Asbabun Nuzul Surah Al-Maa-idah (1)

28 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

2. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah[1], dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram[2], jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya[3], dan binatang-binatang qalaa-id[4], dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya[5]dan apabila kamu Telah menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah berburu. dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum Karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”
(al-Maa’idah: 2)

[1]Syi’ar Allah ialah: segala amalan yang dilakukan dalam rangka ibadat haji dan tempat-tempat mengerjakannya.
[2]maksudnya antara lain ialah: bulan Haram (bulan Zulkaidah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab), tanah Haram (Mekah) dan Ihram., maksudnya ialah: dilarang melakukan peperangan di bulan-bulan itu.
[3]ialah: binatang (unta, lembu, kambing, biri-biri) yang dibawa ke ka’bah untuk mendekatkan diri kepada Allah, disembelih ditanah Haram dan dagingnya dihadiahkan kepada fakir miskin dalam rangka ibadat haji.
[4]ialah: binatang had-ya yang diberi kalung, supaya diketahui orang bahwa binatang itu Telah diperuntukkan untuk dibawa ke Ka’bah.
[5]dimaksud dengan karunia ialah: keuntungan yang diberikan Allah dalam perniagaan. keredhaan dari Allah ialah: pahala amalan haji.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah. Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh as-Suddi bahwa al-Hathm bin Hind al Bakri datang ke Madinah membawa kafilah yang penuh dengan makanan, dan memperdagangkannya. Kemudian ia menghadap Nabi saw. untuk masuk Islam dan berbaiat (bersumpah setia). Setelah ia pulang, Nabi saw. bersabda kepada orang-orang yang ada pada waktu itu bahwa ia masuk ke sini dengan muka seorang penjahat dan pulang dengan punggung pengkhianat. Dan sesudah sampai ke Yamamah, ia pun murtad dari agama Islam.
Pada suatu waktudi bulan Zulkaidah, ia (al-Hathm) berangkat membawa kafilah yang penuh dengan makanan menuju Mekah. Ketika para shahabat Nabi mendengar berita kepergiannya ke Mekah, bersiaplah segolongan Muhajirin dan Anshar untuk mencegat kafilahnya. Akan tetapi turunlah ayat ini (al-Maaidah: 2) yang melarang perang pada bulan haram. Pasukan itupun tidak jadi mencegatnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Zaid bin Aslam bahwa dengan terhalangnya Rasulullah saw. dan para shahabatnya mengerjakan umrah di Masjidil Haram di Mekah (yang menimbulkan perjanjian Hudaibiyyah di antara kaum Muslimin dan musyrikin), para shahabat Nabi merasa kesal karenanya.
Pada suatu hari lewatlah orang-orang musyrikin dari penduduk masyriq (timur) akan menjalankan umrah. Berkatalah para shahabat Nabi saw.: “Mari kita cegat mereka sebagaimana mereka pernah mencegat shahabat-shahabat kita.” Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Maa’idah: 2) sebagai larangan membalas dendam.

3. “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah[1], daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya[2], dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah[3], (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. pada hari ini[4] orang-orang kafir Telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa Karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(al-Maa’idah: 3)

[1] ialah: darah yang keluar dari tubuh, sebagaimana tersebut dalam surat Al An-aam ayat 145.
[2] maksudnya ialah: binatang yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk dan yang diterkam binatang buas adalah halal kalau sempat disembelih sebelum mati.
[3] Al Azlaam artinya: anak panah yang belum pakai bulu. orang Arab Jahiliyah menggunakan anak panah yang belum pakai bulu untuk menentukan apakah mereka akan melakukan suatu perbuatan atau tidak. Caranya ialah: mereka ambil tiga buah anak panah yang belum pakai bulu. setelah ditulis masing-masing yaitu dengan: lakukanlah, Jangan lakukan, sedang yang ketiga tidak ditulis apa-apa, diletakkan dalam sebuah tempat dan disimpan dalam Ka’bah. bila mereka hendak melakukan sesuatu Maka mereka meminta supaya juru kunci ka’bah mengambil sebuah anak panah itu. Terserahlah nanti apakah mereka akan melakukan atau tidak melakukan sesuatu, sesuai dengan tulisan anak panah yang diambil itu. kalau yang terambil anak panah yang tidak ada tulisannya, Maka undian diulang sekali lagi.
[4] yang dimaksud dengan hari ialah: masa, yaitu: masa haji wada’, haji terakhir yang dilakukan oleh nabi Muhammad s.a.w.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mandah di dalam kitab ash-Shahaabah, dari ‘Abdullah bin Jabalah bin Hibban bin Hajar, dari bapaknya, yang bersumber dari datuknya (hibban bin Hajar) bahwa ketika Hibban sedang menggodok daging bangkai, Rasulullah saw. ada bersamanya. Maka turunlah ayat ini (al-Maa’idah: 3) yang mengharamkan bangkai. Seketika itu juga isi panci itu dibuang.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: