Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (6)

1 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

51. “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? mereka percaya kepada jibt dan thaghut[309], dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.”
(an-Nisaa’: 51)

[309] Jibt dan thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain Allah s.w.t.

52. “Mereka Itulah orang yang dikutuki Allah. barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya.”
(an-Nisaa’: 52)

53. “Ataukah ada bagi mereka bahagian dari kerajaan (kekuasaan) ? kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikitpun (kebajikan) kepada manusia[310].”
(an-Nisaa’: 53)

[310] Maksudnya: orang-orang yang tidak dapat memberikan kebaikan kepada manusia atau masyarakatnya, tidak selayaknya ikut memegang jabatan dalam pemerintahan.

54. “Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia[311] yang Allah Telah berikan kepadanya? Sesungguhnya kami Telah memberikan Kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan kami Telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar.”
(an-Nisaa’: 54)

[311] yaitu: kenabian, Al Quran, dan kemenangan.

Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika Ka’b bin al-Asyraf (orang Yahudi) datang ke Mekah, berkatalah orang Quraisy: “Tidakkah kamu lihat orang yang berpura-pura sabar dan terputus dari kaumnya, yang menganggap dirinya lebih baik daripada kami? Padahal kami ini penerima orang-orang yang naik haji, menjaga/ pelayan ka’bah, dan pemberi minum (orang-orang yang naik haji).” Berkatalah Ka’b bin al-Asyraf: “Kamu lebih baik daripada dia (Muhammad).” Maka turunlah ayat , inna syaani-aka huwal abtar (sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus) (al-Kautsar: 3) dan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 51-52) berkenaan dengan mereka, sebagai penjelasan tentang kedudukan mereka yang dilaknat Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa penggerak persekutuan kaum Quraisy, Ghatafan, dan Bani Quraizhah dalam perang Ahzab adalah Hayy bin Akhthab, Salman bin Abil Haqiq, Abu Rafi’, ar-Rabi’ bin Abil Haqiq, Abu Imarah, dan Haudah bin Qais, semuanya dari kaum Yahudi Banin Nadlir. Ketika ketemu dengan kaum Quraisy, mereka berkata: “Inilah pendeta-pendeta Yahudi dan ahli ilmu tentang kitab-kitab terdahulu. Cobalah kalian bertanya kepada mereka, apakah agama Quraisy yang paling baik ataukah agama Muhammad?” kemudian kaum Quraisy pun menanyakan kepada mereka (para pendeta Yahudi). Mereka menjawab: “Agama kalian lebih baik daripada agama Muhammad, dan kalian lebih mendapat petunjuk daripada Muhammad dan pengikutnya.” Maka turunlah ayat di atas (an-Nisaa’: 51-54) sebagai peringatan, makian, dan kutukan Allah kepada mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Hadits seperti ini (yang lebih panjang) diriwayatkan pula oleh Ibnu Sa’d yang bersumber dari ‘Umar (maula ‘Afrah). Bahwa ahli kitab pernah berkata: “Muhammad menganggap dirinya, dengan rendah diri, telah diberi (kenabian, al-Qur’an, dan kemenangan) sebagaimana yang telah diberikan (kepada nabi-nabi terdahulu). Dia mempunyai sembilan orang istri dan tidak ada yang dipentingkannya kecuali kawin. Raja mana yang lebih utama daripada seperti ini?” maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 54) sebagai cercaan atas keirihatian mereka.

58. “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.”
(an-Nisaa’: 58)

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa setelah Fathu Makkah (pembebasan Mekah), Rasulullah saw. memanggil ‘Utsman bin Thalhah untuk meminta kunci ka’bah. Setelah ‘Utsman datang menghadap Nabi untuk menyerahkan kunci itu, berdirilah al’Abbas serayat berkata: “Ya Rasulallah, demi Allah, serahkanlah kunci itu kepadaku. Saya akan rangkap jabatan tersebut dengan jabatan siqaayah (urusan pengairan).” ‘Utsman menarik kembali tangannya. Maka bersabdalah Rasulullah saw.: “Berikanlah kunci itu kepadaku wahai ‘Utsman.” ‘Utsman berkata: “Inilah dia, amanat dari Allah.” Maka berdirilah Rasulullah saw. membuka Ka’bah dan kemudian keluar untuk tawaf di Baitullah. Lalu turunlah Jibril membawa perinta supaya kunci itu diserahkan kembali kepada ‘Utsman. Rasulullah melaksanakan perintah itu sambil membaca ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 58)

Diriwayatkan oleh Syu’bah di dalam tafsir-nya, dari Hajjaj yang bersumber dari Ibnu Juraij bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 58) berkenaan dengan ‘Utsman bin Thalhah. Ketika itu Rasulullah saw. membuka kunci Ka’bah darinya pada waktu Fathu Makkah. Dengan kunci itu Rasulullah masuk Ka’bah. Tatkala keluar dari Ka’bah, beliau membaca ayat ini (an-Nisaa’: 58). Kemudian beliau memanggil ‘Utsman untuk menyerahkan kembali kunci itu. Menurut ‘Umar bin al-Kaththab, kenyataannya ayat ini (an-Nisaa’: 58) turun di dalam Ka’bah. Karena pada waktu itu Rasulullah keluar dari Ka’bah sambil membaca ayat tersebut. Dan ia (‘Umar) bersumpah bahwa sebelumnya ia belum pernah mendengar ayat tersebut.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: