Asbabun Nuzul Surah Al-Maa-idah (3)

29 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

11. “Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), Maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. dan bertakwalah kepada Allah, dan Hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakkal.”
(al-Maa’idah: 11)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah dan Yazid bin Abi Ziad. Lafal hadits ini bersumber dari Yazid. Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Abdullah bin Abi Bakr, ‘Ashim bin ‘Umar bin Qatadah, Mujahid, ‘Abdullah bin Katsir, dan Abu Malik. Bahwa Nabi saw. keluar bersama Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Thalhah, dan ‘Abdurrahman bin ‘Auf menuju Ka’b bin al-Asyraf dan Yahudi Banin Nadlir untuk meminjam uang sebagai pembayar diat (denda) yang harus dibayarnya. Orang Yahudi berkata: “Silakan duduk, kami akan menyajikan makanan dan memberikan apa yang tuan perlukan.” Kemudian Rasulullah saw. duduk. Hayy bin Akhthab berkata pada kawannya (tanpa setahu Nabi saw.): “Kalian tidak akan melihat dia lebih dekat dari sekarang. Timpakan batu ke kepalanya dan bunuhlah dia. Kalian nanti tidak akan menghadapi kesulitan lagi.” Mereka mengangkat batu penggiling gandum yang sangat besar untuk ditimpakan kepada Rasul. Akan tetapi Allah menahan tangan mereka, lalu datanglah Jibril memberitahukan agar Rasulullah bangkit dari tempat duduknya. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Maa-idah: 11) sebagai perintah untuk mensyukuri nikmat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah bahwa ayat ini (al-Maa-idah: 11) diturunkan kepada Rasulullah saw. di saat beliau berada di kebun kurma, ketika diintai oleh Bani Tsa’labah dan Bani Muharib pada ghazwah (peperangan yang dipimpin Rasulullah saw.) yang ketujuh. Mereka bermaksud membunuh Nabi saw. yang sedang tidur, dengan mengirim seorang Arab untuk melaksanakannya. Si Arab itu mengambil pedang Nabi kemudian menghunusnya dan menggertak beliau sambil berkata: “Siapa yang menghalangi engkau dari pedang ini?” Nabi bersabda: “Allah.” Maka jatuhlah pedang itu dari tangannya, tetapi Rasulullah tidak membalasnya. Ayat ini (al-Maa-idah: 11) turun sebagai perintah untukk selalu bertawakal kepada Allah.

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam kitab Dalaa-ilun Nubuwwah, dari al-Hasan, yang bersumber dari Jabir bin ‘Abdillah bahwa seorang laki-laki dari suku Muharib, namanya Ghaurats bin al-Harits, berkata kepada kaumnya: “Akan kubunuh Muhammad untuk kemenangan kalian.” Kemudian ia datang kepada Rasulullah saw. di saat beliau duduk-duduk, sedang pedang beliau terletak di pangkuannya. Ia berkata: “Coba aku lihat pedangmu itu.” Nabi bersabda: “Boleh.” Pedang itu diambilnya, dihunus dan diayun-ayunkkannya untuk ditetakkannya (dibacokkannya) sambil berkata: “Apakah engkau tidak takut padaku?” Nabi menjawab: “Tidak.” Ia berkata lagi: “Apakah engkau tidak takut, padahal pedang ada di tanganku?” Nabi menjawab: “Tidak, karena Allah akan menghalangi dan menyelamatkanku darimu.” Kemudian pedang itu dimasukkan lagi ke dalam sarungnya seraya diserahkan kembali kepada Rasulullah saw.. Maka turunlah ayat ini (al-Maa-idah: 11) sebagai ajaran untuk selalu ingat akan nikmat yang telah Allah berikan.

15. “Hai ahli kitab, Sesungguhnya Telah datang kepadamu Rasul kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya Telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menerangkan[1]”
(al-Maa’idah: 15)

[1] cahaya Maksudnya: nabi Muhammad s.a.w. dan Kitab Maksudnya: Al Quran.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa Nabi saw. didatangi orang-orang Yahudi yang bertanya tentang rajam. Nabi saw. bertanya: “Siapa diantara kalian yang paling ‘alim?” Mereka menunjuk Ibnu Shuriya. Nabi saw. meminta kepadanya untuk menjawab dengan sebenarnya sambil bersumpah atas Nama Allah yang telah menurunkan Taurat kepada Nabi Musa, Yang mengangkat gunung Thur, dan menetapkan sepuluh janji yang telah diterima oleh mereka serta menggemparkan mereka. Berkatalah Ibnu Shuriya: “Ketika telah banyak kaum kami yang mati dirajam karena zina, kami tetapkan hukum dera seratus kali dan kami cukur kepaalanya.” Maka ditetapkanlah kembali kepada kaum Yahudi hukum rajam. Lalu turunlah ayat ini (al-Maa-idah: 15) sebagai peringatan kepada orang yang telah melalaikan hukum-hukum Allah.

18. “Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami Ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka Mengapa Allah menyiksa kamu Karena dosa-dosamu?” (kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia(biasa) diantara orang-orang yang diciptakan-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. dan kepunyaan Allah-lah kerajaan antara keduanya. dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu).”
(al-Maa’idah: 18)

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nu’man bin Qushay, Bahr bin ‘Umar, dan Syas bin ‘Adi (dari kaum Yahudi) mengadakan pembicaraan dengan Rasulullah saw. Dalam pembicaraan itu Nabi mengajak untuk kembali kepada Allah dan mengingatkan mereka akan pembalasan-Nya. Mereka menjawab: “Hai Muhammad. Tidaklah hal tersebut menakutkan kami, karena demi Allah, kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya.” Omongan seperti itu biasa diucapkan oleh kaum Nasrani. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Maa-idah: 18) berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang mengingatkan mereka atas siksaan yang telah menimpa nenek moyang mereka.

19. “Hai ahli kitab, Sesungguhnya Telah datang kepada kamu Rasul kami, menjelaskan (syari’at kami) kepadamu ketika terputus (pengiriman) rasul-rasul agar kamu tidak mengatakan: “Tidak ada datang kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan”. Sesungguhnya Telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(al-Maa’idah: 19)

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah saw. berdakwah kepada orang-orang Yahudi supaya masuk Islam. Akan tetapi mereka menolaknya. Berkatalah Mu’adz bin Jabal dan Sa’d bin ‘Ubadah (Anshar) kepada mereka: “Wahai kaum Yahudi. Takutlah kalian kepada Allah. Demi Allah, sesungguhnya kalian mengetahui bahwa beliau adalah utusan Allah, karena dulu sebelum beliau diutus, kalian telah menerangkan kepada kami sifat-sifat yang ada padanya.” Berkatalah Rafi’ bin Huraimalah dan Wahb bin Yahudza: “Kami tidak pernah berkata demikian kepada kalian. Allah tidak menurunkan kitab sesudah Musa, dan tidak mengutus Utusan selaku pemberi kabar gembira dan peringatan sesudah Musa.” Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Maa-idah: 19) sebagai teguran kepada orang-orang yang memungkiri ayat-ayat tentang kedatangan Rasul terakhir.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: