Asbabun Nuzul Surah Al-Israa’ (3)

25 Jan

asbabun nuzul surah alqur’an

73. “Dan Sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang Telah kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentu|ah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia.”
(al-Israa’: 73)

74. “Dan kalau kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka,”
(al-Israa’: 74)

75. “Kalau terjadi demikian, benar-benarlah kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia Ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap kami.”
(al-Israa”: 75)

76. “Dan Sesungguhnya benar-benar mereka hampir membuatmu gelisah di negeri (Mekah) untuk mengusirmu daripadanya dan kalau terjadi demikian, niscaya sepeninggalmu mereka tidak tinggal, melainkan sebentar saja*”
(al-Israa’: 76)

*Maksudnya: kalau sampai terjadi nabi Muhammad s.a.w. diusir, oleh penduduk Mekah, niscaya mereka tidak akan lama hidup di dunia, dan Allah segera akan membinasakan mereka. hijrah nabi Muhammad s.a.w. ke Madinah bukan Karena pengusiran kaum Quraisy, melainkan semata-mata Karena perintah Allah.

80. Dan Katakanlah: “Ya Tuhan-ku, masukkanlah Aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) Aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong*”

*Maksudnya: memohon kepada Allah supaya kita memasuki suatu ibadah dan selesai daripadanya dengan niat yang baik dan penuh keikhlasan serta bersih dari ria dan dari sesuatu yang merusakkan pahala. ayat Ini juga mengisyaratkan kepada nabi supaya berhijrah dari Mekah ke Madinah. dan ada juga yang menafsirkan: memohon kepada Allah s.w.t. supaya kita memasuki kubur dengan baik dan keluar daripadanya waktu hari-hari berbangkit dengan baik pula.

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih dan Ibnu Abi Hatim, dari Ishaq, dari Muhammad bin Abi Muhammad, dari ‘Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa Umayyah bin Khalaf, Abu Jahl bin Hisyam, dan tokoh-tokoh Quraisy menghadap Rasulullah saw. dan berkata: “Hai Muhammad. Mari kita meminta berkah kepada tuhan-tuhan kami, dan kami akan masuk agamamu.” Rasulullah sangat menginginkan mereka masuk Islam, dan merasa kasihan terhadap mereka. Maka Allah menurunkan ayat-ayat tersebut di atas (al-Israa’: 73-75) yang menegaskan bahwa ajakan mereka tidak perlu diperhatikan karena akan menyesatkan.

Imam as-Suyuti mengaggap bahwa hadits tersebut paling shahih berkenaan dengan asbabun nuzul ayat-ayat ini (al-Israa’: 73-75). Hadits tersebut sanadnya kuat serta mempunyai syahiid (penguat).

Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh yang bersumber dari Sa’id bin Jubair dan Ibnu Syihab bahwa Rasulullah saw. mencium Hajar Aswad. Kaum Quraisy berkata: “Kami tidak akan membiarkan engkau mencium Hajar Aswad sebelum engkau mencium tuhan-tuhan kami.” Maka Rasulullah berkata: “Apa salahnya kalau aku berbuat demikian, karena Allah mengetahui perbedaan perbuatan itu.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Israa’: 73-75) sebagai larangan kepada Rasulullah untuk meluluskan permintaan mereka.

Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh yang bersumber dari Jubair bin Nufair bahwa kaum Quraisy datang menghadap Rasulullah saw. dan berkata: “Jika engkau betul diutus kepada kami, usirlah para pengikutmu yang hina dan para ‘abid itu, nanti kami yang akan menjadi shahabat-shahabatmu.” Nabi condong untuk meluluskan permintaan mereka. Maka turunlah ayat ini (al-Israa’: 73-75) yang melarang Nabi meluluskan permintaan mereka.

Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh yang bersumber dari Muhammad bin Ka’b al Qurazhi bahwa ketika Nabi saw. membacakan ayat, wan najmi idzaa hawaa (demi bintang ketika terbenam) sampai afa ra-aitumul laata wal ‘uzzaa (maka patutkah kamu [hai orang orang musyrik] menganggap al-Latta dan ‘Uzza) (an-Najm: 1-19), setan menyelipkan perkataan, tilkal gharaaniiqul syafa’atahunna la turjaa (itulah gharaniq yang paling mulia, yang syafaatnya benar-benar dapat diharapkan). Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Israa’: 73-75) yang melarang untuk menggubris ocehan setan. Sejak itu Nabi merasa bingung, sehingga turunlah surat al-Hajj ayat 52 yang menegaskan bahwa apa-apa yang diturunkan oleh Allah tidak akan dapat dicampur baurkan dengan perbuatan makhluk-Nya.

Keterangan: Berdasarkan riwayat-riwayat di atas, ayat-ayat ini (al-Israa’: 73-75) diturunkan di Mekah. Ada pula yang menganggap bahwa ayat-ayat tersebut diturunkan di Madinah berdasarkan riwayat di bawah ini:

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih dari al-Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Sanad hadits ini daif. Bahwa suatu kaum berkata kepada Nabi saw.: “Berilah kami tempo satu tahun agar kami bisa mengumpulkan hadiah untuk tuhan-tuhan kami. Jika sudah banyak terkumpul, kami akan masuk Islam.” Hampir saja Rasulullah saw. memberikan tempo kepada mereka. Maka turunlah ayat ini (al-Israa’: 73-75) sebagai larangan untuk mengabulkan permintaan mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan al-Baihaqi di dalam kitab ad-Dalaa-il, dari Hadits Syahr bin Hausyab, yang bersumber dari ‘Abdurrahman bin Ghanam. Hadits ini mursal dan sanadnya daif, tapi memiliki syaahiid (penguat) seperti beritkutnya. Bahwa orang-orang Yahudi datang kepada Nabi saw. (untuk menghasut), dengan berkata: “Sekiranya engkau benar-benar seorang Nabi, pergilah ke Syam, karena Syam itu tempat berkumpul dan negeri para nabi.” Rasulullah percaya akan omongan mereka sehingga terkesan di dalam hatinya. Ketika perang Tabuk, Rasulullah bermaksud menuju Syam. Namun sesampainya di Tabuk, Allah menurunkan ayat-ayat ini (al-Israa’: 73-75 diakhiri dengan ayat 76), sebagai pemberitahuan kepada Rasulullah bahwa kaum Yahudi itu bermaksud mengeluarkan beliau dari Madinah, dan sebagai pemberitahuan kepada beliau supaya pulang kembali ke Madinah. Berkatalah Jibril kepada Nabi saw: “Mintalah kepada Rabbmu, karena tiap-tiap Nabi itu ada permintaannya.” Nabi saw berkata: “Apa yang engkau anjurkan untuk aku minta?” Jibril berkata: “Mohonlah,… rabbi adkhilnii mudkhala shidqiw wa akhrijnii mukhraja shidqiw waj’al lii mil ladungka shultaanan nashiiraa…(..ya Rabbi, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah [pula] aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong) (al-Israa’: 80).” Ayat ini (al-Israa’: 73-76, 80) turun berkenaan dengan keharusan Rasulullah pulang dari Tabuk.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Jubair. Hadits ini mursal. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir, dan disebutkan bahwa yang berkata kepada Rasulullah itu adalah kaum Yahudi. Hadits inipun mursal, bahwa kaum musyrikin berkata kepada Nabi saw.: “Nabi-nabi bertempat tinggal di Syam, mengapa engkau tinggal di Madinah?” Ketika itu hampir dilaksanakan oleh Nabi, turunlah ayat ini (al-Israa’: 80) yang memberitahukan maksud kaum musyrikin yang ingin mengusir beliau.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ayat ini (al-Israa’: 80) turun saat Nabi melaksanakan hijrah dari Mekah ke Madinah.

Keterangan: berdasarkan riwayat ini jelaslah bahwa ayat tersebut di atas adalah Makiyyah (diturunkan di Mekah). Dan Ibnu Marduwaih meriwayatkan hadits yang semakna dengan lafal yang lebih jelas lagi.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Iklan

2 Tanggapan to “Asbabun Nuzul Surah Al-Israa’ (3)”

  1. muji al ana 26 Januari 2015 pada 08.45 #

    terima kasih banyak

    • untungsugiyarto 26 Januari 2015 pada 16.36 #

      Ya, sama-sama, semoga bermanfaat. Terima kasih juga sudah berkunjung ke blog ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: