asbabun Nuzul Surah Al-Anfaal (2)

28 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

17. “Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(al-Anfaal: 17)

Diriwayatkan oleh al-Hakim dari Sa’id bin al-Musayyab yang bersumber dari bapaknya. Isnad hadits ini shahih, hanya saja gharib. Bahwa pada waktu peperangan Uhud, Ubay bin Khalaf bermaksud menyerang Nabi saw. –dan dibiarkan oleh kawan-kawannya yang pada waktu itu menyongsong pasukan Rasulullah- akan tetapi dihadang oleh Mush’ab bin ‘Umair. Rasulullah saw. melihat bagian dada Ubay yang terbuka antara baju dan topinya, lalu ditikam oleh Rasulullah saw dengan tombaknya. Ubay jatuh rebah dari kudanya serta salah satu tulang rusuknya patah, akan tetapi tiada mengeluarkan darah. Teman-teman Ubay datang mengerumuninya saat ia meraung-raung kesakitan. Mereka berkata: “Alangkah pengecutnya engkau, bukankah itu hanya goresan sedikit saja?” Ubay mengatakan bahwa Rasulullah telah menikamnya, seraya mengingatkan sabda Rasulullah yang bersumpah: “Seandainya yang terkena kepada Ubay itu terkena pula pada sekampung Dzilmajaz (nama suatu daerah), pasti mereka akan mati semuanya.”
Ubay bin Khalaf mati sebelum sampai ke Mekah. Turunnya ayat ini (al-Anfal: 17) berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai penegasan bahwa sebenarnya Allah-lah yang membunuhnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Abdurrahman bin Jubair. Hadits ini mursal, sanadnya jayyid (baik), akan tetapi gharib. Bahwa pada peperangan Khaibar, Rasulullah saw. meminta panah, dan memanahkannya ke benteng. Anak panah tersebut mengenai Ibnu Abil Haqiq hingga iapun terbunuh di tempat tidurnya. Allah menurunkan ayat ini (al-Anfaal: 17) berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai penegasan bahwa yang melempar panah itu adalah Allah swt.

Keterangan: Hadits yang masyur berkenaan dengan turunnya ayat ini (al-Anfaal: 17) adalah peristiwa yang terjadi dalam perang Badr, di waktu Rasulullah saw. melemparkan segenggam batu-batu kecil hingga menyebabkan banyak yang mati di kalangan musuh.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, dan ath-Thabarani, yang bersumber dari Hakim bin Hizam. Diriwayatkan pula oleh Abusy Syaikh yang bersumber dari Jabir dan Ibnu ‘Abbas. Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari sumber lain, tapi mursal. Bahwa di waktu perang Badr, para shahabat mendengar suara gemuruh dari langit ke bumi, seperti suara batu-batu kecil jatuh ke dalam bejana. Rasulullah saw. melempari lawannya dengan batu-batu kecil tadi sehingga kaum Muslimin pun menang. Ayat ini (al-Anfaal: 17) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang menegaskan bahwa sesungguhnya yang melemparkan batu-batu itu adalah Allah di saat Nabi melemparkannya.

19. “Jika kamu (orang-orang musyrikin) mencari keputusan, Maka Telah datang Keputusan kepadamu; dan jika kamu berhenti*; Maka Itulah yang lehih baik bagimu; dan jika kamu kembali**, niscaya kami kembali (pula)***; dan angkatan perangmu sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sesuatu bahayapun, biarpun dia banyak dan Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman.”
(al-Anfaal: 19)

*Maksudnya: berhenti dari memusuhi dan memerangi rasul.
**Maksudnya: kembali memusuhi dan memerangi rasul.
***Maksudnya: Allah memberi pertolongan kepada rasul.

Diriwayatkan oleh al-Hakim yang bersumber dari ‘Abdullah bin Tsa’labah bin Sha’ir. Bahwa Abu Jahl pernah meminta kemenangan kepada Allah ketika pasukannya bertemu dengan pasukan kaum Muslimin. Ia berdoa: “Ya Allah, siapa sebenarnya yang memutuskan silaturahim dan datang membawa ajaran yang tidak dikenal. Buktikanlah kemusnahannya besok.” Itulah permintaan kemenangan yang disebut Allah dalam ayat ini (al-Anfaal: 19).

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari ‘Athiyyah bahwa Abu Jahl pernah berdoa: “Ya Allah, tolonglah yang paling mulia diantara dua golongan ini, yang paling terhormat diantara dua pasukan ini.” Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 19) sebagai penegasan bahwa kemenangan ada di pihak kaum Muslimin yang paling mulia dan terhormat.

27. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu Mengetahui.”
(al-Anfaal: 27)

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dan lain-lain, yang bersumber dari ‘Abdullah bin Abi Qatadah bahwa turunnya ayat ini (al-Anfaal: 27) berkenaan dengan Abu Lubabah bin ‘Abdil Mundzir (seorang Muslim) yang ditanya oleh Bani Quraizhah (yang memusuhi kaum Muslimin), waktu perang Quraizhah, tentang rencana kaum Muslimin terhadap mereka. Abu Lubabah memberi isyarat dengan tangan pada lehernya (maksudnya akan dibunuh). Setelah turun ayat ini (al-Anfaal: 27), Abu Lubabah menyesali perbuatannya karena membocorkan rahasia kaum Muslimin. Ia berkata: “Teriris hatiku hingga kedua kakiku tidak dapat digerakkan, karena aku merasa telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan lain-lain yang bersumber dari Jabir bin ‘Abdillah. Sanad hadits ini sangat gharib, dan susunan bahasanya pun perlu diteliti kembali. Bahwa Abu Sufyan meninggalkan Mekah (untuk memata-matai kegiatan kaum Muslimin). Hal ini disampaikan Jibril kepada Nabi saw.. Bersabdalah Rasulullah saw. kepada para shahabat: “Abu Sufyan sekarang berada di suatu tempat. Tangkaplah dan tahanlah dia.” Seorang dari kaum munafikin yang mendengar perintah Rasul itu memberitahukannya dengan surat kepada Abu Sufyan agar ia berhati-hati karena Nabi Muhammad telah mengetahui maksudnya. Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 27) sebagai peringatan untuk tidak berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Suddi bahwa kaum Muslimin mendengarkan perintah Nabi saw. (yang perlu dirahasiakan), tetapi disebarkan di antara kawan-kawannya sehingga sampai pula kepada kaum musyrikin. Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 27) yang menegaskan bahwa penyebaran perintah seperti itu berarti berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: