Arsip | 08.27

Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (3)

30 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

24. “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki[282] (Allah Telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian[283] (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang Telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah Mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu Telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu[284]. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(an-Nisaa’: 24)

[282] Maksudnya: budak-budak yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan bersama-samanya.
[283] ialah: selain dari macam-macam wanita yang tersebut dalam surat An Nisaa’ ayat 23 dan 24.
[284] ialah: menambah, mengurangi atau tidak membayar sama sekali maskawin yang Telah ditetapkan.

Diriwayatkan ole hath-Thabarani yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ayat ini (an-Nisaa’: 24) turun pada waktu perang Hunain, tatkala Allah memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin. Kaum Muslimin mendapat tawanan beberapa wanita ahli kitab. Ketika akan dicampuri, mereka menolak dengan alasan bersuami. Lalu kaum Muslimin bertanya tentang hal itu kepada Rasulullah saw.. Rasulullah saw. menjawab berdasarkan ayat tersebut di atas. (an-Nisaa’: 24)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ma’mar bin Sulaiman, yang bersumber dari bapaknya bahwa orang Hadlrami membebani kaum laki-laki dalam mebayar mahar (maskawin) dengan harapan dapat memberatkannya (sehingga tidak dapat membayar pada waktunya untuk mendapatkan tambahan pembayaran). Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 24) sebagai ketentuan pembayaran maskawin atas keridhaan kedua belah pihak.

32. “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”
(an-Nisaa’: 32)

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim, yang bersumber dari Ummu Salamah bahwa Ummu Salamah berkata: “Kaum laki-laki berperang, sedang wanita tidak, dan kamipun (kaum wanita) hanya mendapat setengah bagian warisan laki-laki.” Maka Allah menurunkan ayat ini (an-Nisaa’: 32) sebagai teguran agar tidak iri hati atas ketetapan Allah. Berkenaan dengan hal itu pula, turun surah al-Ahzab ayat 35, sebagai penjelasan bahwa Allah tidak membeda-bedakan antara kaum Muslimin dan Muslimat dalam mendapat ampunan dan pahala.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa seorang wanita mengadu kepada Rasulullah saw. dengan berkata: “Ya Nabiyallah, laki-laki mendapatkan dua bagian kaum wanita dalam waris, dan dua orang saksi wanita sama dengan satu saksi laki-laki. Apakah di dalam beramalpun demikian juga? (yaitu, pahala amal wanita setengah dari pahala amal laki-laki)?” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 32) sebagai penegasan bahwa laki-laki dan wanita akan mendapat pahala yang sama sesuai dengan amalnya.

33. “Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, kami jadikan pewaris-pewarisnya[288]. dan (jika ada) orang-orang yang kamu Telah bersumpah setia dengan mereka, Maka berilah kepada mereka bahagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.”
(an-Nisaa’: 33)

Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam sunan-nya, dari Ibnu Ishaq, yang bersumber dari Dawud bin al-Husain bahwa Dawud bin al-Hushain membacakan ayat… wal ladziina ‘aaqadat aimaanukum…(…dan [jika ada] orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian dengan sumpah kamu….) kepada Ummu Sa’d binti ar-Rabi’ yang tinggal di rumah Abu Bakr. Akan tetapi Ummu Sa’d berkata: “Salah, bukan demikian. Hendaklah kamu membaca… wal ladziina ‘aqadat aimaanukum..(.. dan [jika ada] orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka…). Karena ayat ini (an-Nisaa’: 33) turun berkenaan dengan peristiwa Abu Bakr yang bersumpah tidak akan member waris kepada anaknya yang tidak masuk Islam. Dan setelah anak itu masuk Islam, diperintahkan untuk diberi warisan sesuai dengan ayat tersebut.”

Sumber : asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (2)

30 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

19. “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa[278] dan janganlah kamu menyusahkan mereka Karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang Telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata[279]. dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”
(an-Nisaa’: 19)

[278] ayat Ini tidak menunjukkan bahwa mewariskan wanita tidak dengan jalan paksa dibolehkan. menurut adat sebahagian Arab Jahiliyah apabila seorang meninggal dunia, Maka anaknya yang tertua atau anggota keluarganya yang lain mewarisi janda itu. janda tersebut boleh dikawini sendiri atau dikawinkan dengan orang lain yang maharnya diambil oleh pewaris atau tidak dibolehkan kawin lagi.
[279] Maksudnya: berzina atau membangkang perintah.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Abu Dawud,dan an-Nasaa-I, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa di zaman jahiliyah apabila seorang laki-laki meninggal, maka wali si mati lebih berhak atas istri yang ditinggalkannya. Sekiranya si wali ingin mengawininya atau mengawinkan kepada orang lain, ia lebih berhak daripada keluarga wanita itu. Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 19) sebagai penegasan tentang kedudukan wanita yang ditinggal suaminya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dengan sanad yang hasan, yang bersumber dari Abu Umamah bin Sahl bin Hanif. Hadits ini diperkuat oleh riwayat Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah. Bahwa ketika Abu Qais bin al-Aslat meninggal, anaknya ingin mengawini istri ayahnya (ibu tiri). Perkawinan seperti ini adalah kebiasaan di zaman jahiliyah. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 19), yang melarang menjadikan wanita sebagai harta waris.

22. “Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang Telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang Telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).”
(an-Nisaa’: 22)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, al-Faryabi, dan ath-Thabarani, yang bersumber dari ‘Adi bin Tsabit , dari seorang Anshar. Bahwa Abu Qais bin al-Aslat, seorang Anshar yang shaleh meninggal dunia. Anaknya melamar istri Abu Qais (ibu tiri). Wanita itu berkata: “Saya menganggap engkau sebagai anakku, dan engkau termasuk dari kaummu yang shaleh.” Maka menghadaplah wanita itu kepada Rasulullah saw. untuk menerangkan halnya. Nabi saw. bersabda: “Pulanglah engkau ke rumahmu.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 22) sebagai larangan mengawini bekas istri bapaknya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d yang bersumber dari Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi, bahwa di zaman jahiliyah, anak laki-laki yang ditinggal mati bapaknya lebih berhak dari diri ibu tirinya: apakah akan mengawininya atau mengawinkannya kepada orang lain, tergantung kehendaknya. Ketika Abu Qais bin al-Aslat meninggal, Muhsin bin Qais (anaknya) mewarisi istri ayahnya, dan tidak memberikan suatu waris apapun pada wanita itu. Menghadaplah wanita itu kepada Rasulullah saw. menerangkan halnya. Maka bersabdalah Rasulullah: “Pulanglah, mudah-mudahan Allah akan menurunkan ayat mengenai halmu.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 19 dan 22) sebagai ketentuan waris bagi istri dan larangan mengawini ibu tiri.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d yang bersumber dari az-Zuhri bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 19 dan 22) berkenaan dengan sebagian besar kaum Anshar, yang apabila seseorang meninggal, maka istri yang bersangkutan menjadi milik wali si mati, dan menguasainya sampai meninggal.

23. “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan[281]; saudara-saudaramu yang perempuan, Saudara-saudara bapakmu yang perempuan; Saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang Telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang Telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(an-Nisaa’: 23)

[281] maksud ibu di sini ialah ibu, nenek dan seterusnya ke atas. dan yang dimaksud dengan anak perempuan ialah anak perempuan, cucu perempuan dan seterusnya ke bawah, demikian juga yang lain-lainnya. sedang yang dimaksud dengan anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu, menurut Jumhur ulama termasuk juga anak tiri yang tidak dalam pemeliharaannya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Juraij bahwa Ibnu Juraij pernah bertanya kepada ‘Atha’ tentang,…. Wa halaa-ilu abnaa-ikumul ladziina min ashlaabikum…(…[dan diharamkan bagimu] istri-istri anak kandungmu [menantu[…) (an-Nisaa’: 23). ‘Atha’ menjawab: “Kami pernah memperbincangkan bahwa ayat itu turun mengenai pernikahan Nabi saw. dengan bekas istri Zaid bin Haritsah (anak angkat Nabi saw.)”. Kaum musyrikin mempergunjingkannya, sehingga turun ayat tersebut (an-Nisaa’: 23) dan (al-Ahzab: 4 dan 40), sebagai penegasan dibenarkannya perkawinan dengan bekas istri anak angkat.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (1)

30 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

4. “Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan[1]. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.”
(an-Nisaa’: 4)

[1] pemberian itu ialah maskawin yang besar kecilnya ditetapkan atas persetujuan kedua pihak, Karena pemberian itu harus dilakukan dengan ikhlas.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abu Shalih bahwa biasanya kaum bapak menerima dan menggunakan maskawin tanpa seizin putrinya. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 4) sebagai larangan terhadap perbuatan itu.

7. “Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang Telah ditetapkan.”
(an-Nisaa’: 7)

Diriwayatkan oleh Abusy Syaikh dan Ibnu Hibban di dalam Kitab al-Faraaidl (ilmu waris), dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kebiasaan kaum jahiliyah tidak meberikan harta waris kepada anak wanita dan anak laki-laki yang belum dewasa. Ketika seorang Anshar bernam Aus bin Tsabit wafat dan meninggalkan dua orang putri serta seorang anak laki-laki yang masih kecil, datanglah dua orang pamannya, yaitu Khalid dan ‘Arfathah, yang menjadi asabat*. Mereka mengambil semua harta peninggalannya. Maka datanglah istri Aus bin Tsabit kepada Rasulullah saw. untuk menerangkan kejadian itu. Rasulullah bersabda: “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan.” Maka turunlah ayat tersebut (an-Nisaa’: 7) sebagai penjelasan tentang hukum waris dalam Islam.

Asabat adalah ahli waris yang hanya mendapat sisa warisan setelah dibagikan kepada ahli waris yang mendapat bagian tertentu (kamus besar bahasa Indonesia, 1989, Jakarta, hal 50)

11. “Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan[272]; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua[273], Maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(an-Nisaa’: 11)

12. “Dan bagimu (suami-suami) seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak mempunyai anak. jika Isteri-isterimu itu mempunyai anak, Maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka buat atau (dan) seduah dibayar hutangnya. para isteri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. jika kamu mempunyai anak, Maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar hutang-hutangmu. jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), Maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. tetapi jika Saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, Maka mereka bersekutu dalam yang sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris)[274]. (Allah menetapkan yang demikian itu sebagai) syari’at yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Penyantun.”
(an-Nisaa’: 12)

[272] bagian laki-laki dua kali bagian perempuan adalah Karena kewajiban laki-laki lebih berat dari perempuan, seperti kewajiban membayar maskawin dan memberi nafkah. (lihat surat An Nisaa ayat 34).
[273] lebih dari dua maksudnya : dua atau lebih sesuai dengan yang diamalkan nabi.
[274] memberi mudharat kepada waris itu ialah tindakan-tindakan seperti: a. mewasiatkan lebih dari sepertiga harta pusaka. b. berwasiat dengan maksud mengurangi harta warisan. sekalipun kurang dari sepertiga bila ada niat mengurangi hak waris, juga tidak diperbolehkan.

Diriwayatkan oleh Imam yang enam, yang bersumber dari Jabir bin ‘Abdillah bahwa Rasulullah saw. disertai Abu Bakr berjalan kaki menengok Jabir bin ‘Abdillah sewaktu sakit keras di kampung bani Salamah. Ketika didapatkannya tidak sadarkan diri, beliau minta air untuk berwudlu dan memercikan air padanya, sehingga sadar. Lalu berkata Jabir: “Apa yang tuan perintahkan kepadaku tentang harta bendaku?” maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 11-12) sebagai pedoman pembagian harta waris.

Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan al-Hakim, yang bersumber dari Jabir, bahwa istri Sa’d bin ar-Rabi’ menghadap Rasulullah saw. dan berkata: “Ya Rasulallah. Kedua putri ini anak Sa’d bin ar-Rabi’ yang menyertai tuan dalam perang Uhud dan ia telah gugur sebagai syahid. Paman kedua anak ini mengambil harta bendanya, dan tidak meninggalkan sedikitpun, sedang kedua anak ini sukar mendapatkan jodoh kalau tidak berharta.” Rasulullah saw. bersabda: “Allah akan memutuskan persoalan tersebut.” Maka turunlah ayat hukum pembagian waris seperti tersebut di atas. (an-Nisaa’: 11-12)

Keterangan: menurut al-Hafidz Ibnu Hajar, berdasarkan hadits tentang kedua putri Sa’d bin ar-Rabi’, ayat ini (an-Nisaa’: 11-12) turun berkenaan dengan kedua putri itu dan tidak berkenaan dengan Jabir, karena Jabir waktu itu belum mempunyai anak. Selanjutnya ia menerangkan bahwa ayat ini (an-Nisaa’: 11-12) turun berkenaan dengan keduanya. Mungkin ayat 11 pertama berkenaan dengan kedua putri Sa’d dan bagian akhir ayat itu, yaitu (an-Nisaa’: 12) berkenaan dengan kisah Jabir. Adapun maksud Jabir dengan kata-katanya, “turun ayat 11”, ingin menyebutkan hal penetapan hukum waris bagi kalaalah (orang yang tidak meninggalkan anak dan ayah), yang terdapat pada ayat selanjutnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Suddi bahwa orang Jahiliyah tidak meberikan harta waris kepada wanita dan anak laki-laki yang belum dewasa atau yang belum mampu berperang. Ketika ‘Abdurrahman (saudara Hassan bin Tsabit, ahli syair yang masyur) wafat, ia meninggalkan seorang istri bernama Ummu Kuhhah dan lima orang putri. Maka datanglah keluarga suaminya mengambil harta bendanya. Berkatalah Ummu Kuhhah kepada Nabi saw. mengadukan halnya. Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 11) yang menegaskan hak waris bagi anak-anak wanita dan ayat (an-Nisaa’: 12) yang menegaskan hak waris bagi istri.

Diriwayatkan oleh al-Qadli Isma’il di dalam kitab Ahkaamul Qr’aan, yang bersumber dari ‘Abdulmalik bin Muhammad bin Hazm bahwa peristiwa Sa’d bin ar-Rabi’ berkaitan dengan turunnya surah an-Nisaa’ ayat 127. ‘Amrah binti Hazm –yang ditinggal gugur oleh suaminya (Sa’d bin ar-Rabi’, sebagai syahid di perang Uhud,- menghadap Nabi saw. dengan membawa putrinya (dari Sa’d bin ar-Rabi’) menuntut hak waris. Surah an-Nisaa’ ayat 127 tersebut menegaskan kedudukan dan hak wanita dalam hukum waris.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk