Asbabun Nuzul Surah Baraa’ah / At-Taubah (2)

28 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

25. “Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai Para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, Yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang Luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.”
(Baraa’ah: 25)

Diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam kitab ad-Dalaa-il, yang bersumber dari ar-Rabi’ bin Anasa bahwa seseorang yang ikut dalam peperangan Hunain berkata: “Kita tidak akan kalah sekarang ini karena banyaknya jumlah pasukan kita.” Pada waktu itu jumlah pasukan kaum Mukminin sebanyak 12.000 orang. Mendengar perkataan itu Nabi saw. merasa sesak dadanya. Turunnya ayat ini (Baraa’ah: 25) berkenaan dengan malapetaka besar yang dialami kaum Mukminin dalam Perang Hunain karena merasa bangga dengan banyaknya pasukan mereka.

28. “Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis*, Maka janganlah mereka mendekati Masjidilharam** sesudah tahun ini***. dan jika kamu khawatir menjadi miskin****, Maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karuniaNya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(Baraa’ah: 28)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kaum musyrikin biasa datang ke Mekah membawa makanan untuk dijual di sana. Setelah kaum musyrikin dilarang datang ke Mekah (dengan turunnya awal surah Baraa’ah ayat 28), kaum Muslimin berkata: “Darimana kita dapatkan makanan?” Maka Allah menurunkan kelanjutan ayat tersebut (Baraa’ah: 28), yang menegaskan bahwa Allah akan memberikan kecukupan dengan karunia-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Abusy Syaikh, yang bersumber dari Sa’id bin Jubair. Hadits seperti ini bersumber pula dari ‘Ikrimah, ‘Athiyyah al ‘Aufi, adl-Dlahhak, Qatadah dan lain-lain. Bahwa ketika turun ayat, innamal musyrikun najasung falaa yaqrabul masjidal haraama ba’da ‘aamihim haadzaa…(… sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini…) (Baraa’ah: 28) kaum Muslimin menjadi gelisah karena dilarangnya kaum musyrikin memasuki Mekah. Mereka berkata: “Siapa yang akan membawa makanan dan pakaian untuk kita?” Maka turunlah kelanjutan ayat tersebut (Baraa’ah: 28) yang menegaskan bahwa Allah yang akan memberikan kecukupan kepada mereka.

30.”orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al masih itu putera Allah”. Demikianlah itu Ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru Perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?”
(Baraa’ah: 30)

* Maksudnya: jiwa musyrikin itu dianggap kotor, karena menyekutukan Allah.
** Maksudnya: tidak dibenarkan mengerjakan haji dan umrah. menurut Pendapat sebagian mufassirin yang lain, ialah kaum musyrikin itu tidak boleh masuk daerah Haram baik untuk keperluan haji dan umrah atau untuk keperluan yang lain.
*** Maksudnya setelah tahun 9 Hijrah.
**** Karena tidak membenarkan orang musyrikin mengerjakan haji dan umrah, karena pencaharian orang-orang Muslim boleh Jadi berkurang.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Salam bin Musykam, Nu’man bin Aufa, Muhammad bin Dihyas, Syas bin Qais, dan Malik bin ash-Shaif menghadap Rasulullah saw. seraya berkata: “Bagaimana kami bisa mengikuti tuan, padahal tuan sudah meninggalkan kiblat kami dan tidak menganggap ‘Uzair sebagai putra Allah.” Berkenaan dengan peristiwa tersebut turunlah ayat ini (Baraa’ah: 30), yang menegaskan bahwa ucapan Yahudi itu sama dengan ucapan kaum kafir sebelum mereka yang telah dibinasakan oleh Allah.

37. “Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan Haram itu* adalah menambah kekafiran. disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, Maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. (syaitan) menjadikan mereka memandang perbuatan mereka yang buruk itu. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”
(Baraa’ah: 37)

*Muharram, Rajab, Zulqaedah dan Zulhijjah adalah bulan-bulan yang dihormati dan dalam bulan-bulan tersebut tidak boleh diadakan peperangan. tetapi peraturan ini dilanggar oleh mereka dengan Mengadakan peperangan di bulan Muharram, dan menjadikan bulan Safar sebagai bulan yang dihormati untuk pengganti bulan Muharram itu. Sekalipun bulangan bulan-bulan yang disucikan yaitu, empat bulan juga. tetapi dengan perbuatan itu, tata tertib di Jazirah Arab menjadi kacau dan lalu lintas perdagangan terganggu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Abu Malik bahwa kaum kafir menjadikan tiga belas bulan untuk tiap tahun, sehingga jatuhnya bulan Muharam itu pada bulan Safar. Dengan demikian mereka dapat menghalalkan hal-hal yang diharamkan dalam bulan Muharam. Maka Allah menurunkan ayat ini (Baraa’ah: 37) yang menegaskan bahwa perbuatan seperti itu hanya menambah kekufuran mereka sendiri.

38. “Hai orang-orang yang beriman, Apakah sebabnya bila dikatakan kepadamu: “Berangkatlah (untuk berperang) pada jalan Allah” kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu puas dengan kehidupan di dunia sebagai ganti kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) diakhirat hanyalah sedikit.”
(Baraa’ah: 38)

39.” jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(Baraa’ah:39)

40. “Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) Maka Sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang Dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu Dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita.” Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir Itulah yang rendah. dan kalimat Allah Itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana*.

*Maksudnya: orang-orang kafir telah sepakat hendak membunuh Nabi SAW, Maka Allah s.w.t. memberitahukan maksud jahat orang-orang kafir itu kepada Nabi SAW. karena itu Maka beliau keluar dengan ditemani oleh Abu Bakar dari Mekah dalam perjalanannya ke Madinah beliau bersembunyi di suatu gua di bukit Tsur.

41. “Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”
(Baraa’ah: 41)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid bahwa ayat ini (Baraa’ah: 38) turun sesudah fat-hu Makkah, ketika kaum Muslimin diperintahkan menyerang kota Tabuk. Pada waktu itu musim panas, buah-buahan hampir matang yang merangsang mereka untuk duduk berteduh di bawah pohon sambil menikmati buah-buahan. Mereka merasa enggan meninggalkan tempat untuk melaksanakan perintah. Ayat ini (Baraa’ah: 38-40) memberikan peringatan kepada mereka bahwa kenikmatan seperti itu tidak ada artinya bila dibandingkan dengan kenikmatan di akhirat. Kemudian turunlah ayat berikutnya (Baraa’ah: 41) yang memerintahkan untuk melaksanakan perintah, baik dengan perasaan ringan ataupun berat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Najdah bin Nafi’ bahwa Najdah bin Nafi’ bertanya kepada Ibnu ‘Abbas tentang ayat ini (Baraa’ah: 39). Ia menjawab: “Rasulullah memerintahkan berangkat ke medan perang kepada beberapa suku bangsa Arab, tetapi mereka enggan melaksanakan perintah itu. Maka turunlah ayat ini (Baraa’ah: 39) sebagai ancaman terhadap keengganan mereka. Merekapun mendapat siksa dari Allah dengan tidak turun hujan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Hadlrami bahwa di antara kaum Muslimin mungkin terdapat orang-orang yang sakit atau lemah karena tua, sehingga merasa berdosa tidak ikut perang sabil. Maka Allah menurunkan ayat ini (Baraa’ah: 41) yang memerintahkan berangkat perang, baik dengan perasaan ringan ataupun berat.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: