Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (2)

30 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

19. “Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu mempusakai wanita dengan jalan paksa[278] dan janganlah kamu menyusahkan mereka Karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang Telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata[279]. dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”
(an-Nisaa’: 19)

[278] ayat Ini tidak menunjukkan bahwa mewariskan wanita tidak dengan jalan paksa dibolehkan. menurut adat sebahagian Arab Jahiliyah apabila seorang meninggal dunia, Maka anaknya yang tertua atau anggota keluarganya yang lain mewarisi janda itu. janda tersebut boleh dikawini sendiri atau dikawinkan dengan orang lain yang maharnya diambil oleh pewaris atau tidak dibolehkan kawin lagi.
[279] Maksudnya: berzina atau membangkang perintah.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Abu Dawud,dan an-Nasaa-I, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa di zaman jahiliyah apabila seorang laki-laki meninggal, maka wali si mati lebih berhak atas istri yang ditinggalkannya. Sekiranya si wali ingin mengawininya atau mengawinkan kepada orang lain, ia lebih berhak daripada keluarga wanita itu. Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 19) sebagai penegasan tentang kedudukan wanita yang ditinggal suaminya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dengan sanad yang hasan, yang bersumber dari Abu Umamah bin Sahl bin Hanif. Hadits ini diperkuat oleh riwayat Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah. Bahwa ketika Abu Qais bin al-Aslat meninggal, anaknya ingin mengawini istri ayahnya (ibu tiri). Perkawinan seperti ini adalah kebiasaan di zaman jahiliyah. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 19), yang melarang menjadikan wanita sebagai harta waris.

22. “Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang Telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang Telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).”
(an-Nisaa’: 22)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, al-Faryabi, dan ath-Thabarani, yang bersumber dari ‘Adi bin Tsabit , dari seorang Anshar. Bahwa Abu Qais bin al-Aslat, seorang Anshar yang shaleh meninggal dunia. Anaknya melamar istri Abu Qais (ibu tiri). Wanita itu berkata: “Saya menganggap engkau sebagai anakku, dan engkau termasuk dari kaummu yang shaleh.” Maka menghadaplah wanita itu kepada Rasulullah saw. untuk menerangkan halnya. Nabi saw. bersabda: “Pulanglah engkau ke rumahmu.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 22) sebagai larangan mengawini bekas istri bapaknya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d yang bersumber dari Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi, bahwa di zaman jahiliyah, anak laki-laki yang ditinggal mati bapaknya lebih berhak dari diri ibu tirinya: apakah akan mengawininya atau mengawinkannya kepada orang lain, tergantung kehendaknya. Ketika Abu Qais bin al-Aslat meninggal, Muhsin bin Qais (anaknya) mewarisi istri ayahnya, dan tidak memberikan suatu waris apapun pada wanita itu. Menghadaplah wanita itu kepada Rasulullah saw. menerangkan halnya. Maka bersabdalah Rasulullah: “Pulanglah, mudah-mudahan Allah akan menurunkan ayat mengenai halmu.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 19 dan 22) sebagai ketentuan waris bagi istri dan larangan mengawini ibu tiri.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d yang bersumber dari az-Zuhri bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 19 dan 22) berkenaan dengan sebagian besar kaum Anshar, yang apabila seseorang meninggal, maka istri yang bersangkutan menjadi milik wali si mati, dan menguasainya sampai meninggal.

23. “Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan[281]; saudara-saudaramu yang perempuan, Saudara-saudara bapakmu yang perempuan; Saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang Telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), Maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang Telah terjadi pada masa lampau; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(an-Nisaa’: 23)

[281] maksud ibu di sini ialah ibu, nenek dan seterusnya ke atas. dan yang dimaksud dengan anak perempuan ialah anak perempuan, cucu perempuan dan seterusnya ke bawah, demikian juga yang lain-lainnya. sedang yang dimaksud dengan anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu, menurut Jumhur ulama termasuk juga anak tiri yang tidak dalam pemeliharaannya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Juraij bahwa Ibnu Juraij pernah bertanya kepada ‘Atha’ tentang,…. Wa halaa-ilu abnaa-ikumul ladziina min ashlaabikum…(…[dan diharamkan bagimu] istri-istri anak kandungmu [menantu[…) (an-Nisaa’: 23). ‘Atha’ menjawab: “Kami pernah memperbincangkan bahwa ayat itu turun mengenai pernikahan Nabi saw. dengan bekas istri Zaid bin Haritsah (anak angkat Nabi saw.)”. Kaum musyrikin mempergunjingkannya, sehingga turun ayat tersebut (an-Nisaa’: 23) dan (al-Ahzab: 4 dan 40), sebagai penegasan dibenarkannya perkawinan dengan bekas istri anak angkat.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: