Asbabun Nuzul Surah Al-Israa’ (5)

25 Jan

asbabun nuzul surah alqur’an

90. “Dan mereka berkata: “Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dan bumi untuk kami,”
(al-Israa’: 90)

91. “Atau kamu mempunyai sebuah kebun korma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya,”
(al-Israa’: 91)

92. “Atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami.”
(al-Israa’: 92)

93. “Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah Kitab yang kami baca”. Katakanlah: “Maha Suci Tuhanku, bukankah Aku Ini Hanya seorang manusia yang menjadi rasul?”
(al-Israa’: 93)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Ishaq, dari seorang ‘alim dari Mesir, dari ‘Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Abu Sufyan bin Harb, seorang bani ‘Abid Dar, Abul Bukhturi, al-Aswad bin al-Muthalib, Rabi’ah bin al-Aswad, al-Walid bin al-Mughirah, Abu Jahl, ‘Abdullah bin Umayyah, Umayyah bin Khalaf, al-‘Ash bin Wa-il, Nabih bin al-Hajjaj, dan Munabbih bin al-Hajjaj (kesemuanya kafir Quraisy) berkumpul dan berkata: “Hai Muhammad. Kami belum pernah menemukan seorang bangsa Arab yang membuat kesusutan pada kaumnya sebagaimana yang engkau lakukan terhadap kaummu. Engkau mencaci maki nenek moyang, mencela agama, menganggap bodoh para cendekiawan, mencaci maki tuhan-tuhan, dan memecah belah persatuan umat. Apa yang engkau bawa ini hanya menyebabkan hubungan antara kami dan kamu menjadi buruk. Sekirannya dengan membawa hal yang baru itu engkau mengharapkan kekayaan, kami akan mengumpulkannya untukmu sehingga engkau menjadi orang yang paling kaya di antara kami. Jika engkau menginginkan kemuliaan, kami akan mengangkatmu menjadi pemimpin kami. Dan jika engkau membawa hal-hal yang baru itu karena kerasukan jin sehingga engkau menjadi orang yang kurang ingatan, kami akan kerahkan harta benda kami untuk menyembuhkan penyakitmu itu.”
Bersabdalah Rasulullah saw.: “Tidak satupun apa yang kalian katakan itu terlintas di dalam diriku. Akan tetapi sebenarnya Allah mengutusku menjadi Rasul kepada kalian, menurunkan kitab kepadaku, dan memerintahkan supaya aku menjadi pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.”
Mereka berkata: “Jika engkau tidak mau menerima tawaran yang kami ajukan tadi, tentu engkau mengetahui bahwa negeri Mekah ini merupakan negeri yang sempit dan padat penduduknya, sumber alamnya sedikit, serta penghidupannya sulit. Alangkah baiknya jika engkau memohon kepada Rabb yang telah mengutusmu agar menyingkirkan gunung-gunung yang menyempitkan kita ini, sehingga negeri kita menjadi luas; agar mengalirkan sungai-sungai di negeri kita ini seperti di negeri Syam dan Irak; dan supaya membangkitkan nenek moyang kami yang sudah mendahului kami. Sekiranya engkau tidak dapat melaksanakan permintaan kami ini, cobalah minta kepada Rabb-mu agar mengutus malaikat yang membenarkan ajakanmu ini, agar ia membuat kebun-kebun, harta terpendam, dan gedung-gedung dari emas dan perak. Dengan demikian, kami dapat menolong engkau menyebarkan agamamu dengan harta yang kami lihat engkaupun membutuhkannya, karena kami pun melihat engkau suka ke pasar mencari penghidupan. Sekiranya engkau tidak dapat melaksanakannya, runtuhkanlah langit sebagaimana anggapanmu bahwa Rabb-mu dapat melaksanakannya apabila Dia menghendaki. Kami tidak akan beriman kepadamu, sebelum engkau penuhi permintaan kami ini.”
Pergilah Rasulullah saw. meninggalkan mereka, diikuti oleh ‘Abdullah bin Umayyah yang berkata: “Hai Muhammad, kaummu meminta beberapa permintaan, tapi engkau tidak mau memperkenankannya. Kemudian mereka meminta kepadamu beberapa bukti agar mereka mengetahui kedudukanmu di sisi Allah, tapi engkau tidak juga membuktikannya. Kemudian mereka meminta kepadamu agar engkau mempercepat siksaan Tuhan yang selalu engkau peringatkan kepada mereka. Demi Allah, aku tidak akan beriman kepadamu selama-lamanya sebelum engkau membuat tangga ke langit, terus engka naik kesana dan aku melihatnya, lalu engkau membawa sebuah naskah yang dapat disebarkan, dan membawa empat malaikat yang menjadi saksi atas kerasulanmu sebagaimana yang engkau katakan.”
Rasulullah pulang dengan perasaan sedih. Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Israa’: 90-93) berkenaan dengan peristiwa tersebut, sejalan dengan ucapan ‘Abdullah bin Abi Umayyah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’id bin Manshur di dalam kitab Sunan-nya, yang bersumber dari Sa’id bin Jubair. Hadits ini mursal, tapi shahih dan menjadi shaahiid (penguat) dan penyempurna sanad riwayat sebelumnya. Bahwa ayat ini (al-‘Israa’: 90-93) turun berkenaan dengan saudara Ummu Salamah (istri Rasulullah) yang bernama ‘Abdullah bin Abi Umayyah.

110. Katakanlah: “Serulah Allah atau Serulah Ar-Rahman. dengan nama yang mana saja kamu seru, dia mempunyai Al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya* dan carilah jalan tengah di antara kedua itu”.
(al-Israa’: 110)

*maksudnya janganlah membaca ayat Al Quran dalam shalat terlalu keras atau terlalu perlahan tetapi cukuplah sekedar dapat didengar oleh ma’mum.

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa pada suatu hari Rasulullah saw. shalat di Mekah dan berdoa, yang kalimatnya antara lain: “Ya Allah, ya Rahman.” Berkatalah kaum musyrikin: “Perhatikanlah orang yang murtad dari agamanya ini. Ia melarang kita menyeru dua tuhan, sementara dia sendiri menyeru dua tuhan.” Maka turunlah ayat ini (al-Israa’: 110) yang menjelaskan bahwa Allah itu Maha Esa, tapi mempunyai nama-nama yang terbaik.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhari yang bersumber dari ‘Aisyah, yang menegaskan bahwa ayat ini (al-Israa’: 110) turun berkenaan dengan adab berdoa. Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, bahwa ayat…walaa tajhar bi shalaatik… (.. dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu..) (sebagian dari surat al-Israa’: 110) turun pada waktu Rasulullah saw. menyebarkan agama di Mekah secara diam-diam. Pada waktu itu, apabila Rasulullah saw. shalat bersama shahabat-shahabatnya, beliau menyaringkan suaranya pada saat membaca al-Qur’an. Apabila kaum musyrikin mendengar al-Qur’an, mereka mencaci maki al-Qur’an, Yang menurunkannya (Allah), yang yang membawanya (Nabi saw.). Ayat ini melarang Rasul, pada waktu itu, menyaringkan suaranya dalam shalat.

Keterangan: Ibnu Jarir menganggap bahwa riwayat yang menyebutkan peristiwa shalat lebih kuat sanadnya daripada riwayat yang menyebutkan peristiwa berdoa. Demikian juga menurut an-Nawawi dan yang lainnya.
Menurut Ibnu Hajar, turunnya ayat itu (al-Israa’: 110) berkenaan dengan dua peristiwa tadi, yaitu turun berkenaan dengan doa di waktu shalat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. apabila shalat di Baitullah, menyaringkan suaranya di waktu berdoa. Maka turunlah ayat ini (al-Israa’: 110) yang melarang menyaringkan suara waktu berdoa dalam shalat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan al-Hakim, yang bersumber dari ‘Aisyah bahwa turunnya ayat ini (al-Israa’: 110) berkenaan dengan bacaan tasyahud.

Keterangan: riwayat ini lebih menjelaskan riwayat yang terdahulu, yaitu yang menegaskan bahwa doanya dilakukan di waktu shalat.
Menurut Ibnu Mani’ di dalam Musnad-nya yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, mereka itu menyaringkan doanya di waktu membaca, allaahummar hamnii (ya Allah, rahmatilah saya). Ayat ini memerintahkan agar jangan terlalu perlahan dan terlalu keras di waktu berdoa dalam shalat.

111. Dan Katakanlah: “Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.”
(al-Israa’: 111)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, yang bersumber dari Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi bahwa kaum Yahudi dan Nasrani mempunyai anggapan bahwa Allah berputra. Sedangkan orang Arab beranggapan bahwa Tuhan tidak bersekutu, kecuali sekutu yang dimiliki dan dikuasai-Nya sendiri. Adapun ash-Shaabi-uun (orang-orang yang menyembah bintang) dan kaum Majusi beranggapan bahwa Allah akan menjadikan hina apabila tidak ada pembela dan penjaga-Nya. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Israa’: 111) yang menegaskan bahwa Allah tidak berputra, tidak bersekutu, dan tidak mempunyai pembela ataupun penjaga.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: