Asbabun Nuzul Surah Baraa’ah / At-Taubah (4)

28 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

65. “dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya Kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”
(Baraa’ah: 65)

66. “tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.”
(Baraa’ah: 66)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Umar. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim melalui rawi lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Umar, -riwayatnya seperti hadits berikut-, dengan menyebutkan nama orang munafik itu, yakni ‘Abdullah bin Ubay. Bahwa pada Peperangan Tabuk ada seorang laki-laki berkata di dalam suatu majelis: “Kami tidak pernah mendapat kitab seperti Qur’an mereka, tidak pernah melihat orang yang lebih mementingkan perut, lebih pembohong, dan lebih pengecut waktu berhadapan dengan musuh daripada mereka.” Berkatalah yang lainnya: “Engkau dusta. Engkau benar-benar seorang munafik. Akan kukatakan hal ini kepada Rasulullah.” Berita ini sampai kepada Rasulullah, dan turunlah ayat ini (Baraa’ah: 65) sebagai larangan memperolok-olokkan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya. Selanjutnya dalam riwayat itu dikemukakan bahwa Ibnu ‘Umar melihat orang itu bergantung pada ikat pinggang unta Rasulullah sehingga batunya tersandung-sandung pada batu, sambil berkata: “Ya Rasulullah. Saya hanya bergurau dan main-main saja.” Rasulullah saw. bersabda (sesuai dengan ayat tersebut di atas): “Apakah patut kamu memperolok-olokkan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya?”

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ka’b bin Malik. Bahwa Makhsyi bin Humair berkata: “Aku bersedia dihukum oleh kalian dengan dipukul seratus kali sebagai penebus agar tidak diturunkan ayat-ayat al-Quran yang ditujukan kepada kita.”Berita ini sampai kepada Nabi saw., tetapi kemudian mereka datang menghadap beliau seraya mngemukakan berbagai dalih. Maka turunlah ayatini (Bara’ah: 66) sebagai larangan untuk mencari-cari dalih, dan menganjurkan mereka untuk bertobat. Selanjutnya dalam riwayat itu dikemukakan bahwa Makhsyi bin Humair, yang kemudian namanya dibagi menjadi ‘Abdurrahman, Dimaafkan oleh Allah swt. Makhsyi memohon kepada Allah agar ia dapat mati syahid tanpa diketahui tempat gugurnya. Ia pun gugur pada perang yamamah tanpa diketahui tempat dan nama pembunuhnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah.Bahwa pada waktu Perang Tabuk, orang-orang munafik berkata dengan sinis: “Orang ini (Muhammad) berkeinginan menguasai negara Syam dan benteng-bentengnya. Alangkah hebatnya bukan?” Pembicaraan ini Disampaikan oleh Allah swt. kepada nabi-Nya. Nabi saw. mendatangi mereka sambil berkata: “kalian mengucapkan kata-kata itu?” Mereka menjawab: “Kami ini hanya bersenda gurau dan hanya main-main saja.” Maka turunlah ayat ini (Bara’ah: 65) sebagai larangan memperolok-olokan Allah dan Rasul-nya.

74. “mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan Perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya*, dan mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidaklah mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.”

* Maksudnya: mereka ingin membunuh Nabi Muhammad s.a.w.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Hatim yang bersumber dari Ka’b bin Malik. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Sa’d di dalam kitab ath-Thabaqaat yang bersumber dari ‘Urwah. Bahwa al-Jallas bin Suwaid bin Ash-Shamit termasuk orang yang berdiam diri, tidak mau mengikuti Rasulullah saw. dalam Perang Tabuk. Ia berkata: “Jika orang ini (Muhammad) benar, tentu kita yang membangkang ini berderajat lebih rendah daripada keledai.” Perkataan itu disampaikan oleh ‘Umar bin Sa’id kepada Rasulullah saw.. Akan tetapi al-Jallas membantahnya dengan bersumpah atas nama Allah bahwa dirinya tidak pernah berkata demikian. Maka turunlah ayat ini (Baraa’ah: 74) sebagai janji Allah untuk mengampuni orang yang bertaubat dan menyiksa orang-orang yang berpaling dari-Nya. Selanjutnya dalam riwayat itu dikemukakan bahwa al-Jallas bertaubat dengan sebaik-baiknya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Anas bin Malik bahwa pada saat Rasulullah saw. berkhotbah, Zaid bin Arqam mendengar seorang munafik berkata: “Jika ucapannya ini benar, tentu kita ini bernasib lebih rendah daripada himar.” Ucapan ini disampaikan kepada Nabi saw. tetapi orang itu memungkirinya. Maka turunlah ayat ini (Baraa’ah: 74) yang menegaskan bahwa ucapan dan sumpahnya itu merupakan perbuatan orang kafir.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi saw. sedang berteduh di bawah sebuah pohonn sambil berkata: “Akan datang kepada kalian seseorang yang berpandangan seperti pandangan setan.” Sekonyong-konyong datanglah seorang laki-laki berpakaian biru. Orang itu dipanggil oleh Rasulullah saw. seraya berkata: “Mengapa kamu dan temanmu mencaci maki aku?” Pergilah orang itu dan datang kembali membawa teman-temannya. Kemudian mereka bersumpah atas nama Allah dan memungkiri perbuatan itu, sehingga Rasulullah saw.pun memaafkannya. Maka Allah menurunkan ayat ini (Baraa’ah: 74) sebagai pemberitahuan bahwa mereka bersumpah palsu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah bahwa seorang laki-laki suku Juhainah kalah berkelahi dengan seorang laki-laki dari suku Ghifar. Suku Juhainah adalah sekutu kaum Anshar. Berkatalah ‘Abdullah bin Ubay (munafik) kepada kaum Aus (Anshar): “Belalah saudaramu. Demi Allah, kita dengan Muhammad tak ubahnya seperti kata peribahasa ‘Gemukkan anjingmu, niscara dia akan memakanmu’. Kelak apabila kita pulang ke Madinah, yang mulia di antara kita akan mengusir yang hina (Muhammad).” Hal ini diberitahukan kepada Rasulullah saw.. Kemudian ‘Abdullah bin Ubay dipanggil dan ditanya, tetapi ia mungkir seraya bersumpah atas nama Allah. Maka turunlah ayat ini (Baraa’ah: 74) yang menegaskan kekafirannya.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ada seseorang bernama al-Aswad bermaksud membunuh Nabi saw.. Turunlah kelanjutan ayat ini (Baraa’ah: 74) yaitu,…. wa hammuu bi maa lam yanaaluu.. (… dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya…), yang menegaskan bahwa maksudnya tidak akan tercapai.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Abusy Syaikh yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa maulaa Bani ‘Adi bin Ka’b membunuh seorang Anshar. Lalu Rasulullah saw. memutuskan agar pembunuhnya membayar diat (denda) sebesar 12.000 kepada keluarga terbunuh. Berkenaan dengan peristiwa tersebut, maka turunlah kelanjutan ayat ini (Baraa’ah: 74) yang menjelaskan kesombongan mereka untuk berbuat sewenang-wenang karena merasa kaya.

75. “dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karunia-Nya kepada Kami, pastilah Kami akan bersedekah dan pastilah Kami Termasuk orang-orang yang saleh.”
(Baraa’ah: 75)

76. “Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebahagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran).”
(Baraa’ah: 76)

77. “Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan juga karena mereka selalu berdusta.”
(Baraa’ah: 77)

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani, Ibnu Marduwaih, Ibnu Abi Hatim, dan al-Baihaqi di dalam kitab ad-Dalaa-il, dengan sanad yang dhaif, yang bersumber dari Abu Umamah. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Marduwaih, dari al-‘Aufi, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Tsa’labah bin Hatib berkata kepada Rasulullah saw,: “Ya Rasulullah. Berdoalah kepada Rabb agar Ia memberikan rizki kepadaku.” Nabi menjawab: “Aduhai Tsa’labah. Barang sedikit yang engkau syukuri lebih baik daripada banyak tetapi tidak dapat engkau syukuri.” Ia berkata lagi: “Demi Allah. Jika Ia memberikan harta benda kepadaku, pasti akan kutunaikan kewajibanku terhadap orang yang berhakl.” Lalu Rasulullah berdoa untuk Tsa’labah, dan Allah mengabulkannya. Mula-mula Tsa’labah memiliki seekor biri-biri. Dari seekor itu kemudian beranak pinak sehingga memenuhi lorong di kota Madinah, sehingga ia pun terpaksa pindah ke tempat yang agak jauh. Ia menggembalakan biri-birinya setelah setelah melaksanakan shalat berjamaah setiap waktu. Karena semakin berkembang biak biri-birinya, tempat penggembalaan di Madinah tidak memungkinkannya lagi, sehingga terpaksa ia memindahkan ternaknya dari Madinah. Dengan demikian, ia hanya sempat ke masjid untuk melaksanakan shalat Jum’at. Setelah pindah untuk ketiga kalinya, iapun tidak sempat lagi melaksanakan shalat berjamaah ataupun shalat Jum’at. Ketika turun surah Baraa’ah ayat 103, Rasulullah saw. mengutus dua orang untuk mengambil harta sedekah dari orang-orang kaya, dengan membawa surat perintah. Mereka mendatangi Tsa’labah dan membacakan surat itu. Tsa’labah berkata: “Pergilah kepada yang lain lebih dahulu, sekiranya telah selesai mendatangi yang lain, mampirlah kembali kepadaku.” Setelah kedua kalinya kembali, Tsa’labah pun berkata: “Bukankah ini semacam upeti?” Maka pergilah kedua orang itu meninggalkan Tsa’labah. Turunnya ayat tersebut di atas (Baraa’ah: 75-77) berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai ancaman kepada orang yang berjanji dengan bersumpah tapi tidak menunaikannya.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: