Asbabun Nuzul Surah Al-An’am (3)

28 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

65. Katakanlah: ” dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu atau dari bawah kakimu* atau dia mencampurkan kamu dalam golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebahagian kamu keganasan sebahagian yang lain. Perhatikanlah, betapa kami mendatangkan tanda-tanda kebesaran kami silih berganti** agar mereka memahami(nya)”.
(al-An’am: 65)

*azab yang datang dari atas seperti hujan batu, petir dan lain lain. yang datang dari bawah seperti gempa bumi, banjir dan sebagainya.
**Maksudnya: Allah s.w.t. mendatangkan tanda-tanda kebesaranNya dalam berbagai rupa dengan cara yang berganti-ganti. Adapula para Mufassirin yang mengartikan ayat di sini dengan ayat-ayat Al-Quran yang berarti bahwa ayat Al-Quran itu diturunkan ada yang berupa berita gembira, ada yang berupa peringatan, cerita-cerita, hukum-hukum dan lain-lain.

66. “Dan kaummu mendustakannya (azab)* padahal azab itu benar adanya. Katakanlah: “Aku Ini bukanlah orang yang diserahi mengurus urusanmu”.
(al-An’am: 66)

*sebahagian Mufassirin mengatakan bahwa yang didustakan itu ialah Al-Quran.

67. “Untuk setiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan Mengetahui.”
(al-An’am: 67)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Zaid bin Aslam bahwa ketika turun ayat, qul huwal qaadiru ‘alaa ay yab’atsa ‘alaikum ‘adzaabam ming fauqikum..(katakanlah: “Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu…) sampai akhir ayat (al-An’am: 65), Rasulullah saw. bersabda: “Sesudah aku tiada, janganlah kalian kembali menjadi kafir dengan menimbulkan pertumpahan darah di antara kalian.” Mereka menjawab: “Bagaimana mungkin terjadi, padahal kami bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan sesungguhnya engkau Utusan-Nya?” Berkatalah yang lainnya: “Tidak mungkin hal itu akan terjadi selama-lamanya, karena kami tetap Muslimin.” Maka turunlah ayat selanjutnya (al-An’am: 65-67) yang memperingatkan bahwa bentrokan itu akan terjadi bila ada segolongan orang yang mengaku Mukmin tapi tidak melaksanakan hak (kebenaran).

82. “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
(al-An’am: 82)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari ‘Ubaidullah bin Zuhr yang bersumber dari Bakr bin Sawadah bahwa ada seorang musyrik yang menyerang seorang Muslim dan membunuhnya, kemudian menyerang seorang Muslim lainnya dan membunuhnya pula, lalu menyerang yang lainnya lagi serta membunuhnya pula. Sesudah itu ia bertanya kepada Nabi saw., apakah akan diterima Islamnya setelah ia melakukan perbuatan tadi. Rasulullah saw. menjawab: “Ya.” Kemudian ia memukul kudanya dan menyerbu musuh Islam serta membunuh beberapa orang. Akhirnya ia sendiri terbunuh.
Menurut Bakr bin Sawadah, para sahabat menganggap ayat ini (an-An’am: 82) turun berkenaan dengan peristiwa orang itu, yang menegaskan bahwa iman seseorang yang tidak dicampuri syirik dijamin keamanannya oleh Allah swt.

91. “Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya, di kala mereka berkata: “Allah tidak menurunkan sesuatupun kepada manusia”. Katakanlah: “Siapakah yang menurunkan Kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan Kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebahagiannya) dan kamu sembunyikan sebahagian besarnya, padahal Telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui(nya) ?” Katakanlah: “Allah-lah (yang menurunkannya)”, Kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Quran kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya*”
(al-An’am: 91)

*perkataan biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya adalah sebagai sindiran kepada mereka, seakan-akan mereka dipandang sebagai kanak-kanak yang belum berakal.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Jubair (hadits ini mursal). Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah. Hadits seperti ini telah dikemukakan ketika menerangkan asbabun nuzul surah an-Nisaa’ ayat 163. Bahwa seorang pendeta gemuk dari kaum Yahudi, bernama Malik bin ash-Shaif, mengajak bertengkar kepada Nabi saw. bersabdalah Nabi kepadanya: “Terangkanlah kepada kami dengan sungguh-sungguh, Demi Allah yang telah menurunkan kitab Taurat kepada Musa, apakah kamu dapatkan di dalam Taurat bahwa Allah benci pendeta yang gemuk ?” Maka marahlah ia dan berkata: “Tidak, Allah tidak menurunkan apa-apa kepada manusia.” Teman-temannya berkata: “Celakalah engkau. Apakah Ia juga tidak menurunkan apa-apa kepada Musa?” Maka turunlah ayat ini (al-An’am: 91) sebagai teguran kepada orang-orang yang menyembunyikan sebagian dari apa yang diturunkan Allah kepada Nabi dan Rasul.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Abi Thalhah yang bersumber dari Ibu ‘Abbas bahwa seorang Yahudi berkata: “Demi Allah, Allah tidak menurunkan kitab dari langit.” Maka turunlah ayat ini (al-An’am: 91) sebagai bantahan terhadap orang-orang yang mengingkari diturunkannya kitab suci.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: