Asbabun Nuzul Surah An-Nuur (1)

21 Jan

asbabun nuzul surah alqur’an

3. “Laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin*”.
(an-Nuur: 3)

* Maksud ayat ini Ialah: tidak pantas orang yang beriman kawin dengan yang berzina, demikian pula sebaliknya.

Diriwayatkan oleh an-Nasa-I yang bersumber dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwa Ummu Mahzul, seorang wanita pezina, akan dikahi oleh seorang sahabat Nabi saw. Maka turunlah ayat ini (an-Nuur: 3) yang menjelaskan bahwa seorang wanita pezina haram dinikah kecuali oleh pezina atau orang yang musyrik.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa-I, dan al-Hakim, dari hadits ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, yang bersumber dari datuknya bahwa Mazid biasa mengangkut barang dagangannya dari al-Anbar ke Mekah untuk dijual disana. Ia bertemu kembali dengan kawannya, seorang wanita bernama ‘Anaq (wanita pezina). Mazid meminta izin kepada Nabi saw. untuk menikahinya. Akan tetapi beliau tidak menjawab, sehingga turun ayat ini (an-Nuur: 3). Rasulullah bersabda: “Hai Mazid, seorang pezina tidak akan menikahi kecuali pezina juga. Oleh karena itu janganlah engkau menikah dengannya.”

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur yang bersumber dari Mujahid bahwa ketika Allah mengharamkan zina, di sekitar mereka banyak wanita pezina yang cantik-cantik. Berkatalah orang-orang pada saat itu: “Jangan biarkan mereka pergi, dan biarkanlah mereka kawin.” Maka turunlah ayat ini (an-Nuur: 3) yang menegaskan bahwa wanita pezina hanyalah dikawini oleh laki-laki pezina atau laki-laki musyrik.

4.”Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik* (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, Maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. dan mereka Itulah orang-orang yang fasik.
6. Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), Padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, Maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, Sesungguhnya Dia adalah Termasuk orang-orang yang benar.”
(an-Nuur: 4, 6)

*Yang dimaksud wanita-wanita yang baik disini adalah wanita-wanita yang Suci, akil balig dan muslimah.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dari jalan ‘Ikrimah yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Hilal bin Umayyah mengadu kepada Nabi saw. bahwa istrinya berzina. Nabi saw. meminta bukti kepadanya, dan kalau tidak, ia sendiri yang akan dicambuk. Hilal berkata: “Ya Rasulullah sekiranya salah seorang dari kami melihat laki-laki lain bersama istrinya, apakah ia mesti mencari saksi lebih dahulu?” Nabi saw tetap meminta bukti atau ia sendiri yang akan dicambuk. Berkatalah Hilal : “Demi Allah, Dzat yang mengutus engkau dengan hak, sesungguhnya akulah yang benar. Mudah-mudahan Allah menurunkan sesuatu yang akan melepaskanku dari hukuman cambuk.” Maka turunlah Jibril membawa ayat ini (an-Nuur: 6) sebagai petunjuk bagaimana seharusnya menyelesaikan masalah ini.

Diriwayatkan oleh Ahmad. Diriwayatkan pula oleh Abu Ya’la yang bersumber dari Anas bahwa Hilal bin Umayyah mengadu kepada Rasulullah saw. bahwa istrinya berzina. Nabi saw. meminta bukti kepadanya, dan kalau tidak dia sendiri yang akan dicambuk. Hilal berkata: “Ya Rasulullah, sekiranya salah seorang dari kami melihat laki-laki lain beserta istrinya, apakah ia mesti mencari saksi terlebih dahulu?” Nabi saw. tetap meminta bukti atau ia sendiri yang akan dicambuk. Berkatalah Hilal: “Demi Allah, yang mengutus engkau dengan hak, sesungguhnya akulah yang benar. Mudah-mudahan Allah menurunkan sesuatu yang melepaskanku dari hukuman cambuk.” Maka turunlah Jibril membawa ayat ini (an-Nuur: 6) sebagai petunjuk bagaimana seharusnya menyelesaikan masalah seperti ini.

Diriwayatkan oleh Ahmad, diriwayatkan pula oleh Abu Ya’la yang bersumber dari Anas bahwa ketika turun ayat, wal ladziina yarmuunal muhshanaat… (dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik [berbuat zina]..) sampai..syahaadatan abadaa..(…kesaksian mereka buat selama-lamanya..) (an-Nuur: 4), berkatalah Sa’ad bin ‘Ubadah, seorang pemimpin kaum Anshar: “Apakah demikian lafal ayat itu, ya Rasulullah?” Bersabdalah Rasulullah: “Hai kaum Anshar, tidakkah kalian dengan ucapan pemimpin kalian itu?” Berkatalah kaum Anshar: “Ya Rasulullah janganlah tuan mencelanya. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat pencemburu. Demi Allah karena sangat pencemburunya, tidak ada seorangpun yang berani mengawini wanita yang disukai Sa’d.” Berkatalah Sa’d: “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku tahu ayat tersebut (an-Nuur: 4) adalah hak dan ayat tersebut dari Allah. Akan tetapi aku merasa aneh apabila aku dapatkan wanita jahat yang beradu paha dengan seorang laki-laki, aku tidak boleh memisahkannya atau mengusiknya sebelum aku membawa empat orang saksi. Demi
Allah, aku tidak akan dapat mendatangkannya (empat orang saksi) sebelum mereka selesai memuaskan nafsunya.”
Beberapa hari kemudian terjadilah suatu peristiwa yang dialami oleh Hilal bin Umayyah (salah seorang dari tiga yang diampuni Allah karena tidak turut serta dalam perang Tabuk). Ia mengadu kepada Rasulullah saw. tentang kejadian yang dialaminya pada malam hari, ketika ia pulang dari kebunnya. Ia melihat dengan mata kepala sendiri, istrinya sedang ditiduri oleh seorang laki-laki. Namun ia dapat menahan diri hingga mengadukannya kepada Rasulullah saw. Pengaduan Hilal ini menyebabkan Rasulullah tidak merasa senang dan bahkan menyulitkannya. Maka berkumpullah kaum Anshar membicarakan peristiwa Hilal ini. Mereka berkata: “Kita benar-benar diuji dengan apa yang dikatakan oleh Sa’d bin ‘Ubadah. Sekarang Rasulullah pasti membatalkan kesaksian Hilal dan akan menjilidnya (menghukum dengan pukulan).”
Berkatalah Hilal: “Demi Allah, sesungguhnya aku berharap agar Allah memberikan jalan keluar bagiku.” Kaum Anshar berkata: “Pasti Rasulullah memerintahkan untuk menghukum Hilal. Maka turunlah ayat ini (an-Nuur: 6) sehingga mereka menangguhkan hukuman terhadap Hilal ini. Ayat ini menegaskan bahwa seseorang yang menuduh istrinya berzina dapat diterima pengaduannya apabila ia bersumpah empat kali.

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim) dll, yang bersumber dari Sahl bin Sa’d bahwa ‘Uwaimir datang kepada ‘Ashim bin ‘Adi sambil meminta bantuannya: “Tolong tanyakan kepada Rasulullah, bagaimana pendapat beliau jika seorang laki-laki mendapati istrinya ditiduri orang lain, apakah ia boleh membunuhnya, kemudian si pembunuh itu dihukum bunuh. Atau hukuman apa yang harus dikenakan kepada si pezina tadi?” ‘Ashim menanyakan hal ini kepada Rasulullah saw, tapi Rasulullah mencela pertanyaan tersebut.
Ketika bertemu kembali dengan ‘Uwaimir, ‘Ashim berkata bahwa masalah yang diajukan itu tidak membawa kebaikan kepadanya, malah ia dicelah oleh Rasulullah saw.. Berkatalah ‘Uwaimir: “Aku akan datang sendiri untuk menanyakan kepada Rasulullah saw…” Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya telah turun ayat yang berkenaan denganmu dan istrimu (an-Nuur: 6)”

Keterangan: dari hadits ini dapat diambil kesimpulan bahwa pertanyaan ‘Uwaimir ditu dijawab Rasulullah saw. dengan menunjukkan surah an-Nuur ayat 6, yaitu agar berhati-hati dalam menuduh istrinya berzina dengan orang lain.
Dalam kitab tafsir ath-Thabari dikemukakan hadits lain yang bersumber dari Sahl bin Sa’d sebagai berikut: “Bagaimana pendapat tuan apabila seorang laki-laki mendapatkan istrinya (tidur) bersama laki-laki lain. Apakah laki-laki itu harus dibunuh, lalu si suami dihukum bunuh pula karena membunuhnya? Atau apa yang harus dilakukan?” Maka turunlah surah an-Nuur ayat 6-9 berkenaan dengan kejadian ini.
Dalam hadits itu seterusnya dikemukakan bahwa Rasulullah saw. bersabda kepada laki-laki itu: “Allah telah menetapkan hukum berkenaan dengan kamu dan istrimu. Bersumpahlah kalian di hadapanku.”
Kemudian Rasulullah mem-fasakh-kan (menceraikan) kedua orang itu. (sesudah kejadian itu, tiap-tiap yang bersumpah laknat-melaknati ditetapkan fasakh nikahnya). Kebetulan istrinya hamil, akan tetapi suaminya tadi tidak mau mengakui anak itu, sehingga anak itupun dinasabkan kepada ibunya, bahkah masalah warisnya pun terputus dari ayahnya.
Berkatalah al-Hafizh Ibnu Hajar: “Para imam berbeda pendapat dalam soal ini. Di antaranya ada yang menarjihkan bahwa ayat ini (an-Nuur: 6) turun berkenaan dengan ‘Uwaimir; ada yang menarjihkan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan Hilal; dan ada pula yang menyatakan bahwa kedua peristiwa itu sebagai sebab turunnya ayat tersebut.”
Pendapat yang ketiga ini dikemukakan oleh Imam an-Nawawi, yang juga diikuti oleh al-Khatib.
Kemudian al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan bahwa turunya ayat tersebut berkenaan dengan peristiwa Hilal. Dan ketika ‘Umair menghadap Rasulullah saw, ia tidak mengetahui peristiwa Hilal, sehingga Rasulullah saw. memberitahukan peristiwa Hilal dengan ketetapan hukumnya. Oleh karena itu, dalam riwayat yang mengisahkan Hilal disebutkan, “maka turunlah Jibril”, sedang dalam kisah ‘Uwaimir disebutkan “Allah telah menetapkah ayat berkenaan denganmu”. Selanjutnya Ibnu Hajar mengartikan, “Allah telah menurunkan ayat berkenaan denganmu” ialah: “Allah telah menurunkan ayat berkenaan dengan peristiwa Hilal, sesuai dengan peristiwa ‘Uwaimir”
Sesuai dengan pendapat tersebut, Ibnush Shabbagh mengemukakan pendapatnya di dalam Kitab asy-Syamil. Menurut Imam al-Qurthubi, ayat tersebut mungkin turun dua kali.

Diriwayatkan oleh al-Bazzar dari Zaid bin Muthi’ yang bersumber dari Hudzaifah bahwa Rasulullah saw. bersabda kepada Abu Bakr: “Apa yang akan engkau perbuat sekiranya engkau melihat seorang laki-laki (tidur) beserta Ummu Ruman (istrimu)?” Abu Bakr menjawab: “Tentu aku akan menghajarnya.” Kemudian Rasulullah saw. bertanya seperti itu juga kepada ‘Umar. ‘Umar menjawab: “Aku akan memohon kepada Allah agar melaknat orang yang tidak mampu menahan hawa nafsunya.” Maka turunlah ayat ini (an-Nuur: 6) sebagai ketentuan hukumnya.

Menurut Ibnu Hajar tidaklah salah apabila asbabun Nuzul ayat ini bermacam-macam.

sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: