Asbabun Nuzul Surah An-Nuur (5)

21 Jan

asbabun nuzul surah alqur’an

55. “Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik.”
(an-Nuur: 55)

Diriwayatkan oleh al-Hakim –menurut al-Hakim hadits ini sahih- dan ath-Thabarani, yang bersumber dari Ubay bin Ka’b bahwa ketika Rasulullah saw. bersama shahabat-shahabatnya (penduduk Mekah) sampai di Madinah, dan disambut serta dijamin keperluan hidupnya oleh kaum Anshar, mereka tidak melepaskan senjatanya siang dan malam, karena selalu diincar oleh kaum kafir Arab Madinah. Mereka berkata kepada Nabi saw.: “Kapan tuan dapat melihat kami hidup aman dan tenteram tiada takut kecuali kepada Allah.” Ayat ini (an-Nuur: 55) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai jaminan dari Allah swt. Bahwa mereka akan dianugerahi kekuasaan di muka bumi ini.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari al-Barra’ bahwa ayat ini (an-Nuur: 55) turun ketika kaum Muslim merasa tidak tenteram (karena kepungan musuh).

61. “Tidak ada halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, Makan (bersama-sama mereka) dirumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapakmu, dirumah ibu-ibumu, dirumah saudara- saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, dirumah saudara bapakmu yang laki-laki, dirumah saudara bapakmu yang perempuan, dirumah saudara ibumu yang laki-laki, dirumah saudara ibumu yang perempuan, dirumah yang kamu miliki kuncinya[1051] atau dirumah kawan-kawanmu. tidak ada halangan bagi kamu Makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.”
(an-Nuur: 61)

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazaq dari Ma’mar, dari Ibnu Abi Najih, yang bersumber dari Mujahid bahwa pada waktu itu orang-orang biasa berkunjung bersama-sama orang buta, orang pincang, atau orang sakit ke rumah bapaknya, ke rumah saudaranya, ke rumah saudarinya, ke rumah bibinya (dari pihak bapak), atau ke rumah bibinya (dari pihak ibu). Orang-orang yang diajak itu merasa keberatan dengan berkata: “Mereka membawa kita ke rumah orang lain.” Maka turunlah ayat ini (an-Nuur: 61) sebagai kelonggaran kepada mereka (orang buta, pincang, atau sakit) untuk makan di rumah orang lain.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika turun ayat, yaa ayyuhalladziina aamanuu laa ta’kuluu amwaalakum bainakum bil baathil.. (hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil..), sampai akhir ayat (an-Nisaa’ : 29), kaum Muslimin menghentikan makan di tempat orang lain, padahal mereka beranggapan bahwa menjamu makan itu adalah pemanfaatan harta yang paling utama. Maka turunlah ayat tersebut (an-Nuur: 61) member kelonggaran untuk makan yang disediakan untuk mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Adl-Dlahhak bahwa sejak sebelum Nabi saw. diutus sebagai Rasul, orang-orang Madinah tidak suka makan bersama-sama orang buta, orang sakit, atau orang pincang, karena orang buta tidak akan dapat melihat makanan yang enak, makanan orang sakit tidak cocok untuk orang sehat, dan orang pincang tidak dapat berebut makanan. Ayat ini (an-Nuur: 61) turun untuk mengubah kebiasaan mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Muqsim bahwa orang-orang Madinah tidak suka makan bersama-sama dengan orang buta atau orang pincang. Ayat ini (an-Nuur: 61) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut untuk mengubah kebiasaan mereka.

Diriwayatkan ole hats-Tsa’labi di dalam Tafsir-nya, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika al-Harits pergi mengikuti Rasulullah saw berjihad, ia meminta Khalid bin Zaid untuk menjaga keluarganya. Akan tetapi Khalid merasa keberatan untuk makan di rumah al-Harits, karena ia sangat berhati-hati (takut melanggar hokum). Maka turunlah ayat ini (an-Nuur: 61) yang membernarkan memakan makanan yang disuguhkan kepadanya.

Diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan sanad yang sahih, yang bersumber dari ‘Aisyah bahwa apabila kaum Muslimin berangkat mengikuti Rasulullah saw. berjihad, mereka suka menyerahkan kunci-kunci rumahnya kepada orang-orang invalid (lemah atau cacat anggota badan), serta menghalalkan orang-orang tersebut untuk makan apa-apa yang mereka inginkan. Mereka berkata: “Sebenarnya tidak halal bagi kita memakan makanan mereka, karena mereka memberikan izin tidak dengan kerelaan hati.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nuur: 61) yang memberikan kelonggaran kepada mereka untuk makan di rumah orang yang mengizinkannya dengan menyerahkan kunci-kunci rumahnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari az-Zuhri bahwa az-Zuhri pernah ditanya tentang maksud kata-kata orang buta, orang pincang, dan orang sakit yang disebut dalam ayat, laisa ‘alal a’maa haraj…(..tidak ada halangan bagi orang buta..) (an-Nuur: 61) ia menjawab: “Aku telah menerima hadits dari ‘Abdullah bin ‘Abdillah yang mengatakan bahwa apabila kaum Muslimin berangkat berjihad, mereka suka menyerahkan kunci-kunci rumahnya kepada orang-orang invalid untuk menjaga rumah-rumah mereka dan menghalalkan makan apa saja yang ada di rumah mereka. Akan tetapi yang dititipi kunci merasa enggan, sekalipun hanya untuk masuk ke rumah itu.” Ayat ini (an-Nuur: 61) menegaskan bahwa mereka dibolehkan masuk ke dalam rumah itu dan makan setelah mengucapkan salam.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah bahwa ayat,….laisay ‘alaikum junaahun ang ta’kuluu jamii’an au asytaataa…(..tidak ada halangan bagi kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian…) (an-Nuur: 61) turun berkenaan dengan segolongan bangsa Arab yang tidak dapat makan sendirian. Kadang-kadang mereka membawa-bawa makanan sampai mendapatkan orang yang mau menemaninya makan. Ayat ini (an-Nuur: 61) membenarkan mereka makan bersama-sama atau sendirian.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah dan Abu Shalih bahwa apabila ada tamu yang datang ke rumah kaum Anshar, mereka tidak mau makan kecuali bersama tamunya. Ayat ini (an-Nuur: 61) turun sebagai kelonggaran bagi mereka untuk makan bersama-sama atau sendiri-sendiri.

Sumber: Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: