Asbabun Nuzul Surah An-Nahl (1)

25 Jan

asbabun nuzul surah alqur’an

1. “Telah pasti datangnya ketetapan Allah* Maka janganlah kamu meminta agar disegerakan (datang) nya. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.”
(an-Nahl: 1)

* ketetapan Allah di sini ialah hari kiamat yang Telah diancamkan kepada orang-orang musyrikin.

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika turun ayat, ataa amrullaah… (telah pasti datangnya ketetapan Allah…) (an-Nahl: 1), gelisahlah hati para shahabat Rasulullah saw. maka turunlah kelanjutan ayat tersebut yaitu,… falaa tasta’jiluuh..(.. maka janganlah kamu meminta agar disegerakan [datang]nya…), sehingga merekapun merasa tenteram kembali.

Diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin Imam Ahmad di dalam kitab Zawaa-iduz Zuhd, Ibnu Jarir, serta Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Abu Bakr bin Abi ‘Hafsh. Bahwa ketika turun ayat, ataa amrullaah.. (telah pasti datangnya ketetapan Allah..) (an-Nahl: 1), para shahabat berdiri. Maka turunlah kelanjutan ayat tersebut, ….falaa tasta’jiluuh.. (maka janganlah kamu meminta agar disegerakan [datang]-nya…).

38. “Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpahnya yang sungguh-sungguh: “Allah tidak akan akan membangkitkan orang yang mati”. (Tidak demikian), bahkan (pasti Allah akan membangkitnya), sebagai suatu janji yang benar dari Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui,”
(an-Nahl: 38)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abul ‘Aliyah bahwa ada seorang Mukmin yang berhutang kepada seorang Musyrik. Ketika ditagih, di antara ucapan orang Mukmin itu ialah mendoakan sesuatu bagi kehidupan si musyrik di akhirat. Si musyrik berkata: “Apakah engkau beranggapan bahwa engkau akan dibangkitkan sesudah mati? Demi Allah, aku yakin bahwa Allah tidak akan membangkitkan orang yang sudah mati.” Ayat ini (an-Nahl: 38) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai bantahan atas ucapan si musyrik tadi.

41. “Dan orang-orang yang berhijrah Karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. dan Sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui,”
(an-Nahl: 41)

42. “(yaitu) orang-orang yang sabar dan Hanya kepada Tuhan saja mereka bertawakkal.”
(an-Nahl: 42)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Dawud bin Abi Hind. Bahwa turunnya ayat, wal ladziina haajaruu fillaahi mim ba’di maa dzulimuu…(dan orang-orang yang berhijrah karena Allah setelah mereka dianiaya…) sampai, …wa ‘alaa rabbihim yatawakkaluun (.. dan hanya kepada Rabb saja mereka bertawakal) (an-Nahl: 41-42) berkenaan dengan Abu Jandal bin Suhail.

Abu Jandal bin Suhail termasuk Muslim yang terkena Perjanjian Hudaibiyyah (dilarang hijrah ke Madinah oleh kaum musyrikin), sehingga Rasulullah saw. sendiri menasehatinya untuk tetap bersabar (lihat: Muh. Husain Haikal, Hayaatu Muhammad, 1965, Nahdlah Mishriyyah, hal 375).

75. “Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki yang tidak dapat bertindak terhadap sesuatupun dan seorang yang kami beri rezki yang baik dari kami, lalu dia menafkahkan sebagian dari rezki itu secara sembunyi dan secara terang-terangan, Adakah mereka itu sama? segala puji Hanya bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tiada mengetahui*”
(an-Nahl: 75)

*maksud dari perumpamaan Ini ialah untuk membantah orang-orang musyrikin yang menyamakan Tuhan yang memberi rezki dengan berhala-berhala yang tidak berdaya.

76. “Dan Allah membuat (pula) perumpamaan: dua orang lelaki yang seorang bisu, tidak dapat berbuat sesuatupun dan dia menjadi beban atas penanggungnya, ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikanpun. samakah orang itu dengan orang yang menyuruh berbuat keadilan, dan dia berada pula di atas jalan yang lurus?”
(an-Nahl: 76)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa firman Allah, dlaraballaahu matsalan ‘abdam mamluukaa… (Allah membuat perumpamaan dengan seorang hamba sahaya yang dimiliki…) (an-Nahl: 75), turun sebagai perumpamaan perbedaan antara Quraisy (yang kaya dan dapat berbuat sekehendaknya dengan harta bendanya) dibandingkan budaknya yang tidak dapat berbuat apa-apa. Ayat ini juga sebagai bantahan terhadap penyamaan Allah dengan berhala.
Dan firman Allah…rajulaini ahaduhumaa abkam… (… dua orang lelaki yang seorang bisu..) (an-Nahl: 76) turun sebagai perumpamaan perbedaan antara ‘Utsman bin ‘Affan dan budaknya. Budaknhya membenci Islam, enggan masuk Islam, dan menghalang-halangi ‘Usman bersedekah dan beramar makruf.

Kedua ayat ini (an-Nahl: 75 dan 76) menunjukkan perbedaan antara Allah Yang Maha Kuasa Berbuat menurut iradat-Nya dan berhala yang justru menjadi beban penyembah-penyembahnya.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: