Asbabun Nuzul Surah Al-Anfaal (6)

28 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

65. “Hai nabi, Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti*”
(al-Anfaal: 65)

*Maksudnya: mereka tidak mengerti bahwa perang itu haruslah untuk membela keyakinan dan mentaati perintah Allah. mereka berperang Hanya semata-mata mempertahankan tradisi Jahiliyah dan maksud-maksud duniawiyah lainnya.

66. “Sekarang Allah Telah meringankan kepadamu dan dia Telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”
(al-Anfaal: 66)

Diriwayatkan oleh Ishaq bin Rahawaih di dalam Musnad-nya, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika turun surah al-Anfaal ayat 65 yang mewajibkan perang satu lawan sepuluh, kaum Muslimin merasa keberatan sehingga Allah memberikan keringanan kepada mereka, yaitu setiap satu orang melawan dua orang, dengan menurunkan ayat berikutnya (al-Anfaal: 66)

67. “Tidak patut, bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(al-Anfaal: 67)

68. “Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang Telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar Karena tebusan yang kamu ambil.”
(al-Anfaal: 68)

Diriwayatkan oleh Ahmad dan lain-lain, yang bersumber dari Anas bahwa Nabi saw. bermusyawarah dengan para shahabatnya memperbincangkan hal tawanan perang Badr. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah memenangkan kalian dan mengalahkan mereka. Bagaimana pendapat kalian tentang tawanan perang ini?” ‘Umar berkata: “Ya Rasulullah, penggallah batang leher mereka.” Rasulullah tidak menerima sarannya itu. Abu Bakr berkata: “Ampunilah mereka dan terimalah fidaa’ (tebusan) dari mereka.” Lalu Rasulullah mengampuni mereka dan menerima fidaa’. Kedua ayat ini (al-
Anfaal: 67-68) turun berkenaan dengan peristiwa tersebut sebagai teguran kepada Nabi saw., dan pernyataan bahwa tindakannya itu dimaafkan, karena telah ada ketentuan Allah mengenai hal itu.

Diriwayatkan oleh Ahmad, at-Tirmidzi, dan al-Hakim, yang bersumber dari Ibnu Mas’ud bahwa setelah terjadi perang Badr dan tawanan telah dikumpulkan, Rasulullah saw. bersabda: “Bagaimana pendapat kalian tentang tawanan ini?” Kejadian selanjutnya sama dengan hadits di atas. Turunnya ayat ini (al-Anfaal: 67-68) sejalan dengan pendapat ‘Umar.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi yang bersumber dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. bersabda: “Tidak pernah dihalalkan ghanimah kepada siapapun, demikian pula kepada seorang pemimpin sebelum kalian. Di masa dahulu, api turun dari langit dan memusnahkan ghanimah.” Ketika Perang Badr, kaum Muslimin mengambil ghanimah sebelum dihalalkan kepada mereka. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Anfaal: 67) sebagai teguran terhadap perbuatan kaum Muslimin.

70. “Hai nabi, Katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu: “Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang Telah diambil daripadamu dan dia akan mengampuni kamu”. dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(al-Anfaal: 70)

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani di dalam kitab al-Ausath, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Ibnu ‘Abbas berkata: “Demi Allah, ayat ini (al-Anfaal: 70) turun berkenaan dengan diriku ketika aku mengingatkan Rasulullah saw. bahwa aku telah masuk Islam, dan meminta kembali hartaku sebanyak 20 uuqiyyah (ons) emas yang dirampas dalam peperangan dan mengharap ampunan dari Allah. Sebagai penggantinya Rasulullah memberikan kepadaku 20 orang ‘abid yang sekarang memperdagangkan hartaku dengan jujur, yang sangat menguntungkan.” Ayat ini (al-Anfaal: 70) menegaskan bahwa Allah akan memberikan yang lebih baik daripada apa yang telah dirampas dalam peperangan, kepada tawanan-tawanan yang masuk Islam, dan menjanjikan ampunan-Nya.

73. “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang Telah diperintahkan Allah itu*, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.”
(al-Anfaal: 73)

*yang dimaksud dengan apa yang Telah diperintahkan Allah itu: keharusan adanya persaudaraan yang teguh antara kaum muslimin.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Abusy Syaikh, dari as-Suddi yang bersumber dari Abu Malik bahwa seorang Mukmin bertanya tentang pemberian harta waris kepada anggota keluarga yang termasuk kaum musyrikin. Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 73) yang menegaskan bahwa kaum musyrikin selalu saling membantu dengan sesama musyrikin, dan kaum Muslimin pun harus saling membantu dengan sesama Muslimin. Oleh karena itu kaum Muslimin tidak dibenarkan menyerahkan harta waris kepada mereka.

75. “Dan orang-orang yang beriman sesudah itu Kemudian berhijrah serta berjihad bersamamu Maka orang-orang itu termasuk golonganmu (juga). orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yang bukan kerabat)* di dalam Kitab Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”
(al-Anfaal: 75)

*Maksudnya: yang jadi dasar waris mewarisi dalam Islam ialah hubungan kerabat, bukan hubungan persaudaraan keagamaan sebagaimana yang terjadi antara muhajirin dan anshar pada permulaan Islam.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnuz Zubair bahwa seorang Muslim telah membuat perjanjian dengan yang lainnya untuk saling mewarisi hartanya. Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 75) yang menegaskan bahwa harta waris itu lebih utama diberikan kepada kaum keluarga yang sudah ada ketentuannya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dari Hisyam bin ‘Urwah yang bersumber dari bapaknya (‘Urwah) bahwa Rasulullah saw. menjadikan az-Zubair bin al-‘Awwam dan Ka’b bin Malik sebagai saudara. Az-Zubair berkata: “Ketika aku melihat Ka’b terluka parah dalam perang Uhud, aku berkata bahwa apabila ia gugur, maka terputuslah dengan dunia dan ahlinya, sehingga akupun jadi pewarisnya.” Maka turunlah ayat ini (al-Anfaal: 75) yang menegaskan bahwa harta waris itu diutamakan bagi keluarga, dan tidak bagi orang yang diangkat menjadi saudara.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: