kepada beliau. Tampak sekali Rasulullah kepayahan, sebagaimana biasa apabila beliau menerima wahyu. Setelah selesai menerima wahyu, kalimat pertama kali yang beliau ucapkan adalah: “Bergembiralah wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah telah membersihkanmu.” Maka berkatalah ibunya kepada ‘Aisyah: “Bangunlah dan menghadap beliau. ‘Aisyah berkata: “Demi Allah, aku tidak akan bangun menghadap kepadanya, dan tidak akan memuji syukur kecuali kepada Allah yang telah menurunkan ayat yang menyatakan kesucianku.”, yaitu ayat innal ladziina jaa-uu bil ifki ‘ushbatum mingkum..(sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga..) hingga sepuluh ayat (an-Nuur: 11-20).
Setelah kejadian ini, Abu Bakr yang biasanya memberi nafkah kepada Misthah karena kekerabatan dan kefakirannya, berkata: “Demi Allah, aku tidak akan memberi nafkah lagi kepada Misthah karena ucapannya tentang ‘Aisyah.” Maka turunlah ayat selanjutnya (an-Nuur: 22) sebagai teguran kepada orang-orang yang bersumpah tidak akan memberi nafkah kepada kerabat, fakir, dan lain-lain, karena merasa disakiti hatinya oleh mereka. Berkatalah Abu Bakr: “Demi Allah, sesungguhnya aku mengharapkan ampunan dari Allah.” Iapun terus menafkahi Misthah sebagaimana biasa.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah An-Nuur (1)

21 Jan

asbabun nuzul surah alqur’an

3. “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin*”.
(an-Nuur: 3)

* Maksud ayat ini Ialah: tidak pantas orang yang beriman kawin dengan yang berzina, demikian pula sebaliknya.

Diriwayatkan oleh an-Nasa-I yang bersumber dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa Ummu Mahzul, seorang wanita pezina, akan dikahi oleh seorang sahabat Nabi saw. Maka turunlah ayat ini (an-Nuur: 3) yang menjelaskan bahwa seorang wanita pezina haram dinikah kecuali oleh pezina atau orang yang musyrik.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa-I, dan al-Hakim, dari hadits ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, yang bersumber dari datuknya bahwa Mazid biasa mengangkut barang dagangannya dari al-Anbar ke Mekah untuk dijual disana. Ia bertemu kembali dengan kawannya, seorang wanita bernama ‘Anaq (wanita pezina). Mazid meminta izin kepada Nabi saw. untuk menikahinya. Akan tetapi beliau tidak menjawab, sehingga turun ayat ini (an-Nuur: 3). Rasulullah bersabda: “Hai Mazid, seorang pezina tidak akan menikahi kecuali pezina juga. Oleh karena itu janganlah engkau menikah dengannya.”

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur yang bersumber dari Mujahid bahwa ketika Allah mengharamkan zina, di sekitar mereka banyak wanita pezina yang cantik-cantik. Berkatalah orang-orang pada saat itu: “Jangan biarkan mereka pergi, dan biarkanlah mereka kawin.” Maka turunlah ayat ini (an-Nuur: 3) yang menegaskan bahwa wanita pezina hanyalah dikawini oleh laki-laki pezina atau laki-laki musyrik.

4.”Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik* (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik.
6. Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), Padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, Maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, Sesungguhnya Dia adalah Termasuk orang-orang yang benar.”
(an-Nuur: 4, 6)

*Yang dimaksud wanita-wanita yang baik disini adalah wanita-wanita yang Suci, akil balig dan muslimah.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari jalan ‘Ikrimah yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Hilal bin Umayyah mengadu kepada Nabi saw. bahwa istrinya berzina. Nabi saw. meminta bukti kepadanya, dan kalau tidak, ia sendiri yang akan dicambuk. Hilal berkata: “Ya Rasulullah sekiranya salah seorang dari kami melihat laki-laki lain bersama istrinya, apakah ia mesti mencari saksi lebih dahulu?” Nabi saw tetap meminta bukti atau ia sendiri yang akan dicambuk. Berkatalah Hilal : “Demi Allah, Dzat yang mengutus engkau dengan hak, sesungguhnya akulah yang benar. Mudah-mudahan Allah menurunkan sesuatu yang akan melepaskanku dari hukuman cambuk.” Maka turunlah Jibril membawa ayat ini (an-Nuur: 6) sebagai petunjuk bagaimana seharusnya menyelesaikan masalah ini.

Diriwayatkan oleh Ahmad. Diriwayatkan pula oleh Abu Ya’la yang bersumber dari Anas bahwa Hilal bin Umayyah mengadu kepada Rasulullah saw. bahwa istrinya berzina. Nabi saw. meminta bukti kepadanya, dan kalau tidak dia sendiri yang akan dicambuk. Hilal berkata: “Ya Rasulullah, sekiranya salah seorang dari kami melihat laki-laki lain beserta istrinya, apakah ia mesti mencari saksi terlebih dahulu?” Nabi saw. tetap meminta bukti atau ia sendiri yang akan dicambuk. Berkatalah Hilal: “Demi Allah, yang mengutus engkau dengan hak, sesungguhnya akulah yang benar. Mudah-mudahan Allah menurunkan sesuatu yang melepaskanku dari hukuman cambuk.” Maka turunlah Jibril membawa ayat ini (an-Nuur: 6) sebagai petunjuk bagaimana seharusnya menyelesaikan masalah seperti ini.

Diriwayatkan oleh Ahmad, diriwayatkan pula oleh Abu Ya’la yang bersumber dari Anas bahwa ketika turun ayat, wal ladziina yarmuunal muhshanaat… (dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik [berbuat zina]..) sampai..syahaadatan abadaa..(…kesaksian mereka buat selama-lamanya..) (an-Nuur: 4), berkatalah Sa’ad bin ‘Ubadah, seorang pemimpin kaum Anshar: “Apakah demikian lafal ayat itu, ya Rasulullah?” Bersabdalah Rasulullah: “Hai kaum Anshar, tidakkah kalian dengan ucapan pemimpin kalian itu?” Berkatalah kaum Anshar: “Ya Rasulullah janganlah tuan mencelanya. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat pencemburu. Demi Allah karena sangat pencemburunya, tidak ada seorangpun yang berani mengawini wanita yang disukai Sa’d.” Berkatalah Sa’d: “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku tahu ayat tersebut (an-Nuur: 4) adalah hak dan ayat tersebut dari Allah. Akan tetapi aku merasa aneh apabila aku dapatkan wanita jahat yang beradu paha dengan seorang laki-laki, aku tidak boleh memisahkannya atau mengusiknya sebelum aku membawa empat orang saksi. Demi
Allah, aku tidak akan dapat mendatangkannya (empat orang saksi) sebelum mereka selesai memuaskan nafsunya.”
Beberapa hari kemudian terjadilah suatu peristiwa yang dialami oleh Hilal bin Umayyah (salah seorang dari tiga yang diampuni Allah karena tidak turut serta dalam perang Tabuk). Ia mengadu kepada Rasulullah saw. tentang kejadian yang dialaminya pada malam hari, ketika ia pulang dari kebunnya. Ia melihat dengan mata kepala sendiri, istrinya sedang ditiduri oleh seorang laki-laki. Namun ia dapat menahan diri hingga mengadukannya kepada Rasulullah saw. Pengaduan Hilal ini menyebabkan Rasulullah tidak merasa senang dan bahkan menyulitkannya. Maka berkumpullah kaum Anshar membicarakan peristiwa Hilal ini. Mereka berkata: “Kita benar-benar diuji dengan apa yang dikatakan oleh Sa’d bin ‘Ubadah. Sekarang Rasulullah pasti membatalkan kesaksian Hilal dan akan menjilidnya (menghukum dengan pukulan).”
Berkatalah Hilal: “Demi Allah, sesungguhnya aku berharap agar Allah memberikan jalan keluar bagiku.” Kaum Anshar berkata: “Pasti Rasulullah memerintahkan untuk menghukum Hilal. Maka turunlah ayat ini (an-Nuur: 6) sehingga mereka menangguhkan hukuman terhadap Hilal ini. Ayat ini menegaskan bahwa seseorang yang menuduh istrinya berzina dapat diterima pengaduannya apabila ia bersumpah empat kali.

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim) dll, yang bersumber dari Sahl bin Sa’d bahwa ‘Uwaimir datang kepada ‘Ashim bin ‘Adi sambil meminta bantuannya: “Tolong tanyakan kepada Rasulullah, bagaimana pendapat beliau jika seorang laki-laki mendapati istrinya ditiduri orang lain, apakah ia boleh membunuhnya, kemudian si pembunuh itu dihukum bunuh. Atau hukuman apa yang harus dikenakan kepada si pezina tadi?” ‘Ashim menanyakan hal ini kepada Rasulullah saw, tapi Rasulullah mencela pertanyaan tersebut.
Ketika bertemu kembali dengan ‘Uwaimir, ‘Ashim berkata bahwa masalah yang diajukan itu tidak membawa kebaikan kepadanya, malah ia dicelah oleh Rasulullah saw.. Berkatalah ‘Uwaimir: “Aku akan datang sendiri untuk menanyakan kepada Rasulullah saw…” Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya telah turun ayat yang berkenaan denganmu dan istrimu (an-Nuur: 6)”

Keterangan: dari hadits ini dapat diambil kesimpulan bahwa pertanyaan ‘Uwaimir ditu dijawab Rasulullah saw. dengan menunjukkan surah an-Nuur ayat 6, yaitu agar berhati-hati dalam menuduh istrinya berzina dengan orang lain.
Dalam kitab tafsir ath-Thabari dikemukakan hadits lain yang bersumber dari Sahl bin Sa’d sebagai berikut: “Bagaimana pendapat tuan apabila seorang laki-laki mendapatkan istrinya (tidur) bersama laki-laki lain. Apakah laki-laki itu harus dibunuh, lalu si suami dihukum bunuh pula karena membunuhnya? Atau apa yang harus dilakukan?” Maka turunlah surah an-Nuur ayat 6-9 berkenaan dengan kejadian ini.
Dalam hadits itu seterusnya dikemukakan bahwa Rasulullah saw. bersabda kepada laki-laki itu: “Allah telah menetapkan hukum berkenaan dengan kamu dan istrimu. Bersumpahlah kalian di hadapanku.”
Kemudian Rasulullah mem-fasakh-kan (menceraikan) kedua orang itu. (sesudah kejadian itu, tiap-tiap yang bersumpah laknat-melaknati ditetapkan fasakh nikahnya). Kebetulan istrinya hamil, akan tetapi suaminya tadi tidak mau mengakui anak itu, sehingga anak itupun dinasabkan kepada ibunya, bahkah masalah warisnya pun terputus dari ayahnya.
Berkatalah al-Hafizh Ibnu Hajar: “Para imam berbeda pendapat dalam soal ini. Di antaranya ada yang menarjihkan bahwa ayat ini (an-Nuur: 6) turun berkenaan dengan ‘Uwaimir; ada yang menarjihkan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan Hilal; dan ada pula yang menyatakan bahwa kedua peristiwa itu sebagai sebab turunnya ayat tersebut.”
Pendapat yang ketiga ini dikemukakan oleh Imam an-Nawawi, yang juga diikuti oleh al-Khatib.
Kemudian al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa turunya ayat tersebut berkenaan dengan peristiwa Hilal. Dan ketika ‘Umair menghadap Rasulullah saw, ia tidak mengetahui peristiwa Hilal, sehingga Rasulullah saw. memberitahukan peristiwa Hilal dengan ketetapan hukumnya. Oleh karena itu, dalam riwayat yang mengisahkan Hilal disebutkan, “maka turunlah Jibril”, sedang dalam kisah ‘Uwaimir disebutkan “Allah telah menetapkah ayat berkenaan denganmu”. Selanjutnya Ibnu Hajar mengartikan, “Allah telah menurunkan ayat berkenaan denganmu” ialah: “Allah telah menurunkan ayat berkenaan dengan peristiwa Hilal, sesuai dengan peristiwa ‘Uwaimir”
Sesuai dengan pendapat tersebut, Ibnush Shabbagh mengemukakan pendapatnya di dalam Kitab asy-Syamil. Menurut Imam al-Qurthubi, ayat tersebut mungkin turun dua kali.

Diriwayatkan oleh al-Bazzar dari Zaid bin Muthi’ yang bersumber dari Hudzaifah bahwa Rasulullah saw. bersabda kepada Abu Bakr: “Apa yang akan engkau perbuat sekiranya engkau melihat seorang laki-laki (tidur) beserta Ummu Ruman (istrimu)?” Abu Bakr menjawab: “Tentu aku akan menghajarnya.” Kemudian Rasulullah saw. bertanya seperti itu juga kepada ‘Umar. ‘Umar menjawab: “Aku akan memohon kepada Allah agar melaknat orang yang tidak mampu menahan hawa nafsunya.” Maka turunlah ayat ini (an-Nuur: 6) sebagai ketentuan hukumnya.

Menurut Ibnu Hajar tidaklah salah apabila asbabun Nuzul ayat ini bermacam-macam.

sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk