Asbabun Nuzul Surah Baraa’ah / At-Taubah (6)

28 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

102. “dan (ada pula) orang-orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampurbaurkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima taubat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Baraa’ah: 102)

103. “ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan* dan mensucikan** mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”
(Baraa’ah: 103)

*Maksudnya: zakat itu membersihkan mereka dari kekikiran dan cinta yang berlebih-lebihan kepada harta benda
**Maksudnya: zakat itu menyuburkan sifat-sifat kebaikan dalam hati mereka dan memperkembangkan harta benda mereka.

106. “dan ada (pula) orang-orang lain yang ditangguhkan sampai ada keputusan Allah; adakalanya Allah akan mengazab mereka dan adakalanya Allah akan menerima taubat mereka. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(Baraa’ah: 106)

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih dan Ibnu Abi Hatim, dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika Rasulullah saw. berangkat jihad, Abu Lubabah dan lima orang kawannya meninggalkan diri. Abu Lubabah dan dua kawannya termenung dan menyesal atas perbuatannya, serta yakin akan bahaya yang akan menimpanya. Mereka berkata: “Kita disini bersenang-senang di bawah naungan pohon, hidup tenteram beserta istri-istri kita, sedangkan Rasulullah saw. beserta kaum Mukminin yang menyertainya sedang berjihad. Demi Allah, kami akan mengikat diri pada tiang-tiang dan tidak akan melepaskan talinya kecuali dilepaskan oleh Rasulullah.” Kemudian mereka melaksanakannya, sedang yang tiga orang lagi tidak berbuat demikian. Ketika pulang dari medan jihad, Rasulullah bertanya: “Siapakah yang diikat di tiang-tiang itu?” Berkatalah seorang laki-laki: “Mereka itu Abu Lubabah dan teman-temannya yang tidak ikut ke medan perang beserta tuan. Mereka berjanji tidak akan melepaskan diri mereka kecuali jika tuan yang melepaskannya.” Bersabdalah Rasulullah saw.: “Aku tidak akan melepaskan mereka sebelum aku mendapat perintah (dari Allah).” Maka turunlah ayat ini (Baraa’ah: 102) yang mengampuni dosa mereka. Setelah turun ayat tersebut, Rasulullah saw. melepaskan ikatan dan memberi maaf kepada mereka. Mengenai ketiga orang lainnya yang tidak disebutkan dalam ayat tersebut, diterangkan oleh Allah swt. dalam ayat selanjutnya (Baraa’ah: 106), bahwa nasib mereka ada di tangan Allah.
Sebagian orang mengatakan bahwa mereka tentu akan binasa karena tidak turun ayat pengampunan, dan yang lainnya mengharapkan ampunan bagi mereka. Maka turunlah ayat selanjutnya (Baraa’ah: 118) yang menegaskan bahwa Allah menerima tobatnya apabila mereka benar-benar bertobat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari ‘Ali bin Abi Thalhah yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Dan diriwayatkan pula, seperti riwayat yang dikemukakan oleh ‘Ali bin Abi Thalhah tersebut, oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Sa’id bin Jubair, adl-Dlahhak, Zaid bin Aslam, dan lain-lain bahwa
Seperti riwayat di atas, dengan tambahan bahwa Abu Lubabah bersama kedua temannya, setelah dilepaskan, datang menghadap Rasulullah saw. dengan membawa harta bendanya seraya berkata: “Ya Rasulullah, ini adalah harta benda kami, sedekahkanlah atas nama kami, dan mintakanlah ampunan bagi kami.” Rasulullah saw. menjawab: “Aku tidak diperintahkan untuk menerima harta sedikitpun.” Maka turunlah ayat selanjutnya (Baraa’ah: 103) yang memerintahkan untuk menerima sedekah mereka dan mendoakan mereka.

Diriwayatkan oleh ‘Abdullah yang bersumber dari Qatadah bahwa ayat ini (Baraa’ah: 103) turun berkenaan dengan tujuh orang (yang meninggalkan diri, tidak mengikuti Rasulullah saw. ke Perang Tabuk). Empat orang di antaranya mengikat dirinya masing-masing di tiang-tiang, yaitu: Abu Lubabah, Mirdas, Aus bin Khudzam, dan Tsa’labah bin Wadi’ah.

Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh dan Ibnu Mandah di dalam kitab ash-Shahaabah, dari ats-Tsauri, dari al-A’masy, dari Abu Sufyan, yang bersumber dari Jabir. Sanad hadits ini kuat. Bahwa diantara orang yang meninggalkan diri tidak ikut perang (di medan Perang Tabuk) beserta Rasulullah saw. ialah enam orang: Abu Lubabah, Aus bin Khudzamm, Tsa’labah bin Wadi’ah, Ka’b bin Malik, Mararah bin Rabi’, dan Hilal bin Umayyah. Abu Lubabah, Aus, dan Tsa’labah adalah orang-orang yang bertobat, yang mengikatkan dirinya masing-masing di tiang-tiang dengan harapan dibuka oleh Rasulullah saw.. Mereka juga menyerahkan harta bendanya kepada Rasulullah. Namun Rasulullah saw. tidak mau membukakan ikatan mereka sampai ada perang lagi. Maka turunlah ayat ini (Baraa’ah: 102) yang menegaskan bahwa mereka diampuni dosanya karena mereka hanya termasuk orang berdosa, bukan munafik.

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih –salah seorang rawi dalam sanadnya adalah al-Waqidi- yang bersumber dari Ummu Salamah, bahwa ayat mengenai diampuninya Abu Lubabah (Baraa’ah: 102), diterima Rasulullah pada waktu berada di rumah Ummu Salamah, istri beliau. Pada waktu itu Ummu Salamah mendengar Rasulullah saw. tertawa pada saat menjelang subuh. Ummu Salamah bertanya: “Apa yang engkau tertawakan, ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Abu Lubabah diterima tobatnya.” Ia berkata lagi: “Bolehkah saya beritahu kepadanya?” Rasulullah menjawab: “Terserah kepadmu.” Kemudian Ummu Salamah berdiri di pintu kamar –pada waktu itu belum diperintahkan hijab- dan berkata: “Hai Abu Lubabah, bergembiralah karena dosamu telah diampuni dan tobatmu telah diterima.” Maka berkumpullah orang-orang untuk melepaskan Abu Lubabah, tapi ia menolak seraya berkata: “Tunggulah sampai datang Rasulullah saw. untuk melepaskanku.” Ketika Rasulullah keluar untuk shalat shubuh, beliau sendiri yang melepaskannya.

107. “dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu*. mereka Sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” dan Allah menjadi saksi bahwa Sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya).”
(Baraa’ah: 107)

* Yang dimaksudkan dengan orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu ialah seorang pendeta Nasrani bernama Abu ‘Amir, yang mereka tunggu-tunggu kedatangannya dari Syiria untuk bersembahyang di masjid yang mereka dirikan itu, serta membawa tentara Romawi yang akan memerangi kaum muslimin. akan tetapi kedatangan Abu ‘Amir ini tidak Jadi karena ia mati di Syiria. dan masjid yang didirikan kaum munafik itu diruntuhkan atas perintah Rasulullah s.a.w. berkenaan dengan wahyu yang diterimanya sesudah kembali dari perang Tabuk.

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih dari Ibnu Ishaq, dari Ibnu Syihab az-Zuhri, dari Ibnu Akimah al-Laitsi, yang bersumber dari keponakannya yaitu Abu Rahm al-Ghifari, salah seorang yang turut berbaiat di bawah pohon, bahwa orang-orang yang membangun masjid Dlirar datang menghadap Rasulullah saw., yang pada waktu itu sedang bersiap-siap untuk berangkat ke Perang Tabuk. Berkatalah mereka: “Ya Rasulullah, kami telah membangun sebuah masjid untuk orang sakit, orang yang berhalangan, dan untuk shalat malam di musim dingin dan musim hujan. Kami mengharapkan sekali kedatangan tuan untuk shalat mengimami kami.” Rasulullah menjawab: “Aku sudah siap untuk bepergian. Namun jika kami sudah pulang, Insya Allah, akan datang untuk shalat mengimami kalian.” Ketika pulang dari Tabuk, beliau berhenti sebentar di Dzi Awan, suatu tempat yang jaraknya satu jam dari Madinah. Maka turunlah ayat ini (Baraa’ah: 107) yang melarang Rasulullah shalat di Masjid Dlirar, karena masjid itu didirikan untuk memecah belah umat. Lalu Rasulullah saw. memanggil Malik bin ad-Dakhsyin dan Ma’n bin ‘Adi atau saudaranya, ‘Ashim bin ‘Adi, seraya bersabda: “Berangkatlah kalian ke masjid yang dihuni oleh orang-orang zalim, hancurkanlah serta bakarlah masjid tersebut.” Lalu keduanya melaksanakan tugas itu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Marduwaih, dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa setelah lama Rasulullah saw. mendirikan masjid Quba’, beberapa kaum Anshar yang berdekatan dengan majid Quba’, di antaranya Yakhdad, mendirikan masjid an-Nifaq. Bersabdalah Rasulullah saw. kepada Yakhdad: “Celakalah engkau Yakhdad, engkau bermaksud melakukan sesuatu yang akupun tahu maksudnya.” Ia menjawab: “Saya tidak bermaksud apa-apa kecuali mengharapkan kebaikan.” Maka turunlah ayat ini (Baraa’ah: 107) yang menegaskan adanya orang-orang yang mendirikan masjid dengan maksud memecah belah umat.

sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: