Arsip | 08.17

Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (9)

1 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

88. “Maka Mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan[328] dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah Telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri ? apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang Telah disesatkan Allah[329]? barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya.”
(an-Nisaa’: 88)

[328] Maksudnya: golongan orang-orang mukmin yang membela orang-orang munafik dan golongan orang-orang mukmin yang memusuhi mereka.
[329] disesatkan Allah berarti: bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. dalam ayat ini, Karena mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, Maka mereka itu menjadi sesat.

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim) dan lain-lain, yang bersumber dari Zaid bin Tsabit bahwa ketika Rasulullah saw. berangkat perang Uhud, sebagian dari pasukannya pulang kembali ke Madinah. Di kalangan para shahabat timbul dua pendapat, sebagian mengatakan agar orang yang mengundurkan diri itu dibunuh dan sebagian lagi melarangnya. Maka Allah menurunkan ayat ini (an-Nisaa’: 88) sebagai teguran agar tidak berselisih dalam menghadapi kaum munafik yang jelas kekafirannya.

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Sa’d bin Mu’adz bahwa ketika Rasulullah saw. berkhotbah, yang di antara sabdanya: “Siapakah pembelaku terhadap orang-orang yang berbuat jahat dan berkomplot merencanakan kejahatan terhadapku?” Berkatalah Sa’d bin Mu’adz: “Jikalau ia dari golonganku (Aus), kami yang akan membasminya, dan jika ia dari kalangan Khazraj, tuan perintahkan kepada kami, dan kami akan melaksanakannya.” Berdirilah Sa’ad bin ‘Ubadah (Bani Khazraj): “Apa urusanmu menyebut-nyebut taat kepada Rasulullah saw., hai Ibnu Muadz. Padahal engkau tahu bahwa itu bukan urusanmu saja.” Berdirilah Usaid bin Khudlair dan berkata: “Apakah engkau ini seorang munafi dan mencintai orang-orang munafik, hai Ibnu ‘Ubadah?” Berdirilah Muhammad bin Muslimah dan berkata: “Diamlah kalian, di hadapan kita ada Rasulullah saw. yang berhak memberi perintah dan kita melaksanakannya.” Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 88) sebagai peringatan untuk tidak berselisih dalam menghadapi kaum munafik.

90. “Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu Telah ada perjanjian (damai)[331] atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya[332]. kalau Allah menghendaki, tentu dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu Pastilah mereka memerangimu. tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu[333] Maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.”
(an-Nisaa’: 90)

[331] ayat Ini menjadi dasar hukum suaka.
[332] tidak memihak dan Telah mengadakan hubungan dengan kaum muslimin.
[333] Maksudnya: menyerah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Marduwaih, yang bersumber dari al-Hasan bahwa Suraqah bin Malik al-Mud-laji bercerita, ketika Nabi saw. mendapat kemenangan dalam perang Badr dan Uhud, dan orang-orang di sekitar Madinah masuk Islam, ia mendengar berita bahwa Nabi akan mengirim pasukan Khalid bin al-Walid kepada kaumnyua (Bani Mud-laj). Ia menghadap Rasulullah saw. dan berkata: “Saya mohon perlindungan tuan dengan sungguh-sungguh, agar tuan mengadakan perdamaian denga kaumku, karena telah sampai berita kepadaku bahwa tuan akan mengirim pasukan kepada kaumku. Sekiranya kaum Quraisy tunduk, maka kaumku pun akan tunduk dan masuk Islam. Akan tetapi jika kau Quraisy belum tunduk, pasti mereka akan menyerang dan mengalahkan kaumku.” Kemudian Rasulullah saw. memegang tangan Khalid bin al-Walid seraya bersabda: “Berangkatlah dengan orang ini dan kerjakan apa yang dikehendakinya.” Kemudian Khalid membuat perdamaian dengan mereka supaya tidak berkomplot memerangi Rasulullah dan akan tunduk apabila kaum Quraisy telah tunduk. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 90) berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang melarang kaum Muslimin memerangi orang-orang yang telah membuat perdamaian.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 90) berkenaan dengan Hilal bin ‘Uwaimir al-Aslami, Suraqah bin Malik al-Mud-laji, dan Bani Judzaimah bin ‘Amir bin ‘Abdi Manaf yang telah mengadakan perdamaian dengan Nabi saw..

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Mujahid bahwa turunnya ayat ini (al-Nisaa’: 90) berkenaan dengan Hilal bin ‘Uwaimir al-Aslami, yang telah mengadakan perjanjian dengan kaum Muslimin. Tetapi kaumnya ingin berperang. ‘Uwaimir tidak menghendaki perang dengan kaum Muslimin, ataupun memerangi kaumnya.

92. “Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali Karena tersalah (Tidak sengaja)[334], dan barangsiapa membunuh seorang mukmin Karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat[335] yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah[336]. jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, Maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. barangsiapa yang tidak memperolehnya[337], Maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan Taubat dari pada Allah. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(an-Nisaa’: 92)

[334] seperti: menembak burung terkena seorang mukmin.
[335] Diat ialah pembayaran sejumlah harta Karena sesuatu tindak pidana terhadap sesuatu jiwa atau anggota badan.
[336] Bersedekah di sini Maksudnya: membebaskan si pembunuh dari pembayaran diat.
[337] Maksudnya: tidak mempunyai hamba; tidak memperoleh hamba sahaya yang beriman atau tidak mampu membelinya untuk dimerdekakan. menurut sebagian ahli tafsir, puasa dua bulan berturut-turut itu adalah sebagai ganti dari pembayaran diat dan memerdekakan hamba sahaya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah. Ibnu Jarir meriwayatkan pula hadits yang semakna, bersumber dari Mujahid dan as-Suddi. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Ishaq, Abu Ya’la, al-Harits bin Abi Usamah, Abu Muslim al-Kaji, yang bersumber dari al-Qasim bin Muhammad. Dan diriwayatkan pula –yang peristiwanya seperti ini- oleh Ibnu Abi Hatim dari Sa’id bin Jubair, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa al-Harits bin Yazid dari suku Bani ‘Amr bin Lu-ay beserta Abu Jahl pernah menyiksa ‘Iyasy bin Abi Rabi’ah. Pada suatu hari, al-Harits hijrah kepada Nabi sawa. Dan bertemu dengan ‘Iyasy di kampung al-Harrah. ‘Iyasy seketika mencabut pedangnya dan langsung membunuh al-Harits yang dikira masih bermusuhan juga (dengan Islam). Kemudian ‘Iyasy menceritakannya kepada Nabi saw.. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 92) sebagai ketentuan hukum bagi orang Mukmin yang membunuh seorang Mukmin tanpa disengaja.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (8)

1 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

66. “Dan Sesungguhnya kalau kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. dan Sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka),”
(an-Nisaa’: 60)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Suddi bahwa ketika turun ayat, wa lau annaa katabnaa…(dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan…) sampai… illaa qaliilum minhum…(…kecuali sebagian kecil dari mereka..) (an-Nisaa’: 66), Tsabit bin Qais dan seorang Yahudi saling menyombongkan diri dengan ucapan masing-masing: “Demi Allah, Allah telah mewajibkan kami supaya bunuh diri, pasti kami akan melaksanakannya.” Maka Allah menurunkan kelanjutan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 66) sebagai penjelasan agar melaksanakan tuntunan al-Qur’an yang telah diberikan kepada mereka.

69. “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin[314], orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.”
(an-Nisaa’: 69)

[314] ialah: orang-orang yang amat teguh kepercayaannya kepada kebenaran rasul, dan inilah orang-orang yang dianugerahi nikmat sebagaimana yang tersebut dalam surat Al Faatihah ayat 7.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dan Ibnu Marduwaih dengan sanad laa ba’sa bih (lumayan: tidak shahih dan tidak dhaif) yang bersumber dari ‘Aisyah bahwa seorang laki-laki menghadap Nabi saw. dan berkta: “Ya Rasulullah. Aku mencintai tuan lebih daripada aku mencintai diriku dan anakku sendiri. Jika sedang di rumah, aku selalu ingat kepada tuan dan tidak sabar ingin segera bertemu dengan tuan. Dan jika aku ingat akan ajalku dan ajal tuan, aku yakin bahwa tuan akan diangkat (pada kedudukan yang paling tinggi) beserta nabi-nabi di syurga. Apabila masuk syurga, aku takut kalau-kalau tidak bisa bertemu dengan tuan.” Maka nabi pun terdiam, sehingga Jibril turun dengan membawa ayat ini (an-Nisaa’: 69) sebagai janji Allah kepada orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Masruq bahwa para Shahabat Rasulullah saw. pernah berkata: “Ya Rasulallah, kami tidak mau berpisah dengan tuan, tapi nanti di akhirat tuan akan diangkat beserta nabi-nabi lainnya lebih tinggi derajatnya daripada kami, sehingga kami tidak dapat bertemu dengan tuan.” Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 69) sebagai janji Allah bahwa mereka (yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya) akan digolongkan kepada orang-orang yang diberi nikmat oleh Allah swt..

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari ‘Ikrimah. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Sa’id bin Jubair, Masruq, ar-Rabi’, Qatadah, dan as-Suddi, tetapi mursal, bahwa seorang pemuda menghadap Nabi saw. dan berkata: “Ya Nabiyallah, kami dapat bertemu dengan tuan di dunia ini, sedang di akhirat kami tidak dapat bertemu, karena tuan berada pada derajat yang tertinggi di surga.” Maka Allah menurunkan ayat ini (an-Nisaa’: 69). Kemudian Rasulullah bersabda: “Engkau besertaku di dalam surga, insya Allah.”

77. “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka[317]: “Tahanlah tanganmu (dari berperang), Dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!” setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. mereka berkata: “Ya Tuhan kami, Mengapa Engkau wajibkan berperang kepada Kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?” Katakanlah: “Kesenangan di dunia Ini Hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun[318].”
(an-Nisaa’: 77)

[317] orang-orang yang menampakkan dirinya beriman dan minta izin berperang sebelum ada perintah berperang.
[318] artinya pahala turut berperang tidak akan dikurangi sedikitpun.

Diriwayatkan oleh an-Nasa-i dan al-Hakim, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ‘Abdurrahaman bin ‘Auf dan kawan-kawannya menghadap Nabi saw. dan berkata: “Ya Nabiyallah. Dahulu ketika kiami di Mekah, di saat kami musyrik, kami merasa mulia dan pemberani, tetapi kini setelah kami beriman, kami jadi hina.” Nabi menjawab: “Dahulu aku diperintahkan untuk toleran dan dilarang memerangi mereka (kaum musyrikin). Setelah hijrah ke Madinah, kaum Muslimin diperintahkan berperang, akan tetapi mereka (‘Abdurrahman dan kawan-kawannya) enggan.” Maka Allah menurunkan ayat ini (an-Nisaa’: 77) sebagai pemberi semangat untuk turut jihad.

83. “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri[322] di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil Amri)[323]. kalau tidaklah Karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).”
(an-Nisaa’: 83)

[322] ialah: tokoh-tokoh sahabat dan para cendekiawan di antara mereka.
[323] menurut Mufassirin yang lain maksudnya ialah: kalau suatu berita tentang keamanan dan ketakutan itu disampaikan kepada Rasul dan ulil Amri, tentulah Rasul dan ulil amri yang ahli dapat menetapkan kesimpulan (istimbat) dari berita itu.

Diriwayatkan oleh Muslim yang bersumber dari ‘Umar bin al-Khaththab bahwa ketika Nabi uzlah (menjauhi) istri-istrinya, ‘Umar bin al-Khaththab masuk ke masjid. Pada saat itu orang-orang sedang kebingungan sambil bercerita bahwa Rasulullah saw. telah menceraikan istri-istrinya. ‘Umar berdiri di pintu masjid dan berteriak: “Rasulullah tidak menceraikan istrii-istrinya, dan aku telah menelitinya.” Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 83) berkenaan dengan peristiwa tersebut agar tidak menyiarkan berita sebelum diselidiki.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (7)

1 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

59. “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(an-Nisaa’: 59)

Diriwayatkan oleh al-Bukhari –dengan ringkas- dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 59) berkenaan dengan ‘Abdullah bin Hudzaifah bin Qais ketika diutus oleh Nabi saw. memimpin suatu pasukan.

Keterangan: menurut Imam ad-Dawud, riwayat tersebut menyalahgunakan nama Ibnu ‘Abbas, karena cerita mengenai ‘Abdullah bin Hudzaifah itu adalah sebagai berikut: di saat ‘Abdullah marah-marah kepada pasukannya, ia menyalakan api unggun, lalu memerintahkan pasukannya untuk terjun ke dalamnya. Pada waktu itu sebagian menolak dan sebagian lagi hampir menerjunkan diri ke dalam api.” Sekiranya ayat ini turun sebelum peristiwa ‘Abdullah, mengapa ayat ini dikhususkan untuk menaati ‘Abdullah bin Hudzifah saja, sedang pada waktu lainnya tidak. Dan sekiranya ayat ini turun sesudahnya, maka berdasarkan hadits yang telah mereka ketahui, yang wajib ditaati itu ialah di dalam hal yang makruf (kebaikan). Jadi tidak pantas dikatakan kepada mereka, mengapa mereka tidak taat.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berpendapat bahwa maksud kisah ‘Abdullah bin Hudzaifah ini munasabah disangkut pautkan dengan alasan turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 59), karena dalam kisah tersebut disebutkan adanya batasan antara taat kepada perintah (pimpinan) dan menolak perintah untuk terjun ke dalam api. Pada saat itu mereka memerlukan petunjuk berkenaan dengan apa yang harus mereka lakukan. Ayat ini (an-Nisaa’: 59) turun memberikan petunjuk kepada mereka; apakah berbantahan hendaknya kembali kepada Allah dan Rasul-Nya.
Menurut Ibnu Jarir, ayat ini (an-Nisaa’: 59) turun berkenaan dengan ‘Ammaar bin Yasir yang melindungi seorang tawanan tanpa perintah panglimanya (Khalid bin Walid), sehingga merekapun berselisih.

60. “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya Telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut[312], padahal mereka Telah diperintah mengingkari thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.”
(an-Nisaa’: 60)

[312] yang selalu memusuhi nabi dan kaum muslimin dan ada yang mengatakan abu Barzah seorang tukang tenung di masa nabi. termasuk thaghut juga: 1. orang yang menetapkan hukum secara curang menurut hawa nafsu. 2. berhala-berhala.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan ath-Thabarani dengan sanad yang sahih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Abu Barzah al-Aslami, seorang pendeta Yahudi, biasa mengadili kaumnya dan menyelesaikan perselisihan di antara mereka. Pada suatu waktu datanglah kaum Muslimin minta bantuan penyelesaian (sengketa) kepadanya. Maka turunlah ayat tersebut di atas sebagai teguran, agar tidak meminta bantuan penyelesaian kepada taghut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari ‘Ikrimah atau Sa’id, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahw al-Jallas bin ash-Shamit, Mu’tim bin Qusyair, Rafi’ bin Zaid, dan Bisyr yang mengaku beragama Islam, diajak oleh orang Islam untuk meminta bantuan Rasulullah saw. dalam menyelsaikan malasalah di antara mereka. Namun mereka menolak, bahkan mereka mengajak kaum Muslimin untuk meminta bantuan pendeta-pendeta mereka (hakim-hakim jahiliyah). Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 60) sebagai larangan untuk minta diadili oleh hakim-hakim taghut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari asy-Syu’bi bahwa orang Yahudi berselisih dengan orang munafik. Yahudi itu mengusulkan untuk meminta bantuan Nabi dalam menyelesaikan perselisihan itu, karena ia tahu bahwa Nabi tidak akan makan risywah (sogokan). Akan tetapi si munafik tidak menyepakati hal itu. Akhirnya merekapun memutuskan untuk meminta bantuan seorang pendeta di Juhainah. Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 60) sebagai cercaan terhadap perbuatan munafik.

65. “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
(an-Nisaa’: 65)

Diriwayatkan oleh imam yang enam, yang bersumber dari ‘Abdullah bin Zubair bahwa Zubair pernah berselisih dengan seorang Anshar tentang pengairan kebun. Bersabdalah Rasulullah saw.: “Hai Zubair, airilah kebunmu dahulu, kemudian salurkan air ke kebun tetanggamu.” Berkatalah orang Anshar itu: “Ya Rasulallah. Karena ia anak bibimu?” Maka merah padamlah muka Rasulullah saw. karena marah dan bersabda: “Siramlah kebunmu, hai Zubair, hingga terendam pematangnya, kemudian berikan air itu kepada tetanggamu.” Zubair pun memanfaatkan air itu sepuas-puasnya sesuai dengan ketentuan yang diberikan Rasulullah kepada keduanya. Berkatalah Zubair: “Saya anggap ayat ini (an-Nisaa’: 65) diturunkan berkenaan dengan peristiwa tersebut.”

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani di dalam kitab al-Kabir dan al-Humaidi di dalam musnad-nya, yang bersumber dari Ummu Salamah, bahwa Zubair mengadu kepada Rasulullah saw. tengang pertengkarannya dengan seseorang. Rasulullah memutuskan bahwa Zubair yang menang. Maka berkatalah orang itu: “Ia memutuskan demikian karena Zubair kerabatnya, yaitu anak bibi Rasulullah.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 65) sebagai penegasan bahwa seseorang yang beriman hendaknya tunduk kepada keputusan Allah dan Rasul-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin al-Musayyab bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 65) berkenaan dengan az-Zubair bin al-‘Awwam yang bertengkar dengan Hathib bin Abi Balta’ah tentang air untuk mengairi kebun. Rasulullah saw. memutuskan agar kebun yang ada di hulu diairi lebih dahulu, kemudian yang hilirnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Marduwaih, yang bersumber dari Abul Aswad. Hadits ini mursal dan gharib, dan sanadnya terdapat seorang rawi bernama Ibnu Luhai’ah. Hadits ini dikuatkan oleh riwayat Rahim di dalam Tafsirnya, dari ‘Utbah bin Dlamrah yang bersumber dari bapaknya. Bahwa dua orang telah mengadukan kepada Rasulullah saw. untuk meminta diputuskan perkaranya. Setelah Rasulullah saw. menetapkan keputusannya, seorang diantaranya merasa tidak puas dan akan naik banding kepada ‘Umar bin al-Khaththab. Berangkatlah kedua orang itu kepada ‘Umar, dan berkata kepadanya: “Rasulullah saw. telah memenangkan saya terhadap orang ini, akan tetapi ia naik banding kepada tuan.” Maka ‘Umar berkata: “Apakah memang demikian? Tunggulah kalian berdua sampai aku datang untuk memutuskan hukuman di antara kalian.” Tiada berapa lama kemudian ‘Umar datang membawa pedang terhunus seraya memukul orang yang ingin naik banding kepadanya, lalu membunuhny. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 65) sebagai penegasan bahwa orang yang beriman hendaknya menaati putusan Allah dan Rasul-Nya.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (6)

1 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

51. “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? mereka percaya kepada jibt dan thaghut[309], dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.”
(an-Nisaa’: 51)

[309] Jibt dan thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain Allah s.w.t.

52. “Mereka Itulah orang yang dikutuki Allah. barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya.”
(an-Nisaa’: 52)

53. “Ataukah ada bagi mereka bahagian dari kerajaan (kekuasaan) ? kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikitpun (kebajikan) kepada manusia[310].”
(an-Nisaa’: 53)

[310] Maksudnya: orang-orang yang tidak dapat memberikan kebaikan kepada manusia atau masyarakatnya, tidak selayaknya ikut memegang jabatan dalam pemerintahan.

54. “Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia[311] yang Allah Telah berikan kepadanya? Sesungguhnya kami Telah memberikan Kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan kami Telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.”
(an-Nisaa’: 54)

[311] yaitu: kenabian, Al Quran, dan kemenangan.

Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika Ka’b bin al-Asyraf (orang Yahudi) datang ke Mekah, berkatalah orang Quraisy: “Tidakkah kamu lihat orang yang berpura-pura sabar dan terputus dari kaumnya, yang menganggap dirinya lebih baik daripada kami? Padahal kami ini penerima orang-orang yang naik haji, menjaga/ pelayan ka’bah, dan pemberi minum (orang-orang yang naik haji).” Berkatalah Ka’b bin al-Asyraf: “Kamu lebih baik daripada dia (Muhammad).” Maka turunlah ayat , inna syaani-aka huwal abtar (sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus) (al-Kautsar: 3) dan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 51-52) berkenaan dengan mereka, sebagai penjelasan tentang kedudukan mereka yang dilaknat Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa penggerak persekutuan kaum Quraisy, Ghatafan, dan Bani Quraizhah dalam perang Ahzab adalah Hayy bin Akhthab, Salman bin Abil Haqiq, Abu Rafi’, ar-Rabi’ bin Abil Haqiq, Abu Imarah, dan Haudah bin Qais, semuanya dari kaum Yahudi Banin Nadlir. Ketika ketemu dengan kaum Quraisy, mereka berkata: “Inilah pendeta-pendeta Yahudi dan ahli ilmu tentang kitab-kitab terdahulu. Cobalah kalian bertanya kepada mereka, apakah agama Quraisy yang paling baik ataukah agama Muhammad?” kemudian kaum Quraisy pun menanyakan kepada mereka (para pendeta Yahudi). Mereka menjawab: “Agama kalian lebih baik daripada agama Muhammad, dan kalian lebih mendapat petunjuk daripada Muhammad dan pengikutnya.” Maka turunlah ayat di atas (an-Nisaa’: 51-54) sebagai peringatan, makian, dan kutukan Allah kepada mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Hadits seperti ini (yang lebih panjang) diriwayatkan pula oleh Ibnu Sa’d yang bersumber dari ‘Umar (maula ‘Afrah). Bahwa ahli kitab pernah berkata: “Muhammad menganggap dirinya, dengan rendah diri, telah diberi (kenabian, al-Qur’an, dan kemenangan) sebagaimana yang telah diberikan (kepada nabi-nabi terdahulu). Dia mempunyai sembilan orang istri dan tidak ada yang dipentingkannya kecuali kawin. Raja mana yang lebih utama daripada seperti ini?” maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 54) sebagai cercaan atas keirihatian mereka.

58. “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.”
(an-Nisaa’: 58)

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa setelah Fathu Makkah (pembebasan Mekah), Rasulullah saw. memanggil ‘Utsman bin Thalhah untuk meminta kunci ka’bah. Setelah ‘Utsman datang menghadap Nabi untuk menyerahkan kunci itu, berdirilah al’Abbas serayat berkata: “Ya Rasulallah, demi Allah, serahkanlah kunci itu kepadaku. Saya akan rangkap jabatan tersebut dengan jabatan siqaayah (urusan pengairan).” ‘Utsman menarik kembali tangannya. Maka bersabdalah Rasulullah saw.: “Berikanlah kunci itu kepadaku wahai ‘Utsman.” ‘Utsman berkata: “Inilah dia, amanat dari Allah.” Maka berdirilah Rasulullah saw. membuka Ka’bah dan kemudian keluar untuk tawaf di Baitullah. Lalu turunlah Jibril membawa perinta supaya kunci itu diserahkan kembali kepada ‘Utsman. Rasulullah melaksanakan perintah itu sambil membaca ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 58)

Diriwayatkan oleh Syu’bah di dalam tafsir-nya, dari Hajjaj yang bersumber dari Ibnu Juraij bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 58) berkenaan dengan ‘Utsman bin Thalhah. Ketika itu Rasulullah saw. membuka kunci Ka’bah darinya pada waktu Fathu Makkah. Dengan kunci itu Rasulullah masuk Ka’bah. Tatkala keluar dari Ka’bah, beliau membaca ayat ini (an-Nisaa’: 58). Kemudian beliau memanggil ‘Utsman untuk menyerahkan kembali kunci itu. Menurut ‘Umar bin al-Kaththab, kenyataannya ayat ini (an-Nisaa’: 58) turun di dalam Ka’bah. Karena pada waktu itu Rasulullah keluar dari Ka’bah sambil membaca ayat tersebut. Dan ia (‘Umar) bersumpah bahwa sebelumnya ia belum pernah mendengar ayat tersebut.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk