Arsip | Februari, 2013

Tafsir Alqur’an Surah Quraisy

26 Feb

Tafsir Ibnu Katsir Surah Quraisy (Suku Quraisy)
Surah Makkiyyah; Surah ke 106: 4 ayat

tulisan arab alquran surat quraisy ayat 1-4

“1. Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, 2. (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. 3. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah Ini (Ka’bah). 4. Yang Telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan.”
(Quraisy: 1-4)

Surat ini terpisah dari surat sebelumnya dalam shuhuf imam, merek menulis antara kedua garis bismillaahir rahmaanir rahiim, meskipun ia bergantung pada surah sebelumnya, sebagaimana yang disampaikan secara gamblang oleh Muhammad bin Ishaq dan ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, karena pengertian menurutnya, Kami menghalangi pasukan Gajah memasuki kota Makkah, dan kami binasakan binasakan penduduknya karena kebiasaan orang-orang Quraisy, yakni kebiasaan dan perkumpulan mereka di negeri mereka (Mekah) dalam keadaan aman sentosa.

Ada juga yang menyatakan bahwa yang dimaksud dengan hal itu adalah kebiasaan mereka melakukan perjalanan pada waktu musim dingin di kota Yama dan pada musim panas di kota Syam untuk berdagang dan keperluan lainnya. Kemudian mereka kembali ke negeri mereka dengan aman dalam perjalanan mereka karena keagungan mereka dalam pandangan orang-orang, sebab mereka termasuk penduduk suci Allah (Makkah).

Orang yang mengetahui mereka pasti akan menghormati mereka. Bahkan orang yang ikut berjalan dengan merekapun merasa aman. Demikianlah keadaan mereka dalam perjalanan mereka, baik pada waktu musim dingin maupun musim panas. Sedangkan mengenai pemukiman mereka di negeri tersebut adalah sebagaimana yang difirmankan Allah: awalam yaraw annaa ja’alnaa haraman aaminaw wayutakhaththafun naasu min haulihim (“Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedang manusia sekitarnya rampok-merampok.” (al-Ankabuut: 67).

Oleh karena itu, Dia berfirman: li iilaafi quraiis, iilaafi him (“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, yaitu kebiasaan mereka.”) sebagai pengganti pertama sekaligus sebagai penaksir baginya. Oleh karena itu Dia berfirman: “iilaafihim rihlatasy syitaa-i wash-shaiif (“[yaitu] kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.”) Ibnu Jarir mengatakan: “Yang benar bahwa huruf ‘lam’ tersebut adalah lam ‘ta’ajub’ (keheranan), seakan-akan mereka dibuat heran oleh kebiasaan kaum Quraisy dan juga nikmat Allah yang Dia berikan kepada mereka dalam hal tersebut.”

Lebih lanjut, Ibnu Jarir mengatakan: “Yang demikian itu karena adanya ijma’ kaum Muslimiin yang menyatakan bahwa keduanya merupakan surat yang terpisah dan masing-masing berdiri sendiri.”

Selanjutnya Allah Ta’ala membimbing mereka untuk mensyukuri nikmat yang agung ini, dimana Dia berfirman: “fal ya’buduu rabba haadzal baiit” (“Maka hendaklah mereka beribadah kepada Rabb Pemilih rumah.”) maksudnya, hendaklah mereka mentauhidkan-Nya dengan beribadah sebagaimana Dia telah menjadikan bagi mereka tanah suci yang aman sekaligus rumah yang suci, sebagaimana yang Dia firmankan: “…aku hanya diperintahkan untuk beribadah kepada Rabb negeri ini [Makkah] yang telah menjadikannya suci kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (an-Naml: 91)

Dan firman Allah Ta’ala: alladzii ath-‘amahum ming juu’ (“Yang telah memberi makan kepada mereka untuk menghilangkan lapar”) yaitu dia adalah Pemilik rumah ini. Dia-lah yang telah memberi makan mereka dari rasa lapar.

Wa aamanahum min khauuf (“Dan mengamankan mereka dari ketakutan”) maksudnya, Dia menganugerahkan kepada mereka rasa aman dan juga keringanan. Karenanya, hendaklah mereka mengesakan-Nya dalam beribadah hanya kepada-Nya semata yang tiada sekutu bagi-Nya, serta tidak beribadah kepada selain diri-Nya baik itu dalam bentuk patung, sekutu maupun berhala. Oleh karena itu barang siapa memenuhi permintaan tersebut, niscaya Allah akan menggabungkan untuknya rasa aman di dunia dan rasa aman di akhirat. Dan barang siapa yang mendurhakai-Nya, maka Dia akan mengambilnya.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Maa’uun

26 Feb

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Maa’uun
(Barang-barang yang Berguna)

Surah Makkiyyah; Surah ke 107: 7 ayat

tulisan arab alquran surat al maa'uun ayat 1-7“1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? 2. Itulah orang yang menghardik anak yatim, 3. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. 4. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, 5. (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, 6. Orang-orang yang berbuat riya, 7. Dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (al-Maa’uun: 1-7)

Allah Ta’ala berfirman: “Apakah kamu tahu, hai Muhammad, orang yang mendustakan ad-Diin, yaitu hari kebangkitan serta pemberian balasan dan pahala?” fadzaalikal ladzii yadu’-‘ul yatiim. Yakni, orang yang berbuat sewenang-wenang terhadap anak yatim dan mendzalimi haknya, tidak memberikan makan serta tidak juga berbuat baik kepadanya. Wa laa yahudl-dlu ‘alaa thaa’aamil miskiin (“dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin”). Yang demikian itu sama dengan firman-Nya: Kallaa ballaa tukrimuunal yatiim. Walaa tahaadl-dluuna ‘alaa tha’aamil miskiiin (“Sekali-sekali tidak [demikian], sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim, dan kamu tidak juga saling mengajak memberi makan orang miskin.” (al-Fajr: 17-18). Yakni orang faqir yang tidak memiliki apapun untuk memenuhi dan mencukupi kebutuhannya.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: “fa wailul lil mushalliin. Alladziina hum ‘an shalaatihim saahuun.” (maka celakalah bagi orang-orang yang shalat. Yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya). Ibnu ‘Abbas dan juga lainnya berkata: “Yakni orang-orang munafik yang mengerjakan shalat ketika di hadapan orang banyak dan tidak mengerjakannya ketika dalam kesendirian. Oleh karena itu, Dia berfirman: lil mushalliin (“Bagi orang-orang yang shalat”), yang mereka juga berasal dari orang-orang yang biasa mengerjakan shalat dan mereka juga rajin mengerjakannya, hanya saja di dalam mengerjakannya mereka lalai, baik lalai mengerjakannya secara keseluruhan seperti yang dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas, maupun lalai mengerjakannya pada waktu yang telah ditentukannya menurut syariat sehingga sudah keluar dari waktunya secara keseluruhan, seperti yang dikemukakan oleh Masruq dan Abudh Dhuha.

‘Atha’ bin Dinar mengatakan: “Segala puji bagi Allah yang telah berfirman: ‘an shalaati him saahuun (“yang lalai dalam shalatnya”). Dalam ayat ini Dia tidak mengatakan: fii shalaatihim (“di dalam shalatnya”). Baik lalai dari permulaan waktunya sehingga mereka mengerjakan di akhir waktu shalat secara terus menerus atau kebanyakan, atau dalam pelaksanaannya dengan rukun dan syarat-syaratnya sesuai dengan yang diperintahkan, maupun dari kekhusyukan di dalam menjalankannya serta mencermati makna-maknanya.

Dengan demikian, lafzh tersebut mencakup semua itu. Setiap orang yang mensifati diri dengan sebagian darinya berarti dia sudah termasuk ke dalam apa yang disebutkan di dalam ayat di atas. Dan orang yang mensifati diri dengan keseluruhan hal tersebut berarti telah sempurna bagian untuknya dalam hal itu dan sempurna pula baginya kemunafikan amali, sebagaimana yang ditegaskan di dalam kitab ash-Shahihain bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Itu adalah shalat orang munafik, itu adalah shalat orang munafik, itu adalah shalat orang munafik. Dia duduk menunggu matahari sehingga jika matahari itu sudah berada di antara dua tanduk setan, maka dia berdiri lalu naik turun empat kali tanpa berdzikir kepada Allah di dalamnya kecuali hanya sedikit sekali.”

Dan itulah akhir waktu shalat ‘Ashar yang merupakan shalat wustha, sebagaimana yang ditegaskan oleh nash sampai akhir waktunya, yaitu waktu yang dimakruhkan untuk mengerjakan shalat. Setelah masuk waktu yang dimakruhkan itu, orang munafik baru akan melakukan shalat ‘Ashar, lalu dia shalat dengan mematuk seperti patukan burung gagak, tidak senang dan tidak juga khusuk dalam menjalankannya. Oleh karena itu, beliau mengatakan: “Orang itu tidak berdzikir kepada Allah melainkan hanya sedikit.” Mungkin yang mendorongnya melakukan shalat itu adalah pandangan orang-orang dan bukan karena mencari ridha Allah, sehingga ia sama seperti jika di dia tidak shalat samasekali.

Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (an-Nisaa’: 142).
Sedangkan disini Allah Ta’ala berfirman: alladziina hum yuraa-uun (“Orang-orang yang berbuat riya’”). Ath-Thabarani meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dari Nabi saw, beliau bersabda:

“Sesungguhnya di neraka jahanam terdapat satu lembah, dimana jahanam itu selalu berlindung dari lembah tersebut setiap hari sampai empat ratus kali. Lembah tersebut disediakan untuk orang-orang yang riya’ dari umat Muhammad, bagi orang yang membawa kitabullah dan orang yang bersedekah bukan karena Allah, juga bagi orang yang beribadah haji ke Baitullah, serta bagi orang yang keluar di jalan Allah.”

Imam Ahmad meriwayatkan , Abu Nu’aim memberi tahu kami, al-A’masy memberitahu kami, dari ‘Amr bin Murrah, dia berkata: “Kami pernah duduk-duduk di sisi Abu ‘Ubaidah, lalu mereka menyebut perihal riya’, lalu ada seseorang yang berkun-yah Abu Yazid berkata: ‘Aku pernah mendengar ‘Abdullah bin ‘Amr berkata, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa memperdengarkan amal perbuatannya kepada orang lain, maka Allah akan memperdengarkan amal orang itu kepada makhluk-Nya serta menghina dan merendahkannya.”

Juga diriwayatkan dari Ghundar dan Yahya al-Qaththan, dari Syu’bah, dari ‘Amr bin Murrah, dari seseorang, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi saw, dan apa yang berkaitan dengan firman Allah Ta’ala: alladziina hum yuraa’uun (“orang-orang yang berbuat riya’”), bahwa barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan karena Allah lalu orang-orang melihatnya, lalu ia merasa kagum (gembira) terhadap amalnya, maka yang demikian itu tidak termasuk riya’. Yang menjadi dalil hal tersebut adalah apa yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la dari Abu Hurairah, dia mengatakan bahwa ada seseorang yang berkata, “Wahai Rasulullah, ada seseorang yang mengerjakan suatu amalan secara sembunyi-sembunyi, dan jika ada orang yang melihatnya maka orang tersebut merasa terkagum olehnya.” Lebih lanjut dia berkata: “Rasulullah bersabda: ‘Badinya dua pahala, pahala sembunyi-sembunyi dan pahala terang-terangan.” Diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi, kemudian dia mengatakan: “Gharib”.

Dan firman Allah Ta’ala: wa yamna’uunal maa’uun (“Dan enggan [menolong dengan] barang yang berguna.”) maksudnya, mereka tidak mau berbuat baik dalam beribadah kepada Allah dan tidak juga berbuat baik kepada sesama makhluk-Nya, bahkan tidak mau meminjamkan barang yang bisa dimanfaatkan dan membantu orang lain padahal barang tersebut tetap utuh dan akan dikembalikan kepada mereka lagi. Orang-orang seperti ini pasti lebih enggan dan kikir mengeluarkan zakat dan berbagai amal kebajikan. Ibnu Abi Najih meriwayatkan dari Mujahid, ‘Ali berkata: “Al-Maa’uun berarti zakat.” Al A’masy dan Syu’bah meriwayatkan dari al-Hakam dari Yahya bin al-Kharaz bahwa Abul ‘Abidin pernah bertanya kepada ‘Abdullah bin Mas’ud tentang kata al-Maa’uun, maka dia berkata: “Yaitu barang yang biasa dipinjamkan di antara orang-orang baik itu berupa kapak maupun kuali.”

Al-Mas’udi meriwayatkan dari Salamah bin Kuhail, dari Abul ‘Abidin bahwasannya Ibnu Mas’ud pernah ditanya tentang al-maa’uun, maka dia menjawab: “Yaitu barang yang biasa diberikan antar sesama manusia, baik itu berupa kapak, kuali, ember dan yang semisalnya.”

Sedangkan Ibnu Jarir juga berkata: “Kami, para shahabat Muhammad saw. pernah berbicara bahwa al-Maa’uun adalah ember, kapak, dan kuali yang merupakan barang-barang yang selalu dibutuhkan.”

Khallad bin Aslam memberitahu kami, an-Nadhr bin Syamil memberitahu kami, Syu’bah memberitahu kami, dari Abu Ishaq, dia berkata: “Aku pernah mendengar Sa’ad bin ‘Iyadh pernah menyampaikan berita mengenai hal serupa dari pada Shahabat Nabi saw.

Al-A’masy menceritakan dari Ibrahim, dari al-Harits bin Suwaid, dari ‘Abdullah bahwasannya dia pernah ditanya tentang al-maa’uun, yaitu menahan ember dan yang semisalnya.”

Dan hal yang senada juga telah diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasa-i dari Qutaibah dai Abu ‘Awanah dengan sanadnya. Dan lafazh an-Nasa-i dari ‘Abdullah dia berkata: “Setiap kebaikan itu sedekah, dan kami mengkategorikan al-maa’uun pada masa Rasulullah saw. sebagai peminjaman ember dan kuali.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan, ayahku memberitahu kami, ‘Affan memberitahu kami, Hammad bin Salamah memberitahu kami, dari ‘Ashim, dari Zurr, dari ‘Abdullah, dia berkata: “Al-Maa’uun adalah barang-barang yang biasa dipinjamkan, yaitu kuali, timbangan, dan ember.”

Ibnu Abi Najih berkata dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas: wa yamna’uunal maa’uun (“dan enggan [menolong dengan] barang berguna.”) yakni barang-barang perabotan rumah tangga.” Demikian pula yang dikemukakan oleh Mujahid. ‘Ikrimah mengatakan: “Kepala al-Maa’uun adalah zakat dan bagian paling bawahnya adalah saringan, ember, dan jarum.” Dan diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. Dan apa yang dikemukakan oleh ‘Ikrimah ini adalah baik, karena ia mencakup semua pendapat secara keseluruhan, dan semuanya kembali kepada satu hal, yaitu keengganan memberikan pertolongan dalam bentuk harta maupun barang-barang bermanfaat.

Futur

25 Feb

Definisi Futur

a. Menurut bahasa: terhenti setelah berjalan atau diam setelah bergerak
b. Menurut istilah: penyakit yang mengenai seorang aktifis, paling rendah malas atau berlambat-lambat dan paling tinggi terhenti atau diam setelah rajin dan bergerak dengan semangat.

Sebab-sebab Futur

1. Berlebihan dan ekstrim dalam menjalankan agama. Rasulullah bersabda: “Waspadalah kalian dalam berlebihan dalam menjalankan agama, sesungguhnya umat sebelum kalian binasa karena berlebihan dalam menjalankan agama.” (HR Ahmad).
Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya agama itu mudah dan tidak seorangpun yang berlebihan dalam menjalankan agama kecuali dia akan dikalahkan.” (HR Bukhari).
Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang tidak suka dengan sunnahku dia tidak termasuk umatku.” (HR Bukhari Muslim)
2. Berlebihan dan melampaui batas dalam mengkonsumsi yang mubah. Allah berfirman: “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”
‘Aisyah berkata: “Bencana pertama yang akan menimpa umat ini setelah nabinya adalah ‘kekenyangan’. Sesungguhnya ketika kaum itu kenyang perutnya, badan mereka akan menjadi gemuk, maka hati nurani mereka akan menjadi lemah dan nafsu mereka akan menjadi besar.”
3. Berpisah dari jamaah dan suka hidup menyendiri. Allah berfirman: “Dan berpeganglah kamu semua kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS 3: 103). Rasulullah bersabda: “Tetaplah dengan berjamaah dan waspadalah dengan perpecahan, sesungguhnya syetan itu lebih dekat dengan satu orang daripada dengan dua orang, dan barangsiapa yang menginginkan keindahan surga hendaklah tetap berjamaah.” (HR Tirmidzi)
4. Tidak mengingat kematian dan hari akhir kecuali sedikit. Rasulullah saw. bersabda: “Dulu saya telah melarang kalian untuk ziarah kubur, maka sekarang ziarah kuburlah karena sesungguhnya ziarah kubur itu menjadi zuhud di dunia dan mengingat akhirat.” (HR Ahmad)
5. Lalai dalam melaksanakan amalan harian. Rasulullah bersabda: “Syetan membuat tiga ikatan di tengkuk kepala kalian ketika kalian tidur, dalam setiap ikatan itu syetan meletakkan kata-kata: ‘engkau masih memiliki malam yang panjang, maka tidurlah.’ Jika dia bangun dan berdzikir kepada Allah, lepaslah satu ikatan, jika kemudian dia berwudlu lepaslah ikatan yang lain dan jika dia lanjutkan dengan shalat maka lepaslah semua ikatan. Maka pagi hari dia kelihatan segar dan sedang hati. Jika tidak dia kelihatan malas dan keruh hatinya.” (HR Bukhari-Muslim)
6. Masuk ke dalam perutnya sesuatu yang diharamkan atau sesuatu yang subhat. Allah berfirman: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; Karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS 2: 168).
Rasulullah bersabda: “Setiap jazad yang tumbuh dari sesuatu yang dibenci (haram) maka neraka lebih utama baginya.” (HR Tirmidzi)
7. Seseorang yang hanya terfokus hanya satu sisi saja dalam masalah agama. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS 2: 208)
8. Melupakan sunnatullah dalam alam semesta dan kehidupan ini.
9. Melupakan hak badan disebabkan karena banyaknya beban serta tugas dan sedikitnya aktifitas. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya engkau memiliki kewajiban untuk Tuhanmu, untuk dirimu, dan untuk keluargamu, maka tunaikanlah kewajibanmu sesuai dengan haknya.” (HR Bukhari)
10. Tidak siap dalam menghadapi kesulitan dalam perjuangan. Allah berfirman: “Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin).” (QS 3: 179).Dalam ayat lain Allah berfirman: “Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami Telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya kami Telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS 29: 1-3)
11. Berteman dengan orang yang memiliki kemauan yang lemah. Rasulullah bersabda: “Seseorang itu sesuai dengan agama (akhlak) teman dekatnya, maka hendaklah kalian melihat siapa yang dijadikan teman dekat.” (HR Ahmad)
12. Bekerja tanpa rencana, baik skala pribadi maupun jamaah.
13. Terjatuh pada kemaksiatan dan dosa-dosa, terutama dosa kecil yang diremehkan. Rasulullah bersabda: “Waspadalah kalian akan dosa-dosa kecil, sesungguhnya jika dia terkumpul pada seseorang, dia akan membinasakan.” (HR Ahmad)

Dampak-Dampak Futur

1. Perbendaharaan kebaikannya hanya sedikit
2. Meninggal dalam keadaan su’ul khatimah. Rasulullah berdoa: “Ya Allah jadikanlah sebaik-baik umurku di akhirnya. Ya Allah jadikanlah akhir dari amalku adalah ridlo-Mu, ya Allah jadikanlah sebaik-baik hariku adalah hari dimana aku bertemu dengan-Mu.” (HR Ibnu Sinni).
Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba beramal seperti amalnya ahli neraka, tetapi sesungguhnya ia adalah ahli surga. Dan sesungguhnya seorang beramal seperti ahli surga tetapi sesungguhnya dia adalah ahli neraka, sesungguhnya amal itu dilihat dari akhirnya.” (HR Bukhari)
3. Jalan kemenangan menjadi panjang
4. Banyak beban dan pengurbanan
5. Terhambatnya pertolongan Allah.

Cara Mengatasi Futur

1. Menjauhi perbuatan buruk dan dosa. Allah berfirman: “Makanlah di antara rezki yang baik yang Telah kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, Maka Sesungguhnya binasalah ia.” (QS 21: 81)
2. Selalu menjalankan amalan harian, serta selalu memanfaatkan waktu-waktu yang utama. Allah berfirman: “Hai orang yang berselimut (Muhammad), Bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit. Atau lebih dari seperdua itu. dan Bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.” (QS 73: 1-5)
3. Tidak ekstrim dan berlebihan dalam beramal. Rasulullah bersabda: “Wahai manusia hendaklah kalian beramal sesuai dengan kemampuan kalian, sesungguhnya Allah tidak bosan sehingga kalian bosan, dan sesungguhnya amal yang dicintai Allah adalah amal yang kontinyu walaupun sedikit.” (HR Muslim)
4. Bergabung dalam naungan jamaah. Rasulullah bersabda: “Jamaah itu rahmat dan berselisih itu azab.” (HR Ahmad)
Alib bin Abi Thalib berkata: “Keruh dalam jamaah lebih baik daripada bersih tapi sendiri.”
5. Memperhatikan sunnatullah dalam diri manusia dan dalam alam semesta.
6. Bersiap dalam menghadapi rintangan-rintangan, yaitu secara mental telah memiliki kesiapan dalam menghadapi berbagai kesulitan dan siap untuk mengatasinya.
7. Bekerja dengan cermat dan terencana, termasuk bisa menentukan skala prioritas dalam kerja.
8. Berteman dekat dengan orang-orang shaleh yang selalu mujahadah. Rasulullah bersabda: “Tahukah kalian, siapakah orang yang terbaik itu?” Para shahabat berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Rasulullah menjawab: “Yaitu orang yang ketika engkau melihatnya engkau akan mengingat Allah swt.” (HR Ibnu Majah)
9. Memenuhi kebutuhan badan
10. Menghibur diri dengan hal-hal yang mubah
11. Senantiasa mengkaji dan mempelajari buku-buku dan biografi orang-orang yang shaleh. Allah berfirman: “Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS 12: 111)
12. Mengingat mati dan apa yang terjadi setelah kematian.
13. Mengingat surga dan neraka. Haram bin Hatsya berkata: “Saya heran dengan surga, bagaimana pencarinya masih bisa tidur? Dan saya terheran dengan neraka, bagaimana orang yang lari dengannya masih bisa tidur?” Kemudian beliau membaca ayat: “97. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?” (QS: 7: 97)
14. Hadir pada majelis ilmu
15. Melaksanakan agama ini sesuai dengan karakternya yang menyeluruh dan konprehensif
16. Munasabah dan mengenali kekurangan diri. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang Telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 59: 18)

Marah

25 Feb

Definisi Marah:

Mendidihnya darah qalbu untuk mencari pelampiasan

1. Marah yang terpuji: yaitu marah karena melihat syariat Allah dilanggar
2. Marah yang tercela: marah yang penyebabnya bukan karena syariat Allah yang dilanggar.

Tentang Marah yang Tercela:

1. Merupakan kelemahan. Rasulullah bersabda: “ Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam gulat, tapi orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR Bukhari-Muslim).
2. Marah itu sumber keburukan.
Dalam sebuah hadits diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah dan berkata: “Wahai Rasulullah, wasiatilah saya.” Rasulullah bersabda: “Jangan marah.” Laki-laki tersebut berkata: “Saya berfikir ketika Rasulullah telah mengatakan demikian, ternyata saya mendapatkan bahwa marah itu merupakan sumber dari seluruh keburukan.” (HR Ahmad)
3. Marah adalah penyebab murka Allah.
Dalam sebuah hadits, ‘Umar bertanya kepada Rasulullah: “Apa yang akan menyelamatkanku dari murka Allah?” Rasulullah menjawab: “Jangan marah.”

Sebab-Sebab Marah

1. Mengingat dampak marah:
a. Buruk rupa
b. Keluar kata-kata yang tercela
c. Keluar perbuatan yang merusak
d. Melahirkan dendam dan hasud
2. Mengingat keutamaan menahan marah, rendah hati, pemaaf dan lemah lembut. Dalam sebuah hadits ‘Aisyah berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah Mahalembut dan memberikan kepada kelembutan apa yang tidak diberikan pada kekerasan atau tidak diberikan pada yang lain.” (HR Muslim). Dalam hadits lain Rasulullah bersabda kepada Asyajj Abdul Qais: “Sesungguhnya pada dirimu ada dua sifat yang keduanya disukai oleh Allah dan Rasul-Nya; yaitu rendah hati dan kelembutan. (HR Muslim).
3. Meninggalkan pembicaraan (diam). Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda: “Jika seorang di antara kalian marah, hendaknya dia diam.” Rasulullah mengatakan demikian tiga kali. (HR Ahmad dan Abu Dawud).
4. Membaca Ta’awud. Dalam sebuah hadits: Dari Sulaiman bin Surad beliau berkata: “Dua orang sedang saling mencaci di hadapan Nabi, salah seorang dari mereka marah, mukanya memerah dan urat nadinya menggelembung. Rasulullah melihat pada mereka dan bersabda: ‘Saya mengetahui kalimat, andaikan dia ucapkan maka marah itu akan hilang. Yaitu: a’uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim (aku berlindung pada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk.” (HR Bukhari Muslim).
5. Merobah posisi. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda: “Jika seorang diantara kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah dia duduk, jika belum reda, hendaklah dia berbaring.” (HR Abu Dawud dan Ibnu Hibban)
6. Berwudlu. Dalam hadits Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya marah itu dari syaitan, dan sesungguhnya syaitan itu diciptakan dari api dan sesungguhnya api itu dipadamkan dengan air. Maka jika seorang di antara kalian marah hendaknya berwudlu.” (HR Abu Dawud).

Hasud dan Dendam

25 Feb

Dalam agama Islam, Hasud dan Dendam termasuk akhlak yang tidak baik.

Definisi

Dendam adalah: tertahannya kemarahan karena tidak mampu untuk melampiaskannya
Hasad adalah: rasa tidak senang terhadap suatu kenikmatan yang dimiliki orang lain, dia menginginkan hilangnya kenikmatan itu.
Ghibtah adalah: tidak menyukai hilangnya suatu nikmat yang diperoleh seseorang dan dia menginginkan untuk mendapatkan nikmat tersebut seperti dia.

Hasud itu Tercela

1. Hasud itu dilarang. Rasulullah bersabda: “Tidak ada hasud kecuali dalam dua masalah: yaitu seseorang yang diberikan karunia oleh Allah berupa harta yang banyak kemudian dia menghabiskannya dalam kebenaran. Dan seseorang yang diberi ilmu oleh Allah kemudian dia amalkan ilmu itu dan dia ajarkan kepada orang lain.” (HR Bukhari-Muslim)
Dalam hadits lain Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian saling hasud, saling memutuskan hubungan, saling membenci dan saling membelakangi, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR Muslim).

2. Hasud itu termasuk sifat orang kafir, munafik dan yang lemah imannya. Allah berfirman: “109. Sebahagian besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, Karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya[82]. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS 2: 109)
Dalam ayat lain Allah berfirman: “(yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata. Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia kesuatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik.” (QS 12: 8-9).

3. Allah memerintahkan agar kita berlindung pada-Nya dari sifat hasud. Allah berfirman: “…dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.” (QS 113: 5)

4. Hasud itu menghabiskan kebaikan. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya hasud itu menghabiskan kebaikan bagaikan api yang menghabiskan kayu bakar.” (HR Abu Dawud)

5. Menjauhkan diri dari hasud penyebab masuk surga. Rasulullah bersabda: “Dalam tiga hari akan lewat dari jalan ini seorang ahli surga.” Dalam tiga hari lewatlah orang tersebut, kemudian dia ditanya akan amalnya, maka dia menjawab: ‘Sesungguhnya saya tidak memiliki rasa dengki dan hasud kepada siapapun kaum Muslimin atas kebaikan yang Allah berikan kepadanya.” (HR Ahmad)

Sebab-Sebab Hasud

1. Rasa permusuhan dan saling benci
2. Sombong, Allah berfirman: “Dan mereka berkata: ‘Mengapa al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Mekah dan Thaif) ini?’” (QS 43: 31)
3. Ambisi kekuasaan dan kedudukan
4. Kepribadian yang buruk dan kikir

Cara Mengatasi Hasud

1. Menghilangkan sebab-sebab hasud
2. Menyadari akan bahaya hasud:
– Di dunia: resah dan sempit dada
– Dalam agama:
a. Tidak ridla terhadap takdir Allah
b. Dibenci oleh orang-orang Mukmin
c. Bersekutu dengan iblis
3. Menjaga kebersihan hati: Allah berfirman: “Hai orang-orang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan rahasia, janganlah kamu membicarakan tentang membuat dosa, permusuhan dan berbuat durhaka kepada rasul. dan bicarakanlah tentang membuat kebajikan dan takwa. dan bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikembalikan.”(QS 58: 9)
4. Ridla terhadap takdir Allah
5. Mengerjakan amal yang berlawanan dengan hasud
6. Memuji dan memperlihatkan kegembiraan jika melihat suatu nikmat.

Mengikuti Hawa Nafsu

25 Feb

Definisi

1. Definisi menurut bahasa:
a. Kecenderungan jiwa terhadap apa yang ia inginkan
b. Kehendak jiwa terhadap apa yang ia senangi
c. Mencintai sesuatu dan kecintaan itu telah mendominasi dirinya
2. Definisi menurut terminologi syar’i: berjalan mengikuti apa yang diinginkan dan disukai oleh nafsu.

Sebab-Sebab Mengikuti Hawa Nafsu

1. Tidak terbiasa mengendalikan diri sejak kecil
2. Bergaul dan berteman dekat dengan orang yang suka mengikuti hawa nafsu
3. Lemahnya makrifat kepada Allah dan hari akhir. Allah berfirman: “Katakanlah: ‘Maka apakah kamu menyuruh Aku menyembah selain Allah, Hai orang-orang yang tidak berpengetahuan?’ Dan Sesungguhnya Telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. ‘Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, Maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur’. Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS 39: 74-67).
4. Kelengahan orang lain dalam menjalankan agamanya. Allah berfirman: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS 3: 104).
Dalam ayat lain Allah berfirman: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS 16: 125)
5. Cinta dunia dan lupa akhirat. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (Tidak percaya akan) pertemuan dengan kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat kami, Mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS 10: 7-8)
6. Tidak tahu akan akibat mengikuti hawa nafsu.

Dampak Mengikuti Hawa Nafsu

1. Berkurang dan terkikisnya hawa nafsu
2. Hati berpenyakit, mengeras kemudian mati. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang Mukmin bila berbuat dosa, akan terjadi titik hitam dalam qalbunya. Jika beristighfar dan bertaubat hatinya kembali cemerlang. Jika dosanya bertambah, bertambah pula titik hitam tersebut sehingga menutupi hatinya. Itulah ‘ar-ron’ yang disebut oleh Allah dalam firman-Nya (‘Akan tetapi hati mereka telah menjadi berkarat disebabkan perbuatan yang mereka lakukan’)” (HR Ibnu Majah). Dalam hadits lain Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan pada harta kalian akan tetapi Allah melihat pada hati dan perbuatan kalian.” (HR Muslim).
3. Menganggap remeh akan dosa-dosa. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang Muslim dalam melihat dosanya, bagaikan seorang yang duduk di bawah gunung yang takut akan kejatuhan sesuatu, dan seorang pendosa dalam melihat dosanya, bagaikan lalat yang hinggap di mukanya, kemudian diusirnya begitu saja.” (HR Bukhari)
4. Tidak bisa menerima nasehat. Allah berfirman: “Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) Ketahuilah bahwa Sesung- guhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesung- guhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS 28: 50)
5. Tidak mendapat hidayah pada jalan yang benar. Allah berfirman: “23. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya[1384] dan Allah Telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS 45: 23)
6. Menyesatkan orang lain. Allah berfirman: “Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal Sesungguhnya Allah Telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. dan Sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.” (QS 6: 119)
7. Masuk neraka. Allah berfirman: “Adapun orang yang melampaui batas, Dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, Maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).” (QS 79: 37-3

Cara Mengatasi dari Mengikuti Hawa Nafsu

1. Menyadari akan dampak mengikuti hawa nafsu
2. Menjauhi pergaulan dengan orang-orang yang suka mengikuti hawa nafsu
3. Mengokohkan ma’rifatullah, dengan ilmu yang cukup agar permanen dalam pendirian.
4. Mengenal biografi orang-orang yang suka mengikuti hawa nafsu dan akhir perjalanan hidupnya
5. Mengenal biografi orang-orang shaleh
6. Waspada agar tidak hanyut dengan dunia
7. Berlindung kepada Allah
8. Muhahadatun nafs dan menyadari bahwa kebahagiaan dan ketenangan adalah dengan mengikuti yang disyariatkan. Allah berfirman: “Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS 20: 123)

Ghibah

25 Feb

Ghibah Termasuk akhlak yang buruk

Definisi Ghibah

a. Menurut bahasa: kebalikan dari yang nyata
b. Menurut istilah: seorang Muslim yang menyebut saudaranya dengan sebutan yang dia tidak suka, baik dengan kata-kata maupun dengan tulisan, ketika dia tidak ada.

Rasulullah bersabda kepada para shahabatnya, pada suatu hari: “Tahukah kalian apa ghibah itu?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Rasulullah bersabda: “Engkau menyebut saudaramu dengan sebutan yang dia tidak suka.” Mereka berkata: “Ya Rasulallah, bagaimana jika yang saya sebutkan itu benar?” Rasulullah bersabda: “Jika yang engkau katakan itu benar, maka itulah ghibah. Dan jika yang engkau katakan itu tidak benar maka itu adalah dusta.” (HR Muslim).

Bentukk-Bentuk Ghibah

1. Menyebut cacat fisik
2. Menyebut cacat duniawi
3. Menyebut cacat keluarga
4. Menyebut cacat moral
5. Menyebut cacat penampilan
6. Buruk sangka tanpa bukti
7. Mendengar orang yang ghibah

Hukum Ghibah

1. Ghibah yang diharamkan.
Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), Karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS 49: 12)

Rasulullah bersabda: “Ketika saya dimi’razkan, saya melewati sebuah kaum. Mereka memiliki kuku dari tembaga, mereka mencakar habis muka dan dada mereka. Saya berkata: ‘Siapa mereka itu wahai Jibril?’ Jibril berkata: ‘Mereka adalah manusia-manusia yang memakan daging saudaranya, dan melanggar kehormatannya.’” (HR Abu Dawud)

Dalam hadits lain diriwatkan bahwa Rasulullah bersabda kepada ‘Aisyah yang telah berkata: “Ya Rasulallah, cukuplah bagimu Sofiyyah yang telah berkata begini dan begitu.” Rasulullah bersabda: “Wahai ‘Aisyah sungguh engkau berkata dengan kata-kata yang andaikan dicampur dengan air laut, air laut tersebut akan terwarnai semua.”

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda: “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain. Tidak boleh mengkhianatinya, membohonginya dan merendahkannya. Setiap Muslim terhadap Muslim yang lainnya haram kehormatannya, hartanya dan darahnya. Taqwa itu ada di sini (sambil menunjuk ke dadanya). Cukuplah kejahatan seseorang Muslim apabila dia menghinakan saudaranya sesama Muslim.”

2. Ghibah yang diperbolehkan.
1. Dalam rangka mengadukan kedzaliman. Allah berfirman: “Allah tidak menyukai Ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS 4: 148)
2. Meminta tolong untuk merubah kemungkaran. Rasulullah bersabda: “Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran hendaknya dia merubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman.” (HR Muslim)
3. Dalam rangka meminta fatwa.
Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits yang panjang: “Ambillah sekiranya cukup untukmu dan anakmu dengan baik.” (HR Bukhari)
4. Dalam rangka memberi peringatan kepada kaum Muslimin. Rasulullah berkata kepada Fatimah: “Adapun Muawiyah dia adalah lelaki yang miskin dan Abu Jahm adalah laki-laki yang tidak pernah meletakkan tongkat dari pundaknya.” (HR Muslim)
5. Bagi orang yang mujaharah (terang-terangan dalam berbuat dosa). Rasulullah bersabda: “Setiap umatku diampuni dosanya kecuali orang-orang yang mujaharah, dan termasuk mujaharah adalah orang yang melakukan kemaksiatan di malam hari dan hingga pagi hari Allah telah menutupi kemaksiatan tersebut, akan tetapi dia berkata: ‘Wahai fulan, semalam saya melakukan ini dan itu, padahal Allah telah menutupi kemaksiatan tersebut, tapi di pagi hari dia buka tutup Allah itu.”

Sebab-Sebab Ghibah

1. Tidak adanya tabayyun. Allah berfirman: “6. Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS 49: 6).
2. Marah. Rasulullah bersabda: “Siapa yang menahan marah padalah dia mempu melampiaskannya, di hari kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh manusia, sehingga ia memilih bidadari yang dia kehendaki untuk dinikahkan dengannya.” (HR Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad).
3. Lingkungan yang buruk
4. Hasud. Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian saling hasud, saling memutus hubungan, saling membenci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
Dalam hadits lain Rasulullah bersabda: “Hasad itu memakan kebajikan, bagaikan api memakan kayu bakar.” (HR Abu Dawud).
5. Kagum atas diri sendiri. Allah berfirman: “Dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir Ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai Ini mengalir di bawahku; Maka apakah kamu tidak melihat(nya)? Bukankah Aku lebih baik dari orang yang hina Ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)? Mengapa tidak dipakaikan kepadanya gelang dari emas atau malaikat datang bersama-sama dia untuk mengiringkannya?”(QS 43: 51-53)
6. Ummat tidak menjalankan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar.
7. Tidak takut akan dampak yang ditimbulkan perbuatan ghibah.

Dampak Ghibah

1. Hati menjadi keras. Allah berfirman: “Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka Kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang Telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS 39: 22)
2. Menempatkan diri di tempat yang dibenci dan dimurkai Allah. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba berkata dengan kalimat yang dibenci Allah, dia tidak menaruh perhatian terhadapnya, akan tetapi kalimat tersebut menjerumuskannya ke dalam neraka jahanam.”
3. Siksa yang dasyat. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya dua orang ini sedang disiksa oleh Allah, padahal mereka tidak disiksa karena sesuatu yang besar. Seorang di antara mereka karena tidak menjaga diri dari kencing, dan seorang lagi karena berjalan di tengah manusia dengan ghibah dan namimah.”
4. Tidak mampu menjalankan kewajiban. Allah berfirman: “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS 3: 134)
5. Menjadi penakut
6. Terjadi perselisihan dan perpecahan
7. Membuka jalan kepada musuh untuk menyerang.

Cara Mengatasi Ghibah

1. Mentarbiyah iman. Allah berfirman di akhir ayat Ghibah: “..dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS 49: 12)
2. Menyadari bahwa setiap yang diucapkan itu ditulis. Allah berfirman: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS 50: 18)
3. Melakukan tabayyun di dalam mensikapi segala sesuatu. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS 49: 6)
4. Menahan marah. Allah berfirman: “Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS 3: 134)
5. Tinggal di lingkungan yang baik akhlaknya
6. Mengingatkan kepada yang menjadi teladan bahwa seluruh perbuatan mereka diperhitungkan
7. Umat menjalankan kewajibannya terhadap orang yang ghibah
8. Menyadari akan akibat ghibah.

Su’udzon (Buruk Sangka)

25 Feb

Su’udzon (Buruk Sangka)

Definisi Su’udzon

a. Menurut bahasa, as-suu’u artinya:
1. Semua yang buruk atau kebalikan dari yang bagus
2. Semua yang menjadikan manusia takut, baik dari urusan dunia maupun urusan akhirat.
Adz-dzonn menurut bahasa berarti:
1. Ragu. Allah berfirman: “Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah sekali-kali tiada menolongnya (Muhammad) di dunia dan akhirat, Maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, Kemudian hendaklah ia melaluinya, Kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya.” (QS 22: 15).
2. Menyangka. Allah berfirman: “(yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.” (QS 33: 10).
3. Tahu yang tidak yakin. Allah berfirman: “..kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka..” (QS 59: 2).
4. Yakin. Allah berfirman: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS 2: 45-46)

b. Su’udzon menurut istilah: prasangka yang menjadikan seseorang mensifati orang lain dengan sifat yang tidak disukainya tanpa dalil.

Su’udzon dalam Pandangan Islam

a. Haram
1. Su’udzon kepada Allah. Allah berfirman: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (QS 6: 116)
2. Su’udzon kepada Rasul
3. Su’udzon kepada orang-orang Mukmin yang dikenal dengan kebaikannya. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah berdosa.” (49: 12)

b. Wajib.
1. Wajib su’udzon kepada orang kafir yang terang-terangan dengan kekufurannya dan permusuhannya kepada Allah, Rasulullah dan orang-orang Mukmin yang shaleh. Allah berfirman:
“Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (Tidak menepati perjanjian).” (QS 9: 8)
2. Su’udzon kepada orang Muslim yang dikenal terang-terangan berbuat maksiat, menghalangi jalan Allah dan tidak komitmen terhadap Islam.

Sebab- Sebab Su’udzon

1. Niatan yang buruk
2. Tidak terbiasa dalam menggunakan kaidah yang benar dalam menghukumi sesuatu. Kaidah tersebut adalah:
a. Melihat segala sesuatu dari lahiriyahnya dan membiarkan batiniahnya menjadi urusan Allah.
b. Selalu mendasarkan atas bukti-bukti
c. Memastikan kebenaran bukti-bukti tersebut
d. Bukti-bukti tersebut tidak saling bertentangan satu dengan yang lainnya.
3. Lingkungan yang buruk akhlaknya
4. Mengikuti hawa nafsu
5. Terjatuh dalam masalah syubhat
6. Tidak memperhatikan adab-adab Islam dalam berkomunikasi. Adab komunikasi adalah: a) Tidak diperbolehkan berkomunikasi berdua dan lebih baik bertiga b) Pembicaraan hendaknya dalam kebaikan dan ketaatan.
7. Mengabaikan masa kini yang baik dan hanya terpaku pada masa lalu yang buruk.

Cara Mengatasi Su’udzon

1. Membangun aqidah yang benar yang berpegang di atas prinsip husnudzon pada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin.
2. Melakukan tarbiyah dalam rangka mengokohkan aqidah dalam diri
3. Membiasakan diri untuk komitmen dengan adab-adab Islam di dalam menghukumi segala sesuatu.
4. Menjauhkan diri dari masalah-masalah subhat
5. Berusaha untuk berada dalam lingkungan yang baik
6. Mujahadah dan berusaha untuk mengendalikan hawa nafsu dan syahwat
7. Mempersepsikan manusia dengan realitas sekarang dan bukan masa lalunya
8. Senantiasa membaca buku-buku sejarah orang-orang yang shalih

Ujub, Ghurur dan Takabur

25 Feb

Ujub, Ghurur dan Takabur merupakan akhlak yang tercela menurut pandangan Islam

Definisi

1. Ujub adalah bangga terhadap diri sendiri dan apa yang dilakukannya tanpa menganggap rendah orang lain.
2. Ghurur adalah: bangga terhadap diri sendiri serta menganggap rendah orang lain
3. Takabbur: bangga terhadap diri, menganggap rendah orang lain, merendahkannya dan tidak mau menerima kebenaran darinya. Seorang sahabat berkata: “Wahai Rasulallah, setiap orang suka jika bajunya bagus dan sendalnya juga bagus?” Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Takabbur adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.” (HR Muslim)

Takabbur itu Tercela

1. Tanda lemahnya iman dan jahil pada Allah. Allah berfirman: “Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong.” (QS 16: 22).
2. Perbuatan yang membinasakan. Rasulullah bersabda: “Tiga hal yang membinasakan: bakhil yang dituruti, hawa nafsu yang diikuti, dan kesombongan.”
3. Tidak bisa mengambil nasehat dan tidak bisa mengikuti ayat-ayat Allah. Allah berfirman: “Dan kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka, agar mereka tidak dapat memahaminya. dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam Al Quran, niscaya mereka berpaling ke belakang Karena bencinya,” (QS 17: 46)
Dalam ayat lain Allah berfirman: “Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku)[569], mereka tidak beriman kepadanya. dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk, mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan, mereka terus memenempuhnya. yang demikian itu adalah Karena mereka mendustakan ayat-ayat kami dan mereka selalu lalai dari padanya.” (QS 7: 146)
4. Menjadi sebab kebencian Allah dan manusia. Allah berfirman: “Tidak diragukan lagi bahwa Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.” (QS 16: 23). Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda: “Tiga golongan di hari kiamat nanti Allah tidak mengajak bicara dengan mereka, tidak mensucikan mereka dan tidak melihat mereka dan mereka mendapat siksa yang pedih; yaitu orang tua yang berzina, penguasa yang pembohong dan orang miskin yang sombong.” (HR Muslim)
5. Penyebab masuk neraka. Rasulullah bersabda: “Tidak akan masuk surga seorang yang dalam qalbunya terdapat seberat dzarrah dari sifat sombong.” (HR Muslim).

Sebab-Sebab Takabur

1. Anggapan yang salah terhadap ilmu yang dimilikinya. Allah berfirman: “Karun berkata: ‘Sesungguhnya Aku Hanya diberi harta itu, Karena ilmu yang ada padaku’. dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh Telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih Kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.” (QS 28: 78).
2. Amal dan ibadah. Allah berfirman: “(yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha luas ampunanNya. dan dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS 53: 32).
3. Kedudukan dan kebangsawanan
4. Kecantikan
5. Kekayaan. Allah berfirman: “Dan dia mempunyai kekayaan besar, Maka ia Berkata kepada Kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat” (QS 18: 34)
6. Kekuatan
7. Banyak pendukung. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah Telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (Ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak Karena banyaknya jumlah (mu), Maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu Telah terasa sempit olehmu, Kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai.” (QS 9: 25)

Cara Mengatasi Takabbur

1. Mengetahui kedudukan Allah dan dirinya. Allah berfirman: “Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS 8: 17)
2. Mengingat akibat takbbur dan keutamaan tawadlu’. Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah seorang tawadlu’ karena Allah, kecuali Allah akan mengangkat derajatnnya.” (HR Muslim).
3. Mengingat akan kenikmatan Allah yang tak terhitung. Allah berfirman: “Dan dia Telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS 14: 34)
4. Menjenguk orang sakit, menyaksikan orang yang sedang sakaratul maut dan tertimpa bencana, mengantar jenazah dan ziarah kubur.
5. Bergaul dengan orang-orang lemah dan fakir miskin.
6. Menjauhi orang yang sombong dan bergaul dengan orang-orang yang tawadlu.
7. Menghilangkan penyebab takabbur.

Cobaan

25 Feb

Definisi Cobaan

1. Menurut bahasa: berasal dari kata “al-bala’” yang berarti ujian
2. Menurut istilah: Mengetahui dan mengenali orang yang sedang diuji apakah dia dalam ketaatan atau kemaksiatan, dengan memberikan beban, baik berupa kesengsaraan maupun kesenangan.

Urgensi Pembahasan Cobaan

1. Mempersiapkan dan mengokohkan jiwa. Rasulullah bersabda: “Surga itu diliputi oleh hal-hal yang dibenci dan neraka itu diliputi oleh hal-hal yang menyenangkan.”
2. Sebagai terapi bagi jiwa-jiwa yang lemah dalam menghadapi pahitnya kesabaran dan beratnya ujian. Dari Khabbab bin Art berkata: “Kami mengadu kepada Rasulullah, kami berkata: ‘Ya Rasulullah, kenapa engkau tidak meminta pertolongan. Mengapa engkau tidak berdoa untuk kami?’ Rasulullah bersabda: ‘Sungguh orang sebelum kalian ditanam ke dalam bumi, kemudian digergaji dari kepala hingga terbelah menjadi dua, mereka disisir dengan sisir dari besi, sehingga dipisahkan antara daging dan tulang mereka, yang demikian itu tidak menghalangi mereka dalam menjalankan agama. Demi Allah, pasti Allah akan menyempurnakan agama ini, sehingga orang yang bepergian dari San’a sampai hadramaut tidak takut kecuali pada Allah dan serigala atas kambing-kambing mereka. Akan tetapi kalian tergesa-gesa.’” (HR Bukhari)
3. Meluruskan orientasi dan meningkatkan kualitas jiwa. Allah berfirman: “17. Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS 24: 17)
4. Mengetahui sunnatullah dalam kehidupan. Allah berfirman: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,” (QS 67: 2) dalam ayat lain Allah berfirman: “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS 2: 155)

Rasulullah bersabda: “Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian selanjutnya dan selanjutnya, seorang diuji sesuai dengan kadar imannya, jika imannya kuat maka ujiannya berat. Jika agamanya lemah maka ujiannya ringan. Ujian akan senantiasa menyertai seorang hamba, hingga hamba tersebut berjalan di atas bumi dan dia tidak memiliki kesalahan. (HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)

Hikmah-Hikmah Cobaan

1. Menghapus dosa dan mengangkat derajat. Rasulullah bersabda: “Apa saja yang menimpa seorang Muslim baik kesulitan, kegelisahan, kesedihan, kebimbangan dan penderitaan, hingga duri yang mengenainya, kecuali Allah akan menghapuskan dengannya akan kesalahan-kesalahannya.” (HR Bukhari Muslim)
Imam Ibnul Qayyim berkata: “Sesungguhnya Allah Ta’ala menyiapkan untuk hamba-hamba-Nya yang beriman kedudukan dalam tempat kehormatannya, dimana amal-amal mereka tidak akan sampai bahkan dan bahkan tidak mungkin sampai dalam kedudukan tersebut, kecuali melalui ujian dan cobaan. Maka Allah telah menyiapkan pada mereka sarana-sarana yang akan mengantarkan mereka pada kedudukan tersebut dengan cobaan dan ujian.”
2. Membuktikan penghambaan kepada Allah dalam suka dan duka
3. Sebagai seleksi bagi orang-orang Mukmin yang benar dan yang bohong. Allah berfirman: “Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasulNya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, Maka bagimu pahala yang besar.” (QS 3: 179)
4. Kembali kepada Allah dengan taubat. Shahabat ‘Ali berkata: “Cobaan itu tidak akan turun kecuali karena dosa, dan tidak akan diangkat kecuali dengan taubat.”
5. Mendidik jiwa dan mengokohkan kepribadian seorang Muslim.

Kiat-Kiat Menjadi Teguh Ketika Menerima Cobaan

1. Bersabar dan berusaha manyabarkan diri. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang berusaha untuk bersabar, Allah akan memberikan kesabaran. Dan tiada pemberian yang lebih baik dan lebih luas melebihi pemberian yang berupa sabar.” (HR Bukhari).
a. Menyaksikan keagungan balasan dan pahala yang akan diberikan oleh Allah
b. Memahami sepenuhnya bahwa cobaan itu akan menghapuskan dosa-dosa
c. Memahami sepenuhnya akan dampak dari dosa-dosa yang ia lakukan
d. Memahami bahwa musibah yang datang bukan untuk membinasakannya akan tetapi untuk mengujinya
e. Memahami bahwa Allah senang melihat hamba-Nya selalu istiqamah dalam beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan, baik suka maupun duka.
2. Kembali kepada Allah dan memohon keteguhan kepada-Nya. Allah berfirman: “250. Tatkala Jalut dan tentaranya Telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (QS 2: 250)
3. Mengetahui tabiat jalan dakwah. Rasulullah bersabda: “Surga diliputi dengan semua yang tidak menyenangkan dan neraka diliputi dengan semua yang menyenangkan.”
4. Berdzikir kepada Allah. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS 8: 45).
Dalam ayat lain Allah berfirman: “Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).” (QS 25: 32)
5. Berteman dengan orang-orang yang shaleh.