Arsip | 23.55

Asbabun Nuzul Surah Al-Maa-idah (1)

28 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

2. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah[1], dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram[2], jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya[3], dan binatang-binatang qalaa-id[4], dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya[5]dan apabila kamu Telah menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah berburu. dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum Karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”
(al-Maa’idah: 2)

[1]Syi’ar Allah ialah: segala amalan yang dilakukan dalam rangka ibadat haji dan tempat-tempat mengerjakannya.
[2]maksudnya antara lain ialah: bulan Haram (bulan Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab), tanah Haram (Mekah) dan Ihram., maksudnya ialah: dilarang melakukan peperangan di bulan-bulan itu.
[3]ialah: binatang (unta, lembu, kambing, biri-biri) yang dibawa ke ka’bah untuk mendekatkan diri kepada Allah, disembelih ditanah Haram dan dagingnya dihadiahkan kepada fakir miskin dalam rangka ibadat haji.
[4]ialah: binatang had-ya yang diberi kalung, supaya diketahui orang bahwa binatang itu Telah diperuntukkan untuk dibawa ke Ka’bah.
[5]dimaksud dengan karunia ialah: keuntungan yang diberikan Allah dalam perniagaan. keredhaan dari Allah ialah: pahala amalan haji.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah. Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh as-Suddi bahwa al-Hathm bin Hind al Bakri datang ke Madinah membawa kafilah yang penuh dengan makanan, dan memperdagangkannya. Kemudian ia menghadap Nabi saw. untuk masuk Islam dan berbaiat (bersumpah setia). Setelah ia pulang, Nabi saw. bersabda kepada orang-orang yang ada pada waktu itu bahwa ia masuk ke sini dengan muka seorang penjahat dan pulang dengan punggung pengkhianat. Dan sesudah sampai ke Yamamah, ia pun murtad dari agama Islam.
Pada suatu waktudi bulan Zulkaidah, ia (al-Hathm) berangkat membawa kafilah yang penuh dengan makanan menuju Mekah. Ketika para shahabat Nabi mendengar berita kepergiannya ke Mekah, bersiaplah segolongan Muhajirin dan Anshar untuk mencegat kafilahnya. Akan tetapi turunlah ayat ini (al-Maaidah: 2) yang melarang perang pada bulan haram. Pasukan itupun tidak jadi mencegatnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Zaid bin Aslam bahwa dengan terhalangnya Rasulullah saw. dan para shahabatnya mengerjakan umrah di Masjidil Haram di Mekah (yang menimbulkan perjanjian Hudaibiyyah di antara kaum Muslimin dan musyrikin), para shahabat Nabi merasa kesal karenanya.
Pada suatu hari lewatlah orang-orang musyrikin dari penduduk masyriq (timur) akan menjalankan umrah. Berkatalah para shahabat Nabi saw.: “Mari kita cegat mereka sebagaimana mereka pernah mencegat shahabat-shahabat kita.” Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Maa’idah: 2) sebagai larangan membalas dendam.

3. “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah[1], daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya[2], dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah[3], (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. pada hari ini[4] orang-orang kafir Telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa Karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(al-Maa’idah: 3)

[1] ialah: darah yang keluar dari tubuh, sebagaimana tersebut dalam surat Al An-aam ayat 145.
[2] maksudnya ialah: binatang yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas adalah halal kalau sempat disembelih sebelum mati.
[3] Al Azlaam artinya: anak panah yang belum pakai bulu. orang Arab Jahiliyah menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan apakah mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. setelah ditulis masing-masing yaitu dengan: lakukanlah, Jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka’bah. bila mereka hendak melakukan sesuatu Maka mereka meminta supaya juru kunci ka’bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. kalau yang terambil anak panah yang tidak ada tulisannya, Maka undian diulang sekali lagi.
[4] yang dimaksud dengan hari ialah: masa, yaitu: masa haji wada’, haji terakhir yang dilakukan oleh nabi Muhammad s.a.w.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mandah di dalam kitab ash-Shahaabah, dari ‘Abdullah bin Jabalah bin Hibban bin Hajar, dari bapaknya, yang bersumber dari datuknya (hibban bin Hajar) bahwa ketika Hibban sedang menggodok daging bangkai, Rasulullah saw. ada bersamanya. Maka turunlah ayat ini (al-Maa’idah: 3) yang mengharamkan bangkai. Seketika itu juga isi panci itu dibuang.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah Al-An’am (5)

28 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

118. “Maka makanlah binatang-binatang (yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, jika kamu beriman kepada ayat-ayatNya.”
(al-An’am: 118)

119. “Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal Sesungguhnya Allah Telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. dan Sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.”
(al-An’am: 119)

120. “Dan tinggalkanlah dosa yang nampak dan yang tersembunyi. Sesungguhnya orang yang mengerjakan dosa, kelak akan diberi pembalasan (pada hari kiamat), disebabkan apa yang mereka Telah kerjakan.”
(al-An’am: 12)

121. “Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya*. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.”
(al-An’am: 121)

*yaitu dengan menyebut nama selain Allah.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa orang-orang datang menghadap Rasulullah saw. dan berkata: “Ya Rasulallah. Mengapa kita boleh makan yang kita sembelih dan dilarang makan yang dimatikan oleh Allah?” Maka Allah menurunkan ayat ini (al-An’am: 118-121) yang menegaskan bahwa yang halal dimakan adalah sembelihan yang disaat menyembelihnya dibaca bismillah (dengan nama Allah).

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-Hakim, dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa firman Allah,…. wa innasy syayaathiina la yuuhuuna ilaa auliyaa-ihim li yujaadiluukum…(… sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu…) (al-An’am: 121), turun berkenaan dengan ucapan kaum musyrikin yang bertanya: “Mengapa kalian tidak makan apa yang dimatikan oleh Allah dan kalian makan apa yang kalian sembelih?” Ayat ini (al-An’am: 121) memberi peringatan kepada kaum Mukminin supaya tidak mengikuti ajakan setan.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika turun ayat, wa laa ta’kuluu mimmaa lam udzkararismullaahi ‘alaih…(dan janganlah kamu memakan binatang yang tidak disebut Nama Allah ketika menyembelihnya..) (al-An’am: 121), seorang pengendara kuda diutus untuk menghasut kaum Quraisy agar menentang Muhammad tentang sembelihan henwan (dengan mengatakan): “Mengapa yang disembelih dengan pisau oleh manusia itu halal, sedang yang dimatikan oleh Allah itu haram?” Maka turunlah kelanjutan ayat tersebut.
Dalam hadits ini dikemukakan pula bahwa yang dimaksud dengan asy-syayaathiin..(..setan..) dalam ayat itu (al-An’am: 121) ialah pengendara kuda, sedang …auliyaa-uhum..(…kawan-kawannya…) ialah kaum Quraisy.

122. “Dan apakah orang yang sudah mati* Kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang Telah mereka kerjakan.”
(al-An’am: 122)

*maksudnya ialah orang yang Telah mati hatinya yakni orang-orang kafir dan sebagainya.

Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari adl-Dlahhak bahwa turunnya ayat ini (al-An’am: 122) berkenaan dengan ‘Umar dan Abu Jahl.

Keterangan: dalam tarikh dikemukakan bahwa Rasulullah saw. pernah berdoa: “Ya Rabbanaa, semoga Islam jaya dengan sebab salah seorang dari dua ‘Umar (‘Umar bin al-Khaththab atau ‘Amr bin Hisyam /Abu Jahal).” Ternyata ‘Umar bin al-Khaththab-lah yang masuk Islam. Dialah yang dimaksud dengan ‘orang yang tadinya mati kemudian dihidupkan’ dan ‘Amr bin Hisyam yang dimaksud dengan ‘orang yang tetap dalam kegelapan.’

141. “Dan dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.”
(al-An’am: 141)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Abul ‘Aliyah bahwa orang-orang menghambur-hamburkan hasil panen serta hidup berfoya-foya, tetapi tidak mengeluarkan zakatnya. Maka turunlah ayat ini (al-An’am: 141) sebagai perintah untuk mengeluarkan zakat pada hari panennya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Juraij bahwa ayat ini (al-An’am: 141) turun berkenaan dengan Tsabit bin Qais bin Syammas yang menuai buah kurma, kemudian berpesta pora, sehingga pada petang harinya tak sebiji kurmapun tersisa di rumahnya.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah Al-An’am (4)

28 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

93. “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.” alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” di hari Ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, Karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (Perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.”
(al-An’am: 93)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ayat, wa man azlamu mim maniftaraa ‘alallaahi kadziban au qaala uuhiya ilayya walam yuuha ilaihi syaii’..( dan siapakah yang lebih dzalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya.” Padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya…) (al-An’am: 93) turun berkenaan dengan Musailamah al-Kadzdzab.
Sedangkan ayat,… wa mang qaala sa ungzilu mitsla maa angzalallaah…(..dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah”…) (kelanjutan al-An’am: 93), turun berkenaan dengan ‘Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh yang pernah menulis kata yang berbeda dari apa yang didiktekan oleh Nabi kepadanya. Nabi mendiktekan ‘aziizun hakiimun (Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana), ia menulis ghafuurur rahiimun (Yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang). Kemudian Nabi mengulang kembali, tapi ia membantah dengan mengatakan sama saja. Kemudian iapun murtad dari Islam dan mengikuti kaum kafir Quraisy. Ayat ini memberikan peringatan kepada orang-orang yang memalsukan Wahyu Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dario as-Suddi bahwa seperti hadits di atas, dengan tambahan bahwa Musailamah berkata: “Jika Muhammad diberi wahyu, maka sayapun diberi wahyu; dan jika Allah menurunkan kepadanya, maka diapun menurunkan pula kepadaku.” Sementara ‘Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh berkata: “Jika Muhammad berkata, samii’an ‘aliiman (Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui), maka saya pun bisa bisa berkata, ‘aliiman hakiiman (Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana).”

94. “Dan Sesungguhnya kamu datang kepada kami sendiri-sendiri sebagaimana kamu kami ciptakan pada mulanya, dan kamu tinggalkan di belakangmu (di dunia) apa yang Telah kami karuniakan kepadamu; dan kami tiada melihat besertamu pemberi syafa’at yang kamu anggap bahwa mereka itu sekutu-sekutu Tuhan di antara kamu. sungguh Telah terputuslah (pertalian) antara kamu dan Telah lenyap daripada kamu apa yang dahulu kamu anggap (sebagai sekutu Allah).”
(al-An’am: 94)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan lain-lain, yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa an-Nadlr bin al-Harits berkata: “Al-Latta dan al-‘Uzza yang akan memeberi syafaat kepadaku.” Maka turunlah ayat ini (al-An’am: 94 sampai … syurakaa’…[sekutu-sekutu]), sebagai keterangan bahwa di hari akhir manusia akan datang kepada Allah tanpa mendapat bantuan siapapun, termasuk apa-apa yang mereka banggakan sebagai tuhan.

108. “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, Karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (al-An’am: 108)

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dari Ma’mar yang bersumber dari Qatadah bahwa kaum Muslimin pada waktu itu suka mencaci maki berhala kaum kafir, sehingga kaum kafir mencaci maki Allah. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-An’am: 108) sebagai larangan mencaci maki apa-apa yang disembah oleh kaum kafir.

109. “Mereka bersumpah dengan nama Allah dengan segala kesungguhan, bahwa sungguh jika datang kepada mereka sesuatu mu jizat, Pastilah mereka beriman kepada-Nya. Katakanlah: “Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu Hanya berada di sisi Allah”. dan apakah yang memberitahukan kepadamu bahwa apabila mukjizat datang mereka tidak akan beriman*”
(al-An’am: 109)

*Maksudnya: orang-orang musyrikin bersumpah bahwa kalau datang mukjizat, mereka akan beriman, Karena itu orang-orang muslimin berharap kepada nabi agar Allah menurunkan mukjizat yang dimaksud. Allah menolak pengharapan kaum mukminin dengan ayat ini.

110. “Dan (begitu pula) kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al Quran) pada permulaannya, dan kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.”
(al-An’am: 110)

111. “Kalau sekiranya kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang Telah mati berbicara dengan mereka dan kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka*, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak Mengetahui.”
(al-An’am: 111)

*maksudnya untuk menjadi saksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi bahwa orang-orang Quraisy berkata kepada Rasulullah saw.: “Hai Muhammad. Engkau telah menceritakan kepada kami mukjizat para Rasul, bahwa Musa mempunyai tongkat dan dengan tongkat itu ia memukul batu (hingga keluarlah air); ‘Isa dapat menghidupkan yang mati; dan Shalih diberi unta untuk menguji kaum Tsamud. Maka datangkanlah mukjizatmu kepada kami agar kami percaya kepadamu.” Rasulullah saw. bersabda: “Apa yang kalian inginkan?” Mereka menjawab: “Cobalah gunung Shafa itu dijadikan emas.” Nabi saw. bersabda: “Jika aku telah melaksanakan permintaan kalian, apakah kalian akan percaya kepadaku?” Mereka menjawab: “Demi Allah, kami akan taat.” Maka berdirilah Rasulullah seraya berdoa kepada Allah, sehingga datanglah Jibril dan berkata: “Jika engkau menghendakinya, pasti gunung Shafa itu akan menjadi emas. Tapi jika mereka tidak juga percaya , pasti Allah akan menyiksa mereka. Karenanya lebih baik engkau membiarkan mereka, sehingga bertobat orang-orang yang ingin bertobat.” Kemudian Allah menurunkan ayat ini (al-An’am: 111) sebagai penegasan bahwa mukjizat apapun yang diidatangkan kepada mereka, mereka tidak akan beriman.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah Al-An’am (3)

28 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

65. Katakanlah: ” dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu* atau dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran kami silih berganti** agar mereka memahami(nya)”.
(al-An’am: 65)

*azab yang datang dari atas seperti hujan batu, petir dan lain lain. yang datang dari bawah seperti gempa bumi, banjir dan sebagainya.
**Maksudnya: Allah s.w.t. mendatangkan tanda-tanda kebesaranNya dalam berbagai rupa dengan cara yang berganti-ganti. Adapula para Mufassirin yang mengartikan ayat di sini dengan ayat-ayat Al-Quran yang berarti bahwa ayat Al-Quran itu diturunkan ada yang berupa berita gembira, ada yang berupa peringatan, cerita-cerita, hukum-hukum dan lain-lain.

66. “Dan kaummu mendustakannya (azab)* padahal azab itu benar adanya. Katakanlah: “Aku Ini bukanlah orang yang diserahi mengurus urusanmu”.
(al-An’am: 66)

*sebahagian Mufassirin mengatakan bahwa yang didustakan itu ialah Al-Quran.

67. “Untuk setiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan Mengetahui.”
(al-An’am: 67)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Zaid bin Aslam bahwa ketika turun ayat, qul huwal qaadiru ‘alaa ay yab’atsa ‘alaikum ‘adzaabam ming fauqikum..(katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu…) sampai akhir ayat (al-An’am: 65), Rasulullah saw. bersabda: “Sesudah aku tiada, janganlah kalian kembali menjadi kafir dengan menimbulkan pertumpahan darah di antara kalian.” Mereka menjawab: “Bagaimana mungkin terjadi, padahal kami bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan sesungguhnya engkau Utusan-Nya?” Berkatalah yang lainnya: “Tidak mungkin hal itu akan terjadi selama-lamanya, karena kami tetap Muslimin.” Maka turunlah ayat selanjutnya (al-An’am: 65-67) yang memperingatkan bahwa bentrokan itu akan terjadi bila ada segolongan orang yang mengaku Mukmin tapi tidak melaksanakan hak (kebenaran).

82. “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(al-An’am: 82)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari ‘Ubaidullah bin Zuhr yang bersumber dari Bakr bin Sawadah bahwa ada seorang musyrik yang menyerang seorang Muslim dan membunuhnya, kemudian menyerang seorang Muslim lainnya dan membunuhnya pula, lalu menyerang yang lainnya lagi serta membunuhnya pula. Sesudah itu ia bertanya kepada Nabi saw., apakah akan diterima Islamnya setelah ia melakukan perbuatan tadi. Rasulullah saw. menjawab: “Ya.” Kemudian ia memukul kudanya dan menyerbu musuh Islam serta membunuh beberapa orang. Akhirnya ia sendiri terbunuh.
Menurut Bakr bin Sawadah, para sahabat menganggap ayat ini (an-An’am: 82) turun berkenaan dengan peristiwa orang itu, yang menegaskan bahwa iman seseorang yang tidak dicampuri syirik dijamin keamanannya oleh Allah swt.

91. “Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”. Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan Kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan Kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal Telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya) ?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, Kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya*”
(al-An’am: 91)

*perkataan biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya adalah sebagai sindiran kepada mereka, seakan-akan mereka dipandang sebagai kanak-kanak yang belum berakal.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Jubair (hadits ini mursal). Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah. Hadits seperti ini telah dikemukakan ketika menerangkan asbabun nuzul surah an-Nisaa’ ayat 163. Bahwa seorang pendeta gemuk dari kaum Yahudi, bernama Malik bin ash-Shaif, mengajak bertengkar kepada Nabi saw. bersabdalah Nabi kepadanya: “Terangkanlah kepada kami dengan sungguh-sungguh, Demi Allah yang telah menurunkan kitab Taurat kepada Musa, apakah kamu dapatkan di dalam Taurat bahwa Allah benci pendeta yang gemuk ?” Maka marahlah ia dan berkata: “Tidak, Allah tidak menurunkan apa-apa kepada manusia.” Teman-temannya berkata: “Celakalah engkau. Apakah Ia juga tidak menurunkan apa-apa kepada Musa?” Maka turunlah ayat ini (al-An’am: 91) sebagai teguran kepada orang-orang yang menyembunyikan sebagian dari apa yang diturunkan Allah kepada Nabi dan Rasul.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abi Thalhah yang bersumber dari Ibu ‘Abbas bahwa seorang Yahudi berkata: “Demi Allah, Allah tidak menurunkan kitab dari langit.” Maka turunlah ayat ini (al-An’am: 91) sebagai bantahan terhadap orang-orang yang mengingkari diturunkannya kitab suci.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah Al-An’am (2)

28 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

51. “Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa’atpun selain daripada Allah, agar mereka bertakwa.”
(al-An’am: 51)

52. “Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya. kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim)*”
(al-An’am: 52)

*ketika Rasulullah s.a.w. sedang duduk-duduk bersama orang mukmin yang dianggap rendah dan miskin oleh kaum Quraisy, datanglah beberapa pemuka Quraisy hendak bicara dengan Rasulullah, tetapi mereka enggan duduk bersama mukmin itu, dan mereka mengusulkan supaya orang-orang mukmin itu diusir saja, lalu turunlah ayat ini.

53. “Dan Demikianlah Telah kami uji sebahagian mereka (orang-orang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang Kaya itu) berkata: “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?” (Allah berfirman): “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepadaNya)?”
(al-An’am: 53)

54. “Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami itu datang kepadamu, Maka Katakanlah: “Salaamun alaikum*. Tuhanmu Telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang*, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan***, Kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(al-An’am: 54)

*Salaamun ‘alikum artinya Mudah-mudahan Allah melimpahkan kesejahteraan atas kamu.
**Maksudnya: Allah Telah berjanji sebagai kemurahan-Nya akan melimpahkan rahmat kepada mahluk-Nya.
***maksudnya ialah: 1. orang yang berbuat maksiat dengan tidak mengetahui bahwa perbuatan itu adalah maksiat kecuali jika dipikirkan lebih dahulu. 2. orang yang durhaka kepada Allah baik dengan sengaja atau tidak. 3. orang yang melakukan kejahatan Karena kurang kesadaran lantaran sangat marah atau Karena dorongan hawa nafsu.

55. “Dan Demikianlah kami terangkan ayat-ayat Al-Quran (supaya jelas jalan orang-orang yang saleh, dan supaya jelas (pula) jalan orang-orang yang berdosa.”
(al-An’am: 55)

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dan al-Hakim, yang bersumber dari Sa’d bin Abi Waqqash bahwa turunnya ayat ini (al-An’am: 52-53) berkenaan dengan enam orang, diantaranya Sa’d bin Abi Waqqash dan ‘Abdullah bin Mas’ud. Kaum kafir Quraisy berkata kepada Nabi saw.: “Usir mereka (keenam orang hina itu), karena kami malu menjadi pengikutmu setingkat dengan mereka.” Perkataan itu tidak menyenangkan Nabi. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-An’am: 52-53) sebagai larangan kepada kaum Mukminin untuk membeda-bedakan martabat sesama manusia.

Diriwayatkan oleh Ahmad, ath-Thabarani, dan Ibnu Abii Hatim, yang bersumber dari Ibnu Mas’ud bahwa para pembesar Quraisy lewat di hadapan Rasulullah saw. yang sedang duduk bersama Khabbab bin al Arat, Shuhail, Bilal, dan ‘Ammar (para ‘abid yang sudah dimerdekakan). Mereka berkata: “Hai Muhammad, apakah engkau rela duduk setingkat dengan mereka. Adakah mereka itu telah diberi nikmat oleh Allah lebih dari kami? Sekiranya engkau mengusir mereka, kami akan menjadi pengikutmu.” Maka Allah menurunkan ayat ini (al-An’am: 51-55) yang melarang kaum Mukminin membeda-bedakan martabat seseorang, karena sesungguhnya Allah yang paling mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ‘Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Muth’im bin ‘Adi, dan al-Harits bin Naufal dari kalangan pembesar-pembesar kafir Bani ‘Abdi Manaf, datang kepada Abu Thalib dan berkata: “Jika anak saudaramu (Muhammad) mengusir budak-budak itu, kami akan merasa lebih bangga, dan kami akan lebih taat dan setia kepadanya.”
Adapun budak-budak tersebut adalah Bilal, ‘Ammar bin Yasir, Salim maulaa Abu Hudzaifah, Shalih maulaa Usaid, Ibnu Mas’ud, al-Miqdad bin ‘Abdillah, Waqid bin ‘Abdillah al-Hanzhali, dan teman-temannya. Lalu Abu Thalib menyampaikan hal itu kepada Nabi saw.. Maka berkatalah ‘Umar bin al-Khaththab: “Sekiranya tuan melaksanakan permintaan mereka, kita lihat nanti apa sebenarnya yang mereka inginkan.” Maka Allah menurunkan ayat ini (al-An’am: 51-53) yang memerintahkan Muhammad untuk menyampaikan wahyu yang melarang mengusir orang-orang yang beribadah kepada Allah swt., dan melarang menilai derajat seseorang. Sesungguhnya Allah lebih mengetahui orang-orang yang bersyukur kepada-Nya. Setelah itu ‘Umar meminta maaf atas ucapannya itu, dan turunlah ayat selanjutnya (al-An’am: 54) sebagai jaminan ampunan bagi orang-orang yang bertobat dari kesalahan, karena ketidaktahuannya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Khabbab bahwa al-Aqra bin Habis dan ‘Uyainah bin Hishn datang menghadap Rasulullah saw, di saat beliau duduk dikelilingi Shuhaib, Bilal, ‘Ammar bin Yasir, dan Khabbab dari kalangan kaum Mukminin yang dianggap hina. Mereka meminta Nabi, dengan sikap meremehkan orang-orang yang hadir, untuk dapat berbicara di luar mereka. Dalam pembicaraan tersebut mereka menginginkan agar diadakan suatu majelis khusus untuk menerima delegasi-delegasi pembesar bangsa Arab, karena mereka merasa malu harus duduk bersama-sama dengan orang-orang yang dianggap hina oleh mereka. Mereka juga mengusulkan agar orang-orang yang dianggap hina itu diusir saja jika pembesar-pembesar itu datang, dan baru boleh duduk kembali bersama mereka apabila sudah selesai. Nabi saw. mengiyakannya. Maka turunlah ayat ini (al-An’am: 52). Ayat tersebut dibacakan pada al-Aqra dan temannya, kemudian dilanjutkan dengan ayat berikutnya (al-An’am: 53)
Pada waktu itu Rasulullah saw. duduk kembali beserta kaum Mukminin. Dan ketika Aqra akan pergi, Rasulullah berdiri meninggalkan kaum Mukminin. Maka turunlah ayat, washbir nafsaka ma’al ladziina yad’uuna rabbahum…(dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-nya…) sampai akhir ayat (al-Kahfi: 28), yang menyuruh Nabi untuk tetap duduk bersama kaum Mukminin yang dianggap hina oleh kaum zalim.

Keterangan: menurut Ibnu Katsir, hadits ini gharib, karena ayat ini Makkiyyah, sedang al-Aqra dan ‘Unaiyah masuk Islam beberapa lama setelah hijrah.

Diriwayatkan oleh al-Farabi dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Mahan bahwa suatu waktu orang-orang datang menghadap Rasulullah saw. seraya berkata: “Kami mengerjakan dosa-dosa yang besar.” Rasulullah saw. tidak menjawab apa-apa, sampai turun ayat ini (al-An’am: 54) yang menjelaskan bahwa tobat orang-orang yang berbuat dosa tanda pengetahuan dan kemudian berbuat baik, akan diampuni Allah swt.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah Al-An’am (1)

28 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

19. Katakanlah: “Siapakah yang lebih Kuat persaksiannya?” Katakanlah: “Allah”. dia menjadi saksi antara Aku dan kamu. dan Al Quran Ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia Aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya). apakah Sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?” Katakanlah: “Aku tidak mengakui.” Katakanlah: “Sesungguhnya dia adalah Tuhan yang Maha Esa dan Sesungguhnya Aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)”.
(al-An’am: 19)

20. “Orang-orang yang Telah kami berikan Kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah).”
(al-An’am: 20)

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dan Ibnu Jarir, dari Sa’id atau ‘Ikrimah yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa an-Nahham bin Zaid, Qarum bin Ka’b, dan Bahri bin ‘Amr menghadap Rasulullah saw. dan berkata: “Hai Muhammad. Engkau tidak mengetahui ada tuhan selain Allah.” Bersabdalah Rasulullah saw.: “Tiada tuhan melainkan Allah. Dengan (membawa penjelasan) itu aku diutus, dan kepada (kepercayaan) itu aku mengajak (berdakwah).” Maka Allah menurunkan ayat ini (al-An’am: 19-20) sebagai penegasan bahwa Allah Maha Esa, sebagai mana mereka ketahui dalam kitab Taurat.

26. “Dan mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Quran dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadari.”
(al-An’am: 26)

Diriwayatkan oleh al-Hakim dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa turunnya ayat ini (al-An’am: 26) berkenaan dengan Abu Thalib yang melarang kaum musyrikin menyakiti Nabi saw., padahal dia sendiri menjauhkan diri dari ajaran Nabi. Ayat ini (al-An’am: 26) menegaskan bahwa perbuatan seperti itu hanya akan mencelakakan diri sendiri tanpa disadari.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Abi Hilal bahwa ayat ini (al-An’am: 26 turun berkenaan dengan paman-paman Nabi saw. yang berjumlah sepuluh orang. Secara terang-terangan mereka sangat dekat kepada Nabi, tapi secara diam-diam mereka merupakan perintang utamanya. Ayat tersebut menegaskan bahwa perbuatan seperti itu hanya akan mencelakakan diri sendiri tanpa disadari.

33. “Sesungguhnya kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), Karena mereka Sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah*”
(al-An’am: 33)

*dalam ayat Ini Allah menghibur nabi Muhammad s.a.w. dengan menyatakan bahwa orang-orang musyrikin yang mendustakan nabi, pada hakekatnya adalah mendustakan Allah sendiri, Karena nabi itu diutus untuk menyampaikan ayat-ayat Allah.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim, yang bersumber dari ‘Ali bin Abi Thalib bahwa Abu Jahl berkata kepada Nabi saw.: “Kami bukan tidak mempercayaimu, akan tetapi kami tidak percaya kepada apa yang kamu bawa.” Maka Allah menurunkan ayat ini (al-An’am: 33) sebagai penjelasan bahwa orang-orang seperti itu tidak perlu disesali, karena hanya orang yang dzalim yang menentang ayat-ayat Allah.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah Al-A’raaf

28 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

31. “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid*, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan**. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
(al-A’raaf: 31)

*Maksudnya: tiap-tiap akan mengerjakan sembahyang atau thawaf keliling ka’bah atau ibadat-ibadat yang lain.
**Maksudnya: janganlah melampaui batas yang dibutuhkan oleh tubuh dan jangan pula melampaui batas-batas makanan yang dihalalkan.

32. “Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang Telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat*.” Demikianlah kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang Mengetahui.”
(al-A’raaf: 32)

*Maksudnya: perhiasan-perhiasan dari Allah dan makanan yang baik itu dapat dinikmati di dunia Ini oleh orang-orang yang beriman dan orang-orang yang tidak beriman, sedang di akhirat nanti adalah semata-mata untuk orang-orang yang beriman saja.

Diriwayatkan oleh Muslim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa pada zaman jahiliyyah ada seorang wanita yang tawaf di baitullah dengan telanjang bulat dan hanya bercawat secarik kain. Ia berteriak-teriak dengan mengatakan: “Pada hari ini aku halalkan sebagian atau seluruhnya, kecuali yang kututupi ini.” Maka turunlah ayat ini (al-A’raaf: 31) memerintahkkan untuk berpakaian rapi apabila memasuki masjid, dan ayat selanjutnya (al-A’raaf: 32) memberikan peringatan kepada orang-orang yang mengharamkan apa yang dihalalkan Allah swt.

184. “Apakah (mereka lalai) dan tidak memikirkan bahwa teman mereka (Muhammad) tidak berpenyakit gila. dia (Muhammad itu) tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan.”
(al-A’raaf: 184)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Abusy Syaikh yang bersumber dari Qatadah, bahwa Nabi saw. berdiri di atas Bukit Shafa menyeru kaum Quraisy dengan menyebut nama-nama suku bangsanya, dan memberi peringatan akan siksa Allah yang pernah dan akan terjadi. Berkatalah di antara mereka: “Sesungguhnya temanmu ini gila, semalam suntuk ia bicara terus.” Maka Allah menurunkan ayat ini (al-A’raaf: 184) yang menegaskan bahwa Muhammad itu Rasulullah.

187. “Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak Mengetahui”.
(al-A’raaf: 187)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah dan dijelaskan bahwa yang bertanya itu adalah kaum Quraisy, bahwa Ibnu Abi Qusyair dan Samuel bin Zaid menghadap Rasulullah saw. dan bertanya: “Sekiranya engkau benar-benar Nabi sesuai dengan pengakuanmu, cobalah terangkan kepada kami, kapan waktunya kiamat, karena kami tahu kapan akan terjadinya.” Maka Allah menurunkan ayat ini (al-A’raaf: 187) yang menegaskan bahwa tak seorangpun mengetahui waktunya, kecuali Allah, dan akan tiba sekonyong-konyong.

204. “Dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat*”
(al-A’raaf: 204)

*Maksudnya: jika dibacakan Al Quran kita diwajibkan mendengar dan memperhatikan sambil berdiam diri, baik dalam sembahyang maupun di luar sembahyang, terkecuali dalam shalat berjamaah ma’mum boleh membaca Al Faatihah sendiri waktu imam membaca ayat-ayat Al Quran.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan lain-lain, yang bersumber dari Abu Hurairah bahwa turunnya ayat ini (al-A’raaf: 204) berkenaan dengan orang-orang yang membaca al-Qur’an dengan nyaring di waktu shalat bermakmum pada Nabi. Ayat ini memerintahkan untuk selalu mendengarkan dan memperhatikan bacaan imam.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abu Hurairah. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari ‘Abdullah bin Mughaffal. Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Mas’ud. Bahwa ayat ini (al-A’raaf: 204) turun berkenaan dengan orang-orang yang bercakap-cakap di waktu shalat. Ayat ini melarang berbicara ketika dibacakan al-Qur’an.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari az-Zuhri bahwa ayat ini (al-A’raaf: 204) turun berkenaan dengan seorang pemuda Anshar yang mengikuti bacaan ayat-ayat al-Qur’an yang dibacakan Rasulullah, sebelum beliau selesai membacanya. Ayat ini melarang mengganggu orang yang sedang membaca al-Qur’an.

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur di dalam Sunan-nya, dari Abu Ma’mar yang bersumber dari Muhammad bin Ka’b bahwa ketika para shahabat mendengar ayat al-Qur’an dari Rasulullah saw., merekapun mengulanginya sebelum Rasulullah selesai membacanya. Maka turunlah ayat ini (al-A’raaf: 204) yang memerintahkan untuk mendengar dan memperhatikan bacaan al-Qur’an.

Menurut as-Suyuti, melihat riwayat-riwayat di atas, ayat ini (al-A’raaf: 204) adalah Madaniyyah.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah Al-Anfaal (6)

28 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

65. “Hai nabi, Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti*”
(al-Anfaal: 65)

*Maksudnya: mereka tidak mengerti bahwa perang itu haruslah untuk membela keyakinan dan mentaati perintah Allah. mereka berperang Hanya semata-mata mempertahankan tradisi Jahiliyah dan maksud-maksud duniawiyah lainnya.

66. “Sekarang Allah Telah meringankan kepadamu dan dia Telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”
(al-Anfaal: 66)

Diriwayatkan oleh Ishaq bin Rahawaih di dalam Musnad-nya, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika turun surah al-Anfaal ayat 65 yang mewajibkan perang satu lawan sepuluh, kaum Muslimin merasa keberatan sehingga Allah memberikan keringanan kepada mereka, yaitu setiap satu orang melawan dua orang, dengan menurunkan ayat berikutnya (al-Anfaal: 66)

67. “Tidak patut, bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(al-Anfaal: 67)

68. “Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang Telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar Karena tebusan yang kamu ambil.”
(al-Anfaal: 68)

Diriwayatkan oleh Ahmad dan lain-lain, yang bersumber dari Anas bahwa Nabi saw. bermusyawarah dengan para shahabatnya memperbincangkan hal tawanan perang Badr. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah memenangkan kalian dan mengalahkan mereka. Bagaimana pendapat kalian tentang tawanan perang ini?” ‘Umar berkata: “Ya Rasulullah, penggallah batang leher mereka.” Rasulullah tidak menerima sarannya itu. Abu Bakr berkata: “Ampunilah mereka dan terimalah fidaa’ (tebusan) dari mereka.” Lalu Rasulullah mengampuni mereka dan menerima fidaa’. Kedua ayat ini (al-
Anfaal: 67-68) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut sebagai teguran kepada Nabi saw., dan pernyataan bahwa tindakannya itu dimaafkan, karena telah ada ketentuan Allah mengenai hal itu.

Diriwayatkan oleh Ahmad, at-Tirmidzi, dan al-Hakim, yang bersumber dari Ibnu Mas’ud bahwa setelah terjadi perang Badr dan tawanan telah dikumpulkan, Rasulullah saw. bersabda: “Bagaimana pendapat kalian tentang tawanan ini?” Kejadian selanjutnya sama dengan hadits di atas. Turunnya ayat ini (al-Anfaal: 67-68) sejalan dengan pendapat ‘Umar.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi yang bersumber dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. bersabda: “Tidak pernah dihalalkan ghanimah kepada siapapun, demikian pula kepada seorang pemimpin sebelum kalian. Di masa dahulu, api turun dari langit dan memusnahkan ghanimah.” Ketika Perang Badr, kaum Muslimin mengambil ghanimah sebelum dihalalkan kepada mereka. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Anfaal: 67) sebagai teguran terhadap perbuatan kaum Muslimin.

70. “Hai nabi, Katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu: “Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang Telah diambil daripadamu dan dia akan mengampuni kamu”. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(al-Anfaal: 70)

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani di dalam kitab al-Ausath, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Ibnu ‘Abbas berkata: “Demi Allah, ayat ini (al-Anfaal: 70) turun berkenaan dengan diriku ketika aku mengingatkan Rasulullah saw. bahwa aku telah masuk Islam, dan meminta kembali hartaku sebanyak 20 uuqiyyah (ons) emas yang dirampas dalam peperangan dan mengharap ampunan dari Allah. Sebagai penggantinya Rasulullah memberikan kepadaku 20 orang ‘abid yang sekarang memperdagangkan hartaku dengan jujur, yang sangat menguntungkan.” Ayat ini (al-Anfaal: 70) menegaskan bahwa Allah akan memberikan yang lebih baik daripada apa yang telah dirampas dalam peperangan, kepada tawanan-tawanan yang masuk Islam, dan menjanjikan ampunan-Nya.

73. “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang Telah diperintahkan Allah itu*, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.”
(al-Anfaal: 73)

*yang dimaksud dengan apa yang Telah diperintahkan Allah itu: keharusan adanya persaudaraan yang teguh antara kaum muslimin.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Abusy Syaikh, dari as-Suddi yang bersumber dari Abu Malik bahwa seorang Mukmin bertanya tentang pemberian harta waris kepada anggota keluarga yang termasuk kaum musyrikin. Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 73) yang menegaskan bahwa kaum musyrikin selalu saling membantu dengan sesama musyrikin, dan kaum Muslimin pun harus saling membantu dengan sesama Muslimin. Oleh karena itu kaum Muslimin tidak dibenarkan menyerahkan harta waris kepada mereka.

75. “Dan orang-orang yang beriman sesudah itu Kemudian berhijrah serta berjihad bersamamu Maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat)* di dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”
(al-Anfaal: 75)

*Maksudnya: yang jadi dasar waris mewarisi dalam Islam ialah hubungan kerabat, bukan hubungan persaudaraan keagamaan sebagaimana yang terjadi antara muhajirin dan anshar pada permulaan Islam.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnuz Zubair bahwa seorang Muslim telah membuat perjanjian dengan yang lainnya untuk saling mewarisi hartanya. Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 75) yang menegaskan bahwa harta waris itu lebih utama diberikan kepada kaum keluarga yang sudah ada ketentuannya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dari Hisyam bin ‘Urwah yang bersumber dari bapaknya (‘Urwah) bahwa Rasulullah saw. menjadikan az-Zubair bin al-‘Awwam dan Ka’b bin Malik sebagai saudara. Az-Zubair berkata: “Ketika aku melihat Ka’b terluka parah dalam perang Uhud, aku berkata bahwa apabila ia gugur, maka terputuslah dengan dunia dan ahlinya, sehingga akupun jadi pewarisnya.” Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 75) yang menegaskan bahwa harta waris itu diutamakan bagi keluarga, dan tidak bagi orang yang diangkat menjadi saudara.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah Al-Anfaal (5)

28 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

47. “Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.”
(al-Anfaal: 47)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi, bahwa ketika kaum Quraisy keluar dari Mekah menuju Perang Badr, mereka berpakaian indah-indah dan dibarengi barisan musik. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Anfaal: 47) yang melarang kaum Muslimin berbuat seperti mereka: sombong dan ria’.

48. “Dan ketika syaitan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan: “Tidak ada seorang manusiapun yang dapat menang terhadapmu pada hari ini, dan Sesungguhnya saya Ini adalah pelindungmu”. Maka tatkala kedua pasukan itu Telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), syaitan itu balik ke belakang seraya berkata: “Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu, Sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; Sesungguhnya saya takut kepada Allah”. dan Allah sangat keras siksa-Nya.”
(al-Anfaal: 48)

49. “(ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: “mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya”. (Allah berfirman): “Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, Maka Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
(al-Anfaal: 49)

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani di dalam kitab al-Ausath, dengan sanad yang lemah, yang bersumber dari Abu Hurairah, bahwa pada waktu di Mekah Allah menurunkan kepada Nabi-Nya ayat, sayuhzamul jam’u wa yuwalluunad dubur (golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang) (al-Qamar: 45), bertanyalah ‘Umar bin al-Kaththab: “Persekutuan yang mana, ya Rasulullah?” pertanyaan tersebut diajukan sebelum terjadi perang Badr. Pada waktu kaum Quraisy dihancurkan dalam perang Badr, ‘Umar melirik kepada Rasulullah sambil melihat, dengan pedang terhunus di tangan, kepada bekas-bekas pertempuran yang bergelimangan mayat. Bersabdalah Rasulullah saw.: “Ayat, sayuhzamul jam’u wa yuwalluunad dubur (golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang) (al-Qamar: 45) itu berkenaan dengan peristiwa ini.” Dalam peristiwa Badr itu turun pula surah al-Mu’minuun ayat 64 berkenaan dengan mereka yang merintih-rintih minta tolong karena mendapat azab dari Allah swt.; dan surat Ibrahim ayat 28 berkenaan dengan mereka yang menukarkan nikmat Allah dengan kekufuran.
Dalam perang Badr ini Rasulullah melempari mereka dengan batu dan pasir, sehingga musuh-musuh itu mati karena mata dan mulutnya penuh dengan pasir dan batu. Maka turunlah surat al-Anfaal ayat 17 yang menegaskan bahwa kematian mereka bukan karena lemparan Muhammad, tapi karena lemparan Allah. Dalam peristiwa Badr ini pula turun surah al-Anfaal ayat 48 yang menegaskan bahwa iblis membakar semangat kaum musyrikin, tapi kemudian berlepas diri karena ia melihat kaum Muslimin mendapat bantuan pasukan malaikat yang tidak terlihat oleh kaum musyrikin. Dalam peristiwa itu pula ‘Utbah bin Rabi’ah dan orang-orang musyrikin lainnya berkata bahwa kaum Muslimin telah tertipu oleh agamanya. Maka Allah menurunkan surah al-Anfaal ayat 49 sebagai peringatan kepada kaum Mukminin untuk tetap bertawakal kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Bijaksana.

55. “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, Karena mereka itu tidak beriman.”
(al-Anfaal: 55)

Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa turunnya ayat ini (al-Anfaal: 55) berkenaan dengan enam suku kaum Yahudi yang sangat kufur, di antaranya Ibnut Tabut.

58. “Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, Maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.”
(al-Anfaal: 58)

Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh yang bersumber dari Ibnu Syihab bahwa Jibril datang kepada Rasulullah saw. dan berkata: “Engkau telah meletakkan senjata dan tetap berusaha mengajak mereka melaksanakan perdamaian. Allah telah mengizinkan kamu untuk menggempur Bani Quraizhah yang telah mengkhianatimu. Berangkatlah dan gempurlah mereka.” Turunnya ayat ini (al-Anfaal: 58) sebagai izin kepada Rasulullah saw. untuk menggempur orang-orang yang mengkhianati perjanjian.

64. “Hai nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.”
(al-Anfaal: 64)

Diriwayatkan oleh al-Bazzar dengan sanad yang dhaif, dari ‘Ikrimah yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Hadits ini mempunyai beberapa syaahid (penguat) bahwa ketika ‘Umar masuk Islam, kaum musyrikin berkata: “Sekarang kekuatan kita telah seimbang dengan kekuatan kaum Muslimin.” Maka turunlah ayat ini (Al-Anfaal: 64) sebagai penambah semangat bagi Rasulullah dalam menghadapi kaum musyrikin.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dan lain-lain, dari Sa’id bin Jubair yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika kaum Muslimin telah mencapai jumlah 39 orang (laki-laki dan perempuan), dan menjadi 40 orang dengan masuknya ‘Umar, maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 64) yang menegaskan bahwa Allah dan orang-orang yang telah beriman cukup bagi Rasulullah untuk melawan kaum musyrikin.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dengan sanad yang sahih, yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa setelah 33 orang laki-laki dan 6 orang wanita masuk Islam (bergabung) bersama Nabi saw., serta ditambah dengan masuknya ‘Umar, turunlah ayat ini (al-Anfaal: 64) berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh dari Sa’id bin al-Musayyab bahwa turunnya ayat ini (al-Anfaal: 64) berkenaan dengan masuknya Islamnya ‘Umar bin al-Khaththab.

Sumber: Asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah Al Anfaal (4)

28 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

32. “Dan (ingatlah), ketika mereka (orang-orang musyrik) berkata: “Ya Allah, jika betul (Al Quran) ini, dialah yang benar dari sisi Engkau, Maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih”.
(al-Anfaal: 32)

33. “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun*”
(al-Anfaal: 33)

*di antara Mufassirin mengartikan yastagfiruuna dengan bertaubat dan ada pula yang mengartikan bahwa di antara orang-orang kafir itu ada orang muslim yang minta ampun kepada Allah.

34. “Kenapa Allah tidak mengazab mereka padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidilharam, dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya? orang-orang yang berhak menguasai(nya) hanyalah orang-orang yang bertakwa. tetapi kebanyakan mereka tidak Mengetahui.”
(al-Anfaal: 34)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa yang dimaksud dengan wa idz qaalallaahumma ing kaana haadzaa huwal haqq…(dan [ingatlah], ketika mereka [orang-orang musyrik] berkata: “Ya Allah, jika betul [al-Qur’an] ini, dialah yang benar….”) hingga akhir ayat (al-Anfaal: 32) ialah ucapan an-Nadlr bin al-Harits.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Anas bahwa Abu Jahl berkata: “Ya Allah, sekiranya al-Qur’an ini benar-benar dari-Mu, maka turunkanlah hujan batu dari langit atau timpakanlah kepada kami siksa yang pedih.” Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 33) yang menjamin bahwa Allah tidak akan menimpakan siksaan dari langit selagi Nabi Muhammad masih ada dan selagi mereka bertobat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kaum musyrikin sedang tawaf di Baitullah dan berdoa: “Ghufraanaka, ghufraanaka (kami memohon ampunan-Mu, kami memohon ampunan-Mu)”. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Anfaal: 33) yang menegaskan bahwa Allah tidak akan menyiksa mereka selama mereka bertobat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Yazid bin Ruman dan Muhammad bin Qais bahwa kaum Quraisy sedang berbicara di antara mereka: “Muhammad telah dimuliakan oleh Allah lebih daripada kita.” Maka mereka berdoa: “Ya Allah sekiranya Muhammad itu benar utusan-Mu, timpakanlah batu dari langit kepada kami.” Pada sore harinya mereka menyesali ucapannya itu, dan bertobat dengan ucapan ghufraanakallaahumma (kami memohon ampunan-Mu ya Allah). Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Anfaal: 33-34) yang menjamin keselamatan mereka dari siksaan Allah selama mereka bertobat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Abazi bahwa pada waktu Rasulullah berada di Mekah, Allah menurunkan, wa maa kaanallaahu li yu’adzdzlibahum wa angta fiihim… (dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka…) (al-Anfaal: 33); ketika Rasulullah saw. pindah ke Madinah, Allah menurunkan.. wamaa kanallaahu mu’adzdzibahum wa hum yastaghfiruun…( dan tidaklah [pula] Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun) (akhir al-Anfaal: 33), karena di Mekah masih tertinggal kaum Muslimin yang selalu bertobat. Setelah semuanya hijrah dari Mekah ke Madinah, Allah menurunkan, wa maa lahum al laa yu’adzdzibahumullah…(kenapa Allah tidak mengazab mereka..) (awal al-Anfaal: 34). Setelah itu Allah mengizinkan mereka membebaskan kota Mekah sebagai siksaan yang telah disebutkan dalam al-Qur’an.

35. “Sembahyang mereka di sekitar Baitullah itu, lain tidak hanyalah siulan dan tepukan tangan. Maka rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.”
(al-Anfaal: 35)

Diriwayatkan oleh al-Wahidi yang bersumber dari Ibnu ‘Umar bahwa sebelum masuk Islam, apabila kaum Quraisy tawaf di Baitullah, mereka suka bertepuk tangan dan bersiul. Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 35) sebagai ancaman terhadap perbuatan seperti itu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Sa’id bahwa kaum Quraisy mengganggu Nabi saw. yang sedang tawaf dengan bertepuk tangan dan bersiul. Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 35) sebagai ancaman kepada orang-orang yang suka mengganggu kaum Muslimin yang sedang ibadah.

36. “Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. mereka akan menafkahkan harta itu, Kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. dan ke dalam Jahannamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan,”
(al-Anfaal: 36)

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq yang bersumber dari az-Zuhri, Muhammad bin Yahya bin Hibban, ‘Ashim bin ‘Umair bin Qatadah, dan al-Hushain bin ‘Abdirrahman. Hadits ini bersesuaian pula dengan hadits yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika orang-orang Quraisy ditimpa kekalahan dalam perang Badr dan pulang ke Mekah, ‘Abdullah bin Abi Rabi’ah, ‘Ikrimah bin Abi Jahl, dan Shafwan bin Umayyah, tokoh-tokoh Quraisy yang bapak-bapak dan anak-anaknya terbunuh dalam perang Badr, mengadakan pembicaraan denga Abu Sufyan dan rombongannya. Rombongan Abu Sufyan itu terdiri atas kaum saudagar yang selamat dari malapetaka perang Badr. Mereka berkata: “Hai golongan Quraisy. Sesungguhnya Muhammad telah menggentarkan kalian dan membunuh orang-orang yang paling baik diantara kalian. Bantulah kami dengan harta benda kalian untuk memeranginya. Mudah-mudahan kita bisa menebus kekalahan kita dan membalas dendam.” Merekapun menyetujui permintaan ini. Ayat ini (al-Anfaal: 36) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut. Yang menjanjikan bahwa Allah akan mengalahkan orang-orang yang menghambat jalan Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari al-Hakam bin ‘Utaibah bahwa turunnya ayat ini (al-Anfaal: 36) berkenaan dengan Abu Sufyan yang membiayai perang kaum musyrikin, sebanyak empat puluh uuqiyyah (ons) emas.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Abazi dan Sa’id bin Jubair, bahwa turunnya ayat ini (al-Anfaal: 36) berkenaan dengan Abu Sufyan yang mengongkosi dua ribu orang tentara Habasyah dalam Perang Uhud untuk memerangi Rasulullah saw.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk