Asbabun Nuzul Surah Al-Anfaal (3)

28 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

tulisan arab alquran surat al anfaal ayat 30“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (al-Anfaal: 30)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika segolongan kaum Quraisy dan pembesar dari suku-suku lainnya akan memasuki Darun Nadwah (balai pertemuan), iblis, yang menyeru (menyamar) sebagai orang yang patut dipertuankan dan dihormati, menghadang mereka. Ketika melihatnya, mereka bertanya: “Siapakah tuan?” Iblis menjawab: “Saya seorang syekh dari Najd yang ingin mendengar apa yang akan dimusyawarahkan oleh kalian (tentang Muhammad), dan ingin menyaksikan permusyawaratan itu. Mudah-mudahan aku dapat menyumbangkan fikiran dan nasehat.” Merekapun menyetujuinya. Lalu iblis pun masuk bersama mereka.

Syekh Najd (iblis) berkata: “Bagaimana pendapat kalian tentang (hukuman yang pantas bagi) Muhammad?” Salah seorang dari mereka berkat: “Masukkan saja ke dalam penjara dan ikatlah kaki dan tangannya sampai mati, sebagaimana matinya dua orang penyair, Zuhair dan an-Nabighah, karena perbuatannya pun sama seperti salah seorang diantara mereka.” ‘Aduwwullah (si musuh Allah) Syekh Najd berkata: “Demi Allah, pendapat seperti itu tidak baik, karena nanti akan ada orang yang simpati kepadanya, lalu memberitahukan tempat tahanannya kepada shahabat-shahabatnya. Mereka akan segera menyerbu, mengambil dari tangan kalian dan menjaganya. Dengan demikian kalian tidak akan aman dari gangguan mereka yang akan mengusir kalian dari negeri ini. Cobalah keluarkan pendapat yang lain.”

Salah seorang lainnya berkata: “Usir saja dia dari negeri kita, agar kita dapat terbebas dari gangguan dan ucapannya.” Berkatalah Syekh Najd: “Demi Allah pendapat inipun tidak baik. Apakah tuan-tuan tidak mengenal omongannya yang begitu menarik, lisannya yang begitu lincah, dan perkataannya yang begitu manis? Demi Allah jika kalian berbuat demikian, orang Arab dan segala suku akan mengikutinya dan menurut kepadanya. Akhirnya mereka akan bersatu padu mengusir kalian dari tanah tumpah darah kalian dan akan membunuh kalian.” Mereka berkata: “Benar, demi Allah, cobalah kemukakan pendapat yang lainnya.” Abu Jahl berkata: “Demi Allah, aku akan memberikan pendapat yang tidak ada taranya.”

Mereka berkata: “Bagaimana pendapatmu itu?” Abu Jahl berkata: “Kamu ambil dari setiap kabilah, seorang pemuda yang kuat dan gagah berani. Masing-masing dibekali pedang yang tajam dan ditugasi mencincang Muhammad bersama-sama, sehingga pertanggungjawabannya terbagi ke seluruh kabilah. Aku yakin, Bani Hasyim tidak akan mampu melawan seluruh suku Quraisy.”
Pendapat ini diterima dan diputuskan secara aklamasi karena menurut mereka masuk akal. Maka berkatalah Syekh Najd: “Demi Allah, itu buah pikiran yang sangat baik. Aku tidak mendapat yang lainnya.” Merekapun bubar dari tempat pertemuan itu untuk melaksanakan keputusannya.

Maka datanglah Jibril kepada Nabi saw. memerintahkan agar beliau tidak tidur di tempat yang biasa, dan menyampaikan keputusan pertemuan mereka. Maka Rasulullah pada malam itu tidak bermalam di rumahnya. Allah memberi izin kepada beliau untuk meninggalkan kota Mekah. Ayat ini (al-Anfaal: 30) turun setelah Rasulullah sampai ke Madinah, yang menerangkan Nikmat yang diberikan Allah kepada beliau (agar disyukuri).

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari ‘Ubaid bin ‘Umair yang bersumber dari al-Muththalib bin Abi Wada’ah, bahwa Abu Thalib bertanya kepada Nabi saw.: “Tahukah engkau apa yang dimusyawarahkan oleh kaum-mu (Quraisy)?” Nabi menjawab: “Mereka akan memenjarakanku, membunuhku, atau mengusirku.” Berkatalah Abu Thalib: “Siapa yang memberitahu hal itu kepadamu?” Nabi menjawab: “Raab-ku.” Abu Thalib berkata: “Rabb-mu adalah sebai-baik Rabb. Aku berwasiat agar engkau berbuat baik kepada-Nya.” Nabi bersabda: “Aku menerima perintah-Nya dengan sebaik-baiknya, dan Rabb-ku telah berbuat baik kepadaku.” Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 30) berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Ibnu Katsir berkata: “Hadits ini gharib bahkan munkar, karena menyebut Abu Thalib pada riwayat hijrah, padahal Abu Thalib sudah meninggal sebelumnya.”

31. “Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat kami, mereka berkata: “Sesungguhnya kami Telah mendengar (ayat-ayat yang seperti ini), kalau kami menhendaki niscaya kami dapat membacakan yang seperti ini, (Al Quran) Ini tidak lain hanyalah dongeng-dongengan orang-orang purbakala”.
(al-Anfaal: 31)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa Rasulullah saw. menetapkan hukum bunuh bagi penjahat perang dalam perang Badr, yaitu bagi ‘Uqbah bin Abi Mu’aith, Tha’imah bin ‘Adi, dan an-Nadlr bin al-Harits. Akan tetapi al-Miqdad berkeberatan atas putusan hukum mati bagi an-Nadlr bin al-Harits dengan berkata: “Ini tawananku, ya Rasulullah.” Rasulullah saw. menegaskan bahwa dialah orangnya yang mengatakan bahwa dirinya dapat membuat ayat seperti ayat-ayat al-Qur’an. Orang inilah (an-Nadlr) yang dimaksudkan dalam ayat tersebut di atas (al-Anfaal: 31).

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: