Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (3)

30 Jan

asbabun nuzul surah al-qur’an

24. “Dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki[282] (Allah Telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian[283] (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang Telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah Mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu Telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu[284]. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(an-Nisaa’: 24)

[282] Maksudnya: budak-budak yang dimiliki yang suaminya tidak ikut tertawan bersama-samanya.
[283] ialah: selain dari macam-macam wanita yang tersebut dalam surat An Nisaa’ ayat 23 dan 24.
[284] ialah: menambah, mengurangi atau tidak membayar sama sekali maskawin yang Telah ditetapkan.

Diriwayatkan ole hath-Thabarani yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ayat ini (an-Nisaa’: 24) turun pada waktu perang Hunain, tatkala Allah memberikan kemenangan kepada kaum Muslimin. Kaum Muslimin mendapat tawanan beberapa wanita ahli kitab. Ketika akan dicampuri, mereka menolak dengan alasan bersuami. Lalu kaum Muslimin bertanya tentang hal itu kepada Rasulullah saw.. Rasulullah saw. menjawab berdasarkan ayat tersebut di atas. (an-Nisaa’: 24)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ma’mar bin Sulaiman, yang bersumber dari bapaknya bahwa orang Hadlrami membebani kaum laki-laki dalam mebayar mahar (maskawin) dengan harapan dapat memberatkannya (sehingga tidak dapat membayar pada waktunya untuk mendapatkan tambahan pembayaran). Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 24) sebagai ketentuan pembayaran maskawin atas keridhaan kedua belah pihak.

32. “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”
(an-Nisaa’: 32)

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan al-Hakim, yang bersumber dari Ummu Salamah bahwa Ummu Salamah berkata: “Kaum laki-laki berperang, sedang wanita tidak, dan kamipun (kaum wanita) hanya mendapat setengah bagian warisan laki-laki.” Maka Allah menurunkan ayat ini (an-Nisaa’: 32) sebagai teguran agar tidak iri hati atas ketetapan Allah. Berkenaan dengan hal itu pula, turun surah al-Ahzab ayat 35, sebagai penjelasan bahwa Allah tidak membeda-bedakan antara kaum Muslimin dan Muslimat dalam mendapat ampunan dan pahala.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa seorang wanita mengadu kepada Rasulullah saw. dengan berkata: “Ya Nabiyallah, laki-laki mendapatkan dua bagian kaum wanita dalam waris, dan dua orang saksi wanita sama dengan satu saksi laki-laki. Apakah di dalam beramalpun demikian juga? (yaitu, pahala amal wanita setengah dari pahala amal laki-laki)?” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 32) sebagai penegasan bahwa laki-laki dan wanita akan mendapat pahala yang sama sesuai dengan amalnya.

33. “Bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, kami jadikan pewaris-pewarisnya[288]. dan (jika ada) orang-orang yang kamu Telah bersumpah setia dengan mereka, Maka berilah kepada mereka bahagiannya. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu.”
(an-Nisaa’: 33)

Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam sunan-nya, dari Ibnu Ishaq, yang bersumber dari Dawud bin al-Husain bahwa Dawud bin al-Hushain membacakan ayat… wal ladziina ‘aaqadat aimaanukum…(…dan [jika ada] orang-orang yang kamu telah mengadakan perjanjian dengan sumpah kamu….) kepada Ummu Sa’d binti ar-Rabi’ yang tinggal di rumah Abu Bakr. Akan tetapi Ummu Sa’d berkata: “Salah, bukan demikian. Hendaklah kamu membaca… wal ladziina ‘aqadat aimaanukum..(.. dan [jika ada] orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka…). Karena ayat ini (an-Nisaa’: 33) turun berkenaan dengan peristiwa Abu Bakr yang bersumpah tidak akan member waris kepada anaknya yang tidak masuk Islam. Dan setelah anak itu masuk Islam, diperintahkan untuk diberi warisan sesuai dengan ayat tersebut.”

Sumber : asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Iklan

2 Tanggapan to “Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (3)”

  1. saif 18 Juni 2013 pada 09.37 #

    syukron infonya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: